“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


RASULULLAH ﷺ MENANGIS KARENA KEMATIAN ANAK BELIAU

(menangisi adalah rahmat, menertawai atau suka cita adalah laknat) 
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Rasul menangis atas meninggalnya Ibrahim putra beliau dan tangisan tersebut adalah bertanda kasih sayang, hal diceritakan dalam hadits riwayat imam al Bukhari. Beliau berkata,

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ حَدَّثَنَا قُرَيْشٌ هُوَ ابْنُ حَيَّانَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
دَخَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي سَيْفٍ الْقَيْنِ وَكَانَ ظِئْرًا لِإِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِبْرَاهِيمَ فَقَبَّلَهُ وَشَمَّهُ ثُمَّ دَخَلْنَا عَلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ وَإِبْرَاهِيمُ يَجُودُ بِنَفْسِهِ فَجَعَلَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَذْرِفَانِ فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ ثُمَّ أَتْبَعَهَا بِأُخْرَى فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ
رَوَاهُ مُوسَى عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ المُغِيرَةِ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه البخاري: ١٢٢٠)

Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin 'Abdul 'Aziz telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hassan telah menceritakan kepada kami Quraisy dia adalah Ibnu Hayyan dari Tsabit dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu berkata; Kami bersama Rasulullah ﷺ mendatangi Abu Saif Al Qaiyn yang (isterinya) telah mengasuh dan menyusui Ibrahim 'alaihissalam (putra Nabi ﷺ. Lalu Rasulullah ﷺ mengambil Ibrahim dan menciumnya. Kemudian setelah itu pada kesempatan yang lain kami mengunjunginya sedangkan Ibrahim telah meninggal. Hal ini menyebabkan kedua mata Rasulullah ﷺ berlinang air mata. Lalu berkatalah 'Abdurrahman bin 'Auf radliallahu 'anhu kepada Beliau: "Mengapa anda menangis, wahai Rasulullah?". Beliau menjawab: "Wahai Ibnu 'Auf, sesungguhnya ini adalah rahmat (tangisan kasih sayang)". Beliau lalu melanjutkan dengan kalimat yang lain dan bersabda: "Kedua mata boleh mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, hanya kita tidaklah mengatakan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kita. Dan kami dengan perpisahan ini wahai Ibrahim pastilah bersedih". Dan diriwayatkan oleh Musa dari Sulaiman bin Al Mughirah dari Tsabit dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu dari Nabi ﷺ. (HR. Bukhari: 1220 - shahih dari Anas bin Malin bin an Nadhar bin Dhamdham bin Zaid bin Haram wafat tahun 91 H)

Lihat juga: Muslim: 4279, Au Daud: 2719 dan Ahmad: 12544 - shahih dari Anas bin Malik.

Jawaban Rasulullah kepada 'Abdur Rahman bin 'Auf,

فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ ثُمَّ أَتْبَعَهَا بِأُخْرَى
فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ. (رواه مسلم‘ أبوداود و أحمد)

Lalu berkatalah 'Abdurrahman bin 'Auf radliallahu 'anhu kepada Beliau: "Mengapa anda menangis, wahai Rasulullah?". Beliau menjawab: "Wahai Ibnu 'Auf, sesungguhnya ini adalah rahmat (tangisan kasih sayang) ". Beliau lalu melanjutkan dengan kalimat yang lain dan bersabda: "Kedua mata boleh mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, hanya kita tidaklah mengatakan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kita. Dan kami dengan perpisahan ini wahai Ibrahim pastilah bersedih". (HR. Muslim, Abu Daud dan Ahmad dari Anas bin Malik)

Begitu juga riwayat dari Ibnu Majah: 1578 - hasan dari Asma' binti Yazid bin as Sakan,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَدْمَعُ الْعَيْنُ وَيَحْزَنُ الْقَلْبُ وَلَا نَقُولُ مَا يُسْخِطُ الرَّبَّ. (رواه إبن ماجه: ١٥٧٨)

