SUJUD DENGAN MENDAHULUKAN LUTUT ATAU KEDUA TANGAN (ikhtilaf memahami hadits memenuhi maksud syari'at)
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Shalatlah sebagaimana Rasulullah ﷺ shalat. Menyikapi bagaimana cara beliau shalat diinformasikan dalam hadits qauliyah, fi'liyah beliau. Terkadang dalam shalat perlu diperhatikan tumakninah dan gerakan maupun sikap yang mesti dijaga. Ketenangan dalam gerakan tersebut akan terjaga apabila dilakukan dengan baik dan benar. Sehingga shalat yang dilakukan menjadi nyaman.
Nah, pada tulisan kali ini penulis paparkan hadits terkait dengan rukuk yang dilakukan dan diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ, apakah mendahulukan kedua lutut atau kedua tangan? Jika hal itu tidak dapat dilakukan maka apakah dapat diamalkan atau tidak? Apa yang harus dipahami? Kenapa terjadi perbedaan redaksi matan hadits? Mari simak bahasan hadits dimaksud dibawah ini.
Hadits tentang sujud apakah mendahulukan kedua tangan atau kedua lutut?
1. Mendahulukan kedua lutut daripada kedua tangannya
حَدَّثَنَا سَلَمَةُ بْنُ شَبِيبٍ وَأَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ وَالْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُنِيرٍ وَغَيْرُ وَاحِدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا شَرِيكٌ عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ يَضَعُ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ وَإِذَا نَهَضَ رَفَعَ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ.
قَالَ زَادَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ فِي حَدِيثِهِ قَالَ يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ وَلَمْ يَرْوِ شَرِيكٌ عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ إِلَّا هَذَا الْحَدِيثَ.
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُ أَحَدًا رَوَاهُ مِثْلَ هَذَا عَنْ شَرِيكٍ وَالْعَمَلُ عَلَيْهِ عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ يَرَوْنَ أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ وَإِذَا نَهَضَ رَفَعَ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ وَرَوَى هَمَّامٌ عَنْ عَاصِمٍ هَذَا مُرْسَلًا وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ وَائِلَ بْنَ حُجْرٍ. الترمذي: ٢٤٨- ضعيف)
Telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabib dan Ahmad bin Ibrahim Ad Dauraqi dan Al Hasan bin Ali Al Hulwani dan Abdullah bin Munir dan lain-lain mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun berkata; telah mengabarkan kepada kami Syarik dari 'Ashim bin Kulaib dari Ayahnya dari Wa'il bin Hujr ia berkata; "Aku melihat ﷺ apabila sujud, beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya, dan apabila bangkit beliau mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya."
Ia berkata; "Al Hasan bin Ali menambahkan dalam haditsnya bahwa Yazid bin Harun berkata; "Syarik tidak pernah meriwayatkan dari 'Ashim bin Kulaib kecuali hadits ini."
Abu Isa berkata; "Hadits ini hasan gharib, dan kami tidak mengetahui seorangpun yang meriwayatkan hadits seperti ini dari Syarik. Hadits ini diamalkan oleh kebanyakan ahli ilmu, mereka berpendapat hendaknya seseorang meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya, dan mengangkat kedua tangan sebelum kedua lututnya ketika bangkit. Hammam meriwayatkan hadits ini dari 'Ashim secara mursal dan tidak menyebutkan di dalamnya nama Wa'il bin Hujri." (HR. At Tirmidzi: 248 - dha'if dari Wail bin Hajar bin Sa'ad)
Hadits riwayat imam at Tirmidzi: 248, beliau meriwayatkan dari lima orang gurunya. Guru-guru imam at Tirmidzi dimaksud adalah:
1. Salamah bin Syabib, ia tabi'ul atba' kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 247 H. Penilaian ulama: Ibnu Hajar menilainya tsiqah, adz Dzahabi menilainya al hafizh dan hujjah. Sedangkan Abu Hatim menilainya shaduq. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqah".
2. Ahmad bin Ibrahim bin Katsir, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 246 H. Penilaian ulama: Ibnu Hajar menilainya tsiqah hafizh, al 'Uqaili menilainya tsiqah dan adz Dzahabi menilainya hafizh. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqah".
