SHALAT PALING UTAMA DAN SEUMPANYA
Oleh: Samsurizal, MA
BISMILLAAHIRRAHMAANIR RAHIIM,
ASSALAAMU 'ALAIKUM WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH,
SHALAT, berbicara tentang shalat yang pertama diperbaiki adalah syarat dan rukunya. Namun, keutamaan shalat sebagaimana dilakukan oleh Rasul dan hal tersebut menjadi panduan seluruh umat Islam. Sehingga apa saja penjelasan tentang shalat mesti merujuk bagaimana cara shalat dilakukan Rasul.
Rasulullah memberitahukan kepada mushalliin tentang apa keutamaan dan yang utama dalam shalat? Dan apa yang seumpama dengan hal tersebut? Berikut penulis paparkan beberapa riwayat yang penulis temukan dalam kitab hadits.
Imam Ibnu Majah berkata,
حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ خَلَفٍ أَبُو بِشْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الصَّلَاةِ أَفْضَلُ قَالَ طُولُ الْقُنُوتِ. (رواه إبن ماجه: ١٤١١)
Telah menceritakan kepada kami Bakar bin Khalaf Abu Bisyr berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Ashim dari Ibnu Juraij dari Abu Az Zubair dari Jabir bin Abdullah berkata, "Nabi ﷺ ditanya; shalat yang bagaimana yang paling utama?" beliau menjawab, "Yang panjang berdirinya." (HR. Ibnu Majah: 1411 - shahih dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)
Begitu juga diriwayatkan oleh imam Ahmad,
حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَيَعْلَى وَوَكِيعٌ قَالُوا حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الصَّلَاةِ أَفْضَلُ قَالَ طُولُ الْقُنُوتِ. (رواه أحمد: ١٣٨٤٩)
Telah bercerita kepada kami Abu Mu'awiyah dan Ya'la dan Waki' mereka berkata; telah bercerita kepada kami Al 'A'masy dari Abu Sufyan dari Jabir berkata; Rasulullah ﷺ ditanya tentang shalat yang paling utama, maka beliau menjawab, "(Shalat yang) berdirinya lama". (HR. Ahmad: 13849 - isnadnya qawi menurut Syu'aib al Arna'uth dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)
Kemudian pada jalur lain imam Ahmad meriwayatkan dengan hadits yang panjang sebagai berikut:
حَدَّثَنَا النَّضْرُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي لَيْلَى عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الصَّلَاةِ أَفْضَلُ قَالَ طُولُ الْقُنُوتِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ عُقِرَ جَوَادُهُ وَأُرِيقَ دَمُهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْهِجْرَةِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ هَجَرَ مَا كَرِهَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَأَيُّ الْمُسْلِمِينَ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا الْمُوجِبَتَانِ قَالَ مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ. (رواه أحمد: ١٤٦٧٥)
Telah bercerita kepada kami An-Nadlr bin Isma'il, Abu Al Mughiroh telah bercerita kepada kami Ibnu Abu Laila dari Abu Az-Zubair dari Jabir berkata; ada seseorang yang menemui Nabi ﷺ lalu berkata; Wahai Rasulullah shalat yang bagaimana yang paling utama? Beliau menjawab, shalat yang paling lama berdiri. Dia bertanya lagi, Wahai Rasulullah, jihad apakah yang paling utama? Beliau menjawab, siapa yang disembelih kudanya dan darahnya dialirkan. Dia bertanya, Wahai Rasulullah, hijrah bagaimana yang paling utama? Beliau menjawab, siapa yang meninggalkan apa yang dibenci Allah 'Azza wa Jalla. Dia bertanya, orang muslim mana yang paling utama? Beliau menjawab, siapa yang kaum muslimin yang lainnya selamat dari lisan dan tangannya. Dia bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah dua hal yang wajib? ' Beliau menjawab, siapa yang meninggal tidak menyekutukan kepada Allah dengan sesuatu pun pasti masuk surga, sebaliknya siapa yang meninggal dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu pasti masuk neraka. (HR. Ahmad: 14675 - shahih, namun sanadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)
Catatan: dalam hadits riwayat Ahmad: 14675 terdapat periwayat yang dinilai jarah oleh ulama hadits, yaitu:
1. Muhammad bin 'Abdur Rahman dan Abi Laila, ia tabi'in kalangan biasa negeri hidup Kufah dan wafat tahun 148 H. Penilaian ulama: an Nasa'i menilainya laisa bi qawi, Yahya bin Sa'id menilainya dha'if, Ahmad bin Hanbal menilainya buruk hafalannya, Syu'bah menilainya paling buruk hafalannya. Sedangkan Abu Hatim mengatakan, "kejujuran ada padanya, namun buruk hafalannya". Selanjutnya, Ibnu Hajar menilainya shaduq.
2. An Nadhir bin Isma'il bin Hazim, ia tabi'ut tabi'in lalangan pertengahan kuniyahnya Abu al Mughirah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 182 H. Penilaian ulama: Abu Zur'ah, an Nasa'i, Ibnu Hajar dan adz Dzahabi menilainya laisa bi qawi. Yahya bin Ma'in menilainya laisa bisyai', ad Daruquthni menilainya shalih, sedangkan al 'Ajli menilainya tsiqah.
