“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


MENGAJARKAN SYARI'AT PADA ORANG "DUNGU"
OLEH: SAMSURIZAL, MA

Biamillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikam warahmatullaahi wabarakaatuh.

Mengajarkan syari'at adalah kewajiban orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالَّذِيْنَ اٰوَوْا وَّنَصَرُوْٓا اُولٰۤىِٕكَ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يُهَاجِرُوْا مَا لَكُمْ مِّنْ وَّلَايَتِهِمْ مِّنْ شَيْءٍ حَتّٰى يُهَاجِرُوْاۚ وَاِنِ اسْتَنْصَرُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ اِلَّا عَلٰى قَوْمٍۢ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِّيْثَاقٌۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ. (قرآن شورة الأنفال/٨: ٧٢)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah, serta orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada Muhajirin); mereka itu sebagiannya merupakan pelindung318) bagi sebagian yang lain. Orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun atas kamu untuk melindungi mereka sehingga mereka berhijrah. (Akan tetapi,) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama (Islam), wajib atas kamu memberikan pertolongan, kecuali dalam menghadapi kaum yang telah terikat perjanjian antara kamu dengan mereka. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Anfāl/8: 72)

Berdasarkan firman Allah inilah dipahami bahwa tugas seorang mukmin adalah berusaha menjadikan hidup keberagamaan lebih baik. Begitu juga informasi yang terekam dalam hadits Rasulullah ﷺ yang ditulis oleh para imam hadits atau mukharij. Mereka menuliskan hadits dalam kitab-kitab mereka dengan bermacam kesulitan dan merode. Sehingga terkumpul informasi apa saja terkait dengan Rasulullah ﷺ baik perkataan, perbuatan, takrir (ketetapan) serta sikap dan sifat jasmaniyah maupun rohaniyah beliau. Hanya saja, apa yang mereka tulis tidak semuanya yang maqbul (shahih dan hasan) bahkan ada yang dha'if bahkan palsu. Sehingga membutuhkan penjelasan yang cermat dan serius.

Nah, pada kesempatan ini penulis paparkan beberapa usaha para shahabat untuk menyampaikan pesan kebenaran kepada orang-orang "dungu". Mari simak riwayat-riwayat berikut ini.

Imam ad Darimi berkata,

أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ عَامِرٍ عَنْ هِشَامٍ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ إِنَّمَا يُفْتِي النَّاسَ ثَلَاثَةٌ:
١. رَجُلٌ إِمَامٌ أَوْ وَالٍ،

٢. وَرَجُلٌ يَعْلَمُ نَاسِخَ الْقُرْآنِ مِنْ الْمَنْسُوخِ قَالُوا يَا حُذَيْفَةُ وَمَنْ ذَاكَ قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ.

٣. أَوْ أَحْمَقُ مُتَكَلِّفٌ. (رواه الدارمي: ١٧٣)

Telah mengabarkan kepada kami Sa'id bin 'Amir dari Hisyam dari Muhammad dari Hudzaifah ia berkata, " Ada tiga golongan manusia yang memberikan fatwa (yaitu):
1. Seorang imam, atau wali (yang mengatur urusan kaum muslimin) atau,

2. Seorang yang mengetahui nasikh dan mansukh dalam Al-Qur'an, mereka bertanya: 'Wahai Hudzaifah, lalu siapakah gerangan dia itu? ', Itu Umar bin Khatthab radhiallahu'anhu, atau,

2. Orang bodoh yang memaksakan diri'".

(HR. Ad Darimi: 173 - isnadnya dha'if munqathi' menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Hudzaifah bin al Yaman, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 36 H)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat ad Darimi: 173 periwayat yang menerima lamgsung dari Hudzaifah bin al Yaman terputus.

