MEMASTIKAN KEHAMILAN
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Kehamilan adalah suatu fitrah bagi perempuan sehat dan subur. Hal tersebut terjadi secara alamiyah dan normal. Namun, jika terjadinya pada waktu bukan pada yang biasa atau berlebihan ini boleh jadi penyakit atau kondisi tidak normal. Dalam masalah ini dalam istilah agama disebut istihadah.
Haid menjadi penghalang bagi seorang perempuan yang haid untuk melaksanakan haid, sebagaimana imam Ahmad menceritakan,
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَجَّاجِ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي حَازِمٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْهَادِ عَنْ أَبِي بَكْرٍ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ بِنْتَ جَحْشٍ كَانَتْ تَحْتَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَأَنَّهَا اسْتُحِيضَتْ فَلَا تَطْهُرُ فَذُكِرَ شَأْنُهَا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَيْسَتْ بِالْحَيْضَةِ وَلَكِنَّهَا رَكْضَةٌ مِنْ الرَّحِمِ فَلْتَنْظُرْ قَدْرَ قُرْئِهَا الَّتِي كَانَتْ تَحِيضُ لَهُ فَلْتَتْرُكْ الصَّلَاةَ ثُمَّ لِتَنْظُرْ مَا بَعْدَ ذَلِكَ فَلْتَغْتَسِلْ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ وَلْتُصَلِّ. (رواه أحمد: ٢٣٨٢٤)
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hajjaj, dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abi Hazim dari Yazid bin Abdillah bin Al-Had dari Abu Bakar dari Amroh dari Aisyah bahwasanya Ummi Habibah binti Jahsyi berada di bawah Abdurrahman bin Auf dan dia (Ummi Habibah binti Jahsyi) dalam keadaan istihadhoh (darah kotor yang keluar setelah haid) dan ia tidak bersuci. Maka perkara tersebut diceritakan kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda, "Itu bukanlah haid tetapi itu adalah hentakan rahim. Maka cermatilah masa sucinya yang ia temui setelah haidnya, dan tinggalkanlah shalat pada waktu itu (pada masa haid). Kemudian cermatilah sesudah waktu itu, hendaknya kamu mandi setiap kali mau shalat dan shalatlah kamu." (HR. Ahmad: 23824 - isnadnya shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Demikian juga hadits riwayat imam an Nasa'i, al Bukhari, Abu Daud, dan at Tirmidzi.
Imam ad Darimi berkata,
أَخْبَرَنَا حَجَّاجٌ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ عَنْ عِكْرِمَةَ فِي هَذِهِ الْآيَةِ { اللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَحْمِلُ كُلُّ أُنْثَى وَمَا تَغِيضُ الْأَرْحَامُ وَمَا تَزْدَادُ وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِمِقْدَارٍ } قَالَ ذَلِكَ الْحَيْضُ عَلَى الْحَبَلِ لَا تَحِيضُ يَوْمًا فِي الْحَبَلِ إِلَّا زَادَتْهُ طَاهِرًا فِي حَبَلِهَا. (رواه الدارمي: ٩١٠)
Telah mengabarkan kepada kami Hajjaj telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Salamah dari 'Ashim Al `Ahwal dari 'Ikrimah tentang ayat ini: "(Allah Subhanallahu wa Ta'ala Maha Mengetahui apa yang dikandung oleh setiap wanita, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan bertambah dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya) - QS. Ar Ra'ad/13: 8): "Itu adalah haid pada masa kehamilan, tidaklah seorang wanita mengalami haid sehari dalam masa kehamilan, kecuali akan menambah masa kesucian pada kehamilannya." (HR. Ad Darimi: 910 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Ikrimah, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 104 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, an Nasa'i, al 'Ajli dan Abu Hatim menilainya tsiqah)
Lebih lanjut diriwayatkan oleh imam ad Darimi bahwa,
ىأَخْبَرَنَا أَبُو النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي بِشْرٍ عَنْ مُجَاهِدٍ { وَمَا تَغِيضُ الْأَرْحَامُ } قَالَ إِذَا حَاضَتْ الْمَرْأَةُ وَهِيَ حَامِلٌ قَالَ يَكُونُ ذَلِكَ نُقْصَانًا مِنْ الْوَلَدِ فَإِذَا زَادَتْ عَلَى تِسْعَةِ أَشْهُرٍ كَانَ تَمَامًا لِمَا نَقَصَ مِنْ وَلَدِهَا. (رواه الدارمي: ٩١٣)
Telah mengabarkan kepada kami Abu An Nu'man telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Abu Bisyr dari Mujahid (maksud kalimat dalam ayat) "WA MAA TAGHIIDHUL `ARHAAMU" (dan kandungani yang kurang sempurna) -QS. Ar Ra'ad/13: 8-, ia berkata, "(Ayat itu mengulas) jika seorang wanita mengalami haid sedang ia hamil", ia berkata lagi, "Hal itu merupakan kekurangsempurnaan pada janin, maka jika (masa kehamilan) melebihi sembilan bulan hal itu menjadi penyempurna bagi kekurangan janin tersebut". (HR. Ad Darimi: 913 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Mujahid bin Jabar, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Al Hajjaj negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 102 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, Abu Zur'ah dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah dan adz Dzahabi menilainya hujjah. Al 'Ajli menilainya tabi'i tsiqah. Kemudian Ibnu Hajar dan adz Dzahabi menambahkan bahwa ia adalah imam ilmu tafsir.
