PEDANG RASUL DAN GHANIMAH
OLEH: SAMSURIZAL, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Pedang milik Nabi Muhammad SAW itu sangat populer dalam sejarah peradaban Islam. Diriwayatkan, pedang tersebut diwariskan oleh Rasulullah SAW kepada sepupu sekaligus menantunya Ali bin Abi Thalib. Pedang Zulfikar kerap menjadi kunci kemenangan kaum Muslimin atas musuh-musuhnya.
Lihat juga link berikut, https://publika.co.id/2020/05/05/kisah-pedang-zulfikar-pedang-milik-rasulullah-saw/amp/#aoh=16025011752798&csi=1&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&_tf=Dari%20%251%24s
Imam Ibnu Majah berkata:
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا ابْنُ الصَّلْتِ عَنْ ابْنِ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَنَفَّلَ سَيْفَهُ ذَا الْفَقَارِ يَوْمَ بَدْرٍ. (رواه إبن ماجه: ٢٧٩٨)
Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Ibnu Shalt dari Ibnu Abu Zinad dari Ayahnya dari Ubaidillah bin Abdullah dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Sesungguhnya Rasulullah ﷺ memberikan pedangnya yang bernama Dzal Faqar di saat perang Badar." (HR. Ibnu Majah: 2798 - sanadnya shahih menurut al Albani dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)
Lebih lanjut diriwayatkan oleh imam at Tirmidzi sebagaimana beliau berkata,
حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَنَفَّلَ سَيْفَهُ ذَا الْفَقَارِ يَوْمَ بَدْرٍ وَهُوَ الَّذِي رَأَى فِيهِ الرُّؤْيَا يَوْمَ أُحُدٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ إِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ أَبِي الزِّنَادِ وَقَدْ اخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي النَّفَلِ مِنْ الْخُمُسِ فَقَالَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ لَمْ يَبْلُغْنِي أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَفَّلَ فِي مَغَازِيهِ كُلِّهَا وَقَدْ بَلَغَنِي أَنَّهُ نَفَّلَ فِي بَعْضِهَا وَإِنَّمَا ذَلِكَ عَلَى وَجْهِ الِاجْتِهَادِ مِنْ الْإِمَامِ فِي أَوَّلِ الْمَغْنَمِ وَآخِرِهِ قَالَ إِسْحَاقُ ابْنُ مَنْصُورٍ قُلْتُ لِأَحْمَدَ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَفَّلَ إِذَا فَصَلَ بِالرُّبُعِ بَعْدَ الْخُمُسِ وَإِذَا قَفَلَ بِالثُّلُثِ بَعْدَ الْخُمُسِ فَقَالَ يُخْرِجُ الْخُمُسَ ثُمَّ يُنَفِّلُ مِمَّا بَقِيَ وَلَا يُجَاوِزُ هَذَا قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا الْحَدِيثُ عَلَى مَا قَالَ ابْنُ الْمُسَيَّبِ النَّفَلُ مِنْ الْخُمُسِ قَالَ إِسْحَقُ هُوَ كَمَا قَالَ. (رواه تلترمذي: ١٤٨٦)
Telah menceritakan kepada kami Hannad berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Az Zinad dari Bapaknya dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah dari Ibnu Abbas berkata, "Nabi ﷺ memberikan pedangnya yang bernama dzul fiqar sebagai nafl (pemberian tambahan selain ghanimah) pada perang badar. Dan pedang itulah yang beliau mimpikan pada perang uhud." Abu Isa berkata, "Hadits ini derajatnya hasan gharib, dan kami hanya mengetahuinya dari jalur ini, dari hadits Ibnu Abu Az Zinad. Para ulama` berselisih dalam masalah nafl yang diambilkan dari seperlima (ghanimah). Malik bin Anas berkata, "Belum pernah sampai kabar kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ memberikan nafl dalam setiap peperangannya. Tetapi yang sampai kepadaku bahwa beliau memberikan nafl pada sebagian peperangan yang dilakukannya, dan itu pun berdasarkan ijtihad imam, di setiap kali ghanimah didapatkan. Ishaq bin Manshur mengatakan; aku pernah berkata kepada Ahmad "Nabi memberi nafl seperempat bagian saat peperangan dimulai setelah diambil seperlima, dan jika kembali dari peperangan, beliau memberi sepertiga bagian setelah diambil seperlima", Maka Ahmad berkata, "Beliau mengeluarkan seperlima (terlebih dahulu) kemudian memberi nafl dari yang tersisa, dan tidak pernah lebih dari ini", Abu Isa mengatakan; Hadits ini sesuai dengan perkataan Ibnul Musayyab, nafl diambil dari seperlima. Ishaq berkata kurang lebih demikian. (HR. At Tirmidzi: 1489 - hasanul isnad menurut al Albani dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)
