ORANG DIBENCI ALLAH
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Imam al Bukhari berkata:
حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ. (رواه البخاري: ٢٢٧٧)
Telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim dari Ibnu Juraij dari Ibnu Abi Mulaikah dari 'Aisyah radhiallahu'anha dari Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya orang yang paling dimurkai Allah adalah orang paling keras (gemar) dalam berbantah-bantahan". (HR. Al Bukhari: 2277 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 4161 dan 6651, Muslim: 4821, at Tirmidzi: 2902, an Nasa'i: 5328 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H. Imam at Tirmidzi meriwayatkan bahwa kebiasaan berdebat tersebut sampai ke akhirat. Sebagai beliau berkata,
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَلْقَمَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حَاطِبٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ { ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ } قَالَ الزُّبَيْرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتُكَرَّرُ عَلَيْنَا الْخُصُومَةُ بَعْدَ الَّذِي كَانَ بَيْنَنَا فِي الدُّنْيَا قَالَ نَعَمْ فَقَالَ إِنَّ الْأَمْرَ إِذًا لَشَدِيدٌ.
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. (رواه الترمذي: ٣١٦٠)
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Muhammad bin Amru bin Alqamah dari Yahya bin Abdurrahman bin Hathib dari Abdullah bin Az Zubair dari ayahnya berkata, Saat turun (ayat): "Kemudian kamu pada hari kiamat akan berbantah-bantah di hadapan Rabb-mu." (QS. Az Zumar/39: 31) Az Zubair berkata, Wahai Rasulullah, apakah berbantah-bantahan terulang lagi setelah terjadi diantara kami di dunia? Beliau menjawab, "Ya." Ia berkata, Kalau begitu masalahnya sangat berat.
Abu Isa berkata, Hadits ini hasan shahih. (HR. At Tirmidzi: 3160 - hasan dari az Zubair bin al 'Awwan bin Khuwailid, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 36 H)
Pada jalur lain imam Ahmad meriwayatkan dengan redaksi semakna dan tambahan,
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حَاطِبٍ عَنِ ابْنِ الزُّبَيْرِ عَنِ الزُّبَيْرِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ { ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ } قَالَ الزُّبَيْرُ أَيْ رَسُولَ اللَّهِ مَعَ خُصُومَتِنَا فِي الدُّنْيَا قَالَ نَعَمْ وَلَمَّا نَزَلَتْ { ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنْ النَّعِيمِ } قَالَ الزُّبَيْرُ أَيْ رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ نَعِيمٍ نُسْأَلُ عَنْهُ وَإِنَّمَا يَعْنِي هُمَا الْأَسْوَدَانِ التَّمْرُ وَالْمَاءُ قَالَ أَمَا إِنَّ ذَلِكَ سَيَكُونُ. (رواه أحمد: ١٣٣١)
Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Muhammad bin 'Amru dari Yahya bin Abdurrahman bin Hatib dari Ibnu Zubair dari Zubair radhiallahu'anhu berkata; ketika turun ayat, "Kemudian Sesungguhnya kalian pada hari kiamat akan berbantah-bantah di hadapan Tuhan kalian" Zubair bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kita akan berbantah-bantahan dengan lawan-lawan kita di dunia?" beliau menjawab, "Ya." Lalu ketika turun ayat, "Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)." Zubair bertanya, "Wahai Rasulullah! Apakah nikmat yang akan dtanyakan kepada kita yaitu dua hal, maksudnya kurma dan air?" beliau menjawab, "Hal itu juga akan ditanyakan." (HR. Ahmad: 1331 - isnadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari az Zubair bin al 'Awwan bin Khuwailid, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 36 H)
Kemudian Rasulullah ﷺ mengingatkan sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh imam ad Darimi,
أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ حَدَّثَنَا زَائِدَةُ عَنْ هِشَامٍ عَنْ الْحَسَنِ وَابْنِ سِيرِينَ أَنَّهُمَا قَالَا لَا تُجَالِسُوا أَصْحَابَ الْأَهْوَاءِ وَلَا تُجَادِلُوهُمْ وَلَا تَسْمَعُوا مِنْهُمْ. (رواه الدارمي: ٤٠٣)
Telah mengabarkan kepada kami Ahmad telah menceritakan kepada kami Za`idah dari Hisyam dari Al Hasan dan Ibnu Sirin keduanya berkata, "Janganlah kalian duduk-duduk bersama orang-orang yang mengumbar atau mengikuti hawa nafsunya, jangan berbantah-bantahan bersama mereka dan janganlah kalian mendengarkan dari mereka". (HR. Ad Darimi: 403 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari al Hasan bin Abi al Hasan Yasar, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 110 H. Dan dari Muhammad bin Sirin, maula Anas bin Malik, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 110 H. Hadits 'Aziz)
Catatan: al Hasan bin Abi al Hasan Yasar dinilai para ulama kritikus hadits: al 'Ajli menilainya tsiqah, Muhammad bin Sa'ad menilainya tsiqah ma'mun. Sedangkan Ibnu Hibban menilainya yudallis dan berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat". Selanjutnya Muhammad bin Sirin, dinilai oleh para ulama kritikus hadits: Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma'in dan al 'Ajli menilainya tsiqah. Muhammad bin Sa'ad menilainya tsiqah ma'mun, Ibnu Hajar menilainya tsiqah tsabat, adz Dzahabi menilainya tsiqah hujjah, sementara Ibnu Hibban menilainya hafizh.