Pada jalur lain imam ad Darimi menngatakan,
حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ الطَّيَالِسِيُّ عَنْ جَرِيرٍ عَنْ مُغِيرَةَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ قَالَ لَا يَكُونُ حَيْضٌ عَلَى حَمْلٍ. (رواه الدارمي: ٩٢٥)
Telah mengabarkan kepada kami Abu Walid Ath Thayalisi dari Jarir dari Mughirah dari Ibrahim ia berkata, "Tidak ada haid dalam masa kehamilan". (HR. Ad Darimi: 925 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Ibrahim bin Yazid bin Qaisy, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu 'Imrah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 96 H. Penilaian ulama: Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat")
Istilah pembuktian kehamilan dalam hadits dikenal dengan istibra' (masa untuk membuktikan kehamilan). Sebagaimana hadits riwayat imam ad Darimi,
أَخْبَرَنَا يَزِيدُ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ لَيْثٍ عَنْ طَاوُسٍ فِي اسْتِبْرَاءِ الْأَمَةِ إِنْ لَمْ تَكُنْ تَحِيضُ قَالَ خَمْسَةً وَأَرْبَعِينَ. (رواه الدارمي: ١١٥٥)
Telah mengabarkan kepada kami Yazid telah menceritakan kepada kami Syarik dari Laits dari Thawus tentang istibra` (masa untuk memastikan kehamilan) seorang budak wanita jika ia tidak lagi mengalami haid, ia berkata, "Empat puluh lima hari." (HR. Ad Darimi: 1155 - isnadnya dha'if menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Thawus bin Kaisan, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 106 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in dan Abu Zur'ah menilainya tsiqah, sedangkan Ibnu Hajar menilainya tsiqah faqih fadhil)
Catatan: dalam sanad hadits riwayat ad Darimi: 1155, terdapat Laits bin Abi Sulaim bin Zunaim, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Kufah dan wafat tahun 148 H. Penilaian ulama: Abu Zur'ah menilainya layyinul hadits, Abu Hatim menilainya dha'iful hadits, Ahmad bin Hanbal menilainya mudharibul hadits, sementara al Bukhari menilainya shaduq yuham.
Kemudian dijalur lain imam ad Darimi menjelaskan,
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْوَاحِدِ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ قَالَ سَأَلْتُ الزُّهْرِيَّ عَنْ الرَّجُلِ يَبْتَاعُ الْجَارِيَةَ لَمْ تَبْلُغْ الْمَحِيضَ وَلَا تَحْمِلُ مِثْلُهَا كَمْ يَسْتَبْرِئُهَا قَالَ ثَلَاثَةَ أَشْهُرٍ و قَالَ يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ بِخَمْسَةٍ وَأَرْبَعِينَ يَوْمًا. (رواه الدارمي: ١١٥٧)
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Al Mubarak dari Umar bin Abdul Wahid dari Al 'Auza'i ia berkata, "Aku pernah bertanya kepada Az Zuhri tentang seorang laki-laki yang membeli seorang budak wanita yang belum mencapai usia haid dan hamil, berapa lamakah ia memastikan tidak adanya kehamilan?" ia menjawab, "Tiga bulan." Yahya bin Abu Katsir berkata, "Empat puluh lima hari." (HR. Ad Darimi: 1157 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Muhammad bin Muslim bin 'Ubaidillah bin 'Abdullah bin Syihab, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 124 H)
Berdasarkan dua hadits riwayat ad Darimi: 1155 dan 1157 tersebut di atas maka dapat dipahami bahwa hal tersebut adalah pendapat ulama, yaitu menurut Thawus bin Kaisan dan imam az Zuhri, "tiga bulan", sedangkan Yahya bin Abu Katsir berpendapat, untuk yang tidak haid lagi yaitu "empat puluh lima hari".
Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