KEDUDUKAN SHALAT WITIR
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,
1. WAKTU SHALAT WITIR
Imam at Tirmidzi berkata,
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ مُوسَى عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ فَقَدْ ذَهَبَ كُلُّ صَلَاةِ اللَّيْلِ وَالْوِتْرُ فَأَوْتِرُوا قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ.
قَالَ أَبُو عِيسَى وَسُلَيْمَانُ بْنُ مُوسَى قَدْ تَفَرَّدَ بِهِ عَلَى هَذَا اللَّفْظِ وَرُوِي عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا وِتْرَ بَعْدَ صَلَاةِ الصُّبْحِ وَهُوَ قَوْلُ غَيْرِ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَبِهِ يَقُولُ الشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَقُ لَا يَرَوْنَ الْوِتْرَ بَعْدَ صَلَاةِ الصُّبْحِ. (رواه الترمذي: ٤٣١)
Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij dari Sulaiman bin Musa dari Nafi' dari Ibnu Umar dari Nabi ﷺ beliau bersabda, "Jika fajar telah terbit, dan telah habis waktu untuk mengerjakan shalat malam serta shalat witir, maka kerjakanlah shalat witir sebelum terbitnya fajar (matahari)."
Abu Isa dan Sulaiman bin Musa berkata, lafalz hadits ini riwayatnya sendiri (tidak ada yang lain) dan telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Tidak ada witir setelah shalat Subuh." ini adalah perkataan kebanyakan para ulama, sebagaimana perkataan Syafi'i, Ahmad dan Ishaq, mereka berpendapat bahwa tidak ada witir setelah shalat Subuh. (HR. At Tirmidzi: 431 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)
2. JIKA LUPA MELAKUKAN SHALAT WITIR BOLEH DI QADHA (bagi yang sudah terbiasa shalat malam dan witir)
IMAM Abu Daud berkata,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَوْفٍ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي غَسَّانَ مُحَمَّدِ بْنِ مُطَرِّفٍ الْمَدَنِيِّ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَامَ عَنْ وِتْرِهِ أَوْ نَسِيَهُ فَلْيُصَلِّهِ إِذَا ذَكَرَهُ. (رواه أبوداود: ١٢١٩)
Telah menceritakan kepada Kami Muhammad bin 'Auf, telah menceritakan kepada Kami Utsman bin Sa'id dari Abu Gassan Muhammad bin Mutharrif Al Madani dari Zaid bin Aslam dari 'Atha` bin Yasar dari Abu Sa'id, ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa yang tertidur dari melakukan witir atau lupa untuk melakukannya maka hendaknya ia melakukannya apabila ia ingat." (HR. Abu Daud: 1219 - shahih dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)
Hadits senada juga diriwayatkan oleh imam at Tirmidzi, beliau berkata:
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَامَ عَنْ الْوِتْرِ أَوْ نَسِيَهُ فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَ وَإِذَا اسْتَيْقَظَ. (رواه الترمذي: ٤٢٧)
Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari ayahnya dari Atha' bin Yasar dari Abu Sa'id Al Khudri dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa yang tertidur dari (tidak mengerjakan) shalat Witir atau lupa, hendaknya ia shalat waktu ia ingat atau disaat ia terbangun." (HR. At Tirmidzi: 427 - shahih dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)
Ditempat lain beliau menjelaskan bahwa beliau meriwayatkan,
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَامَ عَنْ وِتْرِهِ فَلْيُصَلِّ إِذَا أَصْبَحَ.
قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا أَصَحُّ مِنْ الْحَدِيثِ الْأَوَّلِ قَالَ أَبُو عِيسَى سَمِعْت أَبَا دَاوُدَ السِّجْزِيَّ يَعْنِي سُلَيْمَانَ بْنَ الْأَشْعَثِ يَقُولُ سَأَلْتُ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ فَقَالَ أَخُوهُ عَبْدُ اللَّهِ لَا بَأْسَ بِهِ قَالَ و سَمِعْت مُحَمَّدًا يَذْكُرُ عَنْ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ ضَعَّفَ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ و قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ ثِقَةٌ قَالَ وَقَدْ ذَهَبَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ بِالْكُوفَةِ إِلَى هَذَا الْحَدِيثِ فَقَالُوا يُوتِرُ الرَّجُلُ إِذَا ذَكَرَ وَإِنْ كَانَ بَعْدَ مَا طَلَعَتْ الشَّمْسُ وَبِهِ يَقُولُ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ. (رواه الترمذي: ٤٢٨)
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah bercerita kepada kami Abdullah bin Zaid bin Aslam dari bapaknya bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Barangsiapa yang tertidur tanpa witir, maka hendaklah dia shalat di pagi harinya."
