“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


BERKHUTHBAH MEMEGANG TONGKAT

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,

Tongkat merupakan alat tumpuan membantu pemakainya nyaman dan kokoh berdiri atau dalam duduknya. Terkadang tongkat berguna sebagai penuntun arah, pembatas sementara, bahkan tokngkat bisa jadi lambang kehormatan bagi orang tertentu. Disamping itu juga, terkadang tongkat memiliki fungsi sebagai menunjukkan jabatan dan wibawa seseorang.

Selanjutnya, tidak ada ditemukan dalil yang memerintahkan orang tertentu mesti pakai tongkat. Hanya saja, riwayat memberi infirmasi bahwa Rasul punya tongkat, begitu juga nabi dan rasul sebelumnya. Bahkan para pembesar-pembesar kaum masa lalu selalu pakai tongkat. Bahkan sampai sekarang tongkat digunakan, apa lagi orang yang sudah tua dan rentah. Keluar dari perbedaan pendapat apakah sunnah atau pun tidak sebagaimana pendapat imam Syafi'i atau as San'ani dengan komentar-komentarnya yang menganggap hal tersebut suatu sunnah yang mesti diikuti. Maka penulis mengajukan tulisan berikut, semoga dapat dipahami.

Sekarang masalahnya apakah khathib dalam berkhuthbah mesti pakai tongkat? Apakah setiap khatib membawa tongkatnya? Apakah fungsi tongkat dalam berkhuthbah? Berikut penulia urairan hadits-hadits terkait dengan masalah tersebut.

Imam Abu Daud berkata,

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا شِهَابُ بْنُ خِرَاشٍ حَدَّثَنِي شُعَيْبُ بْنُ زُرَيْقٍ الطَّائِفِيُّ قَالَ جَلَسْتُ إِلَى رَجُلٍ لَهُ صُحْبَةٌ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَالُ لَهُ الْحَكَمُ بْنُ حَزْنٍ الْكُلَفِيُّ فَأَنْشَأَ يُحَدِّثُنَا قَالَ وَفَدْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَابِعَ سَبْعَةٍ أَوْ تَاسِعَ تِسْعَةٍ فَدَخَلْنَا عَلَيْهِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ زُرْنَاكَ فَادْعُ اللَّهَ لَنَا بِخَيْرٍ فَأَمَرَ بِنَا أَوْ أَمَرَ لَنَا بِشَيْءٍ مِنْ التَّمْرِ وَالشَّأْنُ إِذْ ذَاكَ دُونٌ فَأَقَمْنَا بِهَا أَيَّامًا شَهِدْنَا فِيهَا الْجُمُعَةَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى عَصًا أَوْ قَوْسٍ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ كَلِمَاتٍ خَفِيفَاتٍ طَيِّبَاتٍ مُبَارَكَاتٍ ثُمَّ قَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ لَنْ تُطِيقُوا أَوْ لَنْ تَفْعَلُوا كُلَّ مَا أُمِرْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ سَدِّدُوا وَأَبْشِرُوا قَالَ أَبُو عَلِيٍّ سَمِعْت أَبُو دَاوُد قَالَ ثَبَّتَنِي فِي شَيْءٍ مِنْهُ بَعْضُ أَصْحَابِنَا وَقَدْ كَانَ انْقَطَعَ مِنْ الْقِرْطَاسِ. (رواه أيوداود: ٩٢٤)

Telah menceritakan kepada kami Sa'd bin Manshur telah menceritakan kepada kami Syihab bin Khirasy telah menceritakan kepadaku Syu'aib bin Zuraiq Ath Tha`ifi dia berkata, "Aku duduk di samping seorang sahabat Rasulullah ﷺ yang bernama Al Hakam bin Hazn Al Kulafi, lalu dia menceritakan kepada kami, katanya, "Aku pernah menemui Rasulullah ﷺ bersama dengan tujuh atau sembilan orang, setelah kami masuk menemui beliau, kami bertanya, "Wahai Rasulullah, kami mengunjungi Anda, oleh karena itu, doakanlah kebaikan untuk kami." Maka beliau memerintahkan supaya kami di suguhi kurma, pada waktu itu, kondisi dalam situasi lemah. Kami pun tinggal di Madinah beberapa hari, kami juga mengikuti pelaksanaan shalat Jumat bersama Rasulullah ﷺ, saat itu beliau berdiri bertopang pada tongkat atau busur, lalu beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya dengan beberapa patah kata ringan, baik lagi penuh berkah, beliau bersabda, "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mampu mengerjakan semua yang di perintahkan pada kalian, akan tetapi bertindaklah yang benar dan berilah kabar gembira." Abu Ali berkata, "Aku mendengar Abu Daud berkata, "Para sahabat kami telah meneguhkan sesuatu dari hadits tersebut, sebab kertas-kertas telah terputus." (HR. Abu Daud: 924 - hasan dari al Hakam bin Hazan, ia shahabat. Ia periwayat hadits Abu Daud dan Ahmad, masing-masing satu hadits saja)

