HADITS TENTANG BERBINCANG-BINCANG SETELAH SHALAT 'ISYA'
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiim,
Assalaamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh.
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam adalah contoh tauladan yang terbaik buat umatnya. Apa yang beliau sukai dan beliau benci tentu begitu juga harusnya diikuti oleh umatnya. Namun, dalam hal-hal yang penting tentu mendapat perlakuan yang sama pentingnya. Begitu juga halnya kebiasaan beliau untuk membahas kepentingan pribadi dan umat. Jelas, beliau lebih mengutamakan kepentingan umatnya daripada kepentingan pribadinya. Lebih lanjutnya, pada kesempatan kali ini penulis ingin memaparkan tentang hadits berbincang-bincang setelah shalat 'isya' dan bagaimana kedukannya.
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى قَالَ حَدَّثَنَا عَوْفٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الْمِنْهَالِ قَالَ انْطَلَقْتُ مَعَ أَبِي إِلَى أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ فَقَالَ لَهُ أَبِي حَدِّثْنَا
كَيْفَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الْمَكْتُوبَةَ قَالَ كَانَ يُصَلِّي الْهَجِيرَ وَهِيَ الَّتِي تَدْعُونَهَا الْأُولَى حِينَ تَدْحَضُ الشَّمْسُ وَيُصَلِّي الْعَصْرَ ثُمَّ يَرْجِعُ أَحَدُنَا إِلَى أَهْلِهِ فِي أَقْصَى الْمَدِينَةِ وَالشَّمْسُ حَيَّةٌ وَنَسِيتُ مَا قَالَ فِي الْمَغْرِبِ قَالَ وَكَانَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يُؤَخِّرَ الْعِشَاءَ قَالَ وَكَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَهَا وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا وَكَانَ يَنْفَتِلُ مِنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ حِينَ يَعْرِفُ أَحَدُنَا جَلِيسَهُ وَيَقْرَأُ مِنْ السِّتِّينَ إِلَى الْمِائَةِ. (رواه البخاري: ٥٦٤)
Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya berkata, telah menceritakan kepada kami 'Auf berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Al Minhal berkata, "Aku dan bapakku pergi berangkat menemui Abu Barzah Al Aslami, bapakku lalu berkata kepadanya, "Bagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat yang Maktubah (Wajib)?" Abu Barzah menjawab, "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat Dzuhur yang kalian sebut sebagai yang pertama saat Matahari tergelincir, shalat 'Ashar ketika seseorang dari kami pulang menemui keluarganya di ujung Kota, maka matahari masih terasa panas sinarnya. Abu Al-Minhal berkata: “Dan aku lupa apa yang dikatakan Abu Barzah tentang waktu maghrib”. Dan beliau lebih suka mengakhirkan pelaksanaan shalat 'Isya yang kalian sebut sebagai waktu 'Atamah, beliau tidak suka tidur sebelum 'Isya dan berbincang-bincang setelahnya. Dan beliau selesai melaksanakan shalat Subuh ketika salah seorang dari kami dapat mengetahui siapa yang berada di sampingnya, beliau membaca antara enam puluh hingga seratus ayat." (HR. Al Bukhari: 564 - shahih dari Nadhlah bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Barzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 64 H)
Lafazh yang sama juga diriwayatkan oleh Imam an Nasa'i: 522 dam 527, Ahmad: 18931 dan 18959 - shahih dari Nadhlah bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Barzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 64 H.
Lafazh yang sama tersebut adalah:
" ... وَكَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَهَا وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا ...". (رواه البخاري و النسائي و أحمد)
" ... beliau tidak suka tidur sebelum 'Isya dan berbincang-bincang setelahnya ..."