Abu Isa berkata, hadits ini lebih shahih dari hadits yang pertama. Abu Isa berkata, saya mendengar Abu Daud As Sajzi yaitu Sulaiman bin Al Asy'ats berkata, saya bertanya kepada Ahmad bin Hambal tentang Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dia menjawab, dia adalah saudaranya Abdullah, dia tidak apa-apa (tidak ada masalah). Dia (Abu Isa) berkata, saya mendengar Muhammad menyebutkan tentang Ali bin Abdullah bahwa dia melemahkan (riwayat) Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dia berkata, Abdullah bin Zaid bin Aslam adalah Tsiqah. Dia (Abu Isa) berkata, sebagian ahli ilmu di kuffah berpendapat dengan hadits ini, mereka mengatakan, hendaknya seseorang melakukan witir ketika mengingatnya walaupun matahari telah terbit dan ini adalah pendapat Sufyan Ats Tsauri. (HR. At Tirmidzi: 428 - shahih dari Zaid bin Aslam, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Usamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 136 H)
Hadits semakna juga diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah, beliau berkata:
حَدَّثَنَا أَبُو مُصْعَبٍ أَحْمَدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْمَدِينِيُّ وَسُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَامَ عَنْ الْوِتْرِ أَوْ نَسِيَهُ فَلْيُصَلِّ إِذَا أَصْبَحَ أَوْ ذَكَرَهُ. (رواه إبن ماجه: ١١٧٨)
Telah menceritakan kepada kami Abu Mush'ab Ahmad bin Abu Bakr Al Madini dan Suwaid bin Sa'id berkata; telah menceritakan kepada kami 'Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari Bapaknya dari 'Atho` bin Yasar dari Abu Sa'id ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa kehilangan shalat Witir karena tidur atau lupa, hendaklah ia kerjakan ketika bangun (Subuh) atau teringat." (HR. Ibnu Majah: 1178 - shahih dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)
Catatan: hadits riwayat Ibnu Majah: 1178 adalah hadits 'aziz, karena beliau meriwayatkan dari dua orang guru beliau yang maqbul, yaitu:
1. Ahmad bin Abu Bakar al Qasim bin al Harits bin Zurarah bin Mush'ab bin 'Abdur Rahman, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu Mush'ab negeri hidup Madinah dan wafat tahun 242 H. Penilaian ulama: Abu Hatim dan Abu Zur'ah menilainya shaduq, sementara Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat".
2. Suwaid bin Sa'id bin Sahal, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Haditsah dan wafat tahun 240 H. Penilaian ulama: Abu Hatim, Ya'qub bin Syaibah dan Ibnu Hajar menilainya shaduq. Sementara al 'Ajli menilainya tsiqah dan Maslamah bin Qasim menilainya tsiqah tsiqah. Namun, an Nasa'i menilainya laisa bi tsiqah.
Sedangkan imam Ahmad berkata,
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَامَ عَنْ الْوَتْرِ أَوْ نَسِيَهُ فَلْيُوتِرْ إِذَا ذَكَرَهُ أَوْ اسْتَيْقَظَ. (رواه أحمد: ١٠٨٣٤)
Telah menceritakan kepada kami Waki' berkata; telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari bapaknya, dari 'Atho` bin Yasar dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa tidur sebelum melaksanakan shalat Witir, atau beliau mengatakan, "Lupa hendaklah ia witir ketika mengingatnya, atau beliau mengatakan, "Ketika bangun." (HR. Ahmad: 10834 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)
Ditempat lain imam Ahmad meriwayatkan,
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ يَعْنِي ابْنَ زَيْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَسِيَ الْوَتْرَ أَوْ نَامَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا أَوْ إِذَا أَصْبَحَ. (رواه أحمد: ١٠٩٦٨)
Telah menceritakan kepada kami Ishaq berkata; telah menceritakan kepada kami Abdurrahman -yaitu Ibnu Zaid- dari Bapaknya dari 'Atho` bin Yasar dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa lupa melaksanakan shalat Witir, atau tidur sebelum mengerjakannya, maka hendaklah ia melaksanakannya ketika ingat, atau jika ia mendapatkan waktu Subuh." (HR. Ahmad: 10968 - shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)
Berdasarkan penjelasan hadits-hadits di atas maka dapat dipahami bahwa, siapa saja yang lupa atau tertidur untuk shalat witir di malam hari maka ia dapat meng-qadha-nya ketika ingat, bangun pada waktu subuh atau siangnya.
