MEMATA-MATAI ISI RUMAH ORANG LAIN, BERKHIANAT DALAM BERDOA DAN MENAHAN BUANG AIR KECIL WAKTU SHALAT
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
IMAM at Tirmidzi berkata,
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ شُرَيْحٍ عَنْ أَبِي حَيٍّ الْمُؤَذِّنِ الْحِمْصِيِّ عَنْ ثَوْبَانَ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِامْرِئٍ أَنْ يَنْظُرَ فِي جَوْفِ بَيْتِ امْرِئٍ حَتَّى يَسْتَأْذِنَ فَإِنْ نَظَرَ فَقَدْ دَخَلَ وَلَا يَؤُمَّ قَوْمًا فَيَخُصَّ نَفْسَهُ بِدَعْوَةٍ دُونَهُمْ فَإِنْ فَعَلَ فَقَدْ خَانَهُمْ وَلَا يَقُومُ إِلَى الصَّلَاةِ وَهُوَ حَقِنٌ
قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي أُمَامَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ ثَوْبَانَ حَدِيثٌ حَسَنٌ وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ عَنْ السَّفْرِ بْنِ نُسَيْرٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ شُرَيْحٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ يَزِيدَ بْنِ شُرَيْحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَأَنَّ حَدِيثَ يَزِيدَ بْنِ شُرَيْحٍ عَنْ أَبِي حَيٍّ الْمُؤَذِّنِ عَنْ ثَوْبَانَ فِي هَذَا أَجْوَدُ إِسْنَادًا وَأَشْهَرُ. (رواه الترمذي: ٣٢٥)
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr berkata; telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ayyasy berkata; telah menceritakan kepadaku Habib bin Shalih dari Yazid bin Syurahbil dari Abu Hayy Al Mu'adzin Al Himsh dari Tsauban dari Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak halal bagi seseorang melihat ke dalam rumah orang lain hingga ia mendapatkan izin, jika tetap melihat (tanpa izin) maka ia telah masuk. Dan janganlah seseorang mengimami suatu kaum lalu ia mengkhususkan doa untuk dirinya tanpa menyertakan mereka, jika ia lakukan maka ia telah berkhianat. Dan seseorang juga tidak boleh melaksanakan shalat dalam keadaan menahan kencing." Ia berkata, "Dalam bab ini juga ada riwayat dari Abu Hurairah dan Abu Umamah." Abu Isa berkata, "Hadits Tsaubah derajatnya hasan. Hadits ini telah diriwayatkan pula dari Mu'awiyah bin Shalih dari As Safar bin Nusair dari Yazid bin Syuraih dari Abu Umamah dari Nabi ﷺ." Hadits ini juga diriwayatkan dari Yazid bin Syuraih dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ. Seakan-akan hadits Yazid bin Syuraih, dari Abu Hayy Al Mu'adzin, dari Tsauban dalam persoalan ini lebih bagus sanad dan masyhur." (HR. At Tirmidzi: 325 - dha'if kecuali kalimat, "dan seseorang juga tidak boleh melaksanakan shalat dalam keadaan menahan kencing" ini adalah shahih menurut al Albani dari Tsauban bin Bajdad, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Syam dan wafat tahun 54 H, Shadiy bin 'Ajlan, ia shahabat kuniyahnya Abu Umamah negeri hidup Syam dan wafat tahun 86 H, dan Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hadits ini masyhur, karena diriwayatkan lebih dari dua jalur periwayatan)
Imam Ahmad meriwayatkan dengan lafazh semakna dan terdapat tambahan kalimat "hattaa yatakhaffafa", beliau berkata:
حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ حَبِيبِ بْنِ صَالِحٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ شُرَيْحٍ الْحَضْرَمِيِّ عَنْ أَبِي حَيٍّ الْمُؤَذِّنِ عَنْ ثَوْبَانَ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا يَحِلُّ لَامْرِئٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ أَنْ يَنْظُرَ فِي جَوْفِ بَيْتِ امْرِئٍ حَتَّى يَسْتَأْذِنَ فَإِنْ نَظَرَ فَقَدْ دَخَلَ وَلَا يَؤُمَّ قَوْمًا فَيَخْتَصَّ نَفْسَهُ بِدُعَاءٍ دُونَهُمْ فَإِنْ فَعَلَ فَقَدْ خَانَهُمْ وَلَا يُصَلِّ وَهُوَ حَقِنٌ حَتَّى يَتَخَفَّفَ
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ مُحَمَّدٍ يَعْنِي الْخَطَّابِيَّ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ عَنْ حَبِيبِ بْنِ صَالِحٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ شُرَيْحٍ فَذَكَرَ مَعْنَاهُ بِإِسْنَادِهِ. (رواه أحمد: ٢١٣٨١)