3. Al Hasan bin 'Ali bin Mihammad, ia tabi'ul atba' kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Ali negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 242 H. Penilaian ulama: Ya'qub ibnu Syaibah, an Nasa'i dan Abu Bakar al Khatib menilainya tsiqah. At Tirmidzi menilainya hafizh, Ibnu Hajar menilainya tsiqah hafizh. Sedangkan adz Dzahabi menilainya tsabat dan hujjah. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqah".
4. 'Abdullah bin Munir, ia tabi'ul atba' kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Himshi dan wafat tahun 243 H. Penilaian ulama: an Nasa'i menilainya tsiqah. Ibnu Hajar menilainya tsiqah ahli ibadah, sementara adz Dzahabi menilainya hafizh. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqah".
5. Hammam bin Yahya bin Munir, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 165 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma'in dan Ibnu Sa'ad, al 'Ajli, Hakim dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah. Sedangkan adz Dzahabi menilainya hafizh. Sementara as Saji menilainya shaduq, buruk hafalannya. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqah".
Jalur sanad 1 - 4 guru imam at Tirmidzi meriwayatkan dari Yazid bin Harun, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Khalid negeri hidup Haity dan wafat tahun 206 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, al 'Ajli, Ibnul Madini, Abu Hatim, Ibnu Sa'ad, Ya'qub bin Syaibah menilainya tsiqah. Sedangkan Ibnu Qani' menilainya tsiqah ma'mun, Ibnu Hajar menilainya tsiqah ahli ibadah dan adz Dzahabi meilainya seorang tokoh. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqah". Selanjutnya jalur sanad ke-5 diriwayatkan dari Ashim bin Kulaib bin Syihab bin al Majnun, ia tabi'in kalangan biasa negeri hidup Kufah dan wafat tahun 137 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in dan an Nasa'i menilainya tsiqah. Abu Hatim menilainya shalih. Sedangkan Ibnu Hajar menilainya shaduq, tertuduh murji'ah. Sementara Ahmad bin Hanbal menilainya tsiqah. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqah". Dan seterusnya.
Lihat juga: Abu Daud: 713, an Nasa'i: 1077 dan 1142, Ibnu Majah: 872 - dha'if semuanya dari Wail bin Hajar bin Sa'ad.
Tambah lagi dari riwayat Abu Daud: 766 - dha'if dari Abu Hurairah,
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ اللَّيْثِ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ دَرَّاجٍ عَنْ ابْنِ حُجَيْرَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَفْتَرِشْ يَدَيْهِ افْتِرَاشَ الْكَلْبِ وَلْيَضُمَّ فَخْذَيْهِ
Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Syu'aib bin Al Laits telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Darraj dari Ibnu Hujairah dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Apabila salah seorang dari kalian sujud, janganlah ia membentangkan kedua tangannya ke lantai sebagaimana seekor anjing, dan hendaklah ia meletakkan setentang dengan kedua pahanya." (HR. Abu Daud: 766 - dha'if dari Abu Hurairah)
(Di dha'ifkan oleh Muhammad Nashiruddin al Albani).
Dari riwayat di atas, dilihat dari para periwayat adalah maqbul. Pertanyaannya, kenapa al Albani mendha'ifkannya?
Yang terpenting bagi kita adalah, karena riwayatnya banyak maka naik derjatnya menjadi maqbul atau dapat diterima. Kalau dia dha'if maka akan menjadi hasan, sejalan juga dengan pendapat imam at Tirmidzi. Hadits hasan termasuk hadits maqbul. Hadits maqbul itu sendiri adalah hadits shahih dan atau hasan.
