“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


MALAIKAT MENJADI RASUL? DAN KEADAAN MANUSIA DI PADANG MAHSYAR TANPA SANDAL, TANPA PAKAIAN DAN TANPA DIKHITAN SERTA MEREKA TERBAGI BEBERAPA KELOMPOK
Oleh : Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قُلْ لَّوْ كَانَ فِى الْاَرْضِ مَلٰۤىِٕكَةٌ يَّمْشُوْنَ مُطْمَىِٕنِّيْنَ لَنَزَّلْنَا عَلَيْهِمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ مَلَكًا رَّسُوْلًا. (قرآن سورة تلإسراء/١٧: ٩٥)

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sekiranya di bumi ada para malaikat yang berjalan (menetap) dengan tenang, niscaya Kami turunkan kepada mereka malaikat dari langit untuk menjadi rasul.” (QS. Al-Isrā'/17: 95)

Allah membantah sikap orang-orang musyrik Mekah itu dengan menyatakan bahwa sekiranya di bumi ini terdapat malaikat-malaikat yang berjalan, berpikir, bertempat tinggal, hidup bermasyarakat, mempunyai hawa nafsu, berkebudayaan, berorganisasi, dan sebagainya, tentulah Allah swt akan mengutus malaikat sebagai rasul-Nya, bukan manusia.

Ayat ini seakan-akan memperingatkan orang-orang kafir bahwa rasul yang diutus Allah adalah seorang manusia biasa tetapi sanggup menyampai-kan ajaran agama-Nya kepada mereka, mengerti apa yang mereka inginkan, apa yang mereka rasakan, apa yang baik bagi mereka, dan sebagainya. Bukan seperti malaikat yang tidak mempunyai ambisi dalam hidup seperti manusia dan hanya melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepada mereka.

Allah swt berfirman:

لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَۚ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ١٧٤)

Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Āli ‘Imrān/3: 164)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قُلْ كَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًاۢ بَيْنِيْ وَبَيْنَكُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ بِعِبَادِهٖ خَبِيْرًاۢ بَصِيْرًا. (قرآن سورة تلإسراء/١٧: ٩٦)

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu sekalian. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Isrā'/17: 96)

Allah memerintahkan kepada Rasulullah saw agar menyampaikan ancaman-Nya kepada orang-orang kafir bahwa Allah akan menjadi saksi atas apa yang diperselisihkan antara Nabi dan orang-orang musyrik Mekah. Allah akan menjadi hakim yang akan mengadili perkara mereka dengan adil di akhirat nanti karena Dia mengetahui semua yang mereka kerjakan, bahkan yang terkandung dalam hati mereka.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَمَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِۚ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِهٖۗ وَنَحْشُرُهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ عَلٰى وُجُوْهِهِمْ عُمْيًا وَّبُكْمًا وَّصُمًّاۗ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُۗ  كُلَّمَا خَبَتْ زِدْنٰهُمْ سَعِيْرًا. (قرآن سورة تلإسراء/١٧: ٩٧)

Siapa yang dianugerahi petunjuk oleh Allah (karena kecenderungan dan pilihannya terhadap kebaikan) dialah yang mendapat petunjuk. Siapa yang Dia sesatkan, engkau tidak akan mendapatkan penolong-penolong bagi mereka selain Dia. Kami akan mengumpulkan mereka pada hari Kiamat dengan wajah tersungkur, dalam keadaan buta, bisu, dan tuli. Tempat kediaman mereka adalah (neraka) Jahanam. Setiap kali nyala api Jahanam itu akan padam, Kami tambah lagi nyalanya bagi mereka. (QS. Al-Isrā'/17: 97) 

Allah swt menerangkan dalam ayat ini bahwa Dialah yang menguasai dan menentukan segala sesuatu. Dia yang memberi petunjuk dan taufik kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Orang yang tidak menerima petunjuk dan taufik-Nya, adalah orang yang sesat dan tidak akan memperoleh penolong selain Allah.
Orang-orang sesat itu akan dikumpulkan Allah pada hari kiamat di suatu tempat untuk dihisab. Mereka dibangkitkan dari kubur dalam keadaan buta, bisu, dan tuli, sebagaimana mereka dahulu di dunia tidak melihat dan mendengarkan kebenaran yang disampaikan.

