“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


PENYAKIT PIKUN DAN KEMATIAN
(dokter Rasulullah ﷺ)

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Ketika Rasulullah terluka, maka tabib bukanlah penyembuhnya. Namun, ia hanya pemberi manfaat dan yang menyembuhkan adalah Allah.

Ingatlah keyakinan Nabi Ibrahim tentang penyakit, sebagaimana terekam dalam firman Allah,

وَاِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ ۙ. (قرآن سورة الشعرآء/٢٦: ٨٠)

Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.(QS. Asy-Syu‘arā'/26: 80)

Dan,

وَالَّذِيْ يُمِيْتُنِيْ ثُمَّ يُحْيِيْنِ ۙ. (قرآن سورة الشعرآء/٢٦: ٨١)

(Dia) yang akan mematikanku, kemudian menghidupkanku (kembali). (QS. Asy-Syu‘arā'/26: 81)

Allah menyembuhkan dari segala penyakit, namun ketika disebutkan "mematikan", hanya ada kehidupan kembali (diakhirat). Ayat-ayat setelah ayat tersebut berbicara tentang balasan dan peristiwa yang akan dialami di akhirat.

Imam Ahmad menceritakan,

حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي جَعْفَرُ بْنُ حُمَيْدٍ الْكُوفِيُّ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ إِيَادِ بْنِ لَقِيطٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي رِمْثَةَ قَالَ انْطَلَقْتُ مَعَ أَبِي نَحْوَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَأَيْتُهُ قَالَ أَبِي هَلْ تَدْرِي مَنْ هَذَا قُلْتُ لَا قَالَ هَذَا مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَاقْشَعْرَرْتُ حِينَ قَالَ ذَلِكَ وَكُنْتُ أَظُنُّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْءٌ لَا يُشْبِهُ النَّاسَ فَإِذَا بَشَرٌ ذُو وَفْرَةٍ وَبِهَا رَدْعُ حِنَّاءٍ وَعَلَيْهِ بُرَدَانِ أَخْضَرَانِ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ أَبِي ثُمَّ جَلَسْنَا فَتَحَدَّثْنَا سَاعَةً ثُمَّ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِأَبِي ابْنُكَ هَذَا قَالَ إِي وَرَبِّ الْكَعْبَةِ قَالَ حَقًّا قَالَ أَشْهَدُ بِهِ فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَاحِكًا مِنْ تَثْبِيتِ شَبَهِي بِأَبِي وَمِنْ حَلِفِ أَبِي عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ أَمَا إِنَّهُ لَا يَجْنِي عَلَيْكَ وَلَا تَجْنِي عَلَيْهِ وَقَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى } ثُمَّ نَظَرَ إِلَى مِثْلِ السِّلْعَةِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كَأَطَبِّ الرِّجَالِ أَلَا أُعَالِجُهَا لَكَ قَالَ لَا طَبِيبُهَا الَّذِي خَلَقَهَا. (رواه أحمد: ٦٨١٩)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepadaku Ja'far bin Humaid Al Kufi telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Iyad bin laqith dari bapaknya dari Abu Rimtsah, dia berkata, aku bersama bapakku bertolak menuju Rasulullah ﷺ, maka ketika aku melihatnya, bapakku berkata kepadaku, "Tahukah kamu siapa orang ini?" "Tidak" jawabku. Bapakku berkata, "Dia adalah Muhammad Rasulullah ﷺ." Dia berkata; maka aku pun bergetar ketika bapakku mengatakan kepadaku begitu, aku mengira bahwa Rasulullah ﷺ adalah seorang laki-laki yang tidak sama dengan kebanyakkan manusia, ternyata dia adalah seorang laki-laki yang rambutnya menyentuh daun telinganya, pada rambutnya terdapat inai dan mengenakan dua lembar selendang berwarna biru. Lalu bapakku mengucapkan salam kepadanya. Kemudian kami duduk dan berbincang selama satu jam. Kemudian Rasulullah ﷺ berkata kepada bapakku, "Apakah ini anakmu?" dia menjawab, "Ya, demi Rabbul Ka'bah." Dia berkata, "Ini benar." Lalu berkata lagi, "Aku berani bersaksi atasnya." Maka tersenyumlah Rasulullah ﷺ kepada bapakku yang menguatkan kemiripanku dengannya dan juga karena sumpahnya kepada Allah atas diriku. Kemudian beliau bersabda, "Adapun dia, sungguh tidak akan berbuat jahat kepadamu dan kamu tidak akan berbuat jahat padanya." Lalu beliau membaca ayat, "Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain." Kemudian bapakku melihat semisal luka yang ada pada pundak Rasulullah ﷺ, dan berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling paham tentang kedokteran di antara orang-orang, maka bolehkan aku mengobati lukamu?" "Tidak, dokternya adalah yang telah menciptakannya (Allah)." Jawab beliau. (HR. Ahmad: 6819 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Rifa'ah bin Yatsribiy, ia shahabat kuniyahnya Abu Rimtsah dan negeri hidup Maru)

