BERWUDHUK DAN PAHALANYA
(berwudhuk akan tidur karena junub)
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,
Menilik firman Allah dan al Hadits, ditemukan penjelasan yang luas tentang alasan-alasan kenapa berwudhuk? Apakah hanya untuk shalat saja berwudhuk?. Setelah ditelusuri ternyata wudhuk bukan hanya ketika hendak shalat saja. Tetapi untuk amalan yang lain, Rasul juga berwudhuk. Seperti apa bila hendak tidur baik karena junub atau pun tidak. Demikian juga halnya perbuatan baik lainnya agar dapat menyegarkan badan dan hati pengamalnya. Berikut penulis paparkan berdasar nash (al Qur'an dan al Hadits) yang ada.
Dasar utama wajibnya berwudhuk adalah firman Allah berikut:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْرَبُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْتُمْ سُكَارٰى حَتّٰى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ وَلَا جُنُبًا اِلَّا عَابِرِيْ سَبِيْلٍ حَتّٰى تَغْتَسِلُوْا ۗوَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُوْرًا. (قرآن سورة النساء/٤: ٤٣)
Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati salat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula (kamu hampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub kecuali sekedar melewati jalan saja, sebelum kamu mandi (mandi junub). Adapun jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau sehabis buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, sedangkan kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Sungguh, Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun. (QS. An Nisa'/4: 43)
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْاۗ وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِّنْهُ ۗمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ. (قرآن سورة المائدة/٥: ٦)
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur. (QS. Al Maidah/5: 6)
RASUL SENANTIASA DALAM KEADAAN BERWUDHUK
Sebagaimana dijelaskan oleh Imam at Tirmidzi berikut:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ لِكُلِّ صَلَاةٍ فَلَمَّا كَانَ عَامُ الْفَتْحِ صَلَّى الصَّلَوَاتِ كُلَّهَا بِوُضُوءٍ وَاحِدٍ وَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ فَقَالَ عُمَرُ إِنَّكَ فَعَلْتَ شَيْئًا لَمْ تَكُنْ فَعَلْتَهُ قَالَ عَمْدًا فَعَلْتُهُ.
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَرَوَى هَذَا الْحَدِيثَ عَلِيُّ بْنُ قَادِمٍ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَزَادَ فِيهِ تَوَضَّأَ مَرَّةً مَرَّةً قَالَ وَرَوَى سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ هَذَا الْحَدِيثَ أَيْضًا عَنْ مُحَارِبِ بْنِ دِثَارٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَوَضَّأُ لِكُلِّ صَلَاةٍ وَرَوَاهُ وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ مُحَارِبٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ وَرَوَاهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ وَغَيْرُهُ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ مُحَارِبِ بْنِ دِثَارٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرْسَلًا وَهَذَا أَصَحُّ مِنْ حَدِيثِ وَكِيعٍ.
وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّهُ يُصَلِّي الصَّلَوَاتِ بِوُضُوءٍ وَاحِدٍ مَا لَمْ يُحْدِثْ وَكَانَ بَعْضُهُمْ يَتَوَضَّأُ لِكُلِّ صَلَاةٍ اسْتِحْبَابًا وَإِرَادَةَ الْفَضْلِ.
وَيُرْوَى عَنْ الْأَفْرِيقِيِّ عَنْ أَبِي غُطَيْفٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ تَوَضَّأَ عَلَى طُهْرٍ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهِ عَشْرَ حَسَنَاتٍ وَهَذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ وَفِي الْبَاب عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ بِوُضُوءٍ وَاحِدٍ. (رواه الترمذي: ٥٦)
telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Sufyan dari Alqamah bin Martsad dari Sulaiman bin Buraidah dari Bapaknya ia berkata; "Nabi ﷺ selalu berwudhuk ketika akan shalat. Dan pada hari penaklukan kota Makkah, beliau mengerjakan semua shalat dengan satu wudhuk dan mengusap khufnya. Lalu Umar berkata; "Sungguh, engkau melakukan sesuatu yang tidak biasa engkau lakukan, " beliau menjawab: "Aku sengaja melakukannya."