"Rasulullah ﷺ bersabda: "Mata boleh berlinang, hati boleh bersedih, namun kita tidak boleh mengucapkan perkataan yang membuat Allah murka. (HR. Ibnu Majah: 1578)

Kemudian simaklah kisah berikut,

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ عِيسَى حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ سُلَيْمٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْأَشْتَرِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أُمِّ ذَرٍّ قَالَتْ
لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا ذَرٍّ الْوَفَاةُ قَالَتْ بَكَيْتُ فَقَالَ مَا يُبْكِيكِ قَالَتْ وَمَا لِي لَا أَبْكِي وَأَنْتَ تَمُوتُ بِفَلَاةٍ مِنْ الْأَرْضِ وَلَا يَدَ لِي بِدَفْنِكَ وَلَيْسَ عِنْدِي ثَوْبٌ يَسَعُكَ فَأُكَفِّنَكَ فِيهِ قَالَ فَلَا تَبْكِي وَأَبْشِرِي فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَمُوتُ بَيْنَ امْرَأَيْنِ مُسْلِمَيْنِ وَلَدَانِ أَوْ ثَلَاثَةٌ فَيَصْبِرَانِ أَوْ يَحْتَسِبَانِ فَيَرِدَانِ النَّارَ أَبَدًا وَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيَمُوتَنَّ رَجُلٌ مِنْكُمْ بِفَلَاةٍ مِنْ الْأَرْضِ يَشْهَدُهُ عِصَابَةٌ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَلَيْسَ مِنْ أُولَئِكَ النَّفَرِ أَحَدٌ إِلَّا وَقَدْ مَاتَ فِي قَرْيَةٍ أَوْ جَمَاعَةٍ وَإِنِّي أَنَا الَّذِي أَمُوتُ بِفَلَاةٍ وَاللَّهِ مَا كَذَبْتُ وَلَا كُذِبْتُ. رواه أحمد: ٢٠٤٠٩)

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isa telah menceritakan kepadaku Yahya bin Sulaim dari Abdullah bin Utsman dari Mujahid dari Ibrahim bin Asytar dari Ayahnya dari Ummu Dzar berkata, "Menjelang Abu Dzar meninggal dunia, ia (Ummu Dzar) Berkata, 'Aku menangis, lalu Abu Dzar bertanya, 'Apa yang menyebabkan engkau menangis wahai istriku? ' Aku menjawab, 'Bagaimana aku tidak menangis, sedang engkau akan meninggal di bumi yang gersang, dan tiada seorang yang tahu tempat kuburmu, dan aku juga tak memiliki selembar kain pun untuk mengkafanimu.' Abu Dzar berkata, 'Jangan kamu menangis, bergembiralah wahai istriku. Sungguh, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Sungguh, tidaklah sepasang suami istri yang Muslim ditinggal mati oleh dua atau tiga anaknya lalu keduanya bersabar, kemudian keduanya masuk neraka." Dan aku juga mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Sungguh akan ada seorang laki-laki di antara kalian yang meninggal dunia di tanah tandus, lalu akan disaksikan sekelompok kaum muslimin." Dan tiada seorang pun yang hadir saat itu yang meninggal kecuali di kampung atau di Kota, maka sungguh akulah orang yang meninggal di tanah tandus. Demi Allah aku tidak berbohong dan tidak berdusta." (HR. Ahmad: 20409 - shahih dari Jundub bin Junadah wafat tahun 32 H).

Ibrahim putra Rasulullah ﷺ meninggal pada usia 18 bulan, Rasulullah tidak menyalatkannya, sebagaimana terekam dalam riwayat imam Abu Daud, beliau berkata:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ فَارِسٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ ابْنِ إِسْحَقَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ عَنْ عَمْرَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
مَاتَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ ابْنُ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ شَهْرًا فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه أبوداود: ٢٧٧٢)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Faris telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim bin Sa'ad telah menceritakan kepada kami ayahku dari Ibnu Ishaq, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abu Bakr dari 'Amrah binti Abdurrahman dari Aisyah ia berkata; Ibrahim anak Nabi ﷺ telah meninggal pada saat berumur delapan belas bulan, dan Rasulullah ﷺ tidak menyalatinya. (HR. Abu Daud: 2772 - hasanul isnad menurut al Albani dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri Madinah dan wafat tahun 58 H)