Sebagaimana halnya hadits di atas imam ad Darimi juga meriwayatkan, beliau berkata:
أَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ يَضَعُ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ وَإِذَا نَهَضَ رَفَعَ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ. (رواه الدارمي: ١٢٨٦)
Telah mengabarkan kepada kami Yazid bin Harun telah menceritakan kepada kami Syarik dari 'Ashim bin Kulaib dari Ayahnya dari Wail bin Hujri ia berkata, "Saya melihat Rasulullah ﷺ apabila bersujud meletakkan kedua lutut sebelum ke dua tangan, dan apabila berdiri beliau mengangkat ke dua tangan sebelum kedua lutut." (HR. Ad Darimi: 1286 - isnadnya hasan menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Wa'il bin Hajar bin Sa'ad, ia shahabat kuniyahnya Abu Hunaidah dan negeri hidup Kufah)
Mari kita lihat versi kedua,
2. Mendahulukan kedua tangan daripada kedua lutut.
Riwayat An Nasa'i: 1079- shahih dari Abu Hurairah,
أَخْبَرَنَا هَارُونُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ بَكَّارِ بْنِ بِلَالٍ مِنْ كِتَابِهِ قَالَ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ وَلَا يَبْرُكْ بُرُوكَ الْبَعِيرِ. (رواه النسائي: ١٠٧٩)
Telah mengabarkan kepada kami Harun bin Muhammad bin Bakkar bin Bilal dari kitabnya dia berkata; telah menceritakan kepada kami Marwan bin Muhammad dia berkata; telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Aziz bin Muhammad dia berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Abdullah bin Al Hasan dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah dia berkata; "Rasulullah ﷺ bersabda: 'Jika salah seorang dari kalian hendak sujud, maka hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya dan janganlah ia turun (untuk sujud) seperti menderumnya unta." (HR. An Nasa'i: 1079 - shahih dari Abu Hurairah)
Kemudian dari Abu Daud: 714 - shahih dari Abu Hurairah,
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَسَنٍ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيرُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ. (أ بوداود: ٧١٤)
Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Manshur telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdullah bin Hasan dari Abu Az Zinnad dari Al A'raj dari Abu Hurairah dia berkata; ﷺ bersabda: "Apabila salah seorang dari kalian sujud, maka janganlah menderum sebagaimana unta menderum, akan tetapi hendaknya ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya." (HR. Abu Daud: 714 - shahih dari Abu Hurairah)
(dishahihkan oleh Muhammad Nashiruddin al Albani)
Begitu juga riwayat Ahmad: 8595 dari Abu Hurairah,
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْجَمَلُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ ثُمَّ رُكْبَتَيْهِ. (رواه أحمد: ٨٥٩٥)
Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Mashur berkata; telah menceritakan kepada kami Abdul 'Aziz bin Muhammad berkata; telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdullah bin Al Hasan dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika salah seorang dari kalian sujud maka janganlah ia menderum sebagaimana menderumnya unta, dan hendaklah ia meletakkan kedua tangannya dahulu kemudian kedua lututnya." (HR. Ahmad: 8598 - dari Abu Hurairah)
Periwayat yang dijarh adalah:
'Abdul 'Aziz bin Muhammad bin 'Ubaid bin Abi 'Ubaid, ia adalah tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 187 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in menilainya laisa bihi ba'sa, Abu Zur'ah menilainya buruk hafalan dan Ibnu Hibban mengatakan disebutkan dalam ats tsiqat serta al 'Ajli menilainya tsiqah. Selebihnya periwayat maqbul.
Kalau begitu mendahulukan kedua lutut lebih mudah dilakukan, sedangkan mendahulukan kedua lutut daripada tangan alasannya karena sudah tua, tidak masuk akal karena Abu Hurairah masuk Islam pada akhir atau ketika Rasul sudah tua. Tentu beliau meriwayatkan hadits yang dari Wail, yaitu mendahulukan kedua lutut. Dengan kata lain, Abu Hurairah masuk Islam tiga tahun sebelum Rasul wafat.
Selanjutnya, riwayat dari Wail yang tak tau kapan wafatnya, justru mendahulukan lutut dan di-dha'ifkan oleh al Albani. Padahal semua periwayatnya maqbul. Maka, hadits tersebut mesti dicarikan jalan keluarnya dengan dikompromikan secara bijak.
Hemat saya, hadits-hadits di atas adalah termasuk tanawwu'ul Ibadah atau bentuk-bentuk cara pelaksanaan ibadah. Boleh digunakan dan diamalkan salah satu dari keduanya asalkan jangan meniru binatang onta atau anjing duduk atau sujud bagi manusia, artinya tumakninahlah dalam mengerjakan shalat. Karena, sikap as sakinah wal waqar atau tenang dan nyaman dalam ibadah khususnya shalat, sangat penting. Tujuannya untuk keseimbangan dan khusuk dalam shalat.
