PERUSAK UMAT
(tugas orang tua)
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Awal Islam tumbuh dan berkembang dikalangan bangsa Quraisy yang multi talenta. Nabi Muhammad saw ada diantara mereka. Sehingga presiksi pertama maju dan mundurnya umat Islam diukur dari kalangan mereka. Hingga Islam tumbuh dan berkembang hingga sekarang, berbagai bangsa, suku dan kelompok masyarakat memeluk agama Islam. Bagi mereka yang mewarisi karakter kesetiaan, loyalitas dan sikap solidaritas bangsa Quraisy masa Rasulullah dan shahabat maka mereka akan dapat menjaga umat ini. Tetapi, jika hal itu tidak terjadi maka kehancuran akan menghampiri.
Selanjutnya, kepemimpinan akan senantiasa dipergulirkan dari generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu, hal tersebut disematkan pada pundak para pemuda yang beriman dan cerdas serta kuat bukan mereka yang bodoh dan lemah.
Pernyataan-pernyataan tersebut telah diprediksi oleh Rasulullah ﷺ waktu beliau masih hidup di tengah-tengah para shahabat dan umat muslim. Tugas dan peran umat muslim saat ini adalah mengahadirkan ajaran-ajaran beliau dalam hidup dan kehidupan, dimana pun berada.
Mari kita lihat prediksi Rasulullah tentang kehancuran umat ini. Apa yang menjadi penyebab utamanya dan apa yang harus dilakukan jika hal tersebut terjadi? Bagaimana bahasa al Qur'an untuk melerai masalah ini?
Berikut penulis paparkan nash al Qur'an dan al Hadits terkait dengan masalah tersebut.
Imam Ahmad menceritakan,
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ سِمَاكٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ ظَالِمٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ حِبِّي أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ فَسَادَ أُمَّتِي عَلَى يَدَيْ غِلْمَةٍ سُفَهَاءَ مِنْ قُرَيْشٍ. (رواه أحمد: ٧٦٩٠)
Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Simak berkata; telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Zhalim berkata; aku mendengar Abu Hurairah berkata; aku mendengar kekasihku Abul Qosim ﷺ bersabda, "Sesungguhnya rusaknya umatku ini ada di tangan keturunan Quraisy yang bodoh." (HR. Ahmad: 7690 - shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Abu Hurairah menjelaskan lagi, sebagaimana imam al Bukhari meriwayatkan,
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمَكِّيُّ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْأُمَوِيُّ عَنْ جَدِّهِ قَالَ كُنْتُ مَعَ مَرْوَانَ وَأَبِي هُرَيْرَةَ فَسَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ الصَّادِقَ الْمَصْدُوقُ يَقُولُ هَلَاكُ أُمَّتِي عَلَى يَدَيْ غِلْمَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ فَقَالَ مَرْوَانُ غِلْمَةٌ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُسَمِّيَهُمْ بَنِي فُلَانٍ وَبَنِي فُلَانٍ. (رواه البخاري: ٣٣٣٧)
Telah bercerita kepada kami Ahmad bin Muhammad Al Makkiy telah bercerita kepada kami 'Amru bin Yahya bin Sa'id Al Umawiy dari kakeknya berkata, "Aku pernah bersama Marwan dan Abu Hurairah radhiallahu'anhu lalu aku mendengar Abu Hurairah radhiallahu'anhu berkata, "Aku mendengar ash-Shadiqul Mashduq (Orang yang jujur menyampaikan dan berita yang dibawanya adalah benar), Nabi ﷺ) bersabda, "Umatku (yang hidup pada zamanku ini) akan binasa di bawah (kekuasaan) anak kecil bangsa Quraisy". Maka Marwan bertanya, "Anak kecil (yang mana)?". Abu Hurairah radhiallahu'anhu menjawab, "Jika kamu mau, aku akan sebutkan nama mereka, dari Bani anu dan Bani anu". (HR. Al Bukhari: 3337 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 7953 - shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.
