DAJJAL SI MATA JULING
Dalam Perspektif Hadits
Oleh: Samsurizal
A.
Pendahuluan
Puji syukur kehadirat Allah,
shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad beserta
keluarga, shahabat, dan orang yang mengikuti ajarannya sampai akhir zaman.
Allah dan Rasulnya berperan
sebagai pemberi petunjuk dan bimbingan, baik secara tidak langsung maupun secara langsung. Pertama,
Allah memberi petunjuk dengan isyarat alam atau disinyalir melalui firman-Nya.
Kedua, Allah dan Rasul-Nya memberi petunjuk langsung menyampaikannya kepada
makhluk-Nya.
Al-Qur’an dan Hadits
telah memberikan petunjuk yang sangat baik untuk kepentingan manusia. Ia
memberikan informasi tentang berbagai hal demi tercapainya tujuan hidup manusia
yang bahagia dunia dan akhhirat. Oleh karena itu, manusia wajib menggali
petunjuk itu dari berbagai sisi keilmuan maupun tolak pandang yang beragam agar
tercapainya pemahaman yang universal dan sempurna.
Khusus pembahasan berikut, penulis
mengkaji hadits-hadits tentang Dajjal. Ia merupakan salah satu peristiwa
yang mesti diimani oleh umat Islam. Karena telah dikhabarkan oleh Rasulullah secara mutawatir.
Sekali pun tidak disinggung oleh al-Qur’an secara langsung. Pembahasan ini penulis sajikan
secara tematik dengan judul “Dajjal si Mata Juling dalam Perspektif Hadits”.
Kata kunci: Dajjal si Mata Juling, Perspektif,
dan Hadits.
Dajjal adalah simbol kebohongan dan tipu daya, sedangkan si Mata Juling adalah
ciri khas fisik Dajjal. Perspektif adalah sudut
pandang. Sedangkan hadits adalah segala sesuatu yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad S.A.W
berupa perkataan, perbuatan, taqrir dan sifat fisik dan akhlak beliau.
B.
Pembahasan
1.
Pengertian
Dajjal
Ibnu Atsir, sebagaimana dikutib oleh
Mutawalli Sya`rawiy dalam kitab “Alâmât Al-Qiyâmah Al-Kubra”, bahwa makna dajjal asal kata “al-Dajl”
adalah “al-Khalth” (pencampuran, pengaburan). Makna “dajala”
yaitu mengaburkan dan menipu. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam
Muslim dari Abu Hurairah disebutkan,
وَحَدَّثَنِى
حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَرْمَلَةَ بْنِ عِمْرَانَ
التُّجِيبِىُّ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ حَدَّثَنِى أَبُو شُرَيْحٍ
أَنَّهُ سَمِعَ شَرَاحِيلَ بْنَ يَزِيدَ يَقُولُ أَخْبَرَنِى مُسْلِمُ بْنُ
يَسَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله
عليه وسلم- « يَكُونُ فِى آخِرِ الزَّمَانِ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ
يَأْتُونَكُمْ مِنَ الأَحَادِيثِ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ وَلاَ آبَاؤُكُمْ
فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ لاَ يُضِلُّونَكُمْ وَلاَ يَفْتِنُونَكُمْ ». (صحيح
مسلم/1: 12)[1]
Artinya: “Telah menceritakan
kepadaku Harmalah bin Yahya bin Abdullah bin Harmalah bin Imran at-Tujibi dia
telah berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb dia berkata, telah
menceritakan kepada kami Abu Syuraih bahwa dia mendengar Syarahil bin Yazid
berkata, telah mengabarkan kepadaku Muslim bin Yasar bahwa dia mendengar Abu
Hurairah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Akan ada di akhir zaman para Dajjal Pendusta membawa hadits-hadits kepada
kalian yang mana kalian tidak pernah mendengarnya dan bapak-bapak kalian juga
belum pernah mendengarnya. Maka kalian jauhilah dan mereka jauhilah. Mereka
tidak bisa menyesatkan kalian dan tidak bisa memfitnah kalian."
Kalimat “Pada akhir zaman terdapat
para Dajjal” maksudnya para pembohong dan penipu. Kata Dajjal sering
terulang dalam hadits Rasulullah s.a.w. dan dialah yang muncul pada akhir zaman
dengan mengaku sebagai Tuhan. Kata Dajjal mengikuti bentuk kata fa`âla, suatu
bentuk mubâlaghah (menyatakan makna yang sangat besar atau banyak
terjadi). Jadi kata Dajjal dengan menggunakan bentuk seperti itu bermakna amat
banyak dusta dan tipuannya.[2]
2.
Dajjal
dalam al-Qur’an
Kisah tentang Dajjal tidak disebutkan dalam
al-Qur’an sebagai mana dikutib oleh Sya`rawi, menurut Ibnu Katsir adalah
sebagai berikut:
Pertama: Dalam menafsirkan firman
Allah:
“Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidak bermanfaat
lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau
ia belum mengusahakan kebaikan dalam imannya.” (QS.
Al-An`am/6: 158)
Abu Musa al-Tirmidzi meriwayatkan
dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah s.a.w., beliau bersabda, “Jika tiga
peristiwa sudah muncul, maka iman seseorang yang sebelumnya belum beriman atau
belum berusaha memperbaiki keimanannya, maka imannya tersebut tidak bermanfaat
lagi bagi dirinya. Tiga peristiwa tersebut
adalah: Dajjal, munculnya binatang dari perut bumi dan terbitnya matahari dari
arah terbenamnya.”[3] Ibnu
Katsir menyatakan, “Hadits ini adalah Hasan Shahih.”
Kedua: Nabi Isa Al-Masih bin Maryam
a.s. akan turun dari langit dan membunuh Dajjal. Sebagaimana diterangkan dalam hadits
dari Bani `Amr bin `Auf dia berkata, “Saya mendengar `Ammiy Mujammi` bin
Jâriyah al-Anshariy dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda,
يَقْتُلُ
اْبنُ مَرْيَمَ الدَّجَّالَ بِبَابِ لُدٍّ.[4]
Menurut al-Tirmidzi Hadits ini
Hasan Shahih.