Nabi ﷺ bersabda:

قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ يَحْشُرُ النَّاسُ عَلَى وُجُوْهِهِمْ؟ قَالَ: الَّذِي أَمْشَاهُمْ عَلَى أَرْجُلِهِمْ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُمْشِيَهُمْ عَلَى وُجُوْهِهِمْ. (رواه البخاري و مسلم عن أنس بن ملك)

Seorang bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Ya Rasulullah bagaimana manusia berjalan dengan wajah mereka?” Rasulullah menjawab, “Dia yang menjalankan mereka dengan kaki mereka, tentu berkuasa pula menjalankan mereka dengan wajah mereka”. (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim dari Anas bin Mālik)

Bagaimana pun kondisi mereka nanti di akhirat Allah kuasa membuatnya seperti apa dikehendaki oleh Allah, termasuk berjalan sambil telungkup. Sebagaimana imam Ahmad meriwayatkan, beliau berkata:

حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عُمَرَ عَنْ نُفَيْعٍ قَالَ
سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى وُجُوهِهِمْ قَالَ إِنَّ الَّذِي أَمْشَاهُمْ عَلَى أَرْجُلِهِمْ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُمْشِيَهُمْ عَلَى وُجُوهِهِمْ. (رواه أحمد: ١٢٢٤٧)

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Isma'il bin 'Umar dari Nufai' berkata, saya telah mendengar Anas bin Malik, dikatakan "Wahai Rasulullah ﷺ, bagaimana mungkin manusia dikumpulkan pada hari kiamat dengan ditelungkupkan di atas wajah-wajah mereka?." (Rasulullah ﷺ) menjawab " Dzat yang membuat manusia berjalan di atas kaki-kaki mereka sangatlah berkuasa untuk membuat mereka berjalan di atas wajah-wajah mereka." (HR. Ahmad: 12247 - shahih, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 12247 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits yaitu, Nufai' bin al Harits, ia tabi'in kuniyahnya Abu Daud dan negeri hidup Kufah. Penilaian ulama: Abu Hatim dan as Saji menilainya mungkarul hadits. Ad Daruquthni dan Ibnu Hajar menilainya mastur. An Nasa'i menilainya matrukul hadits. Adz Dzahabi mengatakan, "mereka meninggalkannya". At Tirmidzi menilainya dha'iful hadits, sedangkan Yahya bin Ma'in menyebutnya, "lam yakun bi tsiqah" dan Abu Zur'ah menilainya lam yakun bi syai'.

Selanjutnya, imam Ahmad meriwayatkan dengan redaksi, "Dia juga Mahakuasa untuk menjadikannya berjalan dengan kepalanya di neraka." sebagaimana beliau berkata:

حَدَّثَنَا يُونُسُ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ عَنْ قَتَادَةَ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ
أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ كَيْفَ يُحْشَرُ الْكَافِرُ عَلَى وَجْهِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الَّذِي أَمْشَاهُ عَلَى رِجْلَيْهِ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُمْشِيَهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي النَّارِ. (رواه أحمد: ١٢٩١٣)

Telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Qatadah telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik, ada seseorang bertanya, "Wahai Nabiyullah, bagaimana orang kafir bisa dikumpulkan dengan berjalan di atas kepalanya pada hari kiamat?" Nabiyullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Dzat yang menjadikan (orang kafir) bisa berjalan dengan kakinya, Dia juga Mahakuasa untuk menjadikannya berjalan dengan kepalanya di neraka." (HR. Ahmad: 12913 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Dalam sanadnya hadits riwayat Ahmad: 12913 tanpa ada periwayat bernama Nufai' bin al Harits sebagaimana hadits riwayat Ahmad: 12247. Al Bukhari:4388 dan 6042, Muslim: 5020  - shahih dari Anas bin Malik.