Hadits semakna juga diriwayatkan oleh imam ad Darimi, beliau berkata:

أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ أَخْبَرَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ حُذَيْفَةَ قَالَ قَالَ حُذَيْفَةُ إِنَّمَا يُفْتِي النَّاسَ أَحَدُ ثَلَاثَةٍ رَجُلٌ عَلِمَ نَاسِخَ الْقُرْآنِ مِنْ مَنْسُوخِهِ قَالُوا وَمَنْ ذَاكَ قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَالَ وَأَمِيرٌ لَا يَجِدُ بُدًّا أَوْ أَحْمَقُ مُتَكَلِّفٌ ثُمَّ قَالَ مُحَمَّدٌ فَلَسْتُ بِوَاحِدٍ مِنْ هَذَيْنِ وَأَرْجُو أَنْ لَا أَكُونَ الثَّالِثَ. (رواه الدارمي: ١٧٤)

Telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Sa'id telah mengabarkan kepada kami Abu `Usamah dari Hisyam bin Hassan dari Muhammad dari Abu 'Ubaidah bin Hudzaifah ia berkata, " Hudzaifah berkata, 'Orang yang berfatwa kepada orang lain adalah salah satu dari tiga golongan: Seorang yang mengetahui nasikh dan mansukh dalam Al-Qur'an', mereka bertanya: 'Siapakah ia gerangan? ', Umar bin Khatthab radhiallahu'anhu, atau seorang pemimpin yang tidak takut, atau orang bodoh yang memaksakan diri'". Kemudian Muhammad berkata, "Aku bukanlah satu dari dua kriteria (pertama) dan aku berharap tidak menjadi bagian yang ke tiga". (HR. Ad Darimi: 174 - isnadnya jayyid menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Hudzaifah bin al Yaman, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 36 H)

Ummu Darda' meriwayatkan sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad beliau berkata:

حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا بْنُ عَدِيٍّ أَنَا بَقِيَّةُ عَنْ حَبِيبِ بْنِ عُمَرَ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ شَيْخٍ يُكَنَّى أَبَا عَبْدِ الصَّمَدِ قَالَ سَمِعْتُ أُمَّ الدَّرْدَاءِ تَقُولُ
كَانَ أَبُو الدَّرْدَاءِ إِذَا حَدَّثَ حَدِيثًا تَبَسَّمَ فَقُلْتُ لَا يَقُولُ النَّاسُ إِنَّكَ أَيْ أَحْمَقُ فَقَالَ مَا رَأَيْتُ أَوْ مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ حَدِيثًا إِلَّا تَبَسَّمَ. (رواه أحمد: ٢٠٧٣٩)

Telah menceritakan kepada kami Zakariya bin 'Adi, telah mengabarkan kepada kami Baqiyah dari Habib bin Umar Al Anshari dari Syaikh yang di juluki Abu Abdush Shamad ia berkata; aku mendengar Ummu Darda` berkata; Apabila Abu Darda` hendak menyampaikan hadits, beliau tersenyum, lalu Aku berkata, "Manusia akan mengatakan kepadamu sesungguhnya kamu orang pandir." dia menjawab, "Tidak pernah aku melihat dan mendengar Rasulullah ﷺ menyampaikan suatu hadits kecuali beliau tersenyum." (HR. Ahmad: 20739 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Uwaimir bin Malik bin Qais bin Umayyah bin 'Amir, ia shahabat kuniyahnya Abu ad Darda' negeri hidup Syam dan wafat tahun 32 H)

Catatan: dalam sanad hadits terdapat periwayat bernama Abu 'Abdush Shamad, ia tabi'in kalangan biasa dinilai oleh ulama kritikus hadits: Abu Hatim menilainya majhul, sedangkan Ibnu Hibban menilainya tsiqah. Begitu juga periwayat Habib bin 'Umar, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua. Ad Daruquthni dan Abu Hatim menilainya majhul. Sementara Ibnu 'Adi menilainya la ba'sa bih, sedangkan Ibnu Hibban menilainya tsiqah. Selebihnya adalah periwayat maqbul.