Sementara pada hadits berikutnya imam Abu Daud meriwayatkan yang bertentangan dengan hadits sebelumnya, beliau berkata:

حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ عَنْ وَائِلِ بْنِ دَاوُدَ قَالَ سَمِعْتُ الْبَهِيَّ قَالَ
لَمَّا مَاتَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَقَاعِدِ
قَالَ أَبُو دَاوُد قَرَأْتُ عَلَى سَعِيدِ بْنِ يَعْقُوبَ الطَّالْقَانِيِّ قِيلَ لَهُ حَدَّثَكُمْ ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ يَعْقُوبَ بْنِ الْقَعْقَاعِ عَنْ عَطَاءٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَى ابْنِهِ إِبْرَاهِيمَ وَهُوَ ابْنُ سَبْعِينَ لَيْلَةً. (رواه أبوداود: ٢٧٧٣)

Telah menceritakan kepada kami Hannad bin As Sari, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Ubaid dari Wail bin Daud ia berkata; saya mendengar Al Bahi berkata; tatkakala Ibrahim anak Nabi ﷺ meninggal, Rasulullah ﷺ menyalatinya di tempat yang dijadikan untuk duduk-duduk.

Abu Daud berkata; aku membaca riwayat kepada Sa'id bin Ya'qub Ath Thalqani, dikatakan kepadanya Ibnu Al Mubarak telah menceritakan kepada Anda dari Ya'qub Al Qa'qa' dari 'Atha` bahwa Nabi ﷺ menyalatkan anaknya yang bernama Ibrahim yang berumur tujuh puluh malam. (HR. Abu Daud: 2773 - dha'if munkar menurut al Albani dari Abdullah, ia tabi'in kalangan pertengahan dan kuniyahnya Abu Muhammad dan 'Atha' bin Abi Rabbah Aslam, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 114 H. Hadits 'aziz)

Hadits riwayat imam Abu Daud: 2773 adalah hadits 'aziz dari tingkat tabi'in sampai akhir sanad.

Sanad pertama:

1. Abdullah, ia tabi'in kalangan pertengahan dan kuniyahnya Abu Muhammad. Penilaian ulama: Ibnu Sa'ad dan adz Dzahabi menilainya tsiqah. Ibnu Hajar menilainya shaduq, terdapat kesalahan. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat".

2. Wa'il bin Daud, ia shahabat kuniyahnya Abu Bakar dan negeri hidup Kufah. Penilaian ulama: al Khalili dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah. Sementara adz Dzahabi menilainya shaduq. Al Bazzar dan Abu Hatim menilainya shalihul hadits. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat".

3. Muhammad bin 'Ubaid bin Abi Umayyah, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 204 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma'in, al 'Ajli, an Nasa'i dan ad Daruquthni menilainya tsiqah. Sementara adz Dzahabi menilainya hafizh, sedangkan Ibnu Hajar menilainya tsiqah hafizh.

4. Hannad bin As Sariy bin Mush'ab, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu as Sariy negeri hidup Kufah dan wafat tahun 243 H. Penilaian ulama: An Nasa'i dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah dan adz Dzahabi menilainya hafizh. Sementara Abu Hatim menilainya shaduq. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat".

Sanad kedua:

1. 'Atha' bin Abi Rabbah Aslam, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 114 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, Ibnu Sa'ad dan Abu Zur'ah menilainya tsiqah. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat".

2. Ya'qub bin al Qa'qa' bin bin al A'lam, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] kuniyahnya Abu al Hasan dan negeri hidup Himsi. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, an Nasa'i, Ibnu Hajar dan Ad Dzahabi menilainya tsiqah. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat".