Ini menunjukkan bahwa
Nabi Isa akan turun kembali, berdasarkan firman Allah QS. Al-Nisâ`/4 ayat
157-159, Ibn Katsir menafsirkan ayat 159,
وَاِنْ
مِنْ اَهْلِ الْكِتَابِ اِلاَّ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ
الْقِيَامَةِيَكُوْنُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا.
“Tidak ada seorang pun
diantara ahli kitab yang tidak beriman kepadanya (`Isa) menjelang kematiannya.
Dan pada hari Kiamat dia (`Isa) akan menjadi saksi mereka.” (QS. Al-Nisâ`/4: 159)
Kata “qabla
mautihi” kembali kepada Isa
Al-Masih bin Maryam a.s. yang berarti ia akan turun kembali ke bumi, dimana
ahli kitab yang sebelumnya pernah berselisih dan saling berseteru akan beriman
kepadanya. Mereka yang menganggap Isa Al-Masih sebagai Tuhan seperti anggapan
kaum Kristen dan juga mereka yang mengatakan bahwa Isa Al-Masih a.s. adalah
anak haram seperti anggapan kaum Yahudi akan terbongkar kebohongan-kebohongan
dan tipu daya yang mereka perbuat menjelang turunnya Nabi Isa Al-Masih bin
Maryam a.s. sebelum kiamat tiba.
Sehubungan dengan peristiwa yang akan terjadi seperti
di atas, maka penyebutan Al-Masih Isa bin Maryam a.s., menunjukkan penyebutan Al-Masih
al-Dajjal sekaligus. Al-Masih
al-Dajjal yang dalam posisinya sebagai tokoh sesat
akan berhadapan dengan Al-Masih Isa bin Maryam a.s. sebagai tokoh kesatria atau
pahlawan penyelamat umat dari fitnah Dajjal. Biasanya orang Arab cukup
menyebutkan salah satu dari dua hal yang bertentangan untuk menyebutkan
semuanya. Selain karena adat dan budaya, pemakaian bahasa semacam ini dapat diketahui dari konteks kalimatnya.
3.
Dajjal
Menurut Hadits
Berdasarkan penjelasan terdahulu,
berita tentang dajjal diterangkan dalam banyak hadits. Bahwasanya
kedatangan dajjal sudah menjadi suatu kepastian, sebab khabar
tersebut diriwayatkan oleh banyak jalur periwayatan. Baik dari jalur riwayat
Bukhari dalam Shahih al-Bukhari bab fitn/al-Madînah/bida’
al-khalq/tauhid/anbiyâ’/manâqib, Muslim dalam bab fitn, al-Tirmidzi
dalam bab fitn/manâqib, Abu Daud dalam bab malâhim, Ahmad bin
Hanbal, Ibnu Majah dalam bab fitn dalam bab fitn, dan Muwatha’
dalam bab al-madînah.[5]
Semua hadits-hadits yang terdapat
dalam kitab-kitab hadits tersebut saling mendukung satu sama lain, sehingga dapat ditarik
kesimpulan bahwa peristiwa kedatangan Dajjal menurut keterangan hadits-hadits yang
penulis temukan ditambah dengan keterangan Sya`rawi adalah telah mutawatir.
Sekian banyak hadits tersebut ada yang shahih dan ada yang dha`if, sehingga dituntut berhati-hati
dalam memahinya.
4.
Ciri-ciri
Khusus Dajjal dalam Hadits
Dajjal sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah mempunyai
ciri khusus diantaranya diterangkan dalam hadits berikut:
أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ
قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ نَبِىٍّ
إِلاَّ وَقَدْ أَنْذَرَ أُمَّتَهُ اْلأَعْوَرَ اْلكَذَّابَ أَلاَ إِنَّهُ أَعْوَرُ
وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ مَكْتُوْبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ك ف ر. (رواه
مسلم).[6]
Keterangan ini lebih jelas, karena hadits-hadits
tentang ciri-ciri dajjal ini banyak, walaupun dalam redaksi yang beragam. Ini
juga mengisyaratkan bahwa hadits tentang dajjal ini mutawatir. Walaupun tidak
disebutkan dalam al-Qur’an, tetapi isyarat kedatangannya sudah jelas
disampaikan oleh Rasul dengan cara mutawatir. Meski demikian, keterangan yang
diperoleh dari hadits sendiri tentunya perlu ketelitian dalam memahaminya.
Salah satu contoh hadits yang dianggap tidak maqbul (tertolak) yaitu:
عَنْ
مُعَاذ بْن جَبَل عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
اَلْمَلْحَمَةُ الْعُظْمَى وَفَتْحُ الْقُسْطَنْطِيْنِيَّةَ وَخُرُوْجُ
الدَّجَّالِ فِي سَبْعَةِ أَشْهُرٍ.[7]
Menurut al-Tirmidzi hadits ini Hasan Garib,
sedangkan menurut Mahmud Hadits Gharib. Kustantin adalah Kota Rumawi dan
ia ditaklukan pada zaman setelah shahabat. Jadi, tidak mungkin peristiwa
penaklukan tersebut terjadi, sebab telah berlalu.
5.
Ciri-ciri Fisik
Dajjal dalam Hadits yang Selaras dengan Ciri-ciri Abu Lahab[8]
Dajjal, sebagaimana dipaparkan di atas memiliki ciri-ciri yang dapat
dikenal dan dapat dimiliki oleh manusia sepanjang zaman. Simbol-simbol Dajjal ini akan muncul
dimanapun dan kapanpun selagi belum terjadinya kiamat besar. Berikut penulis
paparkan hadits-hadits yang terkait dengan ciri-ciri Dajjal tersebut yang
sekaligus sama atau hampir sama dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh Abu Jahal paman Rasul.
