“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


HIASAN ILMU ADALAH SANTUN DAN MALU
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Simat riwayat berikut:

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ ابْنِ شُبْرُمَةَ عَنْ الشَّعْبِيِّ قَالَ زَيْنُ الْعِلْمِ حِلْمُ أَهْلِهِ. (رواه الدارمي: ٥٧٨)

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Humaid telah menceritakan kepada kami Jarir dari Ibnu Syubrumah dari As Sya'bi ia berkata, "Hiasan ilmu adalah sikap santun sang pemiliknya". (HR. Ad Darimi: 578 - isnadnya dha'if menurut Husain Salim Asad ad Darani dari 'Amir bin Syarahil, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Amru negeri hidup Kufah dan wafat tahun 104 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in dan Abu Zur'ah menilainya tsiqah. Ibnu Hajar menilainya shaduq tsiqah masyhur dan adz Dzahabi menilainya seorang tokoh)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat ad Darimi: 578 terdapat periwayat bernama Muhammad bin Humaid bin Hayyan, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Ray dan wafat tahun 248 H. Penilaian ulama: al Bukhari menilainya fiihi nazhar, an Nasa'i menilainya laisa bi tsiqah, adz Dzahabi menilainya hafizh, sedangkan Ibnu Hajar menilainya Hafizh dha'if.

Pada jalur lain isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani, sebagaimana haditsnya:

أَخْبَرَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ أَخْبَرَنَا عَاصِمٌ الْأَحْوَلُ عَنْ عَامِرٍ الشَّعْبِيِّ قَالَ زَيْنُ الْعِلْمِ حِلْمُ أَهْلِهِ. (رواه الدارمي: ٥٧٦)

Telah mengabarkan kepada kami Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah mengabarkan kepada kami 'Ashim Al Ahwal dari 'Amir As Sya'bi ia berkata, "Hiasan ilmu adalah sikap santun sang pemiliknya'. (HR. Ad Darimi: 576 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari 'Amir bin Syarahil, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Amru negeri hidup Kufah dan wafat tahun 104 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in dan Abu Zur'ah menilainya tsiqah. Ibnu Hajar menilainya shaduq tsiqah masyhur dan adz Dzahabi menilainya seorang tokoh). Hadits ini shahih maqthu'. Karena hanya disandarkan hanya pada tabi'in.

Selanjutnya, terdapat hadits pendukung yang marfu', sebagaimana diriwayatkan imam Ibnu Majah: 4178 dengan lafazh sebagai berikut:

حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَقَ الْهَرَوِيُّ حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ الْفَضْلِ الْأَنْصَارِيُّ حَدَّثَنَا قُرَّةُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا أَبُو جَمْرَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْأَشَجِّ الْعَصَرِيِّ إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمَ وَالْحَيَاءَ. (رواه إبن ماجه: ٤١٧٨)

Telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq Al Harawi telah menceritakan kepada kami Al 'Abbas bin Al Fadl Al Anshari telah menceritakan kepada kami Qurrah bin Khalid telah menceritakan kepada kami Abu Jamrah dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada Al Asyaj Al 'Ashri, "Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua sikap yang dicintai oleh Allah; sifat santun dan malu." (HR. Ibnu Majah: 4178 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Catatan: menurut Muhammad Nashiruddin al Albani shahih dengan lafazh "al 'anah" pada tempatnya 'al hayah'.

Selnajunya juga diriwayatkan oleh imam Abu Daud,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى بْنُ الطَّبَّاعِ حَدَّثَنَا مَطَرُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَعْنَقُ حَدَّثَتْنِي أُمُّ أَبَانَ بِنْتُ الْوَازِعِ بْنِ زَارِعٍ عَنْ جِدِّهَا زَارِعٍ وَكَانَ فِي وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ قَالَ وَانْتَظَرَ الْمُنْذِرُ الْأَشَجُّ حَتَّى أَتَى عَيْبَتَهُ فَلَبِسَ ثَوْبَيْهِ ثُمَّ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُ إِنَّ فِيكَ خَلَّتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا أَتَخَلَّقُ بِهِمَا أَمْ اللَّهُ جَبَلَنِي عَلَيْهِمَا قَالَ بَلْ اللَّهُ جَبَلَكَ عَلَيْهِمَا قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَبَلَنِي عَلَى خَلَّتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ. (رواه أبوداود: ٤٥٤٨)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isa bin Ath Thabba' berkata, telah menceritakan kepada kami Mathar bin 'Abdurrahman Al A'naq berkata, telah menceritakan kepadaku Ummu Aban bintil Wazi' bin Zari' dari kakeknya Zari' saat itu ia sedang bersama rombongan utusan Abdu Qais, ia berkata, "Ketika kami tiba di Madinah, kami saling berlomba memacu kendaraan kami, lalu kami mencium tangan dan kaki beliau." Ia (perawi) berkata, "Al Mundzir Al Asyaj masih menunggu hingga tempat pakaiannya tiba, lalu ia kenakan pakaiannya tersebut. Setelah itu ia datang menemui Nabi ﷺ. Beliau lantas bersabda kepada Al Mundzir, "Sesungguhnya engkau mempunyai dua tabiat yang disukai oleh Allah dan rasul-Nya; santun dan sabar." Al Mundir bertanya, "Wahai Rasulullah, memang aku berakhlak demikian atau Allah yang memberikan itu kepadaku?" beliau menjawab, "Allah yang memberikan itu kepadamu." Al Mundzir berkata, "Segala puji milik Allah yang telah memberiku dua tabiat yang disukai oleh Allah dan rasul-Nya." (HR. Abu Daud: 4548 - hasan dari Zaari bin 'Amir, ia shahabat dan negeri hidup Bashrah)