3. 'Abdullah bin al Mubarak bin Wadhih, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Himsh dan wafat tahun 181 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal menilainya hafizh, Ibnul Madini menilainya tsiqah. Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah tsabat, Abu Hatim menilainya tsiqah imam. Sedangkan Ibnu Sa'ad menilainya tsiqah ma'mun.

4. Sa'id bin Ya'qub, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 244 H. Penilaian ulama: Abu Zur'ah, an Nasa'i, ad Daruquthnu dan Maslamah bin Qasim menilainya tsiqah. Sedangkan Abu Hatim menilainya shaduq. Sementara Ibnu Hibban mentsiqahkannya.

Dua hadits riwayat Abu Daud di atas menggambarkan pertentangan yang jelas. Pertama, wafatnya Ibrahim bin Muhammad pada usia 18 bulan dan Rasulullah tidak menyalatinya. Kedua, Ibrahim bin Muhammad wafat pada usia 70 malam dan menyalatkannya. Dari segi matannya bertentangan. Namun, hadits pertama adalah maqbul menjadi landasan dan hadits kedua dha'if. Karena riwayatnya bertentang dengan riwayat yang maqbul maka dihukumi munkar.

Selanjutnya, Mari kita tela'ah hadits tentang meratapi mayit, Imam an Nasa'i berkata:

أَخْبَرَنَا إِسْحَقُ قَالَ أَنْبَأَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ عَلَى النِّسَاءِ حِينَ بَايَعَهُنَّ أَنْ لَا يَنُحْنَ فَقُلْنَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ نِسَاءً أَسْعَدْنَنَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَفَنُسْعِدُهُنَّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا إِسْعَادَ فِي الْإِسْلَامِ

Telah mengabarkan kepada kami Ishaq dia berkata; telah memberitakan kepada kami 'Abdurrazzaq dia berkata; telah menceritakan kepada kami Ma'mar dari Tsabit dari Anas bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengambil janji dari kaum wanita ketika membai'at mereka; agar tidak meratapi mayit. Lalu mereka berkata; "Wahai Rasulullah ﷺ, ada sekelompok wanita di zaman Jahiliyyah yang saling meratapi -mayit- kami, apakah boleh kami saling meratapi? Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada saling meratapi dalam Islam." (HR. An Nasa'i: 1829 - shahih dari Anas bin Malik)

Lihat juga: Muslim: 1530 - shahih dari Ummu Salamah atau Hindi binti Abi Umayyah bin al Mughirah, tentang kematian Abu Salamah. Juga hadits riwayat Ahmad: 25267, dengan lafazh,

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُرِيدِينَ أَنْ تُدْخِلِي الشَّيْطَانَ بَيْتًا قَدْ أَخْرَجَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْهُ. (رواه مسلم و أحمد)

"Rasulullah ﷺ bersabda: "Apakah engkau ingin memasukkan syetan kedalam rumah yang Allah telah keluarkan darinya". (HR. Muslim dan Ahmad dari Ummu Salamah)

Dalam Islam tidak ada:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّازَّقِ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنِ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ
أَخَذَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى النِّسَاءِ حِينَ بَايَعَهُنَّ أَنْ لَا يَنُحْنَ فَقُلْنَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ نِسَاءً أَسْعَدْنَنَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَفَنُسْعِدُهُنَّ فِي الْإِسْلَامِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا إِسْعَادَ فِي الْإِسْلَامِ وَلَا شِغَارَ وَلَا عَقْرَ فِي الْإِسْلَامِ وَلَا جَلَبَ فِي الْإِسْلَامِ وَلَا جَنَبَ وَمَنْ انْتَهَبَ فَلَيْسَ مِنَّا

