ILMU DAN AMAL
(dalam perspektif al Qur'an dan al Hadits)
Oleh Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmanirrahiim,
Assalaamu 'alaikum warahamatullaahi wabarakaatuh,
Ilmu dan amal merupakan bukti iman seorang hamba untuk diakuinya pengabdian dan kepatuhan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Tanpa keduanya ini mustahil mereka dapat melakukan semua bentuk kewajiban dan hak dengan sempurna. Oleh karena itu, keduanya mesti sejalan. Seiring berjalannya waktu, dua komponen tersebut semakin memperkuat kebenaran Ajaran Islam.
Selanjutnya, untuk membuktikan hal tersebut di atas yang menjadi acuan pokoknya adalah nash (al Qur'an dan al Hadits) sebagai petunjuk yang paling benar. Atas dasar inilah penulis merasa berkewajiban untuk menyampaikannya kepada pembaca yang budiman bagaimana hubungan ilmu dan amal dalam perspektif al Qur'an dan al Hadits? Sejauhmana hubungan tersebut bersinergi mendukung iman dan sunnatullah? Dan bagaimana para ulama memahaminya dan memberi kesimpulan ilmu pada umat?. Berikut paparannya.
AYAT-AYAT AL QUR'AN YANG MENUNJUKKAN ILMU DAN AMAL SEBAGAI BENTUK KEIMANAN
Alllah berfirman,
اُولٰۤىِٕكَ جَزَاۤؤُهُمْ مَّغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَجَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۗ وَنِعْمَ اَجْرُ الْعٰمِلِيْنَۗ. (سورة آل عمران/٣: ١٣٦)
Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal. (QS. Ali 'Imraan/3: 136)
Kemudian Allah berjanji tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang beramal karena-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ اَنِّيْ لَآ اُضِيْعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنْكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى ۚ بَعْضُكُمْ مِّنْۢ بَعْضٍ ۚ فَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَاُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ وَاُوْذُوْا فِيْ سَبِيْلِيْ وَقٰتَلُوْا وَقُتِلُوْا لَاُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْ وَلَاُدْخِلَنَّهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۚ ثَوَابًا مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الثَّوَابِ. (سورة آل عمران/٣: ١٩٥)
Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah (keturunan) dari sebagian yang lain. Maka orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang terbunuh, pasti akan Aku hapus kesalahan mereka dan pasti Aku masukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sebagai pahala dari Allah. Dan di sisi Allah ada pahala yang baik.” (QS. Ali 'Imraan/3: 195)
لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِى الْبِلَادِۗ. (سورة آل عمران/٣: ١٩٦)
Jangan sekali-kali kamu teperdaya oleh kegiatan orang-orang kafir (yang bergerak) di seluruh negeri. (QS. Ali 'Imraan/3: 196)
مَتَاعٌ قَلِيْلٌ ۗ ثُمَّ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُ ۗوَبِئْسَ الْمِهَادُ. (سورة آل عمران/٣: ١٩٧)
Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat kembali mereka ialah neraka Jahanam. (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat tinggal. (QS. Ali 'Imraan/3: 197)
لٰكِنِ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا نُزُلًا مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗ وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ لِّلْاَبْرَارِ. (سورة آل عمران/٣: ١٩٨)
Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, mereka akan mendapat surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya sebagai karunia dari Allah. Dan apa yang di sisi Allah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti. (QS. Ali 'Imraan/3: 198)
وَاِنَّ مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَمَنْ يُّؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِمْ خٰشِعِيْنَ لِلّٰهِ ۙ لَا يَشْتَرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ. (سورة آل عمران/٣: ١٩٩)
Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada yang beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu, dan yang diturunkan kepada mereka, karena mereka berendah hati kepada Allah, dan mereka tidak memperjualbelikan ayat-ayat Allah dengan harga murah. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS. Ali 'Imraan/3: 199)
Ditegaskan lagi oleh Allah dalam firman-Nya berikut:
وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِۙ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ عَظِيْمٌ. (سورة المائدة/٥: ٩)
Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, (bahwa) mereka akan mendapat ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al Maaidah/5: 9)
وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَكَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَآ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ. (سورة المائدة/٥: ١٠)
Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka. (QS. Al Maaidah/5: 10)
Alasan mereka diinfirmasikan oleh Allah,
هَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّا تَأْوِيْلَهٗۗ يَوْمَ يَأْتِيْ تَأْوِيْلُهٗ يَقُوْلُ الَّذِيْنَ نَسُوْهُ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَاۤءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّۚ فَهَلْ لَّنَا مِنْ شُفَعَاۤءَ فَيَشْفَعُوْا لَنَآ اَوْ نُرَدُّ فَنَعْمَلَ غَيْرَ الَّذِيْ كُنَّا نَعْمَلُۗ قَدْ خَسِرُوْٓا اَنْفُسَهُمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَفْتَرُوْنَ. (سورة الأعراف/٧: ٥٣)
Tidakkah mereka hanya menanti-nanti bukti kebenaran (Al-Qur'an) itu. Pada hari bukti kebenaran itu tiba, orang-orang yang sebelum itu mengabaikannya berkata, “Sungguh, rasul-rasul Tuhan kami telah datang membawa kebenaran. Maka adakah pemberi syafaat bagi kami yang akan memberikan pertolongan kepada kami atau agar kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami akan beramal tidak seperti perbuatan yang pernah kami lakukan dahulu?” Mereka sebenarnya telah merugikan dirinya sendiri dan apa yang mereka ada-adakan dahulu telah hilang lenyap dari mereka. (QS. Al A'raaf/7: 53)
Sementara orang-orang yang telah memperoleh kemenangan yaitu surga mereka telah beramal semaksimal mungkin,
لِمِثْلِ هٰذَا فَلْيَعْمَلِ الْعٰمِلُوْنَ. (سورة الصفات/٣٧: ٦١)
Untuk (kemenangan) serupa ini, hendaklah beramal orang-orang yang mampu beramal. (QS. Ash Shaffaat/37: 61)
Dengan rasa syukur kepada Rabb mereka atas dipenuhinya janji-janji yang telah Allah sediakan untuk mereka. Sebagaimana firman-Nya:
وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ صَدَقَنَا وَعْدَهٗ وَاَوْرَثَنَا الْاَرْضَ نَتَبَوَّاُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاۤءُ ۚفَنِعْمَ اَجْرُ الْعٰمِلِيْنَ. (سورة الزمر/٣٩: ٧٤)
Dan mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah memberikan tempat ini kepada kami sedang kami (diperkenankan) menempati surga di mana saja yang kami kehendaki.” Maka (surga itulah) sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal. (QS. Az Zumar/39: 74)
Inilah balasan bagi orang-orang yang senantiasa menjaga dan konsisten dalam iman dan amal mereka. Sesungguhnya Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Manusia dituntut untuk beribadah dan mengabdi hanya kepada-Nya. Mengikuti fitrah iman dan sunnatullah dengan menggunakan akalnya.
HADITS-HADITS TENTANG PENTINGNYA MENGAMALKAN ILMU YANG DIMILIKI
أَخْبَرَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ رَجُلٍ يُقَالُ لَهُ سُلَيْمَانُ بْنُ جَابِرٍ مِنْ أَهْلِ هَجَرَ قَالَ قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ وَعَلِّمُوهُ النَّاسَ تَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ وَعَلِّمُوهُ النَّاسَ تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَعَلِّمُوهُ النَّاسَ فَإِنِّي امْرُؤٌ مَقْبُوضٌ وَالْعِلْمُ سَيُقْبَضُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ حَتَّى يَخْتَلِفَ اثْنَانِ فِي فَرِيضَةٍ لَا يَجِدَانِ أَحَدًا يَفْصِلُ بَيْنَهُمَا. (رواه الدارمي: ٢٢٣)
Telah mengabarkan kepada kami Utsman bin Al Haitsam telah menceritakan kepada kami 'Auf dari seseorang -ia dikenal dengan sebutan Sulaiman bin Jabir dari penduduk Hajar-, ia berkata, "Ibnu Mas'ud pernah berkata, 'Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadaku: Hendaklah kalian belajar ilmu, dan ajarkanlah kepada manusia, pelajarilah ilmu fara`idh dan ajarkanlah kepada manusia, pelajarilah Al-Qur'an dan ajarkanlah kepada manusia, karena aku seorang yang akan dipanggil (wafat), dan ilmu senantiasa akan berkurang sedangkan kekacauan akan muncul hingga ada dua orang yang akan berselisih pendapat tentang (wajib atau tidaknya) suatu kewajiban, dan keduanya tidak mendapatkan orang yang dapat memutuskan antara keduanya". (HR. Ad Darimi: 223 - dha'if dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H)
Catatan: Sulaiman bin Jabir, menurut adz Dzahabi dan Ibnu Hajar majhul. Isnadnya cacat menurut Husain Salim Asad ad Darani. Hadits senada juga diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah: 2710,
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ الْحِزَامِيُّ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ بْنِ أَبِي الْعِطَافِ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ تَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ وَعَلِّمُوهَا فَإِنَّهُ نِصْفُ الْعِلْمِ وَهُوَ يُنْسَى وَهُوَ أَوَّلُ شَيْءٍ يُنْزَعُ مِنْ أُمَّتِي. (رواه إبن ماچه: ٣٧١٠)
Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Mundzir Al Hizami; telah menceritakan kepada kami Hafsh bin 'Umar bin Abu Al 'Ithaf; telah menceritakan kepada kami Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Wahai Abu Hurairah, belajarlah faraidh dan ajarkanlah, karena sesungguhnya ia adalah setengah dari ilmu, dan ilmu itu akan dilupakan dan ia adalah yang pertama kali dicabut dari umatku." (HR. Ibnu Majah: 2710 - dha'if [menurut al Albani] dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Catatan: Hafshah bin 'Umar bin Abi al 'Aththaf, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan dan negeri hidup Madinah. Penilaian ulama: al Bukhari dan Abu Hatim menilainya munkarul hadits, an Nasa'i dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Sedangkan adz Dzahabi mengatakan, "mereka mendha'ifkannya". Perawi selainnya maqbul.
أَخْبَرَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ مَزْيَدٍ عَنْ أَوْفَى بْنِ دَلْهَمٍ أَنَّهُ بَلَغَهُ عَنْ عَلِيٍّ قَالَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ تُعْرَفُوا بِهِ وَاعْمَلُوا بِهِ تَكُونُوا مِنْ أَهْلِهِ فَإِنَّهُ سَيَأْتِي بَعْدَ هَذَا زَمَانٌ لَا يَعْرِفُ فِيهِ تِسْعَةُ عُشَرَائِهِمْ الْمَعْرُوفَ وَلَا يَنْجُو مِنْهُ إِلَّا كُلُّ نُوَمَةٍ فَأُولَئِكَ أَئِمَّةُ الْهُدَى وَمَصَابِيحُ الْعِلْمِ لَيْسُوا بِالْمَسَايِيحِ وَلَا الْمَذَايِيعِ الْبُذْرِ قَالَ أَبُو مُحَمَّد نُوَمَةٌ غَافِلٌ عَنْ الشَّرِّ الْمَذَايِيعُ الْبُذْرِ كَثِيرُ الْكَلَامِ. (رواه الدارمي: ٢٦١)
Telah mengabarkan kepada kami Utsman bin Umar menceritakan kepada kami Umar bin Yazid dari Aufa bin Dahlan, bahwasanya telah disampaikan kabar dari Ali radhiyallahu 'anhu ia berkata, "Pelajarilah ilmu, kamu akan mengenalnya, dan amalkanlah ilmu, kalian akan menjadi ahlinya. Akan datang satu zaman yang ketika itu sembilan persepuluh kebaikan sudah tidak dikenali lagi. Tidak ada yang selamat kecuali sekelompok kecil. Mereka adalah para pemimpin yang tercerahkan dan menjadi cahaya ilmu, mereka bukanlah orang yang selalu berbuat buruk dan mengadu domba, dan mereka juga bukan orang yang hanya pandai bicara." (HR. Ad Darimi: 261 - dha'if [munqathi'] dari Ali bin Abi Thallib bin 'Abdu al Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H)
Catatan: munqathi' dan para perawinya tsiqah menurut Husain Salim Asad ad Darani. Periwayat yang menerima langsung dari 'Ali bin Abi Thalib tidak diketahui.
Demikian juga halnya hadits berikut:
أَخْبَرَنَا أَبُو نُعَيْمٍ وَجَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ قَالَا حَدَّثَنَا مِسْعَرٌ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ قَالَ قَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ تَعَلَّمُوا قَبْلَ أَنْ يُقْبَضَ الْعِلْمُ فَإِنَّ قَبْضَ الْعِلْمِ قَبْضُ الْعُلَمَاءِ وَإِنَّ الْعَالِمَ وَالْمُتَعَلِّمَ فِي الْأَجْرِ سَوَاءٌ. (رواه الدارمي: ٣٢٩)
Telah mengabarkan kepada kami Abu Nu'aim dan telah mengabarkan kepada kami Ja'far bin 'Aun berkata, telah menceritakan kepada kami Mis'ar dari 'Amru bin Murrah dari Salim bin Abu Al Ja'di ia berkata, berkata Abu Darda` radhiyallahu 'anhu, "Belajarlah kalian sebelum ilmu dicabut, sesungguhnya dicabutnya ilmu dengan diwafatkan ulama. Sesungguhnya orang alim (yang mengajarkan ilmu) dan manusia terpelajar (yang berburu ilmu) memperoleh pahala sama". (HR. Ad Darimi: 329 - dha'if dari 'Uwaimir bin Malik bin Qais bin 'Umayyah bin 'Amir, ia shahabat kuniyahnya Abu Darda' iya negeri hidup Syam dan wafat tahun 32 H)
Catatan: Isnadnya dha'if karena munqathi' menurut Husain Salim Asad ad Darani. Perawi yang menerima langsung dari Abu Darda' terputus atau tidak diketahui.
Hadits yang shahih tentang perintah mempelajari ilmu dalam bab ini adalah:
أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الْمَجِيدِ حَدَّثَنَا حَرِيزٌ عَنْ حَبِيبِ بْنِ عُبَيْدٍ قَالَ كَانَ يُقَالُ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ وَانْتَفِعُوا بِهِ وَلَا تَعَلَّمُوهُ لِتَتَجَمَّلُوا بِهِ فَإِنَّهُ يُوشِكُ إِنْ طَالَ بِكُمْ عُمُرٌ أَنْ يَتَجَمَّلَ ذُو الْعِلْمِ بِعِلْمِهِ كَمَا يَتَجَمَّلُ ذُو الْبِزَّةِ بِبِزَّتِهِ. (رواه الدارمي: ٣٧١)
Telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah bin Abdul Majid telah menceritakan kepada kami Hariz dari Habib bin Ubaid ia berkata, "Pelajarilah ilmu dan ambillah manfaat, dan janganlah kalian mempelajarinya karena ingin memperbagus diri dengan ilmu. Siapa tahu kalian berumur panjang, dan ketika itu orang yang mempunyai ilmu memperbagus dirinya dengan ilmunya seperti orang yang mempunyai kain dan dipergunakannya untuk memperindah diri." (HR. Ad Darimi: 371 - shahih [mauquf] dari Habib bin 'Ubaid, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Hafshah dan negeri hidup Syam)
Catatan: Isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani.