Imam Ahmad bin Hanbal berkata dalam riwayat berikut:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنَا يُونُسُ قَالَ زَعَمَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ قَالَ أَشَجُّ بْنُ عَصَرٍ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ فِيكَ خُلَّتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قُلْتُ مَا هُمَا قَالَ الْحِلْمُ وَالْحَيَاءُ قُلْتُ أَقَدِيمًا كَانَ فِيَّ أَمْ حَدِيثًا قَالَ بَلْ قَدِيمًا قُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَبَلَنِي عَلَى خُلَّتَيْنِ يُحِبُّهُمَا. (رواه أحمد: ١٧١٦٠)

Telah menceritakan kepada kami Isma'il ia berkata, Telah menceritakan kepada kami Yunus ia berkata, Abdurrahman bin Ubay berdalih dengan berkata, Asyajj bin Ashr berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku, "Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang keduanya dicintai oleh Allah 'Azza wa Jalla." Saya bertanya, "Sifat apakah itu?" beliau menjawab, "Al Hilmu (santun) dan rasa malu." Saya bertanya lagi, "Apakah kedua sifat itu telah ada padaku sejak lama atau baru melekat?" beliau menjawab, "Sejak lama." Saya berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah memberiku dua sifat yang dicintai-Nya." (HR. Ahmad: 17160 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari al Mundzir bin A'idz bin al Harits, ia shahabat dan negeri hidup Bashrah)

Riwayat yang dha'if,

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ الْهَمْدَانِيُّ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ دِينَارٍ الشَّيْبَانِيُّ عَنْ عُمَارَةَ الْعَبْدِيِّ حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ قَالَ كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَتَتْكُمْ وُفُودُ عَبْدِ الْقَيْسِ وَمَا يَرَى أَحَدٌ فِينَا نَحْنُ كَذَلِكَ إِذْ جَاءُوا فَنَزَلُوا فَأَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَقِيَ الْأَشَجُّ الْعَصَرِيُّ فَجَاءَ بَعْدُ فَنَزَلَ مَنْزِلًا فَأَنَاخَ رَاحِلَتَهُ وَوَضَعَ ثِيَابَهُ جَانِبًا ثُمَّ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَشَجُّ إِنَّ فِيكَ لَخَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمَ وَالتُّؤَدَةَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَشَيْءٌ جُبِلْتُ عَلَيْهِ أَمْ شَيْءٌ حَدَثَ لِي قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلْ شَيْءٌ جُبِلْتَ عَلَيْهِ. (رواه إبن ماجه: ٤١٧٧)

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad bin Al 'Ala Al Hamdani telah menceritakan kepada kami Yunus bin Bukair telah menceritakan kepada kami Khalid bin Dinar As Syaibani dari 'Umarah Al 'Abdi telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al Khudri dia berkata, "Kami pernah duduk-duduk bersama Rasulullah ﷺ, beliau lalu bersabda, "Delegasi Abdul Qais telah datang kepada kalian." Namun tidak seorang pun dari kami yang melihatnya, ketika kami masih seperti itu tiba-tiba mereka datang dan datang menemui Rasulullah ﷺ, kecuali Al Asyaj Al 'Ashri yang masih di belakang (tertinggal). Lalu ia pun datang, setelah menambatkan unta dan meletakkan pakaiannya ia datang menemui Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ lalu bersabda kepadanya, "Wahai Asyaj, sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua sikap yang dicintai Allah; sikap santun dan tidak tergesa-gesa." Asyaj berkata, "Wahai Rasulullah, itu sifat yang telah ditetapkan untukku, atau sesuatu yang bermula dariku?" Rasulullah ﷺ bersabda, "Itu sifat yang ditetapkan untukmu." (HR. Ibnu Majah: 4177 - dha'if jiddan menurut al Albani dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat Ibnu Majah: 4177, terdapat periwayat bernama Umarah bin Juwain, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Harun negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 134 H. Penilaian ulama: an Nasa'i dan al Hakim menilainya matrukul hadits. Ibnu Hajar menilainya matruk syi'ah dan adz Dzahabi menilainya matruk. Sedangkan Abu Hatim menilainya dha'if. Selanjutnya, Ahmad bin Hanbal menilainya laisa bi syai' dan Abu Zur'ah menilainya dha'iful hadits.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]