KEADILAN RASULULLAH TERHADAP PARA ISTRI DAN KEISTIMEWAAN BELIAU
(romantika dan filosofis hidup seorang rasul)
OLEH: SAMSURIZAL, MA
Bismilaahir rahmaanir rahiem,
Asslaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Rasulullah ﷺ adalah suritauladan yang paling baik bagi umatnya. Hal ini diungkapkan oleh Allah dalam al Qur'an. Beliau juga penghulu sekalian nabi dan rasul yang pernah diutus oleh Allah ke muka bumi ini. Semua hal terkait dengan keistimewaan beliau telah ditulis diberbagai kitab dan sejarah peradaban manusia. Sehingga tidak asing lagi didengar ditelinga, bahwa terdapat sangat banyak keistimewaan beliau. Diantaranya adalah beliau paling baik akhlaknya, perlakuan beliau kepada para istri beliau. Begitu juga, Allah mengizinkan mempunyai istri lebih dari empat, yaitu sebelas orang dan yang hidup bersama adalah sembilan orang. Sedangkan bagi umatnya hanya maksimal empat orang jika hidup bersama.
Selanjutnya, alasan utama dari hal tersebut adalah untuk kepentingan dakwah dan menghidupkan nilai-nilai syari'at. Oleh karena itu, dalam kehidupan sehari-hari beliau penuh dengan romantika dan gairah untuk menyebarkan Islam bukan saja kepada para shahabat, tetapi juga kepada orang non muslim. Apakah beliau orang yang ditakuti? Tentu bukan, malah disegani baik kawan maupun lawan. Apakah beliau orang kaya? Bukan juga, beliau bukan tergolong orang yang banyak harta, namun kedermawanan beliau dan para istri beliau tak tertandingi.
Beliau memberi pelajaran dan contoh yang mulia kepada semua orang. Menghindarkan mudharat dari mereka. Sehingga menciptakan kedamaian dan keharmonisan. Keluarga beliau menjadi panutan bagi manusia. Istri-istri beliau menjadi ibu bagi mereka. Mengajarkan kemuliaan dan kebaikan. Karena misi utama beliau adalah menyempurnakan akhlak budi pekerti manusia.
Nah, tulisan kali ini penulis memaparkan tentang keadilan beliau terhadap istri-istri dan kebanggaan beliau yang patut ditauladani selain keistimewaan khusus bagi beliau. Dalam konteks ini adalah apa saja pernyataan beliau yang istimewa? Bagaimana perlakukan beliau terjadap para istri beliau? Kenapa beliau mampu memiliki lebih dari empat orang istri? Apa pesan beliau bagi umatnya?. Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan ini penulis mencoba menguraikan betolak dari riwayat-riwayat yang tertulis dalam kitab hadits imam al Bukhari, Muslim, at Timidzi, An Nasa'i, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad dan ad Darimi. Simak paparannya di bawah ini.
Imam Ibnu Majah meriwayatkan,
حَدَّثَنَا أَبُو بِشْرٍ بَكْرُ بْنُ خَلَفٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ يَحْيَى بْنِ ثَوْبَانَ عَنْ عَمِّهِ عُمَارَةَ بْنِ ثَوْبَانَ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي. (رواه إبن ماجه: ١٩٦٧)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr Bakr bin Khalaf dan Muhammad bin Yahya keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim dari Ja'far bin Yahya bin Tsauban dari pamannya Umarah bin Tsauban dari 'Atha dari Ibnu Abbas dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku." (HR. Ibnu Majah: 1967 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H. Hadits 'aziz, karena imam Ibnu Majah meriwayatkan dari dua orang gurunya)
Guru imam Ibnu Majah dalam hadits riwayat Ibnu Majah: 1967 yaitu:
1. Bakar bin Khalaf, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu Bisyir negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 240 H. Penilaian ulama: Abu Hatim da adz Dzahabi menilainya tsiqah. Sementara Yahya bin Ma'in menilainya la ba'sa bihi. Sedangkan Ibnu Hajar menilainya shaduq. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat".
2. Muhammad bin Yahya bin 'Abdullah bin Khalid bin Faris bin Dzu'aib, ia tabi'ul atba' kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Himshi dan wafat tahun 258 H. Penilaian ulama: Abu Hatim dan Maslamah bin Qasim menilainya tsiqah. Ibnu Abi Hatim menilainya tsiqah shaduq, an Nasa'i menilainya tsiqah ma'mun. Sementara Abu Bakar al Khatib menilainya hafizh mutqin tsiqah. Sedangkan Ibnu Hajar menilainya tsiqah hafizh dan adz Dzhahabi menilainya hafizh.
