“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

AMAL LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Laki-laki dan perempuan dihadapan Allah adalah sama, kemudian kodrat dan kehendaknya menghendaki demikian dalam beribadah dan bermunajad kepada-Nya. Disisi lain, baik laki-laki maupun perempuan mempunyai perbedaan jika dihadapkan pada kodrat secara horizontal. Oleh karena itu, hubungan horizontal tersebut mesti di atur agar peran masing-masing saling menguatkan. Hal ini dapat diberikan conntoh, misalnya dalam rumah tangga dan berkeluarga. Laki-laki mencari nafkah dan perempuan mengurus rumah tangga. Seperti itu seterusnya agar terjadi keharmonisan hidup. Diluar dari itu, maka berlaku hukum dan adat tersendiri menurut kondisinya.

Imam at Tirmidzi menceritakan tentang protesnya Ummu Salamah mempertanyakan masalah kedudukan laki-laki dan perempuan dihadapan Allah terkait hijrah mereka.

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ رَجُلٍ مِنْ وَلَدِ أُمِّ سَلَمَةَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَا أَسْمَعُ اللَّهَ ذَكَرَ النِّسَاءَ فِي الْهِجْرَةِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى { أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ }. (رواه الترمذي: ٢٩٤٩)

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan dari 'Amru bin Dinar dari seseorang anak Ummu Salamah, dari Ummu Salamah ia berkata, "Wahai Rasulullah, aku tidak mendengar Allah menyebut kaum wanita dalam hijrah." Lalu Allah Ta'ala menurunkan Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain" (QS. Ali 'Imran/3: 195). (HR. At Tirmidzi: 2949 - shahih bima qablahu menurut al Albani dari Hind binti Abi Umayyah bin al Mughirah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 62 H)

Catatan: anak Ummu Salamah yaitu Salamah bin 'Abdullah bin 'Umar, ia tabi'in kalangan pertengahan.

Amal sekecil apa pun dan oleh siapa pun tidak boleh diremehkan. Sebagaimana sabda Rasulullah yang diceritakan oleh imam Ahmad,

حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا سَلَّامُ بْنُ مِسْكِينٍ عَنْ عَقِيلِ بْنِ طَلْحَةَ حَدَّثَنَا أَبُو جُرَىٍّ الْهُجَيْمِيُّ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ فَعَلِّمْنَا شَيْئًا يَنْفَعُنَا اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِهِ قَالَ لَا تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَاءِ الْمُسْتَسْقِي وَلَوْ أَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَوَجْهُكَ إِلَيْهِ مُنْبَسِطٌ وَإِيَّاكَ وَتَسْبِيلَ الْإِزَارِ فَإِنَّهُ مِنْ الْخُيَلَاءِ وَالْخُيَلَاءُ لَا يُحِبُّهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنْ امْرُؤٌ سَبَّكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلَا تَسُبَّهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّ أَجْرَهُ لَكَ وَوَبَالَهُ عَلَى مَنْ قَالَهُ.

حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا سَلَّامٌ حَدَّثَنَا عَقِيلُ بْنُ طَلْحَةَ عَنْ أَبِي جُرَيٍّ الْهُجَيْمِيِّ أَنَّهُ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أُنَاسٍ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ فَقَالُوا إِنَّا مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ فَلَا تَشْتُمْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّ أَجْرَ ذَلِكَ لَكَ وَوَبَالَهُ عَلَيْهِ. (رواه أحمد: ١٩٧١٦)

Telah menceritakan kepada kami Yazid, telah mengabarkan kepada kami Sallam bin Miskin dari 'Aqil bin Thalhah, telah menceritakan kepada kami Abu Jurai Al Hujaimi ia berkata; Aku datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu aku bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami adalah satu kaum dari penduduk dusun, maka ajarkanlah pada kami sesuatu yang Allah Tabaraka wa Ta'ala akan memberikan manfaat buat kami!." Beliau bersabda, "Janganlah meremehkan kebaikan sekecil apapun, sekalipun hanya dengan menuangkan ember airmu ke bejana orang yang membutuhkan air, dan sekalipun kamu berbicara dengan saudaramu dengan wajah berseri-seri, dan janganlah engkau menurunkan kain di bawah mata kaki (isbal) karena ia bagian dari sifat sombong, sementara Allah 'Azza wa Jalla tidak menyukai sifat sombong, jika ada seseorang yang mencacimu dan menghinamu karena dia tahu tentang dirimu, maka janganlah kamu menghinanya karena kamu tahu tentang dia, maka itu akan menjadi pahalamu dan akan menjadi dosa baginya."

