HATI DALAM JEMARI ALLAH
(sumber penggerak dan kendali akal, harapan dan istiqamah)
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Allah menganugerahkan bentuk dan potensi yang sempurna kepada manusia. Karena manusia diciprakan untuk mengemban amanah yang sangat berat. Sehingga tidak mampu diemban oleh makhluk selainnya. Baik oleh Malaikat, Jin, Binatang, Gunung dan lain sebagainya. Sehingga Allah mesti memberikan potensi luar biasa kepada Manusia. Oleh karena itu, Allah menganugerahkan pendengaran, penglihatan dan hati nurani. Hal ini bertujuan agar manusia dapat menangkap dan menafsirkan apa yang mereka alami, baik yang mereka dengar, lihat dan rasakan. Kemudian diterjemahkan dalam sikap dan perbuatan setiap saat.
Selanjutnya, untuk itu perlu disiapkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan akal berikut: Apakah penggerak yang diciptakan Allah bagi manusia? Kenapa harus dijadikan penggerak perbuatan manusia? Apakah perlu memohon kepada Sang Pencipta agar tetap dalam taat dan agamanya? Sejauhmana pengaruh hati dalam kehidupan manusia?. Pertanyaan-pertanyaan ini penulis coba menjawabnya dengan uraian nash al Qur'an dan al Hadits.
Imam Muslim berkata,
حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَابْنُ نُمَيْرٍ كِلَاهُمَا عَنْ الْمُقْرِئِ قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ قَالَ حَدَّثَنَا حَيْوَةُ أَخْبَرَنِي أَبُو هَانِئٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيَّ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُا
أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ. (رواه مسلم: ٤٧٩٨)
Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb dan Ibnu Numair keduanya dari Al Muqri. Zuhair berkata; Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yazid Al Muqri dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Haiwah; Telah mengabarkan kepadaku Abu Hani bahwa dia mendengar Abu 'Abdur Rahman Al Hubuli dia mendengar 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash berkata; bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah bagaikan menjadi satu hati. Allah Subhanahhu wa Ta'ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya." Setelah itu, Rasulullah ﷺ berdoa; 'Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu!". (HR. Muslim: 4798 - shahih dari 'Abdullah bin 'Amru bin al 'Ash bin Wa'il, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H. Hadits 'aziz, karena imam Muslim meriwayatkan dari dua orang gurunya yaitu Zuhair bin Harbi w. 234 H dan Muhammad bin 'Abdullah bin Numair w. 234 H)
Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 6281- isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Amru bin al 'Ash bin Wa'il, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H.
Demikian juga hadits riwayat imam Ibnu Majah dengan lafazh semakna,
حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا ابْنُ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ بُسْرَ بْنَ عُبَيْدِ اللَّهِ يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيَّ يَقُولُ حَدَّثَنِي النَّوَّاسُ بْنُ سَمْعَانَ الْكِلَابِيُّ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ قَلْبٍ إِلَّا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ إِنْ شَاءَ أَقَامَهُ وَإِنْ شَاءَ أَزَاغَهُ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَا مُثَبِّتَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ قَالَ وَالْمِيزَانُ بِيَدِ الرَّحْمَنِ يَرْفَعُ أَقْوَامًا وَيَخْفِضُ آخَرِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. (رواه إبن ماجه: ١٩٥)
Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin 'Ammar berkata, telah menceritakan kepada kami Shadaqah bin Khalid berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Jabir ia berkata; aku mendengar Busr bin Ubaidullah berkata; aku mendengar Abu Idris Al Khaulani berkata; telah menceritakan kepada kami An Nawwas bin Sam'an Al Kilabi ia berkata; Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada satu keping hatipun kecuali berada di antara dua jari Ar Rahman. Jika berkehendak maka Ia akan meluruskannya, dan jika berkehendak maka Ia akan menyesatkannya." Dan Rasulullah ﷺ selalu berdoa, "Wahai Dzat yang meneguhkan hati, teguhkanlah hatiku di atas dien-Mu." Beliau bersabda, "Timbangan amal berada di tangan Ar Rahman, Dia mengangkat suatu kaum dan menjatuhkan yang lainnya hingga hari kiamat." (HR. Ibnu Majah: 195 - shahih dari An Nawwas bin Sam'an, ia shahabat dan negeri hidup Syam. Hadits ahlusy Syam)
Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 16972 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari An Nawwas bin Sam'an, ia shahabat dan negeri hidup Syam. Hadits ahlusy Syam.
