“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


MILK AL YAMIN 

(menurut al Qur'an dan al Hadits)

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

DR. Abdul Aziz, MA (dosen UIN Surakarta) itu terlalu berani melegalkan hubungan seksual (zina) non marital (tanpa menikah). Ini hanya semacam kebatilan yang dikemas menjadi bahasa ilmiah, tetapi sesungguhnya adalah gagal paham memahami Kitab Suci.

Milk Al-Yamin yang disebut dalam Al-Qur'an, Yaitu: QS. An Nisa'/4: 24, An Nahal/16: 71, al Mukminun/23: 6, an Nur/24:31, al Ahzab/33:50, 52 dan 55, al Ma'arij/30: 70. Maksudnya bukan Pembantu, Tenaga Kerja Wanita (TKW), dan seterusnya. Tetapi para budak yang berada dalam kekuasaan tuannya dan [tawanan] dalam konteks ayat itu turun. Salah satu cara Islam untuk menghapus perbudakan adalah dengan mengawini para budaknya sehingga keturunan yang dilahirkan menjadi keturunan merdeka. Sekarang perbudakan telah dihapuskan.

Orientalis juga pernah menuduh bahwa Al-Qur'an telah melegalkan hubungan seks lawan jenis tanpa menikah. Pemikiran yg mendangkalkan akidah ini telah dikemas pula oleh liberalisme dalam dunia intelektual. Sehingga disertasi itu dijebolkan juga.

Jangankan melakukan zina, mendekati saja dilarang tegas oleh Al-Qur'an. Lihatlah QS. Al-Isra'/17: 32. Disertasi itu perlu direkonstruksi kembali.

Ayat dimaksud diantaranya adalah:

اِلَّا عَلٰٓى اَزْوَاجِهِمْ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُمْ فَاِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَۚ. (سورة المؤمنون/٢٣: ٦)

"Kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela". (QS. Al Mukminun/23: 6)

Dijelaskan,

فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَاۤءَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْعٰدُوْنَ ۚ. (سورة المؤمنون/٢٣: ٧)

Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al Mukminun/23: 7)

Tegasnya lagi,

اِلَّا عَلٰٓى اَزْوَاجِهِمْ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُمْ فَاِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَۚ. (سورة المعارج/٧٠: ٣٠)

Kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka tidak tercela. (QS. Al Ma'arij/70: 30)

Dibatasi lagi,

فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَاۤءَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْعٰدُوْنَۚ. (سورة المعارج/٧٠: ٣١)

Maka barangsiapa mencari di luar itu (seperti zina, homoseks dan lesbian), mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al Ma'arij/70: 31)

Dan perlu diingat:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا. (سورة الإسرآء/١٧: ٣٢)

Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al Isra'/17: 32)

SIMAKLAH RIWAYAT-RIWAYAT BERIKUT

TENTANG QS. An Nisa'/4: 24,

Ketika Perang Hunain:

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ مَيْسَرَةَ الْقَوَارِيرِيُّ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ صَالِحٍ أَبِي الْخَلِيلِ عَنْ أَبِي عَلْقَمَةَ الْهَاشِمِيِّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ حُنَيْنٍ بَعَثَ جَيْشًا إِلَى أَوْطَاسَ فَلَقُوا عَدُوًّا فَقَاتَلُوهُمْ فَظَهَرُوا عَلَيْهِمْ وَأَصَابُوا لَهُمْ سَبَايَا فَكَأَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحَرَّجُوا مِنْ غِشْيَانِهِنَّ مِنْ أَجْلِ أَزْوَاجِهِنَّ مِنْ الْمُشْرِكِينَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي ذَلِكَ
{ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنْ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ }
أَيْ فَهُنَّ لَكُمْ حَلَالٌ إِذَا انْقَضَتْ عِدَّتُهُنَّ.

