MUSLIM ITU SATU (TIDAK ADA PERBEDAAN ANTARA ORANG 'ARABIY DAN 'AJAMIY)
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Muslim itu satu dan berada dalam kesatuan akidah dan tujuan hidup yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, selayaknyalah senantiasa bersatu dalam hal kepentingan dunia dan akhirat. Sebagaimana firman Allah,
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ١١٠)
"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik." (QS.Āli ‘Imrān/3: 110)
Allah memilih umat ini sebagai umat terbaik, namun tidak tertutup kemungkinan bagi mereka non muslim masuk ke dalam Islam, lalu mereka menyatu untuk menjadi yang terbaik bersama-sama membangun dan bekerja sama menyeru berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Imam Ahmad meriwayatkan,
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ أَخْبَرَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ عَنْ بَكْرِ بْنِ سَوَادَةَ عَنْ وَفَاءَ الْخَوْلَانِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ خَرَجَ إِلَيْنَا فَقَالَ إِنَّ فِيكُمْ خَيْرًا مِنْكُمْ يَعْنِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقْرَءُونَ كِتَابَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِيكُمْ الْأَحْمَرُ وَالْأَبْيَضُ وَالْعَرَبِيُّ وَالْعَجَمِيُّ وَسَيَأْتِي زَمَانٌ يَقْرَءُونَ فِيهِ الْقُرْآنَ يَتَثَقَّفُونَهُ كَمَا يَتَثَقَّفُ الْقَدَحُ يَتَعَجَّلُونَ أُجُورَهُمْ وَلَا يَتَأَجَّلُونَهَا. (رواه أحمد: ١٢١٢١)
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah dari Bakr bin Rasulullah ﷺ dari Wafa' Al-Khaulani dari Anas bin Malik dari Nabi ﷺ, beliau menemui kami dan bersabda, "Diantara kalian ada orang yang terbaik (yaitu Rasulullah ﷺ), kalian membaca kitab Allah 'Azza wa Jalla, diantara kalian ada yang berkulit merah, berkulit putih, orang Arab dan non Arab, akan datang sebuah zaman, mereka pandai membaca Al-Qur'an sebagaimana mereka meneguk segelas air. Mereka mempercepat upah mereka (di dunia) namun mereka tidak mendapatkannya kelak (di akhirat)." (HR. Ahmad: 12121 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhar bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)
Catatan: dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 12121 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama jadits yaitu Wafa' bin Syurahbil, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat. Ia mastuur. Kemudian, 'Abdullah bin Lahi'ah, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Maru dan wafat tahun 174 H. Penilaian ulama: Muhammad bin Sa'ad dan adz Dzahabi menilainya dha'if. Abu Zur'ah menilainya la yadhbuth dan Hakim menilainya dzahibul hadits. Sedangkan Ibnu Hajar menilainya shaduq. Selebihnya adalah periwayat maqbul. Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 12027 - dha'if dari Anas bin Malik. Hanya 'Abdullah bin Lahi'ah, tetapi Wafa' bin Syurahbil tidak ada. Yang menerima langsung dari Anas adalah Wafa' bin Syuraih, ia tabi'in kalangan pertengahan dan negeri hidup Maru. Penilaian ulama: Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat dan Ibnu Hajar menilainya maqbul.
Dalam lafazh lain beliau berkata,
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الْجُرَيْرِيُّ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ حَدَّثَنِي مَنْ سَمِعَ خُطْبَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَسَطِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى أَبَلَّغْتُ قَالُوا بَلَّغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا قَالُوا يَوْمٌ حَرَامٌ ثُمَّ قَالَ أَيُّ شَهْرٍ هَذَا قَالُوا شَهْرٌ حَرَامٌ قَالَ ثُمَّ قَالَ أَيُّ بَلَدٍ هَذَا قَالُوا بَلَدٌ حَرَامٌ قَالَ فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ بَيْنَكُمْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ قَالَ وَلَا أَدْرِي قَالَ أَوْ أَعْرَاضَكُمْ أَمْ لَا كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا أَبَلَّغْتُ قَالُوا بَلَّغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِيُبَلِّغْ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ. (رواه أحمد: ٢٢٣٩١)