Imam Abu Daud meriwayatkan,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ إِيَادٍ قَالَ حَدَّثَنَا إِيَادٌ عَنْ أَبِي رِمْثَةَ قَالَ انْطَلَقْتُ مَعَ أَبِي نَحْوَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا هُوَ ذُو وَفْرَةٍ بِهَا رَدْعُ حِنَّاءٍ وَعَلَيْهِ بُرْدَانِ أَخْضَرَانِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ.

حَدَّثَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ أَبْجَرَ عَنْ إِيَادِ بْنِ لَقِيطٍ عَنْ أَبِي رِمْثَةَ فِي هَذَا الْخَبَرِ قَالَ فَقَالَ لَهُ أَبِي أَرِنِي هَذَا الَّذِي بِظَهْرِكَ فَإِنِّي رَجُلٌ طَبِيبٌ قَالَ اللَّهُ الطَّبِيبُ بَلْ أَنْتَ رَجُلٌ رَفِيقٌ طَبِيبُهَا الَّذِي خَلَقَهَا. (وراه أبوداود: ٣٦٧٤)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus berkata, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah - maksudnya Ubaidullah bin Had- ia berkata; telah menceritakan kepada kami Iyad dari Abu Rimtsah ia berkata, "Aku bersama bapakku pergi menemui Nabi ﷺ, dan ternyata rambut beliau panjangnya hingga daun telinga yang diberi warna dengan daun pacar, dan beliau mengenakan dua kain berwarna hijau."

Telah menceritakan kepada kami Muhammad Ibnul 'Ala berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris ia berkata; Aku mendengar Ibnu Abjar dari Iyad bin Laqith dari Abu Rimtsah berkenaan dengan kabar ini. Ia (perawi) berkata; Lalu bapakku berkata kepadanya, "Perlihatkanlah kepadaku apa yang ada di punggungmu, karena aku adalah seorang tabib." Ia berkata, "Demi Allah, engkau hanyalah perantara. Tabib yang sebenarnya adalah Dzat Yang telah menciptakannya (sakit)." (HR. Abu Daud: 3674 - shahih dari Rifa'ah bin Yatsribiy, ia shahabat kuniyahnya Abu Rimtsah dan negeri hidup Maru. Hadits ini tergolong hadits 'aziz)

Selanjutnya secara khusus, riwayat tentang masalah ini diriwayatkan oleh imam Ahmad sebagai berikut:

حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ عَنِ ابْنِ أَبْجَرَ عَنْ إِيَادِ بْنِ لَقِيطٍ عَنْ أَبِي رِمْثَةَ قَالَ انْطَلَقْتُ مَعَ أَبِي وَأَنَا غُلَامٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَقَالَ لَهُ أَبِي إِنِّي رَجُلٌ طَبِيبٌ فَأَرِنِي هَذِهِ السِّلْعَةَ الَّتِي بِظَهْرِكَ قَالَ وَمَا تَصْنَعُ بِهَا قَالَ أَقْطَعُهَا قَالَ لَسْتَ بِطَبِيبٍ وَلَكِنَّكَ رَفِيقٌ طَبِيبُهَا الَّذِي وَضَعَهَا وَقَالَ غَيْرُهُ الَّذِي خَلَقَهَا. (رواه أحمد: ٦٨١٣)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Husain bin Ali dari Ibnu Abjar dari Iyad bin Laqith dari Abu Rimtsah, dia berkata, aku bersama dengan ayahku pergi kepada Rasulullah ﷺ sedang aku masih seorang bocah. Dia berkata; maka ayahku berkata kepada Rasulullah ﷺ, "Sesungguhnya aku adalah seorang laki-laki yang paham ilmu kedokteran, maka perlihatkanlah kepadaku luka yang ada di punggungmu." Beliau bersabda, "Apa yang akan kamu lakukan?" "Aku akan membelahnya." Jawabnya. Beliau bersabda, "Sesungguhnya engkau bukan seorang dokter, engkau hanya bisa membantu memberikan manfaat, dokternya adalah Dzat yang telah menjadikannya terluka." Yang lain berkata, "Yang menciptakannya." (HR. Ahmad: 6813 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Rifa'ah bin Yatsribiy, ia shahabat kuniyahnya Abu Rimtsah dan negeri hidup Maru)

Demikian juga hadits semakna diriwayatkan oleh imam Ahmad: 16843 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Rifa'ah bin Yatsribiy, ia shahabat kuniyahnya Abu Rimtsah dan negeri hidup Maru. Lihat juga hadits riwayat Ahmad: 6818 - shahih, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Rifa'ah bin Yatsribiy, ia shahabat kuniyahnya Abu Rimtsah dan negeri hidup Maru. Hadits riwayat Ahmad: 6818, dalam sanadnya terdapat periwayat dha'if, yaitu Qais bin ar Rabi', ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Kufah dan wafat tahun 167 H. Penilaian ulama: ad Daruquthni menilainya dha'iful hadits, Yahya bin Ma'in mengatakan, "laisa haditsuhu bisy syai'". Sufyan ats Tsauri mentsiqahkannya. Sedangkan Abu Hatim menilainya laisa bi qawi.

Imam Ahmad menceritakan, ketika Rasulullah sakit yang menjadi sebab wafatnya,

حَدَّثَنَا سُرَيْجٌ حَدَّثَنَا نَافِعٌ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَتْ عَائِشَةُ مَرِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعْتُ يَدِي عَلَى صَدْرِهِ فَقُلْتُ أَذْهِبْ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ أَنْتَ الطَّبِيبُ وَأَنْتَ الشَّافِي وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ الْأَعْلَى وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ الْأَعْلَى. (رواه أحمد: ٢٣٦٣٠)

Telah menceritakan kepada kami Suraij, telah menceritakan kepada kami Nafi', dari Ibnu Abi Mulaikah bahwasanya Aisyah berkata; Rasulullah ﷺ sakit, maka saya meletakkan tanganku di dadanya dan saya membaca: ADZHIBIL BA'SA ROBBAN NAASI ANTA ATH-THABIIB WA ANTA ASY-SYAAFI (hilangkanlah kesusahan wahai Rabb manusia, Engkau adalah Yang Mengobati dan Engkau adalah penyembuh), Rasulullah ﷺ seraya memanjatkan doa, "Pertemukanlah aku dengan kekasihku yang tertinggi, pertemukanlah aku dengan kekasihku yang tertinggi." (HR. Ahmad: 23630 - isnadnya shahih meurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Hadits-hadits di atas mengajarkan bahwa dokter, obat-obat dan segala yang terkait dengan medis hanyalah hal-hal yang dapat memberi manfaat untuk perantara kemanfaatan bukan tabib yang sejati. Tabib yang sejati adalah Allah yang menciptakan segala makhluk termasuk penyakit dan obatnya. Walau demikian, berobat dengan cara dan bahan yang syar'iy dan halal termasuk hal yang dianjurkan.

