“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


JAGALAH SHAHABATMU KARENA RASUL SENANTIASA DIJAGA OLEH PARA SHAHABATNYA

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Pasang surut pengabdian kadang didahului dengan ujian berat. Namun, jiwa sang pengabdi butuh ujian itu. Agar lebih kuat dan tangguh.

Ingatlah ketika Rasulullah ﷺ pertama kali tiba di Madinah, beliau menunggu para shahabat di masa-masa itu untuk saling menjaga dikala kesulitan maupun dalam kelapangan. Sehingga ikatan batin antara beliau dan para shahabat terjalin begitu erat. Karena dengan demikianlah usaha dakwah dan keperluan lainnya bisa terpenuhi. Kepedulian mereka menjadi obat bagi semua.

Begitu juga hal berlaku pada nabi terdahulu, sebelum Nabi Muhammad ﷺ. Seperti pada Nabi Musa 'alaihi salam dengan shahabat beliau. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

۞ فَلَمَّآ اَحَسَّ عِيْسٰى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ اَنْصَارِيْٓ اِلَى اللّٰهِ ۗ قَالَ الْحَوَارِيُّوْنَ نَحْنُ اَنْصَارُ اللّٰهِ ۚ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ ۚ وَاشْهَدْ بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ٥٢)

Ketika Isa merasakan kekufuran mereka (Bani Israil), dia berkata, “Siapakah yang akan menjadi penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawari (sahabat setianya) menjawab, “Kamilah penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah dan saksikanlah sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim. (QA. Āli ‘Imrān [3]:52)

Sikap dan perbuatan Rasulullah ﷺ tersebut terekam dalam hadits riwayat Muslim, beliau berkata:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ
سَهِرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَقْدَمَهُ الْمَدِينَةَ لَيْلَةً فَقَالَ لَيْتَ رَجُلًا صَالِحًا مِنْ أَصْحَابِي يَحْرُسُنِي اللَّيْلَةَ قَالَتْ فَبَيْنَا نَحْنُ كَذَلِكَ سَمِعْنَا خَشْخَشَةَ سِلَاحٍ فَقَالَ مَنْ هَذَا قَالَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا جَاءَ بِكَ قَالَ وَقَعَ فِي نَفْسِي خَوْفٌ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجِئْتُ أَحْرُسُهُ فَدَعَا لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ نَامَ
وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ رُمْحٍ فَقُلْنَا مَنْ هَذَا و حَدَّثَنَاه مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ يَقُولُ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ أَرِقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ بِمِثْلِ حَدِيثِ سُلَيْمَانَ بْنِ بِلَالٍ. (رواه مسلم: ٤٤٢٨)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id; Telah menceritakan kepada kami Laits; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumhi; Telah mengabarkan kepada kami Al Laits dari Yahya bin Sa'id dari 'Abdillah bin 'Amir bin Rabi'ah bahwa 'Aisyah dia berkata, "Pada malam pertama setibanya di Madinah, RasululIah ﷺ selalu jaga dan tidak pernah tidur. Setelah itu beliau pun berkata; 'Semoga ada seorang laki-laki yang shalih dari para sahabatku ini yang akan menjagaku pada malam ini. Aisyah berkata, "Ketika kami dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba kami mendengar suara senjata. Kemudian Rasulullah bertanya, Siapa kamu? Orang itu menjawab, "Sa'ad bin Abi Waqqash." Rasulullah bertanya lagi, "Mengapa kamu datang kemari ya Sa'ad?" Sa'ad bin Abi Waqqash menjawab, "Di dalam benak saya kekhawatiran terhadap diri Rasulullah ﷺ. OIeh karena itu, saya datang ke sini untuk menjaganya." Kemudian Rasulullah pun mendoakan kebaikan bagi Sa'ad dan setelah itu beliau tidur. Dan di dalam riwayat Ibnu Rumh disebutkan; 'Lalu kami bertanya, 'Siapa ini? ' Dan telah menceritakannya kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab Aku mendengar Yahya bin Sa'id dia berkata; Aku mendengar Abdullah bin Amir bin Rabi'ah dia berkata; Aisyah berkata; 'Pada suatu malam, Rasulullah ﷺ tidak bisa tidur…….(sebagaimana Hadits Sulaiman bin Bilal). (HR. Muslim: 4428 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq,ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Catatan: Hadits riwayat Muslim: 4428 adalah hadits masyhur, karena imam Muslim meriwayatkan dari tiga orang guru beliau yang tsiqah. Mereka adalah 1). Qutaibah bin Sa'id bin Jamil bin Tharif bin 'Abdullah, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu Raja' negeri hidup Himsiy dan wafat tahun 240 H. Penilaian ulama: Abu Hatim, an Nasa'i dan Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah tsabat. 2). Muhammad bin Rumhi bin al Mahajir, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Maru dan wafat tahun 242 H. Penilaian ulama: Abu Daud menilainya tsiqah, Ibnu Hajar menilainya tsiqah tsabat dan adz Dzahabi menilainya hafizh. Sementara Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat". 3). Muhammad bin al Mutsanna bin 'Ubaid, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu Musa negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 252 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in dan Ad Dzahabi menilainya tsiqah, sementara Ibnu Hajar menilainya tsiqah tsabat. Maslamah bin Qasim menilainya tsiqah masyhur dan minal huffazh. Sementara Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat".