Redaksi sama dengan tambahan lafazh diriwayat oleh imam at Tirmidzi, beliau berkata:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي وَإِذَا مَاتَ صَاحِبُكُمْ فَدَعُوهُ.
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ صَحِيحٌ مِنْ حَدِيثِ الثَّوْرِيِّ مَا أَقَلَّ مَنْ رَوَاهُ عَنْ الثَّوْرِيِّ وَرُوِيَ هَذَا عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرْسَلًا. (رواه الترمذي: ٣٨٣٠)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Hisyam bin 'Urwah dari ayahnya dari Aisyah dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku, apabila sahabat kalian meninggal dunia maka biarkanlah dia (tinggalkanlah dia jangan membicarakan keburukan- keburukannya)."
Abu Isa berkata, "Hadits ini adalah hadits hasan gharib shahih dari hadits Ats Tsauri, dan sangat sedikit perawi yang meriwayatkannya dari Ats Tsauri, dan hadits ini diriwayatkan pula dari Hisyam bin 'Urwah dari ayahnya dari Nabi ﷺ secara mursal." (HR. At Tirmidzi: 3830 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabat kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Demikian juga hadits riwayat ad Darimi: 2160 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabat kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.
Redaksi semakna juga diriwayatkan oleh imam Ahmad, beliau berkata:
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَكْمَلِ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنَهُمْ خُلُقًا وَأَلْطَفَهُمْ بِأَهْلِهِ. (رواه أحمد: ٢٣٠٧٣)
Telah menceritakan kepada kami Isma'il Telah menceritakan kepada kami Khalid Al-Khudda` dari Abi Qilabah dari Aisyah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah orang yang paling baik akhlaknya dan yang paling lemah lembut dengan istrinya." (HR. Ahmad: 23073 - shahih lighairihi, isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabat kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad:23536 - shahih lighairihi menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabat kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.
Selanjutnya, imam at Tirmidzi juga meriwayatkan dengan redaksi semakna, beliau berkata:
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا.
قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَائِشَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. (رواه الترمذي: ١٠٨٢)
Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami 'Abdah bin Sulaiman dari Muhammad bin 'Amr, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap para istrinya."
Abu Isa berkata, "Hadits semakna diriwayatkan dari Aisyah dan Ibnu Abbas." Dia menambahkan, "Hadits Abu Hurairah merupakan hadits hasan sahih." (HR. At Tirmidzi: 1082 - hasan shahih menurut al Albani dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 7095 dan 9725 - shahih, isnadnya hasan menurut Syu'ain al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Tanpa kalimat "khulqan" setelah kalimat "linisaa'ihim". Lihat juga hadits riwayat imam Abu Daud: Abu Daud: 4062, At Tirmidzi: 2537, Ahmad: 10397, 23073, 23536 dan Ad Darimi: 2672. Semuanya berbicara tentang seorang mukmin yang baik dan sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan baik atau bersikap lembut pada istrinya. Tidak ada kalimat "... aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku ..." Seperri hadits riwayat imam Ibnu Majah: 1967 dan at Tirmidzi: 3830 di atas. Masing-masing dari Ibnu 'Abbas dan 'Aisyah.
Rasulullah ﷺ menggauli para istri beliau dengan menggilir delapan orang dalam satu hari dari sembilan orang istri beliau saat itu. Hal tersebut terekam dalam hadits riwayat imam Muslim, beliau berkata:
حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَمُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ قَالَ
حَضَرْنَا مَعَ ابْنِ عَبَّاسٍ جَنَازَةَ مَيْمُونَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَرِفَ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ هَذِهِ زَوْجُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا رَفَعْتُمْ نَعْشَهَا فَلَا تُزَعْزِعُوا وَلَا تُزَلْزِلُوا وَارْفُقُوا فَإِنَّهُ كَانَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعٌ فَكَانَ يَقْسِمُ لِثَمَانٍ وَلَا يَقْسِمُ لِوَاحِدَةٍ.
