“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

KEISTIMEWAAN IBNU 'ABBAS
('Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Para shahabat menurut ulama hadits, mereka semuanya adalah 'adil (terhindar dari sifat tercela), namun dilain sisi mereka berbeda dalam ke-dhabith-an (kekuatan hafalan). Oleh sebab itu, diantara penyebab kekuatan hafalan tersebut terbantu dengan cara Rasulullah ﷺ mendoakan mereka. Seperti dialami oleh Ibnu 'Abbas dimasa kanak-kanak. Dikemudian hari terbukti mereka yang pernah didoakan tersebut dikenal ahli dibidang tafsir dan sebagai ahli fiqih. 

Berkata imam Malik, 

أَخْبَرَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ عَنْ حَسَّانَ قَالَ مَا ازْدَادَ عَبْدٌ بِاللَّهِ عِلْمًا إِلَّا ازْدَادَ النَّاسُ مِنْهُ قُرْبًا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ وَقَالَ فِي حَدِيثٍ آخَرَ مَا ازْدَادَ عَبْدٌ عِلْمًا إِلَّا ازْدَادَ قَصْدًا وَلَا قَلَّدَ اللَّهُ عَبْدًا قِلَادَةً خَيْرًا مِنْ سَكِينَةٍ. (رواه مالك: ٣٨٩) 

Telah mengabarkan kepada kami Abu Al Mughirah telah menceritakan kepada kami Al 'Auza'i dari Al Hassan ia berkata, "Tidaklah bertambah ilmu seseorang, melainkan ia semakin dekat dengan rahmat Allah, dan dia berkata dalam hadits yang lain, "Dan tidaklah seorang bertambah ilmu kecuali ia akan semakin kuat menuju (Allah) dan sungguh Allah tidak memberikan pengikat (kalung) yang lebih baik kepada seseorang dibandingkan dengan rasa ketenangan". (HR. Malik: 389 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Hasan bin 'Athiyah, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Bakar dan negeri hidup Syam) 

Salah satunya adalah Ibnu 'Abbas. Sebagaimana komentar Abu Salamah dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam ad Darimi, 

أَخْبَرَنَا أَبُو مَعْمَرٍ إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ لَوْ رَفَقْتُ بِابْنِ عَبَّاسٍ لَأَصَبْتُ مِنْهُ عِلْمًا كَثِيرًا. (رواه الدارمي: ٤١٤) 

Telah mengabarkan kepada kami Abu Ma'mar Isma'il bin Ibrahim, dari Sufyan dari Az Zuhri dari Abu Salamah ia berkata, "Kalau saja dahulu aku berteman dengan Ibnu Abbas niscaya aku mendapatkan ilmu yang banyak". (HR. Ad Darimi: 414 -  isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari 'Abdullah bin 'Abdur Rahman bin 'Auf, tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 94 H) 

Begitu juga hadits riwayat ad Darimi: 567 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari 'Abdullah bin 'Abdur Rahman bin 'Auf, tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 94 H.

Ibnu 'Abbas banyak menafsirkan firman Allah dan tafsirnya diikuti oleh banyak shahabat bahkan sampai saat ini. Salah satunya sebagai berikut:

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْحَكَمِ قَالَ سَمِعْتُ مُجَاهِدًا يُحَدِّثُهُ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ { يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمْ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ } قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قُبُلِ عِدَّتِهِنَّ. (رواه النسائي: ٣٣٤٠) 

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Basysyar, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Al Hakam, ia berkata; saya pernah mendengar Ibnu Abbas menceritakan kepada Mujahid tentang firman Allah 'Azza wa Jalla: Hai Nabi jika engkau menceraikan istri-istrimu maka hendaknya engkau ceraikan mereka pada waktu mereka mendapati iddahnya, Ibnu Abbas radhiallahu'anhu berkata; yaitu pada awal 'iddahnya. (HR. An Nasa'i: 3340 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H) 

Alasan selanjutnya bahwa Ibnu 'Abbas pernah didoakan oleh Rasulullah secara langsung waktu kecil. Sebagaimana hadits diriwayatkan oleh imam Ahmad, 

حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ خَالِدٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ مَسَحَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأْسِي وَدَعَا لِي بِالْحِكْمَةِ. (رواه أحمد: ١٧٤٣) 

Telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Khalid dari 'Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Nabi ﷺ mengusap kepalaku dan mendoakan agar aku mendapatkan hikmah. (HR. Ahmad: 1743 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Demikian juga shahabat As Saa'ib bin Yazid, pernah diusap kepalanya oleh Rasulullah ﷺ dan beliau mendoakannya. Sebagaimana imam al Bukhari menceritakan, 

