BERDOA UNTUK DIRI SENDIRI
(contoh hadits mudraj "tambahan")
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Imam Ibnu Majah berkata,
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ عَنْ مُوسَى بْنِ عُبَيْدَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي وَزِدْنِي عِلْمًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ. (رواه إبن ماجه: ٢٤٧)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair dari Musa bin Ubaidah dari Muhammad bin Tsabit dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah ﷺ berdoa, "Ya Allah, berilah aku manfa'at dengan ilmu yang Engkau ajarkan kepadaku, ajarilah aku sesuatu yang bermanfaat bagiku, dan tambahkanlah ilmu kepadaku, segala puji bagi Allah atas setiap kondisi." (HR. Ibnu Majah: 247 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Sementara pada tempat lain imam Ibnu Majah meriwayatkan dengan tambahan kalimat "wa na'uudzu billaahi min 'adzaabin naari", beliau berkata:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ عَنْ مُوسَى بْنِ عُبَيْدَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي وَزِدْنِي عِلْمًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ. (رواه إبن ماجه: ٣٨٢٣)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair dari Musa bin 'Ubaidah dari Muhammad bin Tsabit dari Abu Hurairah dia berkata, "Ya Allah, berikanlah kemanfa'atan atas apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, dan ajarkanlah aku apa-apa yang bermanfa'at untuk diriku, tambahkanlah kepadaku ilmu. Dan segala puji bagi Allah atas semua keadaan, aku pun berlindung kepada Allah dari siksa api neraka." (HR. Ibnu Majah: 3823 - shahih tanpa redaksi "walhamdu" menurut al Albani dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Catatan: dalam sanad hadits riwayat imam Abu Daud: 3823 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) yaitu:
1. Muhammad bin Tsabit, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat]. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in menilainya laa A'rifuhu, sementara adz Dzahabi menilainya jahlun.
2. Musa bin Ubaidah bin Nusyaith, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu 'Abdul 'Aziz negeri hidup Madinah dan wafat tahun 153 H. Penilaian ulama: Hakim dan Abu Zur'ah menilainya laisa bi qawi. Yahya bin Ma'in, Ibnul Madini, at Tirmidzi, an Nasa'i, Ibnu Qani', Ibnu Hibban dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Sementara adz Dzahabi berkata, "mereka mendha'ifkannya". Sedangkan Ya'qub bin Syu'bah menilainya dha'if jiddan. As Saji, Ahmad bin Hanbal dan Abu Hatim menilainya munkarul hadits. Periwayat yang menerima darinya adalah periwayat maqbul.
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka hadits yang paling shahih adalah hadits riwayat Ibnu Majah: 247 untuk hadits redaksi ini. Demikian juga hadits riwayat imam at Tirmidzi: 3523 dengan periwayat yang sama yaitu Muhammad bin Tsabit dan Musa bin Ubaidah bin Nusyaith - shahih tanpa redaksi "walhamdu" menurut al Albani dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hadits riwayat imam Ibnu Majah: 3823 dan at Tirmidzi: 3523 adalah hadits dha'if karena terdapat tambahan redaksi (mudraj). Sehingga hadits ini tidak dapat diamalkan. Sebab redaksi yang benar dari Rasulullah ﷺ adalah seperti redaksi hadits riwayat imam Ibnu Majah: 247 di atas. Hal ini juga terlihat dari redaksi atau matan hadits. Hadits 247, Abu Hurairah yang langsung menerima dari Rasulullah ﷺ. Sedangkan hadits Ibnu Majah: 3823 dan at Tirmidzi 3523 diriwayatkan oleh bapaknya Muhammad bin Tsabit dari Abu Hurairah. Boleh jadi itu lafazh dari Muhammad bin Tsabit. Wallaahu a'alam bish Shawaab.
Berdoa untuk diri sendiri penting, agar kelemahan diri dapat diketahui. Pengakuan tersebut terungkap dengan tulus dari lantunan doa yang keluar dari lisan sendiri. Sehingga rasa bertuhan lebih melekat kedalam jiwa. Para nabi dan Rasul Allah ketika mengakui kelemahannya dihadapan Allah, doa mereka diijabah langsung oleh Allah. Seperti doa nabi Musa kepada Allah yang diabadikan dalam al Qur'an. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ ۙ. (قرآن شورة طه/٢٠: ٢٥)
Dia (Musa) berkata, “Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku. (QS. Ṭāhā/20: 25)
وَيَسِّرْ لِيْٓ اَمْرِيْ ۙ. (قرآن شورة طه/٢٠: ٢٦)
mudahkanlah untukku urusanku. (QS. Ṭāhā/20: 26)
وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ ۙ. (قرآن شورة طه/٢٠: ٢٧)
dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku. (QS. Ṭāhā/20: 27)
يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ ۖ. (قرآن شورة طه/٢٠: ٢٨)
agar mereka mengerti perkataanku. (QS. Ṭāhā/20: 28)
وَاجْعَلْ لِّيْ وَزِيْرًا مِّنْ اَهْلِيْ ۙ. (قرآن شورة طه/٢٠: ٢٩)
Jadikanlah untukku seorang penolong dari keluargaku. (QS. Ṭāhā/20: 29)
هٰرُوْنَ اَخِى ۙ. (قرآن شورة طه/٢٠: ٣٠)
(yaitu) Harun, saudaraku. (QS. Ṭāhā/20: 30)
اشْدُدْ بِهٖٓ اَزْرِيْ ۙ. (قرآن شورة طه/٢٠: ٣١)
Teguhkanlah kekuatanku dengannya. (QS. Ṭāhā/20: 31)
وَاَشْرِكْهُ فِيْٓ اَمْرِيْ ۙ. (قرآن شورة طه/٢٠: ٣٢)
dan sertakan dia dalam urusanku (kenabian). (QS. Ṭāhā/20: 32)
كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيْرًا ۙ. (قرآن شورة طه/٢٠: ٣٣)
agar kami banyak bertasbih kepada-Mu. (QS. Ṭāhā/20: 33)
وَّنَذْكُرَكَ كَثِيْرًا ۗ. (قرآن شورة طه/٢٠: ٣٤)
dan banyak berzikir kepada-Mu. (QS. Ṭāhā/20: 34)
اِنَّكَ كُنْتَ بِنَا بَصِيْرًا. (قرآن شورة طه/٢٠: ٣٥)
Sesungguhnya Engkau Maha Melihat (keadaan) kami.” (QS. Ṭāhā/20: 35)
قَالَ قَدْ اُوْتِيْتَ سُؤْلَكَ يٰمُوْسٰى. (قرآن شورة طه/٢٠: ٣٦)
(Allah) berfirman, “Sungguh, telah diperkenankan permintaanmu, wahai Musa. (QS. Ṭāhā/20: 36)
Firman Allah dalam al Qur'an surat Thaha/20 ayat 25 sampai dengan ayat 36 di atas menunjukkan bahwa doa seorang nabi dan rasul Allah Musa 'alaihis shalatu was salaam diijabah oleh Allah karena mengakui kelemahannya dalam berbicara dan menganggap kepiawaian Nabi Harun 'alaihis salam dalam menyampaikan risalah kenabian. Hal ini bertujuan agar membantu Nabi Musa juga dalam beribadah dan mengajak umatnya menyembah Allah bersama mereka. Pada ayat ke-36, Allah berfirman, "Sungguh, telah diperkenankan permintaanmu, wahai Musa".
Wallaahu a'alam bish Shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
*) penulis telah beberapa judul membahas tentang doa dalam blog ini: https://ibnusyamsir.blogspot.com/



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