Hadits ke-1
حَدَّثَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ
حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ حَدَّثَنِي بِحَيرٌ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ
عَمْرِو بْنِ الْأَسْوَدِ عَنْ جُنَادَةَ بْنِ أَبِي أُمَيَّةَ عَنْ عُبَادَةَ
بْنِ الصَّامِتِ أَنَّهُ حَدَّثَهُمْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنِّي قَدْ حَدَّثْتُكُمْ عَنْ الدَّجَّالِ حَتَّى
خَشِيتُ أَنْ لَا تَعْقِلُوا إِنَّ مَسِيحَ الدَّجَّالِ رَجُلٌ قَصِيرٌ أَفْحَجُ
جَعْدٌ أَعْوَرُ مَطْمُوسُ الْعَيْنِ لَيْسَ بِنَاتِئَةٍ وَلَا حَجْرَاءَ فَإِنْ أُلْبِسَ
عَلَيْكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ. قَالَ أَبُو دَاوُد
عَمْرُو بْنُ الْأَسْوَدِ وَلِي الْقَضَاءَ. (سنن أبوداود: 3763)
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Haiwah
bin Syuraih berkata, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah berkata, telah
menceritakan kepadaku Bahir dari Khalid bin Ma'dan dari Amru Ibnul Aswad dari
Junadah bin Abu Umayyah dari Ubadah bin Ash Shamit bahwa ia menceritakan kepada
mereka, Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Sungguh, aku telah menceritakan perihal Dajjal kepada kalian, hingga aku
kawatir kalian tidak lagi mampu memahaminya. Sesungguhnya Al Masih Dajjal
adalah seorang laki-laki yang pendek, berkaki bengkok, berambut keriting,
buta sebelah dan matanya tidak terlalu menonjol dan tidak pula terlalu
tenggelam. Jika kalian merasa bingung, maka ketahuilah bahwa Rabb kalian
tidak bermata juling." Abu Dawud berkata, "Amru Ibnul Aswad adalah
seorang hakim.“
Hadits ke-2
حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا
الْمَسْعُودِيُّ وَأَبُو النَّضْرِ قَالَ حَدَّثَنَا الْمَسْعُودِيُّ الْمَعْنَى
عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجْتُ إِلَيْكُمْ وَقَدْ
بُيِّنَتْ لِي لَيْلَةُ الْقَدْرِ ومَسِيحُ الضَّلَالَةِ فَكَانَ تَلَاحٍ بَيْنَ
رَجُلَيْنِ بِسُدَّةِ الْمَسْجِدِ فَأَتَيْتُهُمَا لِأَحْجِزَ بَيْنَهُمَا
فَأُنْسِيتُهُمَا وَسَأَشْدُو لَكُمْ مِنْهُمَا شَدْوًا أَمَّا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ وِتْرًا وَأَمَّا مَسِيحُ
الضَّلَالَةِ فَإِنَّهُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ أَجْلَى الْجَبْهَةِ عَرِيضُ النَّحْرِ
فِيهِ دَفَأٌ كَأَنَّهُ قَطَنُ بْنُ عَبْدِ الْعُزَّى قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
هَلْ يَضُرُّنِي شَبَهُهُ قَالَ لَا أَنْتَ امْرُؤٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ امْرُؤٌ
كَافِرٌ. (مسند أحمد: 7564)
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Yazid
telah mengabarkan kepada kami Al Mas'udi. Dan Abu An Nadhr juga berkata: Telah
menceritakan kepada kami Al Mas'udi dari 'Ashim bin Kulaib dari bapaknya dari
Abu Hurairah berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Aku keluar kepada kalian dalam keadaan telah mendapat penjelasan tentang
malam lailatul qadar dan masihudl dlalalah (Dajjal). Ketika itu ada dua orang
yang saling mencela di pintu masjid, lalu aku datang untuk melerai antara
keduanya namun kemudian aku terlupakan, dan akan aku ceritakan salah seorang
dari keduanya kepada kalian. Adapun malam lailatul qodar, maka carilah ia pada
sepuluh malam akhir di malam ganjil. Dan masihudl dlalalah (Dajjal), sesungguhnya
ia adalah seorang laki-laki yang bermata juling, serta jidad dan lehernya lebar
seakan-akan ia Qathan bin Abdul Uzza." Abu Hurairah berkata,
"Wahai Rasulullah, apakah akan membahayakan aku akan penyerupaannya?"
beliau bersabda: "Tidak, engkau seorang muslim sedang ia seorang
kafir."
Hadits ke-3
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمُتَعَالِ بْنُ
عَبْدِ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأُمَوِيُّ حَدَّثَنَا
مُجَالِدٌ عَنْ أَبِي الْوَدَّاكِ قَالَ قَالَ لِي أَبُو سَعِيدٍ هَلْ يُقِرُّ
الْخَوَارِجُ بِالدَّجَّالِ فَقُلْتُ لَا فَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي خَاتَمُ أَلْفِ نَبِيٍّ وَأَكْثَرُ مَا بُعِثَ
نَبِيٌّ يُتَّبَعُ إِلَّا قَدْ حَذَّرَ أُمَّتَهُ الدَّجَّالَ وَإِنِّي قَدْ
بُيِّنَ لِي مِنْ أَمْرِهِ مَا لَمْ يُبَيَّنْ لِأَحَدٍ وَإِنَّهُ أَعْوَرُ
وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ وَعَيْنُهُ الْيُمْنَى عَوْرَاءُ جَاحِظَةٌ
وَلَا تَخْفَى كَأَنَّهَا نُخَامَةٌ فِي حَائِطٍ مُجَصَّصٍ وَعَيْنُهُ الْيُسْرَى
كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ مَعَهُ مِنْ كُلِّ لِسَانٍ وَمَعَهُ صُورَةُ
الْجَنَّةِ خَضْرَاءُ يَجْرِي فِيهَا الْمَاءُ وَصُورَةُ النَّارِ سَوْدَاءُ
تَدَّاخَنُ. (مسند أحمد: 11328)
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Abdul
Muta'al bin Abdul Wahhab berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin
Sa'id Al Umawi berkata; telah menceritakan kepada kami Mujalid dari Abul Waddak
ia berkata; Abu Sa'id berkata kepadaku; "Apakah orang-orang Khawarij
mengakui adanya Dajjal?" maka aku menjawab; "Tidak, " maka iapun
berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya
aku adalah penutup dari seribu Nabi yang telah diutus, dan tidaklah ada seorang
Nabi yang diutus kecuali telah memperingatkan kepada umatnya tentang Dajjal,
dan sungguh aku telah diberi penjelasan berkenaan dengannya yang tidak
diberikan kepada seorang pun. Sesungguhnya ia adalah seorang yang bermata
juling, sedang Rabb kalian bukanlah bermata juling. Mata kanannya melotot
-tidak bisa dipungkiri- seakan-akan dahak yang menempel pada tembok yang dicat,
sedang mata kirinya seperti bintang yang terang. Dan aku juga diberi penjelasan
tentang semua ucapan, dan gambaran surga yang berwarna hijau yang mengalir
sungai-sungai di dalamnya. Serta gambaran neraka yang berwarna hitam
berasap."