Abu Isa berkata; "Hadits ini derajatnya hasan shahih." Ali bin Qadim meriwayatkan hadits ini dari Sufyan Ats Tsauri, lalu ia menambahkan, "Rasulullah berwudhuk dengan satu kali-satu kali." Ia berkata; "Dan Sufyan Ats Tsauri juga meriwayatkan hadits ini dari Muharib bin Ditsar, dari Sulaiman bin Buraidah, dari Nabi ﷺ, bahwasanya beliau selalu berwudhuk ketika akan shalat. Dan Waki' meriwayatkannya dari Sufyan, dari Muharib, dari Sulaiman bin Buraidah, dari bapaknya. Abdurrahman bin Mahdi dan selainnya meriwayatkannya dari Sufyan, dari Muharib bin Ditsar, dari Sulaiman bin Buraidah, dari Nabi ﷺ secara mursal, dan ini lebih shahih dari hadits Waki'.
Para ahli ilmu mengamalkan hadits ini, yaitu bahwa Rasulullah melakukan beberapa shalat dengan satu kali wudhuk selama belum batal. Namun di antara mereka ada yang berwudhuk setiap kali akan mengerjakan shalat karena ada anjuran dan demi mendapatkan keutamaan.
Diriwayatkan pula dari Al Afriqi, dari Abu Ghuthaif, dari Ibnu Umar dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Barangsiapa berwudhuk dalam keadaan masih suci maka Allah akan menuliskan baginya sepuluh kebaikan." Namun hadits ini sanadnya lemah. Dan dalam bab ini ada riwayat dari Jabir bin Abdullah bahwa Nabi ﷺ shalat Dzuhur dan ashar dengan satu wudhuk. (HR. At Tirmidzi: 56 - shahih dari Buraidhah bin al Hashib bin 'Abdullah bin al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu Sahal negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 63 H)
Lihat juga: an Nasa'i: 133, Ibnu Majah: 503 - shahih dari Buraidhah bin al Hashib bin 'Abdullah bin al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu Sahal negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 63 H.
Lafazh lain dari Anas bin Malik,
حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ عَمْرِو بْنِ عَامِرٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ لِكُلِّ صَلَاةٍ وَكُنَّا نَحْنُ نُصَلِّي الصَّلَوَاتِ كُلَّهَا بِوُضُوءٍ وَاحِدٍ. (رواه إبن ماجه: ٥٠٢)
Telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Sa'id berkata, telah menceritakan kepada kami Syarik dari 'Amru bin 'Amir dari Anas bin Malik berkata; "Rasulullah ﷺ selalu berwudhuk setiap kali shalat, sedangkan kami melakukan semua shalat dengan satu wudhuk." (HR. Ibnu Majah: 502 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)
Begitu juga riwayat Abu Daud: 146 dan Ahmad: 12106 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H.
Hanya saja lafazh riwayat Ahmad: 12106, terjadi perbedaan kata daripada riwayat Ibnu Majah: 502 dan Abu Daud: 146, yaitu "ammaa" sebagai pengganti "kunnaa". Artinya dalam hadits ini terdapat penekanan yang menunjukkan perbedaan amal (wudhuk) yang dilakukan oleh Rasul dan para shahabatnya. Sebagaimana riwayat berikut:
حَدَّثَنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ عَمْرِو بْنِ عَامِرٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
سَأَلْنَاهُ عَنْ الْوُضُوءِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ فَقَالَ أَمَّا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَوَضَّأُ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ وَأَمَّا نَحْنُ فَكُنَّا نُصَلِّي الصَّلَوَاتِ بِطُهُورٍ وَاحِدٍ. (رواه احمد: ١٢١٠٦)
Telah menceritakan kepada kami Aswad bin 'Amir telah menceritakan kepada kami Syarik dari 'Amr bin Amir al Anshari dari Anas bin Malik berkata, kami menanyakan tentang wudhuk pada tiap kali shalat, maka dia (Anas bin Malik) menjawab, "Nabi ﷺ berwudhuk tiap kali hendak shalat, sedangkan kami shalat beberapa kali dengan sekali bersuci." (HR. Ahmad: 12106 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)
Dua amalan berwudhuk setiap akan shalat dan shalat beberapa kali dengan satu kali bersuci (berwudhuk) merupakan amalan yang disukai. Sehingga menjaga tetap dalam kondisi suci adalah hal yang bermanfaat untuk menjaga kebersihan, kesegaran tubuh dan lain-lain. Sementara, berwudhuk satu kali dengan beberapa shalat (wajib) perlu kehati-hatian. Karena kemungkinan batal itu ada. Sebaiknya menurut penulis sebaiknya wudhuk untuk shalat sebaiknya setiap akan shalat. Demi menjaga kesucian dan kehatian dari hal yang membatalkannya.
