“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


ADAB TIDUR YANG DICONTOHKAN RASUL SEBAGAI TANDA KEBESARAN ALLAH
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Rasullah ﷺ mengajarkan bahwa apabila kamu hendak tidur, maka berwudhuklah sebagaimana kamu berwudhuk untuk shalat. Setelah itu berbaringlah dengan miring ke kanan, lalu berdo'alah, "ALAAHUMMA INNII ASLAMTU WAJHII ILAIKA, WAFAWWADHTU AMRII ILAIKA, WA-ALJA'TU ZHAHRII ILAIKA RAGHBATAN WARAHBATAN ILAIKA, LAA MALJA'A WALAA MANJAA MINKA ILLAA ILAIKA, AAMANTU BIKITAABIKALLADZII ANZALTA, WABINABIYYIKALLADZII ARSALTA".

Tidur merupakan anugerah Allah untuk menenangkan hati dan fikiran setelah beraktivitas di siang hari. Nyenyak dalam tidur dapat menguatkan hati memperteguh pendirian seseorang. Oleh karena kita dianjurkan oleh Allah supaya terbebas dari pengaruh-pengaruh jahat setan. Senantiasalah berlindung dari setan, sebagaimana diingatkan oleh Allah, 

وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الَّيْلَ لِبَاسًا وَّالنَّوْمَ سُبَاتًا وَّجَعَلَ النَّهَارَ نُشُوْرًا. (سورة الفرقان/٢٥: ٤٧) 

Dan Dialah yang menjadikan malam untukmu (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangkit berusaha. (QS. Al Furqaan/25: 47)

Esok harinya mereka akan melihat tanda-tanda kebesaran Allah dengan memanfaatkan tidur untuk beristirahat dan ketika mereka bangun. Allah berfirman:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖ مَنَامُكُمْ بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاۤؤُكُمْ مِّنْ فَضْلِهٖۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّسْمَعُوْنَ. (سورة الوم/٣٠: ٢٣)

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan. (QS. Ar Ruum/30: 23)

اِذْ يُغَشِّيْكُمُ النُّعَاسَ اَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً لِّيُطَهِّرَكُمْ بِهٖ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطٰنِ وَلِيَرْبِطَ عَلٰى قُلُوْبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْاَقْدَامَۗ. (سورة الأنفال/٨: ١١)

(Ingatlah), ketika Allah membuat kamu mengantuk untuk memberi ketenteraman dari-Nya, dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu dan menghilangkan gangguan-gangguan setan dari dirimu dan untuk menguatkan hatimu serta memperteguh telapak kakimu (teguh pendirian). (QS. Al Anfaal/8: 11)

Seseorang waktu tidur, Allahlah yang memegang nyawanya, sebagaimana firman-Nya, 

اَللّٰهُ يَتَوَفَّى الْاَنْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا وَالَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَامِهَا ۚ فَيُمْسِكُ الَّتِيْ قَضٰى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْاُخْرٰىٓ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ. (شورة الزمر/٣٩: ٤٢)

Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir. (QS. Az Zumar/39: 42)

Agar Allah benar-benar menjadikan tidur itu untuk istirahat, supaya tenang dan segar beraktivitas esok harinya. Allah berfirman,

وَّجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًاۙ. (سورة النبأ/٧٨: ٩)

dan Kami menjadikan tidurmu untuk istirahat. (QS. An Naba'/78: 9)

Allah menjadikan tidur pada malam hari untuk beristirahat dari kesibukan pekerjaan pada siang hari, agar menghasilkan berbagai mata pencaharian. Dengan istirahat waktu tidur itu, manusia dapat mengembalikan daya dan kekuatan untuk melangsungkan pekerjaan pada keesokan harinya. Seandainya tidak diselingi oleh istirahat tidur tentu kekuatan siapa pun akan merosot sehingga tidak dapat melangsungkan tugas sehari-hari.

