“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

KAFAN TERBAIK
(bukan yang mahal, bukan melebihi tiga lapis)
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Penyelenggaraan jenazah adalah suatu urusan fardhu kifayah, dimana sebagian orang melaksanakannya maka kewajiban semuanya orang terhadapnya terpenuhi. Salah satu urusan tersebut adalah mengafani. Nah, pada tilisan kali ini penulis ingin memaparkan tentang Kain Kafan dan Penyediaannya.

Imam at Tirmidzi berkata,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ بْنُ عَمَّارٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وَلِيَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُحْسِنْ كَفَنَهُ وَفِيهِ عَنْ جَابِرٍ.

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ و قَالَ ابْنُ الْمُبَارَكِ قَالَ سَلَّامُ بْنُ أَبِي مُطِيعٍ فِي قَوْلِهِ وَلْيُحْسِنْ أَحَدُكُمْ كَفَنَ أَخِيهِ قَالَ هُوَ الصَّفَاءُ وَلَيْسَ بِالْمُرْتَفِعِ. (رواه الترمذي: ٩١٦)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar, telah menceritakan kepada kami Umar bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Ikrimah bin 'Ammar dari Hisyam bin Hassan dari Muhammad bin Sirrin dari Abu Qatadah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika seseorang mengurusi saudaranya, hendaknya dia memberinya kafan yang bagus." Hadits semakna diriwayatkan dari Jabir.

Abu 'Isa berkata, "Ini merupakan hadits hasan gharib. Ibnu Al Mubarak berkata; Sallam bin Abu Muthi' berkata; mengenai perkataan, "Hendaknya dia memperbagus kain kafan saudaranya" artinya, kafan yang bersih bukan kafan yang mahal." (HR. At Tirmidzi: 916 - shahih dari al Harits bin Rib'iy, ia shahabat kuniyahnya Abu Qatadah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H)

Lebih jelasnya, imam Muslim meriwayatkan,

حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ وَحَجَّاجُ بْنُ الشَّاعِرِ قَالَا حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يُحَدِّثُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ يَوْمًا فَذَكَرَ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِهِ قُبِضَ فَكُفِّنَ فِي كَفَنٍ غَيْرِ طَائِلٍ وَقُبِرَ لَيْلًا فَزَجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُقْبَرَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهِ إِلَّا أَنْ يُضْطَرَّ إِنْسَانٌ إِلَى ذَلِكَ وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَفَّنَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُحَسِّنْ كَفَنَهُ. (رواه مسلم: ١٥٦٧)

Telah menceritakan kepada kami Harun bin Abdullah dan Hajjaj bin Asy Sya'ir keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Muhammad ia berkata, Ibnu Juraij berkata, telah mengabarkan kepadaku Abu Zubair bahwa ia mendengar Jabir bin Abdullah menceritakan bahwa pada suatu hari Nabi ﷺ berkhutbah lalu menyebutkan kisah tentang salah seorang sahabatnya yang meninggal dan dikafani dengan kain yang tidak menutupi seluruh badannya, kemudian dimakamkan di malam hari. Rasulullah ﷺ melarang untuk menguburkannya di malam hari sampai dishalatkan, kecuali jika keadaannya sangat terpaksa, lalu Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika salah seorang dari kalian mengkafani saudaranya, maka hendaknya ia memperbagus kafannya." (HR. Muslim: 1567 - shahih dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H. Hadits ini tergolong hadits 'aziz, karena imam Muslim meriwayatkan dari dua orang gurunya, yaitu Harun bin 'Abdullah [w. 243 H] dan Hajjaj bin Yusuf [w. 259 H] keduanya negeri hidup Baghdad)

Demikian juga hadits riwayat an Nasa'i: 1869 [hadits 'aziz], Abu Daud: 2737, Ahmad: 13631 [hadits 'aziz] - dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia shahabat Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H.