Diceritakan oleh Ibnu 'Abbas yang pernah tidur bersama Rasulullah bahwa beliau memang shalat witir sebelum fajar, sebagaimana hadits riwayat imam Abu Daud: 1148,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَخْبَرَنَا حُصَيْنٌ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ ح و حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ حُصَيْنٍ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّهُ رَقَدَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَآهُ اسْتَيْقَظَ فَتَسَوَّكَ وَتَوَضَّأَ وَهُوَ يَقُولُ
{ إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ }
حَتَّى خَتَمَ السُّورَةَ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ أَطَالَ فِيهِمَا الْقِيَامَ وَالرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ ثُمَّ انْصَرَفَ فَنَامَ حَتَّى نَفَخَ ثُمَّ فَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِسِتِّ رَكَعَاتٍ كُلُّ ذَلِكَ يَسْتَاكُ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وَيَقْرَأُ هَؤُلَاءِ الْآيَاتِ ثُمَّ أَوْتَرَ قَالَ عُثْمَانُ بِثَلَاثِ رَكَعَاتٍ فَأَتَاهُ الْمُؤَذِّنُ فَخَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ وَقَالَ ابْنُ عِيسَى ثُمَّ أَوْتَرَ فَأَتَاهُ بِلَالٌ فَآذَنَهُ بِالصَّلَاةِ حِينَ طَلَعَ الْفَجْرُ فَصَلَّى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ ثُمَّ اتَّفَقَا وَهُوَ يَقُولُ اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي لِسَانِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي بَصَرِي نُورًا وَاجْعَلْ خَلْفِي نُورًا وَأَمَامِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُورًا وَمِنْ تَحْتِي نُورًا اللَّهُمَّ وَأَعْظِمْ لِي نُورًا
حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ بَقِيَّةَ عَنْ خَالِدٍ عَنْ حُصَيْنٍ نَحْوَهُ قَالَ وَأَعْظِمْ لِي نُورًا قَالَ أَبُو دَاوُد وَكَذَلِكَ قَالَ أَبُو خَالِدٍ الدَّالَانِيُّ عَنْ حَبِيبٍ فِي هَذَا وَكَذَلِكَ قَالَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَقَالَ سَلَمَةُ بْنُ كُهَيْلٍ عَنْ أَبِي رِشْدِينَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ. (رواه أيوداود: ١١٤٨)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isa telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Hushain dari Habib bin Abu Tsabit. Dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail dari Hushain dari Habib bin Abu Tsabit dari Muhammad bin Ali bin Abdullah bin 'Abbas dari ayahnya dari Ibnu Abbas bahwa dia pernah tidur di samping Nabi ﷺ, maka dia melihat beliau bangun (malam) lalu bersiwak dan berwudhu', lalu beliau mengucapkan, "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi…" hingga akhir ayat, setelah itu mengerjakan shalat dua rakaat, dalam dua rakaat tersebut, beliau panjangkan berdirinya, rukuknya dan sujudnya. Selesai shalat beliau tidur hingga mendengkur. Beliau kerjakan hal itu hingga tiga kali, yaitu enam rakaat. setiap kali hendak shalat, beliau bersiwak lalu berwudhu dan membaca beberapa ayat. Kemudian beliau shalat Witir tiga rakaat. Setelah itu muazin datang, lalu beliau keluar untuk mengerjakan shalat (Subuh)." Ibnu 'Isa mengatakan; "…kemudian beliau mengerjakan witir, lalu datanglah Bilal untuk mengumandangkan azan shalat ketika fajar telah terbit, kemudian beliau mengerjakan dua rakaat (sunnah) fajar. Setelah itu beliau keluar untuk mengerjakan shalat -lalu hadits keduanya sepakat pada kalimat- sambil mengucapkan, "Allahummaj'al fii qalbii nuuran, waj'al fii lisaani nuuran, waj'al fii basharii nuuran, waj'al khalfii nuuran, wa amaami nuuran, waj'al min fauqii nuuran wa min tahtii nuuran, Allahumma wa a'dzim lii nuuran (Ya Allah, jadikanlah dalam hatiku cahaya, jadikanlah dalam lisanku cahaya, jadikanlah dalam pendengaranku cahaya, jadikanlah dalam penglihatanku cahaya, jadikanlah di belakangku cahaya, jadikanlah di depanku cahaya, jadikanlah di atasku cahaya, jadikanlah di bawahku cahaya. Ya Allah, agungkanlah untukku cahaya." Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Baqiyah dari Khalid dari Hushain seperti hadits di atas, dia berkata, "Wa a'dzim lii nuuran (dan agungkanlah untukku cahaya)." Abu Daud berkata, "Demikian pula yang dikatakan Abu Khalid Ad Dalalani dari Habib dalam permasalahan ini, demikian pula dia berkata dalam hadits ini, Salamah bin Kuhail berkata; dari Abu Risydin dari Ibnu Abbas." (HR. Abu Daud: 1148 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H. Hadits 'aziz)