Hadits ke-4
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي
الْعَبَّاسِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ أَبِيهِ
قَالَ أَخْبَرَنِي رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ رَبِيعَةُ بْنُ عَبَّادٍ مِنْ بَنِي الدِّيلِ وَكَانَ جَاهِلِيًّا
قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ
فِي سُوقِ ذِي الْمَجَازِ وَهُوَ يَقُولُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُولُوا لَا
إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تُفْلِحُوا وَالنَّاسُ مُجْتَمِعُونَ عَلَيْهِ وَوَرَاءَهُ
رَجُلٌ وَضِيءُ الْوَجْهِ أَحْوَلُ ذُو غَدِيرَتَيْنِ يَقُولُ إِنَّهُ صَابِئٌ
كَاذِبٌ يَتْبَعُهُ حَيْثُ ذَهَبَ فَسَأَلْتُ عَنْهُ فَذَكَرُوا لِي نَسَبَ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالُوا لِي هَذَا عَمُّهُ أَبُو لَهَبٍ حَدَّثَنَا سُرَيْجٌ
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ عَبَّادٍ
الدُّؤَلِيِّ وَكَانَ جَاهِلِيًّا فَأَسْلَمَ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ قَالَ فَقُلْتُ مَنْ هَذَا
قَالَ هَذَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَهُوَ
يَذْكُرُ النُّبُوَّةَ قُلْتُ مَنْ هَذَا الَّذِي يُكَذِّبُهُ قَالُوا هَذَا
عَمُّهُ أَبُو لَهَبٍ قَالَ أَبُو الزِّنَادِ فَقُلْتُ لِرَبِيعَةَ بْنِ عَبَّادٍ
إِنَّكَ يَوْمَئِذٍ كُنْتَ صَغِيرًا قَالَ لَا وَاللَّهِ إِنِّي يَوْمَئِذٍ
لَأَعْقِلُ أَنِّي لَأَزْفِرُ الْقِرْبَةَ يَعْنِي أَحْمِلُهَا. (مسند أحمد:
18234)
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Ibrahim
bin Abul Abbas Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abuz Zinad dari
bapaknya ia berkata, telah mengabarkan kepadaku seorang laki-laki yang biasa
dipanggil Rabi'ah bin Abbad dari Bani Ad Dil dan ia adalah seorang yang
telah mengenyam masa jahiliyah, ia berkata; Saat masih Jahiliyah, saya pernah
melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di pasar Dzul Majaz. Saat itu, beliau
bersabda: "Wahai sekalian manusian, ucapkanlah, 'LAA ILAAHA ILLALLAH, niscaya
kalian akan selamat." Maka orang-orang pun mengerumuninya, sementara di
belakangnya ada seorang laki-laki yang berwajah tampan, bermata juling dan
rambut terjalin dua bagian, si laki-laki berkata, "Dia adalah seorang yang
murtad (keluar dari agama nenek moyangnya) dan pendusta." Laki-laki
itu selalu mengikutinya kemana pun beliau pergi. Maka saya pun menanyakan siapa
lelaki itu, mereka pun mengurutkan nasab Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam dan berkata, "Laki-laki ini adalah pamannya, yakni Abu Lahab.
Telah menceritakan kepada kami Suraij Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu
Zinad dari bapaknya dari Rabi'ah bin Abbad Ad Du`ali ia adalah seorang
yang mengenyam masa jahiliyah dan kemudian memeluk Islam. Ia berkata; Saya
pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian ia pun
menyebutkan hadits. Rabi'ah berkata; Saya bertanya, "Siapakah orang
ini?" ia menjawab, "Ia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul
Muthalib." Ia pun menyebutkan tentang kenabian. Kemudian saya bertanya
lagi, "Siapakah orang yang selalu mendustakannya ini?" mereka
menjawab, "Orang ini adalah pamannya, yakni Abu Lahab." Abu
Zinad berkata; Saya berkata kepada Rabi'ah bin Abbad, "Sesungguhnya pada
hari itu kamu masih kecil." Ia menjawab, "Tidak, demi Allah. Pada
hari itu saya telah mencapai masa aqil baligh. Saya benar-benar telah mampu
membawa Qirbah (kantong kulit untuk menyimpan air)."
