“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


KEUTAMAAN FATHIMAH ISTRI ALI BIN ABI THALIB DAN CARA SYUKUR MEREKA
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

KELUARGA Ahli bait terkenal dengan ke-qana'a-annya dan ke-syukur-annya. Setiap perlakukan dan adab dikaitkan kepada mereka. Sehingga contoh tauladan dalam hidup dan kehidupan adalah keluarga ahli bait (nabi dan kerabat terdekat beliau). Oleh sebab itu, mereka dijuluki ahli bait. Keluarga yang menempatkan ketaatan dan keistiqamahan pada posisi utama.

Nah, orang-orang beriman mesti mencontoh keluarga mereka. Hal tersebut suatu keutamaan yang istimewa. Nanum, yang menjadi pertanyaan apakah persis seperti mereka? tentu tidak. Melihat kemajuan dan kondisi zaman ini, keluarga yang menauladani keluarga ahlul bait sulit ditemukan. Karena untuk menjalankan hidup seperti mereka adalah suatu keistimewaan. Artinya, untuk menjadi keluarga istimewa tentu pwngetahuan dan ilmu tentang Islam mesti membudaya dalam keluarga mereka. Jika tidak demikian, maka ketauladanan itu tetap pada posisi yang utama. Karena di akhir zaman ini menjadi yang istimewa adalah keluarga pilihan dengan pengetahuan dan ilmu istimewa yaitu keluarga Muslim yang beriman.

Salah satu contoh dari keluarga ahlul bait yaitu keluarga Ali bin Abi Thalib dengan Fathimah binti Muhammad. Mereka keluarga yang luar biasa keimanannya. Sebagai suami, menantu sekaligus shahabat Rasulullah ﷺ, beliau membina keluarganya dengan istimewa. Sehingga ke-istiqamah-an dan ke-syukur-an patut ditauladani.

Uraian di atas dilanjutkan dengan bentuk syukur dengan membaca doa sebelum dan sesudah memakan atau minum sesuatu. Inilah bentuk syukur dalam betuk ucapan yang diajarkan oleh Rasulullah . Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ. (قرآن سورة البقرة/٢: ١٧٢)

Wahai orang-orang yang beriman, makanlah apa-apa yang baik yang Kami anugerahkan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu benar-benar hanya menyembah kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah/2: 172)

Dan,

اِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ بِهٖ لِغَيْرِ اللّٰهِ ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّلَا عَادٍ فَلَآ اِثْمَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ. (قرآن سورة البقرة/٢: ١٧٣)

Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah. Akan tetapi, siapa yang terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah/2: 173)

Ketauladanan ahlul bait tersebut terekam dalam riwayat-riwayat berikut:

Imam Muslim berkata,

حَدَّثَنِي أُمَيَّةُ بْنُ بِسْطَامَ الْعَيْشِيُّ حَدَّثَنَا يَزِيدُ يَعْنِي ابْنَ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا رَوْحٌ وَهُوَ ابْنُ الْقَاسِمِ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ فَاطِمَةَ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْأَلُهُ خَادِمًا وَشَكَتْ الْعَمَلَ فَقَالَ مَا أَلْفَيْتِيهِ عِنْدَنَا قَالَ أَلَا أَدُلُّكِ عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ لَكِ مِنْ خَادِمٍ تُسَبِّحِينَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَتَحْمَدِينَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَتُكَبِّرِينَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ حِينَ تَأْخُذِينَ مَضْجَعَكِ
و حَدَّثَنِيهِ أَحْمَدُ بْنُ سَعِيدٍ الدَّارِمِيُّ حَدَّثَنَا حَبَّانُ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا سُهَيْلٌ بِهَذَا الْإِسْنَادِ. (رواه مسلم: ٤٩٠٧)