'Aisyah juga menceritakan bagaimana shalat witirnya Rasullah, sebagaimana diriwayat oleh imam Abu Daud, beliau berkata:
حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ زُرَارَةَ بْنِ أَوْفَى عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامٍ قَالَ
طَلَّقْتُ امْرَأَتِي فَأَتَيْتُ الْمَدِينَةَ لِأَبِيعَ عَقَارًا كَانَ لِي بِهَا فَأَشْتَرِيَ بِهِ السِّلَاحَ وَأَغْزُو فَلَقِيتُ نَفَرًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا قَدْ أَرَادَ نَفَرٌ مِنَّا سِتَّةٌ أَنْ يَفْعَلُوا ذَلِكَ فَنَهَاهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ
{ لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ }
فَأَتَيْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ فَسَأَلْتُهُ عَنْ وِتْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَدُلُّكَ عَلَى أَعْلَمِ النَّاسِ بِوِتْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأْتِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَأَتَيْتُهَا فَاسْتَتْبَعْتُ حَكِيمَ بْنَ أَفْلَحَ فَأَبَى فَنَاشَدْتُهُ فَانْطَلَقَ مَعِي فَاسْتَأْذَنَّا عَلَى عَائِشَةَ فَقَالَتْ مَنْ هَذَا قَالَ حَكِيمُ بْنُ أَفْلَحَ قَالَتْ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ سَعْدُ بْنُ هِشَامٍ قَالَتْ هِشَامُ بْنُ عَامِرٍ الَّذِي قُتِلَ يَوْمَ أُحُدٍ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَتْ نِعْمَ الْمَرْءُ كَانَ عَامِرٌ قَالَ قُلْتُ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ حَدِّثِينِي عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ أَلَسْتَ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ فَإِنَّ خُلُقَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ الْقُرْآنَ قَالَ قُلْتُ حَدِّثِينِي عَنْ قِيَامِ اللَّيْلِ قَالَتْ أَلَسْتَ تَقْرَأُ يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ قَالَ قُلْتُ بَلَى قَالَتْ فَإِنَّ أَوَّلَ هَذِهِ السُّورَةِ نَزَلَتْ فَقَامَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى انْتَفَخَتْ أَقْدَامُهُمْ وَحُبِسَ خَاتِمَتُهَا فِي السَّمَاءِ اثْنَيْ عَشَرَ شَهْرًا ثُمَّ نَزَلَ آخِرُهَا فَصَارَ قِيَامُ اللَّيْلِ تَطَوُّعًا بَعْدَ فَرِيضَةٍ قَالَ قُلْتُ حَدِّثِينِي عَنْ وِتْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كَانَ يُوتِرُ بِثَمَانِ رَكَعَاتٍ لَا يَجْلِسُ إِلَّا فِي الثَّامِنَةِ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَةً أُخْرَى لَا يَجْلِسُ إِلَّا فِي الثَّامِنَةِ وَالتَّاسِعَةِ وَلَا يُسَلِّمُ إِلَّا فِي التَّاسِعَةِ ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ فَتِلْكَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يَا بُنَيَّ فَلَمَّا أَسَنَّ وَأَخَذَ اللَّحْمَ أَوْتَرَ بِسَبْعِ رَكَعَاتٍ لَمْ يَجْلِسْ إِلَّا فِي السَّادِسَةِ وَالسَّابِعَةِ وَلَمْ يُسَلِّمْ إِلَّا فِي السَّابِعَةِ ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ فَتِلْكَ هِيَ تِسْعُ رَكَعَاتٍ يَا بُنَيَّ وَلَمْ يَقُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً يُتِمُّهَا إِلَى الصَّبَاحِ وَلَمْ يَقْرَأْ الْقُرْآنَ فِي لَيْلَةٍ قَطُّ وَلَمْ يَصُمْ شَهْرًا يُتِمُّهُ غَيْرَ رَمَضَانَ وَكَانَ إِذَا صَلَّى صَلَاةً دَاوَمَ عَلَيْهَا وَكَانَ إِذَا غَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ مِنْ اللَّيْلِ بِنَوْمٍ صَلَّى مِنْ النَّهَارِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً
قَالَ فَأَتَيْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ فَحَدَّثْتُهُ فَقَالَ هَذَا وَاللَّهِ هُوَ الْحَدِيثُ وَلَوْ كُنْتُ أُكَلِّمُهَا لَأَتَيْتُهَا حَتَّى أُشَافِهَهَا بِهِ مُشَافَهَةً قَالَ قُلْتُ لَوْ عَلِمْتُ أَنَّكَ لَا تُكَلِّمُهَا مَا حَدَّثْتُكَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ قَتَادَةَ بِإِسْنَادِهِ نَحْوَهُ قَالَ يُصَلِّي ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ لَا يَجْلِسُ فِيهِنَّ إِلَّا عِنْدَ الثَّامِنَةِ فَيَجْلِسُ فَيَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ يَدْعُو ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَا ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ بَعْدَمَا يُسَلِّمُ ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَةً فَتِلْكَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يَا بُنَيَّ فَلَمَّا أَسَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَخَذَ اللَّحْمَ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ بَعْدَمَا يُسَلِّمُ بِمَعْنَاهُ إِلَى مُشَافَهَةً حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ بِهَذَا الْحَدِيثِ قَالَ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَا كَمَا قَالَ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ سَعِيدٍ بِهَذَا الْحَدِيثِ قَالَ ابْنُ بَشَّارٍ بِنَحْوِ حَدِيثِ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ وَيُسَلِّمُ تَسْلِيمَةً يُسْمِعُنَا. (رواه أبوداود: ١١٤٤)
Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Zurarah bin Aufa dari Sa'd bin Hisyam dia berkata, "Aku pernah mentalak istriku, lalu aku pergi ke Madinah untuk menjual perabot rumah tangga milikku untuk saya belikan senjata, lalu aku ikut berperang, aku bertemu dengan beberapa sahabat Nabi ﷺ, mereka berkata, "Sungguh ada enam orang di antara kami yang hendak bermaksud seperti itu (ikut berperang), akan tetapi Nabi ﷺ mencegahnya." Salah seorang dari mereka berkata, "Sungguh dalam diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik bagimu." Lalu aku mendatangi Ibnu Abbas dan bertanya tentang shalat Witir Rasulullah ﷺ. Dia berkata, "Aku akan menunjukkan kepadamu terhadap orang yang paling mengetahui tentang shalat Witir Rasulullah ﷺ, datanglah kepada Aisyah radhiallahu'anha!." Lalu aku mengajak Hakim bin Aflah untuk menemui Aisyah, namun dia keberatan, akan tetapi aku terus mendesaknya, akhirnya aku berangkat bersamanya, kemudian kami meminta izin kepada Aisyah, dia bertanya, "Siapakah ini?" di jawab, "Hakim bin Aflah." Aisyah bertanya lagi, "Siapakah yang bersama kamu?" di jawab, "Sa'd bin Hisyam." Aisyah berkata, "Apakah Hisyam bin 'Amir yang terbunuh dalam perang Uhud?" Sa'd berkata; Jawabku, "Betul." Aisyah berkata, "Sebaik laki-laki adalah 'Amir." Sa'd berkata; lalu aku bertanya, "Wahai Ummul Mukminin, ceritakanlah kepadaku tentang akhlaq Rasulullah ﷺ!." Aisyah menjawab, "Tidakkah kamu membaca Al-Qur'an?, sesungguhnya akhlaq Rasulullah ﷺ adalah Al-Qur'an." Sa'd berkata; tanyaku, "Wahai Ummul Mukminin, ceritakanlah kepadaku tentang shalat malamnya beliau!." Aisyah menjawab, "Tidakkah kamu membaca surat "Yaa ayyuhal Muzammil (wahai orang-orang yang berselimut)?" jawabku, "Tentu." Aisyah menjawab, "Sesungguhnya ketika awal surat ini turun, para sahabat Rasulullah ﷺ mengerjakan shalat malam sehingga kaki mereka bengkak, dan akhir surat ini masih di tahan (oleh Allah) di langit selama dua belas bulan (satu tahun), setelah itu, akhir surat ini turun, maka shalat malam hukumnya menjadi sunnah yang sebelumnya di wajibkan." Sa'd berkata; aku bertanya, "Sampaikanlah kepadaku tentang shalat Witir Nabi ﷺ!." Aisyah menjawab, "Beliau biasa mengerjakan shalat Witir delapan rakaat, beliau tidak duduk kecuali di rakaat ke delapan, kemudian beliau berdiri dan shalat satu rakaat lagi, sehingga beliau tidak duduk kecuali di rakaat ke delapan dan ke sembilan, dan beliau tidak salam kecuali di rakaat ke sembilan, kemudian beliau mengerjakan shalat dua rakaat dalam keadaan duduk, hingga jumlahnya menjadi sebelas rakaat, wahai anakku, ketika beliau telah tua dan lanjut usia, beliau mengerjakan witir tujuh rakaat, dan beliau tidak duduk kecuali di rakaat ke enam dan ketujuh, beliau tidak salam kecuali di rakaat ke tujuh, setelah itu beliau mengerjakan shalat dua rakaat dalam keadaan duduk, hingga jumlahnya menjadi sembilan rakaat. wahai anakku, Rasulullah ﷺ tidak pernah mengerjakan shalat malam hingga pagi hari (tidak istirahat) dan tidak pernah membaca Al-Qur'an semalam suntuk, serta tidak pernah berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadan, apabila beliau mengerjakan shalat, beliau selalu mengerjakan dengan rutin, dan apabila beliau tertidur di malam hari, maka beliau akan shalat dua belas rakaat di siang harinya." Sa'd berkata, "Setelah itu, aku menemui Ibnu Abbas dan menyampaikan hal itu kepadanya, maka Ibnu Abbas berkata, "Demi Allah, ini adalah hadits (yang aku maksudkan), sekiranya aku berbicara langsung kepada Aisyah, pasti aku akan mendatanginya dan berbicara langsung dengannya." Sa'd berkata; kataku selanjutnya, "Sekiranya aku tahu, bahwa kamu tidak berbicara kepadanya (secara langsung), niscaya aku tidak akan menyampaikannya kepadamu." Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari Sa'id dari Qatadah dengan sanad seperti hadits di atas, dia berkata, "Beliau mengerjakan shalat delapan rakaat, dan tidak duduk kecuali di rakaat ke delapan, kemudian beliau duduk dan berzikir kepada Allah 'Azza wa Jalla, lalu berdoa kemudian beliau mengucapkan salam yang dapat kami dengar. Setelah itu beliau shalat dua rakaat dalam keadaan duduk, setelah salam beliau mengerjakan satu rakaat lagi, hingga jumlahnya menjadi sebelas rakaat. wahai anakku, ketika usia beliau telah lanjut dan telah tua, beliau mengerjakan witir tujuh rakaat, dan shalat dua rakaat dalam keadaan duduk setelah beliau memberi salam." …dengan maksud yang sama (dengan hadits di atas) sampai pada kalimat…"Musyafahah (berbicara langsung)." Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr telah menceritakan kepada kami Sa'id dengan hadits seperti ini, dia berkata, "Lalu beliau mengucapkan salam yang dapat kami dengar." Sebagaimana perkataan Yahya bin Sa'id. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu 'Adi dari Sa'id dengan hadits seperti ini, Ibnu Basyar mengatakan seperti hadits Yahya bin Sa'id, namun dia mengatakan, "Kemudian beliau mengucapkan salam sekali yang dapat kami dengar." (HR. Abu Daud: 1144 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
3. SETELAH SHALAT WITIR BOLEH MEMBACA ZIKIR DAN SHALAT DUA RAKA'AT
Setelah salam dalam shalat witir Rasulullah ﷺ biasa menbaca, sebagaimana hadits riwayat Abu Daud,
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدَةَ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ طَلْحَةَ الْأَيَامِيِّ عَنْ ذَرٍّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ فِي الْوِتْرِ قَالَ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ. (رواه إبن ماجه: ١٢١٨)
Telah menceritakan kepada Kami Utsman bin Abu Syaibah, telah menceritakan kepada Kami Muhammad bin Abu 'Ubaidah, telah menceritakan kepada Kami ayahku dari Al A'masy dari Thalhah Al Ayami dari Dzar dari Sa'id bin Abdurrahman bin Abza dari ayahnya dari Ubay bin Ka'ab, ia berkata; Rasulullah ﷺ apabila telah melakukan salam dalam shalat Witir beliau mengucapkan, "SUBHAANAL MALIKIL QUDDUUS" (Mahasuci Raja Yang Mahasuci). (HR. Ibnu Majah: 1218 - shahih dari Ubay bin Ka'ab bin Qais, ia shahabat kuniyahnya Abu al Mundzir negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H)
Kemudian, setelah shalat witir boleh melakukan shalat sunat dua raka'at sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ. Imam at Tirmidzi berkata,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ مَسْعَدَةَ عَنْ مَيْمُونِ بْنِ مُوسَى الْمَرَئِيِّ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أُمِّهِ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي بَعْدَ الْوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ
قَالَ أَبُو عِيسَى وَقَدْ رُوِيَ نَحْوُ هَذَا عَنْ أَبِي أُمَامَةَ وَعَائِشَةَ وَغَيْرِ وَاحِدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه الترمذي: ٤٣٣)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Hammad bin Mas'adah dari Maimun bin Musa Al Mara'i dari Al Hasan dari ibunya dari Ummu Salamah bahwa Nabi ﷺ melaksanakan shalat dua rakaat setelah melaksanakan shalat Witir. Abu Isa berkata, hadits ini telah diriwayatkan semakna dengannya dari Abu Umamah, A'isyah dan yang lainnya dari Nabi ﷺ. (HR. At Tirmidzi: 433 - shahih dari Hind bin Abi Umayyah bin al Mughirah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 62 H)