Hadits ke-5
حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا
حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ
أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَمْكُثُ أَبَوَا الدَّجَّالِ ثَلَاثِينَ عَامًا لَا يُولَدُ لَهُمَا
ثُمَّ يُولَدُ لَهُمَا غُلَامٌ أَعْوَرُ أَضَرُّ شَيْءٍ وَأَقَلُّهُ نَفْعًا
تَنَامُ عَيْنَاهُ وَلَا يَنَامُ قَلْبُهُ ثُمَّ نَعَتَ أَبَوَيْهِ فَقَالَ
أَبُوهُ رَجُلٌ طُوَالٌ مُضْطَرِبُ اللَّحْمِ طَوِيلُ الْأَنْفِ كَأَنَّ أَنْفَهُ
مِنْقَارٌ وَأُمُّهُ امْرَأَةٌ فِرْضَاخِيَّةٌ عَظِيمَةُ الثَّدْيَيْنِ قَالَ
فَبَلَغَنَا أَنَّ مَوْلُودًا مِنْ الْيَهُودِ وُلِدَ بِالْمَدِينَةِ قَالَ
فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى
أَبَوَيْهِ فَرَأَيْنَا فِيهِمَا نَعْتَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَإِذَا هُوَ مُنْجَدِلٌ فِي الشَّمْسِ فِي قَطِيفَةٍ لَهُ هَمْهَمَةٌ
فَسَأَلْنَا أَبَوَيْهِ فَقَالَا مَكَثْنَا ثَلَاثِينَ عَامًا لَا يُولَدُ لَنَا
ثُمَّ وُلِدَ لَنَا غُلَامٌ أَعْوَرُ أَضَرُّ شَيْءٍ وَأَقَلُّهُ نَفْعًا فَلَمَّا
خَرَجْنَا مَرَرْنَا بِهِ فَقَالَ مَا كُنْتُمَا فِيهِ قُلْنَا وَسَمِعْتَ قَالَ
نَعَمْ إِنَّهُ تَنَامُ عَيْنَايَ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي فَإِذَا هُوَ ابْنُ
صَيَّادٍ. (مسند أحمد: 19522)
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Yazid bin
Harun, telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid dari
Abdurrahman bin Abu Bakrah dari Ayahnya ia berkata; Rasulullah Shallalahu
'Alaihi Wasallam bersabda: "Kedua orang tua Dajjal bermukim di bumi selama
tiga puluh tahun, tidak memiliki anak, hingga ketika ia melahirkan anak,
lahirlah seorang anak yang bermata juling, banyak memberi bahaya dan sedikit
sekali memberikan manfaat, matanya tidur tetapi hatinya tidak."
Kemudian Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam menerangkan sifat-sifatnya
secara gamblang, sabdanya: "Bapaknya adalah seorang yang tinggi dan
gempal, berhidung sangat mancung laksana paruh, sedangkan ibunya seorang wanita
yang bertulang besar dan berdada besar." Abu Bakrah berkata; "Lalu
sampailah kabar kepada kami, bahwa di Madinah telah terlahir seorang anak dari
bangsa Yahudi, lalu aku dan Zubair bin Awwam mendatanginya, hingga ketika kami
menemui kedua orang tuanya, kami mengetahui ciri-ciri keduanya persis seperti
yang pernah di jelaskan oleh Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam, ternyata
anak tersebut tengah berbaring di bawah terik matahari, dengan mengenakan
qathifah (sejenis pakaian kemewahan) yang dapat mengeluarkan suara yang tidak
jelas, Lalu kami menanyai kedua orang tuanya dan keduanya menjawab; "Kami
telah hidup selama tiga puluh tahun dan belum memiliki anak, ketika kami
melahirkan, anak kami juling, dan banyak membahayakan kami daripada
memberi manfaat." Ketika kami keluar, kami berpapasan dengannya
(anakya), lalu ia berkata; "Apa urusan kalian berdua?." Kami
menjawab; "Apakah kamu mendengarnya?." Ia menjawab; "Yah,
sungguh mataku terpejam tapi hatiku tidak." Ternyata dia adalah Ibnu
Shayyad.”
Hadits ke-6
حَدَّثَنَا مُؤَمَّلٌ حَدَّثَنَا
حَمَّادٌ أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ زَيْدٍ عَن عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي
بَكْرَةَ عَن أَبِيهِ قَالَ وَصَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ صِفَةَ الدَّجَّالِ وَصِفَةَ أَبَوَيْهِ قَالَ يَمْكُثُ
أَبَوَا الدَّجَّالِ ثَلَاثِينَ سَنَةً لَا يُولَدُ لَهُمَا ثُمَّ يُولَدُ لَهُمَا
ابْنٌ مَسْرُورٌ مَخْتُونٌ أَقَلُّ شَيْءٍ نَفْعًا وَأَضَرُّهُ تَنَامُ عَيْنَاهُ
وَلَا يَنَامُ قَلْبُهُ فَذَكَرَهُ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ ثُمَّ وُلِدَ لَنَا هَذَا
أَعْوَرَ مَسْرُورًا مَخْتُونًا أَقَلَّ شَيْءٍ نَفْعًا وَأَضَرَّهُ. (مسند أحمد:
19615)
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Mu`ammal, telah
menceritakan kepada kami Hammad, telah mengabarkan kepada kami Ali bin Zaid
dari Abdurrahman bin Abu Bakrah dari Ayahnya ia berkata; "Suatu hari
Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam pernah mensifati Dajjal dan kedua orang
tuanya. Beliau bersabda: "Kedua orang tua dajjal bermukim di bumi selama
tiga puluh tahun tanpa di karuniai anak, hingga ketika ia melahirkan, lahirlah
seorang anak yang menggembirakan dan telah terkhitan, sedikit memberikan
manfaat dan banyak memberi bahaya, matanya tidur tetapi hatinya tidak."
Lalu Abu Bakrah menyebutkan bahwa kedua orang tuanya berkata; "Kemudian
lahirlah untuk kami seorang anak yang bermata juling, menyenangkan dan telah
terkhitan, sedikit manfaat dan banyak membahayakan."
Dari paparan hadits-hadits di atas maka dapat kita
ketahui bahwa ciri-ciri fisik Dajjal itu adalah seorang laki-laki yang pendek,
berkaki bengkok, berambut keriting, buta sebelah (juling) dan matanya tidak
terlalu menonjol dan tidak pula terlalu tenggelam, sedikit memberikan manfaat
dan banyak memberi bahaya dan ketika tidur matanya tidur tetapi hatinya tidak.
Begitu juga ciri-ciri fisik Abu Lahab, berwajah tampan, bermata
juling dan rambut terjalin dua bagian, murtad (keluar dari agama nenek
moyangnya) dan pendusta."
Selanjutnya, menurut penulis ciri-ciri yang
diinformasikan oleh Rasul tersebut merupakan isyarat terhadap sifat
antropologis yang dapat dijadikan pedoman agar lebih lebih mawasdiri ketika
kita menemukan orang yang berperawakan dan perangai seperti yang
diinformasikan.
