“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


PERINTAH MENGIKUTI SYARIAT PARA NABI DAN RASUL, SERTA ORANG SHALIH TERDAHULU
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Para nabi dan rasul terdahulu, sebelum Nabi Muhammad adalah termasuk suritauladan yang mesti diikuti syariatnya. Selagi belum digantikan sebagaimana syariat kaum Nabi Musa 'alaihi salam. Hal ini juga diabadikan dalam al Qur'an, namun tidak boleh diikuti. Karena syari'at waktu itu saja. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ اِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ اَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوْبُوْٓا اِلٰى بَارِىِٕكُمْ فَاقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِنْدَ بَارِىِٕكُمْۗ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. (قرآن سورة البقرة/٢: ٥٤)

(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, sesungguhnya kamu telah menzalimi dirimu sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sembahan). Oleh karena itu, bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu.*) Itu lebih baik bagimu dalam pandangan Penciptamu. Dia akan menerima tobatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah/2: 54)

*) untuk ungkapan "bunuhlah dirimu" ada yang mengartikan bahwa orang-orang yang tidak menyembah patung anak sapi itu membunuh orang yang meyembahnya. Ada pula yang mengartikan bahwa orang yang menyembah patung anak sapi itu saling membunuh. Disamping itu, ada juga yang mengartikan bahwa mereka disuruh membunuh diri mereka masing-masing untuk bertobat.

Hal tersebut berlaku di masa Nabi Musa 'alaihi salam saja. Karena syari'atnya sudah dihapus dengan berbagai macam cara untuk bertobat kepada Allah, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah, seperti dengan istighfar dan amalan-amalan shalih.

Oleh karena itulah, dipilihkan bagi umat Nabi Muhammad contoh-contoh terbaik dari ajaran atau syari'at para nabi dan rasul, serta orang-orang shalih terdahulu.

IMAM al Bukhari berkata,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ يُوسُفَ قَالَ سَمِعْتُ الْعَوَّامَ عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَسْجُدُ فِي ص فَقَرَأَ
{ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ دَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ }
حَتَّى أَتَى
{ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ }
فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّنْ أُمِرَ أَنْ يَقْتَدِيَ بِهِمْ. (رواه البخاري: ٣١٦٨)

Telah bercerita kepada kami Muhammad telah bercerita kepada kami Sahal bin Yusuf berkata aku mendengar 'Al 'Awwam dari Mujahid berkata; Aku bertanya kepada Ibnu 'Abbas; "Apakah kita perlu sujud ketika membaca surat Shad". Maka dia membaca firman Allah: ("…dan juga dari keturunannya (Nuh 'alaihissalam) yaitu Daud dan Sulaiman…") hingga sampai pada ayat ("…maka ikutilah petenjuk mereka…"). (QS. Al-An'am ayat 84 - 90). Kemudian Ibnu 'Abbas radhiallahu'anhuma berkata, "Nabi kalian ﷺ adalah termasuk diantara orang yang diperintahkan untuk mengikuti petunjuk mereka". (HR. Al Bukhari: 3168 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Demikian juga hadits semakna diriwayatkan oleh imam al Bukhari: 4433 dan Ahmad: 3215 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H.

Firman Allah yang dimaksud dalam hadits-hadits di atas adalah QS. Al An'aam/6 ayat 84 - 90.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَوَهَبْنَا لَهٗٓ اِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَۗ  كُلًّا هَدَيْنَا وَنُوْحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهٖ دَاوٗدَ وَسُلَيْمٰنَ وَاَيُّوْبَ وَيُوْسُفَ وَمُوْسٰى وَهٰرُوْنَ ۗوَكَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَۙ. (قرآن سورة الأنعام/٦: ٨٤)

Kami telah menganugerahkan kepada (Ibrahim) Ishaq dan Ya‘qub. Tiap-tiap mereka telah Kami beri petunjuk. Sebelumnya Kami telah menganugerahkan petunjuk kepada Nuh. (Kami juga menganugerahkan petunjuk) kepada sebagian dari keturunannya, yaitu Daud, Sulaiman, Ayub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Al-An‘ām/6: 84)

وَزَكَرِيَّا وَيَحْيٰى وَعِيْسٰى وَاِلْيَاسَۗ  كُلٌّ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَۙ. (قرآن سورة الأنعام/٦: ٨٥)