و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالُوا حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى عَنْ سَعِيدٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي الْخَلِيلِ أَنَّ أَبَا عَلْقَمَةَ الْهَاشِمِيَّ حَدَّثَ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ حَدَّثَهُمْ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ يَوْمَ حُنَيْنٍ سَرِيَّةً بِمَعْنَى حَدِيثِ يَزِيدَ بْنِ زُرَيْعٍ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ مِنْهُنَّ فَحَلَالٌ لَكُمْ وَلَمْ يَذْكُرْ إِذَا انْقَضَتْ عِدَّتُهُنَّ و حَدَّثَنِيهِ يَحْيَى بْنُ حَبِيبٍ الْحَارِثِيُّ حَدَّثَنَا خَالِدٌ يَعْنِي ابْنَ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ. (رواه مسلم: ٢٦٤٣)

Telah menceritakan kepada kami 'Ubaidullah bin Umar bin Maisarah Al Qawariri telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai' telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Abu 'Arubah dari Qatadah dari Shalih Abu Al Khalil dari Abu Alqamah Al Hasyimi dari Abu Sa'id Al Khudri bahwa pada saat perang Hunain, Rasulullah ﷺ mengirim ekspedisi ke wilayah Authas, kemudian mereka bertemu dengan musuh dan terjadilah pertempuran, akhirnya mereka dapat mengalahkan musuh dan berhasil menawan musuh, diantaranya adalah tawanan wanita, seakan-akan para sahabat Rasulullah ﷺ keberatan menggauli mereka, karena mereka memiliki suami-suami yang masih musyrik. Maka Allah menurunkan ayat mengenai hal itu, "Dan diharamkan bagi kamu mengawini wanita-wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kalian miliki, (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu." (QS. An Nisa'/4: 24). Maksudnya, mereka halal bagimu setelah 'iddah mereka habis.

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Muhammad bin Al Mutsanna serta Ibnu Basysyar mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Abdul A'la dari Sa'id dari Qatadah dari Abu Khalil bahwa Abu Alqamah Al Hasyimi telah bercerita bahwa Abu Sa'id Al Khudri telah menceritakan kepada mereka, bahwa pada saat perang Hunain, Nabi yullah ﷺ mengirim suatu ekspedisi, dengan makna hadits Yazid bin Zurai' namun dia menyebutkan; "Kecuali budak-budak perempuan yang kalian miliki, maka mereka halal bagi kalian." Dan tidak menyebutkan; "Jika telah usai masa 'iddah mereka." Dan telah menceritakan kepadaku Yahya bin Habib Al Haritsi telah menceritakan kepada kami Khalid yaitu Ibnu Al Harits telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Qatadah dengan isnad seperti ini. (HR. Muslim: 2643 - shahih dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)

Ayat dimaksud dalam riwayat Muslim: 2643 adalah:

وَالْمُحْصَنٰتُ مِنَ النِّسَاۤءِ اِلَّا مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۚ  كِتٰبَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ ۚ وَاُحِلَّ لَكُمْ مَّا وَرَاۤءَ ذٰلِكُمْ اَنْ تَبْتَغُوْا بِاَمْوَالِكُمْ مُّحْصِنِيْنَ غَيْرَ مُسَافِحِيْنَ ۗ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهٖ مِنْهُنَّ فَاٰتُوْهُنَّ اُجُوْرَهُنَّ فَرِيْضَةً  ۗوَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيْمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهٖ  مِنْۢ بَعْدِ الْفَرِيْضَةِۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًا. (سورة النساء/٤: ٢٤)

"Dan (diharamkan juga kamu menikahi) perempuan yang bersuami, kecuali hamba sahaya perempuan (tawanan perang) yang kamu miliki sebagai ketetapan Allah atas kamu. Dan dihalalkan bagimu selain (perempuan-perempuan) yang demikian itu jika kamu berusaha dengan hartamu untuk menikahinya bukan untuk berzina. Maka karena kenikmatan yang telah kamu dapatkan dari mereka, berikanlah maskawinnya kepada mereka sebagai suatu kewajiban. Tetapi tidak mengapa jika ternyata di antara kamu telah saling merelakannya, setelah ditetapkan. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana." (QS. An Nisa'/4: 24)