Demikian juga hadits riwayat imam Ibnu Majah, beliau berkata:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ مَسْعَدَةَ حَدَّثَنَا مَيْمُونُ بْنُ مُوسَى الْمَرَئِيُّ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أُمِّهِ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي بَعْدَ الْوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ. (رواه إبن ماجه: ١١٨٥)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Mas'adah berkata, telah menceritakan kepada kami Maimun bin Musa Al Mara`i dari Al Hasan dari Ibunya dari Ummu Salamah berkata, "Setelah witir beliau melaksanakan shalat dua rakaat yang ringan sambil duduk." (HR. Ibnu Majah: 1185 - shahih dari Hind bin Abi Umayyah bin al Mughirah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 62 H)
Demikian juga hadits semakna diriwayatkan oleh imam Ahmad: 25342 - shahih, namun sanadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Hind bin Abi Umayyah bin al Mughirah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 62 H. Namun tanpa kata "khafifatain". Ditemukan dalam sanadnya periwayat bernama Maimun bin Musa, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Musa dan negeri hidup Bashrah. Penilaian ulama: an Nasa'i menilainya laisa biqawi, adz Dzahabi menilainya ia paling suka memalsukan. Sedangkan Ibnu Hajar menilainya shaduq mudallis. Abu Hatim menilainya shaduq. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat". Begitu juga dalam hadits riwayat Ibnu Majah: 1185 di atas.
Selanjutnya, diinformaaikan juga bahwa Rasulullah membaca surat al Qur'an tertentu dalam dua raka'at setelah shalat witir tersebut. Sebagaimana hadits riwayat Ahmad,
حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي ابْنَ صُهَيْبٍ عَنْ أَبِي غَالِبٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّيهِمَا بَعْدَ الْوِتْرِ وَهُوَ جَالِسٌ يَقْرَأُ فِيهِمَا إِذَا زُلْزِلَتْ الْأَرْضُ وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ. (رواه أحمد: ٢١٢١٦)
Telah bercerita kepada kami 'Abdush Shamad telah bercerita kepadaku ayahku telah bercerita kepada kami 'Abdul 'Aziz bin Shuhaib dari Abu Ghalib dari Abu Umamah bahwa Nabi ﷺ shalat dua rakaat setelah witir dalam keadaan duduk dan beliau membaca pada keduanya; IDZAA ZULZILATIL ARDHU ZILZAALAHAA dan QUL YAA `AYYUHAL KAAFIRUUN. (HR. Ahmad: 21216 - shahih lighairihi dan sanadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari Shadiy bin 'Ajlan, ia shahabat kuniyahnya Abu Umamah negeri hidup Syam dan wafat tahun 86 H)
4. TIDAK ADA WITIR DALAM SATU MALAM
IMAM at Tirmidzi menjelaskan dalam riwayatnya,
حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا مُلَازِمُ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بَدْرٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ.
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَاخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي الَّذِي يُوتِرُ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ ثُمَّ يَقُومُ مِنْ آخِرِهِ فَرَأَى بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ نَقْضَ الْوِتْرِ وَقَالُوا يُضِيفُ إِلَيْهَا رَكْعَةً وَيُصَلِّي مَا بَدَا لَهُ ثُمَّ يُوتِرُ فِي آخِرِ صَلَاتِهِ لِأَنَّهُ لَا وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ وَهُوَ الَّذِي ذَهَبَ إِلَيْهِ إِسْحَقُ وَقَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ إِذَا أَوْتَرَ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ ثُمَّ نَامَ ثُمَّ قَامَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ يُصَلِّي مَا بَدَا لَهُ وَلَا يَنْقُضُ وِتْرَهُ وَيَدَعُ وِتْرَهُ عَلَى مَا كَانَ وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَمَالِكِ بْنِ أَنَسٍ وَابْنِ الْمُبَارَكِ وَالشَّافِعِيِّ وَأَهْلِ الْكُوفَةِ وَأَحْمَدَ وَهَذَا أَصَحُّ لِأَنَّهُ قَدْ رُوِيَ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ صَلَّى بَعْدَ الْوِتْرِ. (رواه الترمذي: ٤٣٢)
Telah menceritakan kepada kami Hannad telah menceritakan kepada kami Mulazim bin Amru telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Badr dari Qais bin Thalq bin Ali dari ayahnya dia berkata, saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada dua kali witir dalam satu malam."