Demikian juga hadits riwayat imam at Tirmidzi: 3689 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq,ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H.

Selanjutnya, Imam al Bukhari: 2672 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq,ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H. Namun, tanpa menyebut setibanya beliau pertama kali di Madinah dan sampai lafazh,

" ... فَقَالَ أَنَا سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ جِئْتُ لِأَحْرُسَكَ وَنَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه البخاري: ٢٦٧٢)

" ... Orang itu menjawab, "Saya Sa'ad bin Abu Waqosh datang untuk menjaga Tuan". Maka kemudian Nabi ﷺ tidur. (HR. Al Bukhari: 2672)

Atau redaksi semakna diriwayatkan oleh imam al Bukhari, beliau berkata:

حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ قَالَتْ عَائِشَةُ
أَرِقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَقَالَ لَيْتَ رَجُلًا صَالِحًا مِنْ أَصْحَابِي يَحْرُسُنِي اللَّيْلَةَ إِذْ سَمِعْنَا صَوْتَ السِّلَاحِ قَالَ مَنْ هَذَا قَالَ سَعْدٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ جِئْتُ أَحْرُسُكَ فَنَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى سَمِعْنَا غَطِيطَهُ
قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ وَقَالَتْ عَائِشَةُ قَالَ بِلَالٌ
أَلَا لَيْتَ شِعْرِي هَلْ أَبِيتَنَّ لَيْلَةً
بِوَادٍ وَحَوْلِي إِذْخِرٌ وَجَلِيلُ
فَأَخْبَرْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه البخاري: ٦٦٩٠)

Telah menceritakan kepada kami Khalid bin makhlad telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal telah menceritakan kepadaku Yahya bin Sa'id, aku mendengar Abdullah bin Amir bin Rabi'ah mengatakan, Aisyah menuturkan; Suatu malam Rasulullah ﷺ tidak bisa tidur, lantas beliau mengatakan, "Duhai sekiranya ada seorang laki-laki shalih dari sahabatku menjagaku malam ini" Tiba-tiba kami mendengar suara senjata. Nabi bertanya, "Siapa ini?" Sa'd menjawab, "Ya Rasulullah, aku datang untuk menjagamu!" maka Nabi ﷺ tidur hingga aku mendengar suara nafas beliau. Abu Abdullah mengatakan "Dan Aisyah mengatakan, Bilal mengatakan, "Duhai seandainya aku tinggal pada malam ini, di suatu lembah di sekelilingku idkhir dan jalil." (HR. Al Bukhari: 6690 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq,ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Sementara itu, imam Ahmad meriwayatkan hadits semakna juga, beliau berkata:

حَدَّثَنَا يَزِيدُ قَالَ أَخْبَرَنَا يَحْيَى قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ يُحَدِّثُ أَنَّ عَائِشَةَ كَانَتْ تُحَدِّثُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَهِرَ ذَاتَ لَيْلَةٍ وَهِيَ إِلَى جَنْبِهِ قَالَتْ فَقُلْتُ مَا شَأْنُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَتْ فَقَالَ لَيْتَ رَجُلًا صَالِحًا مِنْ أَصْحَابِي يَحْرُسُنِي اللَّيْلَةَ قَالَ فَبَيْنَا أَنَا عَلَى ذَلِكَ إِذْ سَمِعْتُ صَوْتَ السِّلَاحِ فَقَالَ مَنْ هَذَا قَالَ أَنَا سَعْدُ بْنُ مَالِكٍ فَقَالَ مَا جَاءَ بِكَ قَالَ جِئْتُ لِأَحْرُسَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَتْ فَسَمِعْتُ غَطِيطَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نَوْمِهِ. (رواه أحمد: ٢٣٩٤١)

Telah menceritakan kepada kami Yazid, dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Yahya, dia berkata; saya mendengar Abdullah bin Amir bin Rabi`ah ia bercerita bahwa Aisyah pernah bercerita; Suatu malam Rasulullah ﷺ tidak tidur dan Aisyah berada disampingnya, Aisyah berkata; saya bertanya, "Apa keperluanmu wahai Rasulullah?" (Kata Aisyah), maka Rasulullah bersabda, "Andai saja ada seorang lelaki shalih dari sahabatku mau menjagaku pada malam ini." Katanya, " ketika saya dalam keadaan demikian tiba-tiba saya mendengar suara senjata, Rasulullah bertanya 'Siapa ini? '" Dia menjawab, "Saya Sa'ad bin Malik, Rasulullah bertanya, "Apa yang mendorongmu datang?" ia menjawab, "Saya datang untuk menjagamu wahai Rasulullah!" (Aisyah) Berkata, "Lalu saya mendengar dengkuran Rasulullah ﷺ dalam tidurnya." (HR. Ahmad: 23941 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq,ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Pada satu waktu ketika perjanjian dengan Kaum Kafir Quraisy. Perjanjian tersebut ditulis langsung oleh Rasulullah. Sebagaimana imam al Bukhari meriwayatkan, beliau berkata:

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى عَنْ إِسْرَائِيلَ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
اعْتَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ذِي الْقَعْدَةِ فَأَبَى أَهْلُ مَكَّةَ أَنْ يَدَعُوهُ يَدْخُلُ مَكَّةَ حَتَّى قَاضَاهُمْ عَلَى أَنْ يُقِيمَ بِهَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَلَمَّا كَتَبُوا الْكِتَابَ كَتَبُوا هَذَا مَا قَاضَى عَلَيْهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ فَقَالُوا لَا نُقِرُّ بِهَا فَلَوْ نَعْلَمُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ مَا مَنَعْنَاكَ لَكِنْ أَنْتَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ أَنَا رَسُولُ اللَّهِ وَأَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ثُمَّ قَالَ لِعَلِيٍّ امْحُ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ لَا وَاللَّهِ لَا أَمْحُوكَ أَبَدًا فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكِتَابَ فَكَتَبَ هَذَا مَا قَاضَى عَلَيْهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ لَا يَدْخُلُ مَكَّةَ سِلَاحٌ إِلَّا فِي الْقِرَابِ وَأَنْ لَا يَخْرُجَ مِنْ أَهْلِهَا بِأَحَدٍ إِنْ أَرَادَ أَنْ يَتَّبِعَهُ وَأَنْ لَا يَمْنَعَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِهِ أَرَادَ أَنْ يُقِيمَ بِهَا فَلَمَّا دَخَلَهَا وَمَضَى الْأَجَلُ أَتَوْا عَلِيًّا فَقَالُوا قُلْ لِصَاحِبِكَ اخْرُجْ عَنَّا فَقَدْ مَضَى الْأَجَلُ فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَبِعَتْهُمْ ابْنَةُ حَمْزَةَ يَا عَمِّ يَا عَمِّ فَتَنَاوَلَهَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَأَخَذَ بِيَدِهَا وَقَالَ لِفَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلَام دُونَكِ ابْنَةَ عَمِّكِ حَمَلَتْهَا فَاخْتَصَمَ فِيهَا عَلِيٌّ وَزَيْدٌ وَجَعْفَرٌ فَقَالَ عَلِيٌّ أَنَا أَحَقُّ بِهَا وَهِيَ ابْنَةُ عَمِّي وَقَالَ جَعْفَرٌ ابْنَةُ عَمِّي وَخَالَتُهَا تَحْتِي وَقَالَ زَيْدٌ ابْنَةُ أَخِي فَقَضَى بِهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِخَالَتِهَا وَقَالَ الْخَالَةُ بِمَنْزِلَةِ الْأُمِّ وَقَالَ لِعَلِيٍّ أَنْتَ مِنِّي وَأَنَا مِنْكَ وَقَالَ لِجَعْفَرٍ أَشْبَهْتَ خَلْقِي وَخُلُقِي وَقَالَ لِزَيْدٍ أَنْتَ أَخُونَا وَمَوْلَانَا. (رواه البخاري: ٢٥٠١)

Telah bercerita kepada kami 'Ubaidullah bin Musa dari Isra'il dari Ibnu Ishaq dari Al Bara' bin 'Azib radhiallahu'anhu berkata; Nabi ﷺ melaksanakan umrah pada bulan Zulkaidah tapi penduduk Makkah menolak memberikan izin masuk beliau hingga beliau bersepakat membuat perjanjian dengan mereka dimana beliau boleh tinggal di Makkah selama tiga hari. Ketika mereka menulis surat perjanjian, mereka menulis, "Ini adalah keputusan yang ditetapkan oleh Muhammad Rasulullah. Maka kaum musyrikin berkata, "Kami tidak setuju, sebab seandainya kami mengetahui bahwa kamu adalah Rasulullah, tentu kami tidak akan menghalangimu, tapi kamu adalah Muhammad bin 'Abdullah". Beliau berkata, "Aku adalah Rasulullah dan aku adalah Muhammad bin 'Abdullah". Kemudian beliau berkata kepada 'Ali, "Hapuslah kalimat Muhammad Rasulullah". 'Ali berkata, "Demi Allah, aku tidak akan menghapusnya untuk selamanya". Maka Rasulullah ﷺ mengambil surat perjanjian itu lalu menuliskan, "Ini adalah keputusan yang ditetapkan oleh Muhammad bin 'Abdullah dimana dia tidak boleh memasuki kota Makkah dengan membawa senjata kecuali dimasukkan kedalam sarungnya dan agar jangan keluar seorangpun dari penduduknya dengan mengikuti seseorang jika dia hendak mengikutinya, dan janganlah dihalangi seorangpun dari sahabat-shahabatnya bila ada yang berkehendak tinggal di Makkah". Ketika beliau sudah memasuki kota Makkah dan batas waktunya sudah habis, orang-orang Musyrik menemui 'Ali dan berkata, "Katakan kepada temanmu itu, keluarlah dari kami karena batas waktunya sudah habis". Maka Nabi ﷺ keluar lalu beliau diikuti oleh putri dari Hamzah dengan berkata, "Wahai paman, wahai paman". Maka 'Ali bin Abu Thalib menarik anak itu dan mengambilnya dengan tangannya lalu berkata kepada Fathimah 'alaihas salam, "Kamu jaga anak pamanmu ini". Maka Fathimah membawanya. Lalu 'Ali, Zaid dan Ja'far bertikai dalam persoalan anak itu. 'Ali berkata, "Aku yang paling berhak atas anak ini, karena dia adalah putri pamanku". Sedangkan Ja'far berkata, 'Dia putri dari pamanku dan bibinya ada dalam tanggunganku". Adapun Zaid berkata, "Dia putri dari saudaraku". Kemudian Nabi ﷺ memutuskan anak itu menjadi hak bibinya lalu bersabda, "Seorang bibi kedudukannya sama dengan ibu". Lalu beliau bersabda kepada 'Ali, "Kamu dariku dan aku darimu". Dan Kepada Ja'far: Beliau bersabda, "Kamu serupa dengan rupa dan akhlaqku" Dan beliau bersabda pula kepada Zaid, "Kamu adalah saudara kami dan maula kami". (HR. Al Bukhari: 2501 - shahih dari Al Barra' bin 'Azib bin al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abi 'Imarah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 72 H. Hadits ahlul Kufah)

