RASULULLAH BERBICARA TENTANG HATI
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Setiap muslim harusnya semakin bertambahnya ilmu dan usia, maka bertambah pula kekuatan hatinya. Mereka tidak lagi melulu mengandalkan ilmu syari'at dalam wilayah akal, tetapi mengalir bersama thariqat kepada ilmu ma'rifat agar mengetahui rahasia-rahasia bathin untuk melaksanakan syariat. Kemudian bermuara kepada pengetahuan hakikat untuk mencapai puncak ilaihi raaji'uun (kembali kepada Allah) dengan husnul khaathimah (kembali dengan tenang bersama-sama dengan hamba-Nya yang dimuliakan.
Imam Ahmad meriwayatkan bahwa,
قَالَ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا سُمِّيَ الْقَلْبُ مِنْ تَقَلُّبِهِ إِنَّمَا مَثَلُ الْقَلْبِ كَمَثَلِ رِيشَةٍ مُعَلَّقَةٍ فِي أَصْلِ شَجَرَةٍ يُقَلِّبُهَا الرِّيحُ ظَهْرًا لِبَطْنٍ. (رواه أحمد: ١٨٨٣٠)
Masih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadits sebelumnya dari Abu Musa; (Abu Musa) Berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Hati dinamakan Qalbu karena mudah terombang-ambing. Sesungguhnya perumpamaan hati, hanyalah seperti sehelai rambut di atas sebatang pohon yang diombang-ambing oleh angin. (HR. Ahmad: 18830 - dha'if mauquf menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadhdhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Musa negeri hidup Kufah dan wafat tahun 50 H)
Catatan: mauquf karena, periwayat penerima langsung dari 'Abdullah bin Qais (w. 50 H) ada indikasi tidak pernah bertemu dan semasa. Sebab periwayat sesudahnya Ashim bin Sulaiman wafat tahun 142 H. Periwayat dimaksud adalah Abu Kabsyah, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Kabsyah dan negeri hidup Bashrah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ١٣٥)
Demikian (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka tidak meneruskan apa yang mereka kerjakan (perbuatan dosa itu) dan mereka mengetahui(-nya). (QS. Ia Āli ‘Imrān/3: 135)
Setelah salah satu syari'at Allah yaitu shalat dilaksanakan dengan khuduk (bersih) dan khusyuk.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ. (قرآن سورة طاه/٢٠: ١٤)
Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku dan tegakkanlah salat untuk mengingat-Ku. (QS. Ṭāhā/20: 14)
فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْ ۚ فَاِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ ۚ اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا. (قرآن سورة النساء/٤: ١٠٣)
Apabila kamu telah menyelesaikan salat, berzikirlah kepada Allah (mengingat dan menyebut-Nya), baik ketika kamu berdiri, duduk, maupun berbaring. Apabila kamu telah merasa aman, laksanakanlah salat itu (dengan sempurna). Sesungguhnya salat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang mukmin. (QS. An-Nisā'/4]: 103)
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ. (قرآن سورة الرعد/١٣٢٨)
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram. (QS. Ar-Ra‘d/13: 28)
Selanjutnya hati tersebut dibagi atas empat bagian, sebagai imam Ahmad berkata,
حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ يَعْنِي شَيْبَانَ عَنْ لَيْثٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ أَبِي الْبَخْتَرِيِّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُلُوبُ أَرْبَعَةٌ قَلْبٌ أَجْرَدُ فِيهِ مِثْلُ السِّرَاجِ يُزْهِرُ وَقَلْبٌ أَغْلَفُ مَرْبُوطٌ عَلَى غِلَافِهِ وَقَلْبٌ مَنْكُوسٌ وَقَلْبٌ مُصْفَحٌ فَأَمَّا الْقَلْبُ الْأَجْرَدُ فَقَلْبُ الْمُؤْمِنِ سِرَاجُهُ فِيهِ نُورُهُ وَأَمَّا الْقَلْبُ الْأَغْلَفُ فَقَلْبُ الْكَافِرِ وَأَمَّا الْقَلْبُ الْمَنْكُوسُ فَقَلْبُ الْمُنَافِقِ عَرَفَ ثُمَّ أَنْكَرَ وَأَمَّا الْقَلْبُ الْمُصْفَحُ فَقَلْبٌ فِيهِ إِيمَانٌ وَنِفَاقٌ فَمَثَلُ الْإِيمَانِ فِيهِ كَمَثَلِ الْبَقْلَةِ يَمُدُّهَا الْمَاءُ الطَّيِّبُ وَمَثَلُ النِّفَاقِ فِيهِ كَمَثَلِ الْقُرْحَةِ يَمُدُّهَا الْقَيْحُ وَالدَّمُ فَأَيُّ الْمَدَّتَيْنِ غَلَبَتْ عَلَى الْأُخْرَى غَلَبَتْ عَلَيْهِ. (رواه أحمد: ١٠٧٠٥)
Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadhr berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah -yaitu Syaiban- dari Laits dari 'Amru bin Murrah dari Abu Al Bakhtari dari Abu Sa'id ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Hati itu ada empat macam; hati yang bersih ia seperti lentera yang bercahaya, hati yang tertutup ia terikat dengan tutupnya, hati yang sakit dan hati yang terbalik. Adapun hati yang bersih adalah hatinya orang beriman, ia seperti lentera yang bercahaya, sedangkan hati yang tertutup adalah hatinya orang kafir, hati yang sakit adalah hati orang munafik, ia mengetahui yang baik namun ia mengingkari, dan hati yang terbalik adalah hati yang di dalamnya ada iman dan nifak, contoh keimanan di situ adalah seperti tanah yang dapat memberikan air yang bersih, sedangkan nifak adalah seperti bisul, di dalamnya hanya nanah dan darah, maka di antara keduanya yang paling kuat ia akan mengalahkan lainnya." (HR. Ahmad: 10705 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)
Catatan: dinilai dha'if sanadnya, karena dalam sanad terdapat periwayat yang lemah. Periwayat dimaksud adalah Laits bin Abi Sulaim bin Zunaim, ia tabi'in [taidak jumpa shahabat] kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Kufah dan wafat tahun 148 H. Penilaian ulama: Abu Zur'ah menilainya laiyyinul hadits, Abu Hatim menilainya dha'iful hadits, Ahmad bin Hanbal menilainya mudharibul hadits, sedangkan al Bukhari menilainya shaduq yuham.
Oleh karena itu, Rasulullah mengajarkan bahwa orang yang paling mulia adalah sebagaimana diisyarat oleh IMAM IBNU MAJAH berikut,
حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَمْزَةَ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ وَاقِدٍ حَدَّثَنَا مُغِيثُ بْنُ سُمَيٍّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ قَالَ كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ قَالُوا صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ قَالَ هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ لَا إِثْمَ فِيهِ وَلَا بَغْيَ وَلَا غِلَّ وَلَا حَسَدَ. (رواه إبن ماجه: ٤٢٠٦)
Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin 'Ammar telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamzah telah menceritakan kepada kami Zaid bin Waqid telah menceritakan kepada kami Mughits bin Sumay dari Abdullah bin 'Amru dia berkata; Ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ, "Manusia bagaimanakah yang paling mulia?" Beliau menjawab, "Semua (orang) yang hatinya bersedih dan lisan (ucapannya) benar." Mereka berkata, "Perkataannya yang benar telah kami ketahui, lantas apakah maksud dari hati yang bersedih?" Beliau bersabda, "Hati yang bertakwa dan bersih, tidak ada kedurhakaan dan kezhaliman padanya, serta kedengkian dan hasad." (HR. Ibnu Majah: 4206 - shahih dari 'Abdullah bin 'Amru bin al 'Ash bin Wail, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad neri hidup Maru dan wafat tahun 63 H. Hadits ini diriwayatkan oleh ahlul Syam)
Begitu juga penjelasan tentang hikmah yang diterima oleh manusia dalam makrifatnya diterima oleh hati, baik benar maupun keliru. Ini terjadi sebelum manusia mencapai hakekat, dengan melalui ujian alam malakutnya yang membuat mereka bisa jadi ujub dan sombong dengan hal tersebut. Imam Ahmad meriwayatkan,
أَخْبَرَنَا الْحَكَمُ بْنُ الْمُبَارَكِ أَخْبَرَنَا مُطَرِّفُ بْنُ مَازِنٍ عَنْ يَعْلَى بْنِ مِقْسَمٍ عَنْ وَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ قَالَ إِنَّ الْحِكْمَةَ تَسْكُنُ الْقَلْبَ الْوَادِعَ السَّاكِنَ. (رواه الدارمي: ٥٧٩)
Telah mengabarkan kepada kami Al Hakam bin Al Mubarak telah mengabarkan kepada kami Mutharrif bin Mazin dari Ya'la bin Miqsam dari Wahab bin Munabbih ia berkata, "Hikmah itu menempati hati yang lembut dan tenang". (HR. Ad Darimi: 579 - isnadnya dha'if menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Wahab bin Munabbih bin Kamal, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Yaman dan wafat tahun 110 H)
Catatan: dinilai dha'if, karena dalam sanad terdapat periwayat bernama Mutgarrif bin Mazin, ia tabi'ul atba' kalangan tua negeri hidup Yaman dan wafat tahun 191 H. Penilaian ulama: al 'Uqaili dan as Saji menilainya dha'if, an Nasa'i menilainya laisa bi tsiqah. Sedangkan Yahya bin Ma'in menilainya paling dusta. Selebihnya adalah periwayat maqbul.
