TIGA HAL YANG DILARANG DALAM ISLAM
(Menyikapi Musibah dan Kematian)
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Musibah dan ujian senantiasa menyertai perjalanan hidup manusia. Seiring dengan waktu dan masa yang cenderung berkembang dan berubah sesuai dengan peradabannya. Sehingga perlu dikontrol agar tidak melakukan hal-hal yang bodoh dan membodohi manusia.
Nah, dalam tulisan kali ini penulis paparkan tentang tiga hal yang tidak boleh dilakukan oleh seorang Muslim dalam menghadapi musibah. Baik musibah kekurangan nikmat maupun jiwa. Sehingga, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Bukan dari golongan kami orang yang menampar pipinya, mengoyak-ngoyak saku bajunya atau berdoa dengan doa orang-orang jahiliah." Untuk lebih jelasnya simak urain dibahwa ini.
Imam al Bukhari berkata,
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي جَمِيعًا عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُرَّةَ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ أَوْ شَقَّ الْجُيُوبَ أَوْ دَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ
هَذَا حَدِيثُ يَحْيَى وَأَمَّا ابْنُ نُمَيْرٍ وَأَبُو بَكْرٍ فَقَالَا وَشَقَّ وَدَعَا بِغَيْرِ أَلِفٍ و حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَعَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ قَالَا حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ جَمِيعًا عَنْ الْأَعْمَشِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَقَالَا وَشَقَّ وَدَعَا. (رواه مسلم: ١٤٨)
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Abu Mua'wiyah. (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dan Waki'. (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami bapakku semuanya dari al-A'masy dari Abdullah bin Murrah dari Masruq dari Abdullah dia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Bukan dari golongan kami orang yang menampar pipinya, mengoyak-ngoyak saku bajunya atau berdoa dengan doa orang-orang jahiliah." Ini hadits Yahya. Adapun Ibnu Numair dan Abu Bakar, maka keduanya menyebutkan, "Mengoyak-ngoyak dan berdoa (tanpa alif)." Dan telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Jarir. (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Ali bin Kasyram keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus semuanya dari al-A'masy dengan sanad ini, dan keduanya menyebutkan, "Dan mengoyak-ngoyak dan berdoa." (HR. Muslim: 148 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Hadits mutawatir dengan 7 jalur periwayatan dan dari enam guru beliau)
Demikian juga hadits riwayat imam al Bukhari: 1212 (hadits ahlul Kufah), 1214, 1215 (hadits ahlul Kufah) dan 3258 (hadits 'aziz pada pertengahan sanad dan ahlul Kufah), at Tirmidzi: 920, an Nasa'i: 1837 (hadits 'aziz diakhir sanad), 1839 dan 1841, Ibnu Majah: 1573 (hadits masyhur dengan lima jalur sanad dan beliau meriwayat dari tiga orang guru), Ahmad: 3476, 3902 (hadits ahlul Kufah), 3997 (hadits 'aziz diakhir sanad), 4131 (hadits ahlul Kufah) dan 4198 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H.
Melihat dari jalur sanad yang ada, hadits di atas adalah hadits mutawatir makna. Karena semua lafazhnya sama. Maksudnya, lafazh-lafazh berbeda namun mempunyai makna yang sama yaitu, "tidak termasuk golongan kami (muslim) orang yang menampar-nampar pipinya sendiri, merobek-robek pakaiannya, berdoa/memanggil dengan panggilan seperti yang dilakukan orang jahiliyah (meratap). Perbuatan tersebut jauh dari sikap ridha dan ikhlas menerima takdir Allah terhadap mereka. Dalam hal ini adalah tidak ridha dan ikhlas menerima musibah, seperti kematian dan kehilangan suatu rahmat Allah dari mereka. Sikap seperti inilah yang dilakukan oleh kaum jahiliyah dahulu. Hal tersebut dapat merusak jiwa dan pisik. Sehingga yang akibat dari perbuatan itu dapat menghilangkan akal sehat. Perbuatan mereka termasuk sikap putusasa dari rahmat Allah padahal sikap ini dilarang.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَىِٕسُوْا مِنَ الْاٰخِرَةِ كَمَا يَىِٕسَ الْكُفَّارُ مِنْ اَصْحٰبِ الْقُبُوْرِ. (قرآن سورة الممتحنة/٦٠: ١٣)
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan kaum yang dimurkai Allah sebagai teman-teman akrab. Sungguh, mereka telah putus asa terhadap akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur juga berputus asa (dari rahmat Allah di akhirat). (QS. Al-Mumtaḥanah/60:13)
Perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh kaum jahiliyah tidak boleh ditiru dan ditauladani. Mereka dilaknat oleh Allah, karena memusuhi Allah dan Rasul-Nya dan melakukan perbuatan yang merendahkan ketuhanan dan kebenaran nubuwah. Sehingga, orang-orang beriman terhindar dari keputusasaan.
Wallaahu a'lam bish shawab,
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