Telah bercerita kepada kami 'Abdurrazaq telah bercerita kepada kami Ma'mar dari Tsabit dari Anas berkata; Saat membaiat para wanita Nabi ﷺ mengambil janji dari mereka untuk tidak meratapi mayit. Mereka berkata, wahai Rasulullah, sesungguhnya di masa jahiliyah para wanita mengadakan tangis masal atas kematian kerabat mereka, maka bolehkah kami melakukannya setelah masuk Islam?. Nabi ﷺ bersabda: "Dalam Islam tidak ada tangis masal untuk meratapi mayit, juga tidak ada nikah syighar, tidak ada melukai binatang sembelihan agar tidak lari, tidak pula mendatangkan harta benda untuk penarik zakat, juga tidak ada menyembunyikan harta agar tidak ditarik zakatnya, dan barangsiapa yang merampas harta maka bukan golongan kami". (HR. Ahmad: 12559 - shahih dari Anas bin Malik)

Tidak meratapi kecuali yang meninggal di masa jahiliyah,

حَدَّثَنِي أَبُو الرَّبِيعِ الزَّهْرَانِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ
أَخَذَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ الْبَيْعَةِ أَلَّا نَنُوحَ فَمَا وَفَتْ مِنَّا امْرَأَةٌ إِلَّا خَمْسٌ أُمُّ سُلَيْمٍ وَأُمُّ الْعَلَاءِ وَابْنَةُ أَبِي سَبْرَةَ امْرَأَةُ مُعَاذٍ أَوْ ابْنَةُ أَبِي سَبْرَةَ وَامْرَأَةُ مُعَاذٍ

Telah menceritakan kepadaku Abu Rabi' Az Zahrani telah menceritakan kepada kami Hammad telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Muhammad dari Ummu 'Athiyyah ia berkata; "Rasulullah ﷺ telah membai'at kami untuk tidak melakukan Niyahah (meratapi mayit). Maka tidak seorang wanita pun dari kami yang wafat (lalu kami meratapinya) kecuali lima orang, yaitu Ummu Sulaim, Ummul 'Ala, putri Abu Sabrah istri daripada Mu'adz atau anak perempuan Abu Sabrah dan istri Mu'adz." (HR. Muslim: 1552 - shahih dari Ummu 'Athiyah atau Nusaibah binti Ka'ab)

Lihat juga tentang larangan meratap (niyahah) : Muslim: 1553, an Nasa'i: 4109 dan Ahmad: 26042 - shahih dari 'Ummu 'Athiyah.

Ingat hadits riwayat muslim: 1550 dari Abu Malik atau Ka'ab bin 'Ashim berikut:

قَالَ النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ... (رواه مسلم: ١٥٥٠)

"Orang yang meratapi mayit, jika ia belum bertaubat sebelum ajalnya tiba maka pada hari kiamat ia akan dibangkitkan dengan memakai baju panjang yang berwarna hitam dan memakai tameng dari pedang yang sudah karatan." (HR. Muslim: 1550 - shahih dari Abu Malik)

Lihat juga at Tirmidziy: 922, Ahmad: 7567, 9205 dan 9494 - hasan dari Abu Hurairah.

Lebih lanjut simak penjelasan tentang hadits "Mayit diadzab karena ditangisi keluarganya". Imam Ahmad meriwayatkan:

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ. (رواه أحمد: ٢٩٨)

Telah menceritakan kepada kami Utsman Bin Umar telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhri dari Sa'id Bin Al Musayyib bahwa Umar berkata; Rasulullah ﷺ telah bersabda, "Sesungguhnya mayit akan disiksa karena tangisan keluarganya kepadanya." (HR. Ahmad: 298 - dari 'Umar bin al Khathtab bin Nufail)

Keterangan: sanad terputus setelah Umar bin al Khathtab oleh karenanya termasuk hadits munqathi'.

