WABAH PENYAKIT DAN TAKDIR
(ketika wabah meliputi Madinah, Kufah dan Syam)
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,
Allah mengingatkan, jangan sampai menjadikan teman setia orang non muslim. Inilah menyebabkan hati menjadi sakit, sehingga kebenaran tidak tegak ditengah hidup kita. Bahkan membenarkan apa yang mereka inginkan dengan hawa nafsu mereka. Apalagi saling melindungi dalam masalah syari'at. Simak sindiran Allah dalam firman-Nya:
فَتَرَى الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ يُّسَارِعُوْنَ فِيْهِمْ يَقُوْلُوْنَ نَخْشٰٓى اَنْ تُصِيْبَنَا دَاۤىِٕرَةٌ ۗفَعَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّأْتِيَ بِالْفَتْحِ اَوْ اَمْرٍ مِّنْ عِنْدِهٖ فَيُصْبِحُوْا عَلٰى مَآ اَسَرُّوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ نٰدِمِيْنَۗ. (سورة المائدة/٥: ٥٢)
Maka kamu akan melihat orang-orang yang hatinya berpenyakit segera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau suatu keputusan dari sisi-Nya, sehingga mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. (QS. Al Maidah/5: 52)
وَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَهٰٓؤُلَاۤءِ الَّذِيْنَ اَقْسَمُوْا بِاللّٰهِ جَهْدَ اَيْمَانِهِمْۙ اِنَّهُمْ لَمَعَكُمْۗ حَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ فَاَصْبَحُوْا خٰسِرِيْنَ. (سورة المائدة/٥: ٥٣)
Dan orang-orang yang beriman akan berkata, “Inikah orang yang bersumpah secara sungguh-sungguh dengan (nama) Allah, bahwa mereka benar-benar beserta kamu?” Segala amal mereka menjadi sia-sia, sehingga mereka menjadi orang yang rugi. (QS. Al Maidah/5: 53)
Saudaraku, corona inilah salah satu keputusan Allah agar kita menyadari kebenaran Allah dan apa yang diajarkan oleh Rasul-Nya. Wallaahu a'lam. Namun, yang jelas sebagai orang yang beriman mesti ikhlas menerimanya. Terus berdoa agar terhindar dari bahayanya.
Bagaimana seorang muslim bisa berani bersikap seperti sindiran Allah berikut:
اِذْ يَقُوْلُ الْمُنٰفِقُوْنَ وَالَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ غَرَّ هٰٓؤُلَاۤءِ دِيْنُهُمْۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ. (سورة الأنفال/٨: ٤٩)
(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata, “Mereka itu (orang mukmin) ditipu agamanya.” (Allah berfirman), “Barangsiapa bertawakal kepada Allah, ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. Al Anfaal/8: 49)
Allah jelaskan lagi,
وَلَوْ تَرٰٓى اِذْ يَتَوَفَّى الَّذِيْنَ كَفَرُوا الْمَلٰۤىِٕكَةُ يَضْرِبُوْنَ وُجُوْهَهُمْ وَاَدْبَارَهُمْۚ وَذُوْقُوْا عَذَابَ الْحَرِيْقِ. (سورة ألأنفال/٨: ٥٠)
Dan sekiranya kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir sambil memukul wajah dan punggung mereka (dan berkata), “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar.” (QS. Al Anfaal/8: 50)
ذٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْكُمْ وَاَنَّ اللّٰهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِۙ. (سورة ألأنفال/٨: ٥١)
Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan sesungguhnya Allah tidak menzalimi hamba-hamba-Nya, (QS. Al Anfaal/8: 51)
كَدَأْبِ اٰلِ فِرْعَوْنَۙ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۗ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَاَخَذَهُمُ اللّٰهُ بِذُنُوْبِهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ شَدِيْدُ الْعِقَابِ. (سورة ألأنفال/٨: ٥٢)
(Keadaan mereka) serupa dengan keadaan pengikut Fir‘aun dan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sungguh, Allah Mahakuat lagi sangat keras siksa-Nya. (QS. Al Anfaal/8: 52)
ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً اَنْعَمَهَا عَلٰى قَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۙ وَاَنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌۙ. (سورة ألأنفال/٨: ٥٣)
Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS. Al Anfaal/8: 53)
كَدَأْبِ اٰلِ فِرْعَوْنَۙ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۚ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِ رَبِّهِمْ فَاَهْلَكْنٰهُمْ بِذُنُوْبِهِمْ وَاَغْرَقْنَآ اٰلَ فِرْعَوْنَۚ وَكُلٌّ كَانُوْا ظٰلِمِيْنَ. (سورة ألأنفال/٨: ٥٤)
(Keadaan mereka) serupa dengan keadaan pengikut Fir‘aun dan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya, maka Kami membinasakan mereka disebabkan oleh dosa-dosanya dan Kami tenggelamkan Fir‘aun dan pengikut-pengikutnya; karena mereka adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al Anfaal/8: 54)
اِنَّ شَرَّ الدَّوَاۤبِّ عِنْدَ اللّٰهِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَۖ. (سورة ألأنفال/٨: ٥٥)
Sesungguhnya makhluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah orang-orang kafir, karena mereka tidak beriman. (QS. Al Anfaal/8: 55)
Oleh sebab itu simaklah firman Allah berikut:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ. (سورة يونس/١٠: ٥٧)
Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman. (QS. Yunus/10: 57)
Dimasa Rasul juga pernah terjadi wabah seperti sekarang ini. Sehingga Rasul mengajarkan untuk senantiasa mengingat kematian dan tetap berdoa kepada Allah. Do'a Rasul ketika Madinah diliputi wabah penyakit diinformasikan dalam banyak riwayat sebagaimana penulis paparkan setelah ini.
Doa beliau ketika berjangkitnya wabah penyakit di Madinah,
" ... اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَمَا حَبَّبْتَ إِلَيْنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ وَانْقُلْ حُمَّاهَا إِلَى الْجُحْفَةِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا وَصَاعِنَا. (رواه البخاري: ٥٨٩٥)
" ... "Ya Allah, berilah kecintaan kami terhadap Madinah sebagaimana kecintaan kami terhadap Makkah atau lebih cinta lagi, dan pindahkanlah demamnya ke daerah Juhfah, ya Allah berkahilah kami di mud dan sha' kami." (HR. Al Bukhari: 5895 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq [istri Nabi], ia shahabiyah kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Hadits-hadits terkait dengan masalah ini sebagai berikut:
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
لَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وُعِكَ أَبُو بَكْرٍ وَبِلَالٌ فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ إِذَا أَخَذَتْهُ الْحُمَّى يَقُولُ كُلُّ امْرِئٍ مُصَبَّحٌ فِي أَهْلِهِ
وَالْمَوْتُ أَدْنَى مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ
وَكَانَ بِلَالٌ إِذَا أُقْلِعَ عَنْهُ الْحُمَّى يَرْفَعُ عَقِيرَتَهُ يَقُولُ أَلَا لَيْتَ شِعْرِي هَلْ أَبِيتَنَّ لَيْلَةً
بِوَادٍ وَحَوْلِي إِذْخِرٌ وَجَلِيلُ
وَهَلْ أَرِدَنْ يَوْمًا مِيَاهَ مَجَنَّةٍ
وَهَلْ يَبْدُوَنْ لِي شَامَةٌ وَطَفِيلُ
قَالَ اللَّهُمَّ الْعَنْ شَيْبَةَ بْنَ رَبِيعَةَ وَعُتْبَةَ بْنَ رَبِيعَةَ وَأُمَيَّةَ بْنَ خَلَفٍ كَمَا أَخْرَجُونَا مِنْ أَرْضِنَا إِلَى أَرْضِ الْوَبَاءِ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا وَفِي مُدِّنَا وَصَحِّحْهَا لَنَا وَانْقُلْ حُمَّاهَا إِلَى الْجُحْفَةِ.
قَالَتْ وَقَدِمْنَا الْمَدِينَةَ وَهِيَ أَوْبَأُ أَرْضِ اللَّهِ قَالَتْ فَكَانَ بُطْحَانُ يَجْرِي نَجْلًا تَعْنِي مَاءً آجِنًا. (رواه البخاري: ١٧٥٦)
Telah menceritakan kepada kami 'Ubaid bin Isma'il telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Hisyam dari bapaknya dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata; Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sampai di Madinah, Abu Bakar dan Bilal menderita sakit demam. Dan Abu Bakar bila merasakan demam yang panas bersya'ir; Setiap orang pada pagi hari bersantai dengan keluarganya. Padahal kematian lebih dekat dari pada tali sandalnya. Dan Bilal ketika sembuh dari penakit demamnya dia bersa'ir dengan suara keras: Wahai kiranya kesadaranku, dapatkah kiranya aku bermalam semalam. Di sebuah lembah yang dikelilingi pohon idzkir (Yasmin) dan jalil. Apakah ada suatu hari nanti aku dapat mencapai air Majannah. Dan apakah bukit Syamah dan Thufail akan tampak bagiku?. Lalu dia berkata: "Ya Allah, laknatlah Syaibah bin Rabi'ah, 'Uqbah bin Rabi'ah dan Umayyah bin Khalaf yang telah mengusir kami dari suatu negeri ke negeri yang penuh dengan wabah bencana ini". Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Ya Allah, jadikanlah Madinah sebagai kota yang kami cintai sebagaimana kami mencintai Makkah atau bahkan lebih dari itu. Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami dalam timbangan sha' dan mud kami sehatkanlah (makmurkan) Madinah buat kami dan pindahkanlah wabah demamnya ke Juhfah".