Namun yakinlah dengan berserahdiri, bertakwa dan berimana kepada-Nya, maka akan terbebas dari pengaruh setan. Sebagaimana firman-Nya,

اِنَّ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا اِذَا مَسَّهُمْ طٰۤىِٕفٌ مِّنَ الشَّيْطٰنِ تَذَكَّرُوْا فَاِذَا هُمْ مُّبْصِرُوْنَۚ. (سورة الأعراف/٧: ٢٠١) 

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya). (QS. Al A'raaf/7: 201)

اِنَّهٗ لَيْسَ لَهٗ سُلْطٰنٌ عَلَى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ. (سورة النحل/١٦: ٩٩) 

Sungguh, setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan. (QS. An Nahal/16: 99)

اِنَّمَا سُلْطٰنُهٗ عَلَى الَّذِيْنَ يَتَوَلَّوْنَهٗ وَالَّذِيْنَ هُمْ بِهٖ مُشْرِكُوْنَ. (سورة ࣖالنحل/١٦: ١٠٠) 

Pengaruhnya hanyalah terhadap orang yang menjadikannya pemimpin dan terhadap orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (QS. An Nahal/16: 100)

Dalam ayat 99 dan 100 dari QS. An Nahal/16 di atas, Allah menerangkan bahwa setan tidak punya pengaruh terhadap orang-orang yang beriman, orang-orang yang berserah diri kepada Allah, sabar dan tawakal kepada-Nya. Mereka mampu melawan godaan setan dan menolak untuk mengikuti langkah-langkahnya dan menjadi pengikutnya baik dalam jaga maupun tidur. Berkat cahaya iman dalam dada mereka, tipu daya setan itu dapat mereka ketahui dan atasi. Sehingga dalam istirahatnya maupun aktivitas mereka tetap dalam lindungan Allah.

Setan itu hanya berpengaruh atas orang-orang yang melupakan Allah dan sudah masuk ke dalam wilayah kekuasaannya, yaitu orang-orang yang memandang setan itu sebagai pemimpin lalu mencintainya dan mengikutinya serta mematuhi segala perintahnya. Karena tipu daya dan godaan setan itu, mereka akhirnya mempersekutukan Tuhan atau menyembah setan di samping menyembah Allah.

Imam Muslim berkata,

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَاللَّفْظُ لِعُثْمَانَ قَالَ إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا و قَالَ عُثْمَانُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ حَدَّثَنِي الْبَرَاءُ بْنُ عَازِبٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَخَذْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ ثُمَّ قُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ وَاجْعَلْهُنَّ مِنْ آخِرِ كَلَامِكَ فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ مُتَّ وَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ.

قَالَ فَرَدَّدْتُهُنَّ لِأَسْتَذْكِرَهُنَّ فَقُلْتُ آمَنْتُ بِرَسُولِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ.

و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ إِدْرِيسَ قَالَ سَمِعْتُ حُصَيْنًا عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا الْحَدِيثِ غَيْرَ أَنَّ مَنْصُورًا أَتَمُّ حَدِيثًا وَزَادَ فِي حَدِيثِ حُصَيْنٍ وَإِنْ أَصْبَحَ أَصَابَ خَيْرًا. (رواه مسلم: ٤٨٨٤)

Telah menceritakan kepada kami 'Utsman bin Abu Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim -dan lafadh ini milik 'Utsman- Ishaq berkata; telah mengabarkan kepada kami, dan 'Utsman berkata; telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Sa'd bin 'Ubaidah telah menceritakan kepadaku Al Barra' bin 'Azib bahwasanya Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Apabila kamu hendak tidur, maka berwudhuklah sebagaimana kamu berwudhuk untuk shalat. Setelah itu berbaringlah dengan miring ke kanan, lalu berdo'alah, "ALAAHUMMA INNII ASLAMTU WAJHII ILAIKA, WAFAWWADHTU AMRII ILAIKA, WA-ALJA'TU ZHAHRII ILAIKA ROGHBATAN WARAHBATAN ILAIKA, LAA MALJA'A WALAA MANJAA MINKA ILLAA ILAIKA, AAMANTU BIKITAABIKALLADZII ANZALTA, WABINABIYYIKALLADZII ARSALTA" (Ya AIlah ya Tuhanku, aku Pasrahkan wajahku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu dan aku serahkan punggungku kepada-Mu dengan berharap-harap cemas, karena tidak ada tempat berlindung dan tempat yang aman dari adzab-Mu kecuali dengan berlindung kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan aku beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus). Jadikan bacaan tersebut sebagai penutup ucapanmu menjelang tidur. Apabila kamu meninggal dunia pada malam itu, maka kamu meninggal dalam kesucian diri (fitrah)."