PESAN PARA ULAMA
أَخْبَرَنَا أَبُو عُثْمَانَ الْبَصْرِيُّ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ مُسْلِمٍ الْقَسْمَلِيِّ أَخْبَرَنَا زَيْدٌ الْعَمِّيُّ عَنْ بَعْضِ الْفُقَهَاءِ أَنَّهُ قَالَ يَا صَاحِبَ الْعِلْمِ اعْمَلْ بِعِلْمِكَ وَأَعْطِ فَضْلَ مَالِكَ وَاحْبِسْ الْفَضْلَ مِنْ قَوْلِكَ إِلَّا بِشَيْءٍ مِنْ الْحَدِيثِ يَنْفَعُكَ عِنْدَ رَبِّكَ يَا صَاحِبَ الْعِلْمِ إِنَّ الَّذِي عَلِمْتَ ثُمَّ لَمْ تَعْمَلْ بِهِ قَاطِعٌ حُجَّتَكَ وَمَعْذِرَتَكَ عِنْدِ رَبِّكَ إِذَا لَقِيتَهُ يَا صَاحِبَ الْعِلْمِ إِنَّ الَّذِي أُمِرْتَ بِهِ مِنْ طَاعَةِ اللَّهِ لَيَشْغَلُكَ عَمَّا نُهِيتَ عَنْهُ مِنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ يَا صَاحِبَ الْعِلْمِ لَا تَكُونَنَّ قَوِيًّا فِي عَمَلِ غَيْرِكَ ضَعِيفًا فِي عَمَلِ نَفْسِكَ يَا صَاحِبَ الْعِلْمِ لَا يَشْغَلَنَّكَ الَّذِي لِغَيْرِكَ عَنْ الَّذِي لَكَ يَا صَاحِبَ الْعِلْمِ جَالِسْ الْعُلَمَاءَ وَزَاحِمْهُمْ وَاسْتَمِعْ مِنْهُمْ وَدَعْ مُنَازَعَتَهُمْ يَا صَاحِبَ الْعِلْمِ عَظِّمْ الْعُلَمَاءَ لِعِلْمِهِمْ وَصَغِّرْ الْجُهَّالَ لِجَهْلِهِمْ وَلَا تُبَاعِدْهُمْ وَقَرِّبْهُمْ وَعَلِّمْهُمْ يَا صَاحِبَ الْعِلْمِ لَا تُحَدِّثْ بِحَدِيثٍ فِي مَجْلِسٍ حَتَّى تَفْهَمَهُ وَلَا تُجِبْ امْرَأً فِي قَوْلِهِ حَتَّى تَعْلَمَ مَا قَالَ لَكَ يَا صَاحِبَ الْعِلْمِ لَا تَغْتَرَّ بِاللَّهِ وَلَا تَغْتَرَّ بِالنَّاسِ فَإِنَّ الْغِرَّةَ بِاللَّهِ تَرْكُ أَمْرِهِ وَالْغِرَّةَ بِالنَّاسِ اتِّبَاعُ أَهْوَائِهِمْ وَاحْذَرْ مِنْ اللَّهِ مَا حَذَّرَكَ مِنْ نَفْسِهِ وَاحْذَرْ مِنْ النَّاسِ فِتْنَتَهُمْ يَا صَاحِبَ الْعِلْمِ إِنَّهُ لَا يَكْمُلُ ضَوْءُ النَّهَارِ إِلَّا بِالشَّمْسِ كَذَلِكَ لَا تَكْمُلُ الْحِكْمَةُ إِلَّا بِطَاعَةِ اللَّهِ يَا صَاحِبَ الْعِلْمِ إِنَّهُ لَا يَصْلُحُ الزَّرْعُ إِلَّا بِالْمَاءِ وَالتُّرَابِ كَذَلِكَ لَا يَصْلُحُ الْإِيمَانُ إِلَّا بِالْعِلْمِ وَالْعَمَلِ يَا صَاحِبَ الْعِلْمِ كُلُّ مُسَافِرٍ مُتَزَوِّدٌ وَسَيَجِدُ إِذَا احْتَاجَ إِلَى زَادِهِ مَا تَزَوَّدَ وَكَذَلِكَ سَيَجِدُ كُلُّ عَامِلٍ إِذَا احْتَاجَ إِلَى عَمَلِهِ فِي الْآخِرَةِ مَا عَمِلَ فِي الدُّنْيَا يَا صَاحِبَ الْعِلْمِ إِذَا أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَحُضَّكَ عَلَى عِبَادَتِهِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ إِنَّمَا أَرَادَ أَنْ يُبَيِّنَ لَكَ كَرَامَتَكَ عَلَيْهِ فَلَا تَحَوَّلَنَّ إِلَى غَيْرِهِ فَتَرْجِعَ مِنْ كَرَامَتِهِ إِلَى هَوَانِهِ يَا صَاحِبَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِنْ تَنْقُلْ الْحِجَارَةَ وَالْحَدِيدَ أَهْوَنُ عَلَيْكَ مِنْ أَنْ تُحَدِّثَ مَنْ لَا يَعْقِلُ حَدِيثَكَ وَمَثَلُ الَّذِي يُحَدِّثُ مَنْ لَا يَعْقِلُ حَدِيثَهُ كَمَثَلِ الَّذِي يُنَادِي الْمَيِّتَ وَيَضَعُ الْمَائِدَةَ لِأَهْلِ الْقُبُورِ. (رواه الدارمي: ٦٤٦)
elah mengabarkan kepada kami Abu Utsman Al Bashri dari Abdul Aziz bin Muslim Al Qasmali telah mengabarkan kepada kami Zaid Al 'Ammi dari beberapa ulama fikih, ia berkata, 'Wahai orang berilmu, amalkan ilmumu, berikan kelebihan hartamu, dan tahanlah kelebihan perkataanmu kecuali sedikit pembicaraan, akan bermanfaat bagimu di sisi Tuhanmu. Wahai orang berilmu, sesuatu yang kamu ketahui tetapi tidak kamu amalkan adalah pemotong argumentasi dan alasanmu di sisi Tuhanmu ketika kamu menemui-Nya. Wahai orang berilmu, taat kepada Allah yang diperintahkan kepadamu sebenarnya telah menyibukkanmu dari maksiat kepada Allah yang dilarang untukmu. Wahai orang berilmu, janganlah kamu menjadi orang kuat yang meneropong perbuatan orang lain, namun kamu sendiri manusia lemah dalam