قَالَ عَطَاءٌ الَّتِي لَا يَقْسِمُ لَهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيِّ بْنِ أَخْطَبَ.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ جَمِيعًا عَنْ عَبْدِ الرَّزَّاقِ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَزَادَ قَالَ عَطَاءٌ كَانَتْ آخِرَهُنَّ مَوْتًا مَاتَتْ بِالْمَدِينَةِ. (رواه مسلم: ٢٦٦٠)
Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Muhammad bin Hatim. Muhammad bin Hatim mengatakan; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku 'Atha` dia berkata; Kami menghadiri jenazah Maimunah, istri Nabi ﷺ bersama Ibnu Abbas di daerah Sarif. Ibnu Abbas berkata; "Ini adalah istri Nabi ﷺ, jika kalian mengangkat kerandanya, maka janganlah kalian berisik dan jangan pula menggoncangkannya, angkatlah pelan-pelan. Sesungguhnya Rasulullah ﷺ memiliki sembilan orang istri, beliau pernah menggilir delapan istri, namun tidak menggilir yang satunya."
'Atha` berkata; Yang pernah tidak digilir adalah Shafiyah binti Huhyay bin Akhthab. (tapi yang benar adalah Saudah -red).
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi' dan 'Abd bin Humaid semuanya dari Abdur Razaq dari Ibnu Juraij dengan isnad ini dengan menambahkan; 'Atha` mengatakan; Dia adalah istri Rasulullah yang terakhir meninggal dunia, dia meninggal di Madinah." (HR. Muslim: 2660 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim)
Dijelaskan juga bahwa sebelum menggilir, beliau mengumpulkan para istri beliau. Sebagaimana diinformasikan dalam hadits riwayat Muslim, beliau berkata:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا شَبَابَةُ بْنُ سَوَّارٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ
كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعُ نِسْوَةٍ فَكَانَ إِذَا قَسَمَ بَيْنَهُنَّ لَا يَنْتَهِي إِلَى الْمَرْأَةِ الْأُولَى إِلَّا فِي تِسْعٍ فَكُنَّ يَجْتَمِعْنَ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي بَيْتِ الَّتِي يَأْتِيهَا فَكَانَ فِي بَيْتِ عَائِشَةَ فَجَاءَتْ زَيْنَبُ فَمَدَّ يَدَهُ إِلَيْهَا فَقَالَتْ هَذِهِ زَيْنَبُ فَكَفَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ فَتَقَاوَلَتَا حَتَّى اسْتَخَبَتَا وَأُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَمَرَّ أَبُو بَكْرٍ عَلَى ذَلِكَ فَسَمِعَ أَصْوَاتَهُمَا فَقَالَ اخْرُجْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِلَى الصَّلَاةِ وَاحْثُ فِي أَفْوَاهِهِنَّ التُّرَابَ فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ عَائِشَةُ الْآنَ يَقْضِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ فَيَجِيءُ أَبُو بَكْرٍ فَيَفْعَلُ بِي وَيَفْعَلُ فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ أَتَاهَا أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ لَهَا قَوْلًا شَدِيدًا وَقَالَ أَتَصْنَعِينَ هَذَا. (رواه مسلم: ٢٦٥٦)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Syababah bin Sawwar telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Mughirah dari Tsabit dari Anas dia berkata; Nabi ﷺ memiliki sembilan istri, jika beliau menggilir mereka, beliau tidak kembali ke istri pertamanya kecuali setelah hari ke sembilan, biasanya mereka berkumpul setiap malam di rumah istri yang sedang beliau datangi. Ketika beliau sedang di giliran Aisyah, datanglah Zainab, lalu beliau mengulurkan tangan kepadanya, lantas Aisyah berkata; Ini Zainab! Karena itu Nabi ﷺ manarik tangannya, maka terjadilah adu mulut antara keduanya, padahal iqamat telah dikumandangkan, kebetulan Abu Bakar lewat dan mendengar suara keduanya (sedang adu mulut), dia berkata; Wahai Rasulullah, keluarlah (untuk Shalat), dan tutuplah mulut mereka dengan tanah! Lantas Nabi ﷺ keluar, Aisyah berkata; Sekarang, setelah Nabi ﷺ selesai mengerjakan shalat, tentu Abu Bakar akan datang dan memarahiku. Betul saja, tatkala Nabi ﷺ selesai mengerjakan shalat, Abu Bakar mendatangi (Aisyah), dan berkata kepadanya dengan nada yang keras sambil berkata; Beginikah perbuatanmu!." (HR. Muslim: 2656 - shahih dari Anas bin Malik)