Al Barra' berkata; 'Saya mengulang-ulang bacaan tersebut agar hafal dan saya ucapkan; 'Saya beriman kepada rasul-Mu yang telah Engkau utus.' Lalu Nabi Muhammad ﷺ berkata: 'Ucapkanlah; 'Saya beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.'"

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Idris dia berkata; aku mendengar Hushain dari Sa'd bin 'Ubaidah dari Al Barra' bin 'Azib dari Nabi ﷺ mengenai Hadits ini. Namun Hadits Manshur lebih lengkap dari ini. Dan di dalam Hadits Hushain ada tambahan; 'apabila dia bangun kembali di pagi hari, maka dia telah memperoleh kebaikan.' (HR. Muslim: 4884 - shahih dari al Barra' bin 'Azib)

Lihat juga: Bukhari: 239, 5836, 5838, 5840 dan 6934, Muslim: 4885, Abu Daud: 4389 dan at Tirmidzi: 3498, Ahmad: 17782 dan 17909 - shahih dari al Barra'.

Tambahan penjelasan:

1. Hadits riwayat imam al Bukhariy: 5840,

{ اسْتَرْهَبُوهُمْ }
مِنْ الرَّهْبَةِ مَلَكُوتٌ مُلْكٌ مَثَلُ رَهَبُوتٌ خَيْرٌ مِنْ رَحَمُوتٍ تَقُولُ تَرْهَبُ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَرْحَمَ. (رواه البخاري: ٥٨٤٠)

-firman Allah "Istarhabuuhum" QS. Al A'raf/7: 116, diambil dari kata "rahbah (cemas) "seperti "malakuut" dari kata "mulk (kerajaan)" contoh "rahabuut (harap-harap cemas)" itu lebih baik dari "rahamuut (terlalu mengasihi) "kamu berkata; "Tarhabu" itu lebih baik dari "tarhamu."

2. Hadits riwayat al Bukhariy: 6934,

... فإِنَّكَ إِنْ مُتَّ فِي لَيْلَتِكَ مُتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ وَإِنْ أَصْبَحْتَ أَصَبْتَ أَجْرًا. (رواه البخاري: ٦٩٣٤)

"Maka sekiranya engkau meninggal di malammu, engkau meninggal di atas fitrah, dan jika engkau meninggal pagi harinya, engkau peroleh pahala."

3. Hadits riwayat Ahmad: 17782, tanpa kalimat "fii lailatika",

... فَإِنْ مَاتَ مَاتَ عَلَى الْفِطْرَةِ. (رواه أحمد: ١٧٧٨٢)

"Jika ia mati setelah membacanya, niscaya ia mati dalam keadaan fithrah."

Lafazh lain dari Abu Hurairah, sebagaimana diriwayatkan oleh imam Muslim, beliau berkata:

و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ مُوسَى الْأَنْصَارِيُّ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَأْخُذْ دَاخِلَةَ إِزَارِهِ فَلْيَنْفُضْ بِهَا فِرَاشَهُ وَلْيُسَمِّ اللَّهَ فَإِنَّهُ لَا يَعْلَمُ مَا خَلَفَهُ بَعْدَهُ عَلَى فِرَاشِهِ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَضْطَجِعَ فَلْيَضْطَجِعْ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ وَلْيَقُلْ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبِّي بِكَ وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَاغْفِرْ لَهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ.