mengerjakan (suatu amal) untuk dirimu sendiri. Wahai orang berilmu, janganlah apa yang dimiliki orang lain, membuatmu lupa terhadap apa yang kamu miliki. Wahai orang berilmu, ajaklah bicara para `ulama, bergaulah dengan mereka dan dengarkanlah perkataan mereka dan janganlah kamu menentangnya. Wahai orang berilmu, agungkanlah ulama karena ilmu mereka dan janganlah kamu menghormati orang-orang bodoh karena kebodohan mereka, namun jangan menjauhi mereka, tetapi dekatilah dan ajarilah mereka. Wahai orang berilmu, janganlah kamu membicarakan suatu hadits di suatu majelis sehingga kamu betul-betul memahaminya, dan janganlah menjawab pertanyaan orang hingga engkau tahu persis apa yang diucapkannya kepadamu. Wahai orang berilmu, janganlah kamu tertipu oleh Allah dan jangan pula kamu tertipu oleh manusia. Tertipu oleh Allah maksudnya meninggalkan perintah-Nya, dan tertipu oleh manusia maksudnya mengikuti hawa nafsu mereka. Takutlah kepada Allah dalam semua hal yang Dia mengajakmu takut terhadap diri-Nya, dan hindarilah manusia karena fitnah mereka. Wahai orang berilmu, cahaya siang tidaklah sempurna kecuali dengan matahari, begitu pula hikmah tidak sempurna kecuali dengan menaati Allah Subhanallahu wa Ta'ala. Wahai orang berilmu, tanaman tidak baik kecuali dengan air dan tanah, begitu pula dengan iman tidak baik kecuali dengan ilmu dan amal. Wahai orang berilmu, setiap musafir haruslah berbekal, dan ia dapatkan bekalnya apabila ia dibutuhkannya, begitu pula dengan setiap orang yang beramal, di akhirat akan ia dapatkan apa yang telah diperbuatnya di dunia apabila ia butuhkan amal perbuatannya. Wahai orang berilmu, Apabila Allah Subhanallahu wa Ta'ala berkehendak mendorongmu dalam beribadah kepada-Nya, ketahuilah bahwa Dia ingin menampakkan karamah-Nya terhadapmu, maka janganlah kamu mengalihkannya kepada selain-Nya, sehingga kamu tinggalkan kemuliaan-Nya dan malah kamu dapatkan kehinaan hidup. Wahai orang berilmu, Jika kamu memindahkan batu atau besi, itu lebih ringan bagimu daripada berbicara kepada orang yang tidak menerima pembicaraanmu, perumpamaan orang yang berbicara kepada orang yang tidak menerima pembicaraannya adalah seperti orang yang memanggil orang mati dan meletakkan hidangan untuk penghuni kubur". (HR. Ad Darimi: 646 - dha'if dari perawi tidak diketahui)
Catatan: isnadnya mudhlim menurut Husain Salim Asad ad Darani. Para periwayatnya:
1. Tidak diketahui
2. Zaid bin al Hawariy, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Al Hawariy dan negeri hidup Bashrah. Penilaian ulama: Abu Zur'ah, an Nasa'i, Ibnu Madini, Ibnu Hajar dan adz Dzahabi menilainya dha'if. Abu Hatim, Ibnu Sa'ad dan al 'Ajli menilainya dha'iful hadits. Sedangkan Yahya bin Ma'in dan ad Daruquthni menilainya shalih.
3. 'Abdul 'Aziz bin Muslim, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Zaid negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 167 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, Abu Hatim, al 'Ajli dan Ibnu Numair menilainya tsiqah. Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat". Ibnu Hajar dan adz Dzahabi menilainya tsiqah ahli ibadah. Sedangkan Ibnu Kharasy menilainya shaduq.
4. 'Amru bin al Hushain, ia tabi'ut atba'kalangan tua kuniyahnya Abu 'Utsman dan negeri hidup Jazirah. Penilaian ulama: ad Daruquthni dan Ibnu Hajar menilainya matruk. Sedangkan adz Dzahabi menilainya wahuh.
