MIMPI YANG BENAR DAN MENCERITAKANNYA KEPADA ORANG 'ALIM, PENASEHAT ATAU ORANG BERAKAL
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Hadits-hadits terkait dengan mimpi yang benar dan yang dari bisikan setan serta mimpi dari kesedihan akan dialami oleh banyak orang. Namun, dari mimpi-mimpi tersebut dapat diceritakan kepada orang alim, pemberi nasehat dan orang yang terdekat (disenangi) serta orang yang paham. Tentu saja maksud orang yang seperti ini adalah orang-orang yang jujur dan shalih.
Berikut penulis paparkan hadits-hadits terkait dengan hal tersebut secara berurutan dan menjelaskan kualitas hadits yang dinilai oleh para ulama kritikus hadita. Selanjutnya disajikan dalan bentuk tema mudah dipahami.
Penulis memulai bahasan ini dengan sabda Rasulullah ﷺ,
( ... لَا تُقَصُّ الرُّؤْيَا إِلَّا عَلَى عَالِمٍ أَوْ نَاصِحٍ ...)
"Jangan menceritakan mimpi kecuali kepada orang 'alim atau penasihat." (HR. At Tirmidzi: 2206 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Pernyataan tersebut juga diriwayatkan oleh imam ad Darimi: 2054, Dengan lafazh "laa taqusshuu":
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ لَا تَقُصُّوا الرُّؤْيَا إِلَّا عَلَى عَالِمٍ أَوْ نَاصِحٍ. (رواه الدارمي: ٢٠٥٤)
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai' telah menceritakan kepada kami Sa'id dari Qatadah dari Ibnu Sirin dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Janganlah kalian menceritakan mimpi kecuali kepada orang yang berilmu atau orang yang dapat memberikan nasihat." (HR. Ad Darimi: 2054 - ianadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Redaksi semakna diriwayatkan oleh imam Ahmad: 15594,
حَدَّثَنَا بَهْزٌ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ عَنْ وَكِيعِ بْنِ عُدُسٍ عَنْ عَمِّهِ أَبِي رَزِينٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الرُّؤْيَا مُعَلَّقَةٌ بِرِجْلِ طَائِرٍ مَا لَمْ يُحَدِّثْ بِهَا صَاحِبُهَا فَإِذَا حَدَّثَ بِهَا وَقَعَتْ وَلَا تُحَدِّثُوا بِهَا إِلَّا عَالِمًا أَوْ نَاصِحًا أَوْ لَبِيبًا وَالرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ جُزْءٌ مِنْ أَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ. (رواه أحمد: ١٥٥٩٤)
Telah menceritakan kepada kami Bahz berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ya'la bin 'Atha` dari Waki' bin 'Udus dari pamannya, Abu Razin dari Nabi ﷺ bersabda, "Setiap mimpi adalah sebuah misteri selama orang yang bermimpi belum menceritakannya. Jika dia telah menceritakannya, maka akan terjadi. Janganlah kalian menceritakannya kecuali kepada orang alim, atau orang yang bisa memberi nasihat atau orang yang berakal, mimpi yang baik adalah bagian dari empat puluh bagian kenabian". (HR. Ahmad: 15594 - hasan lighairihi, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Laqith bin Sabirah bin 'Abdullah bin al Muntaqib bin 'Amir, ia shahabat kuniyahnya Abu Razin dan negeri hidup Tha'if)
Imam Abu Daud menambahkan,