Sedikit tentang Usamah bin Syarik,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ شَرِيكٍ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابُهُ عِنْدَهُ كَأَنَّمَا عَلَى رُءُوسِهِمْ الطَّيْرُ قَالَ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ وَقَعَدْتُ قَالَ فَجَاءَتْ الْأَعْرَابُ فَسَأَلُوهُ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَتَدَاوَى قَالَ نَعَمْ تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ الْهَرَمُ قَالَ وَكَانَ أُسَامَةُ حِينَ كَبِرَ يَقُولُ هَلْ تَرَوْنَ لِي مِنْ دَوَاءٍ الْآنَ قَالَ وَسَأَلُوهُ عَنْ أَشْيَاءَ هَلْ عَلَيْنَا حَرَجٌ فِي كَذَا وَكَذَا قَالَ عِبَادَ اللَّهِ وَضَعَ اللَّهُ الْحَرَجَ إِلَّا امْرَأً اقْتَضَى امْرَأً مُسْلِمًا ظُلْمًا فَذَلِكَ حَرَجٌ وَهُلْكٌ قَالُوا مَا خَيْرُ مَا أُعْطِيَ النَّاسُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ خُلُقٌ حَسَنٌ. (رواه أحمد: ١٧٧٢٦)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far Telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Zaid bin Ilaqah dari Usamah bin Syarik ia berkata; Saya mendatangi Nabi ﷺ sementara para sahabatnya berada di sisi beliau, sepertinya di atas kepala-kepala mereka terdapat burung. Kemudian saya mengucapkan salam atasnya dan duduk. Setelah itu, datanglah orang-orang Arab dan bertanya kepada beliau, "Wahai Rasulullah, haruskah kami berobat?" beliau menjawab, "Ya, karena Allah tidak pernah menurunkan penyakit, kecuali Dia juga menurunkan obatnya, kecuali untuk satu penyakit, yaitu kepikunan." Dan Usamah, ketika usianya telah lanjut ia berkata, "Apakah sekarang kalian mendapati obat untukku?" kemudian orang-orang pun bertanya kepada beliau mengenai berbagai hal, "Apakah kami berdosa jika berobat dengan ini dan itu?" maka beliau pun menjawab, "Wahai para hamba Allah, sesungguhnya Allah telah menghilangkan dosa, kecuali seorang yang menuntut seorang muslim dengan zalim, itulah dosa dan kehancuran." Mereka bertanya lagi, "Sesuatu apakah yang paling baik yang diberikan kepada manusia?" beliau menjawab, "Yaitu akhlak yang baik." (HR. Ahmad: 17726 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Usamah bin Syarik, ia shahabat dan negeri hidup Kufah)

حَدَّثَنَا ابْنُ زِيَادٍ يَعْنِي الْمُطَّلِبَ بْنَ زِيَادٍ حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ عِلَاقَةَ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ شَرِيكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يُنَزِّلْ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ مَعَهُ شِفَاءً إِلَّا الْمَوْتَ وَالْهَرَمَ. (رواه أحمد: ١٧٧٢٧)

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Ziyad yakni Al Muthallib bin Ziyad Telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Ilaqah dari Usamah bin Syarik bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Berobatlah kalian wahai hamba Allah, karena Allah 'Azza wa Jalla tidak pernah menurunkan penyakit, kecuali juga menurunkan obatnya, kecuali kematian dan kepikunan." (HR. Ahmad: 17727 - shahih, isnadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari Usamah bin Syarik, ia shahabat dan negeri hidup Kufah. Hadits ini tergolong hadits ahlul Kufah)