Perlu diingat,
أَخْبَرَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ أَبَانَ عَنْ يَعْقُوبَ هُوَ الْقُّمِّيُّ عَنْ هَارُونَ بْنِ عَنْتَرَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَا سَلَكَ رَجُلٌ طَرِيقًا يَبْتَغِي فِيهِ الْعِلْمَ إِلَّا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَنْ يُبْطِئْ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ. (رواه الدارمي: ٣٤٩)
Telah mengabarkan kepada kami Ismail bin Iban dari Ya'kub Al Qummi, dari Harun bin 'Antarah dari ayahnya dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu ia berkata, "Tidaklah seseorang berjalan dengan tujuan untuk menuntut ilmu, kecuali Allah permudah baginya jalan menuju surga. Siapa yang tidak segera mengamalkan ilmunya, ia tak akan bisa memperoleh kemuliaannya." (HR. Ad Darimi: 349 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H. Isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani)
Lihat juga hadits senada riwayat Abu Daud: 3158, at Tirmidzi: 2570, Ahmad: 7965 - shahih dari Abu Hurairah. Ibnu Majah meriwayatkan,
حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ رَجَاءِ بْنِ حَيْوَةَ عَنْ دَاوُدَ بْنِ جَمِيلٍ عَنْ كَثِيرِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ أَبِي الدَّرْدَاءِ فِي مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا الدَّرْدَاءِ أَتَيْتُكَ مِنْ الْمَدِينَةِ مَدِينَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِحَدِيثٍ بَلَغَنِي أَنَّكَ تُحَدِّثُ بِهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَمَا جَاءَ بِكَ تِجَارَةٌ قَالَ لَا قَالَ وَلَا جَاءَ بِكَ غَيْرُهُ قَالَ لَا قَالَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانِ فِي الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ. (رواه إبن ماجه: ٢١٩)
Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Ali Al Jahdlami berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Daud dari 'Ashim bin Raja` bin Haiwah dari Daud bin Jamil dari Katsir bin Qais ia berkata, "Ketika aku sedang duduk di samping Abu Darda di masjid Damaskus, tiba-tiba datang seseorang seraya berkata, "Hai Abu Darda, aku mendatangi Anda dari kota Madinah, kota Rasulullah ﷺ karena satu hadits yang telah sampai kepadaku, bahwa engkau telah menceritakannya dari Nabi ﷺ! " Lalu Abu Darda bertanya, "Apakah engkau datang karena berniaga?" Katsir bin Qais menjawab, "Bukan, " Abu Darda` bertanya lagi, "Apakah karena ada urusan yang lainnya?" Katsir bin Qais menjawab, "Bukan, " Katsir bin Qais berkata, "Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa meniti jalan untuk mencari ilmu, Allah akan permudahkan baginya jalan menuju surga. Para malaikat akan membentangkan sayapnya karena ridha kepada penuntut ilmu. Dan seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampunan oleh penghuni langit dan bumi hingga ikan yang ada di air. Sungguh, keutamaan seorang alim dibanding seorang ahli ibadah adalah ibarat bulan purnama atas semua bintang. Sesungguhnya para ulama adalah ahli waris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang sangat besar." (HR. Ibnu Majah: 219 - shahih dari 'Uwaimir bin Malik bin Qais bin 'Umayyah bin 'Amir, ia shahabat kuniyahnya Abu Darda' negeri hidup Syam dan wafat tahun 32 H)
Catatan: dalam sanad hadits Ibnu Majah: 219 dan at Tirmidzi: 2606 [rawi terputus setelah Katsir bin Qais] terdapat periwayat bernama Katsir bin Qais, ia tabi'in kalangan pertengahan dan negeri hidup Syam. Penilaian ulama: ad Daruquthni dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Hadits semakna juga diriwayatkan oleh imam Abu Daud: 3157 - shahih dari 'Uwaimir bin Malik bin Qais bin 'Umayyah bin 'Amir, ia shahabat kuniyahnya Abu Darda' negeri hidup Syam dan wafat tahun 32 H. Tanpa perawi Katsir bin Qais. Ingat ungkapan Ibnu 'Abbas berikut:
" ... ومن تعلم علما فعمل به كان حقا على الله أن يعلمه مالم يكون يعلم ... (ابو الشيخ عن إبن عباس) - (جلال الدين السيوطي, جامع الأحاديث/١٤: ٣٦١)
" ... Siapa yang mempelajari suatu ilmu dan mengamalkannya, maka Allah sungguh akan mengajarkan ilmu yang belum diketahui orang lain. (Abu Syaikh dari Ibnu 'Abbas) - Jalaalud Dien as Suyuthiy, Jaami' al Ahadiits/14: 361)
Kualitas hadits: menurut Muhammad Nashiruddin al Albani dalam as Silsilah adh Dha'ifah, (Ar Riyadh: Maktabah al Ma'aarif, tth), Juz VIII, h. 444, hadits ini adalah dha'if jiddan.