Redaksi semakna juga diriwayatkan oleh imam Ahmad, beliau berkata:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا رِشْدِينُ حَدَّثَنِي أَبُو هَانِئٍ الْخَوْلَانِيُّ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِي
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَلْبُ ابْنِ آدَمَ عَلَى إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الْجَبَّارِ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا شَاءَ أَنْ يُقَلِّبَهُ قَلَّبَهُ فَكَانَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ. (رواه أحمد: ٦٣٢١)
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Risydin telah menceritakan kepadaku Abu Hani` Al Khaulani dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Hati anak Adam itu berada di antara dua jari dari jari-jari Allah Subhanahu wa Ta'ala, jika Ia berkehendak untuk membalikkannya maka Ia balikkan." Dan sungguh Rasulullah ﷺ selalu membaca, " Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati." (HR. Ahmad: 6321 - shahih, isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Amru bin al 'Ash bin Wa'il, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad Maru dan wafat tahun 63 H)
Catatan: dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 6321 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits. Ia adalah Riaydin bin Sa'ad Muflih, ia tabi'uth tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu al Hajjaj negeri hidup Maru dan wafat tahun 188 H. Penilaian ulama: Abu Hatim, Abu Zur'ah, an Nasa'i, Abu Daud, ad Daruquthni menilainya dha'iful hadits. Sementara Ibnu Sa'ad dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Selebihnya maqbul.
Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling berhati-hati dalam semua tindakannya, sehingga hal yang penting tidak pernah beliau tinggalkan. Seperti halnya memohon kepada Allah agar terhindar dari azab kubur. Begitu juga terkait dengan memohon ketetapan hati supaya tetap taat dan tetap dalam agama Allah yang lurus. Oleh karena itu, beliau senantiasa berdoa dengan serius.
Imam Ahmad berkata,
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ عَنْ صَالِحِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ زَائِدَةَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ
مَا رَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ إِلَّا قَالَ يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى طَاعَتِكَ. (رواه أحمد: ٩٠٥٢)
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah berkata; telah menceritakan kepada kami Hatim bin Isma'il dari Shalih bin Muhammad bin Za`idah dari Abu Salamah dari 'Aisyah ia berkata; Rasulullah ﷺ tidak pernah mengangkat kepalanya ke langit kecuali beliau berdoa, "Wahai Dzat yang mengubah hati tetapkanlah hatiku untuk menaati-Mu." (HR. Ahmad: 9052 - shahih lighairi, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Aisyah bin Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Anas bin Malik pernah bertanya kepada Rasulullah tentang hati, "apakah engkau masih mengkhawatirkan kami?". Pernyataan ini terekam dalam riwayat imam Ahmad, beliau berkata:
حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ قَالَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا قَالَ فَقَالَ نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا. (رواه أحمد: ١١٦٦٤)
Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Al A'masy dari Abu Sufyan dari Anas ia berkata; Bahwasanya Nabi ﷺ banyak mengucapkan doa, "YA MUQALLIBAL QULUUBI TSABBIT QALBII 'ALAA DIINIKA (ya Allah Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu)." Anas berkata; Maka kami berkata, "Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan kepada wahyu yang engkau bawa, maka apakah engkau masih mengkhawatirkan kami?" beliau menjawab, "Ya, sesungguhnya hati itu berada di antara jari-jari Allah 'Azza wa Jalla, Dialah yang membolak-balikkannya." (HR. Ahmad: 11664 - isnadnya qawiy menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)
Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 13200 dengan redaksi "fagaala lahu ashhaabuhu wa ahluhu" - isnadnya qawiy menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H.
Kedua hadits menunjukkan bahwa orang yang bertanya tersebut bukan saja Anas bin Malik, tetapi banyak shahabat mempertanyakan hal tersebut.
Allah memberikan tamtsil pada hati yang keras, namun padanya juga terdapat aliran sungai, ada juga yang tunduk karena takut kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوْبُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ اَوْ اَشَدُّ قَسْوَةً ۗ وَاِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْاَنْهٰرُ ۗ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاۤءُ ۗوَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗوَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ. (قرآن سورة البقرة/٢: ٧٤)
Setelah itu, hatimu menjadi keras sehingga ia (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal, dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar. Ada pula yang terbelah, lalu keluarlah mata air darinya, dan ada lagi yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah/2: 74)
Dalam ayat ini diungkapkan watak orang-orang Yahudi. Sesudah mereka diberi petunjuk ke jalan yang benar dan sudah pula memahami kebenaran, hati mereka keras membatu bahkan lebih keras lagi. Allah mengumpamakan hati orang Yahudi itu dengan batu yang dalam istilah geologi digunakan untuk menyebut segala macam benda yang merupakan spesies dari karang, atau materi seperti karang yang bersifat keras, untuk menunjukkan kekerasan hati mereka untuk menerima petunjuk Allah. Bahkan mungkin lebih keras lagi. Walaupun batu itu keras, tetapi pada suatu saat dan oleh suatu sebab dapat terbelah atau retak. Dari batu yang retak itu memancarlah air, dan kemudian berkumpul menjadi anak-anak sungai.