'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata; Ketika kami tiba di Madinah, saat itu Madinah adalah bumi Allah yang paling banyak wabah bencananya. Sambungnya lagi: "Lembah Bathhan mengalirkan air keruh yang mengandung kuman-kuman penyakit". (HR. Al Bukhari: 1756 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq [istri Nabi], ia shahabiyah kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Lihat juga: al Bukhari: 3633, 5222 dan 5245 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq [istri Nabi], ia shahabiyah kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H.
Do'a yang dilantun oleh Rasul shallallaahu 'alaihi wa sallam adalah,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَمَا حَبَّبْتَ إِلَيْنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ وَانْقُلْ حُمَّاهَا إِلَى الْجُحْفَةِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا وَصَاعِنَا. (رواه البخاري: ٥٨٩٥)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Hisyam bin 'Urwah dari Ayahnya dari Aisyah radhiyallahu 'anha dia berkata; Nabi shallallahu 'alahi wa sallam bersabda: "Ya Allah, berilah kecintaan kami terhadap Madinah sebagaimana kecintaan kami terhadap Makkah atau lebih cinta lagi, dan pindahkanlah demamnya ke daerah Juhfah, ya Allah berkahilah kami di mud dan sha' kami." (HR. Al Bukhari: 5895 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq [istri Nabi], ia shahabiyah kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Begitu juga diriwayatkan oleh imam Muslim: 2444 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq [istri Nabi], ia shahabiyah kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H. Hanya saja diawali dengan menceritakan tentang Madinah sedang dilanda wabah sehinggah Abu Bakar dan Bilal jatuh sakit. Demikian juga diriwayatkan oleh imam Ahmad: 23153 - shahih juga dari 'Aisyah. Selanjutnya, riwayat lebih lengkap atau tambahannya dalam Musnad Ahmad: 23224 sebagai berikut:
حَدَّثَنَا يُونُسُ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ يَزِيدَ يَعْنِي ابْنَ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ يَسَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ اشْتَكَى أَصْحَابُهُ وَاشْتَكَى أَبُو بَكْرٍ وَعَامِرُ بْنُ فُهَيْرَةَ مَوْلَى أَبِي بَكْرٍ وَبِلَالٌ فَاسْتَأْذَنَتْ عَائِشَةُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي عِيَادَتِهِمْ فَأَذِنَ لَهَا فَقَالَتْ لِأَبِي بَكْرٍ كَيْفَ تَجِدُكَ فَقَالَ كُلُّ امْرِئٍ مُصَبَّحٌ فِي أَهْلِهِ
وَالْمَوْتُ أَدْنَى مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ
وَسَأَلَتْ عَامِرًا فَقَالَ إِنِّي وَجَدْتُ الْمَوْتَ قَبْلَ ذَوْقِهِ
إِنَّ الْجَبَانَ حَتْفُهُ مِنْ فَوْقِهِ
وَسَأَلَتْ بِلَالًا فَقَالَ يَا لَيْتَ شِعْرِي هَلْ أَبِيتَنَّ لَيْلَةً
بِفَجٍّ وَحَوْلِي إِذْخِرٌ وَجَلِيلُ
فَأَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَتْهُ بِقَوْلِهِمْ فَنَظَرَ إِلَى السَّمَاءِ وَقَالَ اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَمَا حَبَّبْتَ إِلَيْنَا مَكَّةَ وَأَشَدَّ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي صَاعِهَا وَفِي مُدِّهَا وَانْقُلْ وَبَاءَهَا إِلَى مَهْيَعَةَ وَهِيَ الْجُحْفَةُ كَمَا زَعَمُوا. (رواه أحمد: ٢٣٢٢٤)
Telah menceritakan kepada kami Yunus Telah menceritakan kepada kami Laits dari Yazid, yaitu Ibnu Habib dari Abi Bakar bin Ishaq bin Yasar dari Abdullah bin Urwah dari Urwah dari Aisyah berkata; "Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam datang ke Madinah, para sahabatnya merasa sakit, begitu juga dengan Abu Bakar dan Amir bin Fuhairah, budak Abu Bakar, serta Bilal. Lalu Aisyah minta izin kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menjenguk mereka. Beliaupun mengizinkannya. Kemudian dia berkata kepada Abu Bakar; 'Bagaimana denganmu.' Dia menjawab; 'Setiap orang bertanggungjawab pada keluarganya dan kematian lebih dekat dari pada tali sandalnya.' Lalu (Aisyah) Berkata kepada Amir, lalu dia menjawab; 'Sesungguhnya aku menjumpai kematian sebelum aku merasakannya, sesungguhnya orang yang takut mati, kematian telah berada atasnya.' Kemudian (Aisyah) Berkata kepada Bilal. Lalu (Bilal) Berkata; 'Bukankah aku bermalam di sebuah lorong, sedang sekitarku rumput idzkhir dan rumput wangi? kemudian (Aisyah) mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan mengabarkan kepada beliau mengenai perkataan mereka. Lalu beliau menatap kelangit seraya bersabda: "Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana telah Engkau jadikan kecintaan kami kepada Makkah, atau lebih dari itu. Ya Allah, berkahilah Madinah dalam mudnya dan sha`nya dan pindahkanlah panas Madinah ke Mahya'ah. Mahya'ah yang dimaksud adalah Juhfah sebagaimana mereka tafsirkan.'" (HR. Ahmad: 23224 - dha'if dari 'Aisyah)
Catatan: dalan sanad riwayat Ahmad: 23224 terdapat periwayat bernama: Abu Bakar bin Ishaq bin Yasar, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] dan kuniyahnya Abu Bakar. Penilaian ulama: al Bukhari mengatakan, "haditsnya munkar", sedangkan Ibnu Hajar menilainya maqbul. Ia hanya meriwayatkan dua hadits dalam Musnad Ahmad. Sementara dalam kitab yang lain tidak ada. Memang lafazh haditsnya berbeda dengan riwayat yang lain seperti riwayat al Bukhari dan Muslim bahkan oleh imam Ahmad.
Juhfah adalah tempat penduduk Syam memulai Ihram,
و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ قَالَ ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُهِلُّ أَهْلُ الْمَدِينَةِ مِنْ ذِي الْحُلَيْفَةِ وَيُهِلُّ أَهْلُ الشَّامِ مِنْ الْجُحْفَةِ وَيُهِلُّ أَهْلُ نَجْدٍ مِنْ قَرْنٍ قَالَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا وَذُكِرَ لِي وَلَمْ أَسْمَعْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَيُهِلُّ أَهْلُ الْيَمَنِ مِنْ يَلَمْلَمَ. (رواه البخاري: ٢٠٢٥)
Dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb dan Ibnu Abu Umar - Ibnu Abu Umar berkata- Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Salim dari bapaknya radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Penduduk Madinah memulai Ihram dari Dzulhulaifah, penduduk Syam dari Juhfah, dan penduduk Najed dari Qarin." Ibnu Umar berkata; Telah disebutkan kepadaku namun saya tidak mendengarnya langsung bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Dan bagi penduduk Yaman memulai Ihram dari Yalamlam." (HR. Al Bukhari: 2025 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73)
Catatan: hadits terkait dengan riwayat al Bukhari: 2025 terdapat dalam kitab 9 imam sebanyak 23 buah.