Telah menceritakan kepada kami Isma'il Telah menceritakan kepada kami Sa'id Al Jurairi dari Abu Nadhrah telah menceritakan kepadaku orang yang pernah mendengar khutbah Rasulullah ﷺ ditengah-tengah hari tasyriq, beliau bersabda, "Wahai sekalian manusia! Rabb kalian satu, dan ayah kalian satu, ingat! Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang ajam dan bagi orang ajam atas orang Arab, tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah kecuali dengan ketakwaan. Apa aku sudah menyampaikan?" mereka menjawab: Rasulullah ﷺ telah menyampaikan. Rasulullah ﷺ bersabda, "Hari apa ini?" mereka menjawab: Hari haram. Rasulullah ﷺ bersabda, "Bulan apa ini?" mereka menjawab: Bulan haram. Rasulullah ﷺ bersabda, "Tanah apa ini?" mereka menjawab: Tanah haram. Rasulullah ﷺ bersabda, " Allah mengharamkan darah dan harta kalian diantara kalian -aku (Abu Nadhrah) Berkata; Aku tidak tahu apakah beliau menyebut kehormatan atau tidak- seperti haramnya hari kalian ini, di bulan ini dan di tanah ini." Rasulullah ﷺ bersabda, "Apa aku sudah menyampaikan?" mereka menjawab: Rasulullah ﷺ telah menyampaikan. Rasulullah ﷺ bersabda, "Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir." (HR. Ahmad: 22391 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari seorang shahabat yang tidak dikerahui namanya. Hadits ahlul Bashrah)
Rasulullah ﷺ, memprediksi pemegang tampuk pemerintahan di suatu masa setelah beliau dan para shahabat berasal dari bukan kalangan Arab. Sebagaimana disampaikan oleh imam Abu Daud,
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عَامِرٍ الْمُرِّيُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْعَلَاءِ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا الْأَعْيَسِ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَلْمَانَ يَقُولُ سَيَأْتِي مَلِكٌ مِنْ مُلُوكِ الْعَجَمِ يَظْهَرُ عَلَى الْمَدَائِنِ كُلِّهَا إِلَّا دِمَشْقَ. (رواه أبوداود: ٤٠٢١)
Telah menceritakan kepada kami Musa bin Amir Al Murri berkata, telah menceritakan kepada kami Al Walid berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz Ibnul 'Ala Bahwasanya ia mendengar Abul A'yas 'Abdurrahman bin Salman berkata, "Akan datang suatu masa dimana kekuasaan dipegang oleh pemimpin dari luar Arab, kekuasaannya meliputi semua kota selain Damaskus." (HR. Abu Daud: 4021 - shahihul isnad maqthu' menurut al Albani dari 'Abdur Rahman bin Salman, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu al A'yas dan negeri hidup Syam)
Hadits ini juga telah menjelaskan hadits tentang "pemimpin itu dari golongan Arab" adalah berlaku temporal. Artinya berlaku dikalangan orang Arab dan masih tersisanya sikap loyalitas Arabnya sebagaimana kesetiaan para shahabat Rasulullah ﷺ. Hadits dimaksud diantaranya,
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ حَدَّثَنَا سُكَيْنٌ حَدَّثَنَا سَيَّارُ بْنُ سَلَامَةَ سَمِعَ أَبَا بَرْزَةَ يَرْفَعُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ إِذَا اسْتُرْحِمُوا رَحِمُوا وَإِذَا عَاهَدُوا وَفَوْا وَإِذَا حَكَمُوا عَدَلُوا فَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ مِنْهُمْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ. (رواه أحمد: ١٨٩٤١)
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Daud telah menceritakan kepada kami Sukain telah menceritakan kepada kami Sayyar bin Salamah; telah mendengar dari Abu Barzah -merafa'kan(menghubungkan hadits) kepada Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Pemimpin itu dari bangsa Quraisy, karena apabila mereka dimintakan untuk menyayangi, maka mereka akan menyayangi, apabila mereka mengadakan perjanjian maka mereka akan menepatinya, apabila mereka menetapkan hukum, maka mereka akan berbuat adil. Dan barangsiapa yang tidak melaksanakan hal tersebut diantara mereka, maka baginya akan mendapat laknat dari Allah, malaikat dan manusia seluruhnya." (HR. Ahmad: 18941 - shahih lighairi, dengan isnadnya qawi menurut Syu'aib al Arna'uth dari Nadhlah bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Barzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 64 H)
Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 11859 dan 12433 - shahih, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik. Pada sanad kedua hadits tersebut terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits yaitu Bukair bin Wahab, ia tabi'in kalangan biasa. Dinilai oleh ulama: al Azdi menilainya laisa biqawi, Ibnu Hajar menilainya maqbul, sedangkan adz Dzahabi tidak menyebutkannya. Sementara Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat". Selebihnya adalah periwayat maqbul.