Ketika Perang Authas,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ الْبَتِّيُّ عَنْ أَبِي الْخَلِيلِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ
أَصَبْنَا سَبَايَا يَوْمَ أَوْطَاسٍ وَلَهُنَّ أَزْوَاجٌ فِي قَوْمِهِنَّ فَذَكَرُوا ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَزَلَتْ
{ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنْ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ }
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ وَهَكَذَا رَوَاهُ الثَّوْرِيُّ عَنْ عُثْمَانَ الْبَتِّيِّ عَنْ أَبِي الْخَلِيلِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَأَبُو الْخَلِيلِ اسْمُهُ صَالِحُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ وَرَوَى هَمَّامٌ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ صَالِحٍ أَبِي الْخَلِيلِ عَنْ أَبِي عَلْقَمَةَ الْهَاشِمِيِّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا بِذَلِكَ عَبدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا حَبَّانُ بْنُ هِلَالٍ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ. (رواه الترمذي: ١٠٥١)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani', telah menceritakan kepada kami Husyaim, telah menceritakan kepada kami 'Utsman Al Bati dari Abu Al Khalil dari Abu Sa'id Al Khudri berkata; kami mendapatkan rampasan berupa wanita pada Perang Authas. Mereka memiliki suami yang masih pada kaumnya. Hal itu disampaikan pada Rasulullah ﷺ. Turunlah ayat: "Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (QS. An Nisa'/4: 24). (Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya)" Abu Isa berkata; "Ini merupakan hadits hasan. Ats Tsauri meriwayatkan dari 'Utsman Al Bati dari Abu Al Khalil dari Abu Sa'id dan Abu Al Khalil yang bernama Shalih bin Abu Maryam. Hammam meriwayatkan hadits ini dari Qatadah dari Shalih Abu Khalil dari Abu 'Alqamah Al Hasyimi dari Abu Sa'id dari Nabi ﷺ. Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Humaid, telah menceritakan kepada kami Habban bin Hilal, telah menceritakan kepada kami Hammam. (HR. At Tirmidzi: 1051 - shahih dari Sa'ad bin Malik)

Lihat juga: at Tirmidzi: 2942 dan 2943 - shahih dari Sa'ad bin Malik.

Riwayat lain yang hasan:

حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ حَدَّثَنِي شَهْرٌ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
نُهِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَصْنَافِ النِّسَاءِ إِلَّا مَا كَانَ مِنْ الْمُؤْمِنَاتِ الْمُهَاجِرَاتِ قَالَ
{ لَا يَحِلُّ لَكَ النِّسَاءُ مِنْ بَعْدُ وَلَا أَنْ تَبَدَّلَ بِهِنَّ مِنْ أَزْوَاجٍ وَلَوْ أَعْجَبَكَ حُسْنُهُنَّ إِلَّا مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ }
وَأَحَلَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَتَيَاتِكُمْ الْمُؤْمِنَاتِ
{ وَامْرَأَةً مُؤْمِنَةً إِنْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ }
وَحَرَّمَ كُلَّ ذَاتِ دِينٍ غَيْرَ دِينِ الْإِسْلَامِ قَالَ
{ وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنْ الْخَاسِرِينَ }
وَقَالَ
{ يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ إِلَى قَوْلِهِ خَالِصَةً لَكَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ }
وَحَرَّمَ سِوَى ذَلِكَ مِنْ أَصْنَافِ النِّسَاءِ. (رواه أحمد: ٢٧٧٣)

Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadhr telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid telah menceritakan kepadaku Syahr dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah ﷺ melarang (untuk menikahi) golongan-golongan wanita kecuali yang termasuk kaum mukminat yang berhijrah. (Allah) berfirman; "Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan istri-istri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali perempuan-perempuan (hamba sahaya) yang kamu miliki." dan Allah 'azza wa jalla telah menghalalkan pada[mu] budak-budak perempuan yang beriman; "Dan perempuan mukminah yang menyerahkan dirinya kepada Nabi." (Allah juga telah) mengharamkan setiap wanita yang memeluk agama selain Islam, (Allah) berfirman; "Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (Tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi." (Allah juga) berfirman; "Hai nabi, Sesungguhnya kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki," hingga firman-Nya, "Sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin." Allah juga mengharamkan (menikahi) golongan wanita yang selain itu. (HR. Ahmad: 2773 - hasan dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Catatan: Dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 2773 terdapat periwayat bernama SYAHAR BIN Hawsyab, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Syam dan wafat tahun 100 H. Penilaian ulama: Musa bin Harun dan al Baihaqi menilainya dha'if. An Nasa'i dan Hakim menilainya laisa bi qawi. Ahmad bin Hanbal menilainya laisa bihi ba'sa, Ibnu Hazam menilainya saqith. Ibnu 'Adi menilainya dha'if jiddan. Sedangkan Ibnu Hajar menilainya shaduq, tetapi punya keragu-raguan.  Selebihnya adalah periwayat maqbul.

RASUL MENIKAHI SHAFIYAH BINTI HUYAY

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
أَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ خَيْبَرَ وَالْمَدِينَةِ ثَلَاثًا يُبْنَى عَلَيْهِ بِصَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ فَدَعَوْتُ الْمُسْلِمِينَ إِلَى وَلِيمَتِهِ فَمَا كَانَ فِيهَا مِنْ خُبْزٍ وَلَا لَحْمٍ أُمِرَ بِالْأَنْطَاعِ فَأَلْقَى فِيهَا مِنْ التَّمْرِ وَالْأَقِطِ وَالسَّمْنِ فَكَانَتْ وَلِيمَتَهُ فَقَالَ الْمُسْلِمُونَ إِحْدَى أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ أَوْ مِمَّا مَلَكَتْ يَمِينُهُ فَقَالُوا إِنْ حَجَبَهَا فَهِيَ مِنْ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ وَإِنْ لَمْ يَحْجُبْهَا فَهِيَ مِمَّا مَلَكَتْ يَمِينُهُ فَلَمَّا ارْتَحَلَ وَطَّى لَهَا خَلْفَهُ وَمَدَّ الْحِجَابَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ النَّاسِ. (رواه البخاري: ٤٦٩١)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ja'far dari Humaid dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata; Nabi ﷺ bermukim tiga hari di daerah antara Khaibar dan Madinah, beliau menikahi Shafiyyah binti Huyay. Maka aku pun mengundang kaum muslimin untuk menghadiri walimahnya. Dan di dalam walimahan itu tidak ada roti dan tidak pula daging. Beliau menyuruh agar dibuatkan hamparan kulit lalu di dalamnya diberi kurma, keju dan samin. Seperti itulah acara walimah beliau. Maka kaum muslimin pun berkata, "Ia adalah salah seorang dari Ummahatil Mukminin ataukah sekedar hamba sahayanya." Mereka katakan, "Jika beliau menghijabinya, maka ia adalah termasuk Ummahatil Mukminin, namun jika tidak, maka ia adalah hamba sahayanya." Maka ketika berangkat, beliau meletakkannya agak rendah di belakang, lalu beliau membentangkan hijab yang menutupi antara ia dan orang banyak. (HR. Al Bukhari: 4695 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Lihat juga: al Bukhari: 3891 dan 4762, an Nasa'i: 3329 dan Ahmad: 13286 - shahih dari shahih dari Anas bin Malik.