و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَقَالَ ثُمَّ لْيَقُلْ بِاسْمِكَ رَبِّي وَضَعْتُ جَنْبِي فَإِنْ أَحْيَيْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا. (رواه مسلم: ٤٨٨٩)

Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Musa Al Anshari telah menceritakan kepada kami Anas bin 'Iyadh telah menceritakan kepada kami 'Ubaidulah telah menceritakan kepadaku Sa'id bin Abu Sa'id Al Maqburi dari Bapaknya dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Apabila seseorang hendak berbaring, maka hendaklah ia mengambil alat pembersih untuk membersihkan alas tidurnya dan sebutlah nama Allah, karena ia tidak tahu apa yang terdapat di atas kasurnya setelah dipakai tidur. Apabila seseorang hendak tidur, maka hendaknya ia tidur dengan miring ke kanan dan mengucapkan doa: "SUBHAANAKA, ALLAAHUMMA RABBII, BIKA WADHA'TU JANBII, WABIKA ARFA'UHU, IN AMSAKTA NAFSII FAGHFIR LAHAA WAIN ARSALTAHAA, FAHFAZH-HAA BIMAA TAHFAZHU BIHI 'IBAADAKASH SHAALIHIINA' 'Maha suci Engkau ya Allah, Tuhanku. Dengan nama-Mu aku baringkan tubuhku dan karena-Mu lah aku bangun dari tidur. Apabila Engkau mematikanku, maka berilah ampunan dan apabila Engkau menghidupkanku, maka peliharalah sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang shalih.'

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami 'Abdah dari 'Ubaidullah bin 'Umar dengan sanad ini. Dan beliau bersabda: kemudian ucapkanlah; "BISMIKA RABBII WADHA'TU JANBII FAIN AHYAITA NAFSII FARHAMHAA 'Dengan menyebut nama-Mu, ya Rabbku aku letakkan pinggangku ini, apabila Engkau hendak menghidupkan jiwaku, maka rahmatilah ia.' (HR. Muslim: 4889 - shahih dari Abu Hurairah)

Lihat juga: Bukhari: 5845, Abu Daud 4391 dan Ibnu Majah 3864, Ahmad: 7471 dan 9091 - shahih dari Abu Hurairah.

Dari 'Aisyah, jika hendak tidur padahal dalam keadaan junub maka berwudhuklah. Sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ قَالَ حَدَّثَنَا الْحَكَمُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنِ الْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ جُنُبًا فَأَرَادَ أَنْ يَنَامَ تَوَضَّأَ
قَالَ أَبِي و قَالَ وَكِيعٌ وَمُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ فِي هَذَا الْحَدِيثِ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ أَوْ يَأْكُلَ تَوَضَّأَ.

قَالَ يَحْيَى تَرَكَ شُعْبَةُ حَدِيثَ الْحَكَمِ فِي الْجُنُبِ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ تَوَضَّأَ. (رواه أحمد: ٢٤٤٠٧)

Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu'bah dia berkata; telah menceritakan kepada kami Al Hakam dari Ibrahim dari Al Aswad dari Aisyah berkata; "Apabila Rasulullah ﷺ junub dan beliau ingin tidur, maka beliau berwudhuk." Ayahku berkata; Waqi' dan Muhammad bin Ja'far juga meriwayatkan hadits ini; "Apabila beliau ingin tidur atau makan, beliau berwudhuk."

Yahya meriwayatkan hadits Al Hakam dalam bab junub dengan meninggalkan Syu'bah "Apabila beliau hendak makan, beliau berwudhuk." (HR. Ahmad: 24407 - shahih dari 'Aisyah)

DOA AKAN TIDUR DAN BANGUN TIDUR

حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ عَنْ خَرَشَةَ بْنِ الحُرِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ مِنْ اللَّيْلِ قَالَ بِاسْمِكَ نَمُوتُ وَنَحْيَا فَإِذَا اسْتَيْقَظَ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ. (رواه البخاري: ٦٨٤٦)