Abu Isa berkata, hadits ini hasan gharib, ahli ilmu berbeda pendapat tentang orang yang melaksanakan witir di permulaan malam, kemudian dia bangun pada akhir malam. sebagian ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi ﷺ dan orang-orang setelahnya berpendapat membatalkan witir, mereka mengatakan ditambahkan kepada witir satu rakaat, kemudian shalat menurut yang nampak baginya lalu melaksanakan witir di akhir shalatnya, karena tidak ada witir dua kali dalam satu malam dan itulah yang menjadi pendapat Ishaq, sedangkan sebagian Ahli ilmu yang lain dari kalangan sahabat dan yang lainnya berpendapat bahwa jika telah melaksanakan witir di permulaan malam kemudian tidur, lalu bangun di akhir malam, maka dia melaksanakan shalat menurut yang nampak bagi dia dan jangan membatalkan witirnya (yang di permulaan malam) dan membiarkan witir yang telah dia laksanakan seperti semula, ini adalah pendapat Sufyan Ats Tsauri, Malik bin Anas, bin Al Mubarak, Syafi'i, penduduk Kufah dan Ahmad, ini adalah pendapat yang paling shahih, karena haditsnya telah diriwayatkan dari berbagai jalur bahwa Nabi ﷺ melaksanakan shalat setelah witir. (HR. At Tirmidzi: 432 - shahih dari Thalaq bin 'Ali bin al Mundzir, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Ali dan negeri hidup Yamamah)
Pendapat di atas diperkuat dengan riwayat-riwayat berikut:
أَخْبَرَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ عَنْ مُلَازِمِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بَدْرٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقٍ قَالَ
زَارَنَا أَبِي طَلْقُ بْنُ عَلِيٍّ فِي يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ فَأَمْسَى بِنَا وَقَامَ بِنَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ وَأَوْتَرَ بِنَا ثُمَّ انْحَدَرَ إِلَى مَسْجِدٍ فَصَلَّى بِأَصْحَابِهِ حَتَّى بَقِيَ الْوِتْرُ ثُمَّ قَدَّمَ رَجُلًا فَقَالَ لَهُ أَوْتِرْ بِهِمْ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ. (رواه النسائي: ١٦٦١)
Telah mengabarkan kepada kami Hannad bin As Sari dari Mulazim bin 'Amr dia berkata; telah menceritakan kepadaku 'Abdullah bin Badr dari Qais bin Thalq dia berkata, "Ayahku Thalq bin Ali mengunjungi kami pada bulan Ramadan, dan dia bersama kami sampai sore. Pada hari itu dia shalat malam bersama kami, lalu shalat Witir bersama kami. Kemudian berangkat ke masjid dan shalat bersama para sahabatnya hingga sisa shalat Witir saja. Kemudian dia memerintahkan seseorang untuk maju sambil berkata kepadanya; 'Shalatlah witir bersama mereka, karena aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada dua witir dalam satu malam." (HR. An Nasa'i: 1661 - shahih dari Thalaq bin 'Ali bin al Mundzir, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Ali dan negeri hidup Yamamah)
Demikian juga hadits riwayat Abu Daud: 1227 - shahih dari Thalaq bin 'Ali bin al Mundzir, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Ali dan negeri hidup Yamamah. Ahmad: 15704 - hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari Thalaq bin 'Ali bin al Mundzir, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Ali dan negeri hidup Yamamah. An Nasa'i: 2153 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.
Ahmad: 15696 shahih lighairihi, isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Thalaq bin 'Ali bin al Mundzir, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Ali dan negeri hidup Yamamah, dengan matan:
" ... قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَكُونُ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ".
Masih banyak lagi hadits-hadits terkait denga bagaimana dan kapan shalat witir dilakukan?. Maka perlu dipahami bahwa shalat witir adalah shalat sunat yang mengiringi shalat malam/tahajud atau tarawih di bulan Ramadhan. Ia dilakukan sebelum tidur, boleh juga setelah bangun sebelum fajar. Jumlah shalat witir boleh 1, 3, 5, 7, 9 dan bahkan 11 raka'at. Namun pelaksanaanya yang genap baru ganjil dengan satu salam. Sebagian melakukannya tiga rakaat satu kali salam.
Jika lupa atau tertidur maka boleh diqadha ketika ingat atau terbangun, baik pada menjelang subuh maupun siang harinya. Ini bertujuan untuk memelihara kebiasaan atau konsistensi pelaksanaannya.
Terkait dengan perbedaan pendapat, maka hal tersebut biasa dalam hal memahami suatu amal yang pelaksanaannya bervariasi. Tidak ada yang salah dalam pendapat mereka. Karena masing punya dalil dan alasan syar'iy. Jika alasannya tidak berdasarkan syari'at dalam hal ini hadits. Karena al Qur'an tidak meyebutkan shalat witir, hanya menyebut shalat tahajud saja. Jadi, hal ini merupakan amalan yang hanya dilakukan dan dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ saja.
Wallaahu a'lam bish shawaab,
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