“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


MAKNA MEMAKMURKAN MASJID DAN KEUTAMAANNYA (RIWAYAT 12 SHAHABAT) 

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,

Memakmurkan masjid, ialah membangunnya, mengurusnya, menghidupkannya dengan amal ibadah yang diridhai Allah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِيْنَ اَنْ يَّعْمُرُوْا مَسٰجِدَ اللّٰهِ شٰهِدِيْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِۗ اُولٰۤىِٕكَ حَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْۚ وَ فِى النَّارِ هُمْ خٰلِدُوْنَ. (قرآن سورة التوبة/٩: ١٧)

Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedangkan mereka bersaksi bahwa diri mereka kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia amal mereka dan di dalam nerakalah mereka kekal. (QS. At-Taubah/9: 17)

Ayat ini menerangkan bahwa tidak pantas bagi kaum musyrikin memakmurkan Masjidilharam dan masjid-masjid lainnya. Memakmurkan masjid Allah hanyalah dengan menjadikan tempat itu untuk mengesakan dan mengagungkan Allah serta menaati-Nya. Hal ini dilakukan hanya oleh orang-orang mukmin.

Memakmurkan yang dilarang untuk orang bukan Muslim, ialah penguasaan terhadap masjid, seperti menjadi pengurusnya. Adapun mempergunakan tenaga orang bukan Muslim untuk membangun masjid, seperti memakai tukang bangunan dan sebagainya tidak dilarang. Begitu juga kaum Muslimin boleh menerima masjid yang dibangun oleh orang bukan Muslim atau yang membangunnya diwasiatkan oleh orang bukan Muslim, atau memperbaiki-nya selama tidak mengandung tujuan yang membikin mudarat kepada kaum Muslimin.

Sekalipun para mufasir berbeda pendapat tentang masjid yang dimaksud dalam ayat ini, apakah Masjidilharam saja, sesuai dengan turunnya ayat ini, seperti tersebut pada permulaan tafsir ayat ini, dan sesuai pula dengan bacaan sebagian ulama qira'at yang membacakan dengan masjīd artinya lafal mufrad (tunggal) yaitu Masjidilharam, atau yang dimaksud semua masjid Allah, sesuai dengan lafal jamak masājid. Tetapi semua pendapat, baik Masjidlharam ataupun masjid-masjid lainnya, tidak pantas dan tidak boleh bagi musyrikin untuk memakmurkannya.
Selanjutnya pada ayat ini Allah menerangkan bahwa amal dan pekerjaan orang-orang kafir yang mereka bangga-banggakan, yaitu memakmurkan Masjidilharam, memberi minum orang-orang haji, dan lain-lain akan sia-sia selama mereka di dalam kesyirikan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

ذٰلِكَ هُدَى اللّٰهِ يَهْدِيْ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ ۗوَلَوْ اَشْرَكُوْا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ. (قرآن سورة ألأنعام/٦: ٨٨)

Demikian itu petunjuk Allah. Dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, pasti sia-sialah amal yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-An‘ām/6: 88)

Akhir ayat ini menerangkan bahwa orang-orang musyrik itu kekal dalam neraka, karena tidak ada amal mereka di dunia yang berguna dan dapat menolong mereka di hari akhirat.

Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat dipahami bahwa, "orang kafir yang beikrar dengan kekafirannya tidak pantas memakmurkan masjid-masjid yang di dalamnya disebut ayat-ayat Allah. Sementara itu, Allah menjelaskan sebaliknya bahwa,

اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ. (قرآن سورة التوبة/٩: ١٨)

Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At-Taubah/9: 18)

Ayat ini menerangkan bahwa yang patut memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan berserah diri kepada-Nya serta percaya akan datangnya hari akhirat tempat pembalasan segala amal perbuatan, melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kepada siapa pun selain kepada Allah. Orang-orang inilah yang diharapkan termasuk golongan yang mendapat petunjuk untuk memakmurkan masjid-masjid-Nya.