Suatu waktu Rasul mengingatkan,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ قَالَ كُنْتُ بِالْمَدِينَةِ فَبَلَغَنِي أَنَّ الطَّاعُونَ بِالْكُوفَةِ قَالَ فَذَكَرَ لِي عَطَاءُ بْنُ يَسَارٍ وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَذَا الْحَدِيثَ قَالَ فَقُلْتُ مَنْ يُحَدِّثُهُ قَالَ فَقَالُوا عَامِرُ بْنُ سَعْدٍ وَكَانَ غَائِبًا قَالَ
فَلَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ بْنَ سَعْدٍ قَالَ فَسَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ سَمِعْتُ أُسَامَةَ يُحَدِّثُ سَعْدًا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ هَذَا الْوَجَعَ رِجْسٌ وَعَذَابٌ أَوْ بَقِيَّةُ عَذَابٍ حَبِيبٌ شَكَّ فِيهِ عُذِّبَ بِهِ نَاسٌ قَبْلَكُمْ فَإِذَا كَانَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا مِنْهَا وَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فِي أَرْضٍ فَلَا تَدْخُلُوهَا قَالَ فَقُلْتُ لَهُ آنْتَ سَمِعْتَ أُسَامَةَ يُحَدِّثُ سَعْدًا فَلَمْ يُنْكِرْ قَالَ نَعَمْ. (رواه أحمد: ٢٠٨١٧)
Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Ja'far telah bercerita kepada kami Syu'bah dari Habib bin Abu Tsabit, ia berkata: Saya pernah di Madinah dan mendengar tha'un terjadi di Kufah. Kemudian Atha` bin Yasar dan beberapa penduduk Madinah menyebutkan hadits ini kepadaku. Saya berkata: Siapa yang menceritakannya. Mereka menjawab: Amir bin Sa'ad dan saat itu ia tidak ada. Selanjutnya saya bertemu dengan Ibrahim bin Sa'ad dan saya tanyakan hadits itu, ia berkata: Saya mendengar Usamah bercerita kepada Sa'ad bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Wabah penyakit ini adalah kotoran, adzab atau sisa adzab -Habib ragu kepastian redaksinya- dengannya Allah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Bila terjadi thaun di suatu tempat dan kalian di sana, kalian jangan meninggalkannya dan bila kalian mendengar terjadi disuatu tempat, kalian jangan memasukinya." Lalu saya bertanya padanya: Apa kau mendengar Usamah bercerita kepada Sa'ad lalu ia tidak memungkirinya? Ia menjawab: 'Ya.' (HR. Ahmad: 20817 - shahih dari Usamah bin Zaid bin Haritsah bin Surahbil, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H)
Begitu juga dijelaskan dalam riwayat berikut,
حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ قَالَ سَمِعْتُ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ يُحَدِّثُ سَعْدًا قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ الطَّاعُونُ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ لَيْسَ بِهَا فَلَا تَدْخُلُوهَا وَإِذَا كَانَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا مِنْهَا. (رواه أحمد: ٢٠٨٢٦)
Telah bercerita kepada kami Yahya dari Syu'bah telah bercerita kepadaku Habib bin Abu Tsabit dari Ibrahim bin Sa'ad, ia berkata: Saya mendengar Usamah bin Zaid bercerita kepada Sa'ad, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Bila tha'un menimpa suatu tempat dan kalian tidak disana, kalian jangan memasukinya dan bila menimpa suatu tempat dan kalian disana, kalian jangan pergi meninggalkannya." (HR. Ahmad: 20826 - shahih dari Usamah bin Zaid bin Haritsah bin Surahbil, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H)
Dan,
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ حَبِيبِ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ مَالِكٍ وَخُزَيْمَةَ بْنِ ثَابِتٍ وَأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالُوا
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطَّاعُونُ رِجْزٌ أَوْ عَذَابٌ عُذِّبَ بِهِ قَوْمٌ فَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا مِنْهَا وَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِ. (رواه أحمد: ٢٠٨٥٧)
Telah bercerita kepada kami Waki' dari Sufyan dari Habib bin Tsabit dari Ibrahim bin Sa'ad dari Sa'ad bin Malik, Khuzaimah bin Tsabit dan Usamah bin Zaid, mereka berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tha'un adalah kotoran atau adzab, dengannya sekelompok kaum disiksa, bila terjadi disuatu tempat sementara kalian ada disana maka kalian jangan keluar meninggalkannya dan bila kalian mendengar terjadi disuatu tempat maka kalian jangan memasukinya." (HR. Ahmad: 20857 - shahih dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H dan Khuzaimah bin Tsabit bin al Faqih, ia shahabat kuniyahnya Abu Umarah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 37 H)
Demikian juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad: 1409 - dha'if dari Sa'ad bin Abi Waqash Malik bin Uhaib bin 'Abdu Manaf bin Zuhra, ia shahabat kuniyahnya Abu Ishaq negeri hidup Kufah dan wafat tahun 55 H. Sebagaimana lafazhnya,
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا سَلِيمُ بْنُ حَيَّانَ حَدَّثَنِي عِكْرِمَةُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
ذُكِرَ الطَّاعُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رِجْزٌ أُصِيبَ بِهِ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَإِذَا كَانَ بِأَرْضٍ فَلَا تَدْخُلُوهَا وَإِذَا كَانَ بِهَا وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا مِنْهَا. (رواه احمد: ١٤٠٩)
Telah menceritakan kepada kami Affan telah menceritakan kepada kami Salim bin Hayyan telah menceritakan kepadaku Ikrimah bin Khalid telah menceritakan kepadaku Yahya bin Sa'd dari bapaknya berkata; suatu ketika diperbincangkan penyakit lepra di dekat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka beliau bersabda: "Penyakit itu adalah siksaan yang ditimpakan kepada orang-orang sebelum kalian. Jika penyakit tha'un sedang mewabah di suatu negeri, janganlah kalian memasukinya, dan jika sedang mewabah di suatu tempat sementara kalian ada di dalamnya maka janganlah kalian keluar dari tempat itu." (HR. Ahmad: 1409 - dha'if dari Sa'ad bin Abi Waqash Malik bin Uhaib bin 'Abdu Manaf bin Zuhra, ia shahabat kuniyahnya Abu Ishaq negeri hidup Kufah dan wafat tahun 55 H)
Catatan: dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 1409 terdapat periwayat bernama Yahya bin Sa'ad bin Abi Waqash, ia tabi'in kalangan pertengahan dan dinilai majhul. Matan yang semakna juga diriwayatkan Ahmad: 1445 - dha'if dari Sa'ad bin Abi Waqash. Juga terdapat nama periwayat yang sama.
Hadits yang shahih dari Muslim: 4113 - shahih dari Usamah bin Zaid Haritsah bin Surahbil, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H. Sebagaimana hadits berikut:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ حَبِيبٍ قَالَ كُنَّا بِالْمَدِينَةِ فَبَلَغَنِي أَنَّ الطَّاعُونَ قَدْ وَقَعَ بِالْكُوفَةِ فَقَالَ لِي عَطَاءُ بْنُ يَسَارٍ وَغَيْرُهُ
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا كُنْتَ بِأَرْضٍ فَوَقَعَ بِهَا فَلَا تَخْرُجْ مِنْهَا وَإِذَا بَلَغَكَ أَنَّهُ بِأَرْضٍ فَلَا تَدْخُلْهَا.
قَالَ قُلْتُ عَمَّنْ قَالُوا عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ يُحَدِّثُ بِهِ قَالَ فَأَتَيْتُهُ فَقَالُوا غَائِبٌ قَالَ فَلَقِيتُ أَخَاهُ إِبْرَاهِيمَ بْنَ سَعْدٍ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ شَهِدْتُ أُسَامَةَ يُحَدِّثُ سَعْدًا قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ هَذَا الْوَجَعَ رِجْزٌ أَوْ عَذَابٌ أَوْ بَقِيَّةُ عَذَابٍ عُذِّبَ بِهِ أُنَاسٌ مِنْ قَبْلِكُمْ فَإِذَا كَانَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا مِنْهَا وَإِذَا بَلَغَكُمْ أَنَّهُ بِأَرْضٍ فَلَا تَدْخُلُوهَا قَالَ حَبِيبٌ فَقُلْتُ لِإِبْرَاهِيمَ آنْتَ سَمِعْتَ أُسَامَةَ يُحَدِّثُ سَعْدًا وَهُوَ لَا يُنْكِرُ قَالَ نَعَمْ.
و حَدَّثَنَاه عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا شُعْبَةُ بِهَذَا الْإِسْنَادِ غَيْرَ أَنَّهُ لَمْ يَذْكُرْ قِصَّةَ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ فِي أَوَّلِ الْحَدِيثِ و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ حَبِيبٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ مَالِكٍ وَخُزَيْمَةَ بْنِ ثَابِتٍ وَأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالُوا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَعْنَى حَدِيثِ شُعْبَةَ و حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ كِلَاهُمَا عَنْ جَرِيرٍ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ حَبِيبٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ كَانَ أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ وَسَعْدٌ جَالِسَيْنِ يَتَحَدَّثَانِ فَقَالَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَحْوِ حَدِيثِهِمْ و حَدَّثَنِيهِ وَهْبُ بْنُ بَقِيَّةَ أَخْبَرَنَا خَالِدٌ يَعْنِي الطَّحَّانَ عَنْ الشَّيْبَانِيِّ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَحْوِ حَدِيثِهِمْ. (رواه مسلم: ٤١١٣)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu 'Adi dari Syu'bah dari Habib dia berkata; Ketika kami sedang berada di Madinah, tiba-tiba sampai kepadaku berita bahwa wabah Tha'uun sedang berjangkit di Kufah. Maka Atha bin Yasar dan yang lainnya berkata kepadaku; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: "Apabila kamu berada di suatu tempat dan wabah tersebut ada di dalamnya, maka janganlah kamu keluar darinya. Dan apabila kamu mendengar wabah tersebut ada di suatu tempat, maka janganlah kamu mendatangi tempat itu."
Aku bertanya; dari siapa kamu dapat berita tersebut? Mereka menjawab; 'dari Amir bin Sa'ad. Aku berkata; Aku akan menemuinya. Mereka berkata; 'Dia sedang tidak ada.' Maka aku menemui saudaranya, Ibrahim bin Sa'ad. Lalu aku tanyakan kepadanya, dan dia menjawab; 'Aku melihat Usamah bercerita kepada Sa'ad seraya berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Penyakit Tha'uun ini adalah adzab atau suatu peringatan, atau sisa dari Adzab yang dengannya Allah menyiksa sekelompok umat sebelum kalian. Maka apabila kamu mendengar wabah itu berjangkit di suatu negeri, dan kamu berada di dalamnya, janganlah kamu keluar darinya. Dan apabila wabah itu berjangkit di suatu negeri, maka janganlah kalian mendatanginya." Habib berkata; Aku tanyakan kepada Ibrahim; Apakah kamu mendengar Usamah mengatakannya kepada Sa'ad dan dia tidak mengingkarinya? Ibrahim menjawab; 'Ya.'
