ALLAH SEGERAKAN AZAB DI DUNIA
DAN ALLAH TANGGUHKAN AZAB DI DUNIA
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Azab Allah disegerakan baik Allah turunkan dari langit maupun dari bumi dan dari tangan-tangan hamba-Nya yang beriman yang kokoh. Terkadang Allah tangguhkan azab di dunia, sehingga di akhirat memperoleh azab sempurna. Hal demikian terjadi atas kehendak Allah.
Penyebab penyegeraan azab tersebut dikarenakan kezhaliman dan memutua hubungan silaturrahmi karena mengejar kesenangan duniawi, sehingga mereka saling menzhalimi satu sama lain.
Imam at Tirmidzi berkata,
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ سِنَانٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. (رواه الترمذي: ٢٣١٩)
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yazid bin Abu Habib dari Sa'id bin Sinan dari Anas berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, maka Allah menyegerakan hukumannya di dunia, dan apabila Allah menghendaki keburukan kepada hamba-Nya maka Allah menahan dosanya sehingga dia terima kelak di hari kiamat." (HR. At Tirmidzi: 2319 - hasan shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)
Redaksi lain diriwayatkan oleh imam Ahmad,
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ أَخْبَرَنَا عُيَيْنَةُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ ذَنْبٍ أَحْرَى أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الْعُقُوبَةَ لِصَاحِبِهِ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ الْبَغْيِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ. (رواه أحمد: ١٩٥٠٣)
Telah menceritakan kepada kami Isma'il, telah mengabarkan kepada kami 'Uyainah bin Abdurrahman dari Ayahnya dari Abu Bakrah ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada dosa yang lebih Allah segerakan siksaannya di dunia bagi pelakunya dan azab yang menunggunya di akhirat kecuali kezaliman dan memutuskan tali silaturrahim." (HR. Ahmad: 19503 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Nufai' bin al Harits bin Kildah, ia shahabat kuniyahnya Abu Bakrah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 52 H. Hadits ahlul Bashrah)
Hadits senada juga diriwayatkan oleh imam Abu Daud: 4256 - dha'if menurut al Albani dari Nufai' bin al Harits bin Kildah, ia shahabat kuniyahnya Abu Bakrah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 52 H.
Dalam sanad hadits riwayat at Tirmidzi: 2435 (al Albani menshahihkannya), Ahmad: 19503 dan Abu Daud: 4256 ini terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama kritikus hadits, yaitu Isma'il bin Ibrahim bin Muqsim, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Bisyir negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 193 H. Penilaian ulama: Ibnu Hajar dan Adz Dzahabi menilainya dha'if, as Saji mengatakan, "perlu dikoreksi ulang". Sedangkan Syu'bah menilainya sayyidul muhadditsin, Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah ma'mun, Muhammad bin Sa'id menilainya tsiqah tsabat hujjah, 'Abdur Rahman bin Mahdi mengatakan, "dia lebih kuat daripada Husyaim. Kemudian Abu Daud berkomentar, "tidak ada seorang muhaddits kecuali melakukan kesalahan kecuali Ibnu Ulayyah dan Bisyir bin al Mufadhdhal. Yahya bin Sa'id menilainya lebih kuat daripada Wuhaib. Sedangan an Nasa'i menilainya tsiqah tsabat.
Imam Ibnu Majah meriwayatkan dengan jalur sanad yang shahih, tanpa Isma'il bin Ibrahim bin Muqsim,
حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ الْمَرْوَزِيُّ أَنْبَأَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ وَابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ عُيَيْنَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ الْبَغْيِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ. (رواه إبن ماجه: ٤٢٠١)
Telah menceritakan kepada kami Al Husain bin Al Hasan Al Mawarzi telah memberitakan kepada kami Abdullah bin Mubarak dan Ibnu 'Ulayyah dari 'Uyainah bin Abdurrahman dari ayahnya dari Abu Bakrah dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada perbuatan dosa yang akan di segerakan siksanya bagi pelakunya oleh Allah di dunia dan di sisakan baginya di akhirat melainkan berbuat aniaya dan memutuskan tali silaturrahmi." (HR. Ibnu Majah: 4201 - shahih dari Nufai' bin al Harits bin Kildah, ia shahabat kuniyahnya Abu Bakrah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 52 H)
Selanjutnya, begitu juga hadits riwayat imam Ahmad dengan penjelasan lafazh,
حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُيَيْنَةَ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِي بَكْرَةَ وَوَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنَا عُيَيْنَةُ وَيَزِيدُ أَخْبَرَنَا عُيَيْنَةُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ ذَنْبٍ أَحْرَى أَنْ يُعَجِّلَ بِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ مَعَ مَا يُؤَخَّرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ بَغْيٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ قَالَ وَكِيعٌ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ وَقَالَ يَزِيدُ يُعَجِّلُ اللَّهُ وَقَالَ مَعَ مَا يُدَّخَرُ لَهُ. (رواه أحمد: ١٩٤٨٠)
Telah menceritakan kepada kami Yahya dari 'Uyainah ia berkata; telah menceritakan kepadaku Ayahku dari Abu Bakrah dan Waki' ia berkata; telah menceritakan kepada kami 'Uyainah -dan Yazid telah mengabarkan kepada kami 'Uyainah dari Ayahnya dari Abu Bakrah - dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada dosa yang di segerakan terhadap pelakunya, dengan siksa yang tetap ia terima di akhirat, daripada kezaliman atau memutus silaturahmi." Waqi' ia berkata, "An Yu'ajjilallahu) Allah menyegerakan." Yazid berkata dengan redaksi, "Yu'ajjilullah (Disegerakan Allah)." Katanya lagi, "Dengan (tetap merasakan) siksa yang ditangguhkan untuknya." (HR. Ahmad: 19480 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Nufai' bin al Harits bin Kildah, ia shahabat kuniyahnya Abu Bakrah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 52 H. Hadits ahlul Bashrah)
Mencermati redaksi hadits-hadits di atas dapat dipahami bagi orang yang dikehendaki Allah kebaikan baginya maka Ia akan mengazab orang-orang berdosa di dunia. Sehingga azab diakhirat dapat diringankan. Sebaliknya bagi orang yang ditahan azab di dunia maka ia menerima azab secara sempurna di akhirat.