Telah menceritakan kepada kami Abdushamad, telah menceritakan kepada kami Sallam, telah menceritakan kepada kami 'Aqil bin Thalhah dari Abu Jurai Al Hujaimi bahwa ia datang bersama dengan penduduk dusun kepada Rasulullah ﷺ, lalu mereka berkata, "Sugguh kami dari penduduk dusun… lalu ia menyebutkan hadits, kecuali ada tambahan dengan redaksi, "Maka janganlah kamu menghinanya dengan apa yang engkau tahu, karena pahalanya untukmu dan dosanya untuknya." (HR. Ahmad: 19716 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Jabir bin Sulaim, ia shahabat dan kuniyahnya Abu Juray)

Catatan: hadits riwayat Ahmad: 19716 adalah tergolong hadits 'aziz. Karena imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang gurunya yaitu: 1. Yazid bin Harun, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Khalid negeri hidup Hait dan wafat tahun 206 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, Ibnul Madini, al 'Ajli, Abu Hatim, Ibnu Sa'ad dan Ya'qub bin Syaibah menilainya tsiqah. Sedangkan Ibnu Qani' menilainya tsiqah ma'mun, Ibnu Hajar menilainya tsiqah ahli ibadah dan adz Dzahabi menilainya seorang tokoh. Sementara Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat". 2. 'Abdush Shamad bin 'Abdul Warits bin Sa'id bin Dzakwan, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Sahal negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 207 H. Penilaian ulama: Abu Hatim menilainya shaduq shalih, Ibnu Hajar menilainya shaduq, adz Dzahabi menilainya hafizh. Sedangkan Ibnu Sa'ad menilainya tsiqah dan Hakim menilainya tsiqah ma'mun. Sementara Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat".

Oleh karena hal demikian maka sebagai seorang muslim tidak diperkenankan untuk menilai negatif terhadap prilaku seseorang sebelum ia tahu pasti kondisinya. Karena apa yang bakal terjadi di masa akan datang tidak seorang pun mengetahuinya.

Imam Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَفَاتِيحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا اللَّهُ لَا يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ إِلَّا اللَّهُ وَلَا يَعْلَمُ نُزُولَ الْغَيْثِ إِلَّا اللَّهُ وَلَا يَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ إِلَّا اللَّهُ وَلَا يَعْلَمُ السَّاعَةَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ. (رواه أحمد: ٤٨٨٧)

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Sufyan dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Kunci ghaib itu ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah; Tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi di hari esok kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui turunnya hujan kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui apa yang ada dalam kandungan kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui waktu datangnya hari kiamat kecuali Allah, tidak ada jiwa yang mengetahui apa yang dapat diperbuatnya di hari esok serta tidak ada jiwa yang mengetahui di bumi mana ia akan meninggal dunia." (HR. Ahmad: 4887 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 981, 4261 dna 4328 [dua hadits terakhir adalah hadits ahlul Madinah], Ahmad: 4770 [hadits 'aziz), 4975 dan 5322 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. Semua hadits tersebut diriwayatkan secara makna, sedaksi berbeda namun kandungannya sama.

Terkait dengan sabab Nuzul,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ وَهْبٍ قَالَ حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَفَاتِيحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ ثُمَّ قَرَأَ { إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ }. (رواه البخاري: ٤٤٠٥)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaiman dia berkata; Telah menceritakan kepadaku Ibnu Wahab dia berkata; Telah menceritakan kepadaku Umar bin Muhammad bin Zaid bin Abdullah bin Umar bahwa Bapaknya menceritakan kepadanya; Sesungguhnya Abdullah bin Umar radhiallahu'anhuma berkata; Nabi ﷺ bersabda, "Kunci-kunci perkara ghaib ada lima." lalu beliau membaca ayat; Sesungguhnya hanya pada Allah sajalah pengetahuan tentang hari kiamat.. (QS. Luqman/31: 34). (HR. Al Bukhari: 4405 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Jalur lain diceritakan oleh imam Ahmad,

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَفَاتِيحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا اللَّهُ { إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ }. (رواه أحمد: ٤٥٣٦)

Telah menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Kunci-kunci ghaib itu ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah; ' (Sesungguhnya hanya Allah lah yang mengetahui datangnya hari kiamat, dan Dia lah Dzat yang menurunkan hujan, yang mengetahui janin yang ada dalam kandungan, dan jiwa manusia tidak mengetahui apa yang akan dapat diperbuatnya esok hari, dan ia juga tidak tahu di bumi mana dia akan mati, Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Maha Mengetahui) ' (QS. Luqman/31: 34). (HR. Ahmad: 4536 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Demikianlah uraian tentang amal seseorang baik laki-laki maupun perempuan. Dihadapan Allah adalah sama. Mereka sama-sama makhluk Allah yang dibebankan hak dan kewajiban. Sehingga Allah menjamin semua kebutuhan dan keperluan hidup mereka. Beramal sesuai dengan kodrat dan kemampuan masing.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]