Demikian juga hadits semakna diriwayat imam al Bukhari: 2947 dan 3920, ad Darimi: 2395 - shahih dari Al Barra' bin 'Azib bin al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abi 'Imarah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 72 H.

Berdasarkan hadits-hadits di atas dapat dipahami bahwa Rasulullah dan para shahabat, maupun sesama mereka sangat santun dan perhatian terhadap keselamatan dan kenyamanan satu sama lain. Sehingga loyalitas dan kepercayaan mereka kukuh. Beliau tidak membedakan mereka. Kemudian beliau menyelesaikan masalah secara kompak dan terstruktur dan patuh kepada perjanjian, walau pun perjajian itu dilakukan dengan musuh.

Namun, ingatlah bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّسْتَمِعُ اِلَيْكَۚ حَتّٰىٓ اِذَا خَرَجُوْا مِنْ عِنْدِكَ قَالُوْا لِلَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ مَاذَا قَالَ اٰنِفًا ۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ طَبَعَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَاتَّبَعُوْٓا اَهْوَاۤءَهُمْ. (قرآن سورة محمد/٤٧: ١٦)

Di antara mereka (orang-orang kafir) ada orang (munafik) yang mendengarkan perkataanmu (Nabi Muhammad) sehingga apabila telah keluar dari sisimu, mereka berkata (untuk mengejek) kepada orang yang telah diberi ilmu (para sahabat Nabi), “Apa yang ia katakan tadi?” Mereka itu adalah orang-orang yang dikunci hatinya oleh Allah dan mengikuti hawa nafsunya. (QS. Muḥammad/47: 16)

Ditempat lain Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْۗ مَا هُمْ مِّنْكُمْ وَلَا مِنْهُمْۙ وَيَحْلِفُوْنَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ. (قرآن سورة المجادلة/٥٨: ١٤)

Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang (munafik) yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai sahabat? Orang-orang itu bukan dari (kaum)-mu dan bukan dari (kaum) mereka. Mereka bersumpah secara dusta (mengaku mukmin), padahal mereka mengetahuinya. (QS. Al-Mujādalah/58: 14)

Ayat-ayat di atas mengingatkan kepada umat Islam bahwa tidak semua orang yang dapat dijadikan shahabat "teman dekat". Artinya, mesti selektif dan cermat dalam bergaul dan memercayai manusia.

Terkait dengan "gelar" sebagai Rasulullah dan nasab beliau Muhammad bin 'Abdullah, tidak menampakkan sifat sombong pada diri beliau. Beliau tetap menggunakan panggilan nasab beliau yaitu Muhammad bin 'Abdullah. Sehingga ketawadhukan beliau teraplikasi menjelma (tajalliy) dalam sikap dan perbutan beliau. Oleh karena itu, ketauladanan beliau justru menambah wibawa dan mur'ah kerasulan beliau.

Wallaahu a'lam bish Shawaab,

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]