PUASA SEMBILAN HARI AWAL BULAN DAN PUASA ARAFAH TANGGAL 9 DZULHIJAH SERTA FADHILAHNYA
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
Hadits terkait dengan masalah ini ditemukan seolah-olah bertentangan satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu perlu dilacak keberadaannya dengan metode takhrij, menelusuri hadits-hadits terkait kepada kitab aslinya. Kemudian dikumpulkan dan diklasifikasikan. Seterusnya diformulasikan hadits yang semakna dan memisahkan mana yang maqbul (dapat diterima) dengan yang tidak maqbul, dengan menjelaskan kualitas sanad dan matannya. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa berpuasa atau tidak berpuasa pada hari atau bulan dimaksud dapat dipahami ternyata beliau tidak berpuasa pada sembilan hari atau pada tanggal sembilan Dzulhijah ketika berada di Arafah. Untuk mengetahui hal ini diperlukan mengetahui sabab wurud yang diisyaratkan dalam teks hadits dan hasil analisa per-riwayat.
Berikut penulis paparkan hadits-hadits terkait dengan masalah tersebut di atas:
Imam Abu Daud berkata:
حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ أَبِي النَّضْرِ عَنْ عُمَيْرٍ مَوْلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ بِنْتِ الْحَارِثِ أَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ بِعَرَفَةَ فَشَرِبَ. (رواه أبوداود: ٢٠٨٥)
Telah menceritakan kepada kami Al Qa'nabi dari Malik dari Abu An Nadhr dari 'Umair mantan budak Abdullah bin Abbas, dari Ummu Al Fadhl binti Al Harits bahwa beberapa orang berselisih di hadapannya pada Hari 'Arafah mengenai puasa Rasulullah ﷺ, kemudian sebagian mereka mengatakan; beliau berpuasa, dan sebagian mereka mengatakan; beliau tidak berpuasa. Kemudian Ummu Al Fadhal mengirimkan mangkuk yang berisi susu kepada beliau sementara beliau sedang berada di atas untanya di 'Arafah lalu beliau meminumnya. (HR. Abu Daud: 2085 - shahih dari Lubabah binti al Harits bin Hazan, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu al Fadhal dan negeri hidup Madinah. Hadits ahlul Madinah)
Demikian juga hadits riwayat imam al Bukhari: 5175, Muslim: 1894 (hadits masyhur, karena imam Muslim meriwayatkan dari empat orang gurunya) - shahih dari Lubabah binti al Harits bin Hazan, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu al Fadhal dan negeri hidup Madinah. Begitu juga hadits riwayat Muslim: 1895.
Redaksi lain diriwayatkan oleh imam al Bukhari, beliau berkata:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ أَبِي النَّضْرِ عَنْ عُمَيْرٍ مَوْلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْعَبَّاسِ عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ بِنْتِ الْحَارِثِ
أَنَّ نَاسًا اخْتَلَفُوا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلْتُ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ فَشَرِبَهُ. (رواه البخاري: ١٥٥١)
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Abu An-Nadhar dari 'Umair, maula Ibnu 'Abbas radhiallahu'anhu dari Ummu Al Fadhal binti Al Harits bahwa, "Orang-orang ragu tentang puasa Nabi ﷺ pada hari 'Arafah. Sebagian dari mereka mengatakan beliau berpuasa, sebagian yang lain mengatakan tidak, Lalu aku utus seseorang membawakan segelas susu ketika beliau sedang wuquf, maka beliau meminumnya". (HR. Al Bukhari: 1551 - shahih dari Lubabah binti al Harits bin Hazan, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu al Fadhal dan negeri hidup Madinah. Hadits ahlul Madinah)
Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 1852 - shahih dari Lubabah binti al Harits bin Hazan, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu al Fadhal dan negeri hidup Madinah. Hadits 'aziz, karena imam al Bukhari menerima dari dua orang guru beliau yaitu Musaddad bin Musarhad bin Musarbal bin Mustawrad, ia tabi'ul atba' kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 228 H. Penilaian ulama: an Nasa'i, al 'Ajli dan Abu Hatim menilainya tsiqah. Sedangkan Yahya bin Ma'in dan Ahmad bin Hanbal menilainya shaduq. Sementara Ibnu Hajar menilainya tsiqah hafizh dan Adz Dzahabi menilainya hafizh. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat". Dan, 'Abdullah bin Yusuf, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 218 H. Penilaian ulama: al 'Ajli dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah. Sementara adz Dzahabi menilainya hafizh. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat".