Perang yang dilakukan nabi bukanlah bertujuan untuk memdapatkan ghanimah, tetapi untuk menegakkan dan membela kehormatan Islam. Oleh karena itu Rasulullah ﷺ, melarang dengan tujuan demikian. Sebagaimana imam Ahmad berkata,
حَدَّثَنَا عَتَّابُ بْنُ زِيَادٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ لَهِيعَةَ بْنِ عُقْبَةَ وَعَنْ يَزِيدُ بْنُ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ لَهِيعَةَ بْنِ عُقْبَةَ عَنْ أَبِي الْوَرْدِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَإِيَّاكُمْ وَالْخَيْلَ الْمُنَفِّلَةَ فَإِنَّهَا إِنْ تَلْقَ تَفِرَّ وَإِنْ تَغْنَمْ تَغْلُلْ. (رواه أحمد: ٨٨٤٤)
Telah menceritakan kepada kami 'Attab bin Ziyad berkata; telah menceritakan kepada kami Abdullah Ibnul Mubarak dari Abdullah bin Lahi'ah bin 'Uqbah dan Yazid bin Abi Habib dari Lahi'ah bin 'Uqbah dari Abu Al Ward dari Abu Hurairah berkata; Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Jauhilah oleh kalian orang yang berperang dengan tujuan ghanimah, karena sesungguhnya jika bertemu dengan musuh ia akan lari mundur, dan jika mendapatkan ghanimah ia curang (mengambil ghanimah sebelum dibagi, pent)." (HR. Ahmad: 8844 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Catatan: dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 8844, terdapat periwayat bernama 'Abdullah bin Lahi'ah, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Maru dan wafat tahun 174 H. Penilaian ulama: Muhammad bin Sa'ad dan adz Dzahabi menilainya dha'if. Hakim menilainya dzahibul hadits, Abu Zur'ah menilainya la yadhbuth. Sedangkan Ibnu Hajar menilainya shaduq.
Tegasnya, sebagaimana diriwayat oleh imam Ahmad tentang kisah perang di Kabul:
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ عَنْ يَعْلَى بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِي لَبِيدٍ قَالَ غَزَوْنَا مَعَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَمُرَةَ كَابُلَ فَأَصَابَ النَّاسُ غَنَمًا فَانْتَهَبُوهَا فَأَمَرَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ مُنَادِيًا يُنَادِي إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ انْتَهَبَ نُهْبَةً فَلَيْسَ مِنَّا فَرُدُّوا هَذِهِ الْغَنَمَ فَرَدُّوهَا فَقَسَمَهَا بِالسَّوِيَّةِ. (رواه أحمد: ١٩٧٠٥)
Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi, telah menceritakan kepada kami Jarir bin Hazim dari Ya'la bin Hakim dari Abu Lubaid dia berkata, "Kami pernah ikut berperang bersama Abdurrahman bin Samurah di Kabul, kemudian kaum muslimin mendapatkan ghanimah, lalu mereka berebut mengambilnya, maka Abdurrahman menyuruh salah seorang untuk menyeru, "Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Barangsiapa mengambil ghanimah (sebelum dibagi), maka bukan termasuk dari golongan kami,' maka kembalikanlah ghanimah ini, " lalu mereka mengembalikannya kemudian, "Abdurrahman membagikannya dengan rata." (HR. Ahmad: 19705 - shahih lighairihi, sanadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdur Rahman bin Samurah bin Habib bin 'Abdu Syams, ia shahabat kuniyahnya Bashrah dan wafat tahun 50 H. Hadits ahlul Bashrah)
Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 19714 - shahih lighairihi, sanadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdur Rahman bin Samurah bin Habib bin 'Abdu Syams, ia shahabat kuniyahnya Bashrah dan wafat tahun 50 H. Hadits ahlul Bashrah)
Riwayat menunjukkan bahwa, "penyebab kekalahan umat Islam pada perang Uhud adalah karena berebut harta rampasan perang (ghanimah). Kisah tersebut direkam dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, sebagai berikut:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ عَن أَبِي إِسْحَاقَ عَن الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ جَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الرُّمَاةِ وَكَانُوا خَمْسِينَ رَجُلًا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ جُبَيْرٍ يَوْمَ أُحُدٍ وَقَالَ إِنْ رَأَيْتُمْ الْعَدُوَّ وَرَأَيْتُمْ الطَّيْرَ تَخْطَفُنَا فَلَا تَبْرَحُوا فَلَمَّا رَأَوْا الْغَنَائِمَ قَالُوا عَلَيْكُمْ الْغَنَائِمَ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ أَلَمْ يَقُلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَبْرَحُوا قَالَ غَيْرُهُ فَنَزَلَتْ { وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ } يَقُولُ عَصَيْتُمْ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ الْغَنَائِمَ وَهَزِيمَةَ الْعَدُوِّ. (رواه أحمد: ١٧٨٥٩)
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam Telah menceritakan kepada kami Zuhair dari Abu Ishaq dari Al Baraa` bin 'Azib ia berkata; Rasulullah ﷺ mengangkat Abdullah bin Jubair sebagai pemimpin pasukan pemanah yang jumlah mereka lima puluh orang pada perang Uhud. Kemudian beliau bersabda, "Jika kalian melihat pasukan musuh dan melihat kami merampas harta ghanimah, maka janganlah kalian keburu senang." Dan setelah mereka melihat harta ghanimah mereka pun berkata, "Hendaklah kalian turut mengambil ghanimah." Maka Abdullah mengingatkan, "Bukankah Rasulullah ﷺ telah mengatakan, 'Janganlah kalian keburu senang (terpedaya) '?" Selainnya pun mengatakan (demikian). Maka turunlah ayat, "Dan kalian telah mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai." (QS. Ali 'Imran/3: 152). 'Abdullah berkata; Kalian telah mendurhakai Rasul setelah Allah memperlihatkan kepada kalian harta ghanimah dan terpukul mundurnya pasukan musuh. (HR. Ahmad: 17859 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari al Barra' bin al 'Azib bin al Harits, ia shahabat kuniyanya Abu 'Imarah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 72 H. Hadits ahlul Kufah)
Pembagian ghanimah adalah:
حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي جَعْفَرٍ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ رَأَيْتُ الْمَغَانِمَ تُجَزَّأُ خَمْسَةَ أَجْزَاءٍ ثُمَّ يُسْهَمُ عَلَيْهَا فَمَا كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ لَهُ يَتَخَيَّرُ. (رواه أحمد: ٥١٤٠)
Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Abi Ja'far dari Nafi' dari Ibnu Umar, dia berkata, Aku melihat ghanimah-ghanimah dibagi menjadi lima bagian kemudian ia dibagi-bagikan (kepada yang berhak), adapun bagian Rasulullah ﷺ, maka beliau boleh memilih. (HR. Ahmad: 5140 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)
Pada riwayat Ahmad: 5140 juga terdapat periwayat bernama 'Abdullah bin Lahi'ah sebagaimana hadits riwayat Ahmad: 8844 di atas, ia periwayat dha'if.
Wallaahu a'lam bish shawaab,
Wassalaamu 'alaikum warahamatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