Dijelaskan oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dan langsung beliau contohkan. Hal tersebut diinformasikan oleh riwayat-riwayat berikut:
أَخْبَرَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ قَالَ أَنْبَأَنَا عَبْدُ اللَّهِ عَنْ يُونُسَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهُوَ جُنُبٌ تَوَضَّأَ وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ أَوْ يَشْرَبَ قَالَتْ غَسَلَ يَدَيْهِ ثُمَّ يَأْكُلُ أَوْ يَشْرَبُ. (رواه النسائي: ٢٥٧)
Telah mengabarkan kepada kami Suwaid bin Nashr dia berkata; Telah memberitakan kepada kami Abdullah dari Yunus dari Az-Zuhri dari Abu Salamah dari Aisyah radhiyallahu 'anha, dia berkata; "Apabila Rasulullah ﷺ ingin tidur dan beliau sedang junub, maka beliau berwudhuk, dan bila ingin makan atau minum (Aisyah) berkata, "Beliau mencuci kedua tangannya, kemudian makan atau minum." (HR. An Nasa'i: 257 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah sekaligus istri Rasul. Kuniyahnya 'Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Begitu juga dengan lafazh yang sama dalam Musnad Ahmad: 25179 - hasan, dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah sekaligus istri Rasul. Kuniyahnya 'Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H.
Catatan: Dalam sanad riwayat Ahmad: 25179 terdapat periwayat bernama 'Amir bin Shalih bin 'Abdullah, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu al Harits negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 182 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal menilainya tsiqah, Yahya bin Ma'in menilainya pendusta, Abu Hatim menilainya shalihul hadits, an Nasa'i menilainya laisa bi tsiqah, Ibnu 'Adi mengatakan, "kebanyakan haditsnya hasil curian, al Azdi menilainya dzahibul hadits. Sedangkan Ibnu Hajar menilainya matrukul hadits.
BERWUDHUK JIKA AKAN TIDUR KARENA JUNUB
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ
أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَرْقُدُ أَحَدُنَا وَهُوَ جُنُبٌ قَالَ نَعَمْ إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْقُدْ وَهُوَ جُنُبٌ. (رواه البخاري: ٢٧٨)
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Nafi' dari Ibnu 'Umar bahwa 'Umar bin Al Khaththab bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Apakah boleh seorang dari kami tidur dalam keadaan dia junub?" Rasulullah ﷺ menjawab: "Ya. Jika salah seorang dari kalian berwudhuk, maka boleh ia tidur meskipun dalam keadaan junub." (HR. Al Bukhari: 278 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73)
Lihat juga: Muslim: 462 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73.
Hal tersebut dicontohkan oleh Rasul sendiri, sebagaimana hadits dari 'Aisyah berikut:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي جَعْفَرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهُوَ جُنُبٌ غَسَلَ فَرْجَهُ وَتَوَضَّأَ لِلصَّلَاةِ. (رواه البخاري: ٢٧٩)
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, telah menceritakan kepada kami Al Laits dari 'Ubaidullah bin Abu Ja'far dari Muhammad bin 'Abdurrahman dari 'Urwah dari 'Aisyah berkata, "Jika Nabi ﷺ hendak tidur saat dirinya dalam kondisi junub, maka beliau membasuh kemaluannya dan berwudhuk sebagaimana wudhuk untuk shalat." (HR. Al Bukhari: 279 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah sekaligus istri Rasul. Kuniyahnya 'Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Lihat juga: Muslim: 460, Abu Daud: 192 dan 193 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah sekaligus istri Rasul. Kuniyahnya 'Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H.
Tanpa kalimat,
" ... إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهُوَ جُنُبٌ غَسَلَ فَرْجَهُ .. (رواه البخاري: ٢٧٩)
" ... Jika Nabi ﷺ hendak tidur saat dirinya dalam kondisi junub, maka beliau membasuh kemaluannya ..." (HR. Al Bukhari: 279 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah sekaligus istri Rasul. Kuniyahnya 'Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
HADITS TENTANG PAHALA BERWUDHUK
Imam at Tirmidzi menjelaskan dalam sunannya, dengan lafazh:
" ... مَنْ تَوَضَّأَ عَلَى طُهْرٍ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهِ عَشْرَ حَسَنَاتٍ.
