SOLUSI TENTANG MEMBERI JALAN DAN LARANGAN MENGAMBIL TANAH ORANG LAIN
(hak sesama muslim)
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmanir rahiim,
Assalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,
Hak-hak sesama muslim mesti dijaga dan dihargai. Diantara hak tersebut adalah memberi jalan atau memberi ruang bebas antara batas tanah hak milik minimal tujuh hasta atau secukupnya. Sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak pemilik tanah. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits berikut yang diriwayatkan secara makna. Dalam berbagai lafazh yang berbeda dari Abu Hurairah, Ibnu 'Abbas, Sa'id bin Zaid 'Amru bin Nufail dan 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq serta 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail. Hadits tersebut diriwayatkan oleh al Bukhari, Muslim, at Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad.
Berikut penulis paparkan:
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ عَنْ الزُّبَيْرِ بْنِ خِرِّيتٍ عَنْ عِكْرِمَةَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَضَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا تَشَاجَرُوا فِي الطَّرِيقِ بِسَبْعَةِ أَذْرُعٍ. (رواه البخاري: ٢٢٩٣)
Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il telah menceritakan kepada kami Jarir bin Hazim dari Az Zubair bin Khirrit dari 'Ikrimah aku mendengar Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah menetapkan jika kalian berselisih tentang jalan supaya membaginya sepanjang tujuh hasta". (HR. Al Bukhari: 2293 - shahih dari
Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
حَدَّثَنِي أَبُو كَامِلٍ فُضَيْلُ بْنُ حُسَيْنٍ الْجَحْدَرِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْمُخْتَارِ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنْ يُوسُفَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا اخْتَلَفْتُمْ فِي الطَّرِيقِ جُعِلَ عَرْضُهُ سَبْعَ أَذْرُعٍ. (رواه تلبخاري: ٣٠٢٦)
Telah menceritakan kepadaku Abu Kamil Fudhail bin Husain Al Jahdari telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Mukhtar telah menceritakan kepada kami Khalid Al Hadza' dari Yusuf bin Abdullah dari Ayahnya dari Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika kalian berselisih mengenai jalan, maka jadikanlah (lebar jalannya) menjadi tujuh hasta." (HR. Muslim: 3026 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Ibnu Majah meriwayatkan,
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا مُثَنَّى بْنُ سَعِيدٍ الضُّبَعِيُّ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ بُشَيْرِ بْنِ كَعْبٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اجْعَلُوا الطَّرِيقَ سَبْعَةَ أَذْرُعٍ. (رواه إبن ماجه: ٢٣٢٩)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Waki' berkata, telah menceritakan kepada kami Mutsanna bin Sa'id Adh Dhuba'i dari Qatadah dari Busyair bin Ka'ab dari Abu Hurairah ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Buatlah tujuh hasta untuk jalan." (HR. Ibnu Majah: 2329 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Begitu pun jika menanam pohon,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا الْمُثَنَّى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ بُشَيْرِ بْنِ كَعْبٍ الْعَدَوِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا تَشَاجَرْتُمْ فِي الطَّرِيقِ فَاجْعَلُوهُ سَبْعَةَ أَذْرُعٍ.
قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا أَصَحُّ مِنْ حَدِيثِ وَكِيعٍ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ بُشَيْرِ بْنِ كَعْبٍ الْعَدَوِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَرَوَى بَعْضُهُمْ هَذَا عَنْ قَتَادَةَ عَنْ بَشِيرِ بْنِ نَهِيكٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَهُوَ غَيْرُ مَحْفُوظٍ. (رواه أالترمذي: ١٢٧٦)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Al Mutsanna bin Sa'id dari Qatadah dari Busyair bin Ka'ab Al 'Adawi dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika kalian menanam pepohonan di jalan, maka jadikanlah ia berjarak tujuh hasta."
