“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

ADAB BERDOA

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Doa adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah. Sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad,

حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ ذَرٍّ عَنْ يُسَيْعٍ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ ثُمَّ قَرَأَ { ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ }. (رواه أحمد: ١٨٦٦٥)

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair Telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Dzar dari Yusai' dari An Nu'man bin Basyir ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Doa adalah ibadah." Kemudian beliau membaca ayat: '(Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan untuk kalian…) ' (QS. Ghaafir/40: 60). (HR. Ahmad: 17665 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari an Nu'man bin Basyir bin Sa'ad, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 65 H)

Demikian juga hadits riwayat Abu Daud: 1264, at Tirmidzi: 2892, 3170 dan 3294, Ibnu Majah: 3818, Ahmad: 17629, 17660 dan 17075 - shahih dari an Nu'man bin Basyir bin Sa'ad, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 65 H.

Ayat dimaksud adalah:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ. (قرآن سورة المؤمن/الغافر/٤٠: ٦٠)

"Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al Mukmin/Ghaafir/40: 60)

Maknanya adalah berdoa kepada Allah dinilai sebagai bentuk ibadah kepada-Nya. Sementara orang yang enggan berdoa kepada-Nya dinilai sebagai salah satu bentuk kesombongan dan diancam dengan neraka jahannam, mereka dimasukkan ke dalamnya dalam keadaan hina. Na'uudzibillaahi min dzaalik.

Anas bin Malik ditanya oleh Qatadah, apakah doa yang paling sering dibaca oleh Rasullullah. Pertanyaan tersebut terdapat dalam hadits sebagaimana riwayat imam Ahmad berikut:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ قَالَ سَأَلَ قَتَادَةُ أَنَسًا أَيُّ دَعْوَةٍ كَانَ أَكْثَرَ يَدْعُو بِهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ أَكْثَرُ دَعْوَةٍ يَدْعُو بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَكَانَ أَنَسٌ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدَعْوَةٍ دَعَا بِهَا وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدُعَاءٍ دَعَا بِهَا فِيهِ. (رواه أحمد: ١١٥٤٣)

Telah menceritakan kepada kami Isma'il berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz berkata; Qotadah bertanya kepada Anas; "Doa apa yang sering digunakan oleh Nabi ﷺ ketika berdoa?" ia menjawab, "Doa yang sering dipakai oleh Rasulullah ﷺ adalah, "ALLAAHUMMA RABBANAA AATINAA FID DUNYA HASANAH WA FIL AAKHIRATI HASANAH WAQINAA 'ADZAABANNAAR (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka)." Dan Anas jika ingin berdoa dengan suatu permintaan ia memakai doa tersebut, dan jika ingin berdoa dengan doa tertentu ia juga mengikutkan doa tersebut." (HR. Ahmad: 11543 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits ahlul Bashrah)

Adapun adab-adab berdoa yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ adalah:

1. BERWUDHUK

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ دَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَاءٍ فَتَوَضَّأَ بِهِ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعُبَيْدٍ أَبِي عَامِرٍ وَرَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَوْقَ كَثِيرٍ مِنْ خَلْقِكَ مِنْ النَّاسِ. (رواه البخاري: ٥٩٠٤)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al 'Ala` telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid bin Abdullah dari Abu Burdah dari Abu Musa dia berkata; Nabi ﷺ meminta diambilkan air, lalu beliau berwudhuk, setelah itu beliau mengangkat tangannya sambil berdoa, "Ya Allah, ampunilah 'Ubaid Abu 'Amir." Hingga aku melihat putih ketiaknya, lalu beliau melanjutkan doanya: 'Ya Allah, jadikanlah ia termasuk dari orang yang terbaik diantara manusia di hari kiamat kelak.' (HR. Al Bukhari: 5904 - shahih dari 'Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadhdhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Musa negeri hidup Kufah dan wafat tahun 50 H. Hadits ahlul Kufah)

2. MENENGADAHKAN KEDUA TANGAN DAN MENGHADAP KIBLAT

Imam Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنِ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو الدَّوْسِيُّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ دَوْسًا قَدْ عَصَتْ وَأَبَتْ فَادْعُ اللَّهَ عَلَيْهِمْ فَاسْتَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقِبْلَةَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ النَّاسُ هَلَكُوا فَقَالَ اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ. (رواه أحمد: ٧٠١٤)

Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah, dia berkata; Ath Thufail bin 'Amru Ad Dausi datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, "Sesungguhnya Daus telah berbuat maksiat dan menentang, maka berdoalah kepada Allah atas mereka." Maka Rasulullah ﷺ menghadap kiblat mengangkat kedua tangannya dan berkata, "Sungguh, manusia telah celaka, " lalu beliau berdoa, "Ya Allah, berilah petunjuk kepada Daus, berikan untuk mereka. Ya Allah, berilah petunjuk kepada Daus, berikan untuk mereka." (HR. Ahmad: 7014 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga hadits riwayat semakna diriwayatkan oleh imam al Bukhari,

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ قَالَ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَدِمَ طُفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو الدَّوْسِيُّ وَأَصْحَابُهُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ دَوْسًا عَصَتْ وَأَبَتْ فَادْعُ اللَّهَ عَلَيْهَا فَقِيلَ هَلَكَتْ دَوْسٌ قَالَ اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ. (رواه البخاري: ٢٧٢٠)

Telah bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib telah bercerita kepada kami Abu Az Zanad bahwa Abdur Rahman berkata; Abu Hurairah radhiallahu'anhu berkata, Thufail bin 'Amru Ad-Dausiy dan para sahabatnya mendatangi Nabi ﷺ seraya berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya suku Daus telah ingkar kepada Allah dan enggan masuk Islam, untuk itu mohonlah kepada Allah agar mereka dibinasakan". Atau dikatakan kepada beliau, "Suku Daus telah binasa". Maka beliau berkata, "Ya Allah, tunjukilah suku Daus dan berikanlah petunjuk kepada mereka". (HR. Al Bukhari: 2720 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Begitu lafazh hadits riwayat al Bukhari: 4041 dan 5918, Muslim: 4586, Ahmad: 9408 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.

3. BERDOA DENGAN RENDAH HATI, SUARA YANG LEMBUT, TAKUT DAN HARAP

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ. (قرآن سورة الأعراف/٧: ٥٥) 

"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS.Al-A‘rāf/7: 55)

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ. (قرآن سورة الأعراف/٧: ٥٦) 

"Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan." (QS.Al-A‘rāf/7: 56)

Imam Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ بَهْدَلَةَ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ { تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنْ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا } قَالَ قِيَامُ الْعَبْدِ مِنْ اللَّيْلِ. (رواه أحمد: ٢١٠٨٧)

Telah bercerita kepada kami 'Abdullah telah bercerita kepadaku ayahku. telah bercerita kepada kami Hasan bin Musa telah bercerita kepada kami Hammad bin Salamah dari 'Ashim bin Bahdalah dari Syahr bin Hausyab dari Mu'adz bin Jabal dari Nabi ﷺ beliau bersabda, "Lambung-lambung mereka jauh dari tempat tidur, mereka menyeru Rabb mereka dengan takut dan harapan." Rasulullah ﷺ bersabda, "Qiyamullailnya seorang hamba." (HR. Ahmad: 21087 - shahih, isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Mu'adz bin Jabal bin 'Amru bin 'Aus, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Syam dan wafat tahun 18 H)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 21087 terdapat periwayat bernama Syahar bin Hawsyab, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Syam dan wafat tahun 100 H. Penilaian ulama: Musa bin Harun dan al Baihaqi menilainya dha'if. An Nasa'i dan Hakim menilainya laisa bi qawi. Sementara Ahmad bin Hanbal menilainya laisa bihi ba'sa. Ibnu Hazam menilainya saqith, sedangkan Ibnu 'Adi menilainya dha'if jiddan. Ibnu Hajar mengatakan, "shaduq, tetapi punya keragu-raguan.

Sedikit tentang Mu'adz bin Jabal,

حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَمِيرَةَ قَالَ لَمَّا حَضَرَ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ الْمَوْتُ قِيلَ لَهُ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَوْصِنَا قَالَ أَجْلِسُونِي فَقَالَ إِنَّ الْعِلْمَ وَالْإِيمَانَ مَكَانَهُمَا مَنْ ابْتَغَاهُمَا وَجَدَهُمَا يَقُولُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَالْتَمِسُوا الْعِلْمَ عِنْدَ أَرْبَعَةِ رَهْطٍ عِنْدَ عُوَيْمِرٍ أَبِي الدَّرْدَاءِ وَعِنْدَ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ وَعِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَعِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ الَّذِي كَانَ يَهُودِيًّا ثُمَّ أَسْلَمَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّهُ عَاشِرُ عَشَرَةٍ فِي الْجَنَّةِ. (رواه أحمد: ٢١٠٨٨)