Dan, Anas bin Malik menginformasikan bahwa beliau menggilir istri beliau waktu itu sembilan orang dengan satu kali mandi, sebagaimana hadits riwayat imam Muslim, beliau berkata:
و حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ أَبِي شُعَيْبٍ الْحَرَّانِيُّ حَدَّثَنَا مِسْكِينٌ يَعْنِي ابْنَ بُكَيْرٍ الْحَذَّاءَ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَطُوفُ عَلَى نِسَائِهِ بِغُسْلٍ وَاحِدٍ. (رواه مسلم: ٤٦٧)
Dan telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin Ahmad bin Abi Syu'aib al-Harrani telah menceritakan kepada kami Miskin, yaitu Ibnu Bukair al-Hadzdza' dari Syu'bah dari Hisyam bin Zaid dari Anas bahwa Nabi ﷺ menggilir istri-istrinya dengan satu kali mandi." (HR. Muslim: 467 - shahih dari Anas bin Malik)
Imam al Bukhari berkata,
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى بْنُ حَمَّادٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ أَنَّ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ حَدَّثَهُمْ
أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَطُوفُ عَلَى نِسَائِهِ فِي اللَّيْلَةِ الْوَاحِدَةِ وَلَهُ يَوْمَئِذٍ تِسْعُ نِسْوَةٍ. (رواه البخاري: ٢٧٥)
Telah menceritakan kepada kami 'Abdul A'la bin Hammad telah menceritakan kepada kami Abdul A'la bin Abdul A'la berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai' berkata, telah menceritakan kepada kami Sa'id dari Qatadah bahwa Anas bin Malik menceritakan kepada mereka, bahwa Nabi ﷺ menggilir semua istrinya dalam satu malam, padahal saat itu istri beliau ada sembilan orang." (HR. Bukhari: 275 - shahih dari Anas bin Malik)
Lihat juga hadits riwayat imam al Bukhari: 4680 dan 4814, Muslim: 467, an Nasa'i: 264 dan 3147, Abu Daut: 188 - semuanya shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah dan wafat tahun 91 H)
Selanjutnya, diriwayatkan oleh imam Ahmad, bahwa Nabi Sulaiman bin Daud menggilir seratus atau tujuh puluh istri beliau dalam satu malam. Sebagaimana imam Ahmad meriwayatkan:
حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا هِشَامٌ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
إِنَّ سُلَيْمَانَ بْنَ دَاوُدَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَطُوفُ اللَّيْلَةَ عَلَى مِائَةِ امْرَأَةٍ فَتَلِدُ كُلُّ امْرَأَةٍ مِنْهُنَّ غُلَامًا يَضْرِبُ بِالسَّيْفِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَمْ يَسْتَثْنِ قَالَ فَطَافَ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ عَلَى مِائَةِ امْرَأَةٍ فَلَمْ تَلِدْ مِنْهُنَّ غَيْرُ امْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ وَلَدَتْ نِصْفَ إِنْسَانٍ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّهُ كَانَ قَالَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَوَلَدَتْ كُلُّ امْرَأَةٍ مِنْهُنَّ غُلَامًا يَضْرِبُ بِالسَّيْفِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. (رواه أحمد: ١٠١٧٥)
Telah menceritakan kepada kami Yazid, dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari Muhammad dari Abu Hurairah, dia berkata; "Sesungguhnya Sulaiman bin Dawud ﷺ berkata; 'Pada waktu malam aku akan menggilir seratus istri sehingga setiap dari mereka akan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan berperang di jalan Allah, dan ia tidak mengecualikan (mengucapkan; 'jika Allah menghendaki')." Abu Hurairah berkata; "Lalu Sulaiman menggilir seratus istri, tetapi dari mereka tidak ada yang melahirkan kecuali seorang wanita yang melahirkan seorang anak dengan kondisi cacat." Abu Hurairah berkata; "Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: "Sekiranya ia mengucapkan; 'jika Allah menghendaki', sungguh setiap wanita dari mereka pasti akan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan berperang di jalan Allah 'azza wajalla." (HR. Ahmad: 10175 - shahih dari Abu Hurairah)