Walau pun demikian untuk memperoleh ketenangan hati, simaklah jawaban Rasulullah terhadap pertanya al Khusyani berikut, sebagaiman hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad,
حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ يَحْيَى الدِّمَشْقِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْعَلَاءِ قَالَ سَمِعْتُ مُسْلِمَ بْنَ مِشْكَمٍ قَالَ سَمِعْتُ الْخُشَنِيَّ يَقُولُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِمَا يَحِلُّ لِي وَيُحَرَّمُ عَلَيَّ قَالَ فَصَعَّدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَوَّبَ فِيَّ النَّظَرَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَالْإِثْمُ مَا لَمْ تَسْكُنْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَلَمْ يَطْمَئِنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَإِنْ أَفْتَاكَ الْمُفْتُونَ وَقَالَ لَا تَقْرَبْ لَحْمَ الْحِمَارِ الْأَهْلِيِّ وَلَا ذَا نَابٍ مِنْ السِّبَاعِ. (رواه أحمد: ١٧٠٧٦)
Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Yahya Ad Dimasyqi ia berkata, Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ala` saya mendengar Muslim bin Misykam ia berkata, saya mendengar Al Khusyani berkata, "Saya berkata, 'Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku apa yang dihalalkan bagiku dan apa yang diharamkan atasku." Kemudian Nabi ﷺ mengarahkan pandangannya kepadanku dengan tatapan yang serius. Nabi ﷺ lalu bersabda, "Kebaikan itu adalah sesuatu yang menjadikan jiwa tenang dan hati merasa tentram. Sedangkan keburukan itu adalah sesuatu yang tidak dapat menjadikan jiwa tenang dan hati yang tentram, meskipun hasil sebuah fatwa." Beliau melanjutkan, "Dan janganlah kamu memakan daging Himar yang jinak dan jangan pula binatang buas yang bertaring." (HR. Ahmad: 17076 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Jartsum, ia shahabat negeri hidup Syam dan wafat tahun 75 H. Hadits ahlul syam)
Hadits selanjutnya,
حَدَّثَنَا يَزِيدُ قَالَ أَخْبَرَنَا دَاوُدُ عَنْ مَكْحُولٍ عَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَحَبُّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبُكُمْ مِنِّي مَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَسَاوِيكُمْ أَخْلَاقًا الثَّرْثَارُونَ الْمُتَشَدِّقُونَ الْمُتَفَيْهِقُونَ. (رواه أحمد: ١٧٠٧٧)
Telah menceritakan kepada kami Yazid ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Daud dari Makhul dari Abu Tsa'labah Al Khusyani, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang yang paling saya cintai dan yang paling dekat denganku (kelak di akhirat) adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling saya benci dan paling jauh denganku (kelak di akhirat) adalah orang yang paling buruk akhlaknya. Yaitu mereka yang banyak berbicara dan suka mencemooh manusia dengan kata-katanya." (HR. Ahmad: 17077 - hasan lighairihi menurut Syu'aib al Arna'uth dari Jartsum, ia shahabat negeri hidup Syam dan wafat tahun 75 H)
Demikianlah Rasulullah menjelaskan rahasia hati dan bagian-bagiannya serta firman Allah untuk menjelaskan dengan tegas dan penuh mau'izhah hasanah. Hal ini bertujuan untuk menyempurnakan ubudiyah kepada-Nya dengan baik dan benar. Selanjutnya, melaksanakan syari'at secara menyeluruh dan sempurna seperti cahaya bulan purnama, terang, namun tidak menyilaukan mata.
Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