“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

Sumber: https://otobalancing.net/2018/09/28/cerita-mengharukan-gubernur-suryo-di-seret-10-km-lalu-disembelih-oleh-pki/
Cerita Mengharukan Gubernur Suryo Di Seret 10 Km Lalu Disembelih Oleh PKI
28/09/2018


Di jaman sekarang ini, kita tidak lalu melupakan sejarah…karena dengan sejarah kita bisa waspada dan mengetahui akan apa yang sudah dan akan terjadi karena adanya sejarah, cerita kelam di saat arek-arek pejuang Indonesia berperang dengan penjajah, ternyata di dalam intern negeri kita pernah berperang.

PKI (Partai Komunis Indonesia) 1948 membawa masa kelam indonesia dimana sejumlah pembantaian terjadi, pergerakan terjadi di daerah dengan kejam, mengutip dari berbagai sumber begini cerita kelam Gubernur Suryo Di Seret 10 Km Lalu Disembelih Oleh PKI.

Namanya diabadikan menjadi jalan protokol di Kota Surabaya, Semoga Rakyat Jatim khususnya Surabaya tidak melupakannya.

TRAGEDI GUBERNUR SOERJO 
Ditelanjangi, diseret lebih dari 10 KM lalu di sembelih.

Jika singgah di kota Ngawi, Jawa timur, luangkan waktu sejenak berziarah ke kecamatan Kedunggalar, disana ada sebuah patung monumen yg akan selalu merintih pedih tak Terperi. Patung yg menyimpan lara karena Partai Komunis Indonesia (PKI) pimpinan Muso telah menusukan duri dalam sejarah bangsa ini, duri yg telah menewaskan pahlawan pertempuran Surabaya 1945, bernama Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo, gubernur pertama RI yg menjabat di Jawa timur.

Maladi Yusuf, tokoh gerombolan Front Demokratik Rakyat (FDR) PKI, pada 10 November 1948, telah menyiksa Soerjo dg begitu banal. Hari itu tepat diperingati sbg hari pahlawan di Yogyakarta yg di hadiri para pejabat pemerintah, salah satunya adalah gubernur Soerjo.

Setelah menghadiri peringatan hari pahlawan pd tgl 10 November, Gubernur Soerjo pamit undur diri untuk pergi ke Madiun . Sebelum sampai di Madiun , mobil beliau di cegat anggota Bataliyon FDR, Partai Komunis Indonesia (PKI) pimpinan Maladi Yusuf ditengah hutan peleng, Kedunggalar, Ngawi. Setelah diikat tangan nya dg tali, mobil Gubernur Soerjo dibakar.

Dalam saat yg sama , tidak hanya Gubernur Soerjo yg ikut jd korban, dua perwira polisi yaitu Kombes pol M. Doerjat dan Kompol soeroko turut jd korban, mobil kedua perwira polisi itu pun jg di bakar.

Ketiga mereka kemudian ditelanjangi dan dicaci maki, ketiga nya diikat, lalu diseret hingga lebih dari 5 KM dengan menggunakan kuda.

Dua perwira polisi tsb ternyata lebih dahulu meninggal ketika diseret, kemudian disembelih. Sementara Gubernur Soerjo tidak kunjung meninggal, ketika disiksa dan di sembelih. Ada anggota FDR PKI yang berspekulasi, Gubernur Soerjo punya kesaktian, sehingga susah di bunuh, maka salah satu anggota FDR mengusulkan agar Gubernur Soerjo diseret lg hingga lebih dari 10Km dan harus menyeberangi melewati tiga sungai, agar betul-betul bisa disembelih.

Mereka terus menyeret Gubernur Soerjo melewati aliran sungai Bengawan solo, sungai sonde, dan kali kakak. Setelah melewati tiga sungai tsb, Gubernur Soerjo disiksa dan baru kemudian beliau disembelih.

Empat hari kemudian, jenazah Gubernur Soerjo dan dua perwira polisi baru ditemukan dalam kondisi sangat mengenaskan. Jenazah itu kemudian dimakamkan di Sasono Mulyo yg terletak di Sawahan, kabupaten Magetan.

Pemerintah lalu menggelari Gubernur Soerjo sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan. Hal itu tertuang dalam keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 294 tgl 17 November 1964.

Di desa Bangun rejo lor kecamatan Pitu kabupaten Ngawi, akhirnya di bangun sebuah monumen tempat gugur sekaligus di kuburkan nya Gubernur Jawa timur pertama, bersama dengan dua orang pengawal nya.

Selamat jalan pak Soerjo, semoga amal baktimu diterima oleh Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]