Riwayat lengkapnya,
وَقَدْ رُوِيَ فِي حَدِيثٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ تَوَضَّأَ عَلَى طُهْرٍ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهِ عَشْرَ حَسَنَاتٍ
قَالَ وَرَوَى هَذَا الْحَدِيثَ الْأَفْرِيقِيُّ عَنْ أَبِي غُطَيْفٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا بِذَلِكَ الْحُسَيْنُ بْنُ حُرَيْثٍ الْمَرْوَزِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ الْوَاسِطِيُّ عَنْ الْأَفْرِيقِيِّ وَهُوَ إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ قَالَ عَلِيُّ بْنُ الْمَدِينِيِّ قَالَ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ ذَكَرَ لِهِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ هَذَا الْحَدِيثُ فَقَالَ هَذَا إِسْنَادٌ مَشْرِقِيٌ قَالَ سَمِعْت أَحْمَدَ بْنَ الْحَسَنِ يَقُولُ سَمِعْتُ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ يَقُولُ مَا رَأَيْتُ بِعَيْنِي مِثْلَ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْقَطَّانِ. (رواه الترمذي: ٥٥)
Telah diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Ibnu Umar, dari Nabi ﷺ, bahwasanya beliau bersabda: "Barangsiapa berwudhuk dalam keadaan suci maka Allah akan mencatat baginya sepuluh kebaikan." Ia berkata; "Al Afriqi telah meriwayatkan hadits ini dari Abu Ghuthaif, dari Ibnu Umar, dari Nabi ﷺ. Al Husain bin Huraits Al Marwazi telah bercerita kepada kami seperti itu juga, bahwa Muhammad bin Yazid Al Wasithi telah bercerita kepada kami dari Al Afriqi, dan sanadnya adalah lemah. Ali bin Al Madini berkata; "Yahya bin Sa'id Al Qaththan berkata; "Ketika disebutkan hadits ini kepada Hisyam bin Urwah dia menjawab, "Ini adalah sanad orang-orang timur." Abu Isa berkata; "Aku mendengar Ahmad bin Al Hasan berkata; "Aku mendengar Ahmad bin Hambal berkata; "Aku tidak pernah melihat seseorang dengan kedua mataku seperti Yahya bin Sa'id Al Qaththan." (HR. At Tirmidzi: 55 - dha'if dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73)
Catatan: dalam sanad hadits at Tirmidzi: 55 terdapat periwayat bernama Ghuthaif, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Ghuthaif. At Tirmidzi mendha'ifkannya. Demikian juga periwayat bernama 'Abdur Rahman bin Ziyad bin An'um, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Ayub negeri hidup Maru dan wafat tahun 156 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, Abu Zur'ah, as Saji, an Nasa'i dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Demikian juga adz Dzahabi mendha'ifkannya. Ibnu Kharasy menilainya matruk, Ahmad bin Hanbal menilainya laisa bi syai', sementara Ya'qub bin Sufyan menilainya la ba'sa bih. Selanjutnya, dapat dijelaskan bahwa selain dua orang periwayat tersebut adalah maqbul.
Hadits senada dan dua periwayat dha'if pada sanad hadits at Tirmidzi: 55 juga ada dalam sanad hadits riwayat Abu Daud: 57 - dha'if dari Ibnu 'Umar sebagai berikut:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ فَارِسٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ ح و حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زِيَادٍ قَالَ أَبُو دَاوُد وَأَنَا لِحَدِيثِ ابْنِ يَحْيَى أَتْقَنُ عَنْ غُطَيْفٍ وَقَالَ مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي غُطَيْفٍ الْهُذَلِيِّ قَالَ
كُنْتُ عِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ فَلَمَّا نُودِيَ بِالظُّهْرِ تَوَضَّأَ فَصَلَّى فَلَمَّا نُودِيَ بِالْعَصْرِ تَوَضَّأَ فَقُلْتُ لَهُ فَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ تَوَضَّأَ عَلَى طُهْرٍ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ
قَالَ أَبُو دَاوُد وَهَذَا حَدِيثُ مُسَدَّدٍ وَهُوَ أَتَمُّ. (رواه ابوداود: ٥٧)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Faris telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid Al Muqri`. Dan menurut jalur yang lain; telah menceritakan kepada kami Musaddad dan telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus mereka berdua berkata; telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ziyad, Abu Dawud berkata; Saya lebih hafal hadits Ibnu Yahya dari Ghuthaif, dan Muhammad berkata; dari Abu Ghuthaif Al Hudzali; Saya pernah bersama Abdullah bin Umar, ketika adzan Dzuhur dikumandangkan, dia berwudhuk lalu shalat. Tatkala adzan Ashar dikumandangkan, dia berwudhuk kembali, lalu aku bertanya kepadanya (tentang hal itu), maka dia menjawab bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang berwudhuk dalam keadaan suci (masih memiliki wudhuk), maka Allah menulis untuknya sepuluh kabaikan." Abu Dawud berkata; Ini adalah hadits Musaddad, dan ia lebih sempurna. (HR. Abu Daud: 57 - dha'if dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73)
TIDUR SETELAH BERSUCI
Hadits tentang keutamaan berwudhuk sebelum tidur:
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ أَخْبَرَنَا عَاصِمُ بْنُ بَهْدَلَةَ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ عَنْ أَبِي ظَبْيَةَ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَبِيتُ عَلَى ذِكْرٍ طَاهِرًا فَيَتَعَارُّ مِنْ اللَّيْلِ فَيَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ.