Dan telah menceritakannya kepada kami 'Ubaidullah bin Mu'adz; Telah menceritakan kepada kami Bapakku; Telah menceritakan kepada kami Syu'bah melalui jalur ini, namun pada awal Haditsnya dia tidak menyebutkan kisah 'Atha bin Yasar. Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah; Telah menceritakan kepada kami Waki' dari Sufyan dari Habib dari Ibrahim bin Sa'd dari Sa'd bin Malik dan Khuzaimah bin Tsabit dan Usamah bin Zaid mereka berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda seperti Hadits yang semakna dengan Hadits Syu'bah. Dan telah menceritakan kepada kami 'Utsman bin Abu Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim keduanya dari Jarir dari Al A'masy dari Habib dari Ibrahim bin Sa'ad bin Abi Waqash dia berkata; Usamah bin Zaid dan Sa'ad duduk-duduk berdua sedang membicarakan sesuatu. Lalu keduanya berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: (dengan Hadits yang serupa). Telah menceritakannya kepadaku; Wahab bin Baqiyah; Telah mengabarkan kepada kami Khalid yaitu Ath Thahan dari Asy Syaibani dari Habib bin Abu Tsabit dari Ibrahim bin Sa'd bin Malik dari Bapaknya dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan Hadits yang serupa. (HR. Muslim: 4113 - shahih dari Usamah bin Zaid Haritsah bin Surahbil, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H)
Lihat juga: Ahmad: 1454 - shahih dari Usamah bin Zaid Haritsah bin Surahbil, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H. Ahmad: 1577 dan 1592 - shahih dari 'Abdur Rahman bin 'Auf bin 'Abdi 'Auf bin 'Abdi bin al Harits bin Zahrah, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H. Ahmad: 14888 - dari Jad [kakek] 'Ikrimah bin Khalid dan ia adalah shahabat.
Lafazh semakna dimaksud adalah,
" ... إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ وَلَسْتُمْ بِهَا فَلَا تَدْخُلُوهَا وَإِذَا وَقَعَ وَأَنْتُمْ فِيهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهَا. (رواه احمد: ١٥٩٢)
" ... Jika kalian mendengar wabah sedang menjangkiti di suatu negri sedangkan kalian tidak berada di dalamnya maka jangan memasukinya, dan jika wabah sedang menjangkiti dan kalian ada di dalamnya maka janganlah kalian keluar darinya." (HR. Ahmad: 1592 - shahih dari 'Abdur Rahman bin 'Auf bin 'Abdi 'Auf bin 'Abdi bin al Harits bin Zahrah, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H)
Atau dengan lafazh berikut:
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ مَالِكٍ وَخُزَيْمَةَ بْنِ ثَابِتٍ وَأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالُوا
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ هَذَا الطَّاعُونَ رِجْزٌ أَوْ بَقِيَّةٌ مِنْ عَذَابٍ عُذِّبَ بِهِ قَوْمٌ قَبْلَكُمْ فَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا مِنْهَا فِرَارًا مِنْهُ وَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فِي أَرْضٍ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِ. (رواه أحمد: ١٤٩٣)
Telah menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Habib bin Abu Tsabit dari Ibrahim bin Sa'd dari Sa'd bin Malik, Khuzaimah bin Tsabit dan Usamah bin Zaid, mereka berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya penyakit lepra ini adalah siksaan atau sisa azab yang ditimpakan kepada suatu kaum sebelum kalian. Jika penyakit itu sedang mewabah di suatu negeri dan kalian sedang berada di dalamnya maka janganlah kalian keluar darinya karena menghindarinya, dan jika kalian mendengar ada di suatu tempat maka janganlah kalian memasukinya." (HR. Ahmad: 1493 - shahih dari Sa'ad bin Abi Waqash Malik bin Uhaib bin 'Abdu Manaf bin Zuhrah, ia shahabat kuniyahnya Abu Ishaq negeri hidup Kufah dan wafat 55 H. Khuzaimah bin Tsabit bin al Faqih, ia shahabat kuniyahnya Abu Marah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 37 H. Usamah bin Zaid Haritsah bin Surahbil, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H)
Lebih lanjut dijelaskan bahwa boleh menghindari wabah tersebut tetapi tidak keluar dari wilayah yang didiami, artinya mengisolasi diri. Sebagaimana petunjuk dari riwayat-riwayat berikut:
Lihat juga Muslim: 4108 - shahih dari Usamah bin Zaid Haritsah bin Surahbil, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H. Tambahannya,
" ... و قَالَ أَبُو النَّضْرِ لَا يُخْرِجُكُمْ إِلَّا فِرَارٌ مِنْهُ.
" ... Abu an Nadhar berkata; "Janganlah kalian mengungsi darinya kecuali untuk menyelematkan diri". (HR. Muslim: 4108)
Lafazh yang sama juga diriwayatkan oleh al Bukhari: 3214 - shahih dari Usamah bin Zaid Haritsah bin Surahbil, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H. Hadits ahlul Madinah. Sebagaimana haditsnya,
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ وَعَنْ أَبِي النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَسْأَلُ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ
مَاذَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الطَّاعُونِ فَقَالَ أُسَامَةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطَّاعُونُ رِجْسٌ أُرْسِلَ عَلَى طَائِفَةٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَوْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ قَالَ أَبُو النَّضْرِ لَا يُخْرِجْكُمْ إِلَّا فِرَارًا مِنْهُ. (رواه البخري: ٣٢١٤)
Telah bercerita kepada kami 'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah berkata, telah bercerita kepadaku Malik dari Muhammad bin Al Munkadir dan dari Abu an-Nadlar, maula 'Umar bin 'Ubaidullah dari 'Amir bin Sa'ad bin Abu Waqash dari bapaknya bahwa dia ('Amir) mendengar bapaknya bertanya kepada Usamah bin Zaid; "Apa yag pernah kamu dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang masalah tha'un (wabah penyakit sampar, pes, lepra)?". Maka Usamah berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tha'un adalah sejenis kotoran (siksa) yang dikirim kepada satu golongan dari Bani Isra'il atau kepada umat sebelum kalian. Maka itu jika kalian mendengar ada wabah tersebut di suatu wilayah janganlah kalian memasuki wilayah tersebut dan jika kalian sedang berada di wilayah yang terkena wabah tersebut janganlah kalian mengungsi darinya". Abu an Nadhar berkata; "Janganlah kalian mengungsi darinya kecuali untuk menyelematkan diri". (HR. Al Bukhari: 3214 - shahih dari Usamah bin Zaid Haritsah bin Surahbil, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H. Hadits ahlul Madinah)
Begitu juga hadits riwayat Ahmad: 20768 - shahih dari Usama bin Zaid. Malik: 1392 - shahih dari Usamah bin Zaid, hadits ini termasuk hadits ahlul Madinah.
Lihat juga: Muslim: 4110 dan 4111 - shahih dari Usamah bin Zaid Haritsah bin Surahbil, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H.
Rasul memberi kabar gembira bahwa wabah ta'uun adalah rahmat bagi orang muslim, karena pahala mati syahid menunggu mereka. Sebagaimana yang disampaikan oleh 'Aisyah radhiyallaahu 'anha setelah ditanyakan kepada Rasulullaahi shallallaahu 'alaihi wa sallam. Sebagaimana sabda beliau,
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ أَبِي الْفُرَاتِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الطَّاعُونِ فَأَخْبَرَنِي أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ. (رواه البخاري: ٣٢١٥)
Telah bercerita kepada kami Musa bin Isma'il telah bercerita kepada kami Daud bin Abu Al Furat telah bercerita kepada kami 'Abdullah bin Buraidah dari Yahya bin Ya'mar dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata; "Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang masalah tha'uun lalu beliau mengabarkan aku bahwa tha'un (penyakit sampar, pes, lepra) adalah sejenis siksa yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki dan sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum muslimin dan tidak ada seorangpun yang menderita tha'un lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala dan mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid". (HR. Al Bukhari: 3215 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri Nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Lihat juga hadits senada: al Bukhari: 5293 dan 6129 dan Ahmad: 24056 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri Nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H.
Tetaplah bersabar dan berikhtiyar dengan mengikuti petunjuk Rasul-Nya. Karena tidaklah Allah turunkan penyakit kecuali Allah sertakan penawarnya,
حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ النَّمَرِيُّ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ شَرِيكٍ قَالَ
أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابَهُ كَأَنَّمَا عَلَى رُءُوسِهِمْ الطَّيْرُ فَسَلَّمْتُ ثُمَّ قَعَدْتُ فَجَاءَ الْأَعْرَابُ مِنْ هَا هُنَا وَهَا هُنَا فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَتَدَاوَى فَقَالَ تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ الْهَرَمُ. (رواه ابوداود: ٣٣٥٧)
Telah menceritakan kepada kami Hafsha bin Umar An Namari telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Ziyad bin 'Ilaqah dari Usamah bin Syarik ia berkata, "Aku pernah mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya, dan seolah-olah di atas kepala mereka terdapat burung. Aku kemudian mengucapkan salam dan duduk, lalu ada seorang Arab badui datang dari arah ini dan ini, mereka lalu berkata, "Wahai Rasulullah, apakah boleh kami berobat?" Beliau menjawab: "Berobatlah, sesungguhnya Allah 'azza wajalla tidak menciptakan penyakit melainkan menciptakan juga obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu pikun." (HR. Abu Daud: 3357 - shahih dari Usamah bin Syarik, ia shahabat dan negeri hidup Kufah)
Lihat juga: at Tirmidzi: 1961 - shahih dari Usamah bin Syarik, ia shahabat dan negeri hidup Kufah.