Telah menceritakan kepada kami Sa'd bin Hafsh telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Manshur dari Rib'iy bin Khirasy dari Kharasyah bin Alhurr dari Abu Dzar berkata, "Nabi ﷺ jika mendatangi tempat tidurnya (tidur) di malam hari, maka beliau memanjatkan doa: 'BISMIKA NAMUUTU WA NAHYAA (Dengan nama-Mu kami mati dan hidup), dan apabila bangun beliau membaca doa: ALHAMDULILLAAHILLDAZII AHYAANAA BA'DA MAA AMAATANAA WAILAIHINNUSYUUR (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah Dia mematikan kami dan kepada-Nya kita dibangkitkan)."  (HR. Al Bukhari: 6846 - shahih dari Abu Dzar, kitab tauhid bab memohon dan berlindung dengan perantaraan nama-nama Allah)

Lafadz lain,

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ إِسْمَعِيلَ بْنِ مُجَالِدِ بْنِ سَعِيدٍ الْهَمْدَانِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ رِبْعِيٍّ عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا وَإِذَا اسْتَيْقَظَ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَا نَفْسِي بَعْدَ مَا أَمَاتَهَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. (رواه الترمذي: ٣٣٣٩)

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Isma'il bin Mujalid bin Sa'id Al Hamdani telah menceritakan kepada kami ayahku dari Abdul Malik bin 'Umair dari Rib'i dari Hudzaifah bin Al Yamani radliallahu 'anhuma bahwa Rasulullah ﷺ apabila hendak tidur mengucapkan: "ALLAAHUMMA BISMIKA AMUUTU WA AHYAA" (Ya Allah, dengan menyebut nama-Mu aku mati dan hidup). Dan apabila beliau bangun mengucapkan: "ALHAMDULILLAAHILLADZII AHYAA NAFSII BA'DA MAA AMAATAHAA WA ILAIHIN NUSYUUR." (Segala puji bagi Allah Yang telah menghidupkan diriku setelah mematikannya, dan kepadanya kami dikumpulkan). Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan shahih." (HR. At Tirmidzi: 3339 - shahih dari Hudzaifah)

Penjelasan hadits:

1. Riwayat dari Hudzaifah bin Yaman, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 36 H. Diriwayatkan oleh:
Al Bukhari: 5837, 5839, 5849 dan 6845, at Tirmidzi: 3339, Abu Daud: 4390.
2. Riwayat dari Abu Dzar nama aslinya Jundub bin Junadah, ia shahabat negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H. Diriwayatkan oleh:
Al Bukhari: 5850 dan 6846.
3. Al Barra' bin 'Azib bin al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Imarah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 72 H. Diriwayatkan oleh:
Muslim: 4886, Ahmad: 17862 dan 17938.

Penjelasan dalam hadits at Tirmidzi: 3339 terdapat periwayat Umar bin Isma'il bin Mujalid, ia tabi'ul atba' kalangan tua negeri hidup Kufah. Penilaian ulama: ad Daruquthni menilainya dha'if dan Abu Hatim menilainya dha'iful hadits, an Nasa'i menilainya matrukul hadits, Ibnu Hajar menilainya matruk sementara adz Dzahabi menilainya tertuduh.
Al Albani menshahihkan hadits tersebut.
Pada riwayat Ahmad terdapat Abu Bakar bin Abu Musa 'Abdullah bin Qais, tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Kufah dan wafat tahun 106 H. Penilaian ulama: Muhammad menilainya dha'if,  al 'Ajli mentsiqahkannya Ibnu Hajar menilainya tsiqah dan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat".

Doa hendak tidur dan bangun tidur, sebagaimana imam al Bukhari meriwayatkan, beliau berkata:

حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ عَنْ خَرَشَةَ بْنِ الحُرِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ مِنْ اللَّيْلِ قَالَ بِاسْمِكَ نَمُوتُ وَنَحْيَا فَإِذَا اسْتَيْقَظَ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ. (رواه البخاري: ٦٨٤٦)