Kemudian diceritakan oleh Aswad bin Sari' tentang sabda Rasulullah ﷺ yang menyatakan bahwa, sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad. Beliau berkata:

قَالَ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ قَتَادَةَ عَنِ الْأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ سَرِيعٍ
أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ أَصَمُّ لَا يَسْمَعُ شَيْئًا وَرَجُلٌ أَحْمَقُ وَرَجُلٌ هَرَمٌ وَرَجُلٌ مَاتَ فِي فَتْرَةٍ فَأَمَّا الْأَصَمُّ فَيَقُولُ رَبِّ لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَمَا أَسْمَعُ شَيْئًا وَأَمَّا الْأَحْمَقُ فَيَقُولُ رَبِّ لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَالصِّبْيَانُ يَحْذِفُونِي بِالْبَعْرِ وَأَمَّا الْهَرَمُ فَيَقُولُ رَبِّي لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَمَا أَعْقِلُ شَيْئًا وَأَمَّا الَّذِي مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ فَيَقُولُ رَبِّ مَا أَتَانِي لَكَ رَسُولٌ فَيَأْخُذُ مَوَاثِيقَهُمْ لَيُطِيعُنَّهُ فَيُرْسِلُ إِلَيْهِمْ أَنْ ادْخُلُوا النَّارَ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ دَخَلُوهَا لَكَانَتْ عَلَيْهِمْ بَرْدًا وَسَلَامًا
قَالَ حَدَّثَنَا عَلِيٌّ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنِ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي رَافِعٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مِثْلَ هَذَا غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ فِي آخِرِهِ فَمَنْ دَخَلَهَا كَانَتْ عَلَيْهِ بَرْدًا وَسَلَامًا وَمَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا يُسْحَبُ إِلَيْهَا. (رواه أحمد: ١٥٧١٢)

(Ahmad bin Hanbal) berkata, telah menceritakan kepada kami 'Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Mu'adz bin Hisyam berkata, telah menceritakan kepadaku bapakku dari Qatadah dari Ahnaf bin Qais dari Aswad bin Sari' Sesungguhnya Nabiyullah ﷺ bersabda, "Ada empat jenis orang di hari kiamat nanti: Seorang laki-laki tuli yang tidak mendengar apapun, seorang laki-laki bodoh, seorang laki-laki yang pikun, dan seorang laki-laki yang mati dalam masa-masa kevakuman (ajaran agama atau risalah kenabian tidak sempat menjumpai dirinya). Orang tuli tersebut menyampaikan alasannya, 'Wahai Rabb-ku, telah datang Islam hanya aku tidak mendengar apapun tentang hal itu'. Adapun orang yang bodoh beralasan, 'Wahai Rabb-ku, Islam telah datang, hanya anak-anak melempariku dengan kotoran unta'. Adapun yang pikun berkata, 'Wahai Rabb-ku, telah datang Islam hanya aku tidak bisa berfikir sama sekali'. Adapun orang yang mati dalam masa-masa kevakuman berkata, 'Wahai Rabb-ku, para utusan-Mu tidak mendatangiku dan mengambil janji orang-orang untuk taat kepadanya. Lantas Allah mengutus para malaikatnya untuk mengatakan 'Masuklah kalian ke dalam neraka'. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kalaulah mereka memasuki api tersebut, api itu akan menjadi dingin dan menyelamatkan mereka". (Ahmad bin Hanbal) berkata, telah menceritakan kepada kami 'Ali telah menceritakan kepada kami Mu'adz bin Hisyam berkata, telah menceritakan kepadaku bapakku dari Al Hasan dari Abu Rafi' dari Abu Hurairah seperti di atas, kecuali dalam perkataan yang terakhirnya, 'Barangsiapa memasuki api tersebut, api tersebut akan menjadi dingin dan menyelamatkan, dan barangsiapa tidak memasukinya, ia justru diseret untuk memasukinya." (HR. Ahmad: 15712 - isnadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari al Aswad bin Sari', ia shahabat negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 36 H dan Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hadits 'aziz di awal sanad)