Tegasnya,
حَدَّثَنَا مُؤَمَّلٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَطَاءٍ يَعْنِي ابْنَ السَّائِبِ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ دَوَاءً عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ. (رواه احمد: ٣٧٢٧)
Telah menceritakan kepada kami Mu'ammal telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari 'Atha` yakni Ibnu As Sa`ib dari Abu Abdurrahman dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Allah Azza wa Jalla tidak menurunkan penyakit melainkan Dia turunkan pula penawarnya, diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang jahil akan hal itu." (HR. Ahmad: 3727 - hasan dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H)
Catatan: dalam sanad riwayat Ahmad: 3727 terdapat periwayat bernama Muhammad bin Isma'il, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu 'Abdu Rahman negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 206 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah, al Bukhari menilainya munkarul hadits, Ibnu Sa'ad menilainya tsiqah katsirul ghalath, ad Daruquthni menilainya tsiqah banyak salah. Ibnu Hajar menilainya sayyiul hifzh. Sedangkan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat".
Hadits senada juga terdapat dalam riwayat Ahmad: 3397 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Sebagaimana lafazh berikut:
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَبِيبٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ
يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلَّا قَدْ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ. (رواه احمد: ٣٣٩٧)
Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari 'Atha` dari Abu Abdurrahman yakni Abdullah bin Habib ia berkata; Aku mendengar Abdullah bin Mas'ud disampaikan sesuatu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Tidaklah Allah menurunkan penyakit melainkan Dia telah menurunkan pula obatnya, diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang jahil akan hal itu." (HR. Ahmad: 3397 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H)
Sedangkan hadits riwayat al Bukhari dari Abu Hurairah tanpa menggunakan kata "Allah 'azza wa jalla",
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ الزُّبَيْرِيُّ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ أَبِي حُسَيْنٍ قَالَ حَدَّثَنِي عَطَاءُ بْنُ أَبِي رَبَاحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً. (رواه البخاري: ٥٢٤٦)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az Zubairi telah menceritakan kepada kami 'Umar bin Sa'id bin Abu Husain dia berkata; telah menceritakan kepadaku 'Atha` bin Abu Rabah dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda: "Allah tidak akan menurunkan penyakit melainkan menurunkan obatnya juga." (HR. Al Bukhari: 5246 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Lihat juga Ibnu Majah: 3429 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H dengan kata terakhir "dawaa'an" dan Ibnu Majah: 3430 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H dengan kata akhir "syifaa'an".
Dari banyak riwayat yang dipaparkan di atas dapat disimpulkan bahwa usaha atau ikhtiyar mencarikan obat apa pun penyakitnya kecuali pikun, mesti dilakukan oleh orang yang memang ahli dalam bidang tersebut. Begitu juga sebagai muslim tetap bertawakkal dan berkeyakinan bahwa Allah menurunkan penyakit pasti Allah juga menurunkan obat atau penawarnya. Oleh karena itu, apa pun yang ditimpakan oleh Allah kepada makhluk-Nya semuanya baik baginya, dan apa pun yang diangkat dari mereka adalah baik juga bagi mereka. Semoga dengan mengingat kembali peringatan-peringatan Allah dan Rasul ini dapat menambah pengetahuan dan dapat meningkat ketakwaan serta keimanan kita kepada-Nya. Amien ya Rabbal 'aalamien.
Simaklah firman Allah berikut berkemungkinan Allah menunjukkan obatnya,
ثُمَّ كُلِيْ مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسْلُكِيْ سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًاۗ يَخْرُجُ مِنْۢ بُطُوْنِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ ۖفِيْهِ شِفَاۤءٌ لِّلنَّاسِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ. (سورة النحل/١٦: ٦٩)
kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir. (QS. An Nahal/16: 69)
Ingatlah perkataan Nabi Ibrahim berikut:
وَاِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ ۙ. (سورة الشعرآء/٢٦: ٨٠)
dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku. (QS. Asy Syu'ara'/26: 80)
وَالَّذِيْ يُمِيْتُنِيْ ثُمَّ يُحْيِيْنِ ۙ. (سورة الشعرآء/٢٦: ٨١)
dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali). (QS. Asy Syu'ara'/26: 81)
وَالَّذِيْٓ اَطْمَعُ اَنْ يَّغْفِرَ لِيْ خَطِيْۤـَٔتِيْ يَوْمَ الدِّيْنِ ۗ. (سورة الشعرآء/٢٦: ٨٢)
dan Yang sangat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat.” (QS. Asy Syu'ara'/26: 82)
Dan amalkan doa Nabi Ibrahim berikut:
رَبِّ هَبْ لِيْ حُكْمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ ۙ. (سورة الشعرآء/٢٦: ٨٣)
Ibrahim berdoa), “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh. (QS. Asy Syu'ara'/26: 83)
وَاجْعَلْ لِّيْ لِسَانَ صِدْقٍ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۙ. (سورة الشعرآء/٢٦: ٨٤)
dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. (QS. Asy Syu'ara'/26: 84)
وَاجْعَلْنِيْ مِنْ وَّرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيْمِ ۙ. (سورة الشعرآء/٢٦: ٨٥)
dan jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan. (QS. Asy Syu'ara'/26: 85)
Sikap seorang Mukmin Ketika Kena Musibah
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنِ الْعَيْزَارِ بْنِ حُرَيْثٍ الْعَبْدِيِّ عَنْ عُمَرَ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ حَمِدَ اللَّهَ وَشَكَرَ وَإِنْ أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ احْتَسَبَ وَصَبَرَ الْمُؤْمِنُ يُؤْجَرُ فِي كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى فِي اللُّقْمَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى فِيهِ
Telah menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepada kami Israil dari Abu Ishaq dari Al 'Aizar bin Huraits Al 'Abdi dari Umar bin Sa'ad dari bapaknya berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku kagum terhadap seorang mukmin jika dia mendapatkan kebaikan dia memuji Allah dan bersyukur, jika mendapatkan musibah dia mengharap pahala dari Allah dan bersabar. Orang mukmin akan diberi pahala pada setiap sesuatu sampai suapan makanan yang dia suapkan kedalam mulutnya." (HR. Ahmad: 1491 - shahih dari Sa'ad bin Abi Waqash Malik bin Uhaib bin 'Abdu Manaf bin Zuhrah, ia shahabat kuniyahnya Abu Ishaq negeri hidup Kufah dan wafat 55 H. Hadits ahlul Kufah)
HUBUNGAN WABAH DENGAN TAKDIR
Takdir Allah tidak dapat ditolak, tetapi Allah senantiasa memberi peluang bagi hamba-Nya untuk menghindar kepada takdir yang lain semampunya. Manusia dituntut dan mempunyai kemampuan untuk memilih takdir yang lain. Karena potensi untuk menghindar itu dianugerahi oleh Allah dengan akal. Akal akan bergerak dan mencari jalan lain agar menerima takdir lain. Akhir dari takdir itu sudah ditetapkan oleh Allah di dalam kitab-Nya di lauh mahfuzh yang sudah ditetapkan sejak azali. Takdir azali inilah yang akhirnya akan berlaku. Selama masih diberi kesempatan (hidup) maka jalan untuk menghindarinya terbuka lebar. Oleh karena itu, Allah senantiasa memgawasi manusia dan makhluk yang lain secara berkesinambungan sesuai sunnatullah. Demikian halnya kejadian-kejadian yang bersifat duniawi akan tetap berubah dengan sunnatullah.
Penulis mencoba menguraikan hal tersebut berdasarkan nash (al Qur'an dan Al Hadits) yang penulis pahami dari nash tersebut.