ASAL USUL SYAFIYAH BINTI HUYAY
(awalnya budak hasil tawanan perang yang dimerdekakan oleh Rasul)

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ عَنْ أَنَسٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَزَا خَيْبَرَ فَصَلَّيْنَا عِنْدَهَا صَلَاةَ الْغَدَاةِ بِغَلَسٍ فَرَكِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَكِبَ أَبُو طَلْحَةَ وَأَنَا رَدِيفُ أَبِي طَلْحَةَ فَأَجْرَى نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي زُقَاقِ خَيْبَرَ وَإِنَّ رُكْبَتَيَّ لَتَمَسُّ فَخِذَيْ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَانْحَسَرَ الْإِزَارُ عَنْ فَخِذَيْ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنِّي لَأَرَى بَيَاضَ فَخِذَيْ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا دَخَلَ الْقَرْيَةَ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ خَرِبَتْ خَيْبَرُ إِنَّا إِذَا نَزَلْنَا بِسَاحَةِ قَوْمٍ فَسَاءَ صَبَاحُ الْمُنْذَرِينَ قَالَهَا ثَلَاثَ مِرَارٍ قَالَ وَقَدْ خَرَجَ الْقَوْمُ إِلَى أَعْمَالِهِمْ فَقَالُوا مُحَمَّدٌ قَالَ عَبْدُ الْعَزِيزِ وَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا الْخُمُسُ قَالَ فَأَصَبْنَاهَا عَنْوَةً فَجُمِعَ السَّبْيُ قَالَ فَجَاءَ دِحْيَةُ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَعْطِنِي جَارِيَةً مِنْ السَّبْيِ قَالَ اذْهَبْ فَخُذْ جَارِيَةً قَالَ فَأَخَذَ صَفِيَّةَ بِنْتَ حُيَيٍّ فَجَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْطَيْتَ دِحْيَةَ صَفِيَّةَ بِنْتَ حُيَيٍّ سَيِّدَةَ قُرَيْظَةَ وَالنَّضِيرِ وَاللَّهِ مَا تَصْلُحُ إِلَّا لَكَ فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ادْعُوهُ بِهَا فَجَاءَ بِهَا فَلَمَّا نَظَرَ إِلَيْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خُذْ جَارِيَةً مِنْ السَّبْيِ غَيْرَهَا ثُمَّ إِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَقَالَ لَهُ ثَابِتٌ يَا أَبَا حَمْزَةَ مَا أَصْدَقَهَا قَالَ نَفْسَهَا أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا حَتَّى إِذَا كَانَ بِالطَّرِيقِ جَهَّزَتْهَا أُمُّ سُلَيْمٍ فَأَهْدَتْهَا لَهُ مِنْ اللَّيْلِ وَأَصْبَحَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَرُوسًا فَقَالَ مَنْ كَانَ عِنْدَهُ شَيْءٌ فَلْيَجِئْ بِهِ وَبَسَطَ نِطَعًا فَجَعَلَ الرَّجُلُ يَجِيءُ بِالْأَقِطِ وَجَعَلَ الرَّجُلُ يَجِيءُ بِالتَّمْرِ وَجَعَلَ الرَّجُلُ يَجِيءُ بِالسَّمْنِ قَالَ وَأَحْسِبُهُ قَدْ ذَكَرَ السَّوِيقَ قَالَ فَحَاسُوا حَيْسًا وَكَانَتْ وَلِيمَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه أحمد: ١١٥٥٤)

