“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


DAJJAL DAN SI MATA JULING

Dalam Perspektif Hadits
Oleh: Samsurizal

A.    Pendahuluan
Puji syukur kehadirat Allah, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad beserta keluarga, shahabat, dan orang yang mengikuti ajarannya sampai akhir zaman.
Allah dan Rasulnya berperan sebagai pemberi petunjuk dan bimbingan, baik secara tidak langsung maupun secara langsung. Pertama, Allah memberi petunjuk dengan isyarat alam atau disinyalir melalui firman-Nya. Kedua, Allah dan Rasul-Nya memberi petunjuk langsung menyampaikannya kepada makhluk-Nya.
Al-Qur’an dan Hadits telah memberikan petunjuk yang sangat baik untuk kepentingan manusia. Ia memberikan informasi tentang berbagai hal demi tercapainya tujuan hidup manusia yang bahagia dunia dan akhhirat. Oleh karena itu, manusia wajib menggali petunjuk itu dari berbagai sisi keilmuan maupun tolak pandang yang beragam agar tercapainya pemahaman yang universal dan sempurna.
Khusus pembahasan berikut, penulis mengkaji hadits-hadits tentang Dajjal. Ia merupakan salah satu peristiwa yang mesti diimani oleh umat Islam. Karena telah dikhabarkan oleh Rasulullah secara mutawatir. Sekali pun tidak disinggung oleh al-Qur’an secara langsung. Pembahasan ini penulis sajikan secara tematik dengan judul “Dajjal si Mata Juling dalam Perspektif Hadits”.  
Kata kunci: Dajjal si Mata Juling, Perspektif, dan Hadits.
Dajjal adalah simbol kebohongan dan tipu daya, sedangkan si Mata Juling adalah ciri khas fisik Dajjal. Perspektif adalah sudut pandang. Sedangkan hadits adalah segala sesuatu yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad S.A.W berupa perkataan, perbuatan, taqrir dan sifat fisik dan akhlak beliau. 

B.     Pembahasan
1.      Pengertian Dajjal
Ibnu Atsir, sebagaimana dikutib oleh Mutawalli Sya`rawiy dalam kitab “Alâmât Al-Qiyâmah Al-Kubra”, bahwa  makna dajjal asal kata “al-Dajl” adalah “al-Khalth” (pencampuran, pengaburan). Makna “dajala” yaitu mengaburkan dan menipu. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah disebutkan,
وَحَدَّثَنِى حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَرْمَلَةَ بْنِ عِمْرَانَ التُّجِيبِىُّ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ حَدَّثَنِى أَبُو شُرَيْحٍ أَنَّهُ سَمِعَ شَرَاحِيلَ بْنَ يَزِيدَ يَقُولُ أَخْبَرَنِى مُسْلِمُ بْنُ يَسَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَكُونُ فِى آخِرِ الزَّمَانِ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ يَأْتُونَكُمْ مِنَ الأَحَادِيثِ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ وَلاَ آبَاؤُكُمْ فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ لاَ يُضِلُّونَكُمْ وَلاَ يَفْتِنُونَكُمْ ». (صحيح مسلم/1: 12)[1]

Artinya: “Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya bin Abdullah bin Harmalah bin Imran at-Tujibi dia telah berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb dia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Syuraih bahwa dia mendengar Syarahil bin Yazid berkata, telah mengabarkan kepadaku Muslim bin Yasar bahwa dia mendengar Abu Hurairah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Akan ada di akhir zaman para Dajjal Pendusta membawa hadits-hadits kepada kalian yang mana kalian tidak pernah mendengarnya dan bapak-bapak kalian juga belum pernah mendengarnya. Maka kalian jauhilah dan mereka jauhilah. Mereka tidak bisa menyesatkan kalian dan tidak bisa memfitnah kalian."
Kalimat “Pada akhir zaman terdapat para Dajjal” maksudnya para pembohong dan penipu. Kata Dajjal sering terulang dalam hadits Rasulullah s.a.w. dan dialah yang muncul pada akhir zaman dengan mengaku sebagai Tuhan. Kata Dajjal mengikuti bentuk kata fa`âla, suatu bentuk mubâlaghah (menyatakan makna yang sangat besar atau banyak terjadi). Jadi kata Dajjal dengan menggunakan bentuk seperti itu bermakna amat banyak dusta dan tipuannya.[2]
2.      Dajjal dalam al-Qur’an
Kisah tentang Dajjal tidak disebutkan dalam al-Qur’an sebagai mana dikutib oleh Sya`rawi, menurut Ibnu Katsir adalah sebagai berikut:
Pertama: Dalam menafsirkan firman Allah:
“Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidak bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau ia belum mengusahakan kebaikan dalam imannya.” (QS. Al-An`am/6: 158)

Abu Musa al-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah s.a.w., beliau bersabda, “Jika tiga peristiwa sudah muncul, maka iman seseorang yang sebelumnya belum beriman atau belum berusaha memperbaiki keimanannya, maka imannya tersebut tidak bermanfaat lagi bagi dirinya. Tiga peristiwa tersebut adalah: Dajjal, munculnya binatang dari perut bumi dan terbitnya matahari dari arah terbenamnya.”[3] Ibnu Katsir menyatakan, “Hadits ini adalah Hasan Shahih.”