AYAT-AYAT AL QUR'AN TERKAIT DENGAN TAKDIR
Ingat ketika Nabi Ya'qud berpesan kepada anak-anaknya,
وَقَالَ يٰبَنِيَّ لَا تَدْخُلُوْا مِنْۢ بَابٍ وَّاحِدٍ وَّادْخُلُوْا مِنْ اَبْوَابٍ مُّتَفَرِّقَةٍۗ وَمَآ اُغْنِيْ عَنْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍۗ اِنِ الْحُكْمُ اِلَّا لِلّٰهِ ۗعَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُوْنَ. (سورة يوسف/١٢: ٦٧)
Dan dia (Yakub) berkata, “Wahai anak-anakku! Janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda; namun demikian aku tidak dapat mempertahankan kamu sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan itu hanyalah bagi Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya pula bertawakallah orang-orang yang bertawakal.” (QS. Yusuf/12: 67)
Kemudian hukum Allah kepada Fir'aun dan Kaumnya:
وَلَقَدْ اَخَذْنَآ اٰلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِيْنَ وَنَقْصٍ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ. (سورة الأعراف/٧: ١٣٠)
Dan sungguh, Kami telah menghukum Fir‘aun dan kaumnya dengan (mendatangkan musim kemarau) bertahun-tahun dan kekurangan buah-buahan, agar mereka mengambil pelajaran. (QS. Al A'raaf/7: 130)
فَاِذَا جَاۤءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوْا لَنَا هٰذِهٖ ۚوَاِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَّطَّيَّرُوْا بِمُوْسٰى وَمَنْ مَّعَهٗۗ اَلَآ اِنَّمَا طٰۤىِٕرُهُمْ عِنْدَ اللّٰهِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ. (سورة الأعراف/٧: ١٣١)
Kemudian apabila kebaikan (kemakmuran) datang kepada mereka, mereka berkata, “Ini adalah karena (usaha) kami.” Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan pengikutnya. Ketahuilah, sesungguhnya nasib mereka di tangan Allah, namun kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. Al A'raaf/7: 131)
وَقَالُوْا مَهْمَا تَأْتِنَا بِهٖ مِنْ اٰيَةٍ لِّتَسْحَرَنَا بِهَاۙ فَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِيْنَ. (سورة الأعراف/٧: ١٣٢)
Dan mereka berkata (kepada Musa), “Bukti apa pun yang engkau bawa kepada kami untuk menyihir kami, kami tidak akan beriman kepadamu.” (QS. Al A'raaf/7: 132)
Kemudian,
فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوْفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ اٰيٰتٍ مُّفَصَّلٰتٍۗ فَاسْتَكْبَرُوْا وَكَانُوْا قَوْمًا مُّجْرِمِيْنَ. (سورة الأعراف/٧: ١٣٣)
Maka Kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, kutu, katak dan darah (air minum berubah menjadi darah) sebagai bukti-bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. (QS. Al A'raaf/7: 133)
وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيْهِمُ الرِّجْزُ قَالُوْا يٰمُوْسَى ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَۚ لَىِٕنْ كَشَفْتَ عَنَّا الرِّجْزَ لَنُؤْمِنَنَّ لَكَ وَلَنُرْسِلَنَّ مَعَكَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ۚ. (سورة الأعراف/٧: ١٣٤)
Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) mereka pun berkata, “Wahai Musa! Mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu sesuai dengan janji-Nya kepadamu. Jika engkau dapat menghilangkan azab itu dari kami, niscaya kami akan beriman kepadamu dan pasti akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu.” (QS. Al A'raaf/7: 134)
Dan,
فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الرِّجْزَ اِلٰٓى اَجَلٍ هُمْ بَالِغُوْهُ اِذَا هُمْ يَنْكُثُوْنَ. (سورة الأعراف/٧: ١٣٥)
Tetapi setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang harus mereka penuhi ternyata mereka ingkar janji. (QS. Al A'raaf/7: 135)
HADITS-HADITS TENTANG TAKDIR
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَبْدِ الْحَمِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْدِ بْنِ الْخَطَّابِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الحَارِثِ بْنِ نَوْفَلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خَرَجَ إِلَى الشَّأْمِ حَتَّى إِذَا كَانَ بِسَرْغَ لَقِيَهُ أُمَرَاءُ الْأَجْنَادِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ وَأَصْحَابُهُ فَأَخْبَرُوهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِأَرْضِ الشَّأْمِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَقَالَ عُمَرُ ادْعُ لِي الْمُهَاجِرِينَ الْأَوَّلِينَ فَدَعَاهُمْ فَاسْتَشَارَهُمْ وَأَخْبَرَهُمْ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّأْمِ فَاخْتَلَفُوا فَقَالَ بَعْضُهُمْ قَدْ خَرَجْتَ لِأَمْرٍ وَلَا نَرَى أَنْ تَرْجِعَ عَنْهُ وَقَالَ بَعْضُهُمْ مَعَكَ بَقِيَّةُ النَّاسِ وَأَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا نَرَى أَنْ تُقْدِمَهُمْ عَلَى هَذَا الْوَبَاءِ فَقَالَ ارْتَفِعُوا عَنِّي ثُمَّ قَالَ ادْعُوا لِي الْأَنْصَارَ فَدَعَوْتُهُمْ فَاسْتَشَارَهُمْ فَسَلَكُوا سَبِيلَ الْمُهَاجِرِينَ وَاخْتَلَفُوا كَاخْتِلَافِهِمْ فَقَالَ ارْتَفِعُوا عَنِّي ثُمَّ قَالَ ادْعُ لِي مَنْ كَانَ هَا هُنَا مِنْ مَشْيَخَةِ قُرَيْشٍ مِنْ مُهَاجِرَةِ الْفَتْحِ فَدَعَوْتُهُمْ فَلَمْ يَخْتَلِفْ مِنْهُمْ عَلَيْهِ رَجُلَانِ فَقَالُوا نَرَى أَنْ تَرْجِعَ بِالنَّاسِ وَلَا تُقْدِمَهُمْ عَلَى هَذَا الْوَبَاءِ فَنَادَى عُمَرُ فِي النَّاسِ إِنِّي مُصَبِّحٌ عَلَى ظَهْرٍ فَأَصْبِحُوا عَلَيْهِ قَالَ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ أَفِرَارًا مِنْ قَدَرِ اللَّهِ فَقَالَ عُمَرُ لَوْ غَيْرُكَ قَالَهَا يَا أَبَا عُبَيْدَةَ نَعَمْ نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ إِلَى قَدَرِ اللَّهِ أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ لَكَ إِبِلٌ هَبَطَتْ وَادِيًا لَهُ عُدْوَتَانِ إِحْدَاهُمَا خَصِبَةٌ وَالْأُخْرَى جَدْبَةٌ أَلَيْسَ إِنْ رَعَيْتَ الْخَصْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللَّهِ وَإِنْ رَعَيْتَ الْجَدْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللَّهِ قَالَ فَجَاءَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَكَانَ مُتَغَيِّبًا فِي بَعْضِ حَاجَتِهِ فَقَالَ إِنَّ عِنْدِي فِي هَذَا عِلْمًا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ قَالَ فَحَمِدَ اللَّهَ عُمَرُ ثُمَّ انْصَرَفَ. (رواه تلبخاري: ٥٢٨٨)
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Abdul Hamid bin Abdurrahman bin Zaid bin Al Khatthab dari Abdullah bin Abdullah bin Al Harits bin Naufal dari Abdullah bin Abbas bahwa Umar bin Khatthab pernah bepergian menuju Syam, ketika ia sampai di daerah Sargha, dia bertemu dengan panglima pasukan yaitu Abu 'Ubaidah bersama sahabat-sahabatnya, mereka mengabarkan bahwa negeri Syam sedang terserang wabah. Ibnu Abbas berkata; "Lalu Umar bin Khattab berkata; 'Panggilkan untukku orang-orang muhajirin yang pertama kali (hijrah), ' kemudian mereka dipanggil, lalu dia bermusyawarah dengan mereka dan memberitahukan bahwa negeri Syam sedang terserang wabah, merekapun berselisih pendapat. Sebagian dari mereka berkata; 'Engkau telah keluar untuk suatu keperluan, kami berpendapat bahwa engkau tidak perlu menarik diri.' Sebagian lain berkata; 'Engkau bersama sebagian manusia dan beberapa sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Kami berpendapat agar engkau tidak menghadapkan mereka dengan wabah ini, 'Umar berkata; 'Keluarlah kalian, 'dia berkata; 'Panggilkan untukku orang-orang Anshar'. Lalu mereka pun dipanggil, setelah itu dia bermusyawarah dengan mereka, sedangkan mereka sama seperti halnya orang-orang Muhajirin dan berbeda pendapat seperti halnya mereka berbeda pendapat. Umar berkata; 'keluarlah kalian, ' dia berkata; 'Panggilkan untukku siapa saja di sini yang dulu menjadi tokoh Quraisy dan telah berhijrah ketika Fathul Makkah.' Mereka pun dipanggil dan tidak ada yang berselisih dari mereka kecuali dua orang. Mereka berkata; 'Kami berpendapat agar engkau kembali membawa orang-orang dan tidak menghadapkan mereka kepada wabah ini.' Umar menyeru kepada manusia; 'Sesungguhnya aku akan bangun pagi di atas pelana (maksudnya hendak berangkat pulang di pagi hari), bagunlah kalian pagi hari, 'Abu Ubaidah bin Jarrah bertanya; 'Apakah engkau akan lari dari takdir Allah? ' maka Umar menjawab; 'Kalau saja yang berkata bukan kamu, wahai Abu 'Ubaidah! Ya, kami lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Bagaimana pendapatmu, jika kamu memiliki unta kemudian tiba di suatu lembah yang mempunyai dua daerah, yang satu subur dan yang lainnya kering, tahukah kamu jika kamu membawanya ke tempat yang subur, niscaya kamu telah membawanya dengan takdir Allah. Apabila kamu membawanya ke tempat yang kering, maka kamu membawanya dengan takdir Allah juga.' Ibnu Abbas berkata; "Kemudian datanglah Abdurrahman bin 'Auf, dia tidak ikut hadir (dalam musyawarah) karena ada keperluan. Dia berkata; "Saya memiliki kabar tentang ini dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda: "Jika kalian mendengar suatu negeri terjangkit wabah, maka janganlah kalian menuju ke sana, namun jika dia menjangkiti suatu negeri dan kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dan lari darinya." Ibnu 'Abbas berkata; "Lalu Umar memuji Allah kemudian pergi." (HR. Al Bukhari: 5288 - shahih dari 'Abdur Rahman bin 'Auf bin 'Abdi 'Auf bin 'Abdi bin al Harits bin Zahrah, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H)
Begitu juga riwayat Muslim: 4114, al Bukhari: 5289, Malik: 1391 - shahih dari 'Abdur Rahman bin 'Auf bin 'Abdi 'Auf bin 'Abdi bin al Harits bin Zahrah, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H.