Telah menceritakan kepada kami Isma'il berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz dari Anas berkata; "Rasulullah ﷺ pernah menyerang Khaibar, lalu kami shalat subuh di pagi yang masih gelap sekali, lalu Rasulullah ﷺ mengendarai kendaraan demikian juga dengan Abu Thalhah, dan aku sendiri dibonceng Abu Thalhah. Nabi Allah ﷺ melarikan kendaraannya di jalanan Khaibar yang sempit hingga kedua lututku bersenggolan dengan paha Nabi ﷺ sampai-sampai kain sarung beliau tersingkap dari paha Nabi ﷺ. Sungguh, aku dapat melihat putihnya paha Nabi Allah ﷺ. Maka ketika memasuki kampung beliau mengucapkan: "Allahu Akbar, Khaibar telah hancur, sesungguhnya jika kami menduduki suatu kampung maka akan buruklah waktu pagi bagi orang-orang yang telah mendapatkan peringatan." Beliau ulangi hal itu hingga tiga kali. Anas berkata; "Pada waktu itu orang-orang Khaibar telah keluar rumah untuk bekerja, lalu mereka berkata; "Muhammad!" Abdul Aziz menyebutkan; Sebagian sahabat kami berkata; "Seperlima, " Anas berkata; "Kami mendapatkannya dengan perlawanan, lalu para tawanan pun dikumpulkan," Anas berkata; "Lalu datanglah Dihyah, ia berkata; "Wahai Nabiyullah, berilah aku seorang jariah (budak wanita) dari para tawanan tersebut." Beliau bersabda: "Pergi dan ambillah seorang darinya." Anas berkata; "Lalu ia mengambil Shafiyyah binti Huyai, maka seorang laki-laki datang menemui beliau seraya berkata; "Wahai Rasulullah, engkau memberikan Dihyah Shafiyyah binti Huyai, pemimpin bani Quraizhah dan Nadhir! Demi Allah ia hanya pantas diberikan untukmu." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Panggillah ia dengan membawa Shafiyyah, "maka datanglah Dihyah dengan membawa Shafiyyah binti Huyai. Dan ketika Nabi ﷺ melihat Shafiyyah beliau bersabda kepada Dihyah: "Ambillah Jariah dari para tawanan itu selain Shafiyyah." Setelah itu Nabi Allah ﷺ memerdekakan Shafiyyah dan menikahinya." Lalu Tsabit bertanya kepada Anas; "Wahai Abu Hamzah, apa maharnya?" ia menjawab; "Dirinya, beliau memerdekakannya setelah itu menikahinya, sehingga ketika di jalan Ummu Sulaim merias Shafiyyah dan memberikannya kepada beliau di malam harinya. Maka di pagi harinya beliau menjadi pengantin, beliau bersabda: "Barangsiapa mempunyai sesuatu hendaklah ia membawanya, "lalu beliau membentangkan kain. Setelah itu ada yang membawa susu kering, ada yang membawa kurma dan ada yang membawa minyak samin." Abdul Aziz berkata; "Menurutku Anas juga menyebutkan sawiq (makanan yang dibuat dari tepung gandum), " Anas berkata; "Lalu mereka membuat hais (makanan yang dibuat dari campuran kurma, tepung dan minyak samin), dan seperti itulah walimah Rasulullah ﷺ." (HR. Ahmad: 11554 - shahih dari Anas bin Malik, hadits ahlul Bashrah)

Lebih lanjut,

حَدَّثَنَا يَزِيدُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
أَنَّ صَفِيَّةَ وَقَعَتْ فِي سَهْمِ دِحْيَةَ الْكَلْبِيِّ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ وَقَعَتْ فِي سَهْمِ دِحْيَةَ جَارِيَةٌ جَمِيلَةٌ فَاشْتَرَاهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعَةِ أَرْؤُسٍ فَجَعَلَهَا عِنْدَ أُمِّ سُلَيْمٍ حَتَّى تَهَيَّأَ وَتَعْتَدَّ فِيمَا يَعْلَمُ حَمَّادٌ فَقَالَ النَّاسُ وَاللَّهِ مَا نَدْرِي أَتَزَوَّجَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ تَسَرَّاهَا فَلَمَّا حَمَلَهَا سَتَرَهَا وَأَرْدَفَهَا خَلْفَهُ فَعَرَفَ النَّاسُ أَنَّهُ قَدْ تَزَوَّجَهَا فَلَمَّا دَنَا مِنْ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ النَّاسُ وَأَوْضَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَذَلِكَ كَانُوا يَصْنَعُونَ فَعَثَرَتْ النَّاقَةُ فَخَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخَرَّتْ مَعَهُ وَأَزْوَاجُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرْنَ فَقُلْنَ أَبْعَدَ اللَّهُ الْيَهُودِيَّةَ وَفَعَلَ بِهَا وَفَعَلَ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَتَرَهَا وَأَرْدَفَهَا خَلْفَهُ
حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ صَارَتْ صَفِيَّةُ لِدِحْيَةَ فِي قَسْمِهِ فَذَكَرَ نَحْوَهُ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ حَتَّى إِذَا جَعَلَهَا فِي ظَهْرِهِ نَزَلَ ثُمَّ ضَرَبَ عَلَيْهَا الْقُبَّةَ. (رواه أحمد: ١١٧٩٣)

