“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


PENYEBAB TERJADINYA MUSIBAH

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Musibah bagian dari kehidupan agar keseimbangan alam dan prilaku makhluknya, khususnya manusia dapat selalu terkontrol. Perbuatan dan tindakan manusia disinggung oleh Allah dalam al Qur'an, sebagaimana firman-Nya:

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ. (قرآن سورة الشورى/٤٢)

"Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS.Asy-Syūrā/42: 30)

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa apa yang menimpa manusia di dunia berupa bencana penyakit dan lain-lainnya adalah akibat perbuatan mereka sendiri, perbuatan maksiat yang telah dilakukannya dan dosa yang telah dikerjakannya, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ direkam dalam riwayat-riwayat berikut:

Imam at Tirmidzi berkata,

حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَاصِمٍ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ الْوَازِعِ قَالَ حَدَّثَنِي شَيْخٌ مِنْ بَنِي مُرَّةَ قَالَ قَدِمْتُ الْكُوفَةَ فَأُخْبِرْتُ عَنْ بِلَالِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ فَقُلْتُ إِنَّ فِيهِ لَمُعْتَبَرًا فَأَتَيْتُهُ وَهُوَ مَحْبُوسٌ فِي دَارِهِ الَّتِي قَدْ كَانَ بَنَى قَالَ وَإِذَا كُلُّ شَيْءٍ مِنْهُ قَدْ تَغَيَّرَ مِنْ الْعَذَابِ وَالضَّرْبِ وَإِذَا هُوَ فِي قُشَاشٍ فَقُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ يَا بِلَالُ لَقَدْ رَأَيْتُكَ وَأَنْتَ تَمُرُّ بِنَا تُمْسِكُ بِأَنْفِكَ مِنْ غَيْرِ غُبَارٍ وَأَنْتَ فِي حَالِكَ هَذَا الْيَوْمَ فَقَالَ مِمَّنْ أَنْتَ فَقُلْتُ مِنْ بَنِي مُرَّةَ بْنِ عَبَّادٍ فَقَالَ أَلَا أُحَدِّثُكَ حَدِيثًا عَسَى اللَّهُ أَنْ يَنْفَعَكَ بِهِ قُلْتُ هَاتِ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي أَبُو بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ أَبِي مُوسَى أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُصِيبُ عَبْدًا نَكْبَةٌ فَمَا فَوْقَهَا أَوْ دُونَهَا إِلَّا بِذَنْبٍ وَمَا يَعْفُو اللَّهُ عَنْهُ أَكْثَرُ قَالَ وَقَرَأَ { وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ } قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ. (رواه الترمذي: ٣١٧٥)

Telah menceritakan kepada kami Abdu bin Humaid telah menceritakan kepada kami Amru bin Ashim telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Al Wazi' berkata, Telah menceritakan kepadaku seorang guru dari bani Murrah, ia berkata, Aku datang ke Kufah lalu aku diberitahu tentang Bilal bin Abu Burdah, aku berkata, Sesungguhnya dalam dirinya terdapat pelajaran. Lalu aku mendatanginya saat ia tertahan di rumahnya yang ia bangun. Ia berkata, Ternyata segala sesuatunya telah berubah karena siksaan atau serangan dan ia tengah berada di dalam keterhinadinaan yang tak ada harganya, aku berkata, Alhamdulillaah, hai Bilal aku melihatmu saat melintasi kami, kau menutupi hidungmu bukan karena debu sementara kau tengah berada dalam kondisimu saat ini. Bilal bertanya: Kau dari mana? Aku menjawab: Dari bani Murrah bin Abbas. Bilal berkata, Maukah aku menceritakan padamu suatu hadits, mudah-mudahan Allah membuatmu bermanfaat karenanya? Aku berkata, silahkan, sebutkan saja. Ia berkata, Telah menceritakan kepadaku ayahku, Abu Burdah dari ayahnya, Abu Musa bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah suatu musibah menimpa seorang hamba, lebih besar atau lebih kecil darinya melainkan karena dosa, dan yang dimaafkan Allah lebih banyak." Ia berkata, Dan beliau membaca, "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)" (QS. Asy Syuuraa/42: 30).

Abu Isa berkata, Hadits ini gharib, kami hanya mengetahuinya melalui sanad ini. (HR. At Tirmidzi: 3175 - dha'if menurut al Albani dari 'Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadhdhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Musa negeri hidup Kufah dan wafat tahun 50 H)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat at Tirmidzi: 3175, periwayat yang menerima dari Bilal bin Abi Bardah bin Abi Musa, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu 'Amru dan negeri hidup Bashrah tidak diketahui. Para ulama menilai Bilal bin Abi Burdah: Ibnu Hajar dan adz Dzahabi tidak menyebutkannya, sementara Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat". Kemudian Ubaidullah bin al Wazi', ia tabi'ut tabi'in kalangan tua dan negeri hidup Bashrah. Dinilai para ulama: Ibnu Hajar menilainya; majhul dan dha'if, adz Dzahabi menilainya shaduq, mereka mendha'ifkannya. Sedangkan an Nasa'i menilainya matrukul hadits.

