BAKHIL DAN CELAKALAH
ORANG YANG TIDAK BERSHALAWAT
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Bakhil adalah kikir terhadap rahmat dan kasih sayang Allah. Seorang muslim tidak pantas berbuat kikir baik secara materi maupun non materi. Kikir dengan materi yaitu enggan bersedekah, berinfak atau memberi kepada orang lain. Kikir non materi adalah enggan berbuat baik dan berbagi kebahagiaan, kesenangan dan penghormatan atau menghargai orang lain. Oleh karena itu Rasul menyebut orang-orang yang enggan bershalawat kepada beliau ketika namanya diperdengarkan.
Sementara itu dengan penuh penghormatan dan keluhuran beliau Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada beliau. Sehingga, sebagai orang mukmin diperintahkan oleh Allah untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Sebagaimana firman-Nya:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. (قرآن سورة الأحزاب/٣٣: ٥٦)
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS.Al-Aḥzāb/33: 56)
Dan secara berurutan Allah berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ وَاَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُّهِيْنًا. (قرآن سورة الأحزاب/٣٣: ٥٧)
"Sesungguhnya (terhadap) orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan azab yang menghinakan bagi mereka." (QS.Al-Aḥzāb/33: 57)
وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوْا فَقَدِ احْتَمَلُوْا بُهْتَانًا وَّاِثْمًا مُّبِيْنًا. (قرآن سورة الأحزاب/٣٣: ٥٨)
"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (QS.Al-Aḥzāb/33: 58)
Selanjunya ditemukan dalam kitab-kitab hadits seperti kitab Sunan at Tirmidzi dan Musnad Ahmad ditemukan bahwa Rasul ﷺ menyebut orang-orang yang enggan bershalawat baik diperdengarkan Nabi Muhammad kepadanya. Kemudian Allah melaknat orang yang tidak menyakiti Allah yaitu mengatakan sesuatu yang tidak pantas kepada Allah dan Rasul-Nya, seperti mengatakan Allah punya anak dan Muhammad tukang sihir. Hal ini salah satu sikap yang dilaknat oleh Allah baik dengan mendatangkan musibah, bencana dan berupa azab di dunia maupun di akhirat.
Berdasarkan paparan firman Allah di atas penulis ingin memaparkan hadits-hadits yang menunjukkan akibat bagi orang yang enggan bershawat kepada Nabi Muhammad ﷺ. Berikut penulis paparkan hadits-hadits dimaksud.
Imam at Tirmidzi berkata:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى وَزِيَادُ بْنُ أَيُّوبَ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بِلَالٍ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ غَزِيَّةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ حُسَيْنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ. (رواه الترمذي: ٣٤٦٩)
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Musa serta Ziyad bin Ayyub mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Abu 'Amir Al 'Aqadi dari Sulaiman bin Bilal dari 'Umarah bin Ghaziyyah dari Abdullah bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib dari ayahnya dari Husain bin Ali bin Abu Thalib dari Ali bin Abu Thalib ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang yang bakhil adalah orang yang apabila aku disebutkan di hadapannya maka ia tidak mengucapkan shalawat kepadaku." Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan shahih gharib. (HR. At Tirmidzi: 3469 - shahih dari 'Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H)
Imam Ahmad menambahkan bahwa,
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو وَأَبُو سَعِيدٍ قَالَا حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ غَزِيَّةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنٍ عَنْ أَبِيهِ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه أحمد: ١٦٤٥)
Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin 'Amru dan Abu Sa'id, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari 'Umarah bin Ghaziyyah dari Abdullah bin Ali bin Husain dari Bapaknya, Ali bin Husain dari Bapaknya, bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Orang yang bakhil itu adalah orang yang jika namaku disebut di dekatnya, namun dia tidak bershalawat kepadaku." Yaitu bacaan; ﷺ. (HR. Ahmad: 1645 - isnadnya qawi menurut Syu'aib al Arna'uth dari al Husain bin 'Ali bin Abi Thallib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 61 H)
Catatan: hadits riwayat Ahmad: 1645 adalah hadits 'aziz yaitu hadits yang diriwayat oleh dua orang pertabaqat atau salah satu tingkatannya dalam sanad. Pada hadits ini imam Ahmad meriwayatkan dari dua periwayat yang berbeda yaitu: pertama dari 'Abdul Malik bin 'Amru, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu 'Amir negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 204 H. Penilaian ulama: Ibnu Hajar, Yahya bin Ma'in dan Ibnu Sa'ad menilainya tsiqah. An Nasa'i menilainya tsiqah ma'mun, adz Dzahabi menilainya hafizh, Abu Hatim menilainya shaduq, sedangkan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat".