Sedangkan Syu'aib bin Zuraiq Ath Tha`ifi, ia tabi'in kalangan biasa dan negeri hidup Tha'if. Penilaian ulama. Abu Hatim menilainya shalih, Yahya bin Ma'in menilainya laisa bihi ba'sa, Ibnu Hajar menilainya la ba'sa bihi, sedangkan adz Dzahabi menilainya shaduq. Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat.

Demikian juga hadits semakna diriwayatkan imam Ahmad: 17182 - isnadnya qawi menurut Syu'aib al Arna'uth dari al Hakam bin Hazan, ia shahabat. Ia periwayat hadits Abu Daud dan Ahmad, masing-masing satu hadits saja. Imam Ahmad meriwayat dari dua periwayat yaitu Jalur sanad pertama dari al Hakam bin Musa bin Abi Zuhair, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu Shalih negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 232 H. Penilaian ulama: Abu Hatim dan Ibnu Hajar menilainya shaduq, Yahya bin Ma'in menilainya laisa bihi ba'sa, dan Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat. Jalur sanad kedua, dari Sa'id bin Manshur bin Syu'bah, ia juga tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu 'Utsman negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 227 H. Penilaian ulama: Muhammad bin Sa'ad menilainya tsiqah, Abu Hatim menilainya tsiqah tsabat, kemudian adz Dzahabi menilainya hafizh. Hadits ini dari segi jumlah sanadnya adalah 'aziz yaitu karakternya terdapat dua periwayat per tabagat, bisa juga pada tabaqat mana saja seperti tabaqat tabi'ul atba'.

Imam Ahmad meriwayat,

حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ مُوسَى قَالَ عَبْد اللَّهِ وَسَمِعْتُهُ أَنَا مِنْ الْحَكَمِ حَدَّثَنَا شِهَابُ بْنُ خِرَاشٍ حَدَّثَنِي شُعَيْبُ بْنُ رُزَيْقٍ الطَّائِفِيُّ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ رَجُلٍ يُقَالُ لَهُ الْحَكَمُ بْنُ حَزْنٍ الْكُلَفِيُّ وَلَهُ صُحْبَةٌ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَأَنْشَأَ يُحَدِّثُنَا قَالَ قَدِمْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَابِعَ سَبْعَةٍ أَوْ تَاسِعَ تِسْعَةٍ قَالَ فَأَذِنَ لَنَا فَدَخَلْنَا فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَيْنَاكَ لِتَدْعُوَ لَنَا بِخَيْرٍ قَالَ فَدَعَا لَنَا بِخَيْرٍ وَأَمَرَ بِنَا فَأُنْزِلْنَا وَأَمَرَ لَنَا بِشَيْءٍ مِنْ تَمْرٍ وَالشَّأْنُ إِذْ ذَاكَ دُونٌ قَالَ فَلَبِثْنَا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامًا شَهِدْنَا فِيهَا الْجُمُعَةَ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَكِّئًا عَلَى قَوْسٍ أَوْ قَالَ عَلَى عَصًا فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ كَلِمَاتٍ خَفِيفَاتٍ طَيِّبَاتٍ مُبَارَكَاتٍ ثُمَّ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ لَنْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تُطِيقُوا كُلَّ مَا أُمِرْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ سَدِّدُوا وَأَبْشِرُوا حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا شِهَابُ بْنُ خِرَاشِ بْنِ حَوْشَبٍ حَدَّثَنَا شُعَيْبُ بْنُ رُزَيْقٍ الطَّائِفِيُّ قَالَ جَلَسْتُ إِلَى رَجُلٍ لَهُ صُحْبَةٌ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَالُ لَهُ الْحَكَمُ بْنُ حَزْنٍ الْكُلَفِيُّ فَأَنْشَأَ يُحَدِّثُ فَذَكَرَ مَعْنَاهُ. (رواه أحمد: ١٧١٨٢)