Kedua: Nabi Isa Al-Masih bin Maryam a.s. akan turun dari langit dan membunuh Dajjal. Sebagaimana diterangkan dalam hadits dari Bani `Amr bin `Auf dia berkata, “Saya mendengar `Ammiy Mujammi` bin Jâriyah al-Anshariy dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda,
يَقْتُلُ اْبنُ مَرْيَمَ الدَّجَّالَ بِبَابِ لُدٍّ.[4]
Menurut al-Tirmidzi Hadits ini Hasan Shahih.
Ini menunjukkan bahwa Nabi Isa akan turun kembali, berdasarkan firman Allah QS. Al-Nisâ`/4 ayat 157-159, Ibn Katsir menafsirkan ayat 159,
وَاِنْ مِنْ اَهْلِ الْكِتَابِ اِلاَّ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِيَكُوْنُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا.
“Tidak ada seorang pun diantara ahli kitab yang tidak beriman kepadanya (`Isa) menjelang kematiannya. Dan pada hari Kiamat dia (`Isa) akan menjadi saksi mereka.” (QS. Al-Nisâ`/4: 159)

Kata “qabla mautihi” kembali kepada Isa Al-Masih bin Maryam a.s. yang berarti ia akan turun kembali ke bumi, dimana ahli kitab yang sebelumnya pernah berselisih dan saling berseteru akan beriman kepadanya. Mereka yang menganggap Isa Al-Masih sebagai Tuhan seperti anggapan kaum Kristen dan juga mereka yang mengatakan bahwa Isa Al-Masih a.s. adalah anak haram seperti anggapan kaum Yahudi akan terbongkar kebohongan-kebohongan dan tipu daya yang mereka perbuat menjelang turunnya Nabi Isa Al-Masih bin Maryam a.s. sebelum kiamat tiba.
Sehubungan dengan peristiwa yang akan terjadi seperti di atas, maka penyebutan Al-Masih Isa bin Maryam a.s., menunjukkan penyebutan Al-Masih al-Dajjal sekaligus. Al-Masih al-Dajjal yang dalam posisinya sebagai tokoh sesat akan berhadapan dengan Al-Masih Isa bin Maryam a.s. sebagai tokoh kesatria atau pahlawan penyelamat umat dari fitnah Dajjal. Biasanya orang Arab cukup menyebutkan salah satu dari dua hal yang bertentangan untuk menyebutkan semuanya. Selain karena adat dan budaya, pemakaian bahasa semacam ini dapat diketahui dari konteks kalimatnya.
3.      Dajjal Menurut Hadits
Berdasarkan penjelasan terdahulu, berita tentang dajjal diterangkan dalam banyak hadits. Bahwasanya kedatangan dajjal sudah menjadi suatu kepastian, sebab khabar tersebut diriwayatkan oleh banyak jalur periwayatan. Baik dari jalur riwayat Bukhari dalam Shahih al-Bukhari bab fitn/al-Madînah/bida’ al-khalq/tauhid/anbiyâ’/manâqib, Muslim dalam bab fitn, al-Tirmidzi dalam bab fitn/manâqib, Abu Daud dalam bab malâhim, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Majah dalam bab fitn dalam bab fitn, dan Muwatha’ dalam bab al-madînah.[5]
Semua hadits-hadits yang terdapat dalam kitab-kitab hadits tersebut saling mendukung satu sama lain, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa peristiwa kedatangan Dajjal menurut keterangan hadits-hadits yang penulis temukan ditambah dengan keterangan Sya`rawi adalah telah mutawatir. Sekian banyak hadits tersebut ada yang shahih dan ada yang dha`if, sehingga dituntut berhati-hati dalam memahinya.
4.      Ciri-ciri Khusus Dajjal dalam Hadits
Dajjal sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah mempunyai ciri khusus diantaranya diterangkan dalam hadits berikut:
أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ نَبِىٍّ إِلاَّ وَقَدْ أَنْذَرَ أُمَّتَهُ اْلأَعْوَرَ اْلكَذَّابَ أَلاَ إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ مَكْتُوْبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ك ف ر. (رواه مسلم).[6]

Keterangan ini lebih jelas, karena hadits-hadits tentang ciri-ciri dajjal ini banyak, walaupun dalam redaksi yang beragam. Ini juga mengisyaratkan bahwa hadits tentang dajjal ini mutawatir. Walaupun tidak disebutkan dalam al-Qur’an, tetapi isyarat kedatangannya sudah jelas disampaikan oleh Rasul dengan cara mutawatir. Meski demikian, keterangan yang diperoleh dari hadits sendiri tentunya perlu ketelitian dalam memahaminya. Salah satu contoh hadits yang dianggap tidak maqbul (tertolak) yaitu:
عَنْ مُعَاذ بْن جَبَل عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اَلْمَلْحَمَةُ الْعُظْمَى وَفَتْحُ الْقُسْطَنْطِيْنِيَّةَ وَخُرُوْجُ الدَّجَّالِ فِي سَبْعَةِ أَشْهُرٍ.[7]

Menurut al-Tirmidzi hadits ini Hasan Garib, sedangkan menurut Mahmud Hadits Gharib. Kustantin adalah Kota Rumawi dan ia ditaklukan pada zaman setelah shahabat. Jadi, tidak mungkin peristiwa penaklukan tersebut terjadi, sebab telah berlalu.
5.      Ciri-ciri Fisik Dajjal dalam Hadits yang Selaras dengan Ciri-ciri Abu Lahab[8]
Dajjal, sebagaimana dipaparkan di atas memiliki ciri-ciri yang dapat dikenal dan dapat dimiliki oleh manusia sepanjang zaman. Simbol-simbol Dajjal ini akan muncul dimanapun dan kapanpun selagi belum terjadinya kiamat besar. Berikut penulis paparkan hadits-hadits yang terkait dengan ciri-ciri Dajjal tersebut yang sekaligus sama atau hampir sama dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh Abu Jahal paman Rasul.
Hadits ke-1
حَدَّثَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ حَدَّثَنِي بِحَيرٌ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْأَسْوَدِ عَنْ جُنَادَةَ بْنِ أَبِي أُمَيَّةَ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّهُ حَدَّثَهُمْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنِّي قَدْ حَدَّثْتُكُمْ عَنْ الدَّجَّالِ حَتَّى خَشِيتُ أَنْ لَا تَعْقِلُوا إِنَّ مَسِيحَ الدَّجَّالِ رَجُلٌ قَصِيرٌ أَفْحَجُ جَعْدٌ أَعْوَرُ مَطْمُوسُ الْعَيْنِ لَيْسَ بِنَاتِئَةٍ وَلَا حَجْرَاءَ فَإِنْ أُلْبِسَ عَلَيْكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ. قَالَ أَبُو دَاوُد عَمْرُو بْنُ الْأَسْوَدِ وَلِي الْقَضَاءَ. (سنن أبوداود: 3763)
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Haiwah bin Syuraih berkata, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah berkata, telah menceritakan kepadaku Bahir dari Khalid bin Ma'dan dari Amru Ibnul Aswad dari Junadah bin Abu Umayyah dari Ubadah bin Ash Shamit bahwa ia menceritakan kepada mereka, Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh, aku telah menceritakan perihal Dajjal kepada kalian, hingga aku kawatir kalian tidak lagi mampu memahaminya. Sesungguhnya Al Masih Dajjal adalah seorang laki-laki yang pendek, berkaki bengkok, berambut keriting, buta sebelah dan matanya tidak terlalu menonjol dan tidak pula terlalu tenggelam. Jika kalian merasa bingung, maka ketahuilah bahwa Rabb kalian tidak bermata juling." Abu Dawud berkata, "Amru Ibnul Aswad adalah seorang hakim.“