(Demikian juga kepada) Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh. (QS. Al-An‘ām/6: 85)

وَاِسْمٰعِيْلَ وَالْيَسَعَ وَيُوْنُسَ وَلُوْطًاۗ وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعٰلَمِيْنَۙ. (قرآن سورة الأنعام/٦: ٨٦)

(Begitu juga kepada) Ismail, Ilyasa’, Yunus, dan Lut. Tiap-tiap mereka Kami lebihkan daripada (umat) seluruh alam (pada masanya). (QS. Al-An‘ām/6: 86)

وَمِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَاِخْوَانِهِمْ ۚوَاجْتَبَيْنٰهُمْ وَهَدَيْنٰهُمْ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ. (قرآن سورة الأنعام/٦: ٨٧)

(Kami lebihkan pula) sebagian dari nenek moyang mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka. Kami telah memilih mereka (menjadi nabi dan rasul) dan Kami memberi petunjuk kepada mereka jalan yang lurus. (QS. Al-An‘ām/6: 87)

ذٰلِكَ هُدَى اللّٰهِ يَهْدِيْ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ ۗوَلَوْ اَشْرَكُوْا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ. (قرآن سورة الأنعام/٦: ٨٨)

Demikian itu petunjuk Allah. Dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, pasti sia-sialah amal yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-An‘ām/6: 88)

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ۚفَاِنْ يَّكْفُرْ بِهَا هٰٓؤُلَاۤءِ فَقَدْ وَكَّلْنَا بِهَا قَوْمًا لَّيْسُوْا بِهَا بِكٰفِرِيْنَ. (قرآن سورة الأنعام/٦: ٨٩)

Mereka itulah orang-orang yang telah Kami anugerahi kitab, hikmah, dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang tidak mengingkarinya. (QS. Al-An‘ām/6: 89)

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ فَبِهُدٰىهُمُ اقْتَدِهْۗ قُلْ لَّآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًاۗ اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٰى لِلْعٰلَمِيْنَ. (قرآن سورة الأنعام/٦: ٩٠)

Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Maka, ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak meminta imbalan kepadamu dalam menyampaikan (Al-Qur’an).” (Al-Qur’an) itu hanyalah peringatan untuk (umat) seluruh alam. (QS. Al-An‘ām/6: 90)

Allah menjelaskan kepada Nabi Muhammad dan pengikutnya, bahwa Nabi Ibrahim dan keturunan-keturunannya mendapat keutamaan, petunjuk Allah ke jalan yang lurus. Allah juga memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar mengikuti jejak mereka, memegang agama tauhid, berakhlak mulia dan melakukan perbuatan yang diridai Allah, serta menghiasi dirinya dengan sifat-sifat yang utama, yaitu sabar dalam menjalankan tugasnya dan tabah menghadapi tipu daya serta tantangan kaumnya.
Firman Allah:

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهٖ فُؤَادَكَ
Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu.  (Hūd/11: 120);

Firman Allah:

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوْا عَلٰى مَا كُذِّبُوْا وَاُوْذُوْا حَتّٰٓى اَتٰىهُمْ نَصْرُنَا ۚ

Dan sesungguhnya rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. (al-An‘ām/6: 34);

Syariat yang berlaku bagi nabi-nabi sebelum kedatangan Nabi Muhammad, adalah juga merupakan syariat bagi umat Islam, selama belum dicabut, diubah ataupun diganti dengan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Sedangkan yang abadi dan mempunyai kesamaan adalah dasar-dasar agama tauhid yang tidak berubah sepanjang zaman, sedangkan syariat-syariat dari masing-masing nabi itu dapat berubah-ubah sesuai dengan waktu, tempat dan keadaan, dan menurut kehendak Allah.

Nabi Muhammad mempunyai derajat yang tertinggi di antara para nabi dan rasul, karena beliau di samping diberi kenabian juga diberi mukjizat yang abadi yaitu Al-Qur′an, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan karena syariatnya berlaku terus sampai akhir zaman.

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad bahwa dia dalam menyampaikan wahyu dan menegakkan kebenaran, jangan mengharapkan sedikit pun upah dari umatnya sebagaimana juga nabi-nabi terdahulu.