Banyak hadis yang menjelaskan tentang keutamaan memakmurkan masjid, antara lain sabda Rasulullah ﷺ:

Pertama:

مَنْ بَنَى ِللهِ مَسْجِدًا يَبْتَغِيْ بِهِ وَجْهَ اللهِ بَنىَ الله ُلَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ. (رواه البخاري ومسلم والترمذي عن عثمان بن عفّان)

Barang siapa membangun mesjid bagi Allah untuk mengharapkan keridaan-Nya, niscaya Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah dalam surga. (Riwayat al-Bukhārī, Muslim dan at-Tirmiżī dari ‘Uṡman bin Affan)

Salah satu hadits lengkapnya diriwayatkan oleh imam Muslim, beliau berkata:

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَاللَّفْظُ لِابْنِ الْمُثَنَّى قَالَا حَدَّثَنَا الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ
أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ أَرَادَ بِنَاءَ الْمَسْجِدِ فَكَرِهَ النَّاسُ ذَلِكَ فَأَحَبُّوا أَنْ يَدَعَهُ عَلَى هَيْئَتِهِ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ مِثْلَهُ. (رواه مسلم: ٨٢٩)

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Muhammad bin al-Mutsanna dan lafazh tersebut milik Ibnu al-Mutsanna, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami adh-Dhahhak bin Makhlad telah mengabarkan kepada kami Abdul Hamid bin Ja'far telah menceritakan kepadaku Bapakku dari Mahmud bin Labid bahwa Utsman bin Affan bermaksud hendak merenovasi masjid, tetapi dicegah oleh orang banyak. Mereka lebih suka membiarkan masjid itu sebagaimana adanya. Maka dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ, bersabda 'Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah membuatkan (rumah yang mulia) di surga untuknya seperti masjid itu'." (HR. Muslim: 829 - shahih dari 'Utsman bin 'Affan bin Abi al 'Ash bin Umayyah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Amru negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H. Hadits 'aziz, karena imam Muslim meriwayatkan dari dua orang gurunya yang tsiqah)

Hadits-hadits senada dan semakna diriwayatkan oleh imam Muslim: 5298, at Tirmidzi: 292 dan 293, an Nasa'i: 681, Ibnu Majah: 727, 728, 729 dan 730, Ahmad: 407, 475, 2050, 6759, 15431, 18623 dan 26330, ad Darimi: 1356. Angka yang ditebalkan adalah hadits shahih.

Terdapat 10 shahabat meriwayatkan hadits tersebut di atas yaitu: Hadits yang diriwayatkan dari 'Utsman bin 'Affan bin Abi al 'Ash bin Umayyah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Amru negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H yaitu: Muslim: 829, 5298, at Tirmidzi: 292, Ibnu Majah: 728, Ahmad: 407 dan 475, ad Darimi: 1356. Shahabat lain juga meriwayatkannya yaitu: Dari Anas bin Malik riwayat at Tirmidzi: 293, 'Amru bin Abasa bin 'Amir riwayat an Nasa'i: 681,  Ahmad: 18623, 'Umar bin al Khaththab riwayat Ibnu Majah: 727, 'Ali bin Abi Thalib riwayat Ibnu Majah: 729, Jabir bin 'Abdullah riwayat Ibnu Majah: 730, 'Abdullah bin 'Abbas riwayat Ahmad: 2050, 'Abdullah bin 'Amru bin al 'Ash riwayat Ahmad: 6759, Watsilah bin al Asqa' bin Ka'ab bin 'Amir riwayat Ahmad: 15431, terakhir dari Asma' bin Yazid riwayat Ahmad: 26330.

Hadits yang shahih menjelaskan bahwa siapa saja yang membangun masjid karena Allah di dunia maka Allah akan membangunkan rumah, masjid semisalnya dan rumah untuknya. Hal ini tentu berdasarkan tingkat keikhlasan dan keridhaan Allah pada mereka. Sedangkan, hadits-hadits yang dha'if menggunakan simbol mereka membangun masjid baik kecil maupun besar, istana, rumah di surga, lebih luas dari itu, sesuatu yang lebih baik, karena di masjid itu disebut nama Allah di dalamnya maka Allah membangunkan untuknya di surga.