6. Cara Menjaga Diri Dari Serangan Dajjal
Diantara upaya untuk menjaga diri dari tipu daya Dajjal adalah dengan senantiasa
berdo`a dan berlindung kepada Allah sebagaimana Rasulullah menganjurkan,
bahkan beliau sendiri selalu berdo`a setiap selesai tasyahud akhir dalam
shalat. Do`a tersebut adalah sebagai berikut:
إِذَافَرَغَ
أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ [اَلآخِرِ], فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ,
[يَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ] مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ, وَمِنْ عَذَابِ
اْلقَبْرِ, وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَاْلمَمَاتِ, وَمِنْ شَرِّ [فِتْنَةِ]
الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ, [ثُمَّ يَدْعُوْلِنَفْسِهِ بِمَا بَدَالَهُ].[9]
Menurut al-Dzahabi hadits tentang meminta
perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal adalah Mutawatir.
Selanjutnya, menghafal 10 ayat terakhir dari surat al-Kahfi, serta
mengamalkannya. Sedangkan, hadits lain memberikan
informasi terhadap penduduk Makkah dan Madinah yang terjaga dari fitnah Dajjal. Karena banyak
hadits yang menginformasikan bahwa kedua kota ini terlindung dari fitnah besar
tersebut. Diantaranya hadits shahih yang diriwayatkan oleh al-Tirmidzi,[10]
...عَنْ أَنَسٍ قاَلَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَأْتِى الدَّجَّالُ اْلمَدِيْنَةَ فَيَجِدُ الْمَلاَءِكَةَ يَحْرُسُوْنَهَا فَلاَ يَدْخُلُهَا الطَّاعُوْنَ وَلاَ الدَّجَّالُ إِنْ شَاءَ اللهُ.
Dan
banyak lagi hadits yang menunjukkan bahwa kedua kota tersebut terhindar dari
pengaruh Dajjal. Ini karena kemuliaan keduanya. Kalau benar-benar menuju
Madinah, ia hanya akan sampai di daerah rawa-rawa dekat kota Madinah.
Kedatangannya akan menimbulkan goncangan hebat pada wilayah tersebut dan
mengejutkan para penduduknya. Goncangan tersebut akan terjadi sebanyak tiga
kali, baik goncangan secara fisik maupun psikis. Dengan goncangan tersebut,
orang-orang munafik baik laki-laki maupun perempuan akan keluar dari kota
Madinah, sehingga mulai saat itulah Madinah akan menjadi wangi, bersinar dan
bersih dari kotoran orang-orang kafir dan munafik.
7. Pemahaman Hadits tentang
Dajjal
Hadits-hadits yang menyebutkan tentang Dajjal ini
sangat banyak mulai dari penjelasan kedatangannya, ciri-ciri fisiknya sampai
pada proses akhir zaman yang dikaitkan dengan kedatangannya. Maka, sebagai
Muslim mesti bijak memahami kandungan dan pelajaran yang disuguhkan oleh Rasul
tersebut. Nah, untuk menjelaskan hal ini para ahli ilmu telah memberikan
metode-metode untuk memahami hadits Rasul diantaranya sebagaimana yang ditempuh
oleh Buchari yang diuraikan dalam bukunya “Metode Pemahaman Hadits: Sebuah Kajian
Hermeneutik” yaitu Metode Pemahaman Hadits Tradisional yang terdiri dari metode
analiti, global dan komperatif, Metode Pemahaman hadits Modernis yang terdiri
dari dengan pendekatan ilmiah dan pendekatan filosofis, serta Pemahaman hadits
Hermeneutik.[11]
Selanjutnya, Syuhudi Isma`il[12]
mengemukakan metode pemahaman tekstual dan kontekstual. Ia membahas tentang
hadits terkait dengan Dajjal ini
dalam Bab Sekitar Bentuk Matan Hadis Nabi dan Cakupan Petunjuknya dengan sub
bab ungkapan simbolik. Hadits dimaksud jika dipahami dari segi tekstual maka
akan banyak pengertian, maksud dan interpretasi yang dapat dikemukakan. Untuk
itu perlu dilihat kontekstualitas hadits tersebut. Seperti hadits yang
dikemukan oleh Syuhudi Ismail untuk mewakili dari ratusan hadits yang terkait
dengan Dajjal ini seperti:
وَحَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ -
وَاللَّفْظُ لَهُ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ
عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-
ذَكَرَ الدَّجَّالَ بَيْنَ ظَهْرَانَىِ النَّاسِ فَقَالَ « إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى
لَيْسَ بِأَعْوَرَ. أَلاَ وَإِنَّ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ الْعَيْنِ
الْيُمْنَى كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِئَةٌ ». (الجامع
الصحيح المسمى صحيح مسلم/8: 194)[13]
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Ibnu
Numair, teks miliknya, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr telah
menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi' dari Ibnu Umar Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa Salam menyebut Dajjal dihadapan orang-orang, beliau
bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak buta sebelah mata dan
sesungguhnya Al Masih Dajjal buta matanya yang kanan, matanya seperti anggur
mencuat."
Hadits di atas dipahami bahwa
pernyataan “Allah tidak buta sebelah mata adalah ungkapan simbolik. Allah
mahasuci dari segala dari segala sifat yang menyamakan-Nya dengan makhluk.
Ungkapan tersebut dapat dipahami bahwa kekuasaan Allah tidak cacat, tetapi
mahasempurna. Sedangkan pernyataan bahwa al-Masih al-Dajjal itu buta
matanya sebelah kanan merupakan ungkapan simbolik juga. Tidak tidak hanya
“matanya yang buta sebelah kanan” saja, tetapi juga diri al-Masih al-Dajjal
itu sendiri.
Lebih lanjut Syuhudi menjelaskan
bahwa dalam berbagai kitab syarah hadits dijelaskan bahwa al-Masih al-Dajjal,
yang biasa disebut dajjal, adalah makhluk yang gambaran fisiknya
antara lain sebagaimana disebutkan oleh berbagai matan hadits.