Sementara penjelasan lain adalah wabah penyakit lepra atau pes (tha'uun),
حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي حَبِيبُ بْنُ أَبِي ثَابِتٍ قَالَ سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ بْنَ سَعْدٍ قَالَ سَمِعْتُ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ يُحَدِّثُ سَعْدًا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَنَّهُ قَالَ إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلَا تَدْخُلُوهَا وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا مِنْهَا
فَقُلْتُ أَنْتَ سَمِعْتَهُ يُحَدِّثُ سَعْدًا وَلَا يُنْكِرُهُ قَالَ نَعَمْ. (رواه البخاري: ٥٢٨٧)
Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar telah menceritakan kepada kami Syu'bah dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Habib bin Abu Tsabit dia berkata; saya mendengar Ibrahim bin Sa'id berkata; saya mendengar Usamah bin Zaid bercerita kepada Sa'id dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: "Apabila kalian mendengar wabah lepra di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut." Lalu aku berkata; "Apakah kamu mendengar Usamah menceritakan hal itu kepada Sa'id, sementara Sa'id tidak mengingkari perkataan Usamah?" Ibrahim bin Sa'id berkata; "Benar." (HR. Al Bukhari: 5287 - shahih dari Usamah bin Zaid bin Haritsah bin Syurahbil, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H)
Seperti itu juga dikhabarkan dalam riwayat al Bukhari berikut:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ
أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خَرَجَ إِلَى الشَّأْمِ فَلَمَّا جَاءَ بِسَرْغَ بَلَغَهُ أَنَّ الْوَبَاءَ وَقَعَ بِالشَّأْمِ فَأَخْبَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ فَرَجَعَ عُمَرُ مِنْ سَرْغَ
وَعَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ عُمَرَ إِنَّمَا انْصَرَفَ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ. (رواه البخاري: ٦٤٥٨)
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Ibnu Syihab dari Abdullah bin Amir bin Rabi'ah, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berangkat ke Syam. Ketika dia sampai di suatu kota yang bernama Saragh, dia mendengar berita bahwa wabah sedang menimpa Syam. Maka Abdurrahman bin Auf mengabarinya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika kalian mendengar wabah berada di suatu kawasan, janganlah kalian datang kesana, dan jika terjadi di suatu kawasan yang kalian diami, jangan kalian meninggalkannya." Spontan Umar meninggalkan kota Saragh. Dan dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah, bahwasanya Umar pulang karena hadits Abdurrahman ini. (HR. Al Bukhari: 6458 - shahih dari 'Abdur Rahman bin 'Auf bin 'Abdi 'Auf bin 'Abdi bin al Harits bin Zahrah, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H)
Hadits senada juga diriwayatkan oleh Imam Muslim: 4115 - shahih dari 'Abdur Rahman bin 'Auf bin 'Abdi 'Auf bin 'Abdi bin al Harits bin Zahrah, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H.
Dijelaskan lagi,
حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَبْدِ الْحَمِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْدِ بْنِ الْخَطَّابِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ نَوْفَلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تُقْدِمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ يَعْنِي الطَّاعُونَ. (رواه أبوداود: ٢٦٩٧)
Telah menceritakan kepada kami Al Qa'nabi dari Malik dari Ibnu Syihab, dari Abdul Hamid bin Abdurrahman bin Zaid bin Al Khathab, dari Abdullah bin Abdullah bin Al Harits bin Naufal dari Abdullah bin Abbas, ia berkata; Abdurrahman bin 'Auf berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apabila kalian mendengarnya ada di suatu negeri maka janganlah kalian memasukinya dan apabila telah terjadi di dalamnya dan kalian ada di dalamnya maka janganlah kalian lari keluar darinya!" yaitu penyakit pes/lepra. (HR. Abu Daud: 2697 - shahih dari 'Abdur Rahman bin 'Auf bin 'Abdi 'Auf bin 'Abdi bin al Harits bin Zahrah, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H)
DOA AGAR TERBEBAS DARI PENYAKIT MENULAR
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ أَخْبَرَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئْ الْأَسْقَامِ. (رواه أبوداود: ١٣٢٩)
Telah menceritakan kepada Kami Musa bin Ismail, telah menceritakan kepada Kami Hammad, telah mengabarkan kepada Kami Qatadah dari Anas bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan: "ALLAAHUMMA INNII A'UUDZUBIKA MINAL BARASHI WAL JUNUUNI WAL JUDZAAMI WA MIN SAYYI-IL ASQAAM" (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kusta, gila, lepra, dan dari penyakit yang buruk). (HR. Abu Daud: 1329 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhar bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits termasuk golongan hadits ahlul Bashrah)
Lihat juga: an Nasa'i: 5398, Ahmad: 12534 [lafazh sama dengan riwayat Abu Daud: 1329] - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhar bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits termasuk golongan hadits ahlul Bashrah.
Begitu juga hadits riwayat Ibnu Hibban: 1017 - shahih dari Anas bin Malik, lafazh yang sama dengan riwayat Abu Daud: 1329. Lebih lengkap pada riwayat Ibnu Hibban: 1023.
أخبرنا أحمد بن يحي بن زهير الحافظ بتستري، قال: حدثنا أحمد بن منصور، قال: حدثنا عبد الصمد بن نعمان، قال: حدثنا شيبان، عن قتدة، عن أنس، قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم يدعو، يقول: اللهم إني أعوذبك من العجز والكسل، والبخل والهرم، والقسوة والغفلة، والذلة والمسكنة، وأعوذبك من الفقر والكفر، والشرك والنفق، والسمعة والرياء، و أعوذبك من الصمم والبكم، والجنون، والبرص، والجذام، وسيء الأسقام. (رواه إبن حبان: ١٠٢٣)
Ahmad bin Yahya bin Zuhair al Hafizh di Tustar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Manshur menceritakan kepada kami, ia berkata: 'Abdush Shamad bin an Nu'man menceritakan kepada kami, ia berkata: Syaiban menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Anas bin Malik, ia berkata: Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam berdo'a dengan mengucapkan, "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari lemah dan malas, kikir dan pikun, keras hati dan pelupa, kehinaan dan kemiskinan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran dan kekufuran, syirik dan munafik, ingin tenar dan pamer. Dan aku berlindung kepada-Mu dari tuli, buta, gila, kusta, dan penyakit yang menjijikkan". (HR. Ibnu Hibban: 1023 - shahih dari Anas bin Malik)
THA'UN ADALAH PENYAKIT DARI JIN
Al Qur'an dan al Hadits selalu memberi kabar gembira pada umat manusia dengan cara dan isyarat tertentu. Agar manusia tetap ingat dan tersadar apabila melakukan kesalahan. Bahkan ada dalam bentuk ujian, seperti wabah penyakit, bencana, bahkan diri dan orang lain. Oleh karena itu sebagai orang yang beriman kepada takdir baik dan buruk dari Allah hendaknya menyadari hal ini sebagai cara Tuhan supaya senantiasa mawasdiri.
Para Nabi dan Rasul Allah di masa lampau maupun Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam sendiri mengingatkan melalui sabda dan contoh tauladan yang mesti diikuti oleh umatnya agar selalu waspada dan ikhlash apa pun yang ditimpakan kepada umatnya.
Pada kesempatan ini penulis ingin berbagi untuk memahami nash (al Qur'an dan al Hadits), apa yang dimaksud dengan gangguan setan dan adzab (kesusahan) serta ta'un (penyakit yang disebabkan oleh virus) yang dibicarakan oleh nash tersebut? Bagaimana seharusnya menyikapi ta'un? Berikut penulis paparkan.
Sebagaimana firman Allah, tentang penyakit yang diderita oleh Nabi Ayyub 'alaihi salam:
وَاذْكُرْ عَبْدَنَآ اَيُّوْبَۘ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الشَّيْطٰنُ بِنُصْبٍ وَّعَذَابٍۗ. (سورة ص/٣٨: ٤١)
Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan bencana.” (QS. Shaad/38: 41)
اُرْكُضْ بِرِجْلِكَۚ هٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَّشَرَابٌ. (سورة ص/٣٨: ٤٢)
(Allah berfirman), “Hentakkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” (QS. Shaad/38: 42)
وَوَهَبْنَا لَهٗٓ اَهْلَهٗ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنَّا وَذِكْرٰى لِاُولِى الْاَلْبَابِ. (سورة ص/٣٨: ٤٣)
Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan Kami lipatgandakan jumlah mereka, sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran sehat. (QS. Shaad/38: 43)
Sejalan dengan penamaan gangguan dan bencana penyakit (cacar: disebabkan virus) yang diderita Nabi Ayyub 'alaihi salam, diberitakan dalam hadits berikut:
حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ عِيسَى قَالَ ثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَن أَبِي بَلْجٍ قَالَ حَدَّثَنَاهُ أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ عَن أَبِيهِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قَيْسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ الطَّاعُونَ فَقَالَ وَخْزٌ مِنْ أَعْدَائِكُمْ مِنْ الْجِنِّ وَهِيَ شَهَادَةُ الْمُسْلِمِ. (رواه أحمد: ١٨٨٧٦)
Telah menceritakan kepada kami Bakr bin Isa ia berkata, Telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Abu Balji ia berkata, Telah menceritakannya kepada kami Abu Bakar bin Abu Musa Al Asy'ari dari bapaknya yakni Abdullah bin Qais, bahwa suatu ketika Nabi ﷺ menyebutkan Ath Tha'un, beliau bersabda, "Hal itu adalah penyakit dari musuh kalian dari kalangan Jin. Dan hal itu adalah Syahadatul Muslim (tanda kesyahidan seorang mukmin)." (HR. Ahmad: 18876 - shahih dari 'Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadhdhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Musa negeri hidup Kufah dan wafat tahun 50 H)
Lihat juga: Ahmad: 18707 - shahih dari 'Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadhdhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Musa negeri hidup Kufah dan wafat tahun 50 H.