قَالَ ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ قَدِمَ عَلَيْنَا أَبُو ظَبْيَةَ فَحَدَّثَنَا بِهَذَا الْحَدِيثِ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَابِتٌ قَالَ فُلَانٌ لَقَدْ جَهِدْتُ أَنْ أَقُولَهَا حِينَ أَنْبَعِثُ فَمَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا. (رواه أبوداود: ٤٣٨٥)
Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad berkata, telah mengabarkan kepada kami Ashim bin Bahdalah dari Syahar bin Hausyab dari Abu Zhabyah dari Mu'adz bin Jabal dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Tidaklah seorang mukmin tidur dalam keadaan telah berdzikir dan suci, lalu bangun disebagian malam dan meminta kepada Allah kebaikan di dunia dan di akhirat kecuali Allah akan memberinya."
Tsabit Al Bunani berkata, "Abu Zhabyah datang kepada kami, lalu ia menceritakan hadits ini kepada kami, dari Mu'adz bin Jabal, dari Nabi ﷺ." Tsabit berkata, "Fulan berkata, "Aku telah berusaha untuk mengatakannya saat bangun tidur, tetapi aku tidak mampu." (HR. Abu Daud: 4385 - shahih [menurut al Albani] dari Mu'adz bin Jabal bin 'Amru bin 'Aus, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Syam dan wafat tahun 18 H)
Catatan: dalam sanad terdapat periwayat bernama Syahar bin Hausyab, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Syam dan wafat tahun 100 H. Penilaian ulama: Musa bin Harun, al Baihaqiy menilainya dha'if, bahkan Ibnu 'Adi menilainya dha'if jiddan. Sedangkan Ibnu Hajar menilainya shaduq, tetapi punya keragu-raguan. Ibnu Hazam menilainya saqith, Ahmad bin Hanbal mengatakan, "laisa bihi ba'sa. Sementara Hakim dan an Nasa'i menilainya laisa bi qawi.
Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 21037, 21078 dan 21098 - shahih dari Mu'adz bin Jabal bin 'Amru bin 'Aus, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Syam dan wafat tahun 18 H.
Memperhatikan nash yang ada, ternyata hampir seluruh kehidupan Rasul setelah pensyari'atan shalat tidak terlepas dari wudhuk atau bersuci. Karena kalau pun tidak ditemukan air untuk berwudhuk maka tayamum menjadi pengganti baik wudhuk maupun mandi ketika sedang junub. Hal ini menunjukkan kelapangan syari'at Islam dalam mengatur ibadah umqtnya. Sehingga dalam kondisi apa pun ibadah mahdha atau ghairu mahdhah dapat dilakukan sesuai dengan kondisinya. Apakah satu kali wudhu untuk beberapa shalat, atau wudhuk setiap akan shalat. Jika tidak ada air untuk berwudhuk maka boleh diganti dengan tayamum. Pada hakekat bersuci adalah suatu bentuk pembersihan diri dari najis maupun hadats besar atau pun kecil berdasarkan perintah Allah dan Rasul-Nya. Demikian halnya pahala dan kebaikan akan senantiasa mengalir kepada pengamalnya. Bahkan kebaikan dunia dan akhirat akan mudah diraih.
Wallaahu a'lam bish shawab,
Wassalaamu 'alaikum warahamatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