Namun banyak riwayat yang shahih mendukung hadits tersebut, diantaranya:

Kondisi mereka di padang mahsyar tanpa alas kaki, telanjang. Sebagaimana imam al Bukhari meriwayatkan, beliau berkata:

حَدَّثَنَا قَيْسُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ أَبِي صَغِيرَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ حَدَّثَنِي الْقَاسِمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُحْشَرُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ فَقَالَ الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكِ. (رواه تلبخاري: ٦٠٤٦)

Telah menceritakan kepada kami Qais bin Hafsh telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Kharits telah menceritakan kepada kami Khatim bin Abi Shaghirah dari Abdullah bin Abi Mulaikah mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al Qasim bin Muhammad bin Abu Bakr bahwasanya 'Aisyah radhiallahu'anhuma menuturkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Kalian dikumpulkan dengan keadaan telanjang, tidak bersandal, dan tidak juga berkhitan." 'Aisyah menyela; 'Hai Rasulullah, laki-laki dan perempuan, satu sama lain bisa melihat auratnya? ' Nabi menjawab, "Kejadian ketika itu lebih dahsyat sehingga memalingkan mereka dari keinginan seperti itu." (HR. Al Bukhari: 6046 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Demikian juga hadits semakna diriwayatkan oleh imam Ahmad: 23131 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H. Hadits 'aziz, karena imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang gurunya, yaitu: 1. Yahya bin Sa'id bin Farrukh, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Bashrah 198 H. Penilaian ulama: Abu Zur'ah dan Abu Hatim menilainya tsiqah hafizh. An Nasa'i menilainya tsiqah tsabat, Ibnu Sa'ad menilainya tsiqah ma'mun. Sementara Ibnu Hajar menilainya tsiqah mutqin. Adz Dzahabi menilainya hafizh kabir. Sedangkan al 'Ajli menilainya tsiqah. 2. Rauh bin 'Ubadah, ia ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Bashrah 205 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in dan Ya'qub bin Syaibah menilainya shaduq. Muhammad bin Sa'ad dan al Khathib menilainya tsiqah. Sementara Abu Hatim menilainya shalih. Sedangkan al Bazzar menilainya tsiqah ma'mun.

Selanjutnya, imam Ibnu Majah meriwayatkan tanpa kata "ghurlan" غرلا, beliau berkata:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ عَنْ حَاتِمِ بْنِ أَبِي صَغِيرَةَ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ الْقَاسِمِ قَالَ قَالَتْ عَائِشَةُ
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ حُفَاةً عُرَاةً قُلْتُ وَالنِّسَاءُ قَالَ وَالنِّسَاءُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا يُسْتَحْيَا قَالَ يَا عَائِشَةُ الْأَمْرُ أَهَمُّ مِنْ أَنْ يَنْظُرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ. (رواه إين ماجه: ٤٢٦٦)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al Ahmar dari Hatim bin Abu Shaghirah dari Ibnu Abu Mulaikah dari Qasim dia berkata; 'Asiyah berkata; saya bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah keadaan manusia ketika mereka di padang mahsyar?" Beliau menjawab, "Mereka telanjang tanpa pakaian." saya bertanya, "Begitu juga dengan para wanita?" Beliau menjawab, "Begitu juga dengan wanita." saya bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah mereka tidak merasa malu?" Beliau menjawab, "Wahai 'Aisyah, perkara pada hari itu lebih penting daripada saling pandang di antara sesama mereka." (HR. Ibnu Majah: 4266 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Imam Ahmad dalam redaksi dan jalur berbeda meriwayatkan, beliau berkata:

قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ قَالَ أَخْبَرَنَا هَمَّامُ بْنُ يَحْيَى عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ الْوَاحِدِ الْمَكِّيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ
بَلَغَنِي حَدِيثٌ عَنْ رَجُلٍ سَمِعَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاشْتَرَيْتُ بَعِيرًا ثُمَّ شَدَدْتُ عَلَيْهِ رَحْلِي فَسِرْتُ إِلَيْهِ شَهْرًا حَتَّى قَدِمْتُ عَلَيْهِ الشَّامَ فَإِذَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُنَيْسٍ فَقُلْتُ لِلْبَوَّابِ قُلْ لَهُ جَابِرٌ عَلَى الْبَابِ فَقَالَ ابْنُ عَبْدِ اللَّهِ قُلْتُ نَعَمْ فَخَرَجَ يَطَأُ ثَوْبَهُ فَاعْتَنَقَنِي وَاعْتَنَقْتُهُ فَقُلْتُ حَدِيثًا بَلَغَنِي عَنْكَ أَنَّكَ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْقِصَاصِ فَخَشِيتُ أَنْ تَمُوتَ أَوْ أَمُوتَ قَبْلَ أَنْ أَسْمَعَهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَوْ قَالَ الْعِبَادُ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا قَالَ قُلْنَا وَمَا بُهْمًا قَالَ لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ ثُمَّ يُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مِنْ قُرْبٍ أَنَا الْمَلِكُ أَنَا الدَّيَّانُ وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ وَلَهُ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَقٌّ حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ وَلِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ عِنْدَهُ حَقٌّ حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ حَتَّى اللَّطْمَةُ قَالَ قُلْنَا كَيْفَ وَإِنَّا إِنَّمَا نَأْتِي اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا قَالَ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ. (رواه أحمد: ١٥٤٧٤)

(Ahmad bin Hanbal radliyallhu'anhu) berkata; telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun berkata; telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Yahya dari Al Qasim bin Abdul Wahid Al Maki dari Abdullah bin Muhammad bin 'Aqil mendengar Jabir bin Abdullah berkata; telah sampai hadits kepadaku dari seorang laki-laki yang mendengar dari Rasulullah ﷺ, kontan saya membeli unta, kuikat kencang perbekalanku dan kuarahkan perjalananku untuk menemuinya selama satu bulan. Selanjutnya aku menemuinya tepatnya di Syam, tak tahunya orang itu adalah Abdullah bin Unais. Saya berkata kepada penjaga pintu, "Katakan padanya, Jabir sedang menunggunya di di depan pintu". Lalu dia bertanya, kamu adalah Ibnu Abdullah, saya menjawab, Ya. Lalu dia keluar dengan menginjak pakaiannya, dia memelukku dan sebaliknya aku juga memeluknya, saya berkata; telah sampai kepadaku suatu hadits darimu, kamu mendengar Rasulullah ﷺ tentang perkara qishas, saya khawatir apabila engkau meninggal ataupun saya meninggal sebelum saya dapat mendengarnya. (Abdullah bin Unais) berkata; saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat", --atau bersabda dengan redaksi para hamba--, dalam keadaan telanjang, tidak berkhitan dan dalam keadaan buhman", lalu kami bertanya, "Apakah buhman itu?" Beliau bersabda, "Tidak memakai pakaian sehelai benangpun", lalu ada suara yang memanggil mereka dari dekat, 'Aku adalah raja dan Aku Dayyan (pemberi pembalasan) tidaklah patut bagi seorang penduduk neraka untuk masuk neraka sedangkan dia mempunyai hak atas seseorang dari penduduk surga sampai Aku memberikan haknya. Juga tidaklah patut seseorang dari penduduk surga untuk masuk surga sedangkan seseorang dari penduduk nereka mempunyai hak atas dirinya sampai Aku memberikan haknya. Sampai satu tamparan sekalipun. (Jabir bin Abdullah) berkata; kami bertanya, Bagaimana ini? Kami mendatangi Allah 'Azza wa Jalla dalam keadaan telanjang dan tidak berkhitan, dan tidak memakai sehelai benangpun? maka beliau bersabda, "Kalian datang dengan kebaikan dan keburukan". (HR. Ahmad: 15464 - isnadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin Unais, ia shahabat kuniyahnya Abu Yahya negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H)

Abū Dāwud dan at-Tirmiżī meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah:

إِنَّ النَّاسَ يَكُوْنُوْنَ ثَلاَثَةَ اَصْنَافٍ فِى الْحَشْرِ مُشَاةً وَرُكْبَانًا وَ عَلَى وُجُوْهِهِمْ.