Pengambilan harta untuk penyediaan Kafan, sebagaimana diriwayatkan oleh imam ad Darimi: 3109,

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ الْمُغِيرَةِ عَنْ ابْنِ الْمُبَارَكِ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءٍ قَالَ الْحَنُوطُ وَالْكَفَنُ مِنْ رَأْسِ الْمَالِ. (رواه الدارمي: ٣١٠٩)

Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Al Mughirah dari Ibnu Al Mubarak dari Ibnu Juraij dari 'Atha ia berkata, "Wewangian dan kafan diambil dari pokok harta." (HR. Ad Darimi: 3109 - isnadnya dha'if menurut Husain Salim Asad ad Darani dari 'Atha' bin Abi Rabah Aslam, tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 114 H. Hadits munqathi', periwayatnya maqbul)

Sementara pada jalur lain dikatakan,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا حَفْصٌ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ عَنْ الْحَكَمِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ قَالَ الْكَفَنُ مِنْ جَمِيعِ الْمَالِ. (رواه الدارمي: ٣١٠٥)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Hafsh dari Isma'il bin Abu Khalid dari Al Hakam dari Ibrahim ia berkata, "Kafan diambil dari seluruh harta." (HR. Ad Darimi: 3105 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Ibrahim bin Yazid bin Qais, tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu 'Imrah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 96 H. Menurut Ibnu Hibban "disebutkan dalam ats tsiqat")

Demikian juga jalur riwayat berikut:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ مُسْهِرٍ عَنْ إِسْمَعِيلَ عَنْ الْحَسَنِ قَالَ الْكَفَنُ مِنْ وَسَطِ الْمَالِ يُكَفَّنُ عَلَى قَدْرِ مَا كَانَ يَلْبَسُ فِي حَيَاتِهِ ثُمَّ يُخْرَجُ الدَّيْنُ ثُمَّ الثُّلُثُ. (رواه الدارمي: ٣١١٠)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Uyainah dari Ali bin Mushir dari Isma'il dari Al Hasan ia berkata, "Kafan diambil dari kain yang biasa, ia dikafani sekedar apa yang ia kenakan pada masa hidupnya, kemudian harta dikeluarkan untuk membayar utang kemudian sepertiga untuk wasiat." (HR. Ad Darimi: 3110 - isnadnya dha'if menurut Husain Salim Asad ad Darani dari al Hasan bin Abi al Hasan Yasar, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 110 H)

Dalam sanad hadits riwayat ad Darimi: 3110, terdapat periwayat yang lemah, yaitu: Isma'il bin Muslim, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Ishaq dan negeri hidup Marur Rawdz. Penilaian ulama: Yahya bin Sa'id menilainya mukhallith, Syufyan bin Uyainah mengatakan, "ia melakukan kekeliruan". Ahmad bin Hanbal menilainya munkarul hadits. Yahya bin Ma'in menilainya laisa bi syai', Ali bin al Madini menilainya laa yaktub haditsuhu. 'Amru bin al Fallas menilainya dha'if fil hadits yahummuhu fihi, shaduq. Sementara Ibnu Hajar menilainya faqih, dha'iful hadits.

Menelaah dari hadits yang ada, maka dapat dipahami bahwa telah terdapat kekeliruan periwayatan dalam riwayat imam ad Darimi: 3110. Sehingga nash yang diambil adalah yang paling kuat yaitu "penyediaan kafan dapat diambil dari seluruh harta, baik harta warisan maupun dari harta orang lain". Ini dipahami dari matan hadits riwayat ad Darimi: 3105. Selanjunya seperti lafazh hadits sebelumnya memberi, mengafani kafan terbaik buat "saudaramu". Lafazh ini juga umum, oleh karena itu tidak ada batasan siapa yang mesti menyediakan Kafan si mayit.

Namun demikian, tentu yang paling utama adalah dari harta si mayit setelah hutang dan wasiatnya ditunaikan. Hal tersebut jelas memakan waktu yang agak lama. Sehingga berpotensi melalaikan pelaksanaan penguburan si mayit. Oleh sebab itu, cara yang mashlahat adalah tunaikan fardhu kifayah kepada si mayit termasuk tentang penyediaan Kafannya.