Selanjutnya,
أَخْبَرَنَا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ الْحَسَنِ قَالَ الْعِلْمُ عِلْمَانِ فَعِلْمٌ فِي الْقَلْبِ فَذَلِكَ الْعِلْمُ النَّافِعُ وَعِلْمٌ عَلَى اللِّسَانِ فَذَلِكَ حُجَّةُ اللَّهِ عَلَى ابْنِ آدَمَ أَخْبَرَنَا عَاصِمُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ فُضَيْلِ بْنِ عِيَاضٍ عَنْ هِشَامٍ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ ذَلِكَ. (رواه الدارمي: ٣٦٧)
Telah mengabarkan kepada kami Makki bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Al Hasan ia berkata, "Ilmu itu ada dua, yaitu ilmu dalam hati, itulah ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang ada di lisan, itulah hujjah Allah atas Ibnu Adam (manusia) ". 'Ashim bin Yusuf mengabarkan kepada kami dari Fudhail bin Iyadh dari Hisyam dari Al Hasan dari Rasulullah ﷺ seperti itu". (HR. Ad Darimi: 367 - shahih [mauquf] dari al Hasan bin Abi al Hasan Yasar, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 110 H. Penilaian ulama: al 'Ajli menilainya tsiqah, Muhammad bin Sa'id menilainya tsiqah ma'mun, sedangkan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat, yudallis")
Catatan: berkata Husain Salim Asad ad Darani, "Isnadnya shahih sampai kepada al Hasan dan haditsnya mauquf 'alaihi. lihat dalam 'Abdullah bin 'Abdur Rahman Abu Muhammad ad Darimiy, Sunan ad Darimiy, (Bairut: Darul Kitab al 'Arabiy, 1407 H), Juz I, h. 114. Dan menurut al Albani, "dha'if". Lihat dalam Muhammad Nashiruddin al Albani, Shahih wa dha'if al Jami' ash Shaghiir wa Ziyadatihi, (tt: al Maktab al Islamiy, tth), Juz I, h. 832.
Begitu juga ungkapan selaras dengan hal di atas,
" ... قال سلمان لحذيفة يا أخا بني عبس إن العلم كثير والعمر قصير... "
Berkata Salman kepada Hudzaifah, "Wahai saudara bani 'Abbas, sesungguhnya ilmu itu banyak (luas) sedangkan umur itu pendek". (Abu Na'im Ahmad bin 'Abdullah al Ashbahaniy, Hilyaa' al Auliyaa', (Bairut: Darul Kitaab al 'Arabiy, 1405 H), Juz I, h. 189.
Imam Malik berkata kepada Harun ar Rasyid, "Ilmu itu didatangi bukan mendatangi".
Ilmu yang tidak diamalkan maka akan dicabut lebih cepat daripada keberadaannya. Oleh karena menyibukkan diri (khusyuk) untuk mencari ilmu dan mengamalkannya sangat penting agar senantiasa menjaga dan dapat mencerahkan. Sebagaimana peringatan Rasul berikut:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشَخَصَ بِبَصَرِهِ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ قَالَ هَذَا أَوَانُ يُخْتَلَسُ الْعِلْمُ مِنْ النَّاسِ حَتَّى لَا يَقْدِرُوا مِنْهُ عَلَى شَيْءٍ فَقَالَ زِيَادُ بْنُ لَبِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ كَيْفَ يُخْتَلَسُ مِنَّا وَقَدْ قَرَأْنَا الْقُرْآنَ فَوَاللَّهِ لَنَقْرَأَنَّهُ وَلَنُقْرِئَنَّهُ نِسَاءَنَا وَأَبْنَاءَنَا فَقَالَ ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا زِيَادُ إِنْ كُنْتُ لَأَعُدُّكَ مِنْ فُقَهَاءِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَذِهِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ عِنْدَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى فَمَاذَا تُغْنِي عَنْهُمْ قَالَ جُبَيْرٌ فَلَقِيتُ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ قُلْتُ أَلَا تَسْمَعُ إِلَى مَا يَقُولُ أَخُوكَ أَبُو الدَّرْدَاءِ فَأَخْبَرْتُهُ بِالَّذِي قَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ قَالَ صَدَقَ أَبُو الدَّرْدَاءِ إِنْ شِئْتَ لَأُحَدِّثَنَّكَ بِأَوَّلِ عِلْمٍ يُرْفَعُ مِنْ النَّاسِ الْخُشُوعُ يُوشِكُ أَنْ تَدْخُلَ مَسْجِدَ جَمَاعَةٍ فَلَا تَرَى فِيهِ رَجُلًا خَاشِعًا.
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَمُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ ثِقَةٌ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيثِ وَلَا نَعْلَمُ أَحَدًا تَكَلَّمَ فِيهِ غَيْرَ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْقَطَّانِ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ نَحْوُ هَذَا وَرَوَى بَعْضُهُمْ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه الترمذي: ٢٥٧٧)
Telah bercerita kepada kami Abdullah bin Abdurrahman telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Shalih telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah bin Shalih dari Abdurrahman bin Jubair bin Nufair dari bapaknya, Jubair bin Nufair dari Abu Ad Darda' dia berkata; Ketika kami bersama Rasulullah ﷺ, beliau menengadahkan pandangannya ke langit kemudian berkata, "Inilah saatnya ilmu dicabut dari manusia sehingga mereka tidak mampu mengetahui darinya sama sekali", maka Ziyad bin Labid Al Anshari bertanya; 'Bagaimana ilmu dicabut dari kami, padahal kami membaca Al-Qur'an? Demi Allah, kami pasti akan membacanya dan membacakannya kepada istri-istri dan anak-anak kami.' Maka beliau berkata, "Alangkah malangnya dirimu wahai Ziyad, sesungguhnya aku menganggapmu termasuk orang yang faqih di Madinah, inilah kitab Taurat dan Injil milik Yahudi dan Nasrani maka apakah bermanfaat bagi mereka?" Jubair berkata; Kemudian aku bertemu dengan Ubadah bin Ash Shamith, maka aku bertanya; 'Tidakkah kamu mendengar sesuatu yang dikatakan saudaramu yaitu Abu Ad Darda'? ' Maka aku memberitahukan kepadanya apa yang dikatakan oleh Abu Ad Darda'. Dia berkata; 'Abu Ad Darda' benar, jika kamu berkehendak sungguh pasti aku ceritakan kepadamu tentang ilmu yang pertama kali akan diangkat dari manusia yaitu Al Khusyu' (rasa khusyuk) hampir-hampir kamu masuk ke dalam masjid jami' namun kamu tidak melihat seorang pun di dalamnya orang yang khusyuk.'