Hadits ke-2

حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا الْمَسْعُودِيُّ وَأَبُو النَّضْرِ قَالَ حَدَّثَنَا الْمَسْعُودِيُّ الْمَعْنَى عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجْتُ إِلَيْكُمْ وَقَدْ بُيِّنَتْ لِي لَيْلَةُ الْقَدْرِ ومَسِيحُ الضَّلَالَةِ فَكَانَ تَلَاحٍ بَيْنَ رَجُلَيْنِ بِسُدَّةِ الْمَسْجِدِ فَأَتَيْتُهُمَا لِأَحْجِزَ بَيْنَهُمَا فَأُنْسِيتُهُمَا وَسَأَشْدُو لَكُمْ مِنْهُمَا شَدْوًا أَمَّا لَيْلَةُ الْقَدْرِ فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ وِتْرًا وَأَمَّا مَسِيحُ الضَّلَالَةِ فَإِنَّهُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ أَجْلَى الْجَبْهَةِ عَرِيضُ النَّحْرِ فِيهِ دَفَأٌ كَأَنَّهُ قَطَنُ بْنُ عَبْدِ الْعُزَّى قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ يَضُرُّنِي شَبَهُهُ قَالَ لَا أَنْتَ امْرُؤٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ امْرُؤٌ كَافِرٌ. (مسند أحمد: 7564)
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Al Mas'udi. Dan Abu An Nadhr juga berkata: Telah menceritakan kepada kami Al Mas'udi dari 'Ashim bin Kulaib dari bapaknya dari Abu Hurairah berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku keluar kepada kalian dalam keadaan telah mendapat penjelasan tentang malam lailatul qadar dan masihudl dlalalah (Dajjal). Ketika itu ada dua orang yang saling mencela di pintu masjid, lalu aku datang untuk melerai antara keduanya namun kemudian aku terlupakan, dan akan aku ceritakan salah seorang dari keduanya kepada kalian. Adapun malam lailatul qodar, maka carilah ia pada sepuluh malam akhir di malam ganjil. Dan masihudl dlalalah (Dajjal), sesungguhnya ia adalah seorang laki-laki yang bermata juling, serta jidad dan lehernya lebar seakan-akan ia Qathan bin Abdul Uzza." Abu Hurairah berkata, "Wahai Rasulullah, apakah akan membahayakan aku akan penyerupaannya?" beliau bersabda: "Tidak, engkau seorang muslim sedang ia seorang kafir."

Hadits ke-3

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمُتَعَالِ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأُمَوِيُّ حَدَّثَنَا مُجَالِدٌ عَنْ أَبِي الْوَدَّاكِ قَالَ قَالَ لِي أَبُو سَعِيدٍ هَلْ يُقِرُّ الْخَوَارِجُ بِالدَّجَّالِ فَقُلْتُ لَا فَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي خَاتَمُ أَلْفِ نَبِيٍّ وَأَكْثَرُ مَا بُعِثَ نَبِيٌّ يُتَّبَعُ إِلَّا قَدْ حَذَّرَ أُمَّتَهُ الدَّجَّالَ وَإِنِّي قَدْ بُيِّنَ لِي مِنْ أَمْرِهِ مَا لَمْ يُبَيَّنْ لِأَحَدٍ وَإِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ وَعَيْنُهُ الْيُمْنَى عَوْرَاءُ جَاحِظَةٌ وَلَا تَخْفَى كَأَنَّهَا نُخَامَةٌ فِي حَائِطٍ مُجَصَّصٍ وَعَيْنُهُ الْيُسْرَى كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ مَعَهُ مِنْ كُلِّ لِسَانٍ وَمَعَهُ صُورَةُ الْجَنَّةِ خَضْرَاءُ يَجْرِي فِيهَا الْمَاءُ وَصُورَةُ النَّارِ سَوْدَاءُ تَدَّاخَنُ. (مسند أحمد: 11328)
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Abdul Muta'al bin Abdul Wahhab berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id Al Umawi berkata; telah menceritakan kepada kami Mujalid dari Abul Waddak ia berkata; Abu Sa'id berkata kepadaku; "Apakah orang-orang Khawarij mengakui adanya Dajjal?" maka aku menjawab; "Tidak, " maka iapun berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya aku adalah penutup dari seribu Nabi yang telah diutus, dan tidaklah ada seorang Nabi yang diutus kecuali telah memperingatkan kepada umatnya tentang Dajjal, dan sungguh aku telah diberi penjelasan berkenaan dengannya yang tidak diberikan kepada seorang pun. Sesungguhnya ia adalah seorang yang bermata juling, sedang Rabb kalian bukanlah bermata juling. Mata kanannya melotot -tidak bisa dipungkiri- seakan-akan dahak yang menempel pada tembok yang dicat, sedang mata kirinya seperti bintang yang terang. Dan aku juga diberi penjelasan tentang semua ucapan, dan gambaran surga yang berwarna hijau yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Serta gambaran neraka yang berwarna hitam berasap."