Rasulullah ﷺ dikafani dengan lapis tanpa jubah dan sirban. Hal ini diceritakan oleh imam Abu Daud: 2740,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ هِشَامٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبِي أَخْبَرَتْنِي عَائِشَةُ قَالَتْ كُفِّنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ يَمَانِيَةٍ بِيضٍ لَيْسَ فِيهَا قَمِيصٌ وَلَا عِمَامَةٌ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا حَفْصٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ مِثْلَهُ زَادَ مِنْ كُرْسُفٍ قَالَ فَذُكِرَ لِعَائِشَةَ قَوْلُهُمْ فِي ثَوْبَيْنِ وَبُرْدٍ حِبَرَةٍ فَقَالَتْ قَدْ أُتِيَ بِالْبُرْدِ وَلَكِنَّهُمْ رَدُّوهُ وَلَمْ يُكَفِّنُوهُ فِيهِ. (رواه أبوداود: ٢٧٤٠)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id, dari Hisyam ia berkata; telah mengabarkan kepadaku ayahku telah menceritakan kepadanya Aisyah ia berkata; Rasulullah ﷺ dikafani dalam tiga kain dari Yaman yang berwarna putih, tidak ada padanya jubah dan sorban. Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Hafsh dari Hisyam bin 'Urwah dari ayahnya dari Aisyah seperti itu, ia menambahkan; dari Kursuf (kapas). Ia berkata; kemudian diceritkan kepada Aisyah ucapan mereka mengenai dua kain dan burdah hibarah (pakaian Yaman yang bergaris-garis dari kapas). Kemudian Aisyah berkata; telah didatangkan pakaian burdah akan tetapi mereka menolaknya dan tidak mengafani beliau padanya. (HR. Abu Daud: 2740 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H. Hadits ini tergolong hadits 'aziz, diantara syaratnya bahwa imam Abu Daud meriwayatkan dari dua orang gurunya yaitu Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad [w. 241] dan Qutaibah bin Sa'id [w. 240] negeri hidup keduanya Baghdad dan Hims)

Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 1185, 1192, 1193 dan 1298 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H.

Bantahan 'Aisyah,

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كُفِّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ بِيضٍ يَمَانِيَةٍ لَيْسَ فِيهَا قَمِيصٌ وَلَا عِمَامَةٌ قَالَ فَذَكَرُوا لِعَائِشَةَ قَوْلَهُمْ فِي ثَوْبَيْنِ وَبُرْدِ حِبَرَةٍ فَقَالَتْ قَدْ أُتِيَ بِالْبُرْدِ وَلَكِنَّهُمْ رَدُّوهُ وَلَمْ يُكَفِّنُوهُ فِيهِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. (رواه الترمذي: ٩١٧)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Ghiyats dari Hisyam bin Urwah dari Bapaknya dari 'Aisyah berkata, "Nabi ﷺ dikafani memakai tiga potong kain putih dari Yaman. Di dalamnya tidak ada baju yang dijahit ataupun penutup kepala." ('Urwah) berkata, "Mereka mengatakan kepada 'Aisyah tentang ucapannya (bahwa Nabi ﷺ dikafani) dengan dua kain putih dan satu selimut yang bergaris. Lalu ('Aisyah) menjawab; 'Betul, telah disodorkan selimut untuknya, namun mereka menolaknya dan tidak mengkafani Nabi ﷺ dengannya'." Abu 'Isa berkata, "Ini merupakan hadits hasan shahih." (HR. At Tirmidzi: 917 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Oleh karena itu riwayat berikut tertolak,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَعُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَا حَدَّثَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ عَنْ يَزِيدَ يَعْنِي ابْنَ أَبِي زِيَادٍ عَنْ مِقْسَمٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كُفِّنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ نَجْرَانِيَّةٍ الْحُلَّةُ ثَوْبَانِ وَقَمِيصُهُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ قَالَ أَبُو دَاوُد قَالَ عُثْمَانُ فِي ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ حُلَّةٍ حَمْرَاءَ وَقَمِيصِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ. (رواه أبوداود: ٢٧٤١)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal dan Utsman bin Abu Syaibah?, mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris dari Yazid? bin Abu Ziyad dari Miqsam dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah ﷺ dikafani dalam tiga kain dari Najran dua kain dan satu jubah yang beliau pakai tatkala meninggal. Abu Daud berkata; Utsman berkata; dalam tiga kain, dua pakaian dan jubahnya yang beliau pakai ketika meninggal. Abu Daud berkata; Utsman berkata; dalam tiga kain, pakaian merah, dan jubah yang beliau pakai ketika meninggal. (HR Abu Daud: 2741 - dha'if dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Catatan: dalam sanad terdapat Yazid bin Abi Ziyad, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 136 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, Abu Hatim dan an Nasa'i menilainya laisa bi qawi. Abu Zur'ah menilainya layyin, Ibnu Sa'ad, Ibnu Qani' dan Ibnu Hajar menilainya dha'if, sementara adz Dzahabi menilainya shaduq syi'ah.