Kadang-kadang batu-batu itu jatuh dari gunung karena patuh kepada kekuasaan Allah. Demikianlah halnya hati orang Yahudi lebih keras dari batu bagaikan tak mengenal retak sedikit pun. Hati mereka tidak terpengaruh oleh ajaran-ajaran agama ataupun nasihat-nasihat yang biasanya dapat menembus hati manusia. Namun demikian, di antara hati yang keras membatu itu terdapat hati yang disinari iman, sehingga hati itu berubah dari keras menjadi lembut karena takut kepada Allah.
Yang demikian itu banyak disaksikan dalam kehidupan sehari-hari. Hati yang tadinya biasa membangkang menentang agama akhirnya menjadi lembut, orang yang biasanya berbuat maksiat menjadi orang yang taat berkat petunjuk Allah.
وَاِنَّ مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَمَنْ يُّؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِمْ خٰشِعِيْنَ لِلّٰهِ ۙ لَا يَشْتَرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ١٩٩)
Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada yang beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu, dan yang diturunkan kepada mereka, karena mereka berendah hati kepada Allah, dan mereka tidak memperjualbelikan ayat-ayat Allah dengan harga murah. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS. Āli ‘Imrān/3: 199)
Demikian pula pada ayat lain, Allah berfirman:
وَمِنَ الْاَعْرَابِ مَنْ يُّؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ قُرُبٰتٍ عِنْدَ اللّٰهِ وَصَلَوٰتِ الرَّسُوْلِ ۗ. (قرآن سورة التوبة/٩: ٩٩)
Dan di antara orang-orang Arab Badui itu, ada yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang diinfakkannya (di jalan Allah) sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai jalan untuk (memperoleh) doa Rasul. (QS. at-Taubah/9: 99)
Menurut saintis, kata “hati” tidak menunjuk pada organ hati (liver), melainkan umumnya mengacu kepada jantung. Jantung adalah suatu organ bagian dalam, terletak di bagian dada dan berukuran sebesar kepalan tangan. Jantung terbagi dalam dua sisi, yaitu sisi kanan dan sisi kiri. Setiap sisi terbagi lagi menjadi dua ruang, yaitu ruang atas (atrium) dan ruang bawah (ventrikel). Ruang-ruang itu berdenyut sebanyak 70 kali per menit untuk menjaga aliran darah ke seluruh tubuh. Apabila dihitung, maka jantung akan berdenyut sebanyak lebih dari 30 juta kali dalam setahunnya. Perjalanan darah, apabila diukur dan dimulai dari paru-paru dan jantung, akan mengalir melalui urat darah di seluruh tubuh sepanjang 96.000 km. Jarak tersebut ditempuh dalam 23 detik setiap kali putaran. Terlihat bagaimana pentingnya peran jantung dalam kehidupan manusia.
Kata jantung dalam bahasa Arab adalah ‘qalb’. Kata tersebut juga digunakan untuk maksud lain, yaitu untuk mengartikan perasaan atau kalbu. Kalbu, sebagaimana jantung, dalam kehidupan juga sangat penting. Nabi Muhammad ﷺ, setelah mencontohkan banyak hal mengenai kebaikan dan keburukan, mengatakan mengenai kalbu dalam artian pusat rasa atau pusat kepekaan.