Selanjutnya, bagi orang yang berlaku zhalim dan memutuskan hubungan silatur rahmi maka Allah akan menyegerakan azab terhadapnya di dunia tanpa mengurangi azab di akhirat. Hal ini karena dosa kezhaliman dan memutus hubungan silaturahmi termasuk dosa besar.
Allah berfirman,
وَتِلْكَ الْقُرٰٓى اَهْلَكْنٰهُمْ لَمَّا ظَلَمُوْا وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِمْ مَّوْعِدًا. (قرآن سورة الكهف/١٨: ٥٩)
(Penduduk) negeri-negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim dan telah Kami tetapkan waktu bagi kebinasaan mereka. (QS. Al-Kahf/18: 59)
Dalam ayat ini, Allah mengingatkan kembali negeri-negeri yang telah dibinasakan beserta penduduknya, karena tetap berbuat zalim dan kufur kepada ayat-ayat Allah, kendatipun telah diberi peringatan dan ancaman oleh para rasul yang diutus kepada mereka. Negeri-negeri beserta penduduknya itu antara lain: Madyan (negeri kaum Syu'aib), Ḥijr (negeri kaum Ṡamūd), al-Aḥqāf (negeri kaum ‘Ād), dan Sodom (negeri kaum Luth).
Kebinasaan mereka itu sengaja disebutkan kembali dengan maksud bahwa kendati Allah memiliki sifat Pengampun dan Mahaluas Rahmat-Nya, namun kalau suatu bangsa atau penduduk suatu negeri tetap berbuat zalim dan kufur kepada ayat-ayat Allah, mereka akan dihancurkan beserta negerinya.
Selain dari sifat tersebut di atas, Allah juga memiliki sifat Maha Adil. Dia akan menjatuhkan azab dan hukuman sesuai dengan tindak perbuatan hamba-Nya itu sendiri. Hal ini pun berlaku atas kaum kafir dan musyrikin Quraisy. Kalau sudah datang waktunya, maka para pemuka kaum Quraisy Mekah itu dihancurkan Tuhan, yaitu pada Perang Badar.
Peringatan ini dimaksudkan juga untuk menambah kuat dan mantap keimanan orang-orang yang sudah beriman.
Allah ingatkan lagi,
وَكَاَيِّنْ مِّنْ قَرْيَةٍ اَمْلَيْتُ لَهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ ثُمَّ اَخَذْتُهَاۚ وَاِلَيَّ الْمَصِيْرُ. (ثرآن سورة الحج/٢٢: ٤٨)
Berapa banyak negeri yang Aku tangguhkan (siksa)-nya, padahal (penduduk)-nya berbuat zalim, kemudian Aku siksa mereka. Hanya kepada-Ku tempat kembali (segala sesuatu). (QS. Al-Ḥajj/22: 48)
Kemudian Allah juga menyinggung tentang hubungan kekerabatan, sebagaimana terekam dalam ffirman-Nya,
لَا يَرْقُبُوْنَ فِيْ مُؤْمِنٍ اِلًّا وَّلَا ذِمَّةً ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُعْتَدُوْنَ. (قرآن سورة التوبة/٩: ١٠)
Mereka tidak memelihara (hubungan) kekerabatan dengan orang mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (QS. At-Taubah/9: 10)
Al-Qur'an surah At-Taubah ayat 10 tentang pengkhianatan kaum Musyrikin waktu peristiwa Hudaibiyah. Begitu juga Allah mencap perbuatan mereka sebagai orang fasiq. Oleh karena disebabkan mereka tidak menjaga hubungan kekerabatan.
Karena kekufuran mereka, lenyaplah dari jiwa mereka hubungan kekerabatan dan ikatan-ikatan perjanjian, sehingga mereka tidak segan-segan menghantam orang mukmin dengan segala macam cara yang dapat mereka lakukan. Mereka berusaha mengambil setiap kesempatan untuk menghancurkan kaum Muslimin secara kelompok atau perorangan, secara terang-terangan atau sembunyi pada setiap kesempatan. Maka akhir ayat ini menyatakan bahwa berbagai perbuatan itu benar-benar telah melampaui batas.
Demikianlah beberapa alasan kenapa Allah segerakan azab kepada orang-orang yang berbuat zhalim dan memutus hubungan kekerabatan atau hubungan silatur rahmi baik melalui perjanjian maupun telah terbentuk dengan sendirinya.
Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