Riwayat lain menyebutkan,
حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنَا مُغِيرَةُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ لَأَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ عَلَى سَبْعِينَ امْرَأَةً تَحْمِلُ كُلُّ امْرَأَةٍ فَارِسًا يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ لَهُ صَاحِبُهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ فَلَمْ يَقُلْ وَلَمْ تَحْمِلْ شَيْئًا إِلَّا وَاحِدًا سَاقِطًا أَحَدُ شِقَّيْهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ قَالَهَا لَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ
قَالَ شُعَيْبٌ وَابْنُ أَبِي الزِّنَادِ تِسْعِينَ وَهُوَ أَصَحُّ. (رواه البخاري: ٣١٧١)
Telah bercerita kepada kami Khalid bin Makhlad telah bercerita kepada kami Mughirah bin 'Abdur Rahman dari Abu Az Zanad dari Al A'raj dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi ﷺ bersabda: "Nabi Sulaiman bin Daud 'alaihimas salam berkata; "Suatu malam aku akan menggilir (jima') tujuh puluh orang istriku yang setiap istriku itu akan mengandung (dan melahirkan) seorang penunggang kuda yang akan berjihad di jalan Allah". Kemudian temannya berkata kepadanya; "Ucapkanlah Insya Allah (Jika Allah menghendaki"). Namun Nabi Sulaiman tidak mengucapkan insya Allah sehingga tidak ada satu pun istrinya yang mengandung kecuali satu orang yang kemudian melahirkan anak yang dadanya hilang sebelah (berbadan sebelah). Lalu Nabi ﷺ bersabda: "Seandainya dia mengucapkan insya-allah pasti anak-anaknya itu akan berjihad di jalan Allah". Syu'aib dan Abu Az Zanad berkata; "Yang benar istrinya berjumlah tujuh puluh". (HR. Bukhari: 3171 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Lihat juga hadits riwayat imam al Bukhari: 2148 dan 6225, Muslim: 3124 - shahih semuanya dari Abu Hurairah.
Kemudian perlu diketahui kenapa Rasulullah mampu menggilir 8 dari sembilan istri beliau?. Karena disamping akhlak dan mampu mengendalikan nafsu, beliau juga memiliki kekuatan 30 orang laki-laki dewasa. Sebagaimana diinformasikan dalam hadits riwayat imam al Bukhari, beliau berkata:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ قَتَادَةَ قَالَ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدُورُ عَلَى نِسَائِهِ فِي السَّاعَةِ الْوَاحِدَةِ مِنْ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَهُنَّ إِحْدَى عَشْرَةَ قَالَ قُلْتُ لِأَنَسٍ أَوَكَانَ يُطِيقُهُ قَالَ كُنَّا نَتَحَدَّثُ أَنَّهُ أُعْطِيَ قُوَّةَ ثَلَاثِينَ
وَقَالَ سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ إِنَّ أَنَسًا حَدَّثَهُمْ تِسْعُ نِسْوَةٍ. (رواه البخاري: ٢٦٠ - صحيح)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar berkata, telah menceritakan kepada kami Mu'adz bin Hisyam berkata, telah menceritakan kepada saya bapakku dari Qatadah berkata, telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik radhiyallaahu 'anhu berkata,: "Adalah Nabi ﷺ mendatangi istrinya pada waktu yang sama di malam hari atau siang hari, saat itu jumlah istri-istri Beliau sebelas orang". Aku bertanya kepada Anas bin Malik radliallahu 'anhu: "Apakah Beliau mampu?". Jawabnya: "Beliau diberikan kekuatan setara tiga puluh lelaki".
Berkata, Sa'id dari Qatadah bahwa Anas radhiyallaahu 'anhu menerangkan kepada mereka bahwa jumlah istri-istri Beliau ﷺ saat itu sembilan orang". (HR. Al Bukhari, Kitab 181; Mandi, bab; bersetubuh dengan istri lalu mengulanginya lagi, atau menggilir istri-istri dengan sekali mandi: 260 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhar bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H).
حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ قَتَادَةَ ثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدُورُ عَلَى نِسَائِهِ فِي السَّاعَةِ الْوَاحِدَةِ مِنْ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَهُنَّ إِحْدَى عَشْرَةَ قَالَ قُلْتُ لِأَنَسٍ هَلْ كَانَ يُطِيقُ ذَلِكَ قَالَ كُنَّا نَتَحَدَّثُ أَنَّهُ أُعْطِيَ قُوَّةَ ثَلَاثِينَ. (رواه أحمد: ١٣٥٩٥ - صحيح)
Telah menceritakan kepada kami Abdulloh Telah menceritakan kepadaku bapakku Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin Abdulloh Telah menceritakan kepada kami Mu'adz Bin Hisyam berkata; Telah menceritakan kepadaku bapakku Telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Anas bin Malik Nabi ﷺ menggilir para istrinya dalam satu waktu, malam dan siang dan mereka berjumlah sebelas wanita. (Qatadah Radliyallahu'anhu) berkata; saya bertanya kepada Anas, apakah (Rasulullah ﷺ) kuat untuk itu? (Anas bin Malik Radhiyallaahu 'anhu) berkata; kami Telah menceritakan (Rasulullah ﷺ) diberi kekuatan sebanding tiga puluh orang. (HR. Ahmad, Kitab; sisa musnad sahabat yang banyak meriwayatkan hadits, bab; Musnad Anas bin Malik r.a: 13595 - shahih).
Maka dari itu wajarlah umatnya dianjurkan untuk menikahi wanita yang penyayang dan subur, sebagaimana diceritakan dalam hadits riwayat imam Ibnu Majah dan Abu Daud berikut:
Imam Ibnu Majah berkata:
حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ حُمَيْدِ بْنِ كَاسِبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْحَارِثِ الْمَخْزُومِيُّ عَنْ طَلْحَةَ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْكِحُوا فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ. (رواه إبن ماجه: ١٨٥٣)
Telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Humaid bin Kasib berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Harits Al Makhzumi dari Thalhah dari 'Atha dari Abu Hurairah ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Hendaklah kalian menikah! Karena aku akan berbanyak-banyakan umat dengan (adanya) kalian." (HR. Ibnu Majah: 1853 - shahih dari Abu Hurairah)
Lebih jelasnya, Imam Abu Daud berkata,
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا مُسْتَلِمُ بْنُ سَعِيدٍ ابْنَ أُخْتِ مَنْصُورِ بْنِ زَاذَانَ عَنْ مَنْصُورٍ يَعْنِي ابْنَ زَاذَانَ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ قُرَّةَ عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي أَصَبْتُ امْرَأَةً ذَاتَ حَسَبٍ وَجَمَالٍ وَإِنَّهَا لَا تَلِدُ أَفَأَتَزَوَّجُهَا قَالَ لَا ثُمَّ أَتَاهُ الثَّانِيَةَ فَنَهَاهُ ثُمَّ أَتَاهُ الثَّالِثَةَ فَقَالَ تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأُمَمَ. (رواه أبوداود: ١٧٥٤)
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Mustalim bin Sa'id anak saudari Manshur bin Zadzan, dari Manshur bin Zadzan dari Mu'awiyah bin Qurrah dari Ma'qil bin Yasar, ia berkata; seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata; sesungguhnya aku mendapati seorang wanita yang mempunyai keturunan yang baik dan cantik, akan tetapi dia mandul, apakah aku boleh menikahinya? Beliau menjawab: "Tidak." Kemudian dia datang lagi kedua kalinya dan beliau melarangnya, kemudian ia datang ketiga kalinya lalu Rasulullah ﷺ bersabda: "Nikahilah wanita-wanita yang penyayang dan subur (banyak keturunan), karena aku akan berbangga kepada umat yang lain dengan banyaknya kalian." (HR. Abu Daud: 1754 - hasan dari Ma'qil bin Yasar bin 'Abdullah)
Lihat juga: an Nasa'i: 3175 - hasan dari Ma'qil bin Yasar)
Demikianlah informasi yang diriwayat oleh para imam hadits terkait dengan keadilan Rasulullah terhadap para istri beliau. Sehingga menjadi tauladan bagi umatnya. Kecuali hal yang khusua bagi beliau diantaranya memiliki istri lebih dari empat orang. Berdasarkan hadits-hadits di atas bahwa istri beliau sembilan orang, pernah digilir dalam satu hari delapan orang dengan satu kali mandi junub. Artinya, beliau menggauli para istri beliau setelah shalat Isya sampai fajar. Mengingat kekuatan beliau adalah sebanding 30 orang laki-laki, maka hal tersebut wajar. Oleh karena itu beliau berbangga jika seorang laki-laki yang kuat dan sehat menikahi wanita yang penyayang dan subur. Tujuannya agar nanti, memiliki keturunan yang berakhlak, penyayang, subur dan sehat. Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