Hadits ke-4

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي الْعَبَّاسِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَخْبَرَنِي رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ رَبِيعَةُ بْنُ عَبَّادٍ مِنْ بَنِي الدِّيلِ وَكَانَ جَاهِلِيًّا قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فِي سُوقِ ذِي الْمَجَازِ وَهُوَ يَقُولُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تُفْلِحُوا وَالنَّاسُ مُجْتَمِعُونَ عَلَيْهِ وَوَرَاءَهُ رَجُلٌ وَضِيءُ الْوَجْهِ أَحْوَلُ ذُو غَدِيرَتَيْنِ يَقُولُ إِنَّهُ صَابِئٌ كَاذِبٌ يَتْبَعُهُ حَيْثُ ذَهَبَ فَسَأَلْتُ عَنْهُ فَذَكَرُوا لِي نَسَبَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالُوا لِي هَذَا عَمُّهُ أَبُو لَهَبٍ حَدَّثَنَا سُرَيْجٌ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ عَبَّادٍ الدُّؤَلِيِّ وَكَانَ جَاهِلِيًّا فَأَسْلَمَ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ قَالَ فَقُلْتُ مَنْ هَذَا قَالَ هَذَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَهُوَ يَذْكُرُ النُّبُوَّةَ قُلْتُ مَنْ هَذَا الَّذِي يُكَذِّبُهُ قَالُوا هَذَا عَمُّهُ أَبُو لَهَبٍ قَالَ أَبُو الزِّنَادِ فَقُلْتُ لِرَبِيعَةَ بْنِ عَبَّادٍ إِنَّكَ يَوْمَئِذٍ كُنْتَ صَغِيرًا قَالَ لَا وَاللَّهِ إِنِّي يَوْمَئِذٍ لَأَعْقِلُ أَنِّي لَأَزْفِرُ الْقِرْبَةَ يَعْنِي أَحْمِلُهَا. (مسند أحمد: 18234)
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Abul Abbas Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abuz Zinad dari bapaknya ia berkata, telah mengabarkan kepadaku seorang laki-laki yang biasa dipanggil Rabi'ah bin Abbad dari Bani Ad Dil dan ia adalah seorang yang telah mengenyam masa jahiliyah, ia berkata; Saat masih Jahiliyah, saya pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di pasar Dzul Majaz. Saat itu, beliau bersabda: "Wahai sekalian manusian, ucapkanlah, 'LAA ILAAHA ILLALLAH, niscaya kalian akan selamat." Maka orang-orang pun mengerumuninya, sementara di belakangnya ada seorang laki-laki yang berwajah tampan, bermata juling dan rambut terjalin dua bagian, si laki-laki berkata, "Dia adalah seorang yang murtad (keluar dari agama nenek moyangnya) dan pendusta." Laki-laki itu selalu mengikutinya kemana pun beliau pergi. Maka saya pun menanyakan siapa lelaki itu, mereka pun mengurutkan nasab Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, "Laki-laki ini adalah pamannya, yakni Abu Lahab. Telah menceritakan kepada kami Suraij Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Zinad dari bapaknya dari Rabi'ah bin Abbad Ad Du`ali ia adalah seorang yang mengenyam masa jahiliyah dan kemudian memeluk Islam. Ia berkata; Saya pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian ia pun menyebutkan hadits. Rabi'ah berkata; Saya bertanya, "Siapakah orang ini?" ia menjawab, "Ia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib." Ia pun menyebutkan tentang kenabian. Kemudian saya bertanya lagi, "Siapakah orang yang selalu mendustakannya ini?" mereka menjawab, "Orang ini adalah pamannya, yakni Abu Lahab." Abu Zinad berkata; Saya berkata kepada Rabi'ah bin Abbad, "Sesungguhnya pada hari itu kamu masih kecil." Ia menjawab, "Tidak, demi Allah. Pada hari itu saya telah mencapai masa aqil baligh. Saya benar-benar telah mampu membawa Qirbah (kantong kulit untuk menyimpan air)."