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَخْبَرَنَا يَعْلَى بْنُ عَطَاءٍ عَنْ وَكِيعِ بْنِ عُدُسٍ عَنْ عَمِّهِ أَبِي رَزِينٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرُّؤْيَا عَلَى رِجْلِ طَائِرٍ مَا لَمْ تُعَبَّرْ فَإِذَا عُبِّرَتْ وَقَعَتْ قَالَ وَأَحْسِبُهُ قَالَ وَلَا تَقُصَّهَا إِلَّا عَلَى وَادٍّ أَوْ ذِي رَأْيٍ. (رواه أبوداود: ٤٣٦٦)
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal berkata, telah menceritakan kepada kami Husyaim berkata, telah mengabarkan kepada kami Ya'la bin Atha dari Waki' bin Udus dari pamannya Abu Razin ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Mimpi itu akan tetap berada bersama kaki burung (mengambang) selama tidak diceritakan, jika diceritakan maka akan terjadi." Abu Razin berkata, "Aku mengira bahwa beliau mengatakan, "Janganlah kami ceritakan kecuali kepada orang yang terdekat, atau orang yang mengerti." (HR. Abu Daud: 4366 - shahih dari Laqith bin Sabirah bin 'Abdullah bin al Muntaqib bin 'Amir, ia shahabat kuniyahnya Abu Razin dan negeri hidup Tha'if)
Begitu juga hadits riwayat Ibnu Majah,
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ عَنْ وَكِيعِ بْنِ عُدُسٍ الْعُقَيْلِيِّ عَنْ عَمِّهِ أَبِي رَزِينٍ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الرُّؤْيَا عَلَى رِجْلِ طَائِرٍ مَا لَمْ تُعْبَرْ فَإِذَا عُبِرَتْ وَقَعَتْ قَالَ وَالرُّؤْيَا جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ قَالَ وَأَحْسِبُهُ قَالَ لَا يَقُصُّهَا إِلَّا عَلَى وَادٍّ أَوْ ذِي رَأْيٍ. (رواه إبن ماجه: ٣٩٠٤)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Ya'la bin 'Atha dari Waki' bin 'Udus Al 'Uqaili dari pamannya Abu Razin, bahwa dia mendengar Nabi ﷺ bersabda, "Mimpi itu berada di kaki burung selama tidak di ta'birkan, jika dita'birkan bisa jadi mimpi itu akan terjadi." Beliau menambahkan, "Mimpi adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian." Abu Razin berkata, "Menurutku beliau juga mengatakan, "Janganlah seseorang menceritakannya kecuali kepada orang yang dicintainya atau orang yang mengerti." (HR. Ibnu Majah: 3904 - dari Laqith bin Sabirah bin 'Abdullah bin al Muntaqib bin 'Amir, ia shahabat kuniyahnya Abu Razin dan negeri hidup Tha'if)
Dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 15594 dan Abu Daud: 4366, Ibnu Majah: 3904 terdapat periwayat yang dinilai jarah oleh ulama hadits, yaitu Waki' bin 'Udus, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Mush'ab dan negeri hidup Tha'if. Penilaian ulama: Ibnu Qaththan menilainya majhul hal. Sementara Ibnu Hajar menilainya maqbul dan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat". Demikian juga hadits riwayat ad Darimi: 2055 (isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani) dan Ahmad: 15593 - hasan lighairihi, isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Laqith bin Sabirah bin 'Abdullah bin al Muntaqib bin 'Amir, ia shahabat kuniyahnya Abu Razin dan negeri hidup Tha'if. Semuanya terdapat periwayat bernama Waki' bin 'Udus.