Telah menceritakan kepadaku Umayyah bin Bistham Al 'Aisyi telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai' telah menceritakan kepada kami Rauh bin Al Qasim dari Suhail dari bapaknya dari Abu Hurairah bahwasanya Fathimah datang kepada Nabi ﷺ meminta seorang khadam (pelayan/pembantu) dan mengadukan bahwa dia terlalu payah bekerja. Jawab Nabi ﷺ: 'Engkau tidak akan mendapatkannya dari kami. Maukah engkau ku tunjukkan sesuatu yang lebih baik daripada seorang khadam? Bacalah tasbih tiga puluh tiga kali, dan tahmid tiga puluh tiga kali, dan takbir tiga puluh empat kali ketika hendak tidur.' Dan telah menceritakannya kepadaku Ahmad Ibnu Sa'id Ad Darimi telah menceritakan kepada kami Habban telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Suhail dengan sanad ini. (HR. Muslim: 4907 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hadits 'aziz, karena imam Muslim meriwayatkan dari dua orang gurunya)

Selanjutnya, Imam Ahmad berkata:

حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي الْعَبَّاسُ بْنُ الْوَلِيدِ النَّرْسِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الْجُرَيْرِيُّ عَنْ أَبِي الْوَرْدِ عَنِ ابْنِ أَعْبُدَ قَالَ
قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَا ابْنَ أَعْبُدَ هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ الطَّعَامِ قَالَ قُلْتُ وَمَا حَقُّهُ يَا ابْنَ أَبِي طَالِبٍ قَالَ تَقُولُ بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا قَالَ وَتَدْرِي مَا شُكْرُهُ إِذَا فَرَغْتَ قَالَ قُلْتُ وَمَا شُكْرُهُ قَالَ تَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا ثُمَّ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكَ عَنِّي وَعَنْ فَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَانَتْ ابْنَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَتْ مِنْ أَكْرَمِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ وَكَانَتْ زَوْجَتِي فَجَرَتْ بِالرَّحَى حَتَّى أَثَّرَ الرَّحَى بِيَدِهَا وَأَسْقَتْ بِالْقِرْبَةِ حَتَّى أَثَّرَتْ الْقِرْبَةُ بِنَحْرِهَا وَقَمَّتْ الْبَيْتَ حَتَّى اغْبَرَّتْ ثِيَابُهَا وَأَوْقَدَتْ تَحْتَ الْقِدْرِ حَتَّى دَنِسَتْ ثِيَابُهَا فَأَصَابَهَا مِنْ ذَلِكَ ضَرَرٌ فَقُدِمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْيٍ أَوْ خَدَمٍ قَالَ فَقُلْتُ لَهَا انْطَلِقِي إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْأَلِيهِ خَادِمًا يَقِيكِ حَرَّ مَا أَنْتِ فِيهِ فَانْطَلَقَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَتْ عِنْدَهُ خَدَمًا أَوْ خُدَّامًا فَرَجَعَتْ وَلَمْ تَسْأَلْهُ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ فَقَالَ أَلَا أَدُلُّكِ عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ لَكِ مِنْ خَادِمٍ إِذَا أَوَيْتِ إِلَى فِرَاشِكِ سَبِّحِي ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَاحْمَدِي ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبِّرِي أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ قَالَ فَأَخْرَجَتْ رَأْسَهَا فَقَالَتْ رَضِيتُ عَنْ اللَّهِ وَرَسُولِهِ مَرَّتَيْنِ
فَذَكَرَ مِثْلَ حَدِيثِ ابْنِ عُلَيَّةَ عَنِ الْجُرَيْرِيِّ أَوْ نَحْوَهُ. (رواه أحمد: ١٢٤٤)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Al Abbas bin Al Walid An Narsi telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Ziyad telah menceritakan kepada kami Sa'id Al Jurairi dari Abu Al Ward dari Ibnu A'bud berkata; Ali bin Abu Thalib berkata, "Wahai Ibnu A'bud! Apakah kamu tahu hak makanan?" dia bertanya, "Apakah haknya Wahai Ibnu Abu Thalib?" dia menjawab, "Kamu membaca: BISMILLAHI ALLAHUMMA BARIK LANA FIMA RAZAQTANA (Dengan nama Allah, ya Allah berilah keberkahan pada kami, kepada apa yang telah engkau karuniakan kepada kami)." Ali radhiallahu'anhu bertanya, "Apakah kamu tahu bagaimana cara syukur jika kamu telah selesai?" Dia berkata, "Bagaimana cara syukurnya?" Ali radhiallahu'anhu menjawab, "Kamu membaca: ALHAMDULILLAH ALLADZI ATH'AMANA WA SAQANA (Segala puji bagi Allah, yang telah memberi makan kami dan memberi minum kami)." Kemudian berkata, "Maukah saya kabarkan tentang diriku dan Fathimah, Fathimah adalah putri Rasulullah ﷺ, termasuk yang paling mulia dari kalangan keluarganya di sisi beliau, dia adalah istriku. Saat itu dia menggiling dengan menggunakan alat penggiling sampai bekasnya kelihatan pada tangannya, dan dia memberi minum dengan menggunakan geriba, sampai bekas geriba itu terlihat pada lehernya. Dia juga mengurus rumah hingga bajunya kotor berdebu, menyalakan tunggku api sampai pakaiannya menjadi kotor. Hal itu berdampak negatif pada dirinya. Saat itu ada seorang tawanan atau pelayan yang dibawa kepada Rasulullah ﷺ, maka saya berkata kepadanya, "Pergilah menemui Rasulullah ﷺ dan mintalah kepadanya seorang pelayan yang dapat membantu (meringankan) penderitaan yang kamu rasakan ini." Lantas dia berangkat menuju kepada Rasulullah ﷺ, dan dia mendapati banyak pelayan di sana, namun dia pulang dan urung meminta. Kemudian dia menyebutkan hadits secara lengkap. Rasulullah ﷺ bersabda, "Maukah saya tunjukkan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada seorang pelayan. Jika kamu menuju tempat tidurmu, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, bertahmidlah tiga puluh tiga kali dan bertakbirlah tiga puluh empat kali!" Ali radhiallahu'anhu berkata; Lalu Fathimah mengeluarkan kepalanya dan berkata, "Saya rela terhadap Allah dan rasul-Nya." dua kali. lalu menyebutkan sebagaimana hadits Ibnu Ulayyah dari Al Jurairi atau semisalnya. (HR. Ahmad: 1244 - ianadnya dha'if dari 'Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthallib Bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Madinah dan wafat tahun 40 H)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 1244 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits, yaitu: 'Ali bin A'bud, ia tabi'in kalangan pertengahan. Penilaian ulama: Ibnu Hajar menilainya majhul dan adz Dzahabi tidak menyebutkannya. Selebihnya maqbul.