Oleh karena itu, yang dapat dipahami dari lafazh-lafazh hadits tersebut adalah bagi siapa yang memakmurkan, baik ikut membiayai pembangunannya, bekerja, mengurusnya, memeliharanya dan meramaikannya dengan kegiatan untuk mengingat Allah maka Allah akan persiapkan hal tersebut di surga. Karena untuk mewujudkan hal tersebut sangat mudah bagi Allah.

Kedua:

Sabda Rasulullah ﷺ:

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسَاجِدَ فَاشْهَدُوْا لَهُ بِاْلإِيْمَانِ. (رواه أحمد والترمذي وابن ماجه والحاكم عن أبي سعيد الخدري)

Apabila kamu melihat seseorang membiasakan diri (beribadah) di masjid, maka bersaksilah bahwa ia orang yang beriman. (Riwayat Aḥmad, at-Tirmiżī, Ibnu Mājah dan al-Ḥākim dari Abi Sa'id al-Khudrī)

Salah satu lafazh lengkapnya hadits dengan matan "idzaa ra'aitumur rajul...", riwayat imam at Tirmidzi, beliau berkata:

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا رِشْدِينُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ عَنْ دَرَّاجٍ عَنْ أَبِي الْهَيْثَمِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَيْتُمْ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسْجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بِالْإِيمَانِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى
{ إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ }
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ عَنْ دَرَّاجٍ عَنْ أَبِي الْهَيْثَمِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ يَتَعَاهَدُ الْمَسْجِدَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَأَبُو الْهَيْثَمِ اسْمُهُ سُلَيْمَانُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَبْدٍ الْعُتْوَارِيُّ وَكَانَ يَتِيمًا فِي حِجْرِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ. (رواه الترمذي: ٣٠١٨)

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami Risydin bin Sa'ad dari Amru bin Al Harits dari Darraj dari Abu Al Haitsam dari Abu Sa'id berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika kalian melihat orang biasa (mengunjungi) masjid saksikanlah bahwa dia adalah seorang mukmin, " lalu Allah menurunkan, "Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian." (At-Taubah: 18). Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb dari Amru bin Al Harits dari Darraj dari Abu Al Haitsam dari Abu Sa'id dari Nabi ﷺ, seperti itu hanya saja beliau bersabda dengan redaksi; yata'ahadul masjid (sering mengunjungi masjid). Abu Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib.. Abu Al Haitsam namanya Sulaiman bin Amru bin Abdu Al Utwari, ia anak yatim dalam pemeliharaan Abu Sa'id Al Khudri. (HR. At Tirmidzi: 3018 - dha'if menurut al Albani dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Dari segi sanad hadits ini tergolong pada hadits 'aziz)

Catatan: hadits riwayat at Tirmidzi: 3018, beliau meriwayatkan dari dua orang gurunya yaitu:
1. Muhammad bin al 'Alaa bin Kuraib, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu Kuraib negeri hidup Kufah dan wafat tahun 248 H. Penilaian ulama: Abu Hatim menilainya shaduq, an Nasa'i menilainya la ba'sa bih. Maslamah bin Qasim menilainya Kuufiy tsiqah. Adz Dzahabi menilainya hafizh, sedangkan Ibnu Hajar menilainya tsiqah hafizh. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat".

2. Muhammad bin Yahya bin Abi Umar, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 243 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal menilainya shalih. Sedangkan Ibnu Uyainah dan Ibnu Hajar menilainya shaduq. Maslamah bin Qasim menilainya la ba'sa bih. Kemudian adz Dzahabi menilainya hafizh. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat".