Pada waktu lain, Jabir mengajarkan orang dungu dengan melakukan shalat dengan satu kain yang diikatkan ke lehernya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh imam al Bukhari, beliau berkata:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ قَالَ حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنِي وَاقِدُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ قَالَ صَلَّى جَابِرٌ
فِي إِزَارٍ قَدْ عَقَدَهُ مِنْ قِبَلِ قَفَاهُ وَثِيَابُهُ مَوْضُوعَةٌ عَلَى الْمِشْجَبِ قَالَ لَهُ قَائِلٌ تُصَلِّي فِي إِزَارٍ وَاحِدٍ فَقَالَ إِنَّمَا صَنَعْتُ ذَلِكَ لِيَرَانِي أَحْمَقُ مِثْلُكَ وَأَيُّنَا كَانَ لَهُ ثَوْبَانِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه البخاري: ٣٣٩)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus berkata, telah menceritakan kepada kami 'Ashim bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepadaku Waqid bin Muhammad dari Muhammad bin Al Munkadir berkata, "Jabir mengerjakan shalat dengan mengenakan sarung yang ia ikatkan pada leher (tengkuk), sementara pakaiannya ia gantungnya di gantungan baju. Seseorang lalu berkata kepadanya, "Kenapa kamu shalat dengan menggunakan satu kain!" Jabir bin 'Abdullah menjawab, "Aku lakukan itu agar bisa dilihat oleh orang bodoh seperti kamu. Sebab mana ada pada masa Nabi ﷺ, di antara kami yang memiliki dua kain!". (HR. Al Bukhari: 339 - shahih dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)

Riwayat yang lengkap diriwayatkan oleh imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا يُونُسُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ يَعْنِي ابْنَ الْغَسِيلِ حَدَّثَنِي شُرَحْبِيلُ أَبُو سَعْدٍ أَنَّهُ
دَخَلَ عَلَى جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ وَهُوَ يُصَلِّي فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ وَحَوْلَهُ ثِيَابٌ فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ قَالَ قُلْتُ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ تُصَلِّي فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ وَهَذِهِ ثِيَابُكَ إِلَى جَنْبِكَ قَالَ أَرَدْتُ أَنْ يَدْخُلَ عَلَيَّ الْأَحْمَقُ مِثْلُكَ فَيَرَانِي أُصَلِّي فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ أَوَكَانَ لِكُلِّ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَوْبَانِ قَالَ ثُمَّ أَنْشَأَ جَابِرٌ يُحَدِّثُنَا فَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَا اتَّسَعَ الثَّوْبُ فَتَعَاطَفْ بِهِ عَلَى مَنْكِبَيْكَ ثُمَّ صَلِّ وَإِذَا ضَاقَ عَنْ ذَاكَ فَشُدَّ بِهِ حَقْوَيْكَ ثُمَّ صَلِّ مِنْ غَيْرِ رِدَاءٍ لَهُ. (رواه أحمد: ١٤٠٦٥)

Telah bercerita kepada kami Yunus telah bercerita kepada kami Abdurrahman yaitu ibnu Al Ghosil telah bercerita kepadaku Syurahbil Abu Sa'ad dia menemui Jabir bin Abdullah ketika sedang shalat dengan memakai satu pakaian padahal di sekitarnya ada banyak pakaian. Tatkala selesai shalat berkata; saya (Syurahbil RH) berkata; Semoga Allah mengampunimu Wahai Abu Abdullah, kamu shalat memakai satu pakaian dan ini ada banyak pakaian di sampingmu. Dia menjawab, saya hendak mengetes jika ada orang bodoh sepertimu yang melihatku shalat dengan satu pakaian. Apakah setiap sahabat Rasulullah ﷺ memiliki dua pakaian. (Syurahbil RH) berkata; lalu Jabir menceritakan kepada kami. Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika pakaianmu longgar maka selendangkanlah pada kedua pundakmu, dan shalatlah. Namun jika sempit maka tariklah sarungmu kemudian shalat tanpa harus menyelendangkannya". (HR. Ahmad: 14067 - shahih, namun isnadnya dha'if dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)

Dalam sanadnya terdapat periwayat yang dinilai jarah (buru) oleh ulama kritikus hadits, ia adalah Syurahbil bin Sa'ad, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Sa'ad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 123 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in dan an Nasa'i menilainya dha'if, Malik bin Anas menilainya laisa bi tsiqah, sementara Ibnu Hajar menilainya shaduq. Sedangkan Ibnu Hibban menilainya tsiqah.