Bahwa manusia itu ada tiga macam pada hari berkumpul di padang Mahsyar, ada yang berjalan, ada yang berkendaraan dan ada pula yang berjalan dengan wajah mereka.

Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 8400 - hasan lighairihi, sanadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah. Dalam sanad terdapat periwayat dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits. Mereka adalah 1. 'Aus bin Khalid, ia tabi'in kalangan biasa dan kuniyahnya Abu Khalid. Penilaian ulama: al Azdi menilainya mungkarul hadits, Ibnu Qaththan menilainya majhul hal. Ibnu Hibban mentsiqahkannya, sedangkan adz Dzahabi mengatakan, "tidak dikenal". 2. Ali bin Zaid bin 'Abdullah bin Jud'an, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 131 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal, al 'Ajli dan Abu Zur'ah menilainya laisa bi qawi. Sedangkan, Yahya bin Ma'in, an Nasa'i dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Demikian juga hadits riwayat imam at Tirmidzi: 3067, Ahmad: 8293 - dha'if dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Kedua hadits ini juga terdapat dua orang periwayat yang sama.

Pada jalur sanad lain imam al Bukhari meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ عَنْ ابْنِ طَاوُسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى ثَلَاثِ طَرَائِقَ رَاغِبِينَ رَاهِبِينَ وَاثْنَانِ عَلَى بَعِيرٍ وَثَلَاثَةٌ عَلَى بَعِيرٍ وَأَرْبَعَةٌ عَلَى بَعِيرٍ وَعَشَرَةٌ عَلَى بَعِيرٍ وَيَحْشُرُ بَقِيَّتَهُمْ النَّارُ تَقِيلُ مَعَهُمْ حَيْثُ قَالُوا وَتَبِيتُ مَعَهُمْ حَيْثُ بَاتُوا وَتُصْبِحُ مَعَهُمْ حَيْثُ أَصْبَحُوا وَتُمْسِي مَعَهُمْ حَيْثُ أَمْسَوْا. (رواه البخاري: ٦٠٤١)

Telah menceritakan kepada kami Mu'alla bin Asad telah menceritakan kepada kami Wuhaib dari Ibnu Thawus dari ayahnya dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, dari Nabi ﷺ, bersabda, "Manusia dikumpulkan di hari kiamat dengan tiga jalan, untuk manusia yang harap-harap cemas, dua jalan untuk mereka yang menunggang unta, tiga jalan lagi untuk mereka yang menunggang unta, empat jalan lagi untuk mereka yang menunggang unta, dan sepuluh jalan lagi untuk mereka yang menunggang unta, sedang sisanya disatukan oleh neraka, neraka itu selalu menyertai mereka ketika mereka tidur siang, tidur malam, berpagi hari, dan bersore hari." (HR. Al Bukhari: 6041 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: 5105 ('aziz, beliaumeriwayatkan dari dua orang guru) dan an Nasa'i: 2058 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

Setelah selesai dihisab, mereka dimasukkan ke dalam neraka Jahanam dan dibakar dengan api yang menyala-nyala karena setiap akan padam, nyala api itu ditambah lagi. Setiap kali kulit dan tubuh menjadi hangus, dan daging-daging mereka menjadi musnah, Allah menggantinya kembali dengan kulit, daging, dan tubuh yang baru, sehingga mereka kembali merasakan azab yang tidak putus-putusnya.