Secara kontekstual, hadits ini
dipahami sebagai sesuatu ungkapan simbolik. Al-Dajjal merupakan symbol-simbol
ketimpangan; para penguasa atau manusia pada waktu itu yang memiliki karakter zhalim,
penindas, pengkhianat, penipu dan lain sebagainya. Sikap-sikap seperti
inilah dipakai untuk al-dajjal.
Ini juga dapat dipahami dari peristiwa
yang diriwayatkan imam Muslim dari Nafi`, katanya: Ibnu Umar bertemu dengan
ibnu Sayyad dalam perjalanan pergi ke Madinah. Ibnu Sayyad mengucapkan kalimat
yang menimbulkan kemarahan Ibnu Umar. Maka membuatnya marah. Ibnu Umar masuk ke
rumah Hafsah, lalu ia sampaikan persoalan itu kepada Hafsah, kemudian Hafsah
berkata kepadanya, “semoga Allah merahmatimu dan tidak membalas sakit hatimu
kepada Ibnu Sayyad. Tidakkah engkau mengetahui bahwa Rasulullah S.A.W bersabda:
إِنَّمَا يَخْرُجُ الدَّجَّالُ مِنْ غَضْبَةٍ بَغْضَابُهَا.
“Sesungguhnya
dajjal itu keluar karena sebab marah.”[14]
Jadi, sikap perangai yang tidak baik itu disamakan dengan sifat dajjal,
yang diikuti dengan kebohongannya. Para kritikus hadits untuk penilaian jarh
wa ta`dil-pun ditemukan ungkapan seperti itu, dikarenakan sangat
pembohongnya seorang periwayat.[15]
Seperti penilai tentang Ibrahim bin Hadbah, dia adalah dajjal.
C.
Penutup
Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari hadits maupun
isyarat al-Qur’an sendiri, maka peristiwa tentang kedatangan Dajjal
telah mutawatir, artinya keberadaan dan peristiwa itu bersifat qath`iy al-dalalah.
Jadi, tidak dapat dipungkiri. Seiring dengan kedatangannya juga disertai dengan
turunnya Nabi Isa dengan tetap mengikuti syari`at Nabi Muhammad pada waktu
manusia telah banyak meninggalkan ajaran agama dan ilmu.
Dajjal sebagaimana
diungkapkan hadits dengan kata jamak “para pendusta”, akan selalu
terjadi. Sepanjang kehidupan manusia ia selalu merorongi tingkah dan prilaku
hidup umat. Pada waktu peristiwa muncul dajjal dengan wujud fisik
seperti digambarkan dalam hadits akan terjadi sebagai tanda kiamat sudah dekat.
Bahkan pada saat itu tidak adagunanya lagi iman setelah itu.
Hadits-hadits tentang dajjal sangat banyak, mesti
berhati-hati dalam memahaminya. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan
metode kontekstual. Begitu juga tidak tertutup kemungkinan untuk dipahami
secara tekstual.
Akhirnya, penulis mengakui banyak kekurangan dalam
bahasan ini, karena
terbatasnya referensi dan waktu. Penulis berharap para ahli ilmu, berkenan melengkapi dan masukan yang dapat
mendukung bahasan ini.
DAFTAR RUJUKAN
Al-Tirmidziy,
Muhammad bin `Isa Abu `Isa al-Silmiy, al-Jami` al-Shahih Sunan al-Tirmidziy,
tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir, (Bairut: Dar Ihya al-Turats al-`Arabiy, tth),
Juz IV
Al-Albani,
Muhamad Nashiruddin, Ed. Indonesia;
Sifat Shalat Nabi, penerjemah: Muhammad Thalib (Yogyakarta:
Media Hidayah, 2000), Cet. I
Al-Bukhari, Shahih
al-Bukhariy, (Semarang: Thaha Putra, tth), Juz VIII.
Al-Nawawiy, Shahih Muslim
bi Syarah al-Nawawiy, ttp: tth
Ibnu Hamzah
al-Husaini al-Hanafi ad-Damsyiqi, Asbabul Wurud,(Jakarta: Kalam Mulia,
2011), Jilid II, Cet. VIII
Ibnu Thahir
al-Maqdisiy, Ma`rifah al-Tadzkirah, (ttp: Mu’assasah al-Kitab
al-Tsaqafiyah, tth), Juz I
Abu al-Husain Muslim
bin al-Hajaj Abu al-Husain al-Qusyairi al-Naisaburiy, Shahih Muslim, tahqiq:
Muhammad Fu’ad `Abdul Baqiy, (Bairut: Dar al-Turats al-`Arabiy, tth), Juz I
Abu al-Husain
Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairiy al-Naisaburiy, Shahih Muslim,
(Bairut: Dar al-Jil, tth), Juz VIII
`Abdu
al-Rahman bin `Aliy Ibnu al-Jauziy, Al-`Ilal al-Matnahiyah fi al-Ahadits
al-Wahiyah, (Bairut: Dar al-Kutub al-`Ilmiyah, 1403 H), Juz II, Cet. I
Winsinck, Arnold Jhon, Al-Mu`jam
al-Mufahras li Alfazh al-Hadits al-Nabawiy, (Laiden: A. J. Brill, 1965),
Juz I
Sya`rawi,
Mutawalli, Kemunculan Nabi Isa, Imam
Mahdi dan Dajjal, judul asli: Alâmat Al-Qiyâmah Al-Kubra, (Jakarta:
Qultum Media, 2006), Cet. I
http://www.shamela.ws Al-Maktabah
Al-Syamilah Ver. 2.11
Lidwa
Pusaka i-software, Ensiklopedi
Hadits: Kitab 9 Imam, (Jakarta: www.lidwapusakacom, 2010), Ver. 1.2
[1] Muslim bin al-Hajaj Abu al-Husain al-Qusyairi al-Naisaburiy, Shahih
Muslim, tahqiq: Muhammad Fu’ad `Abdul Baqiy, (Bairut: Dar al-Turats
al-`Arabiy, tth), Juz I, h. 12
[2]
Mutawalli Sya`rawi, Kemunculan Nabi
Isa, Imam Mahdi dan Dajjal,judul asli: Alâmat Al-Qiyâmah Al-Kubra, (Jakarta:
Qultum Media, 2006), Cet. I, h. 88
[3] Lihat
Juga Hadits dalam Shahih al-Bukhariy Juz VIII, h. 101, terbitan Thoha Putra:
Semarang. Haditsnya panjang, penggalannya berbunyi,
حَدَّ
ثَنَا اَبُو اْليَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّ ثَنَا اَبوُ الزِّنَادِ عَنْ
عَبْدِ الرَّحْمَانِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى.... فَإِذَا طَلَعَتْ
وَرَآهَا النَّاسُ آمَنُوْا اَجْمَعُوْنَ فَذَالِكَ حِيْنَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا
اِيْمَانُهَا لمَ ْتَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ اَوْ كَسَبَتْ فِى اِيْمَانِهَا
خَيْرًا....(رواه الخارى)
[4]
Al-Tirmidzi, al-Jâmi` al-Shahih “Sunan al-Tirmidziy”, ditahqiq oleh:
Kamal Yusuf al-Haut, (Beirut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah, tth), Juz IV, h. 447
[5]Arnold
Jhon Winsinck, Al-Mu`jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits al-Nabawiy, (Laiden:
A. J. Brill, 1965), Juz II, h.
111
[6] Imam al-Nawawiy, Shahih
Muslim bi Syarah al-Nawawiy, --, h. 59; hadits sebelumnya berlafazh "أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ
طَافِئَةٌ" pada h. 60 dengan ungkapan diantara kedua matan-nya
(di dahinya) tertulis “kaf-fa-ra” dibaca kâfir, kemudian hadits
selanjutnya dikatakan, “dapat dibaca oleh semua orang Islam” h. 61, hadits
dari Huzhaifah ditambahkan “terbaca oleh setiap orang mukmin, dan selain
mereka tidak dapat membacanya” يَقْرَؤُهُ
كُلُّ مُؤْمِنٍ كَاتِبٍ وَغَيْرِ كَاتِبٍ. Lihat hadits
senada dalam Shahih al-Bukhariy Juz VIII, h. 102, 103 cetakan: Semarang,
penerbit: Thaha Putra. Selanjutnya dalam Sunan al-Tirmidzi, dengan lafazh,
"...عن ابن
عمر...وَإِنَّهُ مَكْتُوْبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ك ف ر يَقْرَأُهُ مَنْ كَرِهَ
عَمَلَهُ". (رواه الترمذى)
Menurutnya
hadits ini Hasan Shahih. (al-Tirmidziy, al-Jami` al-Tirmidziy, Juz IV,
tahqiq: Kamal Yusuf al-Haut, (Bairut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah, tth.), h.
441, 445, dan 447.
[7] Al-Tirmidzi,
op.cit., h. 442; lihat juga Kitab yang sama; Muhammad bin `Isa Abu `Isa al-Tirmidziy
al-Silmiy, al-Jami` al-Shahih Sunan al-Tirmidziy, tahqiq: Ahmad Muhammad
Syakir, (Bairut: Dar Ihya al-Turats al-`Arabiy, tth), Juz IV, h. 509:
al-Albaniy mendha`ifkannya.
[8] Lidwa Pusaka
i-software, Ensiklopedi
Hadits: Kitab 9 Imam, (Jakarta: www.lidwapusakacom, 2010), Ver. 1.2
[9] “Bila
seseorang selesai membaca tasyahud [akhir], hendaklah ia memohon perlindungan
kepada Allah empat perkara: ‘[Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu] dari siksa
neraka Jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah hidup dan mati, dan dari
[fitnah] Dajjal. ‘[Selanjutnya, hendaklah ia berdo`a memohon untuk dirinya
sesuai dengan kepentingannya]. (HR. al-Nasâ’i dengan Sanad Shahih. Lihat
Muhamad Nashiruddin Al-Albani, Ed. Indonesia; Sifat Shalat Nabi, (Yogyakarta:
Media Hidayah, 2000), Cet. 1, h. 228; penerjemah: Muhammad Thalib; lihat juga
al-Bukhari, op.cit., h. 103 “… dari `Urwah bahwasanya `Aisyah berkata, “saya
mendengar Rasulullah s.a.w. dalam shalatnya berlindung dari fitnah Dajjal.”
[10]
al-Tirmidzi, op.cit., h. 446; lihat Bukhari, op.cit., h. 103
tambah dengan kata “fala yaqrab” setelah kata “yahrusunaha”.
[11] Buchari, Metode
Pemahaman Hadits: Sebuah Kajian Hermeneutik, (Jakarta: Nuansa Madani,
1999), Cet. I
[12] Syuhudi Ismail, Hadis Nabi yang Tekstual dan
Kontekstual: Telaah ma`ani al-hadits tentang ajaran Islam yang Universal dan
lokal, (Jakarta: Bulan Bintang, 2009), Cet. II, h. 18
[13] Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairiy al-Naisaburiy, Shahih
Muslim, (Bairut: Dar al-Jil, tth), Juz VIII, h. 194; pada hadits yang
dikutip oleh Syuhudi terdapat kesalahan pada kata "طافئة" thafi’ah (mencuat), ia menulis " "طائفة tha’ifah (golongan). Kata terakhir ada dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Tirmidziy, Sunan
al-Tirmidziy, nomor hadits 2166.
[14] Ibnu Hamzah al-Husaini al-Hanafi ad-Damsyiqi, Asbabul Wurud,(Jakarta:
Kalam Mulia, 2011), Jilid II, Cet. VIII, h. 141
[15] Lihat Ibnu Thahir al-Maqdisiy, Ma`rifah al-Tadzkirah, (ttp:
Mu’assasah al-Kitab al-Tsaqafiyah, tth), Juz I, h. 90; lihat juga `Abdu
al-Rahman bin `Aliy Ibnu al-Jauziy, Al-`Ilal al-Matnahiyah fi al-Ahadits
al-Wahiyah, (Bairut: Dar al-Kutub al-`Ilmiyah, 1403 H), Juz II, Cet. I, h.
912



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