بَاب حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ يُونُسَ قَالَ حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ عَنْ الْجَعْدِ قَالَ سَمِعْتُ السَّائِبَ بْنَ يَزِيدَ يَقُولُ ذَهَبَتْ بِي خَالَتِي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ ابْنَ أُخْتِي وَجِعٌ فَمَسَحَ رَأْسِي وَدَعَا لِي بِالْبَرَكَةِ ثُمَّ تَوَضَّأَ فَشَرِبْتُ مِنْ وَضُوئِهِ ثُمَّ قُمْتُ خَلْفَ ظَهْرِهِ فَنَظَرْتُ إِلَى خَاتَمِ النُّبُوَّةِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ مِثْلَ زِرِّ الْحَجَلَةِ. (رواه البخاري: ١٨٣) 

Bab. Telah menceritakan kepada kami 'Abdurrahman bin Yunus berkata, telah menceritakan kepada kami Hatim bin Isma'il dari Al Ja'd berkata, aku mendengar As Sa'ib bin Yazid berkata, "Bibiku pergi bersamaku menemui Nabi ﷺ, lalu ia berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya putra saudara perempuanku ini sedang sakit." Maka Nabi ﷺ mengusap kepalaku dan memohonkan keberkahan untukku. Kemudian beliau berwudhu, maka aku pun minum dari sisa air wudhunya, kemudian aku berdiri di belakangnya hingga aku melihat ada tanda kenabian sebesar telur burung di pundaknya." (HR. Al Bukhari: 183 - shahih dari As Saa'ib bin Yazid bin Sa'id bin Tsumaamah bin al Aswad, ia shahabat negeri hidup Madinah dan wafat tahun 91 H) 

Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 5238 dan 5875, Muslim: 4328 [hadits 'aziz, imam muslim meriwayat dari dua orang gurunya yaitu Qutaibah bin Sa'id bin Jamil bin Tharif bin 'Abdullah [w. 240 H] dan Muhammad bin 'Abbad bin az Zibriqan [w. 234) - shahih dari As Saa'ib bin Yazid bin Sa'id bin Tsumaamah bin al Aswad, ia shahabat negeri hidup Madinah dan wafat tahun 91 H.

Hal yang sama juga dialami oleh Yusuf bin 'Abdullah bin Salam, sebagaimana imam Ahmad berkata, 

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي الْهَيْثَمِ الْعَطَّارُ قَالَ سَمِعْتُ يُوسُفَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ يَقُولُ سَمَّانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسَحَ عَلَى رَأْسِي. (رواه أحمد: ٢٢٧١٧) 

Telah bercerita kepada kami Waki' telah bercerita kepada kami Yahya bin Abu Al Haitsam Al Aththar berkata, Aku mendengar Yusuf bin 'Abdullah bin Salam berkata, Rasulullah ﷺ memberiku nama dan mengusap kepalaku. (HR. Ahmad: 22717 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Yusuf bin 'Abdullah bin Salam, ia shahabat kuniyahnya Abu Ya'qub dan wafat di Madinah) 

Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 15809 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Yusuf bin 'Abdullah bin Salam, ia shahabat kuniyahnya Abu Ya'qub dan wafat di Madinah. Dengan bunyi matan, 

" ... قَالَ سَمَّانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوسُفَ وَمَسَحَ عَلَى رَأْسِي." (رواه أحمد: ١٥٨٠٩) 

" .. Yusuf bin Abdullah Salam berkata; Rasulullah ﷺ menamakanku dengan nama Yusuf kemudian beliau mengusap kepalaku." (HR. Ahmad: 15809 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Yusuf bin 'Abdullah bin Salam, ia shahabat kuniyahnya Abu Ya'qub dan wafat di Madinah)

Hal yang sama dialami oleh Qurrah bin 'Iyas, bahwa beliau mengatakan, "Nabi ﷺ pernah mengusap kepalaku." Hanya saja tidak disebutkan nabi mendoakannya. Sebagaimana imam Ahmad berkata, 

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ قُرَّةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ مَسَحَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَأْسِي. (رواه أحمد: ١٥٠٤٠) 

Telah menceritakan kepada kami Waki' dari Syu'bah dari Mu'awiyah bin Qurrah dari Bapaknya berkata; Nabi ﷺ pernah mengusap kepalaku. (HR. Ahmad: 15040 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Qurrah bin 'Iyas bin Hilal, ia shahabat kuniyahnya Abu Mu'awwiyah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 64 H) 

Demikian juga hadits dengan sanad dan matan yang sama riwayat Ahmad: 19469 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Qurrah bin 'Iyas bin Hilal, ia shahabat kuniyahnya Abu Mu'awwiyah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 64 H.