Kemudian pada tempat lain imam Ahmad berkata:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ كُنْتُ عِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ وَنَحْنُ نَنْتَظِرُ جَنَازَةَ أُمِّ أَبَانَ ابْنَةِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ وَعِنْدَهُ عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ فَجَاءَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَقُودُهُ قَائِدُهُ قَالَ فَأُرَاهُ أَخْبَرَهُ بِمَكَانِ ابْنِ عُمَرَ فَجَاءَ حَتَّى جَلَسَ إِلَى جَنْبِي وَكُنْتُ بَيْنَهُمَا فَإِذَا صَوْتٌ مِنْ الدَّارِ فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ فَأَرْسَلَهَا عَبْدُ اللَّهِ مُرْسَلَةً قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنَّا مَعَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عُمَرَ حَتَّى إِذَا كُنَّا بِالْبَيْدَاءِ إِذَا هُوَ بِرَجُلٍ نَازِلٍ فِي ظِلِّ شَجَرَةٍ فَقَالَ لِي انْطَلِقْ فَاعْلَمْ مَنْ ذَاكَ فَانْطَلَقْتُ فَإِذَا هُوَ صُهَيْبٌ فَرَجَعْتُ إِلَيْهِ فَقُلْتُ إِنَّكَ أَمَرْتَنِي أَنْ أَعْلَمَ لَكَ مَنْ ذَاكَ وَإِنَّهُ صُهَيْبٌ فَقَالَ مُرُوهُ فَلْيَلْحَقْ بِنَا فَقُلْتُ إِنَّ مَعَهُ أَهْلَهُ قَالَ وَإِنْ كَانَ مَعَهُ أَهْلُهُ وَرُبَّمَا قَالَ أَيُّوبُ مَرَّةً فَلْيَلْحَقْ بِنَا فَلَمَّا بَلَغْنَا الْمَدِينَةَ لَمْ يَلْبَثْ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ أَنْ أُصِيبَ فَجَاءَ صُهَيْبٌ فَقَالَ وَا أَخَاهُ وَا صَاحِبَاهُ فَقَالَ عُمَرُ أَلَمْ تَعْلَمْ أَوَلَمْ تَسْمَعْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمَيِّتَ لَيُعَذَّبُ بِبَعْضِ بُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ فَأَمَّا عَبْدُ اللَّهِ فَأَرْسَلَهَا مُرْسَلَةً وَأَمَّا عُمَرُ فَقَالَ بِبَعْضِ بُكَاءِ
فَأَتَيْتُ عَائِشَةَ فَذَكَرْتُ لَهَا قَوْلَ عُمَرَ فَقَالَتْ لَا وَاللَّهِ مَا قَالَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَحَدٍ وَلَكِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْكَافِرَ لَيَزِيدُهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَذَابًا
وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى
{ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى }
قَالَ أَيُّوبُ وَقَالَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ حَدَّثَنِي الْقَاسِمُ قَالَ لَمَّا بَلَغَ عَائِشَةَ قَوْلُ عُمَرَ وَابْنِ عُمَرَ قَالَتْ إِنَّكُمْ لَتُحَدِّثُونِي عَنْ غَيْرِ كَاذِبَيْنِ وَلَا مُكَذَّبَيْنِ وَلَكِنَّ السَّمْعَ يُخْطِئُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَنْبَأَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ فَذَكَرَ مَعْنَى حَدِيثِ أَيُّوبَ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ لِعَمْرِو بْنِ عُثْمَانَ وَهُوَ مُوَاجِهُهُ أَلَا تَنْهَى عَنْ الْبُكَاءِ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمَيِّتَ لَيُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَنْبَأَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ تُوُفِّيَتْ ابْنَةٌ لِعُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ بِمَكَّةَ فَحَضَرَهَا ابْنُ عُمَرَ وَابْنُ عَبَّاسٍ وَإِنِّي لَجَالِسٌ بَيْنَهُمَا فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ لِعَمْرِو بْنِ عُثْمَانَ وَهُوَ مُوَاجِهُهُ أَلَا تَنْهَى عَنْ الْبُكَاءِ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمَيِّتَ لَيُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ فَذَكَرَ نَحْوَ حَدِيثِ إِسْمَاعِيلَ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ. (رواه أحمد: ٢٧٤)