Hadits ke-5

حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْكُثُ أَبَوَا الدَّجَّالِ ثَلَاثِينَ عَامًا لَا يُولَدُ لَهُمَا ثُمَّ يُولَدُ لَهُمَا غُلَامٌ أَعْوَرُ أَضَرُّ شَيْءٍ وَأَقَلُّهُ نَفْعًا تَنَامُ عَيْنَاهُ وَلَا يَنَامُ قَلْبُهُ ثُمَّ نَعَتَ أَبَوَيْهِ فَقَالَ أَبُوهُ رَجُلٌ طُوَالٌ مُضْطَرِبُ اللَّحْمِ طَوِيلُ الْأَنْفِ كَأَنَّ أَنْفَهُ مِنْقَارٌ وَأُمُّهُ امْرَأَةٌ فِرْضَاخِيَّةٌ عَظِيمَةُ الثَّدْيَيْنِ قَالَ فَبَلَغَنَا أَنَّ مَوْلُودًا مِنْ الْيَهُودِ وُلِدَ بِالْمَدِينَةِ قَالَ فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى أَبَوَيْهِ فَرَأَيْنَا فِيهِمَا نَعْتَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِذَا هُوَ مُنْجَدِلٌ فِي الشَّمْسِ فِي قَطِيفَةٍ لَهُ هَمْهَمَةٌ فَسَأَلْنَا أَبَوَيْهِ فَقَالَا مَكَثْنَا ثَلَاثِينَ عَامًا لَا يُولَدُ لَنَا ثُمَّ وُلِدَ لَنَا غُلَامٌ أَعْوَرُ أَضَرُّ شَيْءٍ وَأَقَلُّهُ نَفْعًا فَلَمَّا خَرَجْنَا مَرَرْنَا بِهِ فَقَالَ مَا كُنْتُمَا فِيهِ قُلْنَا وَسَمِعْتَ قَالَ نَعَمْ إِنَّهُ تَنَامُ عَيْنَايَ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي فَإِذَا هُوَ ابْنُ صَيَّادٍ. (مسند أحمد: 19522)
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid dari Abdurrahman bin Abu Bakrah dari Ayahnya ia berkata; Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Kedua orang tua Dajjal bermukim di bumi selama tiga puluh tahun, tidak memiliki anak, hingga ketika ia melahirkan anak, lahirlah seorang anak yang bermata juling, banyak memberi bahaya dan sedikit sekali memberikan manfaat, matanya tidur tetapi hatinya tidak." Kemudian Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam menerangkan sifat-sifatnya secara gamblang, sabdanya: "Bapaknya adalah seorang yang tinggi dan gempal, berhidung sangat mancung laksana paruh, sedangkan ibunya seorang wanita yang bertulang besar dan berdada besar." Abu Bakrah berkata; "Lalu sampailah kabar kepada kami, bahwa di Madinah telah terlahir seorang anak dari bangsa Yahudi, lalu aku dan Zubair bin Awwam mendatanginya, hingga ketika kami menemui kedua orang tuanya, kami mengetahui ciri-ciri keduanya persis seperti yang pernah di jelaskan oleh Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam, ternyata anak tersebut tengah berbaring di bawah terik matahari, dengan mengenakan qathifah (sejenis pakaian kemewahan) yang dapat mengeluarkan suara yang tidak jelas, Lalu kami menanyai kedua orang tuanya dan keduanya menjawab; "Kami telah hidup selama tiga puluh tahun dan belum memiliki anak, ketika kami melahirkan, anak kami juling, dan banyak membahayakan kami daripada memberi manfaat." Ketika kami keluar, kami berpapasan dengannya (anakya), lalu ia berkata; "Apa urusan kalian berdua?." Kami menjawab; "Apakah kamu mendengarnya?." Ia menjawab; "Yah, sungguh mataku terpejam tapi hatiku tidak." Ternyata dia adalah Ibnu Shayyad.”

Hadits ke-6

حَدَّثَنَا مُؤَمَّلٌ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ زَيْدٍ عَن عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَن أَبِيهِ قَالَ وَصَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ صِفَةَ الدَّجَّالِ وَصِفَةَ أَبَوَيْهِ قَالَ يَمْكُثُ أَبَوَا الدَّجَّالِ ثَلَاثِينَ سَنَةً لَا يُولَدُ لَهُمَا ثُمَّ يُولَدُ لَهُمَا ابْنٌ مَسْرُورٌ مَخْتُونٌ أَقَلُّ شَيْءٍ نَفْعًا وَأَضَرُّهُ تَنَامُ عَيْنَاهُ وَلَا يَنَامُ قَلْبُهُ فَذَكَرَهُ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ ثُمَّ وُلِدَ لَنَا هَذَا أَعْوَرَ مَسْرُورًا مَخْتُونًا أَقَلَّ شَيْءٍ نَفْعًا وَأَضَرَّهُ. (مسند أحمد: 19615)
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Mu`ammal, telah menceritakan kepada kami Hammad, telah mengabarkan kepada kami Ali bin Zaid dari Abdurrahman bin Abu Bakrah dari Ayahnya ia berkata; "Suatu hari Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam pernah mensifati Dajjal dan kedua orang tuanya. Beliau bersabda: "Kedua orang tua dajjal bermukim di bumi selama tiga puluh tahun tanpa di karuniai anak, hingga ketika ia melahirkan, lahirlah seorang anak yang menggembirakan dan telah terkhitan, sedikit memberikan manfaat dan banyak memberi bahayamatanya tidur tetapi hatinya tidak." Lalu Abu Bakrah menyebutkan bahwa kedua orang tuanya berkata; "Kemudian lahirlah untuk kami seorang anak yang bermata juling, menyenangkan dan telah terkhitan, sedikit manfaat dan banyak membahayakan."

Dari paparan hadits-hadits di atas maka dapat kita ketahui bahwa ciri-ciri fisik Dajjal itu adalah seorang laki-laki yang pendek, berkaki bengkok, berambut keriting, buta sebelah (juling) dan matanya tidak terlalu menonjol dan tidak pula terlalu tenggelam, sedikit memberikan manfaat dan banyak memberi bahaya dan ketika tidur matanya tidur tetapi hatinya tidak. Begitu juga ciri-ciri fisik Abu Lahabberwajah tampan, bermata juling dan rambut terjalin dua bagian, murtad (keluar dari agama nenek moyangnya) dan pendusta."
Selanjutnya, menurut penulis ciri-ciri yang diinformasikan oleh Rasul tersebut merupakan isyarat terhadap sifat antropologis yang dapat dijadikan pedoman agar lebih lebih mawasdiri ketika kita menemukan orang yang berperawakan dan perangai seperti yang diinformasikan.
6.      Cara Menjaga Diri Dari Serangan Dajjal
Diantara upaya untuk menjaga diri dari tipu daya Dajjal adalah dengan senantiasa berdo`a dan berlindung kepada Allah sebagaimana Rasulullah menganjurkan, bahkan beliau sendiri selalu berdo`a setiap selesai tasyahud akhir dalam shalat. Do`a tersebut adalah sebagai berikut:
إِذَافَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ [اَلآخِرِ], فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ, [يَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ] مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ, وَمِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ, وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَاْلمَمَاتِ, وَمِنْ شَرِّ [فِتْنَةِ] الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ, [ثُمَّ يَدْعُوْلِنَفْسِهِ بِمَا بَدَالَهُ].[9]
Menurut al-Dzahabi hadits tentang meminta perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal adalah Mutawatir. Selanjutnya, menghafal 10 ayat terakhir dari surat al-Kahfi, serta mengamalkannya. Sedangkan, hadits lain memberikan informasi terhadap penduduk Makkah dan Madinah yang terjaga dari fitnah Dajjal. Karena banyak hadits yang menginformasikan bahwa kedua kota ini terlindung dari fitnah besar tersebut. Diantaranya hadits shahih yang diriwayatkan oleh al-Tirmidzi,[10]

...عَنْ أَنَسٍ قاَلَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَأْتِى الدَّجَّالُ اْلمَدِيْنَةَ فَيَجِدُ الْمَلاَءِكَةَ يَحْرُسُوْنَهَا فَلاَ يَدْخُلُهَا الطَّاعُوْنَ وَلاَ الدَّجَّالُ إِنْ شَاءَ اللهُ.