Sedangkan ahlul surga mendapatkan nikmat tambahan dari Allah sepuluh kali lipat. Sebagaimana imam Muslim meriwayatkan, beliau berkata:

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَمْرٍو الْأَشْعَثِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ مُطَرِّفٍ وَابْنِ أَبْجَرَ عَنْ الشَّعْبِيِّ قَالَ سَمِعْتُ الْمُغِيرَةَ بْنَ شُعْبَةَ رِوَايَةً إِنْ شَاءَ اللَّهُ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا مُطَرِّفُ بْنُ طَرِيفٍ وَعَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ سَعِيدٍ سَمِعَا الشَّعْبِيَّ يُخْبِرُ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ سَمِعْتُهُ عَلَى الْمِنْبَرِ يَرْفَعُهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ و حَدَّثَنِي بِشْرُ بْنُ الْحَكَمِ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ حَدَّثَنَا مُطَرِّفٌ وَابْنُ أَبْجَرَ سَمِعَا الشَّعْبِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ الْمُغِيرَةَ بْنَ شُعْبَةَ يُخْبِرُ بِهِ النَّاسَ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سُفْيَانُ رَفَعَهُ أَحَدُهُمَا أُرَاهُ ابْنَ أَبْجَرَ قَالَ
سَأَلَ مُوسَى رَبَّهُ مَا أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً قَالَ هُوَ رَجُلٌ يَجِيءُ بَعْدَ مَا أُدْخِلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ فَيُقَالُ لَهُ ادْخُلْ الْجَنَّةَ فَيَقُولُ أَيْ رَبِّ كَيْفَ وَقَدْ نَزَلَ النَّاسُ مَنَازِلَهُمْ وَأَخَذُوا أَخَذَاتِهِمْ فَيُقَالُ لَهُ أَتَرْضَى أَنْ يَكُونَ لَكَ مِثْلُ مُلْكِ مَلِكٍ مِنْ مُلُوكِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ رَضِيتُ رَبِّ فَيَقُولُ لَكَ ذَلِكَ وَمِثْلُهُ وَمِثْلُهُ وَمِثْلُهُ وَمِثْلُهُ فَقَالَ فِي الْخَامِسَةِ رَضِيتُ رَبِّ فَيَقُولُ هَذَا لَكَ وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهِ وَلَكَ مَا اشْتَهَتْ نَفْسُكَ وَلَذَّتْ عَيْنُكَ فَيَقُولُ رَضِيتُ رَبِّ قَالَ رَبِّ فَأَعْلَاهُمْ مَنْزِلَةً قَالَ أُولَئِكَ الَّذِينَ أَرَدْتُ غَرَسْتُ كَرَامَتَهُمْ بِيَدِي وَخَتَمْتُ عَلَيْهَا فَلَمْ تَرَ عَيْنٌ وَلَمْ تَسْمَعْ أُذُنٌ وَلَمْ يَخْطُرْ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ قَالَ وَمِصْدَاقُهُ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
{ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ }
الْآيَةَ
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ الْأَشْجَعِيُّ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبْجَرَ قَالَ سَمِعْتُ الشَّعْبِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ الْمُغِيرَةَ بْنَ شُعْبَةَ يَقُولُا عَلَى الْمِنْبَرِ إِنَّ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَام سَأَلَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عَنْ أَخَسِّ أَهْلِ الْجَنَّةِ مِنْهَا حَظًّا وَسَاقَ الْحَدِيثَ بِنَحْوِهِ. (رواه مسلم: ٢٧٦)

Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Amru Al Asy'atsi telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Mutharrif dan Ibnu Abjar dari Asy Sya'bi dia berkata; aku mendengar dari Al Mughirah bin Syu'bah insya Allah secara periwayatan. (dalam jalur lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Mutharrif bin Tharif dan Abdul Malik bin Sa'id keduanya mendengar Asy Sya'bi mengabarkan dari Al Mughirah bin Syu'bah dia berkata, "Aku mendengarnya di atas mimbar dia memarfu'kan hadits tersebut kepada Rasulullah ﷺ, ia berkata; Dan telah menceritakan kepadaku Bisyr bin Al Hakam dan lafadz miliknya, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah telah menceritakan kepada kami Mutharrif dan Ibnu Abjar keduanya mendengar Asy Sya'bi berkata; Aku mendengar Al Mughirah bin Syu'aib mengabarkan hadits tersebut di atas mimbar -Sufyan berkata; menurutku salah seorang dari keduanya, yakni Ibnu Abjar, telah memarfu'kannya kepada Nabi- dia berkata, "Musa bertanya kepada Rabb-nya, 'Apa ciri penghuni surga yang paling rendah kedudukannya? ' Allah menjawab, 'Yaitu orang yang datang setelah penghuni surga dimasukkan ke dalam surga, lalu dikatakan kepada orang ini, 'Masuklah ke surga! ' Orang ini menjawab, 'Wahai Rabb-ku, bagaimana mungkin aku bisa masuk, sementara mereka sudah menempati tempat masing-masing dan mengambil bagian mereka? ' Maka dikatakan kepada orang ini, 'Apakah kamu mau mendapatkan bagian kerajaan seperti seorang raja di antara raja-raja dunia? ' Orang itu menjawab, 'Aku rela, wahai Rabb-ku.' Rabb mengatakan, 'Itu bagianmu ditambah seperti itu, ditambah seperti itu, ditambah seperti itu, (ditambah seperti itu)." Pada kali kelima, orang itu mengatakan, 'Aku rela, wahai Rabb-ku." Rabb mengatakan, 'Ini bagianmu ditambah sepuluh kali lipatnya. Dan kamu mendapatkan apapun yang kamu inginkan dan matamu menyukainya.' Orang itu mengatakan, 'Aku rela, wahai Rabb-ku.' Musa mengatakan, '(Bagaimana dengan nasib) orang yang paling tinggi kedudukannya? ' Rabb menjawab, 'Mereka itu, orang pilihan-Ku, kemuliaan mereka di tangan-Ku, dan Aku menutup (kemulian itu), ia belum pernah terlihat mata, belum pernah terdengar telinga dan belum pernah terdetik dalam hati.' Perawi berkata, 'Dalilnya terdapat dalam Firman Allah: '(Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka) ' (QS. As-Sajdah/32: 17).' Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Al Asyja'i dari Abdul Malik bin Abjar, ia berkata, Aku mendengar Asy Sya'bi dia berkata, Aku mendengar Al Mughirah bin Syu'bah dia berkata di atas mimbar, 'Sesungguhnya Musa pernah bertanya kepada Allah 'Azza wa Jalla mengenai penduduk surga yang mempunyai bagian nikmat paling sedikit…. Dan dia pun menyebutkan hadits seperti ini." (HR. Muslim: 276 - sahih dari al Mughirah bin Syu'bah bin Abi 'Amir, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Isa negeri hidup Kufah dan wafat tahun 50 H. Hadits dengan tujuh jalur periwayatan (mutawatir) istimewa. Imam Muslim meriwayatkan dari empat orang gurunya)

Demikianlah persangkaan orang kafir terhadap para Rasul Allah dikaitkan dengan Malaikat, namun Allah lebih paham dengan hamba-Nya. Oleh karena itu, Allah utus seorang Rasul dari golongan manusia. Namun, cukuplah bagi orang-orang yang beriman yakin bahwa Allah lebih adil dan bijak dalam menyampaikan syari'at-Nya agar manusia paham dan mudah melaksanakan semua perintah dan pesan yang disampaikan Allah kepada Rasul-Nya berfaidah.

Selanjutnya, ayat di atas membandingkan dengan kondisi manusia di akhirat dan golongan mereka di padang mahsyar. Sesunggunya Allah mampu melakukan apa pun termasuk kondisi mereka tanpa sandal, tanpa pakaian sehelai benang pun serta tanpa berkhitan. Masing-masing mereka tidak akan ada rasa malu, karena mereka sibuk pada diri sendiri. Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]