Imam at Tirmidzi berkata,
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدِ اللَّهِ السَّلِيمِيُّ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرُّؤْيَا ثَلَاثٌ فَرُؤْيَا حَقٌّ وَرُؤْيَا يُحَدِّثُ بِهَا الرَّجُلُ نَفْسَهُ وَرُؤْيَا تَحْزِينٌ مِنْ الشَّيْطَانِ فَمَنْ رَأَى مَا يَكْرَهُ فَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ وَكَانَ يَقُولُ يُعْجِبُنِي الْقَيْدُ وَأَكْرَهُ الْغُلَّ الْقَيْدُ ثَبَاتٌ فِي الدِّينِ وَكَانَ يَقُولُ مَنْ رَآنِي فَإِنِّي أَنَا هُوَ فَإِنَّهُ لَيْسَ لِلشَّيْطَانِ أَنْ يَتَمَثَّلَ بِي وَكَانَ يَقُولُ لَا تُقَصُّ الرُّؤْيَا إِلَّا عَلَى عَالِمٍ أَوْ نَاصِحٍ وَفِي الْبَاب عَنْ أَنَسٍ وَأَبِي بَكْرَةَ وَأُمِّ الْعَلَاءِ وَابْنِ عُمَرَ وَعَائِشَةَ وَأَبِي مُوسَى وَجَابِرٍ وَأَبِي سَعِيدٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. (رواه الترمذي: ٢٢٠٦)
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abu 'Ubaidillah As Salimi Al Bashri telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai' telah menceritakan kepada kami Sa'id dari Qatadah dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Mimpi itu ada tiga; mimpi yang benar, mimpi yang dibisikkan oleh jiwa seseorang, dan mimpi dari kesedihan yang dibuat setan, bila salah seorang dari kalian bermimpi sesuatu yang tidak ia suka, hendaklah bangun lalu shalat." Beliau bersabda, "Aku suka mimpi diikat tali dan aku tidak suka bermimpi kedua tanganku terikat ditengkuk, sebab terikat tali itu maknanya teguh dalam agama." Beliau bersabda, "Barangsiapa bermimpi melihaku berarti ia benar-benar melihatku karena sesungguhnya setan tidak bisa menyerupaiku." Beliau bersabda, "Jangan menceritakan mimpi kecuali kepada orang 'alim atau penasihat." Dalam hal ini ada hadits serupa dari Anas, Abu Bakrah, Ummu Al 'Alla`, Ibnu 'Umar, 'A`isyah, Abu Musa, Jabir, Abu Sa'id, Ibnu 'Abbas, 'Abdullah bin 'Amru. Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih. (HR. At Tirmidzi: 2206 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Mimpi seorang mukmin yang jujur tidak pernah bohong adalah benar. Sebagaimana diceritakan oleh imam ad Darimi dari Abu Hurairah,
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ عَنْ مَخْلَدِ بْنِ حُسَيْنٍ عَنْ هِشَامٍ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اقْتَرَبَ الزَّمَانُ لَمْ تَكَدْ رُؤْيَا الْمُؤْمِنِ تَكْذِبُ وَأَصْدَقُهُمْ رُؤْيَا أَصْدَقُهُمْ حَدِيثًا. (رواه الدارمي: ٢٠٥١)
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Katsir dari Makhlad bin Husain dari Hisyam dari Ibnu Sirin dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila zaman telah mendekati (hari kiamat), nyaris mimpi seorang mukmin tidak (disertai) dengan kebohongan, maka orang yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling jujur pembicaraannya." (HR. Ad Darimi: 2051 - hadits shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Penjelasan riwayat yang lengkap diriwayatkan oleh imam al Bukhari,
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَبَّاحٍ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ سَمِعْتُ عَوْفًا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سِيرِينَ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اقْتَرَبَ الزَّمَانُ لَمْ تَكَدْ تَكْذِبُ رُؤْيَا الْمُؤْمِنِ وَرُؤْيَا الْمُؤْمِنِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ وَمَا كَانَ مِنْ النُّبُوَّةِ فَإِنَّهُ لَا يَكْذِبُ قَالَ مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَقُولُ هَذِهِ قَالَ وَكَانَ يُقَالُ الرُّؤْيَا ثَلَاثٌ حَدِيثُ النَّفْسِ وَتَخْوِيفُ الشَّيْطَانِ وَبُشْرَى مِنْ اللَّهِ فَمَنْ رَأَى شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلَا يَقُصَّهُ عَلَى أَحَدٍ وَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ قَالَ وَكَانَ يُكْرَهُ الْغُلُّ فِي النَّوْمِ وَكَانَ يُعْجِبُهُمْ الْقَيْدُ وَيُقَالُ الْقَيْدُ ثَبَاتٌ فِي الدِّينِ وَرَوَى قَتَادَةُ وَيُونُسُ وَهِشَامٌ وَأَبُو هِلَالٍ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَدْرَجَهُ بَعْضُهُمْ كُلَّهُ فِي الْحَدِيثِ وَحَدِيثُ عَوْفٍ أَبْيَنُ وَقَالَ يُونُسُ لَا أَحْسِبُهُ إِلَّا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْقَيْدِ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ لَا تَكُونُ الْأَغْلَالُ إِلَّا فِي الْأَعْنَاقِ. (رواه البخاري: ٦٤٩٩)