Abu Isa berkata; 'Hadits ini hasan gharib. Mu'awiyah bin Shalih adalah seorang yang tsiqah menurut para ahli hadits, dan kami tidak mengetahui ada seorang pun yang berbicara tentang dia kecuali Yahya bin Sa'id Al Qaththan, dan telah diriwayatkan dari Mu'awiyah bin Shalih hadits yang semakna dengan ini, sedangkan sebagian perawi yang lain telah meriwayatkan hadits ini dari Abdurrahman bin Jubair bin Nufair dari bapaknya dari Auf bin Malik dari Nabi ﷺ." (HR. At Tirmidzi: 2577 - shahih dari 'Uwaimir bin Malik bin Qais bin 'Umayyah bin 'Amir, ia shahabat kuniyahnya Abu Darda' negeri hidup Syam dan wafat tahun 32 H)
Hadits semakna diriwayatkan oleh imam ad Darimi: 290 - dha'if dari 'Uwaimir bin Malik bin Qais bin 'Umayyah bin 'Amir, ia shahabat kuniyahnya Abu Darda' negeri hidup Syam dan wafat tahun 32 H. Isnadnya dha'if menurut Husain Salim Asad ad Darani, setelah ditelusuri periwayat dalam sanadnya, hanya 'Abdullah bin Shalih bin Muhammad bin Muslim, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu Shalih negeri hidup Maru dan wafat tahun 222 H. Penilaian buruk baginya dilontarkan oleh adz Dzahabi dengan menilainya layyin dan an Nasa'i menilainya laisa bi tsiqah, sedangkan yang lain menilai ta'dil. Seperti Yahya bin Ma'in menilainya tsiqah. Ibnu Qaththan menilainya shaduq dan Ibnu Hajar menilainya shaduq, katsirul ghalath. Demikian juga Maslamah bin Qashim menilainya la ba'sa bihi.
Renungkanlah hadits berikut:
أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ أَبِي أُسَامَةَ عَنْ مِسْعَرٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الْأَعْلَى التَّيْمِيَّ يَقُولُ مَنْ أُوتِيَ مِنْ الْعِلْمِ مَا لَا يُبْكِيهِ لَخَلِيقٌ أَنْ لَا يَكُونَ أُوتِيَ عِلْمًا يَنْفَعُهُ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى نَعَتَ الْعُلَمَاءَ ثُمَّ قَرَأَ الْقُرْآنَ { إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ إِلَى قَوْلِهِ يَبْكُونَ }. (رواه الدارمي: ٢٩٣)
Telah mengabarkan kepada kami Sa'id bin Sulaiman dari Abu Usamah dari Mis'ar ia berkata, "Aku pernah mendengar Abdul A'la At Taimi berkata, 'Barangsiapa yang dianugerahi ilmu dan ilmunya tidak membuatnya menangis kepada Allah, berarti ia mendapatkan ilmu yang tidak bermanfaat, karena Allah mensifati para ulama, kemudian ia membaca Al-Qur'an: INNALLADZIINA UUTUL 'ILMA" (sesungguhnya orang-orang yang dianugerahi ilmu) sampai firman-Nya, "YABKUUN" (mereka selalu menangis). (QS. Al Isra`/17: 107-109)". (HR. Ad Darimi: 293 - shahih [mauquf] dari 'Abdul A'laa, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] dan negeri hidup Kufah. Ibnu Hibban menilainya tsiqah)
Catatan: Isnadnya jayyid menurut Husain Salim Asad ad Darani.
Ayat dimaksud dalam hadits riwayat ad Darimi: 293 adalah:
قُلْ اٰمِنُوْا بِهٖٓ اَوْ لَا تُؤْمِنُوْاۗ اِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهٖٓ اِذَا يُتْلٰى عَلَيْهِمْ يَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ سُجَّدًاۙ. (سورة الإسرآء/١٧: ١٠٧)
Katakanlah (Muhammad), “Berimanlah kamu kepadanya (Al-Qur'an) atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang yang telah diberi pengetahuan sebelumnya, apabila (Al-Qur'an) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah, bersujud.” (QS. Al Israa'/17: 107)
وَّيَقُوْلُوْنَ سُبْحٰنَ رَبِّنَآ اِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُوْلًا. (سورة الإسرآء/١٧: ١٠٨)
dan mereka berkata, “Mahasuci Tuhan kami; sungguh, janji Tuhan kami pasti dipenuhi.” (QS. Al Israa'/17: 108)
وَيَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ يَبْكُوْنَ وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعًا ۩. (سورة الإسرآء/١٧: ١٠٩)
Dan mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk. (QS. Al Israa'/17: 109)
Wallaahu a'lam bish Shawab,
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