Telah menceritakan kepada kami Al Hakam bin Musa, Abdullah berkata, dan saya mendengarnya dari Al Hakam berkata, Telah menceritakan kepada kami Syihab bin Khirasy berkata, telah menceritakan kepadaku Syu'aib bin Ruzaiq Ath Tha`ifi ia berkata, "Saya pernah duduk bersama seorang yang bernama Al Hakam bin Hazn Al Kullafi, salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ. Ia menceritakan kepada kami, "Saya pernah mendatangi Rasulullah ﷺ bersama tujuh atau sembilan orang sahabat, lalu beliau memberi izin hingga kami pun segera menemuinya. Kami lantas berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami datang kepada tuan agar tuan mendoakan kebaikan untuk kami." Maka beliau pun mendoakan kebaikan untuk kami dan menyuruh kami untuk singgah di tempat beliau, lalu kami pun singgah." Kemudian beliau mempersilakan kami untuk menyantap beberapa kurma. Kami tinggal bersama beliau beberapa hari, dan kami juga ikut menyaksikan shalat Jumat bersama beliau. Rasulullah ﷺ lalu berdiri dengan bertumpu pada sebuah busur atau tongkat. Beliau memuji Allah dan mengagungkan-Nya dengan kalimat yang mudah, kalimat thayyibah dan penuh keberkahan. Kemudian beliau bersabda, "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan bisa melaksanakan keseluruhan apa yang diperintahkan pada kalian dan kalian tidak akan mampu. Karena itu, istiqamahlah kalian dalam ketaatan dan perkataan serta berilah kabar gembira." Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Manshur Telah menceritakan kepada kami Syihab bin Khirasy bin Hausyab Telah menceritakan kepada kami Syu'aib bin Ruzaiq At Tha'ifi ia berkata, "Saya pernah duduk bersama Al Hakam bin Hazn Al Kullafi, salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ. Ia menceritakan kepada kami…kemudian ia menyebutkan makna hadits tersebut." (HR. Ahmad: 17182 - isnadnya qawi menurut Syu'aib al Arna'uth dari al Hakam bin Hazan, ia shahabat. Ia periwayat hadits Abu Daud dan Ahmad, masing-masing satu hadits saja)

Tongkat yang dibawa tersebut dijadikan Nabi sebagai alat untuk bertumpu dan dibawa oleh Nabi kemana-mana, bukan Beliau tinggalkan di atas mimbar Masjid. Dan tongkat itu bertumpu ke tanah bukan pendek dan berada di atas awang-awang.

Rasulullah berkhuthbah memakai tongkat adalah alat tempat bertumpu dan tongkat itu milik beliau dan dibawa kemana-mana. Kalau khatib tidak punya tongkat dalam kesehariannya buat apa pula pakai tongkat berkhuthbah? Cukup saja memegangi mimbar sebagai alat untuk bertumpu.

Dilain waktu, tongkat kecil yang selalu dibawa oleh Rasul disamping digunakan untuk bertumpu ketika berhuthbah saja, tetapi juga digunakan sebagai pembatas tempat shalat dimana beliau shalat. Seperti itu juga sebagai penuntun jalan dikala malam. Sebagaimana imam an Nasa'i meriwayatkan,

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِي جُحَيْفَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ فِي حُلَّةٍ حَمْرَاءَ فَرَكَزَ عَنَزَةً فَصَلَّى إِلَيْهَا يَمُرُّ مِنْ وَرَائِهَا الْكَلْبُ وَالْمَرْأَةُ وَالْحِمَارُ. (رواه النسائي: ٧٦٤)

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Basysyar dia berkata; telah menceritakan kepada kami 'Abdurrahman dia berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari 'Aun bin Abu Juhaifah dari Bapaknya, bahwa Rasulullah ﷺ keluar dengan pakaian berwarna merah. lalu beliau menancapkan sebuah tongkat kecil dan beliau shalat ke arah tongkat tersebut, lalu ada anjing, perempuan, dan keledai yang lewat di belakang tongkat tersebut. (HR. An Nasa'i: 764 - shahih dari Wahab bin 'Abdullah, ia shahabat kuniyahnya Abu Juhaifah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 74 H)

Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 5340, Ahmad: 18002 [isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth] - shahih dari Wahab bin 'Abdullah, ia shahabat kuniyahnya Abu Juhaifah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 74 H.

Dalam konteks lain diinformasikan imam Ahmad bahwa:

حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي حَكِيمٍ حَدَّثَنَا الْحَكَمُ يَعْنِي ابْنَ أَبَانَ قَالَ سَمِعْتُ عِكْرِمَةَ يَقُولُ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ قَالَ رُكِزَتْ الْعَنَزَةُ بَيْنَ يَدَيْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَاتٍ فَصَلَّى إِلَيْهَا وَالْحِمَارُ يَمُرُّ مِنْ وَرَاءِ الْعَنَزَةِ. (رواه أحمد: ٢٠٦٦)

Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu Hakim Telah menceritakan kepada kami Al Hakam yakni Ibnu Aban berkata; aku mendengar Ikrimah berkata; Ibnu 'Abbas berkata, "Al 'Anzah (tongkat kecil) ditancapkan di hadapan Nabi ﷺ di Arafah. Beliau shalat dengan menghadap ke arah tongkat sementara keledai melintas di belakang tongkat tersebut." (HR. Ahmad: 2066 - ianasnya qawi menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Lihat juga hadits riwayat ad Darimi: 1373 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari dari Wahab bin 'Abdullah, ia shahabat kuniyahnya Abu Juhaifah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 74 H.