Pada tempat lain ditemukan riwayat bahwa imam Muslim berkata:
و حَدَّثَنِي هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الْأَيْلِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرٌو عَنْ بُكَيْرِ بْنِ الْأَشَجِّ عَنْ كُرَيْبٍ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ مَيْمُونَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا قَالَتْ
إِنَّ النَّاسَ شَكُّوا فِي صِيَامِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَرَفَةَ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ مَيْمُونَةُ بِحِلَابِ اللَّبَنِ وَهُوَ وَاقِفٌ فِي الْمَوْقِفِ فَشَرِبَ مِنْهُ وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ إِلَيْهِ. (رواه مسلم: ١٨٩٦)
Telah menceritakan kepadaku Harun bin Sa'id Al Aili telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Amru dari Bukair bin Al Asyajj dari Kuraib Maula Ibnu Abbas radhiallahu'anhuma, dari Maimunah istri Nabi ﷺ, bahwa ia berkata; Orang banyak ragu tentang puasa Rasulullah ﷺ di hari Arafah, lalu kukirim kepada secangkir susu -ketika itu beliau sedang berdiri (wukuf) di tempatnya- lalu susu itupun diminum, sedangkan orang banyak melihatnya. (HR. Muslim: 1896 - shahih dari Maimunah binti al Harits, ia shahabiyah [istri nabi] negeri hidup Madinah dan wafat tahun 51 H)
Demikian juga hadits riwayat imam al Bukhari: 1853 - shahih dari Maimunah binti al Harits, ia shahabiyah [istri nabi] negeri hidup Madinah dan wafat tahun 51 H. Selanjutnya sedaksi semakna diriwayatkan oleh imam Ahmad, beliau berkata:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكٍ حَدَّثَنِي سَالِمٌ أَبُو النَّضْرِ عَنْ عُمَيْرٍ مَوْلَى أُمِّ الْفَضْلِ أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ أَخْبَرَتْهُ
أَنَّهُمْ شَكُّوا فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَرَفَةَ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِلَبَنٍ فَشَرِبَ وَهُوَ يَخْطُبُ النَّاسَ بِعَرَفَةَ عَلَى بَعِيرِهِ
حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ قَالَ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ عَنْ قَابُوسَ بْنِ مُخَارِقٍ عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ قَالَتْ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَتْ مِثْلَ حَدِيثِ عَفَّانَ قَالَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ صَالِحٍ أَبِي الْخَلِيلِ فَذَكَرَ مِثْلَهُ. (رواه أحمد: ٢٥٦٤٧)
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari Malik telah menceritakan kepadaku Salim Abu Nadlr dari 'Umair bekas budak Ummu Fadll, bahwa Ummu Fadll mengabarkan kepadanya, bahwa orang-orang mengadukan tentang puasa Nabi ﷺ pada hari 'Arafah, kemudian Ummu Fadhal mengirim susu untuk beliau, lalu beliau meminumnya padahal beliau sedang berkhutbah di hadapan manusia di atas untanya di hari Arafah." Telah menceritakan kepada kami Hajjaj berkata, telah menceritakan kepada kami Syarik dari Simak bin Harb dari Qabus bin Mukhariq dari Ummu Fadhal dia berkata, "Saya menemui Nabi ﷺ…kemudian dia menyebutkan seperti hadits 'Affan." Abdullah berkata; telah menceritakan kepada kami Wuhaib berkata, telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Shalih Abu Al Khalil lalu ia menyebutkan seperti itu." (HR. Ahmad: 25647 - isnadnya mukhtalif fiihi, namun shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Lubabah binti al Harits bin Hazan, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu al Fadhal dan negeri hidup Madinah. Hadits 'aziz pertabaqat kecuali tingkat shahabat)
Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 3041 dan 25648, masing-masing sebagai berikut:
Imam Ahmad berkata,
دَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ صَالِحٍ مَوْلَى التَّوْأَمَةِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّهُمْ تَمَارَوْا فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَرَفَةَ فَأَرْسَلَتْ أُمُّ الْفَضْلِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِلَبَنٍ فَشَرِبَ. (رواه أحمد: ٣٠٤١)
Telah menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Shalih budak At Tau`amah dari Ibnu Abbas bahwa mereka berselisih tentang puasa Nabi ﷺ pada hari 'Arafah, lalu Ummu Al Fadl mengirimkan susu kepada Nabi ﷺ, maka beliau pun minum. (HR. Ahmad: 3041 - isnadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)
Dan,
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ سَالِمٍ أَبُو النَّضْرِ عَنْ عُمَيْرٍ مَوْلَى أُمِّ الْفَضْلِ عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ
أَنَّهُمْ تَمَارَوْا فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَرَفَةَ فَبَعَثَتْ إِلَيْهِ بِقَدَحٍ فِيهِ لَبَنٌ فَشَرِبَهُ. (رواه أحمد: ٢٥٦٤٨)
Telah menceritakan kepada kami 'Abdurrahman berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Salim Abu Nadlr dari 'Umair bekas budak Ummu Fadhal, dari Ummu Fadhal bahwa para sahabat berselisih mengenai puasa Rasulullah ﷺ di hari Arafah, maka Ummu Fadhal mengirimkan susu kepada Rasulullah dan beliau pun meminumnya." (HR. Ahmad: 25648 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Lubabah binti al Harits bin Hazan, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu al Fadhal dan negeri hidup Madinah)
Berdasarkan hadits-hadits di atas dipahami keraguan tentang puasa 'arafah telah terjawab diwaktu beliau wuquf di arafah beliau tidak puasa. Sehingga keraguan para shahabat waktu itu terjawab. Hadits-hadits dimaksud diriwayatkan secara makna dari Ummu al Fadhal, Maimunah bin al Harits [istri nabi] dan 'Abdullah bin 'Abbas. Semuanya dalam satu makna bahwa Rasulullah ﷺ tidak puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah atau puasa arafah.
Lebih lanjut, terdapat juga hadits yang melarang puasa arafah. Sebagaimana hadits riwayat Ibnu Majah, beliau berkata:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنِي حَوْشَبُ بْنُ عَقِيلٍ حَدَّثَنِي مَهْدِيٌّ الْعَبْدِيُّ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ
دَخَلْتُ عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ فِي بَيْتِهِ فَسَأَلْتُهُ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَاتٍ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَاتٍ. (رواه إبن ماجه: ١٧٢٢)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Ali bin Muhammad keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Waki' berkata, telah menceritakan kepadaku Hausyab bin Aqil berkata, telah menceritakan kepadaku Mahdi Al 'Abdi dari Ikrimah ia berkata, "Aku menemui Abu Hurairah di rumahnya, lalu aku bertanya padanya tentang puasa 'Arafah di hari 'Arafah, maka Abu Hurairah menjawab, "Rasulullah ﷺ melarang berpuasa 'Arafah di hari 'Arafah." (HR. Ibnu Majah: 1722 - dha'if dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Demikian juga hadits riwayat Abu Daud: 2084 - dha'if dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.