Telah menceritakan kepada kami Sa'd bin Hafsh telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Manshur dari Rib'iy bin Khirasy dari Kharasyah bin Alhurr dari Abu Dzar berkata, "Nabi ﷺ jika mendatangi tempat tidurnya (tidur) di malam hari, maka beliau memanjatkan doa: 'BISMIKA NAMUUTU WA NAHYAA (Dengan nama-Mu kami mati dan hidup), dan apabila bangun beliau membaca doa: ALHAMDULILLAAHILLDAZII AHYAANAA BA'DA MAA AMAATANAA WAILAIHINNUSYUUR (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah Dia mematikan kami dan kepada-Nya kita dibangkitkan)."  (HR. Al Bukhari: 6846 - shahih dari Abu Dzar, kitab tauhid bab memohon dan berlindung dengan perantaraan nama-nama Allah)

Lafadz lain,

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ إِسْمَعِيلَ بْنِ مُجَالِدِ بْنِ سَعِيدٍ الْهَمْدَانِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ رِبْعِيٍّ عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا وَإِذَا اسْتَيْقَظَ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَا نَفْسِي بَعْدَ مَا أَمَاتَهَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ.

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. (رواه الترمذي: ٣٣٣٩)

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Isma'il bin Mujalid bin Sa'id Al Hamdani telah menceritakan kepada kami ayahku dari Abdul Malik bin 'Umair dari Rib'i dari Hudzaifah bin Al Yamani radliallahu 'anhuma bahwa Rasulullah ﷺ apabila hendak tidur mengucapkan: "ALLAAHUMMA BISMIKA AMUUTU WA AHYAA" (Ya Allah, dengan menyebut nama-Mu aku mati dan hidup). Dan apabila beliau bangun mengucapkan: "ALHAMDULILLAAHILLADZII AHYAA NAFSII BA'DA MAA AMAATAHAA WA ILAIHIN NUSYUUR." (Segala puji bagi Allah Yang telah menghidupkan diriku setelah mematikannya, dan kepadanya kami dikumpulkan).

Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan shahih." (HR. At Tirmidzi: 3339 - shahih dari Hudzaifah)

Penjelasan hadits:

1. Riwayat dari Hudzaifah bin Yaman, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 36 H. Diriwayatkan oleh:
Al Bukhari: 5837, 5839, 5849, 6845, at Tirmidzi: 3339, Abu Daud: 4390.
2. Riwayat dari Abu Dzar nama aslinya Jundub bin Junadah, ia shahabat negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H. Diriwayat oleh:
Al Bukhari: 5850, 6846.
3. Al Barra' bin 'Azib bin al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Imarah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 72 H. Diriwayatkan oleh:
Muslim: 4886, Ahmad: 17862 dan 17938.

Penjelasan dalam hadits at Tirmidzi: 3339 terdapat periwayat Umar bin Isma'il bin Mujalid, ia tabi'ul atba' kalangan tua negeri hidup Kufah. Penilaian ulama: ad Daruquthni menilainya dha'if dan Abu Hatim menilainya dha'iful hadits, an Nasa'i menilainya matrukul hadits, Ibnu Hajar menilainya matruk sementara adz Dzahabi menilainya tertuduh. Al Albani menshahihkan hadits tersebut.
Pada riwayat Ahmad terdapat Abu Bakar bin Abu Musa 'Abdullah bin Qais, tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Kufah dan wafat tahun 106 H. Penilaian ulama: Muhammad menilainya dha'if,  al 'Ajli mentsiqahkannya Ibnu Hajar menilainya tsiqah dan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat".

Rasulullah ﷺ mengajarkan supaya berwudhuk dan membersihkan tempat tidur. Kemudian tidur miring ke kanan dan membaca doa. Terdapat beberapa doa sebagaimana tersebut dalam hadits-hadits di atas. Doa yang mana saja boleh dibaca, karena diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Sehingga tidur seorang Muslim dikatakan sebagai ibadah. Begitu juga bahwa Allah akan menjauhkannya dari mudharat. Jika ia wafat pada waktu tidup sedangkan ia telah melaksanakan sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah ﷺ maka ia wafat dalam keadaan fitrah (dalam keislaman) baik malam maupun siangnya tetap dalam berkah dan perlindungan-Nya.

Wallaahu a'lam bish shawaab,

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]