Lebih lanjut diinformasikan oleh imam an Nasa'i: 2479 - shahih dari 'Abdullah bin Hubsyiy:
أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ عَبْدِ الْحَكَمِ عَنْ حَجَّاجٍ قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عُثْمَانُ بْنُ أَبِي سُلَيْمَانَ عَنْ عَلِيٍّ الْأَزْدِيِّ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حُبْشِيٍّ الْخَثْعَمِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ إِيمَانٌ لَا شَكَّ فِيهِ وَجِهَادٌ لَا غُلُولَ فِيهِ وَحَجَّةٌ مَبْرُورَةٌ قِيلَ فَأَيُّ الصَّلَاةِ أَفْضَلُ قَالَ طُولُ الْقُنُوتِ قِيلَ فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ جُهْدُ الْمُقِلِّ قِيلَ فَأَيُّ الْهِجْرَةِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ هَجَرَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قِيلَ فَأَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ جَاهَدَ الْمُشْرِكِينَ بِمَالِهِ وَنَفْسِهِ قِيلَ فَأَيُّ الْقَتْلِ أَشْرَفُ قَالَ مَنْ أُهَرِيقَ دَمُهُ وَعُقِرَ جَوَادُهُ. (رواه النسائي: ٢٤٧٩)
Telah mengabarkan kepada kami 'Abdul Wahhab bin 'Abdul Hakim dari Hajjaj, berkata; Ibnu Juraij; Telah mengabarkan kepadaku 'Utsman bin Abu Sulaiman dari 'Ali Al Azdi dari 'Ubaid bin 'Amir dari 'Abdullah bin Hubsyi Al Khats'ami bahwa Nabi ﷺ ditanya, "Amal apa yang paling utama?" Beliau bersabda, "Keimanan tanpa ada keraguan padanya, jihad tanpa ada kedengkian dan haji mabrur." Beliau ditanya, "Shalat apa yang paling utama?" Beliau menjawab, "Lama dalam berdoa ketika shalat; sebelum rukuk dan setelahnya." Dikatakan, "Sedekah apa yang paling utama?" Beliau menjawab, "Sedekah yang diupayakan dengan kerja keras saat rejekinya terbatas." Dikatakan, "Hijrah apa yang paling utama?" Beliau menjawab, "Orang yang berhijrah (meninggalkan) apa yang Allah -Azza wa Jalla- haramkan." Dikatakan, "Jihad apa yang paling utama?" Beliau menjawab, "Orang yang berjihad melawan kaum musyrikin dengan harta dan jiwanya." Dikatakan, "Mati apa yang paling mulia?" Beliau menjawab, "Orang yang darahnya dialirkan dan kudanya disembelih." (HR. An Nasa'i: 2479 - shahih dari 'Abdullah bin Hubsyiy, ia shahabat kuniyahnya Abu Qatilah dan negeri hidup Marur Rawdz)
Demikian juga hadits riwayat an Nasa'i: 4900, Ahmad: 14854 - shahih dari 'Abdullah bin Hubsyiy, ia shahabat kuniyahnya Abu Qatilah dan negeri hidup Marur Rawdz. Sementara pada jalur lain dari Abu Hurairah imam Ahmad meriwayatkan bahwa:
حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا هِشَامٌ عَنْ يَحْيَى عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ عِنْدَ اللَّهِ إِيمَانٌ لَا شَكَّ فِيهِ وَغَزْوٌ لَا غُلُولَ فِيهِ وَحَجٌّ مَبْرُورٌ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ حَجٌّ مَبْرُورٌ يُكَفِّرُ خَطَايَا تِلْكَ السَّنَةِ. (رواه أحمد: ٧١٩٨)
Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari Yahya dari Abu Ja'far bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Amalan yang paling utama di sisi Allah adalah beriman kepada-Nya tanpa disertai dengan keraguan, jihad dengan tidak mengambil harta ghanimah dan haji yang mabrur." Abu Hurairah berkata, haji yang mabrur dapat menghapus dosa pada tahun tersebut." (HR. Ahmad: 7198 - shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Demikian juga yang diriwayatkan oleh imam Ahmar: 8225 - shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Banyak lagi hadits-hadits yang terkait dengan amal utama seperti hadits riwayat imam al Bukhari: 25 dan 1422, Muslim: 118, an Nasa'i: 2577, 3079 dan 4899, at Tirmidzi: 1582, Ahmad: 7320 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Al Bukhari: 2334, Muslim: 119 - shahih dari Jundub bin Junadah, ia shahabat kuniyahnya Abu Dzar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H. Al Bukhari: 496, 5513 dan 6980, Muslim: 122 [hadits 'aziz), an Nasa'i: 606, Ahmad: 3776, tentang shalat tepat waktu - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. At Tirmidzi: 155 - shahih dari Ummu Farwah binti Abi Kahafah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Farwah dan negeri hidup Madinah. Ahmad: 22040 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari periwayat, sebagaimana dikatakan Sa'ad bin Iyas beliau meriwayatkan dari salah seorang shahabat nabi. Berdasarkan sanad hadits riwayat Muslim: 122 Sa'ad Iyas dalam konteks hadits tentang "shalat pada waktunya", ia menerima dari shahabat bernama 'Abdullah bin Mas'ud.
Ingatlah selalu firman Allah berikut:
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ). (قرآن شورة الأنفال/٨: ٢٩)
Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Allah memiliki karunia yang besar. (QS. Al Anfaal/8: 29)
Berdasarkan hadits yang ada, penulis menyimpulkan bahwa keutamaan yang diutarakan oleh Rasul tersebut berlaku pada kondisi, konteks dan pada waktu tertentu. Sehingga penerapannya disesuaikan dengan kemampuan dan potensi sang 'abid (hamba) untuk mengamalkannya. Namun, bersemangat dan berusaha keras untuk mengamalkannya dengan proses yang bersih dan tata cara yang benar adalah tuntutan bagi semua muslim. Hal ini juga menunjukkan kehebatan dan keunggulan para 'abid dari yang lainnya.
Wallaahu a'lam bish Shawaab,
Billaahittaufiq wal hidaayah.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