Dan banyak lagi hadits yang menunjukkan bahwa kedua kota tersebut terhindar dari pengaruh Dajjal. Ini karena kemuliaan keduanya. Kalau benar-benar menuju Madinah, ia hanya akan sampai di daerah rawa-rawa dekat kota Madinah. Kedatangannya akan menimbulkan goncangan hebat pada wilayah tersebut dan mengejutkan para penduduknya. Goncangan tersebut akan terjadi sebanyak tiga kali, baik goncangan secara fisik maupun psikis. Dengan goncangan tersebut, orang-orang munafik baik laki-laki maupun perempuan akan keluar dari kota Madinah, sehingga mulai saat itulah Madinah akan menjadi wangi, bersinar dan bersih dari kotoran orang-orang kafir dan munafik.
7.      Pemahaman Hadits tentang Dajjal
Hadits-hadits yang menyebutkan tentang Dajjal ini sangat banyak mulai dari penjelasan kedatangannya, ciri-ciri fisiknya sampai pada proses akhir zaman yang dikaitkan dengan kedatangannya. Maka, sebagai Muslim mesti bijak memahami kandungan dan pelajaran yang disuguhkan oleh Rasul tersebut. Nah, untuk menjelaskan hal ini para ahli ilmu telah memberikan metode-metode untuk memahami hadits Rasul diantaranya sebagaimana yang ditempuh oleh Buchari yang diuraikan dalam bukunya “Metode Pemahaman Hadits: Sebuah Kajian Hermeneutik” yaitu Metode Pemahaman Hadits Tradisional yang terdiri dari metode analiti, global dan komperatif, Metode Pemahaman hadits Modernis yang terdiri dari dengan pendekatan ilmiah dan pendekatan filosofis, serta Pemahaman hadits Hermeneutik.[11]
Selanjutnya, Syuhudi Isma`il[12] mengemukakan metode pemahaman tekstual dan kontekstual. Ia membahas tentang hadits terkait dengan Dajjal  ini dalam Bab Sekitar Bentuk Matan Hadis Nabi dan Cakupan Petunjuknya dengan sub bab ungkapan simbolik. Hadits dimaksud jika dipahami dari segi tekstual maka akan banyak pengertian, maksud dan interpretasi yang dapat dikemukakan. Untuk itu perlu dilihat kontekstualitas hadits tersebut. Seperti hadits yang dikemukan oleh Syuhudi Ismail untuk mewakili dari ratusan hadits yang terkait dengan Dajjal ini seperti:
وَحَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ - وَاللَّفْظُ لَهُ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ذَكَرَ الدَّجَّالَ بَيْنَ ظَهْرَانَىِ النَّاسِ فَقَالَ « إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيْسَ بِأَعْوَرَ. أَلاَ وَإِنَّ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِئَةٌ ». (الجامع الصحيح المسمى صحيح مسلم/8: 194)[13]
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair, teks miliknya, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi' dari Ibnu Umar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam menyebut Dajjal dihadapan orang-orang, beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak buta sebelah mata dan sesungguhnya Al Masih Dajjal buta matanya yang kanan, matanya seperti anggur mencuat."

Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa mata Dajjal itu buta sebelah kirinya karena tertutup kulit dan tertulis diantara dua matanya "ka fa ra" atau "kafir" yang hanya bisa dibaca oleh orang muslim. Simak paparan hadits-hadits berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا شُعَيْبُ بْنُ الْحَبْحَابِ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدَّجَّالُ مَمْسُوحُ الْعَيْنِ مَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ك ف ر يُهَجَّاهَا يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُسْلِمٍ ك ف ر. (رواه أحمد: ١٢٧٢٩)

Telah menceritakan kepada kami Abdush-Shomad telah menceritakan kepadaku bapakku, telah menceritakan kepada kami Syu'aib bin Al-Habhab dari Anas, Nabi ﷺ bersabda, "Dajjal itu matanya buta, tertulis di antara kedua matanya KAF FA RA, setiap orang muslim bisa mengeja dan membacanya KA FA RA." (HR. Ahmad: 12729 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits ahlul Bashrah)

Demikian juga hadits riwayat Muslim: 5221, Ahmad: 13109 [isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth]
- shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup bashrah dan wafat tahun 91 H. Dalam jalur lain imam Ahmad meriwayatkan bahwa mata Dajjal buta sebelah kirinya, karena tertutup kulit. Sebagai haditsnya:

حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدَّجَّالَ مَمْسُوحُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى عَلَيْهَا ظَفَرَةٌ مَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ كَافِرٌ. (رواه أحمد: ١٢٦٠٨)

Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Humaid dari Anas sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Dajjal mata kirinya buta karena tertutup kulit, ada tulisan diantara kedua matanya K A F I R." (HR. Ahmad: 12608 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup bashrah dan wafat tahun 91 H)

