BEBAS BERBUAT NAMUN TERIKAT
(fitrah manusia)
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Kebebasan adalah hak setiap manusia yang tidak dapat dibatasi. Karena hal tersebut salah satu fitrah manusia agar ia dapat memilih jalan hidup masing sesuai dengan potensi masing-masing. Namun, kebebasan bukanlah tanpa ikatan. Tetapi terikat dengan rasa malu, sebab ia adalah melekat pada fitrah manusia. Sesuatu yang melekat pada fitrah tersebut harus juga diperhatikan. Oleh karena itu kebebasan dan malu sangat dekat hibungannya.
Fitrah (kebebasan dan malu) adalah ciri khas manusia sejati. Bedasarkan hal inilah harusnya manusia hidup. Sehingga kalam an nubuwah yang melekat pada nasehat para nabi dan rasul Allah senantiasa terpatri dalam hati sanubari mereka yang mengakui dan merasa mempunyai fitrah sejati.
Nah, tulisan kali ini penulis paparkan uraian terkait dengan sindiran Rasulullah ﷺ terhadap kebebasan dan keterikatannya.
Imam al Bukhari berkata,
حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مَنْصُورٍ قَالَ سَمِعْتُ رِبْعِيَّ بْنَ حِرَاشٍ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ. (رواه البخاري: ٣٢٢٥)
Telah bercerita kepada kami Adam telah bercerita kepada kami Syu'bah dari Manshur berkata, aku mendengar Rib'iy bin Hirasy bercerita dari Abu Mas'ud; Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya diantara apa yang didapatkan manusia dari perkataan (yang disepakati) para nabi adalah, "Jika kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu". (HR. Al Bukhari: 3225 - shahih dari 'Uqbah bin 'Amru bin Tsa'labah, ia shahabat kuniyahnya Abu Mas'ud negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H)
Demikian juga hadits riwayat imam al Bukhari ditempat lain dengan tambahan kalimat "al Uulaa", beliau berkata:
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا مَنْصُورٌ عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ حَدَّثَنَا أَبُو مَسْعُودٍ قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ. (رواه البخاري: ٥٦٥٥)
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Manshur dari Rib'i bin Hirasy telah menceritakan kepada kami Abu Mas'ud dia berkata; Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya yang diperoleh manusia dari ucapan kenabian yang pertama adalah jika kamu tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesukamu." (HR. Al Bukhari: 5655 - shahih dari 'Uqbah bin 'Amru bin Tsa'labah, ia shahabat kuniyahnya Abu Mas'ud negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H. Hadits ahlul Kufah)
Demikian lafazh yang sama diriwayatkan oleh imam Ahmad: 16470, 16478 ('aziz pertengahan sanad), 16485 ('aziz akhir sanad), 21313 dan 21314 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Uqbah bin 'Amru bin Tsa'labah, ia shahabat kuniyahnya Abu Mas'ud negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H. Sementara hadits riwayat Ahmad: 22170 melalui jalur Hudzaifah bin al Yaman, imam Ahmad berkata:
حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مَالِكٍ الْأَشْجَعِيُّ عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ أَمْرِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ. (رواه أحمد: ٢٢٧٠)
Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah telah bercerita kepada kami Abu Malik Al Asyja'i dari Rib'i bin Khirasy dari Hudzaifah bin Al Yaman berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Diantara hal yang diperoleh manusia dari kenabian pertama adalah bila engkau tidak malu maka berbuatlah semaumu." (HR. Ahmad: 22170 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Hudzaifah bin al Yaman, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 36 H)
Demikian juga hadits riwayat imam Ibnu Majah: 4173, Abu Daud: 4164 - shahih dari 'Uqbah bin 'Amru bin Tsa'labah, ia shahabat kuniyahnya Abu Mas'ud negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H.