Imam ad Darimi mengisahkan,
أَخْبَرَنَا أَبُو النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ بَيَانٍ أَبِي بِشْرٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ قَالَ دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ عَلَى امْرَأَةٍ مِنْ أَحْمَسَ يُقَالُ لَهَا زَيْنَبُ قَالَ فَرَآهَا لَا تَتَكَلَّمُ فَقَالَ مَا لَهَا لَا تَتَكَلَّمُ قَالُوا نَوَتْ حَجَّةً مُصْمِتَةً فَقَالَ لَهَا تَكَلَّمِي فَإِنَّ هَذَا لَا يَحِلُّ هَذَا مِنْ عَمَلِ الْجَاهِلِيَّةِ قَالَ فَتَكَلَّمَتْ فَقَالَتْ مَنْ أَنْتَ قَالَ أَنَا امْرُؤٌ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ قَالَتْ مِنْ أَيِّ الْمُهَاجِرِينَ قَالَ مِنْ قُرَيْشٍ قَالَتْ فَمِنْ أَيِّ قُرَيْشٍ أَنْتَ قَالَ إِنَّكِ لَسَئُولٌ أَنَا أَبُو بَكْرٍ قَالَتْ مَا بَقَاؤُنَا عَلَى هَذَا الْأَمْرِ الصَّالِحِ الَّذِي جَاءَ اللَّهُ بِهِ بَعْدَ الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ بَقَاؤُكُمْ عَلَيْهِ مَا اسْتَقَامَتْ بِكُمْ أَئِمَّتُكُمْ قَالَتْ وَمَا الْأَئِمَّةُ قَالَ أَمَا كَانَ لِقَوْمِكِ رُؤَسَاءُ وَأَشْرَافٌ يَأْمُرُونَهُمْ فَيُطِيعُونَهُمْ قَالَتْ بَلَى قَالَ فَهُمْ مِثْلُ أُولَئِكَ عَلَى النَّاسِ. (رواه الدارمي: ٢١٤)
Telah mengabarkan kepada kami Abu An Nu'man telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Bayan bin Bisyr dari Qais bin Abu Hazim ia berkata, " Abu Bakar menemui seorang wanita dari Ahmas yang dikenal dengan Zainab. Qais berkata, 'Beliau melihatnya diam tidak berkata-kata', lalu beliau bertanya: 'Mengapa ia tidak bicara? ' mereka menjawab, 'ia berniat (bernadzar) untuk menunaikan haji dengan tidak bercakap-cakap', lalu beliau berkata kepadanya: 'bicaralah', karena hal ini tidak boleh, ini merupakan perbuatan orang-orang jahiliah. Ia meriwayatkan: 'kemudian wanita itu berbicara', selanjutnya wanita itu bertanya: 'siapa kamu? ' ia menjawab, 'aku seorang dari kaum Muhajirin, wanita itu bertanya lagi: 'Dari Muhajirin yang mana? ', beliau menjawab, 'Dari suku Quraisy', wanita itu masih bertanya lagi: 'Dari suku Quraisy yang mana? ', beliau berkata, 'Sungguh kamu orang yang banyak bertanya; aku adalah Abu Bakar. Wanita itu berkata, 'Sampai kapan kita akan merasakan kehidupan yang sangat baik ini sesuai dengan apa yang Allah tunjukkan, setelah (kami melalui zaman) jahiliah? ', beliau menjawab: Kehidupan kalian akan tetap seperti ini selama para pemimpin kalian istiqamah. Wanita itu bertanya: 'Apa peran para pemimpin? ', beliau menjawab, 'Bukankah dulu kalian memiliki para pemimpin dan orang-orang yang dimuliakan lalu mereka memerintah dan kalian pun menaati mereka? ', ia menjawab, 'Ya, benar', beliau berkata, 'Demikianlah peran para pemimpin atas manusia' ". (HR. Ad Darimi: 214 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari 'Abdullah bin 'Utsman bin 'Amir bin 'Amru bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taymi bin Murrah, ia shahabat kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 13 H)
Selanjunya, mendoakan para pemimpin adalah sesuatu yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ. Hal tersebut dikhabarkan oleh imam Ahmad,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ قَالَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِمَامُ ضَامِنٌ وَالْمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنٌ اللَّهُمَّ أَرْشِدْ الْأَئِمَّةَ وَاغْفِرْ لِلْمُؤَذِّنِينَ قَالَ وَكَذَا حَدَّثَنَاهُ أَسْوَدُ قَالَ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنِ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ كَمَا قَالَ مُحَمَّدٌ أَرْشِدْ الْأَئِمَّةَ وَاغْفِرْ لِلْمُؤَذِّنِينَ قَالَ وَكَذَا قَالَ يَعْنِي ابْنَ فُضَيْلٍ أَيْضًا وَزَائِدَةُ أَيْضًا حَدَّثَنَاهُ مُعَاوِيَةُ يَعْنِي عَنْهُ. (رواه أحمد: ٩١١٢)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Ubaid berkata; telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Seorang imam bertanggungjawab dan mu`adzin dipercaya, ya Allah luruskanlah para imam dan ampunilah para mu`adzin." Imam Ahmad berkata; Seperti inilah Aswad meriwayatkannya kepada kami, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Syarik dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah sebagaimana Muhammad berkata, "Luruskanlah para imam dan ampunilah para mu`adzin." Imam Ahmad berkata; seperti ini juga ia -yaitu Ibnu Fudhail- mengatakan, dan begitu Za`idah; Mu'awiyah telah menceritakannya kepada kami darinya." (HR. Ahmad: 9112 - shahih menurut Syu'aib al Arna'uth begitu juga sanadnya dari 'Abdur Rahman bin Shakhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Hurairah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Tergolong Hadits 'Aziz)
Wallahu a'lam bish shawab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