Selanjunya, imam ad Darimi juga meriwayatkan,
أَخْبَرَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ وَاسِعٍ قَالَ كَانَ مُسْلِمُ بْنُ يَسَارٍ يَقُولُ إِيَّاكُمْ وَالْمِرَاءَ فَإِنَّهَا سَاعَةُ جَهْلِ الْعَالِمِ وَبِهَا يَبْتَغِي الشَّيْطَانُ زَلَّتَهُ. (رواه الدارمي: ٣٩٨)
Telah mengabarkan kepada kami 'Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Wasi' ia berkata, " Muslim bin Yasar pernah berkata, 'Jauhilah oleh kalian berbantah-bantahan, sebab saat itulah seorang ulama menjadi seorang yang bodoh, dan peluang setan untuk menjatuhkan menjadi terbuka". (HR. Ad Darimi: 398 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Muslim bim Yasar, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 100 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal, al 'Ajli dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah. Yahya bin Ma'in menilainya shalih, sedangkan Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat").
Contoh-contoh dari pernyataan hadits di atas juga terekam dalam al Qur'an, sebagaimana firman-Nya terkait berbantah-bantahan yang dilakukan oleh ahlul kitab terhadap kenabian Ibrahim 'alaihi salam:
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
هٰٓاَنْتُمْ هٰٓؤُلَاۤءِ حَاجَجْتُمْ فِيْمَا لَكُمْ بِهٖ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاۤجُّوْنَ فِيْمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهٖ عِلْمٌ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ. (قرآن سورة آل عمران/٣: ٦٦)
"Begitulah kamu! Kamu berbantah-bantahan tentang apa yang kamu ketahui, tetapi mengapa kamu berbantah-bantahan juga tentang apa yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (QS.Āli ‘Imrān/3: 66)
Atau firman Allah tentang ashhab al Kahfi,
سَيَقُوْلُوْنَ ثَلٰثَةٌ رَّابِعُهُمْ كَلْبُهُمْۚ وَيَقُوْلُوْنَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًاۢ بِالْغَيْبِۚ وَيَقُوْلُوْنَ سَبْعَةٌ وَّثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ ۗقُلْ رَّبِّيْٓ اَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ مَّا يَعْلَمُهُمْ اِلَّا قَلِيْلٌ ەۗ فَلَا تُمَارِ فِيْهِمْ اِلَّا مِرَاۤءً ظَاهِرًا ۖوَّلَا تَسْتَفْتِ فِيْهِمْ مِّنْهُمْ اَحَدًا. (قرآن سورة الكهفي/١٨: ٢٢)
"Nanti (ada orang yang akan) mengatakan, ”(Jumlah mereka) tiga (orang), yang ke empat adalah anjingnya,” dan (yang lain) mengatakan, “(Jumlah mereka) lima (orang), yang ke enam adalah anjingnya,” sebagai terkaan terhadap yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan, “(Jumlah mereka) tujuh (orang), yang ke delapan adalah anjingnya.” Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit.” Karena itu janganlah engkau (Muhammad) berbantah tentang hal mereka, kecuali perbantahan lahir saja dan jangan engkau menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada siapa pun." (QS.Al-Kahfi/18: 22)
Maknanya sebagaimana yang terjadi pada kalangan ahlul kitab, mereka berbantahan terhadap hal yang mereka ketahui dan bahkan hal yang tidak mereka ketahui. Demikian juga terkait dengan jumlah ashhab al Kahfi. Jika tidak diberitahukan apalagi tidak mengetahui kebenarannya maka tidak perlu diperbantahkan. Oleh karena itu, apabila terkait dengan yang ghaib, hal tersebut hanya Allah yang mengetahuinya, kecuali sebagian kecil saja yang diberitahukan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasul-Nya.
Demikianlah yang dapat penulis paparkan, semoga dapat dipahami.
Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