“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

PENANGKAL MUSIBAH


Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Musibah adalah terjadinya kerusakan dan ketidakstabilan pada alam (ciptaan Allah). Hall ini merupakan salah satu cara Allah untuk menguji keimanan seorang hamba dengan tujuan tertentu dan tuntutan ketakwaan kepada-Nya. Hanya saja, pada kondisi tertentu musibah dapat menjadi peringatan dan azab bagi sebagian golongan. Sehingga, musibah merupakan suatu keniscayaan bagi ciptaan Allah. Oleh karena itu, Allah dan Rasul-Nya memberikan penanggal agar musibah tersebut dapat dihindari. Selanjutnya kalau pun itu terjadi akan menjadi pelajaran dan i'tibar (kaca perbandingan) atau instrospeksi diri bagi hamba Allah yang beriman. Hal ini dapat memperkuat azam (tekat) dan tawakkal kepada Allah. Sehingga tercipta keseimbangan kasih dan sayang Allah. Penangkal tersebut diajarkan oleh Rasulullah, sebagaimana diinformasikan dalam haditsnya. Berikut penulis paparkan secara riwayah.

Simak riwayat-riwayat berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مَوْدُودٍ عَمَّنْ سَمِعَ أَبَانَ بْنَ عُثْمَانَ يَقُولُ سَمِعْتُ عُثْمَانَ يَعْنِي ابْنَ عَفَّانَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلَاءٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ ثَلَاثُ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلَاءٍ حَتَّى يُمْسِيَ و قَالَ فَأَصَابَ أَبَانَ بْنَ عُثْمَانَ الْفَالِجُ فَجَعَلَ الرَّجُلُ الَّذِي سَمِعَ مِنْهُ الْحَدِيثَ يَنْظُرُ إِلَيْهِ فَقَالَ لَهُ مَا لَكَ تَنْظُرُ إِلَيَّ فَوَاللَّهِ مَا كَذَبْتُ عَلَى عُثْمَانَ وَلَا كَذَبَ عُثْمَانُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَكِنَّ الْيَوْمَ الَّذِي أَصَابَنِي فِيهِ مَا أَصَابَنِي غَضِبْتُ فَنَسِيتُ أَنْ أَقُولَهَا حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَاصِمٍ الْأَنْطَاكِيُّ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو مَوْدُودٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ عَنْ أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ عُثْمَانَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ لَمْ يَذْكُرْ قِصَّةَ الْفَالِجِ. (رواه أبوداود: ٤٤٢٥)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Maudud dari seseorang yang mendengar Aban bin Utsman ia berkata; Aku mendengar Utsman -maksudnya Utsman bin Affan- berkata, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa mengucapkan: BISMILLAHILLADZI LAA YADHURRU MA'ASMIHI SYAI`UN FIL ARDHI WA LAA FIS SAMAA`I WA HUWAS SAMII'UL 'ALIIMU (dengan nama Allah yang tidak ada sesuatu pun di bumi dan di langit yang bisa memberikan bahaya. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka ia tidak akan tertimpa musibah yang datang dengan tiba-tiba hingga pagi hari. Dan barangsiapa membacanya pada pagi hari sebanyak tiga kali, maka ia tidak akan tertimpa bencana yang datang dengan tiba-tiba hingga sore hari." Perawi berkata, "Lalu Aban tertimpa penyakit lumpuh, hingga orang yang mendengar hadits darinya melihat kepadanya (Aban), maka Aban pun berkata, "Kenapa kamu melihat aku? Demi Allah, aku tidak berbohong atas nama Utsman, dan Utsman tidak berbohong atas nama Nabi ﷺ. Tetapi pada hari ketika aku tertimpa penyakit ini, aku sedang marah hingga aku lupa membacanya." Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Ashim Al Anthaki berkata, telah menceritakan kepada kami Anas bin Iyadh ia berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Maudud dari Muhammad bin Ka'ab dari Aban bin Ustman dari Utsman dari Nabi ﷺ sebagaimana dalam hadits tersebut, hanyasaja ia tidak menyebutkan tentang cerita penyakit lumpuh." (HR. Abu Daud: 4425 - shahih dari 'Utsman bin 'Affan bin Abi al 'Ash bin Umayyah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Amru negeri hidup Madinah dan wafat tahun tahun 35 H)

Catatan: dalam sanad terdapat periwayat bernama Nashir bin 'Ashim, ia tabi'in kalangan pertengahan dan negeri hidup Syam. Penilaian ulama: Ibnu Hajar menilainya layyinul hadits dan al 'Uqaili mengatakan, "disebutkan dalam adh dhu'afa'. Sementara Ibnu Hibban pengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat". Selebihnya dinilai ta'dil oleh ulama hadits.