Imam al Bukhari meriwayatkan,
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ عَنْ عَامِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ فَمَنْ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلَا إِنَّ حِمَى اللَّهِ فِي أَرْضِهِ مَحَارِمُهُ أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ. (رواه البخاري: ٥٠)
Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim Telah menceritakan kepada kami Zakaria dari 'Amir berkata; aku mendengar An Nu'man bin Basyir berkata; aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Yang halal sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas. Namun diantara keduanya ada perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh banyak orang. Maka barangsiapa yang menjauhi diri dari yang syubhat berarti telah memelihara agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang sampai jatuh (mengerjakan) pada perkara-perkara syubhat, sungguh dia seperti seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di pinggir tempat terlarang untuk menggembala yang dikhawatirkan akan jatuh ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki batasan, dan ketahuilah bahwa batasan larangan Allah di bumi-Nya adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Dan ketahuilah pada setiap tubuh ada segumpal darah yang apabila baik maka baiklah tubuh tersebut dan apabila rusak maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati". (HR. Al Bukhari: 50 - shahih dari an Nu'man bin Basyir bin Sa'ad, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 65 H. Hadits ahlul Kufah)
Demikian juga hadits riwayat imam Muslim: 2996 (masyhur, dari tujuh jalur sanad diriwayat dari lima orang guru), Ibnu Majah: 3974, Ahmad: 17649 (hadits 'aziz, imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang guru), Ad Darimi: 2419 (hadits ahlul Kufah) - shahih dari an Nu'man bin Basyir bin Sa'ad, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 65 H. Sementara hadits semak, namun tidak menyebutkan "Inna fil jasadi.... ", diriwayatkan oleh imam al Bukhari: 1910, at Tirmidzi: 1126 dan Ahmad: 17645 - shahih dari an Nu'man bin Basyir bin Sa'ad, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 65 H.
Jantung atau kalbu sering juga disandingkan dengan “hati”. Seringkali disatukan dan menjadi jantung-hati. Ada beberapa ayat terkait mengenai hati dan kepekaan, dua di antaranya adalah Surah al-Isrā'/17: 46 dan Qāf/50: 37 yang artinya sebagai berikut:
“Dan Kami jadikan hati mereka terutup dan telinga mereka tersumbat, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila engkau menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Quran, mereka berpaling ke belakang melarikan diri (karena benci).” (QS. al-Isrā'/17: 46)
“Sungguh, pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengaran, sedang dia menyangsikannya.” (QS. Qāf/50: 37)
Dalam bahasa Al-Qur'an, disebutkan bahwa hati yang ditutup akan menjadikan pemiliknya tidak dapat menerima kebenaran apalagi mengikutinya. Ia hanya dapat mengikuti hal-hal yang tidak sejalan dengan yang benar, yakni hawa nafsu. Penutupan hati yang dilakukan Allah adalah sebagai dampak dari perbuatan mereka sendiri. Mereka enggan menggunakan pendengaran, penglihatan dan hatinya, sehingga pada akhirnya hati berkarat dan tertutup.
Secara tradisional, orang menganggap bahwa komunikasi antara kepala/otak (akal) dan jantung/hati (perasaan) berlangsung satu arah, yaitu bagaimana hati bereaksi terhadap apa yang diperintahkan otak. Akan tetapi, sekarang terungkap bahwa komunikasi antara hati dan otak berlangsung sangat dinamis, terus menerus, dua arah, dan setiap organ tersebut saling mempengaruhi fungsi mereka satu sama lain.
Suatu penelitian mengungkap bahwa hati melakukan komunikasi ke otak dalam empat jalan, yaitu (1) transmisi melalui syaraf, (2) secara biokimia melalui hormon dan transmiter syaraf, (3) secara biofisik melalui gelombang tekanan, dan (4) secara energi melalui interaksi gelombang elektromagnetik. Semua bentuk komunikasi tersebut mengakibatkan terjadinya aktivitas di otak. Penelitian mengungkapkan bahwa pesan yang disampaikan hati kepada otak akan memengaruhi perilaku.
Selama ini para ahli mempercayai bahwa medan elektromagnetik hati adalah medan yang paling kuat yang dimiliki manusia. Medan ini tidak hanya memengaruhi setiap sel yang ada dalam tubuhnya, akan tetapi juga mencakup ke segala arah ruang di sekitarnya. Diduga bahwa medan elektromagnetik adalah pembawa informasi yang sangat penting. Bahkan dapat dibuktikan pula bahwa medan elektromagnetik seseorang dapat memengaruhi cara kerja otak orang lain.
Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa hati yang dianugerahkan kepada manusia memberikan peran yang sangat penting. Karena disinilah terpaut semua pesan dan penggerak organ tubuh. Oleh karena itu, memeliharanya sangat urgen dan bermanfaat untuk kelangsungan hidup. Semua yang dilakukan manusia tergantung pada kondisi hatinya. Akal sebagai penangkap hal yang matril akan menggerakkan anggota tubuh secara simultan.
Selanjutnya, sebagai seorang muslim sejati mesti memperhatikan sungguh-sungguh hatinya. Apakah sudah baik atau belum?. Sehingga ia mejadi tenang dan mendapatkan fungsi sejati. Wallaahu a'lam bish shawab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