Hadits di atas dipahami bahwa pernyataan “Allah tidak buta sebelah mata adalah ungkapan simbolik. Allah mahasuci dari segala dari segala sifat yang menyamakan-Nya dengan makhluk. Ungkapan tersebut dapat dipahami bahwa kekuasaan Allah tidak cacat, tetapi mahasempurna. Sedangkan pernyataan bahwa al-Masih al-Dajjal itu buta matanya sebelah kanan merupakan ungkapan simbolik juga. Tidak tidak hanya “matanya yang buta sebelah kanan” saja, tetapi juga diri al-Masih al-Dajjal itu sendiri.
Lebih lanjut Syuhudi menjelaskan bahwa dalam berbagai kitab syarah hadits dijelaskan bahwa al-Masih al-Dajjal, yang biasa disebut dajjal, adalah makhluk yang gambaran fisiknya antara lain sebagaimana disebutkan oleh berbagai matan hadits.
Secara kontekstual, hadits ini dipahami sebagai sesuatu ungkapan simbolik. Al-Dajjal merupakan simbol-simbol ketimpangan; para penguasa atau manusia pada waktu itu yang memiliki karakter zhalim, penindas, pengkhianat, penipu dan lain sebagainya. Sikap-sikap seperti inilah dipakai untuk al-dajjal.
Ini juga dapat dipahami dari peristiwa yang diriwayatkan imam Muslim dari Nafi`, katanya: Ibnu Umar bertemu dengan ibnu Sayyad dalam perjalanan pergi ke Madinah. Ibnu Sayyad mengucapkan kalimat yang menimbulkan kemarahan Ibnu Umar. Maka membuatnya marah. Ibnu Umar masuk ke rumah Hafsah, lalu ia sampaikan persoalan itu kepada Hafsah, kemudian Hafsah berkata kepadanya, “semoga Allah merahmatimu dan tidak membalas sakit hatimu kepada Ibnu Sayyad. Tidakkah engkau mengetahui bahwa Rasulullah S.A.W bersabda:
إِنَّمَا يَخْرُجُ الدَّجَّالُ مِنْ غَضْبَةٍ بَغْضَابُهَا.
 “Sesungguhnya dajjal itu keluar karena sebab marah.”[14]
Jadi, sikap perangai yang tidak baik itu disamakan dengan sifat dajjal, yang diikuti dengan kebohongannya. Para kritikus hadits untuk penilaian jarh wa ta`dil-pun ditemukan ungkapan seperti itu, dikarenakan sangat pembohongnya seorang periwayat.[15] Seperti penilai tentang Ibrahim bin Hadbah, dia adalah dajjal 
C.     Penutup
Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari hadits maupun isyarat al-Qur’an sendiri, maka peristiwa tentang kedatangan Dajjal telah mutawatir, artinya keberadaan dan peristiwa itu bersifat qath`iy al-dalalah. Jadi, tidak dapat dipungkiri. Seiring dengan kedatangannya juga disertai dengan turunnya Nabi Isa dengan tetap mengikuti syari`at Nabi Muhammad pada waktu manusia telah banyak meninggalkan ajaran agama dan ilmu.
Dajjal sebagaimana diungkapkan hadits dengan kata jamak “para pendusta”, akan selalu terjadi. Sepanjang kehidupan manusia ia selalu merorongi tingkah dan prilaku hidup umat. Pada waktu peristiwa muncul dajjal dengan wujud fisik seperti digambarkan dalam hadits akan terjadi sebagai tanda kiamat sudah dekat. Bahkan pada saat itu tidak adagunanya lagi iman setelah itu.
Hadits-hadits tentang dajjal sangat banyak, mesti berhati-hati dalam memahaminya. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan metode kontekstual. Begitu juga tidak tertutup kemungkinan untuk dipahami secara tekstual.
Akhirnya, penulis mengakui banyak kekurangan dalam bahasan ini, karena terbatasnya referensi dan waktu. Penulis berharap para ahli ilmu, berkenan melengkapi dan masukan yang dapat mendukung bahasan ini.



DAFTAR RUJUKAN

Al-Tirmidziy, Muhammad bin `Isa Abu `Isa al-Silmiy, al-Jami` al-Shahih Sunan al-Tirmidziy, tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir, (Bairut: Dar Ihya al-Turats al-`Arabiy, tth), Juz IV
Al-Albani, Muhamad Nashiruddin, Ed. Indonesia; Sifat Shalat Nabi, penerjemah: Muhammad Thalib (Yogyakarta: Media Hidayah, 2000), Cet. I
Al-Bukhari, Shahih al-Bukhariy, (Semarang: Thaha Putra, tth), Juz VIII.
Al-Nawawiy, Shahih Muslim bi Syarah al-Nawawiy, ttp: tth
Ibnu Hamzah al-Husaini al-Hanafi ad-Damsyiqi, Asbabul Wurud,(Jakarta: Kalam Mulia, 2011), Jilid II, Cet. VIII
Ibnu Thahir al-Maqdisiy, Ma`rifah al-Tadzkirah, (ttp: Mu’assasah al-Kitab al-Tsaqafiyah, tth), Juz I
Abu al-Husain Muslim bin al-Hajaj Abu al-Husain al-Qusyairi al-Naisaburiy, Shahih Muslim, tahqiq: Muhammad Fu’ad `Abdul Baqiy, (Bairut: Dar al-Turats al-`Arabiy, tth), Juz I
Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairiy al-Naisaburiy, Shahih Muslim, (Bairut: Dar al-Jil, tth), Juz VIII
`Abdu al-Rahman bin `Aliy Ibnu al-Jauziy, Al-`Ilal al-Matnahiyah fi al-Ahadits al-Wahiyah, (Bairut: Dar al-Kutub al-`Ilmiyah, 1403 H), Juz II, Cet. I
Winsinck, Arnold Jhon, Al-Mu`jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits al-Nabawiy, (Laiden: A. J. Brill, 1965), Juz I
Sya`rawi, Mutawalli,  Kemunculan Nabi Isa, Imam Mahdi dan Dajjal, judul asli: Alâmat Al-Qiyâmah Al-Kubra, (Jakarta: Qultum Media, 2006), Cet. I
http://www.shamela.ws  Al-Maktabah  Al-Syamilah Ver. 2.11
Lidwa Pusaka i-softwareEnsiklopedi Hadits: Kitab 9 Imam(Jakarta: www.lidwapusakacom, 2010), Ver. 1.2