SEMENTARA riwayat lain menginformasikan bahwa Rasulullah ﷺ berpuasa pada tanggal sembilan bulan Dzulhijah. Sebagaimana hadits riwayat imam Abu Daud, beliau berkata:
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ الْحُرِّ بْنِ الصَّبَّاحِ عَنْ هُنَيْدَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ امْرَأَتِهِ عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنْ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ. (رواه ابوداود: ٢٠٨١)
Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Al Hurr bin Ash Shabbah, dari Hunaidah bin Khalid dari Seorang wanita dari sebagian istri Nabi ﷺ ia berkata; Rasulullah ﷺ berpuasa pada tanggal sembilan bulan Zulhijah, serta pada Hari 'Asyura` serta tiga hari dari setiap bulan, dan hari Senin serta Kamis pada setiap bulan. (HR. Abu Daud: 2081 - shahih dari Hindun bin Abi Umayyah bin al Mughirah, ia shahabiyah Ummu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 62 H)
Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 21302 - dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari seorang istri nabi. Dalam sanad hadits terdapat periwayat majhul yaitu Imra'ah (istri) Hunaidah bin Khalid, ia tabi'in kalangan tua. Hadits ini 'aziz, karena imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang gurunya, yaitu: Suraij bin an Nu'man bin Marwan, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu al Husain negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 217 H. Penilaian ulama: al 'Ajli dan Abu Daud dan Muhammad bin Sa'ad menilainya tsiqah, sementara ad Daruquthni menilainya tsiqah ma'mun dan adz Dzahabi menilainya tsiqah 'alim. Sedangkan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat". Dan, Affan bin Muslim bin 'Abdullah, ia tabi'ul atba' kalangan tua negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 219 H. Penilaian ulama: Ibnu Sa'ad menilainya tsiqah dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah tsabat. Sedangkan adz Dzahabi menilainya hafizh.
Begitu juga hadits riwayat imam Ahmad: 25263 dan 26109 (sanad sama) - dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari seorang istri nabi. Dalam sanadnya terdapat periwayat majhul yaitu Imra'ah (istri) Hunaidah bin Khalid, ia tabi'in kalangan tua.
Demikian juga hadits riwayat imam an Nasa'i menyatakan justru sembilan hari pada bulan Dzulhijah. Beliau berkata:
أَخْبَرَنِي زَكَرِيَّا بْنُ يَحْيَى قَالَ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ الْحُرِّ بْنِ صَيَّاحٍ عَنْ هُنَيْدَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ امْرَأَتِهِ قَالَتْ حَدَّثَتْنِي بَعْضُ نِسَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَتِسْعًا مِنْ ذِي الْحِجَّةِ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ الشَّهْرِ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنْ الشَّهْرِ وَخَمِيسَيْنِ. (رواه النسائي: ٢٣٣٢)
Telah mengabarkan kepadaku Zakaria bin Yahya dia berkata; telah menceritakan kepada kami Syaibah dia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Al Hurr bin Shayyah dari Hunaidah bin Khalid dari istrinya, dia berkata; telah menceritakan kepadaku sebagian istri-istri Nabi ﷺ, bahwa beliau berpuasa pada hari Asyura, sembilan hari dari bulan Zulhijah dan tiga hari setiap bulan, hari Senin pertama tiap bulan dan dua hari Kamis." (HR. An Nasa'i: 2332 - shahih dari seorang istri nabi)
Demikian juga hadits riwayat imam an Nasa'i: 2374 - shahih dari seorang istri nabi.