Abu Isa berkata; Hadits ini lebih shahih dari hadits Waki'. Ia mengatakan; Dalam hal ini ada hadits serupa dari Ibnu Abbas. Isa berkata; Hadits Busyair bin Ka'ab Al 'Adawi dari Abu Hurairah adalah hadits hasan shahih sedangkan sebagian mereka meriwayatkan hadits ini dari Qatadah dari Basyir bin Lahik dari Abu Hurairah adalah tidak terjaga. (HR. At Tirmidzi: 1276 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Riwayat yang sama,
حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا الْمُثَنَّى بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ بُشَيْرِ بْنِ كَعْبٍ الْعَدَوِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا تَدَارَأْتُمْ فِي طَرِيقٍ فَاجْعَلُوهُ سَبْعَةَ أَذْرُعٍ. (رواه أبوداود: ٣١٤٩)
Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Al Mutsanna bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Busyair bin Ka'ab Al 'Adawi dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Jika kalian berselisih dengan (batas), maka jadikanlah jalan tersebut lebarnya adalah tujuh hasta!" (HR. Abu Daud: 3149 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Selabjunya lafazh hadits riwayat Ibnu Majah: 2330 sama dengan lafazh hadits riwayat Imam Ahmad: 1994 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthalib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H. Hanya saja ada tambahan pada kalimat "dan barangsiapa membangun bangunan maka hendaknya dia memberi bantuan untuk membangun pagar tetangganya" Sebagai berikut:
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اخْتَلَفْتُمْ فِي الطَّرِيقِ فَاجْعَلُوهُ سَبْعَ أَذْرُعٍ وَمَنْ بَنَى بِنَاءً فَلْيَدْعَمْهُ حَائِطَ جَارِهِ. (رواه أحمد: ١٩٩٤)
Telah menceritakan kepada kami Waki' dari Sufyan dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu 'Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika kalian berselisih masalah jalan, maka ukurlah tujuh hasta, dan barangsiapa membangun bangunan maka hendaknya dia memberi bantuan untuk membangun pagar tetangganya." (HR. Ahmad: 1994 - dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthalib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)
Catatan: semua hadits-hadits di atas diriwayatkan secara makna denga lafazh yang hampir sama. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa jika terjadi perselisihan batas jalan atau menanam tanaman selayaknya dijauhkan dari batas dimaksud sejauh tujuh hasta. Hal ini juga termasuk hak sesama muslim terhadap jalan.
Ingat kasus Arwa binti Uwais menuduh Sa'id bin Zaid telah mengambil sebagian dari tanahnya, berikut kisahnya:
حَدَّثَنَا أَبُو الرَّبِيعِ الْعَتَكِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ
أَنَّ أَرْوَى بِنْتَ أُوَيْسٍ ادَّعَتْ عَلَى سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ أَنَّهُ أَخَذَ شَيْئًا مِنْ أَرْضِهَا فَخَاصَمَتْهُ إِلَى مَرْوَانَ بْنِ الْحَكَمِ فَقَالَ سَعِيدٌ أَنَا كُنْتُ آخُذُ مِنْ أَرْضِهَا شَيْئًا بَعْدَ الَّذِي سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَمَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَخَذَ شِبْرًا مِنْ الْأَرْضِ ظُلْمًا طُوِّقَهُ إِلَى سَبْعِ أَرَضِينَ.
فَقَالَ لَهُ مَرْوَانُ لَا أَسْأَلُكَ بَيِّنَةً بَعْدَ هَذَا فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنْ كَانَتْ كَاذِبَةً فَعَمِّ بَصَرَهَا وَاقْتُلْهَا فِي أَرْضِهَا قَالَ فَمَا مَاتَتْ حَتَّى ذَهَبَ بَصَرُهَا ثُمَّ بَيْنَا هِيَ تَمْشِي فِي أَرْضِهَا إِذْ وَقَعَتْ فِي حُفْرَةٍ فَمَاتَتْ. (رواه مسلم: ٣٠٢٢)
Telah menceritakan kepada kami Abu Ar Rabi' Al 'Ataki telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Hisyam bin 'Urwah dari Ayahnya, bahwa Arwa binti Uwais menuduh Sa'id bin Zaid telah mengambil sebagian dari tanahnya, lantas dia mengadukan kepada Marwan bin Hakam, maka Sa'id berkata, "Mungkinkah saya mengambil sebagian tanah miliknya setelah saya mendengar sesuatu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?"
Marwan berkata, "Apa yang kamu dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?" Sa'id menjawab, "Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengambil sejengkal tanah dengan cara zhalim, maka pada hari kiamat ia akan dihimpit dengan tujuh lapis bumi." Lalu Marwan berkata kepadanya, "Saya tidak akan menanyakan bukti lagi kepadamu setelah mendengar (sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam) ini. Kemudian Sa'id berdo'a, "Ya Allah, jika ia (wanita) berdusta, maka butakanlah matanya dan bunuhlah dia di tanahnya sendiri." Urwah berkata, "Ternyata dia (Arwa) tidak meninggal kecuali dalam keadaan buta, dan tatkala dia berjalan-jalan di tanah pekarangannya, tiba-tiba dia terpeleset ke dalam lubang dan meninggal dunia." (HR. Muslim: 3022 - shahih dari Sa'id bin Zaid 'Amru bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu al A'war negeri hidup Kufah dan wafat tahun 51 H)
Lihat juga: al Bukhari: 2272, 2959, Muslim: 3020 (dengan lafazh "توقه الله" Allah menghimpitnya dan Muslim: 3023 (dengan lafazh "يطوقه" dihimpit, Ahmad: 1547 dengan lafazh "أخذ" - shahih dari Sa'id bin Zaid 'Amru bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu al A'war negeri hidup Kufah dan wafat tahun 51 H.
