JENIS SIKSAAN DI AKHIRAT
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Setiap amal akan dibalasi di akhirat secara adil dan tidak akan pernah salah. Kebaikan yang dilakukan seseorang akan dilipatgandakan karena kebaikan tersebut adalah standar pokok sifat kemanusiaan. Al Qur'an menyebut kebaikan tersebut dengan "ath Tayyibah" atau sehat lagi menyehatkan. Sedangkan semua keburukan adalah standar amal syetan atau dikenal dalam bahasa al Qur'an dengan "khabits" atau najis. Selain itu juga dikenal dengan seburan "rijsun" atau kotor.
Oleh karena itu, kita dituntut untuk jujur dalam semua segi kehidupan agar terhindar dari keburukan dunia. Sehingga memperoleh semua kebaikan yang telah dianugerahkan Allah pada kita.
Sebagai padanan bagi kita, mari simak macam-macam siksaan bagi pendusta di akhirat sebagai berikut:
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ تَحَلَّمَ بِحُلْمٍ لَمْ يَرَهُ كُلِّفَ أَنْ يَعْقِدَ بَيْنَ شَعِيرَتَيْنِ وَلَنْ يَفْعَلَ وَمَنْ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ صُبَّ فِي أُذُنِهِ الْآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ صَوَّرَ صُورَةً عُذِّبَ وَكُلِّفَ أَنْ يَنْفُخَ فِيهَا وَلَيْسَ بِنَافِخٍ قَالَ سُفْيَانُ وَصَلَهُ لَنا أَيُّوبُ وَقَالَ قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَوْلَهُ مَنْ كَذَبَ فِي رُؤْيَاهُ وَقَالَ شُعْبَةُ عَنْ أَبِي هَاشِمٍ الرُّمَّانِيِّ سَمِعْتُ عِكْرِمَةَ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ قَوْلَهُ مَنْ صَوَّرَ صُورَةً وَمَنْ تَحَلَّمَ وَمَنْ اسْتَمَعَ حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ حَدَّثَنَا خَالِدٌ عَنْ خَالِدٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَنْ اسْتَمَعَ وَمَنْ تَحَلَّمَ وَمَنْ صَوَّرَ نَحْوَهُ تَابَعَهُ هِشَامٌ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَوْلَهُ. (رواه البخاري: ٦٥٢٠)
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Nabi ﷺ bersabda, "Barangsiapa menyatakan diri bermimpi padahal tidak, ia dipaksa untuk menyatukan dua biji gandum dan ia tak akan bisa melakukannya, dan barangsiapa mencuri dengar pembicaraan suatu kaum padahal mereka tidak menyukai atau telah menyingkir untuk menghindarinya, maka telinganya akan dialiri cairan tembaga pada hari kiamat, barangsiapa menggambar ia akan disiksa dan dipaksa untuk menghidupkannya padahal tidak mampu." Sufyan mengatakan; 'Ayyub menyambungkannya kepada kami. Sedang Qutaibah mengatakan; telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Qatadah dari 'Ikrimah dari Abu Hurairah ucapannya tentang; 'Barangsiapa dusta dalam mimpinya'. Dan Syu'bah mengatakan; dari Abu Hasyim Ar Rumani, aku mendengar Ikrimah berkata; Abu Hurairah dengan ucapannya; 'Barangsiapa menggambar, dan barangsiapa menyatakan bermimpi, dan barangsiapa mencuri dengar.' Telah menceritakan kepada kami Ishaq telah menceritakan kepada kami Khalid dari Khalid dari Ikrimah dari Ibnu Abbas mengatakan, "Barangsiapa mencuri dengar, dan barangsiapa menyatakan bermimpi dan barangsiapa menggambar', hadits ini diikutsertakan penguatnya oleh Hisyam dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dengan ucapan beliau. (HR. Al Bukhari: 6520 - shahih dari 'Abdullah bin al 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)
Demikian juga hadits riwayat at Tirmidzi: 2208 dan Ibnu Majah: 3906 - shahih dari 'Abdullah bin al 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H. Imam ad Darimi juga meriwayat dengan sanad yang dha'if menurut Husain Salim Asad ad Darani sebagai berikut:
أَخْبَرَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ عَبْدِ الْأَعْلَى عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَلِيٍّ يَرْفَعُ الْحَدِيثَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَذَبَ فِي حُلْمِهِ كُلِّفَ عَقْدَ شَعِيرَتَيْنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. (رواه الدارمي: ٢٠٥٢)
Telah mengabarkan kepada kami Abu Nu'aim telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Abdul A'la dari Abu Abdurrahman dari Ali -yang dirafa'kan sampai kepada Nabi ﷺ- dia berkata, "Barangsiapa berbohong dengan mimpinya, maka pada hari kiamat akan dibebankan kepadanya untuk menghitung biji gandum." (HR. Ad Darimi: 2052 - isnadnya dha'if menurut Husain Salim Asad ad Darani dari 'Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Kufah dan wafah tahun 40 H. Hadits ahlul Kufah)
Riwayat yang shahih melalui Ali bin Abi Thalib sebagaimana diriwayatkan oleh imam at Tirmidzi: 2207,
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ الزُّبَيْرِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الْأَعْلَى عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ عَلِيٍّ قَالَ أُرَاهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَذَبَ فِي حُلْمِهِ كُلِّفَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَقْدَ شَعِيرَةٍ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ عَبْدِ الْأَعْلَى عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ عَلِيٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي شُرَيْحٍ وَوَاثِلَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا أَصَحُّ مِنْ الْحَدِيثِ الْأَوَّلِ. (رواه الترمذي: ٢٢٠٧)
Telah menceritakan kepada kami Mahmaud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az Zubairi telah menceritakan kepada kami Sufyan dari 'Abdul A'la dari Abu Abdurrahman As Sulami dari 'Ali berkata, Menurutku dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Barangsiapa berdusta dalam mimpinya, pada hari kiamat dia diperintahkan untuk menyatukan bubuk tepung." Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari 'Abdul A'la dari Abu Abdurrahman As Sulami dari 'Ali dari Nabi ﷺ Sepertinya. Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan. Dalam hal ini ada hadits serupa dari Ibnu 'Abbas, Abu Hurairah, Abu Syuraih dan Watsilah. Berkata Abu Isa: Dan hadits ini lebih shahih dari hadits yang pertama. (HR. At Tirmidzi: 2207 - shahih dari 'Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Kufah dan wafah tahun 40 H. Hadits ahlul Kufah)
Demikian hadits diriwayatkan imam Ahmad: 656, 661, 750, 1034 dan 1035 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Kufah dan wafah tahun 40 H. Hadits ahlul Kufah. Kedha'ifan sanad kelima hadits tersebut karena terdapat dalam sanadnya periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits. Periwayat dimaksud bernama 'Abdul A'laa bin 'Amir, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat dan negeri hidup Kufah. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal dan Abu Zur'ah menilainya dha'iful hadits. Abu Hatim dan an Nasa'i menilainya laisa bi qawi. Ibnu Sa'id menilainya dha'if dan adz Dzahabi menilainya layyin. Sementara Ibnu Hajar dan as Saji menilainya shaduq, tetapi punya keragu-raguan. Kelima hadits riwayat Ahmad tersebut menurut Syu'aib al Arna'uth adalah hasan lighairihi, karena sanadnya dha'if dan jalur periwayatannya lebih dari dua jalur.
Na'udzubillaahi min dzaalik, semoga kita terhindar dari keburukan amal dan siksaan atas amal tersebut.
Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