Selanjutnya, mengenai hadits riwayat Ibnu Majah dari 'Aisyah sebagai berikut:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْلَى الطَّائِفِيُّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
مَا نَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَلَا سَمَرَ بَعْدَهَا. (رواه إبن ماجه: ٦٩٤)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim. Dan menurut jalur yang lain; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar berkata, telah menceritakan kepada kami Abu 'Amir keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman bin Ya'la Ath Tha`ifi dari Abdurrahman bin Al Qasim dari Bapaknya dari 'Aisyah ia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak tidur sebelu waktu 'Isya' dan tidak berbincang-bincang setelahnya." (HR. Ibnu Majah: 694 - hasan dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri Nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Hadits senada juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad: 25078 - hasan dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri Nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H). Hanya saja riwayar ini menggubakan kalimat "La sahira ba'daha" tidak begadang setelahnya" betikut lengkapnya:
حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْلَى الثَّقَفِيَّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
مَا نَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَلَا سَهِرَ بَعْدَهَا. (رواه أحمد: ٢٥٠٧٨)
Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad telah menceritakan kepada kami Abdullah, yaitu Ibnu Abdurrahman bin Ya'la Ats Tsaqafi dari Abdurrahman bin Al Qasim dari Ayahnya dari 'Aisyah berkata; "Rasulullah shallaallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah tidur sebelum waktu 'Isya' dan tidak pernah begadang setelahnya." (HR. Ahmad: 25078 - hasan dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri Nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Dalam sanad kedua hadits tersebut terdapat periwayat bernama 'Abdullah bin 'Abdur Rahman bin Ya'la bin Ka'ab, ia tabi' tabi'in kalangan tua negeri hidup tha'if. Penilaian ulama: Abu Hatim menilainya layyinul hadits, Yahya bin Ma'in menilainya shalih, an Nasa'i menilainya laisa bidzaaka, al Bukhari menilainya fiihi nazhar, al 'Ajli menilainya tsiqah, Ibnu Hajar menilainya shaduq, terdapat kesalahan. Sedangkan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam atd tsiqat". Sementara para periwaya selebihnya maqbul.
Boleh jadi, hadits ini berlaku ketika beliau bersama 'Aisyah. Tetapi, ketika dalam kondisi lain tentu Rasul pernah melakukannya. Selanjutnya, aktivitas keseharian Rasul tentu tidak selalu bersama beliau. Kata kuncinya ada pada kata "sahira".
Begitu juga hadits-hadits berikut ini ini:
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْمُرُ مَعَ أَبِي بَكْرٍ فِي الْأَمْرِ مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ وَأَنَا مَعَهُمَا
وَفِي الْبَاب عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَأَوْسِ بْنِ حُذَيْفَةَ وَعِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ.
قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ عُمَرَ حَدِيثٌ حَسَنٌ.
وَقَدْ رَوَى هَذَا الْحَدِيثَ الْحَسَنُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ رَجُلٍ مِنْ جُعْفِيٍّ يُقَالُ لَهُ قَيْسٌ أَوْ ابْنُ قَيْسٍ عَنْ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا الْحَدِيثَ فِي قِصَّةٍ طَوِيلَةٍ
وَقَدْ اخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ فِي السَّمَرِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ فَكَرِهَ قَوْمٌ مِنْهُمْ السَّمَرَ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَرَخَّصَ بَعْضُهُمْ إِذَا كَانَ فِي مَعْنَى الْعِلْمِ وَمَا لَا بُدَّ مِنْهُ مِنْ الْحَوَائِجِ وَأَكْثَرُ الْحَدِيثِ عَلَى الرُّخْصَةِ.
قَدْ رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا سَمَرَ إِلَّا لِمُصَلٍّ أَوْ مُسَافِرٍ. (رواه الترمذي: ١٥٤)
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani' berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Al A'masy dari Ibrahim dari Alqamah dari Umar bin Al Khaththab ia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berbincang-bincang dengan Abu Bakar dalam permasalahan kaum muslimin, sedang aku bersama keduanya." Ia berkata; "Dalam bab ini juga ada riwayat dari Abdullah bin Amru, Amru bin Hudzaifah dan Imran bin Hushain."
Abu Isa berkata; "Hadits Umar derajatnya hasan shahih.
Al Hasan bin Ubaidillah telah meriwayatkan hadits ini dari Ibrahim dari Alqamah dari seorang laki-laki dari Ju'fi yang disebut dengan nama Qais atau Ibnu Qais dari Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dan hadits ini ada dalam kisah yang panjang.
Para ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tabi'in dan orang-orang setelah mereka berselisih tentang hukum berbincang-bincang setelah shalat isya' akhir. Sebagian mereka memakruhkan perbincangan setelah shalat isya', sedang sebagian yang lain memberi keringanan jika hal itu masih dalam koridor ilmu, atau keperluan yang penting. Dan kebanyakan hadits memberikan keringanan tersebut."
Telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Tidak boleh berbincang-bincang kecuali bagi orang yang shalat atau musafir." (HR. At Tirmidzi: 154 - shahih dari 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahya Abu Hafshah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 23 H)
Catatan: periwayat yang mendengar langsung dari Umar bin al Khaththab tidak diketahui. Lagi pula jarak antara wafatnya 'Umar dengan al Qamah bin Qaisy jauh, 'Umar (w. 23 H) dan al Qamah (w. 62 H). Sedangkan selain masalah ini, semua periwayat maqbul. Sementara itu, Imam al Albani mensyahihkannya.
Lihat juga: at Tirmidzi: 2654 dan Ahmad: 4023 - dha'if dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Catatannya, periwayat yang menerima langsung dari 'Abdullah bin Mas'ud tidak diketahui. Sementara, para periwayatnya maqbul.
Lafazh lain yang dimarfu'kan,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ مَنْصُورًا يُحَدِّثُ عَنْ خَيْثَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا سَمَرَ إِلَّا لِرَجُلَيْنِ أَوْ لِأَحَدِ رَجُلَيْنِ لِمُصَلٍّ وَلِمُسَافِرٍ. (رواه أحمد: ٤١٨٧)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah ia berkata; Aku mendengar Manshur menceritakan dari Khaitsamah bin Abdurrahman dari Abdullah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda: "Tidak boleh berbicara malam kecuali pada dua orang, atau salah satu dari dua orang; orang yang shalat dan musafir." (HR. Ahmad: 4187 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H)
Catatan: Khaitsamah bin Abdurrahman bin Abi Sabrah, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Bakrah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 85 H.
Riwayat di atas semuanya dari Khaitsamah bin Abdurrahman dari 'Abdullah bin Mas'ud.
Selanjutnya lafazh,
" ... عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْمُرُ مَعَ أَبِي بَكْرٍ فِي الْأَمْرِ مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ وَأَنَا مَعَهُمَا. (رواه الترمذي: ١٥٤)
" ..."Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berbincang-bincang dengan Abu Bakar dalam permasalahan kaum muslimin, sedang aku bersama keduanya." (HR. At Tirmidzi: 154 - dari Umar bin al Khaththab)
Hadits yang membolehkan berbincang-bincang setelah shalat 'isya' dengan lafazh yang sama juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad: 173 dan 222 dari 'Umar bin al Khaththab. Adapun haditsnya sebagai berikut:
حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْمُرُ عِنْدَ أَبِي بَكْرٍ اللَّيْلَةَ كَذَلِكَ فِي الْأَمْرِ مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ وَأَنَا مَعَهُ. (رواه احمد: ١٧٣)
Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah Telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Ibrahim dari 'Alqamah dari Umar, dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bermusyawarah semalaman dengan Abu Bakar tentang urusan kaum muslimin, dan aku bersamanya." (HR. Ahmad: 173 - shahih dari 'Umar bin al Khaththab)
Dari uraian di atas, hadits berikut menurut penulis lebih konfrehensif untuk menjelaskan kenapa Rasul melarang tidur sebelum shalat 'Isya':
حَدَّثَنَا مَحْمُودٌ يَعْنِي ابْنَ غَيْلَانَ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي نَافِعٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شُغِلَ عَنْهَا لَيْلَةً فَأَخَّرَهَا حَتَّى رَقَدْنَا فِي الْمَسْجِدِ ثُمَّ اسْتَيْقَظْنَا ثُمَّ رَقَدْنَا ثُمَّ اسْتَيْقَظْنَا ثُمَّ خَرَجَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ لَيْسَ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ غَيْرُكُمْ
وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ لَا يُبَالِي أَقَدَّمَهَا أَمْ أَخَّرَهَا إِذَا كَانَ لَا يَخْشَى أَنْ يَغْلِبَهُ النَّوْمُ عَنْ وَقْتِهَا وَكَانَ يَرْقُدُ قَبْلَهَا قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ قُلْتُ لِعَطَاءٍ وَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ أَعْتَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً بِالْعِشَاءِ حَتَّى رَقَدَ النَّاسُ وَاسْتَيْقَظُوا وَرَقَدُوا وَاسْتَيْقَظُوا فَقَامَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَقَالَ الصَّلَاةَ قَالَ عَطَاءٌ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَخَرَجَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ الْآنَ يَقْطُرُ رَأْسُهُ مَاءً وَاضِعًا يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ فَقَالَ لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ أَنْ يُصَلُّوهَا هَكَذَا فَاسْتَثْبَتُّ عَطَاءً كَيْفَ وَضَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَأْسِهِ يَدَهُ كَمَا أَنْبَأَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ فَبَدَّدَ لِي عَطَاءٌ بَيْنَ أَصَابِعِهِ شَيْئًا مِنْ تَبْدِيدٍ ثُمَّ وَضَعَ أَطْرَافَ أَصَابِعِهِ عَلَى قَرْنِ الرَّأْسِ ثُمَّ ضَمَّهَا يُمِرُّهَا كَذَلِكَ عَلَى الرَّأْسِ حَتَّى مَسَّتْ إِبْهَامُهُ طَرَفَ الْأُذُنِ مِمَّا يَلِي الْوَجْهَ عَلَى الصُّدْغِ وَنَاحِيَةِ اللِّحْيَةِ لَا يُقَصِّرُ وَلَا يَبْطُشُ إِلَّا كَذَلِكَ وَقَالَ لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ أَنْ يُصَلُّوا هَكَذَا. (رواه البخري: ٥٣٧)
Telah menceritakan kepada kami Mahmud -yaitu Ibnu Ghailan- berkata, telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq berkata, telah mengabarkan kepadaku Ibnu Juraij berkata, telah mengabarkan kepadaku Nafi' berkata, telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin 'Umar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah suatu malam disibukkan dengan urusan sehingga mengakhirkan shalat 'Isya. Dan karenanya kami tertidur di dalam masjid. Lalu kami terbangun, lalu tertidur, lalu terbangun lagi hingga akhirnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar menemui kami seraya bersabda: "Tidak ada seorangpun dari penduduk bumi yang menunggu shalat seperti ini selain kalian." Dan Ibnu 'Umar tidak mempermasalahkan apakah Beliau memajukannya atau mengakhirkan. Pelaksanakaannya. Dan Ibnu Umar tidur dahulu sebelum shalat Isya. Ibnu Juraij berkata, "Aku bertanya kepada 'Atha', lalu dia berkata, "Aku mendengar Ibnu 'Abbas berkata, "Pernah suatu malam Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengakhirkan shalat 'Isya hingga banyak orang tertidur, kemudian mereka terbangun, lalu tertidur lagi, kemudian terbangun lagi." 'Umar bin Al Khaththab lalu berdiri dan berkata, "Shalat." 'Atha' berkata, berkata Ibnu 'Abbas, "Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian keluar dengan meletakkan tangan pada kepala, seakan aku melihat rambut beliau basah meneteskan air. Beliau kemudiaan bersabda: "Seandainya tidak memberatkan ummatku, niscaya aku akan perintahkan mereka melaksanakan shalat 'Isya seperti waktu sekarang ini." Aku (Ibnu Juraij) kemudian menanyakan kepada 'Atha untuk memastikan kenapa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam meletakkan tangannya di kepalanya sebagaimana yang diberitakan oleh Ibnu 'Abbas. Maka 'Atha merenggangkan sedikit jari-jarinya kemudian meletakkan ujung jarinya di atas sisi kepala, kemudian ia menekannya sambil menggerakkan ke sekeliling kepala hingga ibu jarinya menyentuh ujung telinga yang dimulai dari pelipis hingga pangkal jenggot. Dia melakukannya tidak pelan juga tidak cepat, kecuali sedang seperti itu. Lalu Beliau bersabda: "Seandainya tidak memberatkan ummatku, niscaya aku akan perintahkan mereka melaksanakan shalat seperti waktu sekarang ini." (HR. Al Bukhari: 537 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdu Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)
Jadi, tidur sebelum shalat 'Isya' karena letih atau sesuatu hal yang mempunyai mashlahah atau kepentingan Islam maka hal tersebut dibolehlan. Dibenci melakukannya ketika memperbincangkan sesuatu yang tidak bermanfaat atau bahkan memberi mudharat. Hal terakhir inilah yang dilarang atau dibenci oleh Rasul.
Wallahu a'lam bish Shawab.
Wassalamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