Begitu pula tongkat para shahabat, Imam Ahmad berkata:

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ أَخْبَرَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ أُسَيْدَ بْنَ حُضَيْرٍ وَعَبَّادَ بْنَ بِشْرٍ كَانَا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي لَيْلَةٍ ظَلْمَاءَ حِنْدِسٍ فَخَرَجَا مِنْ عِنْدِهِ فَأَضَاءَتْ عَصَا أَحَدِهِمَا فَجَعَلَا يَمْشِيَانِ فِي ضَوْئِهَا فَلَمَّا تَفَرَّقَا أَضَاءَتْ عَصَا الْآخَرِ وَقَدْ قَالَ حَمَّادٌ أَيْضًا فَلَمَّا تَفَرَّقَا أَضَاءَتْ عَصَا ذَا وَعَصَا ذَا. (رواه أحمد: ١٣٣٦٧)

Telah menceritakan kepada kami 'Affan telah menceritakan kepada kami Hammad telah mengabarkan kepada kami Tsabit dari Anas, suatu kali Usaid bin Hudhair dan 'Abbad bin Bisyri berada di majelis Nabi ﷺ pada suatu malam yang sangat gelap pekat. Lalu mereka berdua meninggalkan beliau dan salah satu tongkat keduanya mengeluarkan sinar. Keduanya berjalan dengan sinar tersebut. Tatkala mereka berpisah, maka tongkat yang lainpun mengeluarkan sinarnya. Hammad juga berkata; tatkala mereka berdua berpisah maka tongkat yang satu bersinar dan yang satunya juga bersinar. (HR. Ahmad: 13367- isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Bahkan Bilal pun punya tongkat, sebagai mana diinformasikan oleh imam al Bukhari: 5340,

حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا ابْنُ شُمَيْلٍ أَخْبَرَنَا عُمَرُ بْنُ أَبِي زَائِدَةَ أَخْبَرَنَا عَوْنُ بْنُ أَبِي جُحَيْفَةَ عَنْ أَبِيهِ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ فَرَأَيْتُ بِلَالًا جَاءَ بِعَنَزَةٍ فَرَكَزَهَا ثُمَّ أَقَامَ الصَّلَاةَ فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ فِي حُلَّةٍ مُشَمِّرًا فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ إِلَى الْعَنَزَةِ وَرَأَيْتُ النَّاسَ وَالدَّوَابَّ يَمُرُّونَ بَيْنَ يَدَيْهِ مِنْ وَرَاءِ الْعَنَزَةِ. (رواه البخاري: ٥٣٤٠)

Telah menceritakan kepadaku Ishaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Syumail telah mengabarkan kepada kami Umar bin Abu Za`idah telah mengabarkan kepada kami 'Aun bin Abu Juhaifah dari ayahnya Abu Juhaifah dia berkata, "Lalu aku melihat Bilal datang dengan membawa tongkat (berujung runcing) dan menancapkan tongkat tersebut, kemudian dia mengumandangkan iqamah, setelah itu saya melihat Rasulullah ﷺ keluar (rumah) dengan menyingsingkan pakaiannya, lalu beliau shalat dua rakaat di hadapan tongkat tersebut, dan saya melihat orang-orang dan binatang pun lewat di hadapan beliau di belakang tongkat tersebut." (HR. Al Bukhari: 5340 - shahih Wahab bin 'Abdullah, ia shahabat kuniyahnya Abu Juhaifah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 74 H)

Oleh sebab itu, masalah berkhuthbah pakai tongkat atau tidak adalah suatu hal yang lumrah dan tidak perlu dijadikan ikhtilaf. Bahkan itu sudah menjadi kemakluman atau kebiasaan. Jika tidak begitu malah menjadi kejumudan. Sehingga membawa kita kepada pertengkaran terhadap hal yang remeh.

Menurut hemat penulis, serahkan pada adat dan adab yang telah berlaku ditempat tertentu. Harusnya jangan menjadikan satu syari'at yang wajib diadakan. Hanya saja hal tersebut pilihan sampingan, bukan subtansi.

Wallaahu a'lam bish shawab,

Wassalaamu 'alaikum warahamatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]