Lafazh dengan tambahan riwayat Ahmad: 1553,
حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَنْبَأَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنِ الْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ
أَنَّ مَرْوَانَ قَالَ اذْهَبُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَ هَذَيْنِ لِسَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ وَأَرْوَى فَقَالَ سَعِيدٌ أَتُرَوْنِي أَخَذْتُ مِنْ حَقِّهَا شَيْئًا أَشْهَدُ أَنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَخَذَ مِنْ الْأَرْضِ شِبْرًا بِغَيْرِ حَقِّهِ طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ وَمَنْ تَوَلَّى مَوْلَى قَوْمٍ بِغَيْرِ إِذْنِهِمْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَمَنْ اقْتَطَعَ مَالَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بِيَمِينٍ فَلَا بَارَكَ اللَّهُ لَهُ فِيهَا. (رواه أحمد: ١٥٥٣)
Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Al Harits bin Abdurrahman dari Abu Salamah bahwa Marwan berkata; "Pergilah dan damaikan antara Sa'id bin Zaid dan Arwa`." Maka Sa'id berkata; "Apakah menurut kalian saya mengambil haknya, Saya bersaksi bahwa saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengambil sejengkal tanah bukan dengan haknya, niscaya kelak akan dikalungkan kepadanya dari tujuh lapis bumi. Barangsiapa menyuruh budak suatu kaum tanpa izin dari mereka, maka dia mendapatkan laknat Allah. Barangsiapa merampas harta seorang muslim dengan sumpahnya maka Allah tidak akan memberkahi dalam harta tersebut." (HR. Ahmad: 1553 - shahih dari Sa'id bin Zaid 'Amru bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu al A'war negeri hidup Kufah dan wafat tahun 51 H)
Hal ini sejalan dengan firman Allah,
وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ. (سورة تلبقرة/٢: ١٨٨)
Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang bathil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui. (QS. Al Baqarah/2: 188)
Diingatkan lagi oleh 'Aisyah,
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَخْبَرَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْمُبَارَكِ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَكَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أُنَاسٍ خُصُومَةٌ فِي أَرْضٍ فَدَخَلَ عَلَى عَائِشَةَ
فَذَكَرَ لَهَا ذَلِكَ فَقَالَتْ يَا أَبَا سَلَمَةَ اجْتَنِبْ الْأَرْضَ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ ظَلَمَ قِيدَ شِبْرٍ طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ. (رواه البخاري: ٢٩٥٦)
Telah bercerita kepada kami 'Ali bin 'Abdullah telah mengabarkan kepada kami Ibnu 'Ulayyah dari 'Ali bin Al Mubarak telah bercerita kepada kami Yahya bin Abi Katsir dari Muhammad bin Ibrahim bin Al Harits dari Abu Salamah bin 'Abdur Rahman; Telah terjadi pertengkaran antara dirinya dan orang lain dalam perkara tanah lalu dia menemui 'Aisyah dan menceritakan hal itu kepadanya, maka 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Wahai Abu Salamah hindarilah (berbuat aniaya) dalam urusan tanah karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: "Siapa yang pernah berbuat aniaya sejengkal saja (dalam perkara tanah) maka nanti dia akan dibebani (dikalungkan pada lehernya) tanah dari tujuh bumi." (HR. Al Bukhari: 2956 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri Nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Begitu juga diriwayatkan oleh al Bukhari: 2273, Muslim: 3025, Ahmad: 23364 dan 24947 - shahih dari 'Aisyah binti Abu Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri Nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H.
Atau dalam lafazh lain, dengan lafazh "خسف" dibenamkan:
حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَخَذَ مِنْ الْأَرْضِ شَيْئًا بِغَيْرِ حَقِّهِ خُسِفَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى سَبْعِ أَرَضِينَ. (رواه البخاري: ٢٢٧٤)
Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Al Mubarak telah menceritakan kepada kami Musa bin 'Uqbah dari Salim dari bapaknya radhiyallahu 'anhu berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Siapa yang mengambil sesuatu (sebidang tanah) dari bumi yang bukan haknya maka pada hari kiamat nanti dia akan dibenamkan sampai tujuh bumi". (HR. Al Bukhari: 2274 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahaman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)
Begitu juga al Bukhari: 2957 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahaman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H.
Wallahu a'lam bish shawab,
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