Telah menceritakan kepada kami Isma'il Telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Abdullah Bin Abi Mulaikah dia berkata; "Ketika aku berada di sisi Abdullah bin Umar sedang menunggu datangnya jenazah Ummu Aban putri Utsman bin Affan, dan di dekat Abdullah bin Umar ada 'Amru bin Utsman, kemudian Ibnu Abbas datang dengan dituntun oleh seorang penuntun, " Abdullah bin Abi Mulaikah berkata; "Aku melihat orang yang menuntun Ibnu Abbas memberitahukan kepadanya akan posisi Ibnu Umar, kemudian Ibnu Abbas datang dan duduk disampingku, maka aku berada diantara mereka berdua, tiba-tiba ada suara dari dalam rumah, Ibnu Umar kemudian berkata; "Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya si mayit akan disiksa karena tangisan keluarganya terhadap dirinya." Kemudian Abdullah bin Umar menyebutkan lafadz hadits tersebut secara umum (tanpa ada perincian). Kemudian Ibnu Abbas berkata; "Kami pernah bersama Amirul Mukminin Umar, hingga ketika kami berada di tanah lapang, tiba-tiba dia bertemu dengan seorang lelaki yang mampir di bawah naungan sebatang pohon, Umar berkata kepadaku; "Pergilah, dan cari tahu siapa dia itu!" Kemudian aku pergi, dan ternyata lelaki tersebut adalah Shuhaib. kemudian aku kembali kepada Umar dan mengatakan; "Sesungguhnya kamu telah memerintahku untuk mencari tahu tentang orang itu dan dia adalah Shuhaib, " Umar berkata; "Suruhlah dia agar menyusul bersama kita!" Aku berkata; "Sesungguhnya dia bersama keluarganya, " Umar berkata; "Walaupun dia bersama keluarganya." Dalam kesempatan lain, barangkali Ayyub menyebutkan; "Maka hendaklah dia menyusul kita." Ketika kami telah sampai di Madinah, tidak lama kemudian Amirul Mukminin mendapat musibah. Kemudian Shuhaib datang dan berkata; "Aduhai saudaraku, aduhai sahabatku." Maka Umar berkata; "Belum tahukah kamu, atau belum pernahkah kamu mendengar bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: "Sesungguhnya si mayit akan disiksa karena sebagian tangisan keluarganya terhadap dirinya." Adapun Abdullah bin Umar, dia menyebutkan lafadz hadits tersebut secara umum, sedangkan Umar menyebutkan lafadz; "Karena sebagian tangisan." Aku (Ibnu Abbas) kemudian menemui Aisyah dan menyebutkan perkataan Umar kepadanya, lalu Aisyah menjawab; "Tidak, demi Allah, Rasulullah ﷺ tidak pernah mengatakan bahwa si mayit akan disiksa karena tangisan seseorang, akan tetapi Rasulullah ﷺ pernah bersabda: "Sesungguhnya Allah akan menambahkan siksaan kepada orang kafir karena tangisan keluarganya, dan sesungguhnya Allahlah yang menjadikan orang tertawa dan menangis; "Bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain" (QS. An Najm/53: 38)." Ayyub berkata; Ibnu Abi Mulaikah berkata; Telah menceritakan kepada kami Al Qasim; dia berkata; ketika perkataan Umar dan Ibnu Umar sampai kepada Aisyah, Aisyah berkata; "Sesungguhnya kalian telah menceritakan kepadaku dari dua orang yang bukan pendusta dan bukan pula didustakan, akan tetapi pendengaranlah yang (terkadang) salah." Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Abi Mulaikah maka dia menyebutkan makna hadits Ayyub, tetapi dia berkata; maka berkata Ibnu Umar kepada 'Amru bin Utsman sambil menghadap kepadanya; kenapa kamu tidak berhenti menangis, sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Sesungguhnya mayit akan disiksa karena tangisan keluarganya kepadanya." Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Abi Mulaikah, dia berkata; "Meninggal anak perempuan Utsman bin 'Affan di Makkah, maka Ibnu Umar dan Ibnu Abbas menghadiri pemakamannya, dan sesungguhnya aku duduk diantara keduanya, berkatalah Ibnu Umar kepada 'Amru bin Utsman sambil menghadap kepadanya; "kenapa kamu tidak berhenti menangis?, sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Sesungguhnya mayit akan disiksa karena tangisan keluarganya kepadanya." Maka dia menyebutkan hadits Isma'il dari Ayyub dari Ibnu Abi Mulaikah. (HR. Ahmad: 274 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khathtab bin Nufail wafat 73 H)