Selanjutnya imam Malik meriwayatkan dengan lafazh yang semakna dengan mengaitkan dengan kaifiyat ibadah. Beliau berkata,
حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ بْنِ أَبِي الْمُخَارِقِ الْبَصْرِيِّ أَنَّهُ قَالَ
مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَافْعَلْ مَا شِئْتَ وَوَضْعُ الْيَدَيْنِ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فِي الصَّلَاةِ يَضَعُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى وَتَعْجِيلُ الْفِطْرِ وَالِاسْتِينَاءُ بِالسَّحُورِ. (رواه مالك: ٣٣٩)
Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari Abdul Karim bin Abu Al Mukhariq Al Bashri bahwa dia berkata, "Di antara sabda para nabi adalah: jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sekehendakmu. Bersedekap ketika shalat dengan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, menyegerakan saat berbuka dan mengakhirkan sahur." (HR. Malik: 339 - maqthu' shahih menurut Salim bin 'Ied al Hilaliy dari 'Abdul Karim bin Abi al Mukhariq Qais, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] kuniyahnya Abu Umayyah negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 126 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. An Nasa'i dan ad Daruquthni menilainya matruk. Sementara Yahya bin Ma'in menilainya laisa bi tsiqah dan Abu Zur'ah menilainya layyin)
Berdasarkan hadits-hadits di atas bahwa semua nabi dari Nabi Adam sampai nabi terakhir Muhammad ﷺ menyampaikan kalimat pertama dan terakhir adalah "Sesungguhnya yang diperoleh manusia dari ucapan kenabian yang pertama adalah jika kamu tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesukamu." Sehingga tugas para nabi dan rasul Allah hanya menyampaikan kepada manusia agar taat kepada Allah. Seperti apa pun status sosialnya pantas dihargai, tidak boleh diremehkan. Terkait dengan mau atau tidak atau kafir sama sekali tidak menjadi misi utama mereka.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلَا تَطْرُدِ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ ۗمَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِّنْ شَيْءٍ وَّمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِّنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُوْنَ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ. (قرآن سورة الأنعام/٦: ٥٢)
Janganlah engkau (Nabi Muhammad) mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari, sedangkan mereka mengharapkan keridaan-Nya. Engkau tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka dan mereka (pun) tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, sehingga engkau (tidak berhak) mengusir mereka. (Jika dilakukan,) engkau termasuk orang-orang yang zalim.*). (QS. Al-An‘ām/6: 52)
*) Ketika Rasulullah ﷺ sedang duduk-duduk bersama beberapa orang mukmin yang dianggap rendah dan miskin oleh kaum Quraisy, datanglah beberapa orang pemuka Quraisy hendak berbicara dengan Rasulullah ﷺ. Mereka enggan duduk bersama orang mukmin dan mengusulkan agar orang-orang mukmin itu diusir saja supaya mereka dapat berbicara dengan Rasulullah. Ayat ini turun sebagai teguran terhadap sikap tersebut.
Dilanjutkan dengan firman Allah,
وَكَذٰلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِّيَقُوْلُوْٓا اَهٰٓؤُلَاۤءِ مَنَّ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنْۢ بَيْنِنَاۗ اَلَيْسَ اللّٰهُ بِاَعْلَمَ بِالشّٰكِرِيْنَ. (قرآن سورة الأنعام/٦: ٥٣)
Demikianlah Kami telah menguji sebagian mereka (yang kaya dan berkuasa) dengan sebagian yang lain (yang miskin dan menderita), sehingga mereka (yang kaya dan kufur itu) berkata, “Orang-orang semacam inikah (yang status sosialnya rendah) di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah?” (Allah berfirman,) “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang mereka yang bersyukur (kepada-Nya)?”. (QS. Al-An‘ām/6: 53)
Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَا عَلَى الَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِّنْ شَيْءٍ وَّلٰكِنْ ذِكْرٰى لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ. (قرآن سورة الأنعام/٦: ٦٩)
Orang-orang yang bertakwa tidak ada tanggung jawab sedikit pun atas (dosa-dosa) mereka, tetapi (berkewajiban memberi) peringatan agar mereka (juga) bertakwa. (QS. Al-An‘ām/6: 69)
Nash di atas jelas membatasi bahwa sikap malu terhadap diri, orang lain dan kepada Allah lebih utama daripada memperturutkan kehendak sendiri untuk melakukan apa pun yang disukai. Baik keinginan itu baik atau pun buruk. Orang-orang yang bertakwa tidak punya tanggung jawab sedikitpun atas mereka, hanya saja kewajiban mengajak agar mereka mau bertakwa kepada Allah. Sehingga tugas utama masing-masing diri adalah saling mengingatkan kepada kebenaran dan senantiasa bersabar atas hal tersebut agar mencapai hasil maksimal yaitu sama-sama bertakwa kepada Allah.
Wallaahu a'lam bish shawaab,
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