“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


HANYA SATU GOLONGAN MASUK SURGA
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Umat Islam akan terbagi kedalam tujuh puluh tiga golongan (firqah) dan hanya satu yang akan masuk surga. Sementara pengakuan yang diklem oleh kelompok tertentu dalam memahami hadits terkait dengan ini, tentu menjadi klem yang kurang tepat. Karena Rasulullah ﷺ tidak menyebutkan kelompok tertentu. Hanya saja mengatakan kalimat "al jamaah". Oleh karena itu tidak dapat disimpulkan kelompok tertentu.

Selanjutnya, Rasullullah ﷺ mengisyarakat sebuah karakter seekor anjing dengan tuannya. Bagaimana karakter anjing?. Pernyataan beliau ini tentu mengandung sindiran bagi kelompok-kelompok yang suka menjilat penguasa (tuannya), sangat setia kepada orang atau pimpinannya walaupun salah, bahkan sesat. Karakter ini sekaligus menjadi simbol kerakusan dan memperturutkan hawa nafsu. Selagi dia senang maka ia akan senantiasa mengikutinya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ١١٠)

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik. (QS. Āli ‘Imrān/3: 110)

Ayat ini mengandung suatu dorongan kepada kaum mukminin agar tetap memelihara sifat-sifat utama itu dan agar mereka tetap mempunyai semangat yang tinggi. Umat yang paling baik di dunia adalah umat yang mempunyai dua macam sifat, yaitu mengajak kebaikan serta mencegah kemungkaran, dan senantiasa beriman kepada Allah. Semua sifat itu telah dimiliki oleh kaum Muslimin pada masa Nabi dan telah menjadi darah daging dalam diri mereka karena itu mereka menjadi kuat dan jaya.

Dalam waktu yang singkat mereka telah dapat menjadikan seluruh tanah Arab tunduk dan patuh di bawah naungan Islam, hidup aman dan tenteram di bawah panji-panji keadilan, padahal mereka sebelumnya adalah umat yang berpecah-belah selalu berada dalam suasana kacau dan saling berperang antara sesama mereka. Ini adalah berkat keteguhan iman dan kepatuhan mereka menjalankan ajaran agama dan berkat ketabahan dan keuletan mereka menegakkan amar makruf dan mencegah kemungkaran. Iman yang mendalam di hati mereka selalu mendorong untuk berjihad dan berjuang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ. (قرآن سورة الحجرات/٤٩: ١٥)

“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Ḥujurāt/49: 15)

Jadi ada dua syarat untuk menjadi umat terbaik di dunia, sebagaimana diterangkan dalam ayat ini, pertama, iman yang kuat dan, kedua, menegakkan amar makruf dan mencegah kemungkaran. Maka setiap umat yang memiliki kedua sifat ini pasti umat itu jaya dan mulia dan apabila kedua hal itu diabaikan dan tidak dipedulikan lagi, maka tidak dapat disesalkan bila umat itu jatuh ke lembah kemelaratan.

Ahli Kitab itu jika beriman tentulah lebih baik bagi mereka. Tetapi sedikit sekali di antara mereka yang beriman seperti Abdullah bin Salam dan kawan-kawannya, dan kebanyakan mereka adalah orang fasik, tidak mau beriman, mereka percaya kepada sebagian kitab suci dan kafir kepada sebagian yang lain, atau mereka percaya kepada sebagian rasul seperti Musa dan Isa dan kafir kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Nah, untuk lebih jelasnya mari simak riwayat-riwayat berikut:

Imam Abu Daud meriwayatkan,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ ح و حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ قَالَ حَدَّثَنِي صَفْوَانُ نَحْوَهُ قَالَ حَدَّثَنِي أَزْهَرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَرَازِيُّ عَنْ أَبِي عَامِرٍ الْهَوْزَنِيِّ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ
أَنَّهُ قَامَ فِينَا فَقَالَ أَلَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِينَا فَقَالَ أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ زَادَ ابْنُ يَحْيَى وَعَمْرٌو فِي حَدِيثَيْهِمَا وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ لِصَاحِبِهِ وَقَالَ عَمْرٌو الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لَا يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلَا مَفْصِلٌ إِلَّا دَخَلَهُ. (رواه أبوداود: ٣٩٨١)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Yahya keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Al Mughirah berkata, telah menceritakan kepada kami Shafwan. (dalam jalur lain disebutkan) Amru bin Utsman berkata, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah ia berkata; telah menceritakan kepadaku Shafwan seperti itu. Ia berkata, "Telah menceritakan kepadaku Azhar bin Abdullah Al Harazi dari Abu Amir Al Hauzani dari Mu'awiyah bin Abu Sufyan Bahwasanya saat sedang besama kami ia berkata, "Ketahuilah, ketika sedang bersama kami Rasulullah ﷺ bersabda, "Ketahuilah! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlu kitab berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan; tujuh puluh dua golongan masuk neraka dan satu golongan masuk surga, yaitu Al Jamaah." Ibnu Yahya dan Amru menambahkan dalam hadits keduanya, "Sesungguhnya akan keluar dari umatku beberapa kaum yang mengikuti hawa nafsunya seperti anjing mengikuti tuannya." Amru berkata, "Seekor lekat dengan tuannya, yang jika ada tulang bersamanya pasti dia akan mengikutinya." (HR. Abu Daud: 3981 - hasan dari Mu'awwiyah bin Abi Sufyan Shakhar bin Harbi bin Umayyah, ia shahabat negeri hidup Syam dan wafat tahun 60 H. Hadits masyhur, karena imam Abu Daud menerima dari tiga orang gurunya)

Tiga orang guru imam Abu Daud: 3981 dalam riwayat beliau adalah:

1. Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 241 H. Penilaian ulama: al 'Ajli menilainya tsiqah tsabat, Ibnu Madini berkata, "diantara kami tidak ada yang lebih hafal darinya". Abu Zur'ah Arraziy mengatakan, "hafal satu juta hadits". Qatibah bin Sa'id mengatakan, "imam dunia".

2. Muhammad bin Yahya bin 'Abdullah bin Khalid bin Faris bin Zu'aib, ia tabi'ul atba' kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Himsiy dan wafat tahun 258 H. Penilaian ulama: Abu Hatim dan Maslamah bin Qasim menilainya tsiqah. Ibnu Abi Hatim menilainya tsiqah shaduq, an Nasa'i menilainya tsiqah ma'mun, Ibnu Hajar menilainya tsiqah hafizh. Sedangkan Abu Bakar al Khatib menilainya hafizh mutqin tsiqah. Sementara adz Dzahabi menilainya hafizh.

3. 'Amru bin 'Utsman bin Sa'id, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu Hafsah negeri hidup Syam dan wafat tahun 250 H. Penilaian ulama: Abu Hatim dan Ibnu Hajar menilainya shaduq, sedangkan adz Dzahabi menilainya shaduq hafizh. Sementara Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat".

Ditempat lain imam Ahmad meriwayatkan dengan tambahan penjelasan, beliau berkata:

حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ قَالَ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ قَالَ حَدَّثَنِي أَزْهَرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْهَوْزَنِيُّ قَالَ أَبُو الْمُغِيرَةِ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ الْحَرَازِيُّ عَنْ أَبِي عَامِرٍ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ لُحَيٍّ قَالَ
حَجَجْنَا مَعَ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ فَلَمَّا قَدِمْنَا مَكَّةَ قَامَ حِينَ صَلَّى صَلَاةَ الظُّهْرِ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَهْلَ الْكِتَابَيْنِ افْتَرَقُوا فِي دِينِهِمْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً يَعْنِي الْأَهْوَاءَ كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ فِي أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لَا يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلَا مَفْصِلٌ إِلَّا دَخَلَهُ وَاللَّهِ يَا مَعْشَرَ الْعَرَبِ لَئِنْ لَمْ تَقُومُوا بِمَا جَاءَ بِهِ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَغَيْرُكُمْ مِنْ النَّاسِ أَحْرَى أَنْ لَا يَقُومَ بِهِ. (رواه أحمد: ١٦٣٢٩)