Lebih jelas lagi bahwa,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ ثَنَا شُعْبَةُ عَن زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ قَالَ حَدَّثَنِي رَجُلٌ مِنْ قَوْمِي قَالَ شُعْبَةُ قَدْ كُنْتُ أَحْفَظُ اسْمَهُ قَالَ كُنَّا عَلَى بَابِ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ نَنْتَظِرُ الْإِذْنَ عَلَيْهِ فَسَمِعْتُ أَبَا مُوسَى الْأَشْعَرِيَّ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَاءُ أُمَّتِي بِالطَّعْنِ وَالطَّاعُونِ قَالَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الطَّعْنُ قَدْ عَرَفْنَاهُ فَمَا الطَّاعُونُ قَالَ طَعْنُ أَعْدَائِكُمْ مِنْ الْجِنِّ وَفِي كُلٍّ شَهَادَةٌ قَالَ زِيَادٌ فَلَمْ أَرْضَ بِقَوْلِهِ فَسَأَلْتُ سَيِّدَ الْحَيِّ وَكَانَ مَعَهُمْ فَقَالَ صَدَقَ حَدَّثَنَاهُ أَبُو مُوسَى حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ قَالَ ثَنَا أَبُو بَكْرٍ النَّهْشَلِيُّ قَالَ ثَنَا زِيَادُ بْنُ عِلَاقَةَ عَن أُسَامَةَ بْنِ شَرِيكٍ قَالَ خَرَجْنَا فِي بِضْعَ عَشْرَةَ مِنْ بَنِي ثَعْلَبَةَ فَإِذَا نَحْنُ بِأَبِي مُوسَى فَإِذَا هُوَ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ اجْعَلْ فَنَاءَ أُمَّتِي فِي الطَّاعُونِ فَذَكَرَهُ. (رواه أحمد: ١٨٩٠٩)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far, ia berkata, "Telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Ziyad bin 'Ilaqah berkata, "Telah menceritakan kepadaku seorang pemuda dari kaumku, -Syu'bah berkata, "Sungguh aku telah menjaga namanya- ia berkata, "Kami menemui Utsman radhiyallahu 'anhu menunggu izin darinya, lalu aku mendengar Abu Musa Al Asy'ari mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Kebinasaan umatku ada pada tha'un tikaman dan tha'un wabah." Ia (Abu Musa) berkata; kami bertanya, "Wahai Rasulullah, tikaman (pembunuhan) kami telah mengetahuinya, lalu apa yang disebut dengan Tha'uun? Rasulullah bersabda, "Yaitu tikaman dari musuh-musuh kalian dari golongan jin dan keduanya adalah dihitung kesyahidan." Ziyad berkata, "Maka aku belum rela dengan perkataannya, lalu aku tanyakan pada Sayyid Al Hayyi sedang ia bersama mereka, maka ia berkata membenarkannya. Abu Musa telah menceritakannya pada kami. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Bukair berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Bakar An Nahsyaly berkata; telah bercerita pada kami Ziyad bin 'Ilaqah dari Usamah bin Syarik berkata, "Kami pergi bersama beberapa puluh orang dari Bani Tsa'labah sedang bersamaku ada Abu Musa dan ia sedang menyebutkan sebuah hadits dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda, "Ya Allah, jadikanlah kebinasaan umatku dengan wabah." Lalu ia menyebutkan hadits tersebut. (HR. Ahmad: 18909 - shahih dari 'Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadhdhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Musa negeri hidup Kufah dan wafat tahun 50 H)
Hadits riwayat Ahmad: 18909 - periwayatan dari shahabat kepada shahabat pada jalur pertama munqathi', dan jalur kedua diriwayatkan kepada Usamah bin Syarik, ia shahabat dan negeri hidup Kufah.
Melirik nash yang disebutkan di atas penulis memahami bahwa penyakit yang diderita Nabi Ayyub adalah sebuah ujian bagi beliau sehingga terlihatlah bagaimana ketinggian kesabaran dan iman beliau. Kemudian, Allah membalas penderitaan yang telah beliau alami itu dengan kebahagiaan, anugerah kesembuhan dan berkumpulnya kembali keluarga yang terpisah karena penyakit tersebut. Ini suatu balasan yang luar biasa karena perjuangan melawan penderitaan yang juga tidak kalah beratnya.
Wabah yang berjangkit (berupa virus) bahkan pandemi. Menyebar keseluruh dunia, mengakibatkan hampir semua penduduk bumi panik dan kewalahan mengatasinya. Menurut penulis ini merupakan takdir Allah bagi manusia melalui doa Rasul terhadap umatnya dan menjadi peluang mendapatkan pahala mati syahid. Selanjutnya, bagi selain umatnya tentu ini menjadi adzab karena kezhaliman dan kekafiran mereka terhadap Allah.
Nah, tugas bagi semua manusia adalah mengatasi secara bersama-sama agar wabah tersebut tidak menyebar lebih luas lagi. Jangan lupa selalu berdoa dan berikhtiyar agar wabah virus ini cepat teratasi.
Hemat penulis, apakah wabah ini adalah tentara Allah atau pun dari Jin, tergantung dari sudut pandang seseorang menilainya. Tetapi, yang jelas adalah wabah ini merupakan sebuah takdir Tuhan terhadap manusia, yang mesti diterima dengan ikhlash.
Demikian juga, penjelasan dari banyak riwayat menunjukkan bahwa semua ini ujian sekaligus berupa adzab bagi yang tidak beriman. Takdir Allah yang secara umum mengisyaratkan adanya takdir lain setelah wabah ini. Melihat kondisi umat manusia saat ini yang sulit dibedakan mana yang baik dan yang buruk. Terakhir, bagaimana kesudahannya serahkan kepada Allah dalam arti bertawakkal kepada Allah agar keputusan dan janji Allah segera terwujud. Sebagai orang yang beriman menjalaninya dengan ikhlash dan ridha.
Riwayat-riwayat tentang ta'un ini telah penulis sampaikan pada beberapa tulisan dalam blog pribadi penulis "ibnusyamsir.blogspot.com".
Penyakit al thaa'uun disebabkan oleh virus, maka berbagai jenis penyakit yang disebabkan virus termasuk dalam kelompok ini.
SEBAGAIMANA DIJELASKAN DALAM AL QUR'AN DAN BANYAK RIWAYAT YANG DITEMUKAN DALAM KITAB HADITS, SEPERTI DALAM SHAHIH AL BUKHARI, MUSLIM, SUNAN AT TIRMIDZI, ABU DAUD, IBNU MAJAH, MUSNAD AHMAD DAN MUWATHAK IMAM MALIK, SERTA SHAHIH IBNU HIBBAN. SEMUANYA BERSUMBER dari 'Aisyah, Abdullah bin Mas'ud, Umar bin al Khathtab, Abdullah bin Umar, 'Abdullah bin 'Amru, Sa'ad bin Abi Waqash, Usamah bin Zaid, Usamah bin Syarik, Khuzaimah bin Tsabit, Sa'ad bin Malik, Abu Hurairah dan Anas bin Malik, serta 'Abdur Rahman bin 'Auf.
Ada beberapa hal perlu disampaikan bahwa:
1. Wabah (virus) menular telah ada sejak zaman sebelum Islam, dan merupakan adzab bagi kaum yang dilaknat oleh Allah seperti kaum Bani Israi'il. Atau pun bagi orang-orang selain mereka yang kemaksiatannya atau kezhalimannya telah melampaui batas kemanusian.
2. Wabah tersebut satu nikmat bagi seorang mukmin yang menjadi takdir baginya mendapat kesempatan memperoleh pahala mati syahid.
3. Bagi yang mengetahui ada wilayah yang terjangkit wabah virus tersebut, maka bagi yang berada diluarnya dilarang memasuki wilayah tersebut.
4. Bagi yang berada dalam wilayah terjangkit, tidak boleh keluar dari wilayah tersebut kecuali mengisolasi diri.
5. Berdoa agar wabah tersebut dipindahkan oleh Allah kewilayah lain yang memang pantas terjangkit. Namun, Allah lebih mengetahui hal tersebut.
6. Berlindung dari geganasan wabah tersebut.
7. Tetap berdoa dan tawakkal kepada Allah.
8. Bagi yang sudah terjangkit, ikhlash menerima dan merupakan takdirnya dan Allah mengganti dengan pahala syahid.
9. Wabah tersebut bisa menimpa dimana saja, dimasa Rasul wilayah yang pernah terjangkit wabah virus seperti Syam, Kufah dan Madinah. Bahkan Abu Bakar, Amir bin Fuhairah dan Bilal pernah terjangkit akan tetapi bisa sembuh. Tentunya dengan tetap minum obat seperti yang dianjurkan oleh Rasul dan 'Aisyah berperan disana sebab dalam sejarah islam disebutkan bahwa beliau memang ahli mengobatan herbal. Karena perintah untuk berobat dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sabda Rasul bahwa, "Allah yang menurunkan penyakit dan Allah juga menurunkan obat atau penawarnya (dawaa' atau syifaa').
Demikianlah yang dapat penulis paparkan semoga bermanfaat.
Wallaahu a'lam bish shawab,
Wassalaamu 'alaikum warahamatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