Lebih spesifik lagi menunjukkan Bani atau keturunan,
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَى بْنِ سَعِيدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ سَعِيدٍ قَالَ أَخْبَرَنِي جَدِّي قَالَ كُنْتُ جَالِسًا مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ فِي مَسْجِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ وَمَعَنَا مَرْوَانُ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ سَمِعْتُ الصَّادِقَ الْمَصْدُوقَ يَقُولُ هَلَكَةُ أُمَّتِي عَلَى يَدَيْ غِلْمَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ فَقَالَ مَرْوَانُ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ غِلْمَةً فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ لَوْ شِئْتُ أَنْ أَقُولَ بَنِي فُلَانٍ وَبَنِي فُلَانٍ لَفَعَلْتُ فَكُنْتُ أَخْرُجُ مَعَ جَدِّي إِلَى بَنِي مَرْوَانَ حِينَ مُلِّكُوا بِالشَّأْمِ فَإِذَا رَآهُمْ غِلْمَانًا أَحْدَاثًا قَالَ لَنَا عَسَى هَؤُلَاءِ أَنْ يَكُونُوا مِنْهُمْ قُلْنَا أَنْتَ أَعْلَمُ. (رواه البخاري: ٦٥٣٤)
Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il telah menceritakan kepada kami Amru bin Yahya bin Sa'id bin Amru bin Sa'id mengatakan, telah mengabarkan kepadaku ayahku mengatakan, pernah aku duduk bersama Abu Hurairah di masjid Nabi ﷺ di Madinah. Pada saat itu kami juga bersama Marwan. Abu Hurairah mengatakan; 'Aku mendengar seorang yang jujur menyampaikan, dan berita yang dibawanya adalah benar (Muhammad) mengatakan, "Kebinasaan umatku di tangan anak-anak muda Qurays." Spontan Marwan berseru; 'Kiranya laknat Allah tertimpa kepada mereka, anak-anak muda itu! ' Lantas Abu Hurairah mengatakan 'Kalau aku berkenan mengatakan bani fulan, bani fulan, niscaya kulakukan! ' Kemudian aku keluar (mengadakan perjalanan) bersama kakekku ke bani marwan ketika menjadi raja-raja Syam, dan jika ia melihat mereka, mereka adalah anak-anak muda yang masih belia, ia mengatakan kepada kami; 'bisa jadi mereka itu adalah diantara mereka itu (yang disebutkan dalam sabda Nabi).' Maka kami menjawab; 'Engkau lebih tahu! '. (HR. Al Bukhari: 6534 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Imam Ahmad menyebutkan, bahwa hancurnya umatku ditangan anak-anak bodoh yang jadi pemimpin dari bangsa Quraisy,
حَدَّثَنَا رَوْحٌ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ ظَالِمٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يُحَدِّثُ مَرْوَانَ بْنَ الْحَكَمِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبَا الْقَاسِمِ الصَّادِقَ الْمَصْدُوقَ يَقُولُ هَلَاكُ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ غِلْمَةٍ أُمَرَاءَ سُفَهَاءَ مِنْ قُرَيْشٍ. (رواه أحمد: ٧٩٩٧)
Telah menceritakan kepada kami Rauh telah mengabarkan kepada kami Syu'bah dari Simak bin Harb dari Malik bin Zhalim berkata, aku mendengar Abu Hurairah menceritakan kepada Marwan bin Al Hakam, dia berkata; Aku mendengar Rasulullah ﷺ Abul Qasim Seorang jujur dan terpercaya Bersabda, "Hancurnya umatku ada di tangan anak-anak bodoh yang jadi pemimpin dari bangsa Quraisy." (HR. Ahmad: 7997 - shahih, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 7532, 7690, 9902 - shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Dalam sanad hadits-hadits "ghilmatin umara'a sufahaa'" ini terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits. Mereka yaitu, 1. 'Abdullah bin Zhalim, ia tabi'in kalangan pertengahan. Penilaian ulama: al Bukhari menilainya layyin, Ibnu Hajar menilainya shaduq, al 'Ajli menilainya tsiqah. Sedangkan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat". 2. Simak bin Harbi bin 'Aus, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu al Mughirah dan wafat tahun 123 H. Penilaian ulama: Ibnu Hibban mengatakan, "ia banyak salah". Sedangkan adz Dzahabi menilainya jelek hafalannya. An Nasa'i mengatakan, "di haditsnya ada sesuatu". Yahya bin Ma'in dan adz Dzahabi menilainya tsiqah. Abu Hatim menilainya shaduq tsiqah.
Hadits-hadits mengisyaratkan bahwa pada zaman awal Islam, diprediksi oleh Rasulullah ﷺ umat Islam hancur oleh anak muda yang bodoh "as sufahaa'". Mereka adalah para anak muda, laki-laki atau pun perempuan yang lalai dan acuh terhadap perkembangan ilmu. Selanjutnya, prediksi tersebut bukanlah berlaku pada masa awal Islam jaya. Namun, alasan penyebutan bangsa Quraisy adalah karena Islam muncul pertama kali dari Quraisy yaitu Nabi Muhammad dan dilanjutkan oleh keturunan Quraisy juga. Hal ini berlanjut dengan kepemimpinan umat Islam yang terus berkembang dan mewariskan karakter ketaatan dan ketakwaan merambah kepada umat islam non Quraisy. Sehingga kepemimpinan tersebut bergulir. Agar kepemimpinan itu tetap terjaga dan berkesinambungan taat dan bertakwalah kepada Allah. Oleh karena itu Allah mengingatkan kepada kaum Muslimin, khususnya para orang tua. Allah berfirman,
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا. (قرآن سورة النساء/٤: ٩)
Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya). (QS. An-Nisā'/4: 9)
Ayat ini mengingatkan kepada umat muslim yang telah mendekati akhir hayatnya diperingatkan agar mereka memikirkan, janganlah meninggalkan anak-anak atau keluarga yang lemah terutama tentang kesejahteraan hidup mereka di kemudian hari. Untuk itu selalu bertakwa dan mendekatkan diri kepada Allah. Selalu berkata lemah lembut, terutama kepada anak yatim yang menjadi tanggung jawab mereka. Perlakukanlah mereka seperti memperlakukan anak kandung sendiri.
Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