Catatan: Periwayat yang dijarah atau dinilai buruk: Isma'il bin Ibrahim bin Uqsim, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu al Bisyir negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 193 H. Penilaian ulama: Syu'bah menilainya sayyidul muhadditsin, Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah ma'mun, Muhammad bin Sa'ad menilainya tsiqah tsabat hujjah, Abdur Rahman bin Mahdi menilainya ia lebih kuat dari Husyaim, Abu Daud berkata,  "tidak ada seorang muhaddits kecuali melakukan kesalahan, kecuali Ibnu 'Ulayah dan Bisyir al Mufadhdal, Yahya bin Said menilainya ia lebih kuat daripada Wuhaib, as Saji menilainya perlu dikoreksi ulang, an Nasa'i menilainya tsiqah tsabat, Ibnu Hajar dan adz Dzahabi menilainya dha'if.

Lihat juga: al Bukhari: 1206 dari 'Abdullah bin 'Umar dan 1208 dari 'Umar bin al Khathtab, Muslim: 1536 dan 1540 dari 'Umar bin al Khathtab. Muslim: 1543, 1544 dan 1545, Abu Daud: 2722 dari 'Abdullah bin 'Umar. Semuanya shahih.

Lihat juga hadits dari 'Aisyah berikut:

أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الْجَبَّارِ عَنْ سُفْيَانَ قَالَ قَصَّهُ لَنَا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ أَبِي مُلَيْكَةَ يَقُولُ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ قَالَتْ عَائِشَةُ
إِنَّمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَزِيدُ الْكَافِرَ عَذَابًا بِبَعْضِ بُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ. (رواه النسائي: ١٨٣٤)

Telah mengabarkan kepada kami 'Abdul Jabbar bin Al 'Ala bin 'Abdul Jabbar dari Sufyan dia berkata; 'Amru bin Dinar mengisahkannya kepada kami, dia berkata; Aku mendengar Ibnu Mulaikah berkata; Ibnu 'Abbas berkata; 'Aisyah berkata; "Hanya saja Rasulullah ﷺ bersabda: " Allah -Azza wa Jalla- menambahkan siksa kepada orang kafir karena sebagian tangisan keluarganya atas dirinya'." (HR. An Nasa'iy: 1834 - shahih dari 'Aisyah)

Berdasarkan hadits-hadits di atas dapat dipahami bahwa menangisi mayat tidaklah suatu yang dilarang. Ketika seseorang menangis menunjukkan rahmat kasih sayang terhadap si mayit sehingga yang keluar dari mulutnya adalah doa kebaikan. Apabila tangisan tersebut karena kehilangan dan mengakibatkan mengeluarkan kata-kata buruk, sehingga menghilangkan akal sehat, menjauhkan daripada rahmat Allah maka hal inilah dimaksud meratap (niyahah).

Selanjutnya, menangisi mayat tidak ada hubungannya dengan diazabnya mayat dalam kuburnya. Karena dosa atau perbuatan seseorang yang buruk tidak dapat dipikulkan kepada orang lain. Sehingga perbuatan tersebut hanya dihubungkan kepada pelakunya. Seperti meratap dilarang bagi pelakunya. Sedangkan bagi si mayit tak berarti apa-apa.

Ingatlah firman Allah ketika dikhabarkan kepada manusia tentang hari kiamat akan semakin dekat oleh Rasul-Nya. Begitu juga dalam hal ini kematian akan semakin menghampiri. Menangis ketika menyaksikan kematian adalah rahmat dan menertawakannya adalah laknat Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَتَضْحَكُوْنَ وَلَا تَبْكُوْنَۙ. (قرآن سورة النجم/٥٣: ٦٠)

Kamu menertawakan dan tidak menangisi(-nya). (QS. An-Najm/53: 60)

Wallaahu a'lam bish shawab,

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]