Nabi Muhammad sebagaimana halnya nabi-nabi yang lain tidak mengharapkan imbalan dalam berdakwah. Namun, Nabi Muhammad mengharapkan kasih sayang dalam kekeluargaan, seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

قُلْ لَّآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا اِلَّا الْمَوَدَّةَ فِى الْقُرْبٰى

”Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” (asy-Syūrā/42: 23);

Pada akhir ayat ini Allah memberikan penegasan bahwa Al-Qur′an diturunkan untuk seluruh umat manusia. Ayat ini memberikan isyarat bahwa Nabi Muhammad tidak diutus untuk orang Mekah atau Medinah saja, tetapi diutus untuk seluruh umat manusia di seluruh dunia untuk membimbing mereka ke jalan yang benar dan bebas dari kesesatan.

Pernyataan tersebut di atas terkait juga dengan firman Allah QS. Luqman/31 ayat 17, sebagaimana berikut:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ. (قرآن سورة لقمان/٣١: ١٧)

Artinya: “Wahai anakku, tegakkanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang harus diutamakan”. (QS. Luqman/31: 17)

Pada ayat ini, Lukman mengajarkan kepada anaknya hal-hal berikut:

1. Selalu mendirikan shalat sebaik-baiknya, sehingga diridhai Allah. Jika shalat yang dikerjakan itu diridhai Allah, perbuatan keji dan perbuatan mungkar dapat dicegah, jiwa menjadi bersih, tidak ada kekhawatiran terhadap diri orang itu, dan mereka tidak akan bersedih hati jika ditimpa cobaan, dan merasa dirinya semakin dekat dengan Tuhannya. Perbuatan dan sikap seperti ini diidentikkan dengan ihsan.
Imam al Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa ketika para shahabat bersama Rasulullah datang Malaikat Jibril. Lalu bertanya tentang Iman, Islam dan Ihsan serta tentang hari kiamat. Nah, jawaban beliau tentang ihsan adalah:

" ... الإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ ...". (رواه البخاري/٤: ١٧٩٣)

Artinya: “ ... Ihsan, Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatnya. Jika engkau tidak dapat melihatnya sesungguhnya Dia melihatmu...”. (HR. Al Bukhari/4: 1793)

2. Berusaha mengajak manusia mengerjakan perbuatan-perbuatan baik yang diridhai Allah, berusaha membersihkan jiwa dan mencapai keberuntungan, serta mencegah mereka agar tidak mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa.
Allah berfirman:

قد أفله من زكاها، وقد خاب من دساها. (قرآن سورة الشمس/٩١: ٩-١٠)

Artinya: “Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan (jiwa) nya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya”. (QS. Asy Syams/91: 9-10)

Imam al Qurthubi mengatakan makna mencegah dari yang mungkar adalah menghalangi manusia agar tidak bermaksiat kepada Allah dan menjauhi yang haram.

3. Selalu bersabar dan tabah terhadap segala cobaan yang menimpa, akibat dari mengajak manusia berbuat baik dan meninggalkan perbuatan yang mungkar, baik cobaan itu dalam bentuk kesenangan dan kemegahan, maupun dalam bentuk kesengsaraan dan penderitaan.

Pada akhir ayat ini diterangkan bahwa Allah memerintahkan tiga hal tersebut di atas karena hal tersebut mempunyai faidah yang besar bagi yang mengerjakannya dan memberi manfaat di dunia dan akhirat.

Output dari ajaran Lukman `alaihis salam kepada anaknya itu ialah agar menjadi anak yang shaleh dan bertakwa kepada Allah dengan benar. Sedangkan outcome yang diharapkan adalah nasehat tersebut menjadi dasar dan tauladan baik jangka pendek untuk keturunan beliau, jangka menengah anak cucu dan para orang-orang shaleh setelah mereka. Kemudian untuk jangka panjang, kisah tersebut secara qad`iyud dalaalah diabadikan oleh Allah dalam al-Qur’an agar memberikan pelajaran kepada manusia sampai hari kiamat.
Kemudian dasar lain terkait dengan perintah mengikuti syariat atau ajaran para nabi dan rasul terdahulu, termasuk juga mengikuti orang-orang shaleh sebelum Nabi Muhammad seperti Lukman.

Wallaahu a'lam bish Shawaab,

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]