Kedua, dari 'Abdur Rahman bin 'Abdullah bin 'Ubaid", maula Bani Hasyim, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 197 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma'in, ath Thabrani, ad Daruquthni, al Baghawi menilainya tsiqah. Adz Dzahabi menilainya tsiqah hafizh, sementara Ibnu Hajar menilainya shaduq, terdapat kesalahan. Sedangkan Ibnu Syahin mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat".
Selanjutnya dari jalur Abu Hurairah imam Ahmad berkata:
حَدَّثَنَا رِبْعِيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ أَبِي وَهُوَ أَخُو إِسْمَاعِيلَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ يَعْنِي ابْنَ عُلَيَّةَ قَالَ أَبِي وَكَانَ يُفَضَّلُ عَلَى أَخِيهِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَاقَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَانْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ قَالَ رِبْعِيٌّ وَلَا أَعْلَمُهُ إِلَّا قَدْ قَالَ أَوْ أَحَدُهُمَا. (رواه أحمد: ٧١٣٩)
Telah menceritakan kepada kami Rib'i bin Ibrahim, dia berkata; bapakku -dia adalah Saudara Isma'il bin Ibrahim (yaitu Ibnu 'Ulaiyyah) -, ia berkata; dia lebih diutamakan ketimbang saudaranya, dari Abdurrahman bin Ishaq dari Sa'id bin Abi Sa'id dari Abu Hurairah dari Rasulullah ﷺ beliau bersabda, "Rugilah seorang laki-laki yang namaku disebut di sisinya kemudian ia tidak bershalawat untukku, dan rugilah seorang laki-laki yang datang padanya bulan Ramadan kemudian telah berakhir sedang dia belum mendapat ampunan, dan rugilah seorang laki-laki yang mendapati kedua orangtuanya dalam usia lanjut tetapi tidak bisa menjadikan dia masuk surga." Rib'i berkata, "Aku tidak mengetahuinya kecuali dia telah berkata; 'atau salah satu dari keduanya.'" (HR. Ahmad: 7139 - shahih, namun isnadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Kemudian dalam hadits yang panjang imam at Tirmidzi menyebutkan,
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ حَدَّثَنَا رِبْعِيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ وَأَظُنُّهُ قَالَ أَوْ أَحَدُهُمَا وَفِي الْبَاب عَنْ جَابِرٍ وَأَنَسٍ.
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَرِبْعِيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ هُوَ أَخُو إِسْمَعِيلَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ وَهُوَ ثِقَةٌ وَهُوَ ابْنُ عُلَيَّةَ وَيُرْوَى عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالَ إِذَا صَلَّى الرَّجُلُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّةً فِي الْمَجْلِسِ أَجْزَأَ عَنْهُ مَا كَانَ فِي ذَلِكَ الْمَجْلِسِ. (رواه الترمذي: ٣٤٦٨)
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim Ad Dauraqi telah menceritakan kepada kami Rib'i bin Ibrahim dari Abdurrahman bin Ishaq dari Sa'id bin Abu Sa'id Al Maburi dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Celakalah seseorang, aku disebut-sebut di depannya dan ia tidak mengucapkan shalawat kepadaku. dan celakalah seseorang, bulan Ramadhan menemuinya kemudian keluar sebelum ia mendapatkan ampunan, dan celakalah seseorang yang kedua orang tuanya berusia lanjut namun kedua orangtuanya tidak dapat memasukkannya ke dalam surga (karena kebaktiannya)." Abdurrahman berkata; dan aku mengira beliau berkata; atau salah seorang dari keduanya. Dan dalam bab tersebut terdapat riwayat dari Jabir serta Anas.
Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits gharib dari jalur ini. Rib'i bin Ibrahim adalah saudara Isma'il bin Ibrahim, ia adalah orang yang tsiqah, dan ia adalah Ibnu 'Ulayyah. Dan telah diriwayatkan dari sebagian ulama, beliau mengatakan, "Apabila seseorang bershalawat kepada Nabi ﷺ satu kali maka hal tersebut telah memberikan kecukupan terhadap apa yang ada di dalam majelis tersebut." (HR. At Tirmidzi: 3468 - hasan dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Rasulullah ﷺ menyebut orang-orang yang tidak mau bershalawat kepada beliau dengan kata "bakhil" (kikir) dan "ra'im" (celaka). Hal ini menunjukkan demikian pentingnya bershawat kepada Nabi Muhammad ketika nama beliau dibacakan sedang kita mendengarnya dan mengucapkan shalawat kepada Rasulullah ﷺ. Kalimat yang diucapkankan ketika nama Nabi Muhammad diperdengarkan adalah kalimat "shallallaahu 'alaihi wa sallam".
Wallaahu a'lam bish Shawaab,
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