Hadits senada juga diriwayatkan oleh imam at Tirmidzi: 2542, Ibnu Majah: 794, Ahmad: 11224 dan 11300, ad Darimi: 1195 - isnadnya dha'if
dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Dalam semua hadits di atas terdapat periwayat dha'if, yaitu Darraj bin Sam'an, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu as Samah negeri hidup Maru dan wafat tahun 126 H. Penilaian ulama: Ibnu Hibban dan Ibnu Syahin mentsiqahkannya. Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah, sedangkan Ahmad bin Hanbal mengatakan, "haditsnya mungkar".

Berdasarkan penjelasan kedudukan hadits-hadits di atas maka dapat dipahami bahwa hadits-hadits tersebut dapat diterima dari segi banyaknya mukharrij (penulis hadits) meriwayatkannya. Kedha'ifannya tidak terlalu dipersoalkan, karena masih ada sebagian mereka menilai dengan penilaian ta'dil (baik). Seperti dengan penilaian ta'dil yaitu tsiqah, shaduq, hafizh dan lain-lain.

Ketiga:

Diceritakan,

أَنَّ امْرَأَةً كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ أَيْ تَكْنِسُهُ فَمَاتَتْ فَسَأَلَ عَنْهَا النَّبِيُّ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقِيْلَ لَهُ مَاتَتْ  أَفَلاَ كُنْتُمْ اٰذَنْتُمُوْنِيْ بِهَا؟ لأُِصَلِّيَ عَلَيْهَا دُلُّوْنِيْ عَلَى قَبْرِهَا  فَأَتَى قَبْرَهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا. (رواه البخاري ومسلم وأبو داود وابن ماجه)

Sesungguhnya ada seorang perempuan yang biasa menyapu masjid lalu meninggal dunia, Rasulullah saw menanyakannya, dan ketika dikatakan kepadanya bahwa perempuan itu sudah meninggal, Rasulullah berkata, “Mengapa kamu tidak memberitahukan kepada saya, agar saya shalatkan ia. Tunjukkanlah kepadaku di mana kuburnya.” Maka Rasulullah ﷺ mendatangi kuburan itu, lalu ia shalat di atasnya. (Riwayat al-Bukhārī, Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Mājah)

Hadits lengkapnya antara lain, diriwayatkan oleh imam al Bukhari. Beliau berkata:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ وَاقِدٍ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَبِي رَافِعٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ امْرَأَةً أَوْ رَجُلًا كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ وَلَا أُرَاهُ إِلَّا امْرَأَةً فَذَكَرَ حَدِيثَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ صَلَّى عَلَى قَبْرِهَا. (رواه البخاري: ٤٤٠)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Waqid berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Abu Rafi' dari Abu Hurairah, "Seorang laki-laki atau perempuan mengurusi (kebersihan) Masjid, dan aku tidak melihat kecuali bahwa ia adalah seorang wanita. Lalu dia menyebutkan hadits Nabi ﷺ bahwa beliau shalat di atas kuburnya." (HR. Al Bukhari: 440 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 438, Muslim: 1588 (hadits 'aziz), Ibnu Majah: 1516, Ahmad: 8676 - shahih dari Abu Hurairah, Ibnu Majah: 1522 - shahih dari Sa'ad bin Malik bin Sinan, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Ibnu Majah: 1518 - hasan dari 'Amir bin Rabi'ah bin Ka'ab, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H.

Keempat:

مَنْ أَسْرَجَ سِرَاجًا فِيْ مَسْجِدٍ لَمْ تَزَلِ الْمَلاَئِكَةُ وَحَمَلَةُ الْعَرْشِ يَسْتَغْفِرُوْنَ لَهُ مَا دَامَ فِيْ ذٰلِكَ الْمَسْجِدِ ضَوْءُهُ. (رواه سالم الرازي عن أنس)

Barang siapa menyalakan penerangan lampu dalam masjid, niscaya para malaikat dan para pembawa 'arasy senantiasa memohon ampun kepada Allah agar diampuni dosanya selama lampu itu bercahaya dalam masjid. (Riwayat Salim ar-Rāzī dari Anas bin Malik)

Wallaahu a'lam bish shawaab,

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]