Begitu juga hadits berikut:

حَدَّثَنَا عَفَّانُ وَحَسَنُ بْنُ مُوسَى قَالَا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ قَالَ عَفَّانُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ ابْنِ الْحَنَفِيَّةِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُفِّنَ فِي سَبْعَةِ أَثْوَابٍ. (رواه أحمد: ٧٦٢)

Telah menceritakan kepada kami Affan dan Hasan bin Musa keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Abdullah bin Muhammad bin 'Aqil, Affan berkata; Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin 'Aqil dari Muhammad bin Ali bin Al Hanafiyah dari bapaknya; "Bahwa Nabi ﷺ dikafani dengan tujuh lapis kain kafan." (HR. Ahmad: 762 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Ali bin Abi Thalib bin 'Abdu al Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H)

Catatan: dalam sanad terdapat periwayat bernama 'Abdullah bin Muhammad bin 'Aqil bin Abi Thalib, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 142 H. Penilaian ulama: Muhammad bin Sa'ad menilainya munkarul hadits, sedangkan Yahya bin Ma'in berkata, "tidak boleh berhujjah dengan haditsnya. Abu Hatim menilainya layyinul hadits. Ibnu Hajar menikainya shaduq, terdapat kesalahan.

Oleh sebab itu, mengafani mayit, lebih dari tiga lapis terindikasi pemahaman dari aliran Syi'ah. Karena dilihat dari periwayatannya dari periwayat Syi'ah dan 'Ali bin Abi Thalib sebagai shahabat yang mereka agung-agungkan sama, bahkan melebih Rasulullah ﷺ.

Kafan untuk putri Rasulullah ﷺ,

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ أَخْبَرَنَا أَيُّوبُ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أَتَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَغْسِلُ ابْنَتَهُ عَلَيْهَا السَّلَام فَقَالَ اغْسِلْنَهَا ثَلَاثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَاجْعَلْنَ فِي الْآخِرَةِ كَافُورًا أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُورٍ فَإِذَا فَرَغْتُنَّ فَآذِنَّنِي قَالَتْ فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ فَأَلْقَى إِلَيْنَا حَقْوَهُ وَقَالَ أَشْعِرْنَهَا إِيَّاهُ قَالَ وَقَالَتْ حَفْصَةُ قَالَ اغْسِلْنَهَا وِتْرًا ثَلَاثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ سَبْعًا قَالَ وَقَالَتْ أُمُّ عَطِيَّةَ مَشَطْنَاهَا ثَلَاثَةَ قُرُونٍ. (رواه أحمد: ١٩٨٦٠)

Telah menceritakan kepada kami Isma'il, telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Muhammad dari Ummu 'Athiyyah dia berkata, "Rasulullah ﷺ datang menemui kami, sementara kami sedang memandikan putrinya, lalu beliau bersabda, "Siramlah dengan air dan daun bidara sebanyak tiga atau lima kali atau lebih dari itu jika kalian lihat perlu, dan jadikan pada siraman terakhir dengan air kapur barus atau sesuatu dari kapur barus, apabila kalian sudah selesai, beritahukanlah kepadaku!." Ummu 'Athiyyah berkata, "Seusai memandikan, kami memberitahukan kepada beliau, lalu beliau melemparkan kain (kafan) kepadaku sambil bersabda, "Pakaikanlah kain itu padanya!." Muhammad berkata; Hafshah berkata; lalu beliau bersabda, "Mandikanlah dengan bilangan ganjil sebanyak tiga, lima atau tujuh kali." Muhammad berkata; Ummu 'Athiyyah mengatakan, "Lalu kami menyisir rambutnya menjadi tiga kepang." (HR. Ahmad: 19860 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Nusaibah binti Ka'ab, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu 'Athiyah dan negeri hidup Bashrah)

Begitu juga hadits riwayat Ahmad: 19865 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Nusaibah binti Ka'ab, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu 'Athiyah dan negeri hidup Bashrah.
Sunnahnya mengafani si mayit adalah tiga lapis baik mayit laki-laki, maupun perempuan.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]