Kalau kita kaji lebih dalam tentang syadz dan 'illat-nya tentu memakan tempat yang banyak dan waktu yang lama. Jadi, biar menjadi kajian ahli dibidangnya saja. Karena itu sudah menjadi hal yang dimaklumi.
Lebih lanjut untuk memperbaiki semua hal ini, simak hadits riwayat imam at Tirmidzi, beliau berkata:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَا حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَطَاءٍ عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ
سَمِعْتُهُ وَهُوَ فِي عَشَرَةٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدُهُمْ أَبُو قَتَادَةَ بْنُ رِبْعِيٍّ يَقُولُ أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِصَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا مَا كُنْتَ أَقْدَمَنَا لَهُ صُحْبَةً وَلَا أَكْثَرَنَا لَهُ إِتْيَانًا قَالَ بَلَى قَالُوا فَاعْرِضْ فَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ اعْتَدَلَ قَائِمًا وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَرَكَعَ ثُمَّ اعْتَدَلَ فَلَمْ يُصَوِّبْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُقْنِعْ وَوَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَاعْتَدَلَ حَتَّى يَرْجِعَ كُلُّ عَظْمٍ فِي مَوْضِعِهِ مُعْتَدِلًا ثُمَّ أَهْوَى إِلَى الْأَرْضِ سَاجِدًا ثُمَّ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ جَافَى عَضُدَيْهِ عَنْ إِبْطَيْهِ وَفَتَخَ أَصَابِعَ رِجْلَيْهِ ثُمَّ ثَنَى رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَقَعَدَ عَلَيْهَا ثُمَّ اعْتَدَلَ حَتَّى يَرْجِعَ كُلُّ عَظْمٍ فِي مَوْضِعِهِ مُعْتَدِلًا ثُمَّ أَهْوَى سَاجِدًا ثُمَّ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ ثَنَى رِجْلَهُ وَقَعَدَ وَاعْتَدَلَ حَتَّى يَرْجِعَ كُلُّ عَظْمٍ فِي مَوْضِعِهِ ثُمَّ نَهَضَ ثُمَّ صَنَعَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ ذَلِكَ حَتَّى إِذَا قَامَ مِنْ السَّجْدَتَيْنِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ كَمَا صَنَعَ حِينَ افْتَتَحَ الصَّلَاةَ ثُمَّ صَنَعَ كَذَلِكَ حَتَّى كَانَتْ الرَّكْعَةُ الَّتِي تَنْقَضِي فِيهَا صَلَاتُهُ أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَقَعَدَ عَلَى شِقِّهِ مُتَوَرِّكًا ثُمَّ سَلَّمَ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ قَالَ وَمَعْنَى قَوْلِهِ وَرَفَعَ يَدَيْهِ إِذَا قَامَ مِنْ السَّجْدَتَيْنِ يَعْنِي قَامَ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَالْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْخَلَّالُ الْحُلْوَانِيُّ وَغَيْرُ وَاحِدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ النَّبِيلُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَطَاءٍ قَال سَمِعْتُ أَبَا حُمَيْدٍ السَّاعِدِيَّ فِي عَشَرَةٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهُمْ أَبُو قَتَادَةَ بْنُ رِبْعِيٍّ فَذَكَرَ نَحْوَ حَدِيثِ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ بِمَعْنَاهُ وَزَادَ فِيهِ أَبُو عَاصِمٍ عَنْ عَبْدِ الْحَمِيدِ بْنِ جَعْفَرٍ هَذَا الْحَرْفَ قَالُوا صَدَقْتَ هَكَذَا صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبُو عِيسَى زَادَ أَبُو عَاصِمٍ الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ فِي هَذَا الْحَدِيثِ عَنْ عَبْدِ الْحَمِيدِ بْنِ جَعْفَرٍ هَذَا الْحَرْفَ قَالُوا صَدَقْتَ هَكَذَا صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه الترمذي: ٢٨٠)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar dan Muhammad bin Al Mutsanna mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id Al Qaththan berkata; telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Ja'far berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Amru bin 'Atha` dari Abu Humaid As Sa'idi ia