Telah bercerita kepada kami 'Abdullah telah bercerita kepadaku ayahku. telah bercerita kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah bercerita kepada kami Laits bin Sa'ad dari Mu'awiyah bin Sholih dari Robi'ah bin Yazid dari Abu Idris Al Khoulani dari Yazid bin 'Amirah berkata; Saat Mu'adz bin Jabal sekarat, dikatakan padanya; Hai Abu 'Abdur Rahman! Berwasiatlah kepada kami. Ia berkata; Dudukkan aku. Lalu ia berkata; Sesungguhnya ilmu dan iman bila dicari oleh orang pasti akan ketemu. Mu'adz bin Jabal mengucapkannya tiga kali. Lalu ia berkata; Karena itu carilah ilmu dari empat orang; 'Uwaimir Abu Ad Darda', Salman Al Farisi, 'Abdullah bin Mas'ud dan 'Abdullah bin Salam yang dulunya Yahudi kemudian masuk Islam, karena aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ia adalah orang kesepuluh dari sepuluh orang yang ada di surga. (HR. Ahmad: 21088 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Mu'adz bin Jabal bin 'Amru bin 'Aus, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Syam dan wafat tahun 18 H)

Dalam lafazh lain diriwayat oleh imam Abu Daud,

حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ فِي هَذِهِ الْآيَةِ { تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنْ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ } قَالَ كَانُوا يَتَيَقَّظُونَ مَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ يُصَلُّونَ وَكَانَ الْحَسَنُ يَقُولُ قِيَامُ اللَّيْلِ. (رواه أبوداود: ١١٢٦)

Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai' telah menceritakan kepada kami Sa'id dari Qatadah dari Anas bin Malik mengenai ayat ini, "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka." (QS. As Sajadah/32: 16), kata Anas, "Mereka biasa bangun antara waktu Maghrib hingga Isya' kemudian mereka mengerjakan shalat." Sedangkan Al Hasan mengatakan, "Maksudnya adalah Qiyamul lail." (HR. Abu Daud: 1126 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits ahlul Bashrah)

Kemudian redaksi berbeda, namun masih mempunyai makna yang sama yaitu berdoa dengan takut dan harap kepada Allah. Sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad berikut:

حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ مَعْرُوفٍ وَسَمِعْتُهُ أَنَا مِنْ هَارُونَ بْنِ مَعْرُوفٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي أَبُو صَخْرٍ أَنَّ أَبَا حَازِمٍ حَدَّثَهُ قَالَ سَمِعْتُ سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ يَقُولُ شَهِدْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَجْلِسًا وَصَفَ فِيهِ الْجَنَّةَ حَتَّى انْتَهَى ثُمَّ قَالَ فِي آخِرِ حَدِيثِهِ فِيهَا مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ خَطَرَ ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ { تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنْ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ }. (رواه أحمد: ٢١٧٦٠)

Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ma'ruf dan saya mendengarnya dari Harun bin Ma'ruf, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb telah bercerita kepadaku Abu Shakr bahwa Abu Hazim bercerita padanya, ia berkata, Aku mendengar Sahal bin Sa'ad berkata, Aku menghadiri majelis Rasulullah ﷺ, beliau menyebut-nyebut surga hingga usai. Diakhir hadits beliau bersabda, Isi surga itu belum terlihat mata, belum terdengar telinga dan tidak terlintas dibenak manusia." Selanjutnya beliau membaca ayat ini, "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabb-nya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan." (QS. As Sajdah/32: 16-17). (HR. Ahmad: 21760 - shahih, isnadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari Sahal bin Sa'ad bin Malik, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Madinah dan wafat tahun 88 H)

4. MENGUSAP MUKA

Nabi Mengusab wajah setelah berdoa, imam at Tirmidzi meriwayatkan:

حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ يَعْقُوبَ وَغَيْرُ وَاحِدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ عِيسَى الْجُهَنِيُّ عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ الْجُمَحِيِّ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ لَمْ يَحُطَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ.

قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى فِي حَدِيثِهِ لَمْ يَرُدَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ حَمَّادِ بْنِ عِيسَى وَقَدْ تَفَرَّدَ بِهِ وَهُوَ قَلِيلُ الْحَدِيثِ وَقَدْ حَدَّثَ عَنْهُ النَّاسُ وَحَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ الْجُمَحِيُّ ثِقَةٌ وَثَّقَهُ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ. (رواه الترمذي: ٣٣٠٨ - ضعيف)

Telah menceritakan kepada kami Abu Musa Muhammad binAl Mutsanna dan Ibrahim bin Ya'qub serta lebih dari satu orang mereka berkata;? telah menceritakan kepada kami Hammad bin Isa Al Juhani dari Hanzhalah bin Abu Sufyan Al Jumahi dari Salim bin Abdullah dari ayahnya dari Umar bin Al Khathab radliallahu 'anhu ia berkata; rasulullah ﷺ apabila mengangkat kedua tangannya dalam sebuah doa maka beliau tidak menurunkan keduanya hingga mengusap mukanya dengan keduanya. Muhammad bin Al Mutsanna berkata dalam hadits tersebut; tidak mengembalikan keduanya hingga mengusap wajahnya dengan keduanya.

Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Hammad bin Isa, ia sendirian yang meriwayatkan hadits tersebut sementara ia adalah orang yang sedikit haditsnya. Orang-orang telah menceritakan darinya, sedangkan Hanzhalah bin Abu Sufyan Al Jumahi adalah orang yang tsiqah, ia ditsiqahkan oleh Yahya bin Sa'id Al Qaththan. (HR. At Tirmidziy: 3308 - da'if dari Umar bin al Khathtab bin Nufail)

Para periwayat:

1. Umar bin al Khathtab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu Hafs negeri hidup Madinah dan wafat tahun 23 H.
2. 'Abdullah bin 'Umar bin al Khathtab bin Nufail kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H.
3. Salim bin 'Abdullah bin 'Umar bin al Khathtab, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu 'Umar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 106 H. Penilaian ulama: Muhammad bin Sa'ad dan al 'Ajli menilainya tsiqah. Ibnu Hajar menilainya tsabad 'abid fadhil salah satu ahli fiqih yang tujuh. Dan Ibnu Hibban mengatakan disebutkan dalam ats tsiqat.
4. Hamzhalah bin Abi Sufyan bin 'Abdur Rahman bin Shafwan bin Umayyah, ia tabi'in tidak jumpa shahabat negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 151 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal, Abu Daud, Abu Zur'ah dan an Nasa'i dan Ya'qub bin Syaibah menilainya tsiqah. Ibnu Madini menilainya la ba'sa bih, Yahya bin Ma'in dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah hujjah serta Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat.
5. Hammad bin 'Isa bin 'Ubaidah, ia tabi'ut tabi'in golongan biasa negeri hidup Hait dan wafat tahun 208 H. Penilaian ulama: Abu Hatim menilainya dha'iful hadits, Ibnu Hajar menilainya dha'if dan Yahya bin Ma'in menilainya shalih.
6. Muhammad bin al Mutsanna bin 'Ubaid, ia tabi'ut atba'kalangan tua kuniyahnya Abu Musa negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 252 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in dan adz Dzahabi menilainya tsiqah, Abu Hatim menilainya shalihul hadits dan shaduuq, Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat, Maslamah bin Qasyim menilainya tsiqah masyhur dan minal huffazh. Ibnu Hajar menilainya tsiqah tsabat.

Kemudian, imam al Bukhari berkata:

حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا هِشَامٌ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْفُثُ عَلَى نَفْسِهِ فِي الْمَرَضِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ فَلَمَّا ثَقُلَ كُنْتُ أَنْفِثُ عَلَيْهِ بِهِنَّ وَأَمْسَحُ بِيَدِ نَفْسِهِ لِبَرَكَتِهَا فَسَأَلْتُ الزُّهْرِيَّ كَيْفَ يَنْفِثُ قَالَ كَانَ يَنْفِثُ عَلَى يَدَيْهِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ. (رواه البخاري: ٥٢٩٤)

Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Musa telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari Ma'mar dari Az Zuhri dari 'Urwah dari 'Aisyah radliallahu 'anha bahwa Nabi ﷺ meniupkan kepada diri beliau sendiri dengan Mu'awwidzat (surat An Nas dan Al Falaq) ketika beliau sakit menjelang wafatnya, dan tatkala sakit beliau semakin parah, sayalah yang meniup dengan kedua surat tersebut dan saya megusapnya dengan tangan beliau sendiri karena berharap untuk mendapat berkahnya." Aku bertanya kepada Az Zuhri; "Bagaimana cara meniupnya?" dia menjawab; "Beliau meniup kedua tangannya, kemudian beliau mengusapkan ke wajah dengan kedua tangannya." (HR. Bukhari: 5294 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istrinabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Wallahu a'lam bish shawab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]