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Mughirah berkata; telah menceritakan kepada kami Shafwan berkata; telah bercerita kepadaku Azhar bin Abdullah Al Hauzani Abu Al Mughirah berkata pada tempat lain, Al Harazi dari Abu 'Amir Abdullah bin Luhai berkata; kami melakukan haji bersama Mu'awiyah bin Abu Sufyan, tatkala kami sampai di Makkah, dia berdiri setelah melakukan shalat Zuhur lalu berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, 'Dua ahli kitab sebelum kalian telah terpecah dalam agama mereka menjadi tujuh puluh dua kelompok. Dan umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya adalah ahli ahwa' (pengikut hawa nafsu), semuanya akan masuk neraka kecuali satu, yaitu jamaah. Sesungguhnya akan muncul dari kalangan umatku beberapa kaum, mereka akan terjerembab pada kesenangan-kesenangan itu sebagaimana anjing begitu menurut kepada pemiliknya, tidak tersisa sedikitpun urat maupun tulang kecuali dia memasukinya. Demi Allah, Wahai orang-orang Arab, jika kalian tidak melaksanakan apa yang dibawa oleh Nabi kalian ﷺ maka orang selain kalian lebih liar untuk tidak melaksanakannya." (HR. Ahmad: 16329 - isnadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari Mu'awwiyah bin Abi Sufyan Shakhar bin Harbi bin Umayyah, ia shahabat negeri hidup Syam dan wafat tahun 60 H. Hadits ahlul Syam)

Sedangkan imam ad Darimi tidak meriwayatkan dengan kalimat "kecualia jamaah". Beliau berkata:

أَخْبَرَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ حَدَّثَنِي أَزْهَرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَرَازِيُّ عَنْ أَبِي عَامِرٍ هُوَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ لُحَيٍّ الْهَوْزَنِيِّ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِينَا فَقَالَ أَلَا إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ اثْنَتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ قَالَ عَبْد اللَّهِ الْحَرَازُ قَبِيلَةٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ. (رواه الدارمي: ٢٤٠٦)

Telah mengabarkan kepada kami Abu Al Mughirah telah menceritakan kepada kami Shafwan telah menceritakan kepadaku Azhar bin Abdullah Al Harazi dari Abu Amir yaitu Abdullah bin Luhai Al Hauzani dari Mu'awiyah bin Abu Sufyan bahwa Rasulullah ﷺ berdiri diantara kami seraya bersabda, "Ketahuilah, bahwa orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahli kitab terpecah menjadi tujuh dua firgah (golongan), sedangkan umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua di neraka dan satu di surga." Abdullah berkata, "Al Haraz adalah suatu kabilah dari penduduk Yaman." (HR. Ad Darimi: 2406 - Isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Mu'awwiyah bin Abi Sufyan Shakhar bin Harbi bin Umayyah, ia shahabat negeri hidup Syam dan wafat tahun 60 H. Hadits ini termasuk hadits ahlul Syam, karena periwayat dalam sanad semuanya dari Syam)

Berdasarkan hadits-hadits di atas dapat dipahami bahwa umat terdahulu selain Islam terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan atau sekte. Namun, Islam menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua masuk neraka dan satu golongan masuk surga. Mereka yang masuk surga adalah golongan jama'ah yang tidak memperturutkan hawa nafsu dan senantiasa memelihara syari'at dengan benar. Mereka tidak memihak kepada kemaksiatan dan bersekongkol dengan kebathilan, apalagi kesesatan. Oleh karena itulah orang-orang Arab diingatkan oleh Rasullullah ﷺ beliau bersabda, "Demi Allah, Wahai orang-orang Arab, jika kalian tidak melaksanakan apa yang dibawa oleh Nabi kalian ﷺ maka orang selain kalian lebih liar untuk tidak melaksanakannya." maksudnya, orang Arab menjadi patokan pelaksanaan dan pengamalan agama Islam. Jika mereka tidak benar, maka orang selain mereka (orang 'ajam) akan lebih parah pelaksanaan dan pengamalan syari'atnya.

Oleh karena hal tersebut, memelihara ajaran Islam dengan baik dan benar adalah suatu keharusan dan tanggungjawab bagi yang terdekat dengan ajaran itu. Sehingga tidak terjadi gagal paham. Orang yang dimaksud adalah orang yang dekat dengan al Qur'an dan as Sunnah. Bukan dimaksudkan golongan tertentu yang mengaku telah benar dalam pelaksanaan dan pengamalan syari'at Islam. Namun, yang dimaksud adalah jamaah yang konsisten dengan syari'at dan bersama-sama mengaplikasikannya. Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]