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ قُرَّةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ مَسَحَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَأْسِي. (رواه أحمد: ١٩٤٦٩) 


Telah menceritakan kepada kami Waki' dari Syu'bah dari Mu'awiyah bin Qurrah dari Ayahnya ia berkata, "Nabi ﷺ pernah mengusap kepalaku." (HR. Ahmad: 19469 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Qurrah bin 'Iyas bin Hilal, ia shahabat kuniyahnya Abu Mu'awwiyah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 64 H)

Catatan: hadits riwayat Ahmad: 15040 diulang kembali ditulis pada hadits riwayat Ahmad: 19469.

Para shahabat yang pernah didoakan oleh Rasulullah ﷺ, mereka setelah dewasa menjadi ahli tafsir atau ahli hikmah. Pendapat-pendapat mereka diikuti baik sesama shahabat maupun kaum muslimin hingga sekarang. Hanya saja, tidak semua penafsiran mereka yang tercatat dengan baik. Sehingga mesti mencari penafsiran shahabat lain. Hal tersebut tidak mengurangi kualitas pemahaman para pencari ilmu yaitu ulama sesudahnya.

Ahli tafsir dikalangan para shahabat tidak ketinggalan juga peran Ibnu Mas'ud dalam bidang tafsir dan fiqih, sebagaimana diinformasikan oleh imam Ahmad, 

حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ خِلَاسٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ قَالَ أَتَى ابْنُ مَسْعُودٍ فِي رَجُلٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةً فَمَاتَ عَنْهَا وَلَمْ يَفْرِضْ لَهَا وَلَمْ يَدْخُلْ بِهَا فَسُئِلَ عَنْهَا شَهْرًا فَلَمْ يَقُلْ فِيهَا شَيْئًا ثُمَّ سَأَلُوهُ فَقَالَ أَقُولُ فِيهَا بِرَأْيِي فَإِنْ يَكُ خَطَأً فَمِنِّي وَمِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنْ يَكُ صَوَابًا فَمِنْ اللَّهِ لَهَا صَدَقَةُ إِحْدَى نِسَائِهَا وَلَهَا الْمِيرَاثُ وَعَلَيْهَا الْعِدَّةُ فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ أَشْجَعَ فَقَالَ أَشْهَدُ لَقَضَيْتَ فِيهَا بِقَضَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بِرْوَعَ ابْنَةِ وَاشِقٍ قَالَ فَقَالَ هَلُمَّ شَاهِدَاكَ فَشَهِدَ لَهُ الْجَرَّاحُ وَأَبُو سِنَانٍ رَجُلَانِ مِنْ أَشْجَعَ. (رواه احمد: ١٧٧٣٢) 

Telah menceritakan kepada kami Abu Daud Telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Qatadah dari Khilas dari Abdullah bin Utbah ia berkata; Ibnu Masud mendatangi seorang laki-laki yang telah menikahi seorang wanita, kemudian meninggal dunia dan belum sempat memberikan maharnya serta belum pernah mencampurinya. Ibnu Mas'ud ditanya tentang perkara hukum perempuan tersebut, dan selama kurun waktu satu bulan belum memberikan jawaban. kemudian mereka kembali bertanya kepadanya, akhirnya beliau pun berkata, "Aku akan menjawab dengan pendapatku sendiri. Jika pendapatku salah, maka itu adalah dari kelemahan diriku dan datangnya dari setan, tapi apabila pendapatku benar, maka hal itu datangnya dari Allah. Wanita itu berhak mendapatkan mahar sebagaimana istri yang lain, ia juga berhak mendapatkan bagian harta warisan. Dan baginya ada keharusan menunggu masa iddah." Kemudian berdirilah seorang laki-laki dari Bani Asyja' seraya berkata, "Aku bersumpah bahwa Anda telah memutuskan perkara wanita tersebut sebagaimana Rasulullah memutuskan perkaranya Birwa' binti Wasiq." Lalu Ibnu Masud berkata, "Datangkanlah padaku saksimu!" Maka bersaksilah Jarrah dan Abu Sinan serta dua orang laki-laki dari bani Asyja'." (HR. Ahmad: 17732 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari al Jarrah bin Abi al Jarrah dan Abu Sinan, keduanya shahabat. Hadits ini tergolong hadits 'aziz karena diriwayatkan salah satu tabaqat atau tingkat shahabat oleh dua orang periwayat) 

Demikianlah bebarapa shahabat yang pernah didoakan oleh Rasulullah ﷺ dan mereka memperoleh keistimewaan. Sehingga apa pun yang mereka lakukan senantiasa istiqamah dan berwawasan dalam bidang tafsir. 

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]