Imam Malik meriwayatkan,

و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ
أَنَّهُ كَانَ لَا يُؤْتَى أَبَدًا بِطَعَامٍ وَلَا شَرَابٍ حَتَّى الدَّوَاءُ فَيَطْعَمَهُ أَوْ يَشْرَبَهُ إِلَّا قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا وَأَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَنَعَّمَنَا اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُمَّ أَلْفَتْنَا نِعْمَتُكَ بِكُلِّ شَرٍّ فَأَصْبَحْنَا مِنْهَا وَأَمْسَيْنَا بِكُلِّ خَيْرٍ فَنَسْأَلُكَ تَمَامَهَا وَشُكْرَهَا لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ إِلَهَ الصَّالِحِينَ وَرَبَّ الْعَالَمِينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. (رواه مالك: ١٤٦٥)

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Hisyam bin 'Urwah dari Bapaknya bahwa tidaklah pernah dihidangkan kepadanya makanan, minuman hingga obat yang ia makan atau minum kecuali ia membaca, "Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami petunjuk, memberi kami makan, minum dan segala kenikmatan. Allah Mahabesar. Ya Allah, Nikmat-Mu datang kepada kami sarat dengan kejahatan-kejahatan, namun karenanya kami bisa berpagi dan bersore hari dalam keadaan baik. Maka kami memohon kepada-Mu kesempurnaan dan syukurnya, tidak ada kebaikan kecuali dari-Mu. Tidak ada Tuhan selain-Mu, Tuhan orang-orang shalih dan Rabb semesta Alam. Segala puji bagi Allah dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, apa yang Allah kehendaki dan tidak ada kekuatan kecuali kepada Allah. Ya Allah, berkahilah kami dengan apa yang telah engkau rezekikan kepada kami, dan lindungilah kami dari api neraka." (HR. Malik: 1465 - maqthu' shahih menurut Salim bin 'Ied al Hilaliy dari 'Urwah bin az Zubair bin al 'Awwam bin Khuwailid bin Asad bin 'Abdul 'Izzi bin Qu, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 93 H. Penilaian ulama: al 'Ajli dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah dan Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat")