Selanjutnya imam Ahmad meriwayatkan:

حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُعَاوِيَةَ الْفَزَارِيُّ أَنْبَأَنَا الْأَزْهَرُ بْنُ رَاشِدٍ الْكَاهِلِيُّ عَنْ الْخَضِرِ بْنِ الْقَوَّاسِ عَنْ أَبِي سُخَيْلَةَ قَالَ قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلِ آيَةٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى حَدَّثَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { مَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ } وَسَأُفَسِّرُهَا لَكَ يَا عَلِيُّ { مَا أَصَابَكُمْ } مِنْ مَرَضٍ أَوْ عُقُوبَةٍ أَوْ بَلَاءٍ فِي الدُّنْيَا { فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ } وَاللَّهُ تَعَالَى أَكْرَمُ مِنْ أَنْ يُثَنِّيَ عَلَيْهِمْ الْعُقُوبَةَ فِي الْآخِرَةِ وَمَا عَفَا اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ فِي الدُّنْيَا فَاللَّهُ تَعَالَى أَحْلَمُ مِنْ أَنْ يَعُودَ بَعْدَ عَفْوِهِ. (رواه أحمد: ٦١٤)

Telah menceritakan kepada kami Marwan bin Mu'awiyah Al Fazari telah memberitakan kepada kami Al Azhar bin Rasyid Al Kahili dari Al Khadir bin Al Qawwas dari Abu Sukhailah dia berkata; Ali berkata, "Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang ayat yang paling utama dalam kitabullah Ta'ala, Rasulullah ﷺ telah menceritakannya kepada kami, (yaitu ayat): (Apa apa yang menimpa kalian berupa musibah, maka itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian dan Allah memaafkan kebanyakannya) (QS. Asy Syuura/42: 30), dan saya akan menafsirkannya kepadamu wahai Ali, apa-apa yang menimpa kalian berupa sakit, siksaan atau cobaan di dunia, maka itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian, dan Allah Ta'ala Maha Pemurah dari hendak mengazab dua kali kepada mereka ketika di akhirat, sedangkan apa-apa yang Allah maafkan di dunia, maka Allah Ta'ala Mahalembut dari hendak kembali setelah memaafkannya." (HR. Ahmad: 614 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H)

Catatan: dalam hadits riwayat Ahmad: 614, terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits yaitu Abu Sukhailah, ia tabi'in kalangan pertengahan dinilai majhul oleh Ibnu Hajar. Al Hadhir bin bin al Qawwas, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] dinilai oleh Ibnu Hajar sebagai periwayat majhul, sementara Ibnu Hatim mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat". Demikian juga Azhar bin Rasyid, ia tabi'in kalangan biasa dinilai oleh Abu Hatim, Ibnu Hajar dan adz Dzahabi sebagai periwayat majhul. Sementara al Azdi menilainya mungkarul hadits.

Namun, pada sisi lain Allah menunjukkan kasih sayang-Nya bahwa semua yang ditimpakan pada orang Muslim itu baik bagi mereka. Sebagaimana dijelaskan oleh Rasul-Nya seperti yang diriwayat oleh imam al Bukhari:

حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَلْحَلَةَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ. (رواه البخاري: ٥٢١٠)

Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin 'Amru telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Muhammad dari Muhammad bin 'Amru bin Halhalah dari 'Atha` bin Yasar dari Abu Sa'id Al Khudri dan dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ beliau bersabda, "Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya." (HR. Al Bukhari: 5217 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 7684, 8070 dan 10714 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Sementara imam Muslim dengan lafazh "mukmin", sebagaimana beliau riwayatkan,

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَطَاءٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُمَا سَمِعَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلَا نَصَبٍ وَلَا سَقَمٍ وَلَا حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلَّا كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ. (رواه مسلم: ٤٦٧٠)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Al Walid bin Katsir dari Muhammad bin 'Amru dari 'Athaa bin Yasar dari Abu Sa'id dan Abu Hurairah bahwasanya kedua orang sahabat itu pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada penderitaan, kesengsaraan, sakit, kesedihan dan bahkan juga kekalutan yang menimpa seorang mukmin, melainkan dengan semua itu dihapuskan sebagian dosanya." (HR. Muslim: 4670 - shahih dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam at Tirmidzi: 889 - hasan menurut al Albani dari dua shahabat yaitu Abu Hurairah dan Sa'ad bin Malik. Jalur lain, imam Muslim: 4669 - shahih dari 'Aisyah.

حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنَا حَيْوَةُ حَدَّثَنَا ابْنُ الْهَادِ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ حَزْمٍ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ حَتَّى الشَّوْكَةِ تُصِيبُهُ إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً أَوْ حُطَّتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ. (رواه مسلم: ٤٦٦٩)

Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya; Telah mengabarkan kepada kami 'Abdullah bin Wahab; Telah mengabarkan kepada kami Haiwah; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Had dari Abu Baksr bin Hazam dari 'Amrah dari 'Aisyah dia berkata; Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada satupun musibah (cobaan) yang menimpa seorang mukmin walaupun berupa duri, melainkan dengannya Allah akan mencatat untuknya satu kebaikan atau menghapus satu kesalahannya." (HR. Muslim: 4669 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri Nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Demikian imam Ahmad: 15965 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari As Saa'ib bin Khallaad bin Suwaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Shahlah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 71 H. Dalam sanad haditsnya terdapat periwayat bernama Risydin bin Sa'id Mufli, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyah Abu al Hajjaj negeri hidup Maru dan wafat tahun 188 H. Penilaian ulama: Abu Hatim, Abu Zur'ah, an Nasa'i, Abu Daud dan ad Daruqudni menilainya dha'iful hadits. Ibnu Hajar dan Ibnu Sa'ad menilainya dha'if. Yahya bin Ma'im mengatakan, "haditsnya tidak ditulis".

Selanjutnya imam Ahmad meriwayatkan:

حَدَّثَنَا يَعْلَى بْنُ عُبَيْدٍ قَالَ حَدَّثَنَا طَلْحَةُ يَعْنِي ابْنَ يَحْيَى عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ مُعَاوِيَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ فِي جَسَدِهِ يُؤْذِيهِ إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ. (رواه أحمد: ١٦٢٩٥)

Telah menceritakan kepada kami Ya'la bin 'Ubaid berkata; telah menceritakan kepada kami Thalhah yaitu Ibnu Yahya dari Abu Burdah dari Mu'awiyah berkata; saya telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Tiada sesuatu yang menimpa seorang mukmin pada jasadnya yang menjadikan dia sakit kecuali Allah akan meleburkan kesalahannya yang ada padanya." (HR. Ahmad: 16295 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Mu'awwiyah bin Abi Sufyan Shakhar bin Harbi bin Harbi, ia shahabat negeri hidup Syam dan wafat tahun 60 H)

Datangnya penyakit atau musibah disebabkan ulah manusia itu sendiri. Tetapi di sisi lain penyakit atau musibah itu dapat menghapus dosa seperti hadis di atas. Hal itu tergantung kepada cara manusia menyikapi, apakah dengan bersabar atau berputus asa.

Ayat ini ditutup dengan satu ketegasan bahwa Allah mengampuni sebagian besar dari kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat hamba-Nya sebagai suatu rahmat besar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya, karena kalau tidak, niscaya manusia akan dihancurkan sesuai dengan timbunan dosa yang telah mereka perbuat, sebagaimana firman Allah:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللّٰهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَّا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَاۤبَّةٍ وَّلٰكِنْ يُّؤَخِّرُهُمْ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى. (قرآن سورة النحل/١٦: ٦١)

Dan kalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ada yang ditinggalkan-Nya (di bumi) dari makhluk yang melata sekalipun, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang sudah ditentukan. (QS. An Nahal/16: 61);

Dan firman-Nya:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللّٰهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوْا مَا تَرَكَ عَلٰى ظَهْرِهَا مِنْ دَاۤبَّةٍ وَّلٰكِنْ يُّؤَخِّرُهُمْ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِعِبَادِهٖ بَصِيْرًا. (قرآن سورة فاطر/٣٥: ٤٥)

"Dan sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang telah mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan satu pun makhluk bergerak yang bernyawa di bumi ini, tetapi Dia menangguhkan (hukuman)nya, sampai waktu yang sudah ditentukan. Nanti apabila ajal mereka tiba, maka Allah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya." (QS.Faathir/35: 45)

Hanya Allah yang dapat menyelamatkan dari semua musibah. Sebagaimana firman-Nya:

قُلْ مَنْ يُّنَجِّيْكُمْ مِّنْ ظُلُمٰتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُوْنَهٗ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۚ لَىِٕنْ اَنْجٰىنَا مِنْ هٰذِهٖ لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الشّٰكِرِيْنَ. (قرآن سورة الأنعام/٦: ٦٣)

"Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, ketika kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah hati dan dengan suara yang lembut?” (Dengan mengatakan), “Sekiranya Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.”" (QS. Al-An‘aam/6: 63)

قُلِ اللّٰهُ يُنَجِّيْكُمْ مِّنْهَا وَمِنْ كُلِّ كَرْبٍ ثُمَّ اَنْتُمْ تُشْرِكُوْنَ. (قرآن سورة الأنعام/٦: ٦٤)

"Katakanlah (Muhammad), “Allah yang menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, namun kemudian kamu (kembali) mempersekutukan-Nya.”" (QS.Al-An‘aam/6: 64)

Demikianlah yang dapat penulis paparkan, semoga dapat dipahami dan bermanfaat. Semoga Allah senantiasa membimbing dan melindungi kita semua. Selanjutnya, sikap kita terhadap musibah yang terjadi dapat menjadikan i'tibar dan semakin menambah keyakinan dan kesabaran serta menerima qada dan qadar Allah. Semoga Allah angkat segala musibah dan menggantinya dengan kebaikan dan keberkahan.

Wallaahu a'lam bish Shawaab,

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]