“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


SHALAT PAKAI BAJU DAN KERUDUNG BAGI PEREMPUAN

Imam Malik berkata:

و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ امْرَأَةً اسْتَفْتَتْهُ فَقَالَتْ إِنَّ الْمِنْطَقَ يَشُقُّ عَلَيَّ أَفَأُصَلِّي فِي دِرْعٍ وَخِمَارٍ فَقَالَ نَعَمْ إِذَا كَانَ الدِّرْعُ سَابِغًا. (رواه مالك: ٢٩٦)

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Hisyam bin Urwah dari Bapaknya, bahwa ada seorang wanita yang meminta fatwa kepadanya, wanita itu mengatakan, "Ikatan sarungku membuat sulit diriku. Apakah saya boleh shalat hanya dengan memakai baju dan kerudung? " dia menjawab, "Ya, jika baju tersebut menutupi seluruh tubuh." (HR. Malik: 296 - shahih maqthu' menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Urwah bin az Zubair bin 'Awwam bin Khuwailid bin Asad bin 'Abdu 'Izzi bin Qu, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 93 H. Hadits ahlul Madinah)

Catatan: Hadits maqthu' adalah perkataan dan perbuatan yang disandarkan kepada tabi'in.

Imam Abu Daud juga meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُجَاهِدُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ دِينَارٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زَيْدٍ بِهَذَا الْحَدِيثِ قَالَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّهَا سَأَلَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتُصَلِّي الْمَرْأَةُ فِي دِرْعٍ وَخِمَارٍ لَيْسَ عَلَيْهَا إِزَارٌ قَالَ إِذَا كَانَ الدِّرْعُ سَابِغًا يُغَطِّي ظُهُورَ قَدَمَيْهَا.

قَالَ أَبُو دَاوُد رَوَى هَذَا الْحَدِيثَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ وَبَكْرُ بْنُ مُضَرَ وَحَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ وَإِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ وَابْنُ أَبِي ذِئْبٍ وَابْنُ إِسْحَقَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أُمِّهِ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ لَمْ يَذْكُرْ أَحَدٌ مِنْهُمْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَصَرُوا بِهِ عَلَى أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا. (رواه أبوداود: ٥٤٥)

Telah menceritakan kepada kami Mujahid bin Musa telah menceritakan kepada kami Utsman bin Umar telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abdullah bin Dinar dari Muhammad bin Zaid dengan hadits ini, dia berkata dari Ummu Salamah bahwasanya dia pernah bertanya kepada Nabi ﷺ; Bolehkah wanita shalat memakai gamis dan jilbab tanpa memakai kain sarung? Beliau menjawab, "Boleh apabila gamisnya itu longgar yang dapat menutupi punggung kakinya.

Abu Daud berkata; Hadits ini telah diriwayatkan oleh Malik bin Anas dan Bakar bin Mudhar dan Hafizh bin Ghiyats dan Isma'il bin Ja'far dan Ibnu Abi Dzi`bi dan Ibnu Ishaq dari Muhammad bin Zaid dari Ibunya dari Ummu Salamah, salah satu dari mereka tidak menyebutkan Nabi ﷺ, mereka hanya menyebutkan Ummu Salamah radhiallahu'anha. (HR. Abu Daud: 545 - dha'if dari Hindi binti Abi Umayyah bin al Mighirah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 62 H)

Catatan: dalam sanad terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits yaitu pertama, Aminah, Ibunda Muhammad bin Zaid al Muhajir, ia tabi'in kalangan biasa dan kuniyahnya Ummu Haram. Penilaian ulama: majhul. Kedua, 'Abdur Rahman bin 'Abdullah bin Dinar, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua dan negeri hidup Madinah. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in menilainya dha'if, Abu Hatim menilainya layyin. Al Baghawi menilainya shalihul hadits. Sementara Ibnul Madini menilainya shaduq, Ibnu Hajar menilainya shaduq, terdapat kesalahan. Selebihnya adalah periwayat maqbul.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]