PENYEBAB TERJADINYA BANYAK KEMATIAN
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Menelusuri lafazh hadits,
" ... وَلَا فَشَا الزِّنَا فِي قَوْمٍ قَطُّ إِلَّا كَثُرَ فِيهِمْ الْمَوْتُ...". (رواه مالك: ٨٧٠)
" ... Tidaklah perzinaan itu tersebar pada suatu kaum, kecuali akan banyak kematian menimpa mereka..." (HR. Malik: 870)
Imam malik meriwayatkan bahwa,
و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ أَنَّهُ بَلَغَهُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ مَا ظَهَرَ الْغُلُولُ فِي قَوْمٍ قَطُّ إِلَّا أُلْقِيَ فِي قُلُوبِهِمْ الرُّعْبُ وَلَا فَشَا الزِّنَا فِي قَوْمٍ قَطُّ إِلَّا كَثُرَ فِيهِمْ الْمَوْتُ وَلَا نَقَصَ قَوْمٌ الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا قُطِعَ عَنْهُمْ الرِّزْقُ وَلَا حَكَمَ قَوْمٌ بِغَيْرِ الْحَقِّ إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الدَّمُ وَلَا خَتَرَ قَوْمٌ بِالْعَهْدِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ الْعَدُوَّ. (رواه مالك: ٨٧٠)
Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Yahya bin Sa'id bahwa telah sampai kepadanya dari Abdullah bin Abbas ia berkata; "Tidaklah ghulul menyebar pada suatu kaum, kecuali akan ditimpakan kepada mereka rasa ketakutan. Tidaklah perzinaan itu tersebar pada suatu kaum, kecuali akan banyak kematian menimpa mereka. Tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan kecuali akan diputus rizki kepada mereka. Tidaklah suatu kaum berhukum kepada selain Al Haq kecuali akan tersebar pembunuhan. Dan tidaklah suatu kaum mengkhianati janji kecuali Allah akan menguasakan musuh atas mereka." (HR. Ahmad: 870 - shahih lighairih menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)
Catatan: dalam sanad hadits riwayat imam Malik: 870 periwayat yang menerima langsung dari Ibnu 'Abbas terputus.
Peringatan Rasul,
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الرَّازِيُّ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْفَضْلِ قَالَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عُثْمَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ لَبِيبَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ رَافِعٍ عَنْ مَيْمُونَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا لَمْ يَفْشُ فِيهِمْ وَلَدُ الزِّنَا فَإِذَا فَشَا فِيهِمْ وَلَدُ الزِّنَا فَيُوشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعِقَابٍ. (رواه أحمد: ٢٥٦٠٠)
Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Ar Razi telah menceritakan kepada kami Sulaiman Al Fadhal berkata, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Abdullah bin Amru bin Utsman dari Muhammad bin 'Abdurrahman bin Labibah bin Ubaidullah bin Rafi' dari Maimunah istri Nabi ﷺ, dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Umatku akan senantiasa dalam kebaikan selama di antara mereka tidak bermunculan anak hasil zina, jika anak hasil zina telah bermunculan di antara mereka, maka dikawatirkan Allah akan menghukum mereka semua." (HR. Ahmad: 25600 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Maimunah binti al Harits, ia shahabiyah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 51 H)
Catatan: dalam sanad terdapat dua periwayat yang dinilai jarah (buruh) oleh ulama hadits, yaitu pertama: Muhammad bin 'Abdur Rahman bin Labibah, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in menilainya tidak ada nilainya, Ibnu Hajar menilainya dha'if. Sementara Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat". Kedua: Salamah bin al Fadhal, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu 'Abdullah dan negeri hidup Rayy. Penilaian ulama: an Nasa'i menilainya dha'if. Sementara Yahya bin Ma'in dan Abu Daud menilainya tsiqah. Ibnu Hajar menilainya shaduq banyak salah. Sementara Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat". Selebihnya adalah periwayat maqbul.
Tugas orang beriman adalah amar ma'ruf nahi munkar. Menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Jika tidak dilakukan maka Allah meratakan siksa bagi mereka. Sebagaimana diingatkan dalam riwayat berikut:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا إِسْحَاقَ يُحَدِّثُ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ جَرِيرٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي هُمْ أَعَزُّ وَأَكْثَرُ مِمَّنْ يَعْمَلُهُ لَمْ يُغَيِّرُوهُ إِلَّا عَمَّهُمْ اللَّهُ بِعِقَابٍ. (رواه أحمد: ١٨٤٣٣)
Telah menceritakan kepada kami Muhamamd bin Ja'far Telah menceritakan kepada kami Syu'bah ia berkata, saya mendengar Abu Ishaq menceritakan dari Ubaidullah bin Jarir dari bapaknya bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Tidaklah maksiat merajalela dalam suatu kaum, sedangkan mereka lebih mulia dan lebih banyak jumlahnya daripada yang melakukannya, namun mereka tidak mengubah perilaku kejahatan itu, maka Allah akan meratakan siksanya kepada mereka." (HR. Ahmad: 18433 - isnadnya hasan menurut Syu'aib bin al Arna'uth dari Jarir bin 'Abdullah bin Jabir, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Amru negeri hidup Kufah dan wafat tahun 51 H)
Wallaahu a'lam bish shawaab.
Billaahit taufiq walhidaayah.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