berkata, "Aku mendengarnya -waktu itu ia berada di antara sepuluh sahabat Nabi ﷺ, di antaranya adalah Abu Qatadah bin Rib'i- ia berkata, "Aku adalah orang yang paling tahu dengan shalat Nabi ﷺ di antara kalian." Mereka berkata, "Engkau bukan orang yang lebih dulu menjadi sahabat beliau dan tidak lebih banyak mendatanginya ketimbang kami!" ia berkata, "Benar, " mereka berkata, "Maka ceritakanlah!" ia berkata, "Rasulullah ﷺ jika berdiri shalat selalu tegak dan berimbang lalu mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya. Jika beliau ingin rukuk, maka beliau kembali mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya dan mengucapkan ALLAHU AKBAR. Lalu rukuk dan berimbang, tidak mengangkat atau menundukkan kepalanya, lalu meletakkan kedua tangannya pada lutut. Setelah itu beliau mengucapkan SAMI'A ALLAHU LIMAN HAMIDAH seraya mengangkat kedua tangannya secara berimbang hingga setiap tulang kembali ke tempatnya. Kemudian beliau sujud dengan diiringi ucapan ALLAHU AKBAR, beliau merenggangkan kedua tangannya menjauh dari ketiak dan melenturkan jari-jari kakinya. Beliau lalu melipat kaki kirinya dan duduk di atasnya secara berimbang hingga setiap tulang kembali ke tempatnya. Setelah itu beliau kembali sujud seraya mengucapkan ALLAHU AKBAR, lalu melipat kaki kirinya dan duduk dengan seimbang hingga setiap tulang kembali ke tempatnya. Setelah itu beliau bangkit dan melakukan seperti itu pada rakaat yang kedua. Hingga ketika beliau bangkit dari dua sujud, beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahu sebagimana ketika membuka shalat (takbiratul ihram). Beliau lalu melakukan seperti itu hingga rakaat yang terakhir, beliau melipat kaki kirinya dan duduk tawaruk (duduk dengan menempelkan pantat pada lantai) kemudian mengucapkan salam." Abu Isa berkata, "Hadits ini derajatnya hasan shahih. Ia berkata, "Maksud dari ucapannya, "Hingga ketika beliau bangkit dari dua sujud, beliau mengangkat kedua tangannya, " yakni bangun dari dua rakaat shalat." Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar dan Al Hasan bin Ali Al Khallal Al Hulwani dan selainnya, mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim An Nabil berkata; telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Ja'far berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Amru bin 'Atha` berkata; aku mendengar Abu Humaid As Sa'idi yang berada di antara sepuluh sahabat Nabi ﷺ yang di antaranya adalah Abu Qatadah bin Rib'i, lalu ia menyebutkan sebagaimana hadits Yahya bin Sa'id secara makna. Dan dalam hadits tersebut ia menahbahkan; (dari Abu 'Ashim dari Abdul Hamid bin Ja'far dengan huruf ini). Mereka berkata, "Engkau benar, demikianlah Nabi ﷺ shalat." Abu Isa berkata, "Abu 'Ashim Adl Dlahhak bin Makhlad menambahkan dalam hadits ini; dari Abdul Hamid bin Ja'far, dengan huruf ini. Mereka berkata, "Engkau benar, demikianlah Nabi ﷺ shalat." (HR. At Trimidzi: 280 - shahih dari 'Abdur Rahman bin Sa'ad, ia shahabat kuniyahnya Abu Humaid dan negeri hidup Madinah dan al Harits bin Rib'iy, ia shahabat kuniyahnya Abu Qatadah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H. Hadits ini diriwayatkan oleh imam at Tirmidzi dalam enam jalur dari tiga orang guru beliau)
Lihat juga hadits riwayat muslim: 586, Abu Daud: 619, 620, 627, 634 dan 635, an Nasa'i: 867, 1015, 1147 dan 1168, Ibnu Majah: 848, 852 dan 1051, Ahmad: 679, 4312, 5899, 8520 dan 10086.
Wallahu a'lam bish sawab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