Selanjutnya, dalam hadits riwayat Ahmad: 418 - hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Utsman bin 'Affan bin Abi al 'Ash bin Umayyah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Amru negeri hidup Madinah dan wafat tahun tahun 35 H, tidak menyebutkan mengucapkan kalimat, "BISMILLAHILLADZI LAA YADHURRU MA'ASMIHI SYAI`UN FIL ARDHI WA LAA FIS SAMAA`I WA HUWAS SAMII'UL 'ALIIMU" sebanyak tiga kali. Kemudian dalam sanad terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits. Ia adalah 'Abdur Rahman bin Abi az Zanad bin bin 'Abdullah bin Dzakwan, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Muhamad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 174 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal menilainya mudhtharribul hadits, Yahya bin Ma'in dan an Nasa'i mengatakan, "tidak boleh berhujjah dengan haditsnya. Sementara Ya'qub bin Sufyan menilainya tsiqah shaduq, at Tirmidzi dan al 'Ajli menilainya tsiqah. Sedangkan Ibnu Hajar menilainya shaduq.

Sementara Imam Ahmad pada riwayat lain mengatakan bahwa,

حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ الْمُسَيَّبِيُّ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ عَنْ أَبِي مَوْدُودٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ عَنْ أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ عُثْمَانَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَمْ تَفْجَأْهُ فَاجِئَةُ بَلَاءٍ حَتَّى اللَّيْلِ وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُمْسِي لَمْ تَفْجَأْهُ فَاجِئَةُ بَلَاءٍ حَتَّى يُصْبِحَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ. (رواه أحمد: ٤٩٧)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah, Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ishaq Al Musayyabi Telah menceritakan kepada kami Anas bin 'Iyadl dari Abu Maudud dari Muhammad bin Ka'b dari Aban bin Utsman dari Utsman bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Barangsiapa membaca 'BISMILLAAHIL LADZII LAA YADHURRU MA'AS MIHI SYAI'UN FIL ARDHI WALA FIS SAMAA' WAHUWAS SAMII'UL 'ALIIM' (dengan nama Allah, dengan nama-Nya tidak akan berbahaya sesuatu yang ada di bumi maupun yang ada di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka tidak akan dikejutkan oleh suatu kejutan berupa penyakit hingga malam hari, dan barangsiapa membacanya di waktu sore maka tidak akan dikejutkan oleh suatu kejutan berupa penyakit hingga pagi hari jika Allah menghendaki." (HR. Ahmad: 497 - hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Utsman bin 'Affan bin Abi al 'Ash bin Umayyah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Amru negeri hidup Madinah dan wafat tahun tahun 35 H)

Membaca kalimat, "BISMILLAHILLADZI LAA YADHURRU MA'ASMIHI SYAI`UN FIL ARDHI WA LAA FIS SAMAA`I WA HUWAS SAMII'UL 'ALIIMU" sebanyak tiga kali. Hal ini merupakan syari'at yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ, sebagai menyerahan diri kepada Allah dengan ridha. Kemudian, apa pun yang akan terjadi setelah itu tetap berlaku atas kehendak Allah. Sebagaimana sabda beliau yang dikhabarkan dalam riwayat berikut:

حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ أَجْلَحَ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ الْأَصَمِّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَاجِعُهُ الْكَلَامَ فَقَالَ مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ فَقَالَ جَعَلْتَنِي لِلَّهِ عَدْلًا مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ. (رواه أحمد: ٣٠٧٧)

Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ajlah ia berkata; Yazid bin Al Asham dari Ibnu Abbas ia berkata; Seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ sambil mengulangi perkataan, lalu ia berkata; Atas kehendak Allah dan kehendakmu. Maka beliau bersabda, "Apakah engkau akan menjadikan diriku sebagai sekutu untuk Allah? Katakanlah: Hanya atas kehendak Allah saja." (HR. Ahmad: 3077 - shahih lighairihi menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Ingatlah firman Allah,

(وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ). (قرآن سورة الأنعام/٦: ١٧)

Dan jika Allah menimpakan bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Al An'aam/6: 17)

(وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ). (قرآن سورة الأنعام/٦: ١٨)

Dan Dialah yang berkuasa atas hamba-hamba-Nya. Dan Dia mahabijaksana, mahamengetahui. (QS. Al An'aam/18)

Kemudian kisah tentang dua orang pemilik kebun yang seorang kafir dan yang lainnya beriman kepada Allah lalu ia berkata:

(وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا). (قرآن شورة الكهفي/١٨: ٣٩)

Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan ”Masya Allah, la quwwata illa billah” (Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud), tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah, sekalipun engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu. (QS. Al Kahfi/18: 39)

Siapakah Allah?

(إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۖ مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلَّا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ). (قرآن سورة يونس/١٠: ٣)

Sesungguhnya Tuhan kamu Dialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tidak ada yang dapat memberi syafaat kecuali setelah ada izin-Nya. Itulah Allah, Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?. (QS. yunus/10: 3)

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]