Imam Abu Daud meriwayatkan tentang doa setelah makan, beliau berkata:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ أَبِي هَاشِمٍ الْوَاسِطِيِّ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ رَبَاحٍ عَنْ أَبِيهِ أَوْ غَيْرِهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا فَرَغَ مِنْ طَعَامِهِ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِينَ. (رواه أبوداود: ٣٣٥٢)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al 'Ala telah menceritakan kepada kami Waki' dari Sufyan dari Abu Hasyim Al Wasithi dari Isma'il bin Rabah dari Ayahnya atau selainnya dari Abu Sa'id Al Khudri bahwa Nabi ﷺ jika selesai makan beliau mengucapkan: 'Al HAMDULILLAAHILLADZII ATH'AMANAA WA SAQAANAA WA JA'ALANAA MUSLIMIIN (Segala puji bagi Allah Yang telah memberi makan serta minum kami dan menjadikan kami orang-orang muslim) '." (HR. Abu Daud: 3352 - dha'if dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)

Catatan: dalam sanad terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits yaitu Isma'il bin Riyah bin 'Ubaidah, ia tabi'in kalangan pertengahan. Penilaian ulama: Ali bin al Madini menilainya, "saya tidak mengenalnya, majhul". Sedangkan adz Dzahabi berkata, "ma adri min dza". Sementara Ibnu Hibban berkata, "dia mentsiqahkannya". Selainnya adalah periwayat maqbul.

Demikian juga hadits riwayat imam at Tirmidzi: 3379, Abu Daud: 3352, Ibnu Majah: 3274, Ahmad: 10846 dan 11497 - dha'if dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H.

Hadits yang shahih diriwayatkan oleh imam Muslim dengan lafazh berbeda, beliau berkata:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَكَفَانَا وَآوَانَا فَكَمْ مِمَّنْ لَا كَافِيَ لَهُ وَلَا مُؤْوِيَ. (رواه مسلم: ٤٨٩٠)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun dari Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas bahwasanya Rasulullah ﷺ apabila berbaring di tempat tidur, maka beliau mengucapkan doa, " ALHAMDU LIILAAHIL LADZII ATH'AMANAA WASAQOONAA WAKFAAANAA WA-A-WAANAA WASAQOONAA WAKAFAANAA WA-AWAANAA, FAKAM MIMMAN LAA KAAFIYA LAHU WALAA MU"WIYA Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, serta mencukupi kebutuhan kami dan memberikan kami tempat berlindung, karena masih banyak orang yang tidak mempunyai kecukupan dan tempat berlindung." (HR. Muslim: 4890 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Abu Daud: 4394, at Tirmidzi: 3318, Ahmad: 12094, 12251 dan 13169 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H.

Berdasarkan hadits-hadits di atas dipahami bahwa pelajaran utama yang dapat diambil dari keluarga Ali bin Abi Thalib adalah bentuk kesyukurannya. Dalam hal ini, doa yang mereka amalkan. Demikian juga keistiqamahan seorang istri shahabat Rasulullah untuk mengurus suaminya. Walaupun, kepayahan yang ia alami. Sehingga beliau mengurungkan niatnya untuk mendapatkan pelayan bagi mereka dan menolak saran suaminya. Namun, Rasulullah mengajarkan hal yang terbaik baginya yaitu kalimat zikir. Rasulullah ﷺ bersabda, "Maukah saya tunjukkan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada seorang pelayan. Jika kamu menuju tempat tidurmu, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, bertahmidlah tiga puluh tiga kali dan bertakbirlah tiga puluh empat kali!" Ali radhiallahu'anhu berkata; Lalu Fathimah mengeluarkan kepalanya dan berkata, "Saya rela terhadap Allah dan rasul-Nya."

Melirik pesan Allah dan apa yang diterapkan dalam keluarga ahli bait adalah sesuatu yang istimewa. Memunculkan usaha mendapatkan makanan, setelah itu bersyukur baik waktu akan menikmatinya maupun setelah menikmatinya. Wallaahu a'alam bish Shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]