Disisi lain Rasulullah ﷺ ditanya oleh para shahabat tentang kedudukan puasa Arafah, ini terekam dalam hadits riwayat imam Muslim. Beliau berkata:
و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ جَمِيعًا عَنْ حَمَّادٍ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ غَيْلَانَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَعْبَدٍ الزِّمَّانِيِّ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ
رَجُلٌ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كَيْفَ تَصُومُ فَغَضِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَأَى عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ غَضَبَهُ قَالَ رَضِينَا بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ غَضَبِ اللَّهِ وَغَضَبِ رَسُولِهِ فَجَعَلَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُرَدِّدُ هَذَا الْكَلَامَ حَتَّى سَكَنَ غَضَبُهُ فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ بِمَنْ يَصُومُ الدَّهْرَ كُلَّهُ قَالَ لَا صَامَ وَلَا أَفْطَرَ أَوْ قَالَ لَمْ يَصُمْ وَلَمْ يُفْطِرْ قَالَ كَيْفَ مَنْ يَصُومُ يَوْمَيْنِ وَيُفْطِرُ يَوْمًا قَالَ وَيُطِيقُ ذَلِكَ أَحَدٌ قَالَ كَيْفَ مَنْ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا قَالَ ذَاكَ صَوْمُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام قَالَ كَيْفَ مَنْ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمَيْنِ قَالَ وَدِدْتُ أَنِّي طُوِّقْتُ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثٌ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ فَهَذَا صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ. (رواه مسلم: ١٩٧٦)
Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At Tamimi dan Qutaibah bin Sa'id semuanya dari Hammad - Yahya berkata- telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ghailan dari Abdullah bin Ma'bad Az Zimani dari Abu Qatadah bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya, "Bagaimanakah Anda berpuasa?" Mendengar pertanyaan itu, Rasulullah ﷺ marah. Dan ketika Umar menyaksikan Rasulullah ﷺ marah, ia berkata, "Kami rela Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Rasul. Kami berlindung kepada Allah, dari murka Allah dan rasul-Nya." Umar mengulang ucapan tersebut hingga kemarahan Rasulullah ﷺ reda. Kemudian ia bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana dengan orang yang berpuasa sepanjang tahun?" Beliau menjawab, "Dia tidak berpuasa dan tidak juga berbuka." -atau beliau katakan dengan redaksi 'Selamanya ia tak dianggap berpuasa dan tidak pula dianggap berbuka-- Umar bertanya lagi, "Bagaimana dengan orang yang berpuasa sehari dan berbuka sehari?" beliau menjawab, "Itu adalah puasa Daud 'alaihissalam." Umar bertanya lagi, "Bagaimana dengan orang yang berpuasa sehari dan berbuka dua hari?" beliau menjawab, "Aku senang, jika diberi kekuatan untuk itu." kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, "Puasa tiga hari setiap bulan, puasa dari Ramadan ke Ramadan sama dengan puasa setahun penuh. Sedangkan puasa pada hari Arafah, aku memohon pula kepada Allah, agar puasa itu bisa menghapus dosa setahun penuh sebelumnya dan setahun sesudahnya. Adapun puasa pada hari 'Asyura`, aku memohon kepada Allah agar puasa tersebut bisa menghapus dosa setahun sebelumnya." (HR. Muslim: 1976 - shahih dari al Harits bin Rib'iy, ia shahabat kuniyahnya Abu Qatadah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H. Hadits 'aziz, karena imam Muslim meriwayatkan dari dua orang gurunya)
Demikian juga hadits riwayat imam Muslim: 1977 (hadits masyhur dengan 6 jalur sanad dari enam orang guru imam Muslim) - shahih dari al Harits bin Rib'iy, ia shahabat kuniyahnya Abu Qatadah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H.