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Shabbah Telah menceritakan kepada kami Mu'tamir aku mendengar Auf telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sirin bahwasanya ia mendengar Abu Hurairah mengatakan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika Zaman semakin mendekat, mimpi seorang mukmin nyaris tidak bohong, dan mimpi seorang mukmin adalah satu bagian dari empat puluh bagian kenabian, dan apa yang berasal dari kenabian tentu tidaklah bohong." Muhammad mengatakan; 'Dan aku katakan sedemikain ini.' Ia juga mengatakan; Ada berita bahwa mimpi ada tiga, sekedar bisikan jiwa, teror dari setan dan kabar gembira dari Allah, maka barangsiapa bermimpi suatu hal yang tak disukainya, jangan menceritakannya kepada seorang pun, hendaklah ia bangun dan mendirikan shalat. Juga Abu Hurairah berkata, Rasulullah juga membenci Al Ghull saat tidur (tidur terus menerus) dan beliau terkagum-kagum terhadap keistiqamahan beragama, dan makna al Qaid adalah keteguhan beragama. Sedang Qatadah, Yunus dan Hisyam serta Abu Hilal meriwayatkan dari Ibnu Sirin dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, dan sebagian mereka memudrajkan keseluruhan hadits ini, dan hadits Ibnu Auf lebih jelas. Sedang Yunus mengatakan; aku tidak mengira hadits tentang Qaid (keteguhan beragama) tersebut kecuali dari Nabi ﷺ. Dan Abu Abdullah mengatakan; Istilah aghlal (belenggu) tak terjadi selain untuk leher. (HR. Al Bukhari: 6499 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hadits ini tergolong hadits 'aziz murni karena diriwayat dua orang dari setiap tabaqatnya)
Demikian juga hadits riwayat imam Muslim: 4200, at Tirmidzi: 2215 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hadits ini tergolong hadits 'aziz.
Begitu juga hadits semakna juga diriwayatkan oleh imam at Tirmidzi: 2196, Abu Daud: 4365, Ahmad: 7321 dan 10185 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.
Selanjutnya imam Ibnu Majah meriwayatkan,
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ السَّرْحِ الْمِصْرِيُّ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ بَكْرٍ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَرُبَ الزَّمَانُ لَمْ تَكَدْ رُؤْيَا الْمُؤْمِنِ تَكْذِبُ وَأَصْدَقُهُمْ رُؤْيَا أَصْدَقُهُمْ حَدِيثًا وَرُؤْيَا الْمُؤْمِنِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ. (رواه إبن ماجه: ٣٩٠٧)
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin 'Amru bin As Sarh Al Mishri telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Bakr telah menceritakan kepada kami Al Auza'i dari Ibnu Sirin dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila zaman telah mendekati (hari kiamat), hampir-hampir mimpinya seorang mukmin tidak bohong, maka orang yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling jujur pembicaraannya. Dan mimpi seorang mukmin merupakan satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian." (HR. Ibnu Majah: 3907 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Melihat hadits-hadits yang dapat penulis temukan dapat dipahami bahwa mimpi bagi orang mukmin adalah mimpi yang benar, karena mereka memiliki kelebihan tersendiri dalam amalan dan mampu menjaga kejujuran dan kebenaran imannya. Sementara bagi yang diluar hal tersebut tidak mendapat isyarat. Hal ini dikarenakan pengaruh sifat kesetannya mengikuti jiwanya, artinya imannya tidak benar.
Selanjutnya, jika seorang mukmin mengalami mimpi yang buruk dari syetan di malam hari, maka dianjurkan untuk tidak menceritakan kepada siapa pun dan shalat dua rakaat setelah mengalaminya. Sekiranya mimpi itu ingin diceritakan kepada orang lain Rasulullah ﷺ menganjurkan mesti diceritakan kepada orang yang alim, penasehat atau otang terdekat yang memiliki keahlian atau paham tentang tafsir mimpi. Jelasnya, orang yang keshalihannya tercermin pada amalan dan keistiqamahannya terhadap syari'at.
Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