“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


PANDANGAN TENTANG HARTA
(Kesenangan Dunia)
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Harta adalah sesuatu yang memberikan kesenangan dan kebahagiaan. Kesenangan dan kebahagiaan tersebut tidak didapat dari sedikit atau banyaknya. Namun, tergantung keridhaan-Nya. Hal tersebut disebabkan keberkahan pada harta tersebut.

Memperoleh dan membina harta dengan baik adalah dengan memenuhi hak-haknya. Seperti zakat, sedekah dan senantiasa memelihara keberkahannya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ١٤)

Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertimbun tak terhingga berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik. (QS. Āli ‘Imrān/3: 14)

IMAM AN NASA'I berkata,

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدٌ وَعُرْوَةُ سَمِعَا حَكِيمَ بْنَ حِزَامٍ يَقُولُ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَانِي ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي ثُمَّ قَالَ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِطِيبِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى. (رواه النسائي: ٢٤٨٤)

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Sa'id dan 'Urwah keduanya mendengar Hakim bin Hizam berkata, "Aku meminta kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau memberiku. Kemudian aku meminta, lalu beliau memberiku. Kemudian aku meminta -lagi-, lalu beliau memberiku. Kemudian beliau bersabda, "Harta ini hijau lagi manis. Barangsiapa yang mengambil dengan kerelaan jiwa, akan diberkahi; dan barangsiapa yang mengambilnya dengan kesombongan diri, ia tidak akan diberkahi. Hal itu seperti orang yang makan dan tidak merasa kenyang. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah'." (HR. An Nasa'i: 2484 - shahih dari Hakim bin Hizam bin Khuwailid, shahabat kuniyahnya Abu Khalid negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 54 H)

Lebih jelas imam al Bukhari berkata,

و حَدَّثَنَا عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ وَسَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ أَنَّ حَكِيمَ بْنَ حِزَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَانِي ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي ثُمَّ قَالَ يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى قَالَ حَكِيمٌ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أَرْزَأُ أَحَدًا بَعْدَكَ شَيْئًا حَتَّى أُفَارِقَ الدُّنْيَا فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَدْعُو حَكِيمًا إِلَى الْعَطَاءِ فَيَأْبَى أَنْ يَقْبَلَهُ مِنْهُ ثُمَّ إِنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ دَعَاهُ لِيُعْطِيَهُ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَ مِنْهُ شَيْئًا فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي أُشْهِدُكُمْ يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ عَلَى حَكِيمٍ أَنِّي أَعْرِضُ عَلَيْهِ حَقَّهُ مِنْ هَذَا الْفَيْءِ فَيَأْبَى أَنْ يَأْخُذَهُ فَلَمْ يَرْزَأْ حَكِيمٌ أَحَدًا مِنْ النَّاسِ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تُوُفِّيَ. (رواه البخاري: ١٣٧٩)

Dan telah menceritakan kepada kami 'Abdan telah mengabarkan kepada kami 'Abdullah telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhriy dari 'Urwah bin Az Zubair dan Sa'id bin Al Musayyab bahwa Hakim bin Hizam radhiallahu'anhu berkata,: "Aku pernah meminta sesuatu kepada Rasulullah ﷺ lalu beliau memberiku. Kemudian aku meminta lagi, maka beliau pun memberiku kembali. Kemudian aku meminta lagi, maka beliau pun masih memberiku lagi seraya beliau bersabda, "Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis, maka barangsiapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya maka harta itu akan memberkahinya. Namun barangsiapa yang mencarinya untuk keserakahan maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah". Hakim berkata, "Lalu aku berkata, (kepada beliau); "Wahai Rasulullah, demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar, aku tidak akan mengurangi hak seorangpun (yang meminta) setelah engkau hingga aku meninggalkan dunia ini". Suatu kali Abu Bakar pernah memanggil Hakim untuk diberikan sesuatu agar dia datang dan menerima pemberiannya. Kemudian 'Umar radhiallahu'anhu juga pernah memanggil Hakim untuk memberikan sesuatu namun Hakim tidak memenuhinya. Maka 'Umar radhiallahu'anhu berkata,: "Aku bersaksi kepada kalian, wahai kaum muslimin, tentang Hakim. Sungguh aku pernah menawarkan kepadanya haknya dari harta fa'iy (harta musuh tanpa peperangan) ini agar dia datang dan mengambilnya. Sungguh Hakim tidak pernah mengurangi hak seorangpun setelah Rasulullah ﷺ hingga dia wafat". (HR. Al Bukhari: 1379 - shahih dari Hakim bin Hizam bin Khuwailid, shahabat kuniyahnya Abu Khalid negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 54 H. Hadits ini termasuk hadits 'aziz)

Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 2545, 2910 dan 5960, Muslim: 1717, at Tirmidzi: 2387 - shahih dari Hakim bin Hizam bin Khuwailid, shahabat kuniyahnya Abu Khalid negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 54 H. Hadits ini termasuk hadits 'aziz. Sementara itu imam at Tirmidzi meriwayatkan,

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي الْوَلِيدِ قَال سَمِعْتُ خَوْلَةَ بِنْتَ قَيْسٍ وَكَانَتْ تَحْتَ حَمْزَةَ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ تَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ مَنْ أَصَابَهُ بِحَقِّهِ بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَرُبَّ مُتَخَوِّضٍ فِيمَا شَاءَتْ بِهِ نَفْسُهُ مِنْ مَالِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ لَيْسَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا النَّارُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَأَبُو الْوَلِيدِ اسْمُهُ عُبَيْدُ سَنُوطَى. (رواه الترمذي: ٢٢٩٦)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Sa'id Al Maqburi dari Abu Al Walid berkata, Aku mendengar Khaulah binti Qais, saat itu ia adalah istri Hamzah bin Abdul Muththallib, berkata, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya harta ini hijau ranau manis, barangsiapa mengambilnya sesuai haknya, ia diberkahi dalam harta itu, dan berapa banyak orang yang mengelola harta Allah dan rasul-Nya sesuai kehendak nafsunya sendiri, yang pada hari kiamat tidak ada balasan baginya selain neraka." Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih dan Abu Al Walid namanya 'Ubaid Sanutha. (HR. At Tirmidzi: 2296 - shahih dari Khaulah binti Qais bin Qahd, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Muhammad dan negeri hidup Madinah)

Hadits senada juga diriwayatkan oleh imam Ahmad: 25874 - shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Khaulah binti Qais bin Qahd, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Muhammad dan negeri hidup Madinah.

Berdasarkan hadits-hadits di atas dapat dipahami bahwa Hakim bin Hizam adalah seseorang yang suka meminta-minta. Setiap kali ia meminta kepada Rasulullah ﷺ selalu memberinya. Namun, setelah kali keempat Rasulullah bersabda,

"Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis, maka barangsiapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya maka harta itu akan memberkahinya. Namun barangsiapa yang mencarinya untuk keserakahan maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah". Hakim berkata, "Lalu aku berkata, (kepada beliau); "Wahai Rasulullah, demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar, aku tidak akan mengurangi hak seorangpun (yang meminta) setelah engkau hingga aku meninggalkan dunia ini". (HR. An Nasa'i dan al Bukhari ... Kalimat perkataan Hakim bin Hazam dari al Bukhari)

Setelah Rasulullah ﷺ wafat, pernah juga Abu Bakar dan Umar memanggil Hakim bin Hizam untuk menerima bagiannya, namun tidak dimemenuhinya.

Demikian sekelumit kisah Hakim bin Hizam, sekali dinasehati oleh Rasulullah ﷺ, langsung beliau amalkan sampai ia wafat.

Pelajaran dari kisah tersebut memberikan motivasi bagaimana memperoleh berkah dari apa yang didapat dari usaha sendiri dan tidak dengan keserakahan, sehingga Allah memberkahi harta atau hasil jerih payah sendiri. Selanjutnya dikatakan bahwa,

Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya harta ini hijau ranau manis, barangsiapa mengambilnya sesuai haknya, ia diberkahi dalam harta itu, dan berapa banyak orang yang mengelola harta Allah dan rasul-Nya sesuai kehendak nafsunya sendiri, yang pada hari kiamat tidak ada balasan baginya selain neraka." (HR. At Tirmidzi dan Ahmad)

Bertolak dari hal di atas Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ اَمْوَالُهُمْ وَلَآ اَوْلَادُهُمْ مِّنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمْ وَقُوْدُ النَّارِۗ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ١٠)

Sesungguhnya orang-orang yang kufur, tidak akan berguna bagi mereka sedikit pun harta benda dan anak-anak mereka (untuk menyelamatkan diri) dari (azab) Allah. Mereka itulah bahan bakar api neraka. (QS. Āli ‘Imrān/3: 10)

Sebagai Muslim mesti memperhatikan hal ini. Memanfaatkan harta dan semua kesenangan dunia sekedarnya saja untuk meraih keberkahan dari Allah. Menunaikan segala hak-haknya dan membinanya dengan baik agar tetap mengingat Allah dengan semua bentuk keberkahan dan ridha-Nya. Sehingga ketika tiba saat kembali kepada Allah, hanya dengan ketenangan dan keridhaan-Nya. Hal yang terbaik hanyalah dengan menjaga ketakwaan kepada Allah. Taat dan konsisten dengan petunjuk dan ridha-Nya.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]