Sabab wurud hadits ini diceritakan juga oleh imam Ahmad,

حَدَّثَنَا مُصْعَبُ بْنُ سَلَّامٍ حَدَّثَنَا الْأَجْلَحُ عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ شَرِيكٍ رَجُلٌ مِنْ قَوْمِهِ قَالَ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَتَدَاوَى قَالَ تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يُنْزِلْ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ. (رواه أحمد: ١٧٧٢٨)

Telah menceritakan kepada kami Mush'ab bin Sallam Telah menceritakan kepada kami Al Ajlah dari Ziyad bin Ilaqah dari Usamah bin Syarik bahwa seorang laki-laki dari kaumnya berkata; Seorang A'rabi datang menemui Rasulullah ﷺ dan bertanya, "Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling baik?" Beliau menjawab, "Yaitu, yang paling baik akhlaknya diantara mereka." kemudian ia bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, haruskah kami berobat?" beliau menjawab, "Berobatlah kalian, karena Allah tidak pernah menurunkan penyakit, melainkan Allah juga menurunkan obatnya, orang yang mengetahuinya akan tahu dan orang yang tidak mengetahuinya akan tidak tahu." (HR. Ahmad: 17728 - shahih, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Usamah bin Syarik, ia shahabat dan negeri hidup Kufah)

Catatan: sanad hadits riwayat Ahmad: 17728, terdapat periwayat yang dinilai lemah oleh ulama hadits. Ia adalah Mush'ab bin Salam, ia tabi'ul atba' kalangan tua dan negeri hidup Baghdad. Penilaian ulama: Abu Daud menilainya layyin dan as Saji menilainya dha'if. Sementara Ibnu Hajar menilainya shaduq tetapi punya keragu-raguan. Sedangkan Yahya bin Ma'in menilainya laisa bihi ba'sa. Abu Hatim berkata, "terdapat kejujuran padanya".

Jalur yang lebih shahih dari hadits riwayat Ahmad: 17728, sebagai berikut:

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَبِيبٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلَّا قَدْ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ. (رواه أحمد: ٣٣٩٧)

Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari 'Atha` dari Abu Abdurrahman yakni Abdullah bin Habib ia berkata; Aku mendengar Abdullah bin Mas'ud disampaikan sesuatu dari Nabi ﷺ, "Tidaklah Allah menurunkan penyakit melainkan Dia telah menurunkan pula obatnya, diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang jahil akan hal itu." (HR. Ahmad: 3397 - shahih lighairihi, isnadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Hadits ini tergolong hadits ahlul Kufah)

Begitu juga hadits semakna dari Anas bin Malik, sebagaimana diceritakan oleh imam Ahmad,

حَدَّثَنَا يُونُسُ حَدَّثَنَا حَرْبٌ قَالَ سَمِعْتُ عِمْرَانَ الْعَمِّيَّ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا يَقُولُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ خَلَقَ الدَّاءَ خَلَقَ الدَّوَاءَ فَتَدَاوَوْا. (رواه أحمد: ١٢١٣٦)

Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Harb berkata, saya telah mendengar 'Imran yang buta berkata, saya mendengar Anas berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah 'Azza wa Jalla ketika menciptakan penyakit, juga menciptakan obat, maka berobatlah kalian." (HR. Ahmad: 12136 - shahih, isnadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Sementara imam Abu Daud meriwayatkan lafazh yang berbeda,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَادَةَ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ ثَعْلَبَةَ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أُمِّ الدَّرْدَاءِ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلَا تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ. (رواه أبوداود: ٣٣٧٦)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Ubadah Al Wasithi telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Isma'il bin 'Ayyasy dari Tsa'labah bin Muslim dari Abu Imran Al Anshari dari Ummu Ad Darda dari Abu Ad Darda ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obat, dan menjadikan bagi setiap penyakit terdapat obatnya, maka berobatlah dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram!" (HR. Abu Daud: 3376 - dha'if dari Uwaimir bin Malik bin Qais bin Umayyah bin 'Amir, ia shahabat kuniyahnya Abu ad Darda' negeri hidup Syam dan wafat tahun 32 H)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat Abu Daud: 3376, terdapat periwayat penilaian pengecualian. Periwayat dimaksud adalah Isma'il bin 'Ayyasy bin Sulaim, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Utbah negeri hidup Syam dan wafat tahun 181 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal mengatakan, "husnu riwayatihi 'an asy syamiyyiin". Yahya bin Ma'in menilainya laisa bihi ba'sa fii ahli asy Syam. Sedangkan Ali bin al Madini, Ibnu Abi Syaibah dan Dahim berkata, "dia mentsiqahkannya pada orang-orang Syam dan mendh'ifkannya pada yang lain. At Tirmidzi menilainya dishahihkan selain hadits ahli Syam. Ibnu Hajar mengatakan, "shaduq jika ia meriwayatkan dari penduduk negerinya". Adz Dzahabi berkomentar, "'alimnya ahli Syam".