Pembicaraan tentang "dungu" juga diainggung dalam hadits riwayat al Bukhari: 1792, namun dalam maksud lain. Beliau berkata:

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ الْحَكَمِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ الْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ
وَقَالَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ
{ مَآرِبُ }
حَاجَةٌ قَالَ طَاوُسٌ
{ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ }
الْأَحْمَقُ لَا حَاجَةَ لَهُ فِي النِّسَاءِ. (رواه البخاري: ١٧٩٢)

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb berkata, Syu'bah dari Al Hakam dari Ibrahim dari Al Aswad dari 'Aisyah radhiallahu'anha berkata, "Nabi ﷺ mencium dan mencumbu (istri-istri Beliau) padahal beliau sedang berpuasa. Dan beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan nafsunya dibandingkan kalian". Dan Al Aswad berkata; Ibnu 'Abbas radhiallahu'anhuma berkata, istilah ma'aarib maknanya adalah keperluan (seperti dalam QS. Tha Ha/20 ayat 18) artinya hajat. Dan berkata, Thawus (seperti dalam QS. An-Nuur/24 ayat 31) artinya: orang dungu yang tidak punya keinginan lagi terhadap wanita. (HR. Al Bukhari: 1792 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Hadits tentang Rasulullah ﷺ mencium dan mencumbui istrinya ketika puasa diriwayatkan paling tidak dalam 34 hadits. Hadits-hadits tersebut terkadang diriwayatkan secara makna. Adapun hadits-hadits dimaksud sebagaimana diriwayatkan oleh imam Muslim: 1854, 1855, 1856, 1860, 1861, Abu Daud: 2034, at Tirmidzi: 660 dan 661, Ibnu Majah: 1675, Ahmad: 23000, 23025, 23802, 23840, 24050, 24071, 24244, 24422, 24473, 24617, 24663, 24742, 24763, 24852, 24949, 25000, 25079, 25079, 25188, 25241, 25242, 25243, ad Darimi: 632, 762 dan 763 - shahih kecuali yang di-bold-kan dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H. Sedangkan hadits riwayat Ahmad: Ahmad: 25537 - shahih, isnad fihi khata' menurut Syu'aib al Arna'uth dari Ramlah binti Abi Sufyan Shakhar bin Harbi bin Umayyah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Habibah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 49 H. Imam Ahmad berkata:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي الضُّحَى عَنْ شُتَيْرِ بْنِ شَكَلٍ عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ. (رواه أحمد: ٢٥٥٣٧)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Manshur dari Abu Ad Dhuha dari Syutair bin Syakal dari Ummu Habibah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah mencium istrinya sedangkan beliau berpuasa." (HR. Ahmad: 25537 - shahih, isnad fihi khata' menurut Syu'aib al Arna'uth dari Ramlah binti Abi Sufyan Shakhar bin Harbi bin Umayyah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Habibah [istri nabi] negeri hidup Madinah dan wafat tahun 49 H)

Selanjutnya hadits riwayat Ahmad: 25243 - shahih dari Hafshah binti 'Umar bin al Khaththab, ia shahabiyah [istri nabi] negeri hidup Madinah dan wafat tahun 41 H.

Singkatnya, semua hadits terkait dengan masalah Rasulullah mencium istrinya ketika berpuasa adalah diriwayatkan dari para istri beliau sendiri.

Demikian yang dapat penulis paparkan beberapa cara para shahabat menyeleksi dan mwngajarkan orang-orang "dungu" agar mereka paham tentang masalah agama (Islam). Sehingga mereka dapat berkomentar dan bertanya dengan nalar mereka. Selanjutnya, bisa saja dilakukan dengan hal yang bertentangan baik dengan perbuatan atau sikap. Oleh karena itu, pemahaman tentang hal ini dapat tersampaikan tanpa menginformasikan secara langsung. Dengan kata lain, memamerkan apa yang mereka belum paham. Wallaahu a'alam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]