Telah menceritakan kepada kami Al Hakam bin Nafi' telah bercerita kepada kami Isma'il bin 'Ayyasy dari Habib bin Shalih dari Yazid bin Syuraih Al Hadhrami dari Abu Hayy, juru azan dari Tsauban dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda, "Tidak halal bagi seorang muslim untuk melihat bagian dalam rumah seseorang hingga minta izin, bila ia melihat berarti ia telah masuk, jangan seseorang mengimami suatu kaum lalu mengkhususkan doa untuk dirinya sendiri tanpa menyertakan mereka, bila melakukan hal itu berarti ia telah berkhianat, jangan shalat dalam keadaan menahan buang air hingga meringankannya." Telah bercerita kepada kami 'Abdul Jabbar bin Muhammad Al Khaththabi telah bercerita kepada kami Baqiyyah dari Habib bin Shalih dari Yazid bin Syuraih lalu menyebutkan makna hadits dengan sanadnya. (HR. Ahmad: 21381 - shahih lighairihi, namun sanadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Tsauban bin Bajdad, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Syam dan wafat tahun 54 H. Hadits ini 'aziz, karena imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang gurunya yang maqbul. Mereka adalah: 1. Al Hakam bin Nafi', ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu al Yaman negeri hidup Syam dan wafat tahun 222 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah, Abu Hatim menilainya tsuqah shaduq. Sementara al 'Ajli menilainya la ba'sa bih. Sedangkan Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat". 2. 'Abdul Jabbar bin Muhammad bin 'Abdur Rahman bin Zaid bin Khththab, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman dan wafat tahun 280 H. Abu Bakar al Khaththib menilainya tsiqah. Yang pertama menerima dari Isma'il bin 'Ayyas bin Sulaim w. 181 H dan yang kedua menerima dari Baqiyyah bin al Walid bin Sha'id w. 197 H. Keduanya menerima dari Habib bin Shalih w. 147 H. Hadits ahlul Syam pada kedua jalurnya.
Hendaknya dalam semua amalan dilakukan dengan jiwa tenang dan tenteram, hal ini disinyalir oleh Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, beliau berkata:
حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ يَحْيَى الدِّمَشْقِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْعَلَاءِ قَالَ سَمِعْتُ مُسْلِمَ بْنَ مِشْكَمٍ قَالَ سَمِعْتُ الْخُشَنِيَّ يَقُولُ
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِمَا يَحِلُّ لِي وَيُحَرَّمُ عَلَيَّ قَالَ فَصَعَّدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَوَّبَ فِيَّ النَّظَرَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَالْإِثْمُ مَا لَمْ تَسْكُنْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَلَمْ يَطْمَئِنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَإِنْ أَفْتَاكَ الْمُفْتُونَ وَقَالَ لَا تَقْرَبْ لَحْمَ الْحِمَارِ الْأَهْلِيِّ وَلَا ذَا نَابٍ مِنْ السِّبَاعِ. (رواه أحمد: ١٧٠٧٦)
Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Yahya Ad Dimasyqi ia berkata, Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ala` saya mendengar Muslim bin Misykam ia berkata, saya mendengar Al Khusyani berkata, "Saya berkata, 'Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku apa yang dihalalkan bagiku dan apa yang diharamkan atasku." Kemudian Nabi ﷺ mengarahkan pandangannya kepadanku dengan tatapan yang serius. Nabi ﷺ lalu bersabda, "Kebaikan itu adalah sesuatu yang menjadikan jiwa tenang dan hati merasa tentram. Sedangkan keburukan itu adalah sesuatu yang tidak dapat menjadikan jiwa tenang dan hati yang tentram, meskipun hasil sebuah fatwa." Beliau melanjutkan, "Dan janganlah kamu memakan daging Himar yang jinak dan jangan pula binatang buas yang bertaring." (HR. Ahmad: 17076 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Jartsum, ia shahabat negeri hidup Syam dan wafat tahun 75 H. Hadits ahlul Syam)
Pesan hadits di atas dapat dipahami bahwa setiap amal dan tindakan mesti ikhlas dan sesuai dengan proporsinya. Hendaknya menjaga keharmonisan dalam agar kebaikan merata dan diridhai oleh Allah. Sikap egois mementingkan kebaikan sendiri justru menolak kebaikan yang akan Allah anugerahkan kepada hamba-Nya. Hindarilah hal-hal yang dapat memandulkan amal, dengan usaha pamrih.
Wallaahu a'lam bish shawaab,
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