Telah menceritakan kepada kami Yazid berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Tsabit Al Bunani dari Anas bin Malik; bahwa Shafiyyah jatuh kegenggaman Dihyah Al Kalbi, maka dikatakan kepada Nabi; "Wahai Rasulullah, seorang budak wanita yang cantik jelita telah jatuh ke genggaman Dihyah!" maka Rasulullah ﷺ pun membelinya dengan mengganti tujuh orang wanita. Lalu beliau menyerahkan kepada Ummu Sulaim sehingga ia menghiasinya dan mempersiapkan diri. Sejauh yang diketahui oleh Hammad, orang-orang berkata; "Demi Allah, kami tidak mengetahui apakah Rasulullah ﷺ telah menikahinya atau hanya sekedar mengambilnya sebagai gundik?! Maka ketika membawa Shafiyyah, beliau memboncengnya di belakang serta menutupinya dengan satir. Hingga orang-orang pun tahu bahwa beliau telah menikahinya. Maka ketika telah mendekati kota Madinah orang-orang mempercepat laju untanya demikian juga dengan Rasulullah ﷺ, sampai-sampai unta beliau jatuh hingga Rasulullah ﷺ dan istrinya (Shafiyyah) tersungkur ke tanah. Ketika itu istri-istri Nabi ﷺ melihat beliau dan Shafiyyah jatuh, hingga mereka mengatakan; "Semoga Allah menjauhkan perempuan Yahudi itu!" lalu beliau menolong Shafiyyah, setelah itu Rasulullah ﷺ bangun dan memboncengnya di belakang seraya menutupinya dengan satir." Telah menceritakan kepada kami Bahz berkata, telah menceritakan kepada kami Sulaiman Ibnul Mughirah dari Tsabit dari Anas bin Malik ia berkata; "Shafiyyah jatuh menjadi milik Dihyah, " lalu ia menyebutkan sebagaimana dalam hadits, hanya saja ia menyebutkan; "hingga ketika beliau ingin menjadikannya di samping beliau, beliau turun dan membuatkan tenda." (HR. Ahmad: 11793 - shahih dari Anas bin Malik)

Lihat juga: Abu Daud: 2604, Ahmad: 12553 dan 13487 [hadits ahlul Bashrah] - shahih dari Anas bin Malik.

Kemudian sabda beliau,

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ سَمِعَ مُحَمَّدَ بْنَ فُضَيْلٍ عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَتْ لَهُ جَارِيَةٌ فَعَالَهَا فَأَحْسَنَ إِلَيْهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا كَانَ لَهُ أَجْرَانِ. (رواه البخاري: ٢٣٥٨)

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dia mendengar Muhammad bin Fudhail dari Mutharrif dari Asy-Sya'biy dari Abu Burdah dari Abu Musa radhiyallahu 'anhu berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Siapa yang memiliki budak wanita lalu memberikan hak-haknya dan bersikap baik kepadanya kemudian dia bebaskan lalu dinikahinya maka baginya mendapat dua pahala". (HR. Al Bukhari: 2358 - shahih dari 'Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadhdhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Musa negeri hidup Kufah dan wafat tahun 50 H)

Lihat juga: al Bukhari: 2361, Ibnu Majah: 1946, Ahmad: 18743 dan 18880 [hadits ahlul Kufah] - shahih dari Abu Musa. Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]