Hadits-hadits semakna "Allah menurunkan penyakit, tetapi juga menurunkan obatnya" juga diriwayatkan oleh imam Abu Daud: 3357 - dari Usamah bin Syarik, ia shahabat dan negeri hidup Kufah. Al Bukhari: 5246, Ibnu Majah: 3430 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Ibnu Majah: 3429 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H.

Sedangkan imam at Tirmidzi hanya menyebutkan penyakit yang tidak ada obatnya adalah penyakit pikun. Sebagaimana beliau berkata,

حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُعَاذٍ الْعَقَدِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ شَرِيكٍ قَالَ قَالَتْ الْأَعْرَابُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا نَتَدَاوَى قَالَ نَعَمْ يَا عِبَادَ اللَّهِ تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ شِفَاءً أَوْ قَالَ دَوَاءً إِلَّا دَاءً وَاحِدًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُوَ قَالَ الْهَرَمُ.

قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي خُزَامَةَ عَنْ أَبِيهِ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. (رواه الترمذي: ١٩٦١)

Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Mu'adz Al 'Aqadi, telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Ziyad bin Ilaqah dari Usamah bin Syarik ia berkata; Para orang Arab baduwi berkata, "Wahai Rasulullah, Tidakkah kami ini harus berobat (jika sakit)?" Beliau menjawab, "Iya wahai sekalian hamba Allah, Berobatlah sesungguhnya Allah tidak menciptakan suatu penyakit melainkan menciptakan juga obat untuknya kecuali satu penyakit." Mereka bertanya, "Penyakit apakah itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Yaitu penyakit tua (pikun)."

Abu Isa berkata; Hadits semakna diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, Abu Hurairah, Abu Khuzaimah dari bapaknya dan Ibnu Abbas. Dan ini merupakan hadits hasan shahih. (HR. At Tirmidzi: 1961 - shahih dari Usamah bin Syarik, ia shahabat dan negeri hidup Kufah)

Allah berfirman tentang kematian,

كَلَّآ اِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَۙ. (قرآن سورة القيامة/٧٥: ٢٦)

Sekali-kali tidak! Apabila (nyawa) telah sampai di kerongkongan. (QS. Al-Qiyāmah/75: 26)

وَقِيْلَ مَنْ ۜرَاقٍۙ. (قرآن سورة القيامة/٧٥: ٢٧)

dan dikatakan (kepadanya), “Siapa yang (dapat) menyembuhkan?”(QS. Al-Qiyāmah/75: 27)

Ayat di atas menjadi bukti bahwa jika kematian sudah datang maka tidak ada yang bisa menyembuhkannya. Oleh karena itu, janganlah bermain-main dengan anggapan kesehatan tidak akan mendatangkan kematian. Terlalu mencintai kehidupan dunia dan mengabaikan kehidupan akhirat (QS. Al Qiyamah/75: 20-21). Sehingga lalai, sampai ke liang kubur (QS. At Takaatsur/102: 1-2).

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]