Sedangkan imam Ibnu Majah meriwayatkan sebagian lafazhnya, beliau berkata:
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ أَنْبَأَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا غَيْلَانُ بْنُ جَرِيرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَعْبَدٍ الزِّمَّانِيِّ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالَّتِي بَعْدَهُ. (رواه إبن ماجه: ١٧٢٠)
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdah berkata, telah memberitakan kepada kami Hammad bin Zaid berkata, telah menceritakan kepada kami Ghailan bin Jarir dari Abdullah bin Ma'bad Az Zimani dari Abu Qatadah ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku berharap kepada Allah bahwa puasa pada hari 'Arafah dapat menghapus dosa satu tahun sebelum dan sesudahnya." (HR. Ibnu Majah: 1720 - shahih dari al Harits bin Rib'iy, ia shahabat kuniyahnya Abu Qatadah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H)
Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits semakna, beliau berkata:
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا غَيْلَانُ بْنُ جَرِيرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَعْبَدٍ الزِّمَّانِيِّ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ لَهُ رَجُلٌ أَرَأَيْتَ صِيَامَ عَرَفَةَ قَالَ أَحْتَسِبُ عِنْدَ اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ صَوْمَ عَاشُورَاءَ قَالَ أَحْتَسِبُ عِنْدَ اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ. (رواه أحمد: ٢١٥٧٢)
Telah menceritakan kepada kami 'Affan telah menceritakan kepada kami Al Mahdi bin Maimun telah menceritakan kepada kami Ghailan bin Jarir dari 'Abdullah bin Ma'bad Az Zammanni dari Abu Qatadah dari Nabi ﷺ, seseorang berkata kepada beliau; Puasa 'arafah menurut baginda bagaimana? Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku mengharapkan di sisi Allah, puasa tersebut menghapus (dosa) tahun lalu dan yang masih tersisa." Orang itu bertanya; Puasa 'asyura` menurut baginda bagaimana? Aku mengharapkan di sisi Allah, puasa tersebut menghapus (dosa) setahun." (HR. Ahmad: 21572 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari al Harits bin Rib'iy, ia shahabat kuniyahnya Abu Qatadah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H)
Selanjutnya perlu disimak riwayat dan pendapat dari imam at Tirmidzi berikut, beliau berkata:
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ وَأَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ الضَّبِّيُّ قَالَا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ غَيْلَانَ بْنِ جَرِيرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَعْبَدٍ الزِّمَّانِيِّ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ
قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي قَتَادَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ وَقْدِ اسْتَحَبَّ أَهْلُ الْعِلْمِ صِيَامَ يَوْمِ عَرَفَةَ إِلَّا بِعَرَفَةَ. (رواه الترمذي: ٦٨٠)
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah dan Ahmad bin 'Abdah Adl Dlabi keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Ziyad dari Ghailan bin Jarir dari Abdullah bin Ma'bad Az Zamani dari Abu Qatadah bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, "Puasa hari 'Arafah -saya berharap dari Allah- dapat menghapuskan dosa-dosa setahun sebelumnya dan juga tahun sesudahnya." (perawi) berkata, dalam bab ini (ada juga riwayat -pent) dari Abu Sa'id.
Abu 'Isa berkata, hadits Abu Qatadah merupakan hadits hasan. Para ulama menyunahkan puasa 'Arafah kecuali jika berada di 'Arafah. (HR. At Tirmidzi: 680 - shahih dari al Harits bin Rib'iy, ia shahabat kuniyahnya Abu Qatadah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H. Hadits 'aziz, karena imam at Tirmidzi meriwayatkan dari dua orang gurunya)
Mencermati hadits-hadits di atas dapat disimpulkan bahwa hadits yang menyatakan bahwa beliau tidak berpuasa atau bahkan melarang puasa tanggal sembilan atau puasa arafaf menunjukkan keragu-raguan bahwa puasa atau tidaknya Rasulullah ﷺ pada hari 'Arafah waktu wuquf, ternyata beliau tidak berpuasa pada saat itu. Sementara puasa pada sembilan hari diawal bulan Dzulhijjah atau pada hari 'Arafah justru menginformasikan bahwa Rasulullah berpuasa pada tanggal sembilan hari diawal bulan Dzulhijjah dan tanggal sembilan Dzulhijjah. Sehingga pemahaman tentang hadits ini terjadi pertentangan antara pernyataan satu dengan yang lainnya. Karena hadits yang menyatakan bahwa beliau tidak berpuasa hanya waktu di Arafah, sementara hadits yang menyatakan beliau berpuasa dikaitkan dengan puasa Asyura dan puasa tiga hari setiap bulan pada hari senin dan kamis minggu awal. Maka sunnahnya puasa awal bulan atau minimal tanggal sembilan Dzulhijjah dilakukan bagi yang tidak sedang wuquf di Arafah. Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