[1] Muslim bin al-Hajaj Abu al-Husain al-Qusyairi al-Naisaburiy, Shahih Muslim, tahqiq: Muhammad Fu’ad `Abdul Baqiy, (Bairut: Dar al-Turats al-`Arabiy, tth), Juz I, h. 12
[2] Mutawalli Sya`rawi,  Kemunculan Nabi Isa, Imam Mahdi dan Dajjal,judul asli: Alâmat Al-Qiyâmah Al-Kubra, (Jakarta: Qultum Media, 2006), Cet. I, h. 88
[3] Lihat Juga Hadits dalam Shahih al-Bukhariy Juz VIII, h. 101, terbitan Thoha Putra: Semarang. Haditsnya panjang, penggalannya berbunyi,

حَدَّ ثَنَا اَبُو اْليَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّ ثَنَا اَبوُ الزِّنَادِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَانِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى.... فَإِذَا طَلَعَتْ وَرَآهَا النَّاسُ آمَنُوْا اَجْمَعُوْنَ فَذَالِكَ حِيْنَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا اِيْمَانُهَا لمَ ْتَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ اَوْ كَسَبَتْ فِى اِيْمَانِهَا خَيْرًا....(رواه الخارى)
[4] Al-Tirmidzi, al-Jâmi` al-Shahih “Sunan al-Tirmidziy”, ditahqiq oleh: Kamal Yusuf al-Haut, (Beirut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah, tth), Juz IV, h. 447
[5]Arnold Jhon Winsinck, Al-Mu`jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits al-Nabawiy, (Laiden: A. J. Brill, 1965), Juz II, h. 111
[6] Imam al-Nawawiy, Shahih Muslim bi Syarah al-Nawawiy, --, h. 59; hadits sebelumnya berlafazh "أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِئَةٌ" pada h. 60 dengan ungkapan diantara kedua matan-nya (di dahinya) tertulis “kaf-fa-ra”  dibaca kâfir, kemudian hadits selanjutnya dikatakan, “dapat dibaca oleh semua orang Islam” h. 61, hadits dari Huzhaifah ditambahkan “terbaca oleh setiap orang mukmin, dan selain mereka tidak dapat membacanya” يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ كَاتِبٍ وَغَيْرِ كَاتِبٍLihat hadits senada dalam Shahih al-Bukhariy Juz VIII, h. 102, 103 cetakan: Semarang, penerbit: Thaha Putra. Selanjutnya dalam Sunan al-Tirmidzi, dengan lafazh,
"...عن ابن عمر...وَإِنَّهُ مَكْتُوْبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ك ف ر يَقْرَأُهُ مَنْ كَرِهَ عَمَلَهُ". (رواه الترمذى)
Menurutnya hadits ini Hasan Shahih. (al-Tirmidziy, al-Jami` al-Tirmidziy, Juz IV, tahqiq: Kamal Yusuf al-Haut, (Bairut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah, tth.), h. 441, 445, dan 447. 
[7] Al-Tirmidzi, op.cit., h. 442; lihat juga Kitab yang sama; Muhammad bin `Isa Abu `Isa al-Tirmidziy al-Silmiy, al-Jami` al-Shahih Sunan al-Tirmidziy, tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir, (Bairut: Dar Ihya al-Turats al-`Arabiy, tth), Juz IV, h. 509: al-Albaniy mendha`ifkannya.
[8] Lidwa Pusaka i-softwareEnsiklopedi Hadits: Kitab 9 Imam(Jakarta: www.lidwapusakacom, 2010), Ver. 1.2
[9] “Bila seseorang selesai membaca tasyahud [akhir], hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah empat perkara: ‘[Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu] dari siksa neraka Jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah hidup dan mati, dan dari [fitnah] Dajjal. ‘[Selanjutnya, hendaklah ia berdo`a memohon untuk dirinya sesuai dengan kepentingannya]. (HR. al-Nasâ’i dengan Sanad ShahihLihat Muhamad Nashiruddin Al-Albani, Ed. Indonesia; Sifat Shalat Nabi, (Yogyakarta: Media Hidayah, 2000), Cet. 1, h. 228; penerjemah: Muhammad Thalib; lihat juga al-Bukhari, op.cit., h. 103 “… dari `Urwah bahwasanya `Aisyah berkata, “saya mendengar Rasulullah s.a.w. dalam shalatnya berlindung dari fitnah Dajjal.”
[10] al-Tirmidzi, op.cit., h. 446; lihat Bukhari, op.cit., h. 103 tambah dengan kata “fala yaqrab” setelah kata “yahrusunaha”.
[11] Buchari, Metode Pemahaman Hadits: Sebuah Kajian Hermeneutik, (Jakarta: Nuansa Madani, 1999), Cet. I
[12] Syuhudi Ismail, Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual: Telaah ma`ani al-hadits tentang ajaran Islam yang Universal dan lokal, (Jakarta: Bulan Bintang, 2009), Cet. II, h. 18
[13] Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairiy al-Naisaburiy, Shahih Muslim, (Bairut: Dar al-Jil, tth), Juz VIII, h. 194; pada hadits yang dikutip oleh Syuhudi terdapat kesalahan pada kata "طافئة" thafi’ah (mencuat), ia menulis " "طائفة tha’ifah (golongan). Kata terakhir ada dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Tirmidziy, Sunan al-Tirmidziy, nomor hadits 2166.
[14] Ibnu Hamzah al-Husaini al-Hanafi ad-Damsyiqi, Asbabul Wurud,(Jakarta: Kalam Mulia, 2011), Jilid II, Cet. VIII, h. 141
[15] Lihat Ibnu Thahir al-Maqdisiy, Ma`rifah al-Tadzkirah, (ttp: Mu’assasah al-Kitab al-Tsaqafiyah, tth), Juz I, h. 90; lihat juga `Abdu al-Rahman bin `Aliy Ibnu al-Jauziy, Al-`Ilal al-Matnahiyah fi al-Ahadits al-Wahiyah, (Bairut: Dar al-Kutub al-`Ilmiyah, 1403 H), Juz II, Cet. I, h. 912

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]